Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Saturday, 31 January 2026

Ketika Emas Habis, Ilmu Abadi: Sebuah Kisah yang Menggetarkan Iman

 


Madinah, abad ke-2 Hijriah, menyimpan sebuah kisah sunyi tentang makna harta yang sesungguhnya.

Di kota itu hiduplah seorang tentara Muslim bernama Faruq. Suatu pagi, ketika matahari belum tinggi dan angin gurun masih sejuk, ia bersiap meninggalkan rumahnya. Perintah jihad membawanya jauh ke wilayah Khurasan. Di ambang pintu, istrinya berdiri dengan perut yang membesar—hamil tua, menahan cemas dan doa.

Sebelum berangkat, Faruq meletakkan sebuah kantong kulit di tangan istrinya. Isinya berat: 30.000 dinar emas, harta yang jika dinilai hari ini setara miliaran rupiah.

“Gunakan uang ini untuk hidupmu dan anak kita,” ucapnya lirih. “Sampai aku kembali.”

Faruq pergi dengan keyakinan ia akan segera pulang. Namun takdir menulis lain. Perjalanan itu berlangsung bukan berbulan-bulan, melainkan dua puluh tujuh tahun.

Beberapa hari setelah kepergiannya, lahirlah seorang bayi laki-laki. Sang ibu memeluknya dalam kesunyian malam. Di bawah cahaya pelita, ia menatap wajah mungil itu dan berbisik dalam hati:

Harta ini tidak akan kupakai untuk kemewahan. Akan kugunakan untuk ilmu, agar engkau tumbuh dengan cahaya pengetahuan dan iman.

Tahun-tahun pun berlalu. Satu demi satu dinar keluar dari kantong itu—bukan untuk perhiasan atau rumah megah, melainkan untuk guru-guru terbaik Madinah, untuk kitab-kitab ilmu, dan untuk masa depan yang tak kasatmata. Anak itu belajar tanpa harus memikirkan dunia, karena ibunya telah memikirkannya lebih dahulu.

Waktu berjalan pelan namun pasti. Dari bocah kecil, bernama Rabiah itu tumbuh menjadi pemuda, lalu menjadi ulama besar. Suaranya dikenal di Masjid Nabawi, ilmunya dihormati, akhlaknya dicontoh. Para penuntut ilmu mengerumuninya setiap hari termasuk Imam Malik bin Anas.

Hingga suatu sore, dua puluh tujuh tahun kemudian, Faruq kembali ke Madinah.

Langkahnya ragu saat memasuki rumah lama yang dulu ia tinggalkan. Dindingnya masih sama, tetapi suasananya berbeda. Di dalam rumah itu berdiri seorang pria dewasa dengan sorot mata tegas.

“Siapa engkau?” tanya Faruq keras.

“Dan siapa yang berani masuk ke rumahku?”

Pemuda itu membalas dengan nada tak kalah waspada, “Akulah yang bertanya. Siapa engkau yang tiba-tiba masuk ke rumah ini?”

Ketegangan menggantung di udara, hingga seorang wanita tua keluar dari balik pintu. Wajahnya menyimpan garis-garis waktu dan kesabaran panjang. Ia menatap keduanya, lalu berkata dengan suara bergetar:

“Ini suamiku… dan ini anakmu.”

Kata-kata itu runtuh seperti bendungan. Ayah dan anak saling memandang, lalu berpelukan erat. Tak ada kata yang sanggup menampung rindu selama dua puluh tujuh tahun.

Setelah air mata reda, Faruq teringat sesuatu yang sejak lama tersimpan di benaknya.

“Di mana 30.000 dinar yang kutinggalkan?” tanyanya pelan.

Istrinya tersenyum—senyum yang penuh ketenangan.

“Aku menyimpannya di tempat yang aman,” katanya. “Jika engkau ingin melihatnya, pergilah sekarang ke Masjid Nabawi.”

Faruq pun melangkah ke masjid. Di sana ia melihat seorang ulama dikelilingi murid-murid, menyampaikan ilmu dengan hikmah dan keteduhan. Hatinya bergetar. Saat itu ia mengerti: inilah hartanya.

Bukan emas.

Bukan dinar.

Melainkan ilmu—yang semakin dibagikan, semakin bertambah nilainya.

Karena emas akan habis jika dibelanjakan,

tetapi ilmu akan hidup selama ia diajarkan.

Wallahu a‘lam bish-shawab.


#IlmuLebihBerharga 

#KisahUlama 

#HikmahIslam 

#HartaSejati 

#TeladanKeluarga


No comments: