Madinah, abad ke-2 Hijriah, menyimpan sebuah kisah sunyi
tentang makna harta yang sesungguhnya.
Di kota itu hiduplah seorang tentara Muslim bernama Faruq.
Suatu pagi, ketika matahari belum tinggi dan angin gurun masih sejuk, ia
bersiap meninggalkan rumahnya. Perintah jihad membawanya jauh ke wilayah Khurasan.
Di ambang pintu, istrinya berdiri dengan perut yang membesar—hamil tua, menahan
cemas dan doa.
Sebelum berangkat, Faruq meletakkan sebuah kantong kulit di
tangan istrinya. Isinya berat: 30.000
dinar emas, harta yang jika dinilai hari ini setara miliaran rupiah.
“Gunakan uang ini
untuk hidupmu dan anak kita,” ucapnya lirih. “Sampai aku kembali.”
Faruq pergi
dengan keyakinan ia akan segera pulang. Namun takdir menulis lain. Perjalanan
itu berlangsung bukan berbulan-bulan, melainkan dua puluh tujuh tahun.
Beberapa hari
setelah kepergiannya, lahirlah seorang bayi laki-laki. Sang ibu memeluknya
dalam kesunyian malam. Di bawah cahaya pelita, ia menatap wajah mungil itu dan
berbisik dalam hati:
Harta ini
tidak akan kupakai untuk kemewahan. Akan kugunakan untuk ilmu, agar engkau
tumbuh dengan cahaya pengetahuan dan iman.
Tahun-tahun pun
berlalu. Satu demi satu dinar keluar dari kantong itu—bukan untuk perhiasan
atau rumah megah, melainkan untuk guru-guru terbaik Madinah, untuk kitab-kitab
ilmu, dan untuk masa depan yang tak kasatmata. Anak itu belajar tanpa harus
memikirkan dunia, karena ibunya telah memikirkannya lebih dahulu.
Waktu berjalan
pelan namun pasti. Dari bocah kecil, bernama Rabiah itu tumbuh menjadi pemuda,
lalu menjadi ulama besar. Suaranya dikenal di Masjid Nabawi, ilmunya dihormati,
akhlaknya dicontoh. Para penuntut ilmu mengerumuninya setiap hari termasuk Imam
Malik bin Anas.
Hingga suatu
sore, dua puluh tujuh tahun kemudian, Faruq kembali ke Madinah.
Langkahnya ragu
saat memasuki rumah lama yang dulu ia tinggalkan. Dindingnya masih sama, tetapi
suasananya berbeda. Di dalam rumah itu berdiri seorang pria dewasa dengan sorot
mata tegas.
“Siapa engkau?”
tanya Faruq keras.
“Dan siapa yang
berani masuk ke rumahku?”
Pemuda itu membalas dengan nada tak kalah waspada, “Akulah
yang bertanya. Siapa engkau yang tiba-tiba masuk ke rumah ini?”
Ketegangan menggantung di udara, hingga seorang wanita tua
keluar dari balik pintu. Wajahnya menyimpan garis-garis waktu dan kesabaran
panjang. Ia menatap keduanya, lalu berkata dengan suara bergetar:
“Ini suamiku… dan
ini anakmu.”
Kata-kata itu
runtuh seperti bendungan. Ayah dan anak saling memandang, lalu
berpelukan erat. Tak ada kata yang
sanggup menampung rindu selama dua puluh tujuh tahun.
Setelah air mata
reda, Faruq teringat sesuatu yang sejak lama tersimpan di benaknya.
“Di mana 30.000
dinar yang kutinggalkan?” tanyanya pelan.
Istrinya tersenyum—senyum yang penuh ketenangan.
“Aku menyimpannya
di tempat yang aman,” katanya. “Jika engkau ingin melihatnya, pergilah sekarang
ke Masjid Nabawi.”
Faruq pun
melangkah ke masjid. Di sana ia melihat seorang ulama dikelilingi murid-murid,
menyampaikan ilmu dengan hikmah dan keteduhan. Hatinya bergetar. Saat itu ia
mengerti: inilah hartanya.
Bukan emas.
Bukan dinar.
Melainkan ilmu—yang
semakin dibagikan, semakin bertambah nilainya.
Karena emas akan
habis jika dibelanjakan,
tetapi ilmu akan
hidup selama ia diajarkan.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
#IlmuLebihBerharga
#KisahUlama
#HikmahIslam
#HartaSejati
#TeladanKeluarga

No comments:
Post a Comment