Percakapan Air Laut dan Allah: Pelajaran
Agung tentang Ketaatan dan Amanah
Di antara makhluk Allah yang paling besar dan menakjubkan adalah lautan.
Hamparannya yang luas, ombaknya yang gagah, dan kedalamannya yang tak terhingga
menjadi tanda kebesaran Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Dalam sebuah kisah
perenungan, digambarkan seakan-akan air laut berdialog dengan Rabb-nya,
dan dari kisah ini kita belajar makna ketaatan, ketundukan, dan amanah sebagai
manusia.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
“Wahai laut, Aku menciptakanmu luas
dan kuat. Apakah engkau siap menjalankan perintah-Ku?”
Maka seakan-akan air laut menjawab,
“Ya Allah, kami tunduk dan patuh
kepada-Mu. Tidak ada yang kami lakukan kecuali atas izin-Mu.”
Sebagaimana firman Allah:
“Dan kepada Allah bersujud segala
yang di langit dan di bumi, baik makhluk bergerak maupun para malaikat, dan
mereka tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka di atas
mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka.” (QS. An-Naḥl 16:49–50)
Laut yang Gagah, Namun Tetap Taat
Allah kemudian berfirman:
“Aku berikan kepadamu ombak yang
gagah. Aku tetapkan batas antara kamu dan daratan. Maka janganlah kamu
melampaui batas itu tanpa perintah-Ku.”
Laut pun seolah menjawab:
“Kami taat, ya Rabb. Di Arab kami
berzikir dengan deburan ombak, terus memuji-Mu siang dan malam.”
Sebagaimana Allah berfirman:
“Di antara keduanya (laut air tawar dan asin) ada batas yang tidak
dilampaui oleh masing-masing.” (QS. Ar-Raḥmān 55:20)
Deburan ombak yang tidak pernah berhenti adalah tasbih yang terus
mengagungkan-Nya. Tidak ada satu pun dari makhluk Allah yang ingkar, kecuali
manusia dan jin yang diberi pilihan.
Keluhan Laut tentang Maksiat Manusia
Namun laut berkata dengan sedih:
“Ya Allah, manusia telah banyak
bermaksiat di sisi kami. Mereka menumpahkan dosa dan kerusakan ke dalam tubuh
kami.”
Allah menjawab:
“Wahai laut, bersabarlah. Aku lebih mengetahui apa yang mereka
perbuat. Bila Aku kehendaki, air seperti dirimu dapat menjadi azab bagi
mereka.”
Sebagaimana firman-Nya:
“Maka masing-masing (umat yang
zalim) Kami azab karena dosa-dosa mereka….” (QS. Al-‘Ankabūt
29:40)
Kerusakan di laut dan di bumi tidak
lain adalah akibat ulah tangan manusia sendiri. Polusi, limbah, penangkapan
ikan yang merusak, semuanya menjadi bagian dari kemaksiatan yang tampak di
hadapan lautan.
Laut Mampu Menenggelamkan Daratan, Tetapi Menahan Diri
Air laut kemudian berkata:
“Jika Engkau perintahkan, kami mampu
menenggelamkan seluruh daratan.”
Ini sesuai dengan firman Allah:
“Katakanlah, Dia-lah yang berkuasa
menimpakan azab dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian….” (QS. Al-Mulk
67:30)
Dengan izin Allah, lautan bisa
menjadi nikmat, namun juga bisa menjadi azab sebagaimana kaum-kaum terdahulu.
Allah Maha
Penyayang: Mengajak Manusia Bertaubat
Namun Allah menjawab:
“Aku Maha Penyayang. Aku beri mereka
waktu untuk bertaubat. Doakan agar mereka kembali kepada-Ku dan menjaga bumi
yang Aku titipkan.”
Allah telah menjelaskan bahwa amanah
ini diberikan kepada manusia:
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan
amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, namun semuanya enggan memikulnya
dan takut mengkhianatinya; lalu manusia yang memikulnya….” (QS. Al-Aḥzāb
33:72)
Laut berkata:
“Ampuni mereka, ya Rabb. Kami akan
terus menjaga batas kami hingga Engkau memerintahkan kami bertindak.”
Pelajaran Moral: Makhluk Allah Taat, Manusia Justru Lalai
Semua makhluk Allah bertasbih,
tunduk, dan taat. Hanya manusia yang sering lupa, bermaksiat, dan membuat
kerusakan di bumi maupun di lautan. Padahal Allah telah memberi mereka amanah,
akal, dan waktu untuk kembali kepada-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap anak Adam melakukan dosa,
dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)
Mari Kembali kepada Allah dan Menjaga Alam sebagai Amanah
Selagi belum terlambat, marilah kita:
- kembali kepada Allah
dengan hati yang tunduk,
- memperbanyak
istighfar dan taubat,
- menjaga bumi dan lautan dari kerusakan,
- serta menghormati ciptaan Allah yang selalu taat
kepada-Nya.
Semoga Allah menjadikan kita hamba
yang menjaga amanah, bukan yang merusaknya.
Wallāhu
a‘lam bish-shawāb.
#RenunganIslam
#KisahLaut
#AmanahManusia
#DzikirAlam
#KetaatanMakhluk

No comments:
Post a Comment