Salah
satu tanda kebesaran Allah Swt yang paling nyata dalam kehidupan adalah bahwa
Dia menciptakan seluruh makhluk-Nya secara berpasang-pasangan. Prinsip
berpasangan ini bukan sekadar fenomena alam, tetapi merupakan sunnatullah yang
sarat dengan hikmah, keteraturan, dan kesempurnaan ciptaan. Allah Swt
menegaskan hal ini dalam Al-Qur’an:
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan
berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.” (QS. Al-Zariyat: 49)
Ayat
ini mengajak manusia untuk berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran bahwa di
balik setiap pasangan terdapat tujuan ilahi yang mengokohkan kehidupan serta
menunjukkan keagungan Sang Pencipta.
Pada
tingkat paling dasar kehidupan, Allah Swt menciptakan makhluk hidup dengan
sistem genetik yang sangat rapi dan menakjubkan, yaitu DNA. Struktur DNA
tersusun atas pasangan basa nitrogen: Adenin berpasangan dengan Timin, serta
Sitosin berpasangan dengan Guanin. Pasangan-pasangan ini tidak pernah tertukar,
karena jika satu saja tidak sesuai, maka informasi genetik akan rusak. Dari
susunan yang sangat kecil dan tak kasat mata inilah Allah Swt menetapkan warna
kulit, bentuk tubuh, hingga fungsi organ makhluk hidup. Kesempurnaan sistem ini
sejalan dengan firman Allah Swt:
“Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, untuk Kami
ujikan dia, maka Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS.
Al-Insan: 2)
Ayat
ini mengingatkan bahwa kehidupan manusia berawal dari sesuatu yang sangat
sederhana, namun dikelola oleh Allah Swt dengan sistem yang luar biasa
sempurna.
Prinsip berpasangan juga tampak jelas pada
tumbuhan. Allah Swt menciptakan alat reproduksi tumbuhan dalam bentuk benang
sari dan putik. Benang sari menghasilkan serbuk sari, sementara putik menerima
serbuk sari tersebut agar terjadi penyerbukan. Dari proses inilah tumbuhan
berkembang biak, menghasilkan buah dan biji yang menjadi sumber kehidupan bagi
manusia dan hewan. Keindahan dan kebermanfaatan tumbuhan ini ditegaskan Allah
Swt dalam firman-Nya:
“Dan Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam
(tumbuhan) yang indah dipandang mata.” (QS. Al-Hajj: 5)
Melalui tumbuhan, Allah Swt mengajarkan bahwa
keseimbangan dan keberlangsungan hidup hanya dapat terwujud jika setiap
pasangan menjalankan fungsinya dengan benar.
Pada manusia, tanda kebesaran Allah Swt dalam
penciptaan berpasang-pasangan semakin nyata. Allah Swt menciptakan ovum pada
perempuan dan spermatozoa pada laki-laki sebagai pasangan yang saling
melengkapi. Pertemuan keduanya melalui proses pembuahan menjadi awal
terciptanya kehidupan baru. Dari proses yang tampak sederhana ini, lahirlah
manusia dengan akal, perasaan, dan tanggung jawab sebagai khalifah di bumi.
Allah Swt berfirman:
“Dan Dia menciptakan pasangan-pasangan dari kamu,
dan menciptakan dari kamu anak-anak dan cucu-cucu, dan Dia memberikan kamu
rezeki dari yang baik.” (QS. Al-Nahl: 72)
Ayat ini menegaskan bahwa pernikahan, keturunan, dan
rezeki adalah bagian dari sistem ilahi yang penuh kasih sayang dan hikmah.
Bahkan pada benda mati sekalipun, Allah Swt tetap
menetapkan hukum berpasangan. Di dalam atom, terdapat proton bermuatan
positif dan elektron bermuatan negatif. Kedua partikel ini saling tarik-menarik
sehingga membentuk atom yang stabil, yang kemudian menyusun seluruh materi di
alam semesta. Tanpa keseimbangan pasangan ini, tidak akan ada benda, tidak ada
kehidupan, dan tidak ada alam sebagaimana yang kita kenal. Allah Swt berfirman:
“Dan Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia
mengetahui segala sesuatu.” (QS.
Al-An’am: 101)
Pengetahuan
Allah Swt meliputi segala hal, dari yang tampak hingga yang tersembunyi, dari
makhluk besar hingga partikel terkecil. Bahkan apa yang tidak diketahui manusia
pun berada dalam ilmu-Nya, sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya
Allah mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.” (QS.
Al-Nahl: 19)
Melalui
penciptaan yang berpasang-pasangan ini, Allah Swt mengajarkan bahwa kehidupan
dibangun di atas keseimbangan, keteraturan, dan saling melengkapi. Tidak ada
yang diciptakan secara sia-sia. Semuanya memiliki fungsi dan tujuan. Oleh
karena itu, sebagai hamba Allah, sudah sepatutnya kita semakin beriman,
bersyukur, dan tunduk kepada-Nya, seraya menjadikan ilmu pengetahuan sebagai
sarana untuk semakin mengenal dan mengagungkan kebesaran Allah Swt, bukan untuk
menyombongkan diri.
Semoga
kita termasuk golongan orang-orang yang mau berpikir, merenung, dan mengambil
pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan Allah Swt yang terbentang luas di alam
semesta. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin.
#KebesaranAllah
#CiptaanBerpasangan
#IslamDanSains
#TadabburAlQuran
#HikmahPenciptaan

No comments:
Post a Comment