Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Wednesday, 28 January 2026

Kisah Mengejutkan! Pendeta Amerika Ini Menemukan Islam Setelah Membaca Kitab Terlarang

 


Kisah Nyata Pendeta Amerika yang Masuk Islam

 

Seorang pendeta terkemuka di Amerika Serikat membuat kehebohan di komunitasnya setelah diam-diam mempelajari sejarah gereja dan menemukan kebenaran yang mengguncang keyakinannya sendiri. Joseph—atau Yosef, begitu jemaat memanggilnya—pendeta konservatif yang selama bertahun-tahun menjadi simbol keteguhan iman, akhirnya mengambil keputusan mengejutkan: ia memeluk Islam setelah pergulatan batin panjang yang dimulainya dari sebuah kitab tua yang ia temukan di gudang gereja.


PENDETA YANG DISEGANI


Nama aslinya Joseph, namun jemaat memanggilnya Yosef—pendeta tegas dari sebuah kota kecil di Midwest, Amerika Serikat. Suaranya selalu mantap, langkahnya kokoh, dan khotbahnya tidak pernah setengah hati. Dalam pandangan jemaat, ia bukan hanya pemimpin rohani, tapi simbol keteguhan iman.


Sejak kecil Yosef hidup dalam keluarga Kristen konservatif. Ayahnya adalah diakon gereja, ibunya guru sekolah minggu. Sejak remaja ia cerdas, kritis, dan gemar berdebat. Setelah lulus dari sekolah teologi ternama, ia diangkat menjadi pendeta dan berhasil menghidupkan kembali gereja kecil yang hampir tutup. Namanya melambung di kalangan gereja konservatif.


Tapi di balik ketegasan itu, Yosef menyimpan kecintaan mendalam pada sejarah gereja. Baginya, kebenaran tidak pernah takut pada sejarah. Prinsip yang kelak mengubah seluruh hidupnya. Pada suatu musim gugur, ia memulai proyek pengarsipan di gereja tua St. Yew. Di gudang berdebu, ia menemukan sebuah peti kecil berisi kitab tua berbahasa Italia kuno. Tulisan di halamannya membuatnya terdiam: “Evangelio di Barnaba” — Injil Barnabas.


Ia pernah mendengar kitab itu, tetapi tidak pernah membayangkan akan memegangnya sendiri. Yosef membuka halaman demi halaman—awalnya untuk mencari kesalahan. Namun semakin ia membaca, semakin jantungnya berdebar. Kisah Yesus dalam kitab itu sangat berbeda: Yesus sebagai nabi, bukan Tuhan. Tiada konsep Tritunggal. Tiada penyaliban. Dan ada kabar tentang seorang nabi yang datang setelah Yesus. Ia menutup kitab itu cepat-cepat, namun pikirannya terus terguncang. Sejak hari itu, kegelisahan halus tumbuh dalam dirinya.

 

KEBENARAN YANG TUMBUH DALAM DIAM


Berbulan-bulan Yosef mempelajari semuanya secara diam-diam. Ia membaca jurnal akademik, berdiskusi dengan profesor sejarah agama, bahkan mengirim email anonim kepada seorang sarjana Muslim. Tak ada yang memaksanya masuk Islam. Tak ada ancaman. Tak ada propaganda. Hanya satu pesan sederhana yang ia dengar dari berbagai sumber: “Gunakan akal. Jadilah jujur pada hatimu.”Dan kejujuran itu mulai menyakitinya.


Ia mempelajari Al-Qur’an, lalu tertegun oleh konsep ketuhanan yang begitu murni: Tuhan Esa. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tidak butuh perantara apa pun. Ia membaca tentang Nabi Isa dalam Islam—bahwa Isa seorang nabi mulia, lahir secara mukjizat, diberi wahyu, dan tidak pernah mengaku sebagai Tuhan. Anehnya, ini terasa lebih mendekati Yesus historis yang selama ini ia pelajari.


Suatu pagi musim dingin, ketika salju menyelimuti halaman gereja, Yosef duduk sendirian di ruang kerjanya. Di hadapannya terbuka tiga kitab: Alkitab, Injil Barnabas, dan Al-Qur’an. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia tidak merasa ragu. Yang ia rasakan hanyalah ketenangan yang lembut.

Ia berlutut, menundukkan kepala, dan berbisik pelan: “Tuhan Yang Maha Esa… jika Islam adalah jalan-Mu, dan Muhammad adalah utusan-Mu, maka aku bersaksi.” Air matanya jatuh. Tanpa saksi manusia. Namun hatinya untuk pertama kali terasa merdeka.

 

BADAI SETELAH CAHAYA


Yosef tahu keputusan itu tidak mudah. Ia menunda pengumuman, tetapi perubahan dalam dirinya terlalu jelas untuk disembunyikan. Ia tak lagi menyebut Tritunggal dalam khotbah. Ia berbicara tentang ketundukan, kejujuran, dan keesaan Tuhan. Jemaat mulai bertanya-tanya. Akhirnya sinode memanggilnya. Ruang rapat terasa dingin ketika Yosef berdiri di depan rekan-rekannya.


“Aku akan jujur,” katanya tenang. “Aku mempelajari sejarah iman kita dengan hati yang bersih. Dan aku mengambil keputusan… yang mungkin kalian anggap pengkhianatan.” Semua menatapnya tajam. “Aku memilih Islam.” Kalimat itu jatuh seperti petir. Sebagian berdiri marah. Sebagian tertegun diam. Ada yang berteriak, ada yang memohon ia menarik ucapan itu.


Namun Yosef hanya berkata pelan: “Aku tidak meninggalkan Tuhan. Aku kembali kepada-Nya.” Ia dicopot dari jabatan. Diusir dari gereja. Dicemooh oleh sebagian orang yang dulu memujanya. Tetapi Yosef tidak pernah menyesal.

 

KELAHIRAN BARU


Setelah meninggalkan gereja, Yosef memulai hidup baru. Ia bekerja paruh waktu di perpustakaan kota dan mengikuti kelas bahasa Arab di masjid terdekat—diam-diam pada awalnya, namun akhirnya dengan bangga. Hari ia mengucapkan syahadat di hadapan imam masjid, ia menangis seperti anak kecil. Bukan karena sedih, tetapi karena beban yang selama ini menghimpit dada akhirnya terangkat. Jamaah masjid memanggilnya “Yusuf”—nama baru yang ia pilih, nama yang membuatnya merasa pulang.


Ia tidak lagi hidup untuk mempertahankan dogma, tetapi untuk mencari ridha Tuhan Yang Esa. Dan di malam-malam sunyi, ketika ia sujud untuk pertama kali, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan selama puluhan tahun menjadi pendeta: kedekatan yang tulus dengan Sang Pencipta, tanpa perantara, tanpa kebingungan.

 

HIKMAH DARI SEBUAH PENCARIAN


Yusuf kini tinggal di kota kecil yang sama, namun dengan kehidupan berbeda. Ia aktif mengajar sejarah agama, menulis, dan berdialog lintas iman dengan cara yang jauh lebih lembut dari masa lalunya.

Di akhir setiap ceramahnya ia selalu berkata: “Kebenaran tidak pernah takut dicari. Yang takut hanya hati yang menolaknya.” Dan begitulah kisah seorang pendeta Amerika yang menemukan Islam bukan lewat debat, bukan lewat konflik, tetapi lewat kejujuran, ilmu, dan ketenangan hati.


#kisahmualaf 

#pendetamasukislam 

#mualafamerika 

#perjalananhidayah 

#kisahnyata


No comments: