Sholat tahajud adalah ibadah sunnah yang memiliki
kedudukan sangat mulia. Banyak orang merasakan bahwa doa-doa di waktu tahajud
terasa lebih khusyuk, lebih dalam, dan seolah lebih “terhubung” dengan Allah
Swt. Namun muncul pertanyaan penting:
Mengapa tahajud harus
tidur dulu?
Apa benar ada
hubungan dengan gelombang otak seperti gelombang teta?
Artikel ini
mengulasnya dengan seimbang berdasarkan syariat dan sains modern.
1. Penjelasan Syariat:
Mengapa Tahajud Harus Tidur Terlebih Dahulu?
Dalam syariat, tahajud
adalah sholat malam yang dilakukan setelah
tidur, berbeda dengan
qiyamul lail yang boleh dilakukan tanpa tidur.
Dalil
Al-Qur’an
Allah Swt berfirman
dalam QS. Al-Isra’ ayat 79:
“Dan pada sebagian
malam lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu;
mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”
Ayat ini menggunakan kata tahajjud dari akar kata hajada
yang berarti “bangun dari tidur”.
Dalil
Hadits
Rasulullah SAW
bersabda:
“Sebaik-baik
sholat setelah sholat wajib adalah sholat malam.” (HR. Muslim)
Dan mengenai tidur
sebelum tahajud, terdapat hadits:
“Siapa
yang sholat di malam hari lalu tertidur hingga pagi hari, maka ditulis baginya
pahala qiyamul lail, tetapi ia tidak dianggap melakukan tahajud.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah – hasan)
Ini menunjukkan bahwa tidur adalah syarat definisi tahajud, bukan karena alasan biologis atau gelombang otak tertentu. Para ulama seperti Imam An-Nawawi dan Imam Ibn Hajar juga sepakat bahwa tidur menjadi pembeda utama antara tahajud dan qiyamul lail.
2. Perspektif Sains: Apakah
Ada Hubungan dengan Gelombang Teta?
Beberapa ceramah
menghubungkan tahajud dengan gelombang teta, namun secara ilmiah penjelasannya
lebih luas dan tidak sesederhana itu.
Fase Gelombang Otak Saat
Tidur
Menurut penelitian
neurofisiologi (Walker & Stickgold, 2006; Carskadon & Dement, 2017),
otak manusia melewati beberapa fase:
- Alpha
→ rileks, menjelang tidur
- Teta
→ tidur ringan / awal tidur
- Delta
→ tidur sangat dalam (deep sleep)
Ketika seseorang
bangun untuk tahajud pada akhir malam, tubuh biasanya baru melewati fase delta,
lalu naik menuju kondisi yang lebih waspada namun masih sangat tenang.
Mengapa
Doa Saat Tahajud Lebih Khusyuk?
Bangun di akhir malam
memunculkan kondisi biologis yang unik:
✔ Hormon
stres (kortisol) sangat rendah
✔ Kadar
prolaktin tinggi, membuat hati lebih lembut dan reflektif (Saper, 2010)
✔ Pembuluh
darah otak lebih stabil
✔ Gangguan
eksternal hampir tidak ada
✔ Otak
berada pada kondisi high-focus namun lembut
Inilah yang
menyebabkan seseorang:
- lebih mudah menangis dalam doa
- lebih jernih berpikir
- lebih cepat merenung
- lebih mudah merasa dekat dengan Allah
Swt
Jadi bukan karena gelombang teta “mengirim doa ke
langit”, melainkan karena neurobiologi manusia pada akhir malam berada pada
titik ketenangan paling optimal.
3.
Harmoni Antara Syariat dan Sains
Ketika digabungkan, tahajud menjadi istimewa karena dua
alasan besar:
A. Secara Syariat
- Allah memuliakan ibadah yang
dilakukan setelah tidur, sebagai bentuk kesungguhan.
- Rasulullah SAW dan para sahabat
terbiasa bangun setelah tidur untuk tahajud.
- Waktu akhir malam adalah waktu Allah
paling dekat dengan hamba-Nya.
Rasulullah bersabda:
“Tuhan
kita turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam
terakhir… lalu berkata: Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku akan kabulkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
B. Secara Sains
Kondisi otak dan
hormon setelah tidur memiliki karakter:
- fokus tinggi
- emosi stabil
- pikiran jernih
- refleksi mendalam
- relaksasi maksimal
Semua ini membuat ibadah malam menjadi pengalaman
spiritual yang sangat kuat.
KESIMPULAN
Sholat tahajud harus
diawali dengan tidur karena ketentuan syariat dan
definisinya memang demikian. Namun secara ilmiah, tidur sebelum tahajud
menempatkan otak dan jiwa manusia pada kondisi paling tenang, jernih, dan
fokus—sehingga doa terasa lebih khusyuk dan hubungan spiritual terasa lebih
dalam.
Tahajud adalah ibadah
yang memadukan:
- keistimewaan spiritual (syariat)
- ketenangan biologis alami (sains)
Bersama-sama,
keduanya menjadikan tahajud sebagai salah satu ibadah paling menyentuh di dalam
Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Syariat
1. Al-Qur’an Surah Al-Isra’ ayat 79.
2.
HR. Bukhari no. 1145; HR. Muslim no. 758 –
Keutamaan sholat malam.
3. HR. Abu Dawud no. 1303; Ibnu Majah no. 1340 –
definisi tahajud setelah tidur.
4. Hajar al-Asqalani. Fathul Bari.
5. An-Nawawi. Syarah Shahih Muslim.
Sumber Ilmiah
1. Stickgold, R., & Walker, M. (2006). Sleep,
memory and plasticity. Annual Review of Psychology.
2. Carskadon, M., & Dement, W. (2017). Normal
Human Sleep. Principles and Practice of Sleep Medicine.
3. Saper, C. (2010). Hypothalamic regulation
of sleep and circadian rhythms. Nature.
#Tahajud
#SholatMalam
#KeajaibanDoa
#IslamDanSains
#Spiritualitas

No comments:
Post a Comment