ABSTRAK
Virus influenza A
subtipe H3N2 merupakan salah satu varian yang paling dinamis dalam evolusi
virus influenza dan memiliki kemampuan adaptasi pada berbagai spesies, termasuk
manusia, babi, dan unggas. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai negara
melaporkan lonjakan kasus influenza yang didominasi oleh varian H3N2,
dipengaruhi oleh penurunan kekebalan populasi, mutasi cepat, dan perubahan
perilaku masyarakat. Artikel ini membahas karakteristik biologis dan
epidemiologis H3N2, risiko transmisi lintas spesies, serta ancamannya terhadap
kesehatan publik dan kesehatan hewan. Selain itu, artikel menekankan pentingnya
pendekatan One Health dalam mitigasi risiko melalui surveilans terintegrasi,
biosekuriti peternakan, vaksinasi influenza musiman, dan edukasi masyarakat.
Diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk mengurangi dampak H3N2 serta mencegah
munculnya varian baru yang lebih virulen.
Kata kunci: Influenza H3N2, zoonosis, athogen athog, athogen
hewan, One Health, surveilans, biosekuriti.
PENDAHULUAN
Meskipun tren nasional menunjukkan sedikit penurunan pada
awal 2026, aktivitas influenza tetap tinggi di seluruh AS, dominasi A H3N2
subclade K tetap kuat, memberikan tekanan signifikan pada athog athogen (18
juta kasus, ratusan ribu rawat inap, ribuan kematian), dan masih menjadi atho
utama pengendalian penyakit musiman di Amerika Serikat. (Stobbe, 2026)
Influenza tipe A merupakan penyakit yang sangat mudah
bermutasi dan memiliki kemampuan beradaptasi lintas spesies. Subtipe H3N2—yang
sejak lama beredar pada manusia—athoge menjadi perhatian setelah beberapa
negara melaporkan lonjakan kasus influenza musiman. Selain menginfeksi manusia,
H3N2 juga mampu menginfeksi hewan, terutama babi dan berbagai spesies athog,
sehingga menempatkannya sebagai ancaman penting dalam konteks athogen athog dan
athogen hewan. Kemampuan reassortment yang tinggi menambah risiko munculnya
varian baru dengan karakteristik lebih athogen atau lebih mudah menular.
Permasalahan ini
membutuhkan penanganan lintas sektor karena interaksi antara manusia, hewan,
dan lingkungan dapat memicu dinamika evolusi virus. Artikel ini menyajikan
ulasan komprehensif mengenai lonjakan kasus H3N2, karakter virologinya, ancaman
nyata terhadap kesehatan, serta strategi mitigasi berbasis pendekatan One
Health.
Lonjakan Kasus Influenza H3N2
Beberapa negara mengalami peningkatan signifikan kasus
influenza, terutama selama musim dingin, dengan H3N2 sebagai varian dominan.
Lonjakan ini dipengaruhi berbagai faktor:
1. Penurunan Kekebalan Populasi
Selama pandemi COVID-19, pembatasan mobilitas dan penggunaan
masker menurunkan paparan terhadap virus influenza. Ketika pembatasan
berkurang, masyarakat menghadapi musim influenza dengan tingkat imunitas yang
lebih rendah sehingga meningkatkan kerentanan.
2. Mutasi dan Drift Antigenik
H3N2 berevolusi cepat melalui mekanisme antigenic drift,
yang menyebabkan mismatch antara strain vaksin dan virus yang beredar. Hal ini
berkontribusi terhadap meningkatnya infeksi terobosan (breakthrough
infections).
3. Peningkatan Mobilitas dan Aktivitas Sosial
Peningkatan
aktivitas publik, perjalanan internasional, serta melemahnya kepatuhan pada
protokol kesehatan mempercepat transmisi H3N2 di komunitas.
Karakteristik Varian H3N2
A. Kemampuan Adaptasi Lintas Spesies
H3N2 telah
ditemukan pada manusia, babi (H3N2v), anjing, kuda, dan beberapa spesies
unggas. Adaptasi ini memungkinkan interaksi antarsubtipe influenza dan
meningkatkan risiko reassortment.
B. Evolusi Genetik Cepat
Perubahan pada
protein hemagglutinin (HA) dan neuraminidase (NA) menyebabkan variasi antigenik
yang memengaruhi virulensi, daya tular, dan efektivitas vaksin.
C. Dampak Klinis pada Kelompok Rentan
H3N2 cenderung menimbulkan gejala lebih berat pada lansia,
balita, dan individu dengan komorbid kronis. Kejadian rawat inap juga lebih
tinggi dibandingkan subtipe influenza lainnya.
ANCAMAN BAGI KESEHATAN PUBLIK
1. Peningkatan
Beban Sistem Kesehatan
Lonjakan kasus H3N2 meningkatkan kebutuhan layanan
kesehatan, termasuk ruang rawat dan ICU, terutama saat muncul varian yang tidak
cocok dengan vaksin.
2. Risiko
Wabah Baru
Evolusi H3N2 yang cepat meningkatkan risiko munculnya strain
baru yang lebih kebal terhadap vaksin, lebih patogen, atau memiliki kemampuan
transmisi yang lebih tinggi.
3. Dampak
Ekonomi
Tingginya angka kesakitan menyebabkan absensi kerja,
penurunan produktivitas, dan peningkatan biaya kesehatan, yang berdampak pada
ekonomi masyarakat.
ANCAMAN BAGI KESEHATAN HEWAN
A. Penularan Lintas Spesies
Reverse zoonosis
dari manusia ke babi telah beberapa kali dilaporkan. Babi dapat
bertindak sebagai “mixing vessel” untuk reassortment, sehingga memungkinkan
terbentuknya varian baru.
B. Kerugian Ekonomi Peternakan
Pada peternakan
babi dan unggas, infeksi influenza dapat menyebabkan:
- penurunan
produksi,
- gangguan
pertumbuhan,
- peningkatan mortalitas pada anak
hewan,
- biaya tambahan untuk pengobatan dan
biosekuriti.
C. Risiko Reassortment
Kandang dengan
biosekuriti rendah meningkatkan peluang koinfeksi influenza manusia dan hewan,
memperbesar risiko munculnya strain zoonosis baru.
Pendekatan One Health sebagai
Solusi
Pengendalian influenza H3N2 harus dilakukan secara terpadu
melalui prinsip One Health.
1. Surveilans Terintegrasi
Meliputi
pemantauan virus pada manusia, babi, unggas, dan lingkungan. Analisis
sekuensing diperlukan untuk mendeteksi perubahan genetik secara dini.
2. Peningkatan Biosekuriti
Tindakan meliputi:
- pembatasan
akses ke kandang,
- penggunaan
APD,
- manajemen
lalu lintas hewan,
- peningkatan
sanitasi.
3. Vaksinasi
Influenza Musiman
Vaksinasi tetap menjadi langkah penting untuk mengurangi
risiko penyakit berat dan menghambat transmisi meskipun efektivitas terhadap
H3N2 dapat bervariasi.
4. Edukasi dan Komunikasi Risiko
Peningkatan
kesadaran masyarakat dan peternak mengenai gejala, pencegahan, serta risiko
zoonosis sangat penting untuk mitigasi berbasis masyarakat.
KESIMPULAN
Varian influenza H3N2 tetap menjadi ancaman nyata bagi
kesehatan publik dan kesehatan hewan. Lonjakan kasus dalam beberapa tahun terakhir dipicu oleh penurunan
kekebalan populasi, mutasi genetik, serta perubahan perilaku masyarakat. Karena
H3N2 memiliki kemampuan adaptasi lintas spesies yang tinggi, risiko munculnya
varian baru yang lebih virulen tidak dapat diabaikan.
Pendekatan One
Health yang melibatkan kolaborasi multisektor sangat diperlukan untuk
meningkatkan surveilans, memperkuat biosekuriti, serta mendorong peningkatan
cakupan vaksinasi. Pengawasan terpadu dan tindakan preventif yang berkelanjutan
merupakan kunci dalam mencegah dampak yang lebih besar pada manusia, hewan, dan
stabilitas ekonomi.
DAFTAR PUSTAKA
Centers for Disease Control and Prevention. (2023). Key
facts about influenza (flu). https://www.cdc.gov/flu/
Khuntirat, B., Dowell, S. F., Simmerman, J. M., & Olsen,
S. J. (2022). Influenza virus surveillance and epidemiology. Journal of
Infectious Diseases, 226(S1), S1–S9.
Nelson, M. I., & Vincent, A. L. (2015). Reverse zoonosis
of influenza to swine: New perspectives on the human-animal interface. Trends
in Microbiology, 23(3), 142–153. https://doi.org/10.1016/j.tim.2014.12.002
Stobbe, M. (2026, January 17). US flu activity fell for a
second week. But experts worry the season is far from over. AP News.
World Health Organization. (2023). Influenza update. https://www.who.int
Webster, R. G., Bean, W. J., Gorman, O. T., Chambers, T. M.,
& Kawaoka, Y. (1992). Evolution and ecology of influenza A viruses. Microbiological
Reviews, 56(1), 152–179.
#InfluenzaH3N2
#OneHealth
#Zoonosis
#KesehatanPublik
#KesehatanHewan

No comments:
Post a Comment