Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Monday, 5 January 2026

Mengapa Dakwah Harus Berubah? Tantangan Da’i Abad ke-21 Menghadapi Gen Z dan Alpha.

 


Perlunya Da’i Abad ke-21 yang Kompatibel untuk Gen Z dan Alpha

 

Dakwah Islam sejatinya adalah proses menyampaikan risalah Allah agar manusia semakin mengenal Tuhannya dan mampu hidup sesuai tuntunan-Nya. Namun, di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, dakwah menghadapi tantangan serius. Banyak pendakwah seolah terhalang oleh sebuah “tembok kaca”: merasa telah cukup dengan literasi teks keagamaan (ayat qauliyah), tetapi kurang memberi perhatian pada literasi alam dan realitas sosial (ayat kauniyah). Akibatnya, dakwah yang seharusnya menjadi cahaya justru kehilangan daya relevansinya dalam kehidupan umat, khususnya bagi generasi muda.

 

Padahal Allah Swt. berulang kali mengajak manusia untuk membaca dua kitab sekaligus: wahyu dan semesta. “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru alam dan pada diri mereka sendiri…”  (QS. Fushshilat: 53). Ayat ini menegaskan bahwa memahami Islam tidak cukup hanya dengan teks, tetapi juga dengan membaca realitas kehidupan.

 

Jebakan “Merasa Cukup”: Intelektualisme yang Tertutup

 

Salah satu titik lemah dakwah hari ini adalah munculnya jebakan merasa cukup. Ada sebagian dai yang beranggapan bahwa penguasaan bahasa Arab dan kitab-kitab klasik otomatis menjadikannya otoritatif dalam semua persoalan. Padahal Al-Qur’an dan Hadits hadir sebagai sumber hikmah dan prinsip kehidupan, yang memerlukan pemahaman, ijtihad, dan konteks dalam penerapannya.

 

Kesalahan ini berdampak serius. Ketika umat menghadapi persoalan kesehatan mental, krisis ekonomi, atau penyakit kompleks, jawaban dakwah sering kali menjadi terlalu simplistik: “kurang dzikir”, “kurang ikhlas”, atau “kurang iman”. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan sikap menyederhanakan masalah secara tidak proporsional. Rasulullah sendiri bersabda, “Berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya.” (HR. Abu Dawud). Hadits ini menunjukkan bahwa ikhtiar ilmiah dan pendekatan profesional adalah bagian dari ajaran Islam.

 

Gagap Ayat Kauniyah dan Sains Modern

 

Alam semesta dan masyarakat berjalan dengan hukum-hukum Allah (Sunnatullah) yang dapat dipelajari melalui ilmu pengetahuan. Ketika dunia membicarakan Artificial Intelligence, perubahan iklim, dan revolusi bioteknologi, sebagian mimbar dakwah masih berkutat pada tema-tema lama tanpa kontekstualisasi.

 

Padahal Al-Qur’an justru mendorong umatnya untuk berpikir dan meneliti. “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran: 190). Ayat ini menegaskan bahwa sains dan iman bukan dua kutub yang bertentangan, melainkan dua jalan untuk mengenal kebesaran Allah.

 

Karena itu, dakwah abad ke-21 perlu bersifat kolaboratif. Dai berperan memberikan kerangka nilai dan etika Islam, sementara para pakar menjelaskan mekanisme teknisnya. Dengan demikian, dakwah menjadi relevan tanpa kehilangan ruh spiritualnya.

 

Kerentanan Dakwah di Era Post-Truth

 

Di era post-truth, ketika emosi sering mengalahkan fakta, dakwah menghadapi ujian berat. Ironisnya, ada pendakwah yang tanpa sadar justru menjadi saluran hoaks karena lemahnya literasi media dan tabayyun digital. Padahal Allah Swt. telah mengingatkan, “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Hujurat: 6).

 

Otoritas seorang dai di mata umat sangat besar. Apa yang diucapkan sering diterima tanpa kritik. Karena itu, kesalahan kecil yang disampaikan dari mimbar bisa berdampak sistemik terhadap citra Islam. Rasulullah bersabda, “Cukuplah seseorang dianggap berdusta jika ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim). Hadits ini adalah peringatan keras agar dakwah dibangun di atas validitas, bukan sekadar viralitas.

 

Segmentasi dan Pendekatan Akar Rumput

 

Tantangan lain dakwah adalah persoalan segmentasi. Dakwah sering kali “salah alamat”: bahasa akademik disampaikan kepada masyarakat awam, atau sebaliknya. Padahal Rasulullah selalu berdakwah sesuai konteks audiensnya. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkat pemahaman mereka.” (HR. Bukhari, secara makna).

 

Dakwah masa kini harus hadir di tengah komunitas: komunitas hobi, profesi, dunia digital, hingga kelompok marginal. Pendekatannya bukan menghakimi, melainkan memanusiakan. Selain itu, kaderisasi dakwah perlu diarahkan secara berjenjang dan spesifik: dai yang memahami pertanian untuk desa, dai yang melek teknologi untuk generasi digital, dan dai yang paham psikologi untuk persoalan kesehatan mental.

 

Catatan Penting

 

Dai abad ke-21 bukanlah mereka yang paling keras suaranya, tetapi yang paling relevan pesan dan paling jujur ilmunya. Dai yang mampu membaca teks wahyu sekaligus membaca zaman, menggabungkan iman dengan akal, serta menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Sebagaimana firman Allah Swt., “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).

 

Semoga dakwah kita tidak terhenti pada kata-kata, tetapi menjelma menjadi solusi yang membumi, mencerahkan, dan menenangkan umat—khususnya bagi Gen Z dan Alpha yang sedang mencari makna hidup di tengah hiruk-pikuk dunia modern.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


#DakwahModern 
#IslamRahmatan 
#GenZMuslim 
#LiterasiKeislaman 
#DaiAbad21

No comments: