Bahaya Istidraj –
Nikmat yang Menipu.
Pernahkah Anda melihat
seseorang yang hidupnya tampak begitu mulus? Rezekinya lancar, bisnisnya
sukses, semua yang diinginkannya seolah mudah ia dapatkan padahal ia jauh dari
ibadah, jarang shalat, bahkan terang-terangan bermaksiat. Lalu muncul
pertanyaan dalam hati, “Kenapa orang seperti itu tetap diberi kenikmatan oleh
Allah?”
Jawabannya bisa jadi itu
merupakan istidraj. Istidraj adalah bentuk ujian dari Allah SWT dalam wujud
yang tampak seperti nikmat, tapi sejatinya adalah jalan menuju kehancuran
perlahan-lahan. Nikmat yang diberikan terus-menerus pada orang yang durhaka bukanlah
bentuk kasih sayang, melainkan bentuk teguran yang tersembunyi yang bisa
membuat seseorang semakin jauh dari Allah tanpa ia sadari.
Lantas, bagaimana
sebenarnya apa itu istidraj dalam Islam? Apa tanda-tanda terkena istidraj? Mari,
kita bahas lebih dalam berikut ini!
Istidraj merupakan
bentuk pemberian kenikmatan dari Allah SWT kepada orang-orang yang sebenarnya
sedang dimurkai-Nya. Kenikmatan tersebut bisa berupa harta melimpah, kedudukan
tinggi, keberhasilan duniawi, atau kehidupan yang tampak sempurna di mata manusia.
Namun, semua itu bukanlah tanda cinta atau ridha dari Allah, melainkan jebakan
halus agar mereka semakin tenggelam dalam kelalaian dan maksiat.
Orang yang mengalami istidraj sering merasa
dirinya baik-baik saja. Ia tidak merasa bersalah meskipun meninggalkan
shalat, melakukan kebohongan, atau menzalimi orang lain, karena hidupnya tetap
terasa enak dan nyaman. Inilah titik paling berbahaya, ketika hati tidak lagi
merasa bersalah, padahal ia sedang jauh dari jalan Allah.
Hingga pada akhirnya, di
saat mereka sedang larut dalam dunia dan tidak lagi memiliki kesadaran untuk
bertobat, Allah mencabut seluruh kenikmatan tersebut secara tiba-tiba. Ketika
itu terjadi, barulah mereka sadar, namun penyesalan yang datang sudah terlambat.
Nikmat berubah menjadi azab dan kelalaian berubah menjadi kesengsaraan.
Allah SWT berfirman
dalam QS. al-Qalam ayat 44 sebagai berikut:
Artinya: “Maka
serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan
perkataan ini (Al Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan
berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui,”
(QS. al-Qalam: 44)
Dalam hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang berasal dari sahabat Rasulullah SAW, ‘Uqbah
bin Amir, Rasulullah SAW bersabda: “Apabila engkau lihat Allah memberikan
sebagian keduniaan kepada hamba-Nya, apa saja yang diingininya dengan
serba-serbi kemaksiatannya maka pemberian yang demikian adalah istidraj.”
(HR. Ahmad)
1. Bergelimang Nikmat
Dunia, Namun Jauh dari Nilai Keimanan
Orang yang berada dalam
keadaan istidraj sering kali diberikan kenikmatan dunia yang melimpah, seperti
kekayaan, jabatan, atau popularitas, tetapi hidupnya jauh dari nilai-nilai
keimanan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-An’am: 44 sebagai berikut :
“Maka tatkala mereka
melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan
semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga ketika mereka bergembira
dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba,
maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Q.S. Al-An’am: 44).
2. Lalai dan Malas
Beribadah
Salah satu ciri dari
istidraj adalah hilangnya semangat untuk beribadah. Seseorang merasa nyaman
dengan kehidupan dunianya dan tidak merasa butuh untuk mendekat kepada Allah.
Menurut Ibnu Katsir, istidraj membuat seseorang tidak diberi taufik untuk melakukan
amal baik, meskipun diberi banyak kenikmatan duniawi. Rasulullah SAW bersabda :
“Apabila engkau
melihat Allah Swt. memberikan nikmat kepada seorang hamba yang masih berbuat
maksiat, ketahuilah bahwa itu adalah istidraj.” (H.R. Ahmad).
3. Bermaksiat
Terus-Menerus Namun Terhindar dari Musibah
Seseorang yang selalu
melakukan kemaksiatan, tetapi hidupnya tampak mulus tanpa gangguan, patut
waspada. Itu bisa jadi tanda bahwa Allah SWT tengah menangguhkan azab-Nya. Dalam hadist riwayat Ahmad dan Ath-Thabrani
disebutkan bahwa Rasulullah bersabda :
“Jika kamu melihat bahwa Allah Swt.
memberikan nikmat kepada seorang yang suka berbuat maksiat, ketahuilah bahwa
itu adalah istidraj. Sebab, Allah membiarkan orang itu bergelimang dosa hingga
akhirnya Dia mencabut segala kenikmatannya secara tiba-tiba.” (H.R. Ahmad
dan Ath-Thabrani).
4. Tidak Mensyukuri Nikmat
Orang yang mengalami istidraj kerap kali
tidak menyadari bahwa nikmat yang ia miliki dari Allah SWT, sehingga ia tidak
bersyukur. Ia merasa bahwa semua keberhasilannya adalah hasil usahanya semata.
Menurut Ibnu Qayyim, saat seseorang merasa cukup dengan dunia tanpa merasa
butuh pada Allah, itu bisa menjadi sinyal bahwa nikmat tersebut justru membawa
kepada kesesatan. Dalam QS. An-Nahl: 83, Allah SWT berfirman :
“Dan mereka mengetahui nikmat Allah,
kemudian mereka mengingkarinya, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang
kafir” (Q.S. An-Nahl: 83).
5. Selalu Terjerumus
dalam Dosa Tanpa Penyesalan
Mereka yang terkena
istidraj terus-menerus melakukan dosa yang sama tanpa pernah merasa bersalah
atau berusaha bertobat. Imam Al-Qurtubi menafsirkan bahwa istidraj membuat
orang terlena dan semakin jauh dari petunjuk, sampai akhirnya binasa tanpa
sempat menyadarinya. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf: 182 sebagai
berikut :
“Dan orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami, Kami akan menarik mereka sedikit demi sedikit (ke
arah kebinasaan), dari arah yang tidak mereka ketahui” (Q.S. Al-A’raf:
182).
[
6. Nikmat Tidak Membawa
Kebahagiaan atau Kebaikan
Kenikmatan yang datang
dari istidraj tidak membawa ketenangan atau keberkahan dalam hidup. Meskipun
tampak sukses, namun jiwanya gelisah, hidupnya bermasalah, dan tidak ada
ketenangan batin. Para ulama pun menjelaskan bahwa ketika nikmat tidak mengarah
kepada kebaikan akhirat, maka itu bisa jadi adalah bentuk istidraj. Rasulullah
SAW pernah bersabda :
“Sesungguhnya harta
kekayaan yang diberikan kepada seseorang bisa menjadi fitnah (ujian) baginya,
jika harta itu membuatnya lalai dari mengingat Allah Swt.” (H.R. Bukhari).
7. Terlalu Sibuk
Mengejar Dunia
Ciri lain dari istidraj
adalah ketika seseorang terlalu mencintai dunia hingga melupakan akhirat. Fokus
hidupnya hanya untuk duniawi, seperti uang, jabatan, dan kenikmatan fisik,
tanpa peduli pada bekal untuk akhirat. Menurut tafsir Ibnu Jarir, nikmat dunia
yang diberikan kepada orang yang lalai justru akan menjadi penyebab
kehancurannya di akhirat. Dalam QS. At-Taubah: 55 diperingatkan bahwa :
“Maka janganlah harta
benda dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya Allah Swt. menghendaki
untuk menyiksa mereka dengan harta benda dan anak-anak itu dalam kehidupan
dunia, dan kelak akan melayang nyawa mereka dalam keadaan kafir.” (Q.S.
At-Taubah: 55).
Nah, setelah mengetahui
apa itu istidraj dan tanda-tanda seseorang terkena istidraj, kini Anda harus
berhati-hati dan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
#Istidraj
#RenunganIslam
#NikmatAllah
#BahayaMaksiat
#JagaHati

No comments:
Post a Comment