Azzam,
Anak Kecil yang Mengajarkan Kita Hebatnya Kekuatan Doa
Namanya
Azzam. Usianya baru dua belas tahun, tubuhnya kecil, wajahnya
polos, dan ia berasal dari sebuah kampung sederhana di Indonesia. Tidak ada
yang menyangka bahwa anak seusianya bisa melaksanakan ibadah umrah, sebuah impian yang bahkan banyak
orang dewasa belum mampu mencapainya.
Ayah
Azzam hanyalah seorang buruh harian. Ibunya penjahit rumahan. Hidup mereka jauh dari kata berlebih; untuk makan
saja, kadang mereka harus menghitung hari. Namun di balik kesederhanaan itu,
ada satu kebiasaan Azzam yang membuat banyak orang dewasa tertegun—sebuah
kebiasaan yang menjadi kunci dari sebuah perjalanan tak terduga.
Setiap selesai shalat, Azzam selalu menengadahkan tangan
kecilnya dan berdoa, “Ya Allah, izinkan aku melihat Ka’bah sebelum aku
besar.”
Doa itu bukan sekadar ucapan. Ia ulangi bertahun-tahun.
Dalam sujudnya. Dalam malamnya. Dalam setiap harapannya.
Doa Anak Kecil yang Menggetarkan Arsy
Allah berfirman:
“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku
kabulkan untukmu.” (QS. Ghafir: 60)
Azzam percaya pada ayat itu. Ketika teman-temannya sibuk
bermain gawai, ia memilih membantu ayahnya atau mengaji di mushala. Ia menabung
receh di kaleng biskuit—bukan untuk mainan, tapi untuk mimpi yang bahkan orang
dewasa pun sering takut menjaganya.
Sampai suatu hari, ustadz di kampungnya mengumumkan
program umrah hasil patungan jamaah dan donatur. Satu kursi diperuntukkan bagi
anak yatim atau dhuafa yang istiqamah menjaga shalat dan akhlak.
Nama
Azzam disebut.
Ibunya
menangis tersedu. Ayahnya terduduk
lama, tak percaya. Mereka tahu bahwa ini bukan kebetulan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa.” —HR. Tirmidzi
Perjalanan yang Mengubah Hati
Perjalanan itu tidak mudah. Itu kali pertama Azzam naik
pesawat. Namun tekad dan syukur membuat hatinya teguh.
Di Madinah, ia menangis ketika berada di Raudhah—taman
surga di muka bumi.
Di Makkah, ketika pertama kali melihat Ka’bah, kakinya
gemetar. Bibirnya tak mampu membentuk kalimat panjang. Air matanya jatuh tanpa
suara.
Ia hanya berbisik:“Ya Allah… terima kasih. Engkau
tidak menertawakanku.”
Betapa indahnya keyakinan seorang anak kecil yang percaya
bahwa Allah mendengar setiap bisikan hatinya.
Hati yang Semakin Lembut Setelah Umrah
Sepulang dari umrah, Azzam bukan menjadi sombong, tapi
justru semakin rendah hati. Ia semakin rajin shalat, menjaga lisannya, membantu
orang tua, dan sering mengingatkan orang dewasa dengan lembut.
“Kalau Allah mau, tidak ada yang
mustahil,” katanya lirih setiap
kali seseorang meragukan harapan mereka.
Benar adanya firman Allah:
“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat
mengalahkan kamu.” (QS. Ali ‘Imran: 160)
Dan juga janji-Nya:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan
memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)
Mimpi yang Disertai Doa Tidak Pernah
Sia-Sia
Kisah Azzam bukan dongeng. Ia nyata, terjadi di
Indonesia. Azzam mengajarkan kita bahwa mimpi
yang disertai doa, akhlak, dan kesabaran tidak akan pernah sia-sia. Kadang Allah mengabulkan bukan karena kita
mampu, tapi karena kita bersungguh-sungguh berharap kepada-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin bahwa doa itu
akan dikabulkan.” —HR.
Tirmidzi
Azzam mungkin masih kecil, tetapi keyakinannya lebih
besar daripada banyak orang dewasa. Ia menunjukkan bahwa yang terpenting bukan
siapa kita, seberapa kaya kita, atau seberapa kuat kita—melainkan seberapa teguh kita beriman kepada Allah.
Karena pada akhirnya, doa
yang penuh kesungguhan adalah pintu yang selalu Allah buka bagi hamba-hamba-Nya
yang tulus.
#kisahislam
#doamustajab
#umrah
#inspirasimuslim
#anakshaleh


No comments:
Post a Comment