Mengenal Bell’s Palsy: Kelumpuhan Wajah
Mendadak yang Sering Disalahpahami
Pernahkah Anda melihat seseorang yang tiba-tiba tidak bisa tersenyum
simetris, salah satu sudut mulutnya terkulai, atau matanya tidak bisa menutup
sempurna? Kondisi ini sering kali memicu kepanikan karena gejalanya
menyerupai stroke. Namun, dalam banyak kasus, kondisi ini adalah Bell’s Palsy [1,2].
Apa Itu Bell’s Palsy?
Bell’s palsy adalah kelemahan atau
kelumpuhan sementara pada otot-otot di satu sisi wajah. Kondisi ini terjadi
akibat peradangan atau pembengkakan pada saraf wajah (saraf kranial VII) yang
mengontrol ekspresi wajah [1,3]. Berbeda dengan stroke yang berasal dari otak,
Bell’s palsy murni merupakan masalah pada saraf tepi wajah [2].
Gejala yang Muncul
Gejala Bell’s palsy biasanya muncul
secara mendadak dan mencapai puncaknya dalam waktu 48 jam [3,4]. Beberapa tanda utamanya meliputi:
·
Kelumpuhan pada satu sisi wajah (sulit tersenyum
atau menutup mata).
·
Alis yang
turun dan hilangnya kerutan di dahi.
·
Air liur
sering menetes (iler) karena kontrol mulut berkurang.
·
Nyeri di sekitar telinga atau rahang pada sisi yang
terdampak.
·
Perubahan indra perasa (penurunan kemampuan
mengecap).
·
Mata terasa kering atau justru berair karena
kelopak mata tidak bisa menutup rapat [4,9].
Mengapa Bisa Terjadi?
Hingga saat ini, penyebab pasti
Bell’s palsy masih diperdebatkan. Namun, para ahli meyakini bahwa infeksi virus
berperan besar. Virus seperti Herpes simplex atau virus penyebab
cacar air sering dikaitkan dengan peradangan saraf wajah [2,8]. Saat saraf
membengkak di dalam saluran tulang yang sempit menuju wajah, saraf tersebut
terjepit dan kehilangan fungsinya untuk mengirimkan sinyal ke otot [4].
Selain virus, faktor risiko seperti
kehamilan, diabetes, atau infeksi saluran pernapasan atas juga dapat
meningkatkan kemungkinan Bell’s palsy terjadi [3,9].
Diagnosis dan Penanganan
Langkah pertama yang paling krusial
adalah segera ke dokter untuk memastikan bahwa gejala tersebut bukan stroke
[1]. Dokter biasanya melakukan pemeriksaan fisik sederhana, seperti meminta
pasien mengangkat alis, memejamkan mata, atau menunjukkan gigi [3].
Penanganan medis pada tahun 2026
umumnya meliputi:
·
Kortikosteroid: Obat untuk mengurangi peradangan dan pembengkakan saraf
[1,7].
·
Antivirus: Terkadang diberikan jika diduga kuat ada infeksi virus
[2].
·
Perawatan Mata: Tetes air mata buatan dan penutup mata (eye patch)
diperlukan untuk melindungi kornea [9].
·
Fisioterapi: Latihan otot-otot wajah diyakini membantu mempercepat
pemulihan fungsi otot [8].
Harapan Sembuh
Kabar baiknya, Bell’s palsy memiliki
tingkat kesembuhan yang tinggi. Sekitar 80% hingga 85% pasien pulih sepenuhnya dalam waktu 3 hingga 6 bulan tanpa cacat permanen
[4,7].
Kesimpulan
Bell’s palsy memang mengkhawatirkan
secara estetika dan kenyamanan, namun dengan penanganan medis yang cepat dan
tepat, fungsi wajah biasanya dapat kembali normal. Kunci utamanya adalah tidak menunda pemeriksaan medis agar komplikasi permanen dapat
dihindari [1,3].
Daftar
Pustaka
1.
Baugh, R.
F., Basura, G. J., Ishii, L. E., Schwartz, S. R., Drumheller, C. M.,
Burkholder, R., ... & Rosenfeld, R. M. (2013). Clinical Practice
Guideline: Bell’s Palsy. Otolaryngology–Head and Neck Surgery,
149(3_suppl), S1–S27.
2.
Holland,
N. J., & Weiner, G. M. (2004). Recent Developments in Bell’s Palsy.
BMJ, 329(7465), 553–557.
3.
Tiemstra,
J. D., & Khatkhate, N. (2007). Bell’s Palsy: Diagnosis and Management.
American Family Physician, 76(7), 997–1002.
4.
Peitersen,
E. (2002). Bell’s Palsy: The Spontaneous Course of 2,500 Peripheral Facial
Nerve Palsies of Different Etiologies. Acta Oto-Laryngologica, 122(7),
4–30.
5.
National
Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS). (2023). Bell’s Palsy
Fact Sheet. U.S. Department of Health and Human Services.
6.
Murthy,
J. M. K. (2019). Bell’s Palsy and Facial Nerve Disorders. In: Aminoff,
M. J., & Kerestes, L. (Eds.). Neurology and Clinical Neuroscience.
Elsevier.
7.
Katusic,
S. K., Beard, C. M., Wiederholt, W. C., Bergstralh, E. J., & Kurland, L. T.
(1986). Incidence, Clinical Features, and Prognosis in Bell’s Palsy,
Rochester, Minnesota, 1968–1982. Annals of Neurology, 20(5), 622–627.
8.
Ramalho, J. R., et al. (2020). Facial Nerve Palsy: A Review of
Pathogenesis, Diagnosis, and Management. Journal of Neurological Sciences,
418, 117–122.
9.
Mayo
Clinic. (2024). Bell’s Palsy: Symptoms and Causes. Mayo Foundation for
Medical Education and Research.
10. Cleveland Clinic. (2024). Bell’s Palsy
Overview. Cleveland Clinic Medical Resources.

No comments:
Post a Comment