Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Thursday, 22 January 2026

Wajah Terkulai Tiba-tiba? Kenali Bell’s Palsy, Penyakit Misterius yang Sering Disangka Stroke!

 


Mengenal Bell’s Palsy: Kelumpuhan Wajah Mendadak yang Sering Disalahpahami

 

Pernahkah Anda melihat seseorang yang tiba-tiba tidak bisa tersenyum simetris, salah satu sudut mulutnya terkulai, atau matanya tidak bisa menutup sempurna? Kondisi ini sering kali memicu kepanikan karena gejalanya menyerupai stroke. Namun, dalam banyak kasus, kondisi ini adalah Bell’s Palsy [1,2].

 

Apa Itu Bell’s Palsy?

 

Bell’s palsy adalah kelemahan atau kelumpuhan sementara pada otot-otot di satu sisi wajah. Kondisi ini terjadi akibat peradangan atau pembengkakan pada saraf wajah (saraf kranial VII) yang mengontrol ekspresi wajah [1,3]. Berbeda dengan stroke yang berasal dari otak, Bell’s palsy murni merupakan masalah pada saraf tepi wajah [2].

 

Gejala yang Muncul

 

Gejala Bell’s palsy biasanya muncul secara mendadak dan mencapai puncaknya dalam waktu 48 jam [3,4]. Beberapa tanda utamanya meliputi:

·         Kelumpuhan pada satu sisi wajah (sulit tersenyum atau menutup mata).

·         Alis yang turun dan hilangnya kerutan di dahi.

·         Air liur sering menetes (iler) karena kontrol mulut berkurang.

·         Nyeri di sekitar telinga atau rahang pada sisi yang terdampak.

·         Perubahan indra perasa (penurunan kemampuan mengecap).

·         Mata terasa kering atau justru berair karena kelopak mata tidak bisa menutup rapat [4,9].

 

Mengapa Bisa Terjadi?

 

Hingga saat ini, penyebab pasti Bell’s palsy masih diperdebatkan. Namun, para ahli meyakini bahwa infeksi virus berperan besar. Virus seperti Herpes simplex atau virus penyebab cacar air sering dikaitkan dengan peradangan saraf wajah [2,8]. Saat saraf membengkak di dalam saluran tulang yang sempit menuju wajah, saraf tersebut terjepit dan kehilangan fungsinya untuk mengirimkan sinyal ke otot [4].

Selain virus, faktor risiko seperti kehamilan, diabetes, atau infeksi saluran pernapasan atas juga dapat meningkatkan kemungkinan Bell’s palsy terjadi [3,9].

 

Diagnosis dan Penanganan

 

Langkah pertama yang paling krusial adalah segera ke dokter untuk memastikan bahwa gejala tersebut bukan stroke [1]. Dokter biasanya melakukan pemeriksaan fisik sederhana, seperti meminta pasien mengangkat alis, memejamkan mata, atau menunjukkan gigi [3].

Penanganan medis pada tahun 2026 umumnya meliputi:

·         Kortikosteroid: Obat untuk mengurangi peradangan dan pembengkakan saraf [1,7].

·         Antivirus: Terkadang diberikan jika diduga kuat ada infeksi virus [2].

·         Perawatan Mata: Tetes air mata buatan dan penutup mata (eye patch) diperlukan untuk melindungi kornea [9].

·         Fisioterapi: Latihan otot-otot wajah diyakini membantu mempercepat pemulihan fungsi otot [8].

 

Harapan Sembuh

 

Kabar baiknya, Bell’s palsy memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi. Sekitar 80% hingga 85% pasien pulih sepenuhnya dalam waktu 3 hingga 6 bulan tanpa cacat permanen [4,7].

 

Kesimpulan

 

Bell’s palsy memang mengkhawatirkan secara estetika dan kenyamanan, namun dengan penanganan medis yang cepat dan tepat, fungsi wajah biasanya dapat kembali normal. Kunci utamanya adalah tidak menunda pemeriksaan medis agar komplikasi permanen dapat dihindari [1,3].

 

Daftar Pustaka

 

1.     Baugh, R. F., Basura, G. J., Ishii, L. E., Schwartz, S. R., Drumheller, C. M., Burkholder, R., ... & Rosenfeld, R. M. (2013). Clinical Practice Guideline: Bell’s Palsy. Otolaryngology–Head and Neck Surgery, 149(3_suppl), S1–S27.

2.     Holland, N. J., & Weiner, G. M. (2004). Recent Developments in Bell’s Palsy. BMJ, 329(7465), 553–557.

3.     Tiemstra, J. D., & Khatkhate, N. (2007). Bell’s Palsy: Diagnosis and Management. American Family Physician, 76(7), 997–1002.

4.     Peitersen, E. (2002). Bell’s Palsy: The Spontaneous Course of 2,500 Peripheral Facial Nerve Palsies of Different Etiologies. Acta Oto-Laryngologica, 122(7), 4–30.

5.     National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS). (2023). Bell’s Palsy Fact Sheet. U.S. Department of Health and Human Services.

6.     Murthy, J. M. K. (2019). Bell’s Palsy and Facial Nerve Disorders. In: Aminoff, M. J., & Kerestes, L. (Eds.). Neurology and Clinical Neuroscience. Elsevier.

7.     Katusic, S. K., Beard, C. M., Wiederholt, W. C., Bergstralh, E. J., & Kurland, L. T. (1986). Incidence, Clinical Features, and Prognosis in Bell’s Palsy, Rochester, Minnesota, 1968–1982. Annals of Neurology, 20(5), 622–627.

8.     Ramalho, J. R., et al. (2020). Facial Nerve Palsy: A Review of Pathogenesis, Diagnosis, and Management. Journal of Neurological Sciences, 418, 117–122.

9.     Mayo Clinic. (2024). Bell’s Palsy: Symptoms and Causes. Mayo Foundation for Medical Education and Research.

10. Cleveland Clinic. (2024). Bell’s Palsy Overview. Cleveland Clinic Medical Resources.

 

#BellsPalsy 

#KelumpuhanWajah 

#GejalaStroke 

#SarafWajah 

#Kesehatan

No comments: