MEMAHAMI 5 TAHAP LAKTASI SAPI PERAH:
MENGAPA PRODUKSI SUSU NAIK, MENCAPAI PUNCAK, LALU MENURUN?
PENDAHULUAN
Siklus sapi perah setelah melahirkan terdiri atas
perubahan fisiologis yang kompleks dan berlangsung selama satu periode laktasi.
Setelah beranak, produksi susu umumnya meningkat dengan cepat, kemudian
mencapai puncak sebelum berangsur-angsur menurun. Pola perubahan tersebut dapat
digambarkan sebagai kurva laktasi. Wood (1967) dan peneliti sesudahnya
menunjukkan bahwa bentuk kurva laktasi dapat digunakan untuk menggambarkan
persistensi produksi dan mengevaluasi performa sapi selama satu periode
laktasi.
Secara konvensional, satu periode
laktasi berlangsung sekitar 305 hari, kemudian diikuti masa kering sebelum sapi
melahirkan kembali. Karena itu, pemahaman mengenai perubahan produksi susu pada
setiap tahap sangat penting agar kebutuhan nutrisi, kesehatan, reproduksi, dan
kondisi tubuh sapi dapat dikelola sesuai dengan tuntutan fisiologisnya.
LIMA TAHAP LAKTASI SAPI PERAH
1. Early Lactation: Saat
Produksi Susu Meningkat Sangat Cepat
Fase ini berlangsung sekitar 0–60 hari setelah beranak. Produksi susu meningkat secara cepat
seiring meningkatnya aktivitas jaringan sekretori ambing. Pada periode ini
kebutuhan energi meningkat sangat cepat, sementara konsumsi bahan kering belum
selalu mampu memenuhi kebutuhan energi untuk produksi susu. Akibatnya, sapi
dapat mengalami negative energy balance. Kondisi tersebut perlu dipantau karena
berhubungan dengan perubahan kondisi tubuh, kesehatan metabolik, dan performa
reproduksi. Kualitas pakan, kecukupan protein, mineral, vitamin, serta air
minum harus diperhatikan secara optimal.
2. Peak Lactation: Produksi Susu Mencapai Titik
Tertinggi
Puncak produksi umumnya terjadi sekitar 30–60 hari
setelah beranak, meskipun waktunya dapat bervariasi menurut bangsa, paritas,
genetik, kualitas pakan, dan manajemen. Literatur mengenai kurva laktasi
menunjukkan bahwa puncak produksi dapat terjadi sekitar 60–120 hari tergantung
karakteristik sapi dan sistem pemeliharaan. Pada fase ini, kebutuhan nutrien
sangat tinggi karena produksi susu berada pada tingkat maksimum. Tantangan
utamanya adalah mempertahankan keseimbangan antara produksi susu yang tinggi
dan kemampuan sapi mengonsumsi pakan dalam jumlah yang memadai. Pemantauan
konsumsi pakan, kondisi tubuh, kesehatan ambing, serta gangguan metabolik
menjadi sangat penting.
3. Mid Lactation: Produksi Mulai Stabil
Fase mid lactation berlangsung kira-kira 90–180 hari
setelah beranak. Konsumsi pakan umumnya
mulai meningkat dan keseimbangan energi secara bertahap membaik. Produksi susu
mulai menurun secara perlahan dibandingkan dengan fase puncak, tetapi masih
berada pada tingkat yang relatif tinggi. Pada tahap ini, manajemen pakan perlu
diarahkan untuk mempertahankan persistensi produksi, memenuhi kebutuhan
nutrien, dan menjaga kondisi tubuh agar sapi tetap sehat serta siap memasuki
tahap reproduksi berikutnya.
4. Late Lactation: Produksi Susu Mulai Menurun
Periode ini berlangsung sekitar 180–305 hari laktasi.
Produksi susu menurun secara bertahap seiring menurunnya aktivitas jaringan
sekretori ambing dan perubahan fisiologis menuju akhir laktasi. Pada tahap ini, kebutuhan nutrien
untuk produksi susu juga menurun. Namun, pengelolaan pakan tetap harus
dilakukan secara hati-hati agar sapi tidak mengalami peningkatan kondisi tubuh
secara berlebihan. Sapi perlu dipersiapkan untuk memasuki masa kering dan
periode transisi menuju kelahiran berikutnya.
5. Dry Period: Masa Istirahat Ambing Sebelum
Beranak
Dry period
merupakan periode ketika sapi tidak diperah sebelum kelahiran berikutnya.
Secara umum, masa kering sekitar 45–60 hari digunakan untuk memberikan
kesempatan bagi jaringan ambing melakukan involusi dan regenerasi serta
mempersiapkan produksi susu pada laktasi berikutnya. Periode ini juga penting
untuk mempersiapkan sapi menghadapi proses beranak dan awal laktasi. Manajemen nutrisi, kesehatan kuku
dan ambing, kondisi tubuh, serta pencegahan penyakit perlu dilakukan secara
terpadu.
LAJU LAKTASI: PRODUKSI SUSU MULAI
MENURUN
Setelah mencapai puncak, produksi
susu secara fisiologis akan menurun. Penurunan tersebut merupakan bagian normal
dari perjalanan laktasi dan tidak selalu menunjukkan adanya masalah kesehatan.
Tingkat penurunan produksi setelah puncak sering digunakan untuk menilai
persistensi laktasi. Sapi dengan persistensi yang baik mampu mempertahankan
produksi relatif tinggi lebih lama sehingga total produksi selama satu periode
laktasi menjadi lebih besar.
DRY PERIOD: WAKTU ISTIRAHAT DAN
PEMULIHAN
Masa kering merupakan bagian penting
dari siklus produksi sapi perah. Periode ini memberikan waktu bagi jaringan
ambing untuk beristirahat dan melakukan regenerasi sebelum memasuki laktasi
berikutnya. Selain itu, masa kering merupakan periode persiapan menuju
kelahiran dan laktasi baru. Pengelolaan nutrisi pada masa kering perlu
mempertimbangkan kondisi tubuh sapi agar tidak terlalu kurus maupun terlalu
gemuk.
HUBUNGAN ANTARA KURVA LAKTASI DAN
NUTRISI
Kebutuhan nutrien berubah mengikuti
setiap tahap laktasi. Pada awal laktasi, kebutuhan energi meningkat sangat
cepat karena produksi susu meningkat lebih cepat daripada kemampuan konsumsi
pakan. Kondisi ini dapat menyebabkan negative energy balance. Seiring
bertambahnya waktu setelah beranak, konsumsi bahan kering meningkat dan
keseimbangan energi berangsur membaik. Pada pertengahan hingga akhir laktasi,
kebutuhan nutrien untuk produksi susu menurun secara bertahap, sehingga
strategi pemberian pakan juga perlu disesuaikan.
Dengan demikian, pemberian ransum sebaiknya tidak
bersifat seragam sepanjang tahun. Formulasi ransum perlu mengikuti kebutuhan fisiologis
sapi, kualitas dan jumlah hijauan, konsentrat, protein, energi, mineral,
vitamin, serta ketersediaan air. Penyesuaian tersebut dapat membantu
mempertahankan produksi susu sekaligus menjaga kesehatan dan reproduksi.
KURVA LAKTASI SEBAGAI ALAT MANAJEMEN
Kurva laktasi memberikan gambaran
sederhana mengenai perubahan produksi susu dari waktu ke waktu. Jika produksi
tidak mencapai puncak sebagaimana yang diharapkan, penyebabnya dapat berasal
dari kualitas dan kuantitas pakan, kesehatan ambing, penyakit metabolik,
kenyamanan kandang, stres panas, kualitas air minum, maupun masalah reproduksi.
Sebaliknya, penurunan produksi yang terlalu cepat setelah puncak dapat
menunjukkan persistensi laktasi yang kurang baik atau adanya masalah manajemen.
Karena itu, data produksi susu
harian atau mingguan sebaiknya dianalisis bersama data konsumsi pakan, kondisi
tubuh, kesehatan, reproduksi, dan lingkungan. Pendekatan terpadu tersebut
membuat kurva laktasi lebih bermanfaat sebagai dasar pengambilan keputusan di
peternakan.
KESIMPULAN
Kurva laktasi sapi perah
menggambarkan perjalanan produksi susu dari peningkatan cepat setelah beranak,
pencapaian puncak, penurunan bertahap, hingga masa kering. Lima tahap tersebut—early lactation, peak lactation, mid
lactation, late lactation, dan dry period—memiliki karakteristik fisiologis dan
kebutuhan manajemen yang berbeda. Pemahaman terhadap perubahan tersebut
membantu peternak menyusun program nutrisi, kesehatan, reproduksi, dan
pemeliharaan secara lebih tepat. Dengan memanfaatkan data produksi sebagai
kurva laktasi, perubahan performa sapi dapat dipantau lebih dini dan digunakan
sebagai dasar untuk meningkatkan efisiensi produksi serta kesehatan ternak.
DAFTAR PUSTAKA
Wood, P. D. P. (1967). Algebraic model of the lactation
curve in cattle. Nature, 216, 164–165.
Drackley, J. K. (1999). Biology of dairy cows during the
transition period: The final frontier? Journal of Dairy Science, 82, 2259–2273.
Grummer, R. R. (1995). Impact of changes in organic
nutrient metabolism on feeding the transition dairy cow. Journal of Animal
Science, 73, 2820–2833.
Walsh, R. B., Walton, J. S., Kelton, D. F., LeBlanc, S.
J., Leslie, K. E., & Duffield, T. F. (2007). The effect of subclinical
ketosis in early lactation on reproductive performance of postpartum dairy
cows. Journal of Dairy Science, 90, 2788–2796.
Van Knegsel, A. T. M., van den Brand, H., Dijkstra, J.,
Tamminga, S., & Kemp, B. (2005). Effect of dietary energy source on energy
balance, production, metabolic disorders and reproduction in lactating dairy
cattle. Animal Feed Science and Technology, 126, 15–31.
#LaktasiSapiPerah
#ProduksiSusu
#PeternakanSapi
#NutrisiSapi
#ManajemenTernak


No comments:
Post a Comment