Atani Tokyo Journal is a scientific and educational platform focused on agriculture, animal husbandry, animal health, and veterinary public health. The journal is led by Dr. Pudjiatmoko, PhD, a veterinary expert and graduate of Gifu University, Japan, who has extensive experience in agricultural diplomacy as an Agricultural Attaché, in veterinary public administration as the Director of Animal Health, and in research related to animal health and veterinary public health. With this breadth of expertise, Atani Tokyo Journal delivers a blend of veterinary research, public policy, and agricultural diplomacy presented in a form that is accessible, relevant, and inspiring. We publish a wide range of scientific articles that discuss the control and prevention of strategic animal diseases, such as Foot-and-Mouth Disease, Avian Influenza, Rabies, and various other zoonotic diseases. In addition, we explore topics related to modern agricultural technology and emerging issues in veterinary public health that continue to evolve with the times. Atani Tokyo Journal not only provides scientific articles but also highlights the latest research, innovations, and scientific initiatives.
Jepang terdiri dari
6.852 pulau[9] yang membuatnya
merupakan suatu kepulauan.
Pulau-pulau utama dari utara ke selatan adalah Hokkaido, Honshu (pulau terbesar), Shikoku, dan Kyushu. Sekitar 97% wilayah daratan
Jepang berada di keempat pulau terbesarnya. Sebagian besar pulau di Jepang
bergunung-gunung, dan sebagian di antaranya merupakan gunung berapi. Gunung
tertinggi di Jepang adalah Gunung Fuji
yang merupakan sebuah gunung berapi. Penduduk Jepang berjumlah 128 juta orang,
dan berada di peringkat ke-10 negara berpenduduk terbanyak di dunia. Tokyo secara de facto adalah ibu kota Jepang, dan
berkedudukan sebagai sebuah prefektur. Tokyo Raya
adalah sebutan untuk Tokyo dan beberapa kota yang berada di prefektur sekelilingnya. Sebagai daerah metropolitan terluas
di dunia, Tokyo Raya berpenduduk lebih dari 30 juta orang.
Jepang disebut Nippon
atau Nihon dalam bahasa
Jepang. Kedua kata ini ditulis dengan huruf kanji yang sama,
yaitu 日本 (secara harfiah:
asal-muasal matahari). Sebutan Nippon
sering digunakan dalam urusan resmi, termasuk nama negara dalam uang Jepang, prangko, dan pertandingan olahraga internasional.
Sementara itu, sebutan Nihon digunakan dalam urusan tidak resmi seperti
pembicaraan sehari-hari.
Kata Nippon
dan Nihon berarti "negara/negeri matahari terbit". Nama ini
disebut dalam korespondensi Kekaisaran Jepang dengan Dinasti Sui di Cina, dan
merujuk kepada letak Jepang yang berada di sebelah timur daratan Cina. Sebelum
Jepang memiliki hubungan dengan Cina, negara ini dikenal sebagai Yamato (大和).[12] Di Cina pada zaman Tiga Negara, sebutan
untuk Jepang adalah negara Wa (倭).
Dalam bahasa Cina dialek Shanghai
yang termasuk salah satu dialek Wu, aksara Cina 日本
dibaca sebagai Zeppen ([zəʔpən]). Dalam dialek Wu, aksara 日
secara tidak resmi dibaca sebagai [niʔ] sementara secara resmi dibaca sebagai [zəʔ].
Dalam beberapa dialek Wu Selatan, 日本 dibaca sebagai [niʔpən]
yang mirip dengan nama dalam bahasa Jepang.
Kata Jepang
dalam bahasa
Indonesia kemungkinan berasal dari bahasa Cina, tepatnya bahasa Cina
dialek Wu tersebut. Bahasa
Melayu kuno juga menyebut negara ini sebagai Jepang (namun ejaan bahasa Malaysia sekarang: Jepun).
Kata Jepang dalam bahasa Melayu ini kemudian dibawa ke Dunia Barat oleh pedagang
Portugis, yang mengenal
sebutan ini ketika berada di Malaka
pada abad ke-16. Mereka lah yang pertama kali memperkenalkan nama bahasa Melayu
tersebut ke Eropa. Dokumen tertua dalam bahasa Inggris yang menyebut tentang
Jepang adalah sepucuk surat dari tahun 1565, yang di dalamnya bertuliskan kata Giapan.[13]
Sejarah
Prasejarah
Sebuah bejana dari periode Jomon Pertengahan (3000-2000 SM).
Penelitian arkeologi menunjukkan bahwa
Jepang telah dihuni manusia
purba setidaknya 600.000 tahun yang lalu, pada masa Paleolitik Bawah. Setelah
beberapa zaman es yang terjadi pada
masa jutaan tahun yang lalu, Jepang beberapa kali terhubung dengan daratan Asia
melalui jembatan darat (dengan Sakhalin
di utara, dan kemungkinan Kyushu
di selatan), sehingga memungkinkan perpindahan manusia, hewan, dan tanaman ke kepulauan Jepang dari
wilayah yang kini merupakan Republik
Rakyat Cina dan Korea.
Zaman Paleolitik Jepang menghasilkan peralatan bebatuan yang telah dipoles yang
pertama di dunia, sekitar tahun 30.000 SM.
Dengan berakhirnya
zaman es terakhir dan datangnya periode yang lebih hangat, kebudayaan Jomon muncul pada sekitar 11.000 SM, yang
bercirikan gaya hidup pemburu-pengumpul
semi-sedenter Mesolitik hingga Neolitik dan pembuatan kerajinan tembikar terawal
di dunia. Diperkirakan bahwa penduduk Jomon merupakan nenek moyang suku
Proto-Jepang dan suku Ainu masa kini.
Dimulainya periode Yayoi pada sekitar 300 SM menandai kehadiran
teknologi-teknologi baru seperti bercocok tanam padi di sawah yang berpengairan dan teknik
pembuatan perkakas dari besi dan perunggu yang dibawa serta
migran-migran dari Cina atau Korea.
Dalam sejarah Cina,
orang Jepang pertama kali disebut dalam naskah sejarah klasik, Buku Han yang ditulis
tahun 111. Setelah periode Yayoi
disebut periode Kofun pada sekitar tahun 250, yang bercirikan didirikannya
negeri-negeri militer yang kuat. Menurut Catatan Sejarah Tiga Negara, negara paling berjaya di
kepulauan Jepang waktu itu adalah Yamataikoku.
Zaman
Klasik
Bagian sejarah Jepang
meninggalkan dokumen tertulis dimulai pada abad ke-5 dan abad ke-6 Masehi, saat sistem
tulisan Cina, agama
Buddha, dan kebudayaan Cina lainnya dibawa masuk ke Jepang dari
Kerajaan Baekje di Semenanjung Korea.
Jepang dapat mengusir dua kali invasi
Mongol ke Jepang (1274 dan 1281)
Perkembangan
selanjutnya Buddhisme
di Jepang dan seni ukir rupang sebagian besar dipengaruhi oleh
Buddhisme Cina.[14] Walaupun awalnya
kedatangan agama
Buddha ditentang penguasa yang menganut Shinto, kalangan yang berkuasa akhirnya
ikut memajukan agama
Buddha di Jepang, dan menjadi agama yang populer di Jepang sejak zaman Asuka.[15]
Melalui perintah Reformasi Taika pada tahun 645, Jepang menyusun ulang sistem
pemerintahannya dengan mencontoh dari Cina. Hal ini membuka jalan bagi filsafat
Konfusianisme Cina untuk
menjadi dominan di Jepang hingga abad ke-19.
Periode Nara pada abad ke-8 menandai sebuah
negeri Jepang dengan kekuasaan yang tersentralisasi. Ibu kota dan istana
kekaisaran berada di Heijo-kyo
(kini Nara). Pada zaman Nara,
Jepang secara terus menerus mengadopsi praktik administrasi pemerintahan dari
Cina. Salah satu pencapaian terbesar sastra Jepang pada zaman Nara adalah
selesainya buku sejarah Jepang yang disebut Kojiki (712) dan Nihon Shoki (720).[16]
Pada tahun 784, Kaisar Kammu memindahkan ibu
kota ke Nagaoka-kyō,
dan berada di sana hanya selama 10 tahun. Setelah itu, ibu kota dipindahkan
kembali ke Heian-kyō
(kini Kyoto). Kepindahan ibu kota
ke Heian-kyō mengawali periode
Heian yang merupakan masa keemasan kebudayaan klasik asli Jepang,
terutama di bidang seni, puisi dan sastra Jepang. Hikayat Genji karya Murasaki Shikibu dan lirik
lagu kebangsaan Jepang Kimi ga Yo
berasal dari periode Heian.[17]
Abad pertengahan di
Jepang merupakan zaman feodalisme
yang ditandai oleh perebutan kekuasaan antarkelompok penguasa yang terdiri dari
ksatria yang disebut samurai. Pada tahun 1185, setelah menghancurkan klan Taira yang merupakan
klan saingan klan
Minamoto, Minamoto
no Yoritomo diangkat sebagai shogun, dan menjadikannya pemimpin
militer yang berbagi kekuasaan dengan Kaisar. Pemerintahan militer yang
didirikan Minamoto no Yoritomo disebut Keshogunan
Kamakura karena pusat pemerintahan berada di Kamakura
(di sebelah selatan Yokohama
masa kini). Setelah wafatnya Yoritomo, klan Hōjō membantu keshogunan
sebagai shikken, yakni semacam adipati bagi para shogun.
Keshogunan Kamakura berhasil menahan serangan Mongol dari wilayah Cina kekuasaan
Mongol pada tahun 1274 dan 1281.
Meskipun secara politik terbilang stabil,
Keshogunan Kamakura akhirnya digulingkan oleh Kaisar Go-Daigo yang
memulihkan kekuasaan di tangan kaisar. Kaisar Go-Daigo akhirnya digulingkan Ashikaga Takauji pada 1336.[18] Keshogunan Ashikaga gagal
membendung kekuatan penguasa militer dan tuan tanah feodal (daimyo) dan pecah perang saudara
pada tahun 1467 (Perang Ōnin)
yang mengawali masa satu abad yang diwarnai peperangan antarfaksi yang disebut
masa negeri-negeri saling berperang atau periode Sengoku.[19]
Pada abad ke-16, para pedagang
dan misionarisSerikat Yesuit dari
Portugal tiba untuk pertama kalinya di Jepang, dan mengawali pertukaran
perniagaan dan kebudayaan yang aktif antara Jepang dan Dunia Barat (Perdagangan
dengan Nanban). Orang Jepang menyebut orang asing dari Dunia Barat
sebagai namban yang berarti orang barbar dari selatan.
Salah satu kapal segel merah Jepang
(1634) yang dipakai berdagang di Asia.
Oda Nobunaga menaklukkan
daimyo-daimyo pesaingnya dengan memakai teknologi Eropa dan senjata api. Nobunaga
hampir berhasil menyatukan Jepang sebelum tewas terbunuh dalam Peristiwa
Honnōji 1582. Toyotomi
Hideyoshi menggantikan Nobunaga, dan mencatatkan dirinya sebagai
pemersatu Jepang pada tahun 1590. Hideyoshi berusaha menguasai Korea, dan dua
kali melakukan invasi ke Korea, namun gagal setelah kalah dalam pertempuran
melawan pasukan Korea yang dibantu kekuatan
Dinasti Ming. Setelah
Hideyoshi wafat, pasukan Hideyoshi ditarik dari Semenanjung Korea pada tahun
1598.[20]
Sepeninggal
Hideyoshi, putra Hideyoshi yang bernama Toyotomi Hideyori mewarisi
kekuasaan sang ayah. Tokugawa
Ieyasu memanfaatkan posisinya sebagai adipati bagi Hideyori untuk
mengumpulkan dukungan politik dan militer dari daimyo-daimyo lain. Setelah
mengalahkan klan-klan pendukung Hideyori dalam Pertempuran
Sekigahara tahun 1600, Ieyasu diangkat sebagai shogun pada tahun
1603. Pemerintahan militer yang didirikan Ieyasu di Edo (kini Tokyo) disebut Keshogunan
Tokugawa. Keshogunan Tokugawa curiga terhadap kegiatan misionaris Katolik, dan melarang
segala hubungan dengan orang-orang Eropa.
Hubungan perdagangan dibatasi hanya
dengan pedagang Belanda di Pulau Dejima, Nagasaki. Pemerintah
Tokugawa juga menjalankan berbagai kebijakan seperti undang-undang buke shohatto untuk
mengendalikan daimyo di daerah. Pada tahun 1639, Keshogunan Tokugawa mulai
menjalankan kebijakan sakoku
("negara tertutup") yang berlangsung selama dua setengah abad yang
disebut periode Edo. Walaupun
menjalani periode isolasi, orang Jepang terus mempelajari ilmu-ilmu dari Dunia
Barat. Di Jepang, ilmu dari buku-buku Barat disebut rangaku (ilmu belanda)
karena berasal dari kontak orang Jepang dengan enklave orang Belanda di Dejima,
Nagasaki. Pada periode Edo, orang Jepang juga memulai studi tentang Jepang, dan
menamakan "studi nasional" tentang Jepang sebagai kokugaku.[21]
Zaman
Modern
Kekaisaran Jepang terdiri dari sebagian besar Asia
Timur dan Tenggara pada tahun 1942.
Pada 31 Maret 1854,
kedatangan Komodor Matthew
Perry dan "Kapal Hitam"
Angkatan Laut Amerika Serikat memaksa Jepang untuk membuka
diri terhadap Dunia Barat melalui Persetujuan
Kanagawa. Persetujuan-persetujuan selanjutnya dengan negara-negara
Barat pada masa Bakumatsu
membawa Jepang ke dalam krisis ekonomi dan politik. Kalangan samurai menganggap
Keshogunan Tokugawa sudah melemah, dan mengadakan pemberontakan hingga pecah Perang Boshin tahun 1867-1868. Setelah Keshogunan Tokugawa
ditumbangkan, kekuasaan dikembalikan ke tangan kaisar (Restorasi Meiji) dan sistem
domain dihapus. Semasa Restorasi Meiji, Jepang mengadopsi sistem
politik, hukum, dan militer dari Dunia Barat. Kabinet Jepang mengatur Dewan Penasihat Kaisar, menyusun Konstitusi Meiji, dan membentuk
Parlemen Kekaisaran.
Restorasi Meiji mengubah Kekaisaran Jepang menjadi
negara industri modern dan sekaligus kekuatan militer dunia yang menimbulkan
konflik militer ketika berusaha memperluas pengaruh teritorial di Asia. Setelah
mengalahkan Cina dalam Perang
Sino-Jepang dan Rusia
dalam Perang
Rusia-Jepang, Jepang menguasai Taiwan, separuh dari Sakhalin, dan Korea.[22]
Pada awal abad ke-20, Jepang
mengalami "demokrasi
Taisho" yang dibayang-bayangi bangkitnya ekspansionisme dan militerisme Jepang. Semasa Perang Dunia I, Jepang
berada di pihak
Sekutu yang menang, sehingga Jepang dapat memperluas pengaruh dan
wilayah kekuasaan. Jepang terus menjalankan politik ekspansionis dengan
menduduki Manchuria pada tahun 1931.
Dua tahun kemudian, Jepang keluar dari Liga
Bangsa-Bangsa setelah mendapat kecaman internasional atas
pendudukan Manchuria. Pada tahun 1936,
Jepang menandatangani Pakta
Anti-Komintern dengan Jerman Nazi, dan bergabung
bergabung bersama Jerman dan Italia membentuk Blok Poros pada tahun 1941[23]
Pada tahun 1937,
invasi Jepang ke Manchuria
memicu terjadinya Perang
Sino-Jepang Kedua (1937-1945) yang membuat Jepang dikenakan embargo
minyak oleh Amerika
Serikat[24] Pada 7 Desember 1941, Jepang
menyerang pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbor, dan menyatakan
perang terhadap Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda. Serangan Pearl
Harbor menyeret AS ke dalam Perang Dunia II. Setelah
kampanye militer yang panjang di Samudra Pasifik, Jepang
kehilangan wilayah-wilayah yang dimilikinya pada awal perang. Amerika Serikat
melakukan pengeboman strategis terhadap Tokyo, Osaka dan kota-kota besar lainnya. Setelah AS
menjatuhkan bom atom di Hiroshima
dan Nagasaki, Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 15 Agustus1945 (Hari Kemenangan atas Jepang).[25]
Perang membawa
penderitaan bagi rakyat Jepang dan rakyat di wilayah jajahan Jepang.
Berjuta-juta orang tewas di negara-negara Asia yang diduduki Jepang di bawah slogan
Kemakmuran
Bersama Asia. Hampir semua industri dan infrastruktur di Jepang
hancur akibat perang. Pihak Sekutu melakukan repatriasi besar-besaran etnik Jepang dari
negara-negara Asia yang pernah diduduki Jepang.[26]Pengadilan Militer Internasional untuk
Timur Jauh yang diselenggarakan pihak Sekutu mulai 3 Mei 1946
berakhir dengan dijatuhkannya hukuman bagi sejumlah pemimpin Jepang yang
terbukti bersalah melakukan kejahatan perang.
Pencakar langit di Shinjuku, Tokyo
Pada tahun 1947,
Jepang memberlakukan Konstitusi
Jepang yang baru. Berdasarkan konstitusi baru, Jepang ditetapkan
sebagai negara yang menganut paham pasifisme dan mengutamakan
praktik demokrasi
liberal. Pendudukan AS terhadap Jepang secara resmi berakhir pada
tahun 1952 dengan
ditandatanganinya Perjanjian
San Francisco.[27] Walaupun demikian, pasukan AS
tetap mempertahankan pangkalan-pangkalan penting di Jepang, khususnya di Okinawa. Perserikatan Bangsa-Bangsa secara secara resmi menerima
Jepang sebagai anggota pada tahun 1956.
Seusai Perang Dunia
II, Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, dan
menempatkan Jepang sebagai kekuatan ekonomi terbesar nomor dua di dunia, dengan
rata-rata pertumbuhan produk
domestik bruto sebesar 10% per tahun selama empat dekade. Pesatnya
pertumbuhan ekonomi Jepang berakhir pada awal tahun 1990-an setelah jatuhnya ekonomi gelembung.[28]
Politik
Parlemen
Jepang menganut
sistem negara monarki
konstitusional yang sangat membatasi kekuasaan Kaisar Jepang. Sebagai
kepala negara seremonial, kedudukan Kaisar Jepang diatur dalam konstitusi sebagai
"simbol negara dan pemersatu rakyat". Kekuasaan pemerintah berada di
tangan Perdana
Menteri Jepang dan anggota terpilih Parlemen Jepang, sementara
kedaulatan sepenuhnya berada di tangan rakyat Jepang.[29] Kaisar Jepang
bertindak sebagai kepala
negara dalam urusan diplomatik.
Parlemen Jepang adalah parlemen dua kamar yang
dibentuk mengikuti sistem Inggris. Parlemen Jepang terdiri dari Majelis
Rendah dan Majelis
Tinggi. Majelis Rendah Jepang terdiri dari 480 anggota dewan.
Anggota majelis rendah dipilih secara langsung oleh rakyat setiap 4 tahun
sekali atau setelah majelis rendah dibubarkan. Majelis Tinggi Jepang terdiri
dari 242 anggota dewan yang memiliki masa jabatan 6 tahun, dan dipilih langsung
oleh rakyat. Warganegara Jepang berusia 20 tahun ke atas memiliki hak untuk
memilih.[10]
Kabinet Jepang
beranggotakan Perdana
Menteri dan para menteri. Perdana Menteri adalah salah seorang
anggota parlemen dari partai mayoritas di Majelis Rendah. Partai Demokrat Liberal (LDP) berkuasa di Jepang sejak 1955,
kecuali pada tahun 1993. Pada tahun itu terbentuk pemerintahan
koalisi yang hanya berumur singkat dengan partai oposisi. Partai
oposisi terbesar di Jepang adalah Partai Demokratik Jepang.[30]
Perdana Menteri
Jepang adalah kepala
pemerintahan. Perdana Menteri diangkat melalui pemilihan di antara
anggota Parlemen.[31] Bila Majelis
Rendah dan Majelis Tinggi masing-masing memiliki calon perdana menteri, maka
calon dari Majelis Rendah yang diutamakan. Pada praktiknya, perdana menteri
berasal dari partai mayoritas di parlemen. Menteri-menteri kabinet diangkat
oleh Perdana Menteri. Kaisar Jepang mengangkat Perdana Menteri berdasarkan
keputusan Parlemen Jepang[32], dan memberi persetujuan atas
pengangkatan menteri-menteri kabinet.[33] Perdana Menteri memerlukan
dukungan dan kepercayaan dari anggota Majelis Rendah untuk bertahan sebagai
Perdana Menteri.
Keluarga
kekaisaran
Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko (tampak tengah),
serta Pangeran Naruhito dan istri (di sebelah kanan).
Kaisar Akihito adalah Kaisar
Jepang yang sekarang. Kaisar Akihito naik takhta sebagai kaisar ke-125 setelah
ayahandanya, Kaisar Hirohito
mangkat pada 7 Januari 1989. Upacara kenaikan tahta Kaisar Akihito
dilangsungkan pada 12 November 1990.[34] Putra Mahkota Naruhito, menikah dengan
Putri Mahkota Masako
yang berasal dari kalangan rakyat biasa, dan dikaruniai anak perempuan bernama
Aiko (Putri Toshi).
Adik dari Putra Mahkota Naruhito bernama Pangeran Akishino, menikah
dengan Kiko
Kawashima yang juga berasal dari rakyat biasa. Pangeran Akishino
memiliki dua anak perempuan (Putri Mako dan Putri Kako), serta anak laki-laki bernama Pangeran Hisahito.
Jepang memiliki lebih
dari 3.000 pulau yang terletak di pesisir Lautan Pasifik di timur
benua Asia. Istilah Kepulauan Jepang merujuk
kepada empat pulau besar, dari utara ke selatan, Hokkaido, Honshu, Shikoku, dan Kyushu, serta Kepulauan Ryukyu yang
berada di selatan Kyushu. Sekitar 70% hingga 80% dari wilayah Jepang terdiri
dari pegunungan yang berhutan-hutan,[35][36] dan cocok untuk pertanian,
industri, serta permukiman. Daerah yang curam berbahaya untuk dihuni karena
risiko tanah longsor akibat gempa bumi, kondisi tanah yang lunak, dan hujan
lebat. Oleh karena itu, permukiman penduduk terpusat di kawasan pesisir. Jepang
termasuk salah satu negara berpenduduk terpadat di dunia.[37]
Gempa bumi
berkekuatan rendah dan sesekali letusan gunung berapi sering dialami Jepang
karena letaknya di atas Lingkaran
Api Pasifik di pertemuan tiga lempeng tektonik. Gempa bumi yang merusak
sering menyebabkan tsunami.
Setiap abadnya, di Jepang terjadi beberapa kali tsunami.[38] Gempa bumi besar yang terjadi
akhir-akhir ini di Jepang adalah Gempa
bumi Chūetsu 2004 dan Gempa
bumi besar Hanshin tahun 1995. Keadaan geografi menyebabkan Jepang
memiliki banyak sumber mata air panas, dan
sebagian besar di antaranya telah dibangun sebagai daerah tujuan wisata.[39]
Jepang berada di
kawasan beriklim sedang dengan pembagian empat musim yang jelas. Walaupun
demikian, terdapat perbedaan iklim yang mencolok antara wilayah bagian utara
dan wilayah bagian selatan.[40] Pada musim dingin, Jepang bagian
utara seperti Hokkaido mengalami musim salju, namun sebaliknya wilayah Jepang
bagian selatan beriklim subtropis. Iklim juga dipengaruhi tiupan angin musim
yang bertiup dari benua Asia ke Lautan Pasifik pada musim
dingin, dan sebaliknya pada musim panas.
Iklim Jepang terbagi
atas enam zona iklim:
Hokkaido:
Kawasan paling utara beriklim sedang dengan musim dingin yang panjang dan
membekukan, serta musim panas yang sejuk. Presipitasi tidak
besar, namun salju banyak turun ketika musim dingin.
Laut
Jepang: Di pantai barat Pulau Honshu, tiupan angin dari barat
laut membawa salju yang sangat lebat. Pada musim panas, kawasan
ini lebih sejuk dibandingkan kawasan Pasifik. Walaupun demikian, suhu di
kawasan ini kadangkala dapat menjadi sangat tinggi akibat fenomena angin fohn.
Dataran Tinggi Tengah: Wilayah ini beriklim pedalaman
dengan perbedaan suhu rata-rata musim panas-musim dingin yang
sangat mencolok. Perbedaan suhu antara malam hari dan siang hari juga
sangat mencolok.
Laut
Pedalaman Seto: Barisan pegunungan di wilayah Chugoku dan Shikoku menghalangi
jalur tiupan angin musim, sehingga kawasan ini sepanjang tahun beriklim
sedang.
Samudra Pasifik:
Kawasan pesisir bagian timur Jepang mengalami musim dingin yang sangat
dingin, namun tidak banyak turun salju. Sebaliknya, musim panas menjadi
begitu lembap akibat tiupan angin musim dari tenggara.
Kepulauan
Ryukyu: Kepulauan di barat daya Jepang termasuk Kepulauan
Ryukyu beriklim subtropis, hangat sewaktu musim dingin dan suhu yang
tinggi sepanjang musim panas. Presipitasi sangat tinggi, terutama selama
musim hujan. Taifun sangat sering
terjadi.
Suhu tertinggi yang
pernah tercatat di Jepang adalah 40,9 °C (105,6 °F) pada 16 Agustus
2007.[41]
Musim
hujan dimulai lebih awal di Okinawa, yakni sejak awal Mei. Garis
depan musim hujan bergerak ke utara, namun berakhir di Jepang utara sebelum
mencapai Hokkaido. Di sebagian besar wilayah Honshu, awal musim hujan dimulai
pertengahan Juni dan berlangsung selama enam minggu. Taifun sering terjadi
sepanjang September dan Oktober. Penyebabnya adalah tekanan tropis di garis
khatulistiwa yang bergerak dari barat daya ke timur laut, dan sering membawa
hujan yang sangat lebat.[40]
Jepang memiliki
hubungan ekonomi dan militer yang erat dengan Amerika Serikat, dan
menjalankan kebijakan
luar negeri berdasarkan pakta keamanan Jepang-AS.[42] Sejak diterima menjadi
anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1956, Jepang telah
sepuluh kali menjadi anggota tidak tetap Dewan
Keamanan PBB, termasuk tahun 2009-2010.[43] Jepang adalah salah satu
negara G4 yang sedang mengusulkan
perluasan anggota tetap Dewan Keamanan PBB.[44] Sebagai negara anggota G8, APEC, ASEAN Plus 3, dan peserta Konferensi Tingkat Tinggi Asia Timur, Jepang
aktif dalam hubungan internasional dan mempererat persahabatan Jepang dengan
negara-negara lain di seluruh dunia. Pakta pertahanan dengan Australia ditandatangani
pada Maret 2007,[45] dan dengan India pada Oktober 2008.[46] Pada tahun 2007, Jepang
adalah negara donor Bantuan
Pembangunan Resmi (ODA) terbesar kelima di dunia.[47] Negara penerima bantuan ODA
terbesar dari Jepang adalah Indonesia, dengan total bantuan lebih dari AS$29,5
miliar dari tahun 1960 hingga 2006.[48]
Jepang bersengketa
dengan Rusia mengenai Kepulauan Kuril[49] dan dengan Korea Selatan mengenai Batu Liancourt[50]. Kepulauan Senkaku yang di
bawah pemerintahan Jepang dipermasalahkan oleh Republik
Rakyat Cina dan Taiwan.[51]
Pasal
9 Konstitusi Jepang berisi penolakan terhadap perang dan penggunaan
kekuatan bersenjata untuk menyelesaikan persengketaan internasional. Pasal 9
Ayat 2 berisi pelarangan kepemilikan angkatan bersenjata dan penolakan atas hak
keterlibatan dalam perang.[52][53] Jepang memiliki Pasukan Bela Diri yang
berada di bawah Kementerian Pertahanan, dan terdiri dari Angkatan Darat Bela Diri Jepang (JGSDF), Angkatan Laut Bela Diri Jepang (JMSDF), dan Angkatan Udara Bela Diri Jepang (JASDF). Pada tahun 1991, kapal
penyapu ranjau Angkatan Laut Bela Diri Jepang ikut membersihkan ranjau laut di Teluk Persia (lepas pantai Kuwait) bersama kapal penyapu ranjau
dari delapan negara.[54][55] Atas permintaan Pemerintahan Transisi PBB di Kamboja
(1992-1993), Jepang mengirimkan pengamat gencatan senjata, pemantau pemilihan
umum, polisi sipil, dan dukungan logistik seperti perbaikan jalan dan jembatan.[56] Di Irak, pasukan nontempur Jepang membantu misi
kemanusiaan dan kegiatan rekonstruksi infrastruktur mulai Desember 2003 hingga
Februari 2009.[57][58][59]
Jepang terdiri dari
47 prefektur
yang masing-masing diperintah oleh gubernur bersama dewan legislatif daerah.
Dari utara ke selatan, prefektur-prefektur ini adalah:
Dalam pembagian
wilayah menurut letak geografis, Jepang dibagi menjadi 10 wilayah, yakni: Hokkaido, Tohoku, Hokuriku, Kanto, Chubu, Kansai (Kinki), Chugoku, Shikoku, Kyushu, dan Kepulauan Ryukyu.
Sejak periode Meiji (1868-1912),
Jepang mulai menganut ekonomi pasar bebas
dan mengadopsi kapitalisme
model Inggris dan Amerika Serikat. Sistem pendidikan Barat diterapkan di
Jepang, dan ribuan orang Jepang dikirim ke Amerika Serikat dan Eropa untuk
belajar. Lebih dari 3.000 orang Eropa dan Amerika didatangkan sebagai tenaga
pengajar di Jepang.[60] Pada awal
periode Meiji, pemerintah membangun jalan kereta api, jalan raya, dan memulai
reformasi kepemilikan tanah. Pemerintah membangun pabrik dan galangan kapal
untuk dijual kepada swasta dengan harga murah. Sebagian dari perusahaan yang
didirikan pada periode Meiji berkembang menjadi zaibatsu, dan beberapa
di antaranya masih beroperasi hingga kini.[60]
Pertumbuhan ekonomi
riil dari tahun 1960-an hingga 1980-an sering disebut "keajaiban ekonomi Jepang", yakni
rata-rata 10% pada tahun 1960-an, 5% pada tahun 1970-an, dan 4% pada tahun
1980-an.[60] Dekade 1980-an
merupakan masa keemasan ekspor otomotif dan barang elektronik ke Eropa dan
Amerika Serikat sehingga terjadi surplus neraca perdagangan yang mengakibatkan
konflik perdagangan. Setelah ditandatanganinya Perjanjian Plaza 1985,
dolar AS mengalami depresiasi terhadap yen. Pada Februari 1987, tingkat
diskonto resmi diturunkan hingga 2,5% agar produk manufaktur Jepang bisa
kembali kompetitif setelah terjadi kemerosotan volume ekspor akibat menguatnya
yen. Akibatnya, terjadi surplus likuiditas dan penciptaan uang dalam
jumlah besar. Spekulasi menyebabkan harga saham dan realestat terus meningkat,
dan berakibat pada penggelembungan harga aset. Harga tanah
terutama menjadi sangat tinggi akibat adanya "mitos tanah" bahwa
harga tanah tidak akan jatuh.[28]
Ekonomi
gelembung Jepang jatuh pada awal tahun 1990-an akibat kebijakan uang ketat yang
dikeluarkan Bank of
Japan pada 1989, dan kenaikan tingkat diskonto resmi menjadi 6%.[28] Pada 1990,
pemerintah mengeluarkan sistem baru pajak penguasaan tanah dan bank diminta
untuk membatasi pendanaan aset properti. Indeks
rata-rata Nikkei dan harga tanah jatuh pada Desember 1989 dan musim
gugur 1990.[28] Pertumbuhan
ekonomi mengalami stagnasi pada 1990-an, dengan angka rata-rata pertumbuhan
ekonomi riil hanya 1,7% sebagai akibat penanaman modal yang tidak efisien dan
penggelembungan harga aset pada 1980-an. Institusi keuangan menanggung kredit bermasalah karena
telah mengeluarkan pinjaman uang dengan jaminan tanah atau saham. Usaha
pemerintah mengembalikan pertumbuhan ekonomi hanya sedikit yang berhasil dan
selanjutnya terhambat oleh kelesuan ekonomi global
pada tahun 2000.[61]
Jepang adalah perekonomian
terbesar nomor dua di dunia setelah Amerika
Serikat, Jepang bersama Jerman
dan Korea Selatan adalah 3
negara yang pernah mencatatkan diri sebagai negara-negara dengan pertumbuhan
ekonomi tercepat sepanjang sejarah dunia,[62] dengan PDB
nominal sekitar AS$4,5 triliun.[62], dan
perekonomian terbesar ke-3 di dunia setelah AS dan Republik
Rakyat Cina dalam keseimbangan kemampuan berbelanja.[63] Industri utama Jepang adalah
sektor perbankan, asuransi, realestat, bisnis eceran, transportasi,
telekomunikasi, dan konstruksi.[64] Jepang memiliki industri
berteknologi tinggi di bidang otomotif,
elektronik, mesin perkakas, baja dan logam non-besi, perkapalan, industri kimia, tekstil, dan pengolahan
makanan.[61] Sebesar tiga
perempat dari produk domestik bruto Jepang berasal dari sektor jasa.
Distrik Minato Mirai 21 di Yokohama. Ekonomi Jepang
sangat mengandalkan sektor jasa.
Hingga tahun 2001,
jumlah angkatan kerja Jepang mencapai 67 juta orang.[65]Tingkat pengangguran di Jepang sekitar 4%.
Pada tahun 2007, Jepang menempati urutan ke-19 dalam produktivitas tenaga kerja.[66] Menurut indeks Big Mac, tenaga
kerja di Jepang mendapat upah per jam terbesar di dunia. Toyota Motor, Mitsubishi
UFJ Financial, Nintendo,
NTT DoCoMo, Nippon Telegraph & Telephone, Canon, Matsushita Electric Industrial, Honda, Mitsubishi
Corporation, dan Sumitomo
Mitsui Financial adalah 10 besar perusahaan Jepang pada tahun 2008.[67] Sejumlah 326 perusahaan
Jepang masuk ke dalam daftar Forbes
Global 2000 atau 16,3% dari 2000 perusahaan publik terbesar di dunia
(data tahun 2006).[68]Bursa Saham Tokyo memiliki
total kapitalisasi
pasar terbesar nomor dua di dunia. Indeks dari 225 saham perusahaan
besar yang diperdagangkan di Bursa Saham Tokyo disebut Nikkei 225.[69]
Dalam Indeks Kemudahan Berbisnis, Jepang menempati peringkat ke-12,
dan termasuk salah satu negara maju dengan birokrasi paling sederhana.
Kapitalisme model Jepang
memiliki sejumlah ciri khas. Keiretsu
adalah grup usaha yang beranggotakan perusahaan yang saling memiliki kerja sama
bisnis dan kepemilikan saham. Negosiasi upah (shuntō) berikut
perbaikan kondisi kerja antara manajemen dan serikat buruh dilakukan setiap
awal musim semi. Budaya bisnis
Jepang mengenal konsep-konsep lokal, seperti Sistem Nenkō, nemawashi, salaryman, dan office lady. Perusahaan
di Jepang mengenal kenaikan pangkat berdasarkan senioritas dan jaminan pekerjaan
seumur hidup.[70][71] Kejatuhan ekonomi gelembung
yang diikuti kebangkrutan besar-besaran dan pemutusan hubungan kerja
menyebabkan jaminan pekerjaan seumur hidup mulai ditinggalkan.[72][73] Perusahaan Jepang dikenal
dengan metode manajemen seperti The Toyota Way. Aktivisme
pemegang saham sangat jarang.[74] Dalam Indeks
Kebebasan Ekonomi, Jepang menempati urutan ke-5 negara paling laissez-faire di antara 41
negara Asia Pasifik.[75]
Jepang adalah negara
pengimpor hasil laut terbesar di dunia (senilai AS$ 14 miliar).[76] Jepang berada di peringkat
ke-6 setelah RRC,
Peru, Amerika Serikat, Indonesia, dan Chili, dengan total tangkapan ikan yang terus
menurun sejak 1996.[77][78]
Pertanian adalah
sektor industri andalan hingga beberapa tahun seusai Perang Dunia II. Menurut
sensus tahun 1950, sekitar 50% angkatan kerja berada di bidang pertanian.
Sepanjang "masa keajaiban ekonomi Jepang", angkatan kerja di bidang
pertanian terus menyusut hingga sekitar 4,1% pada tahun 2008.[79] Pada Februari 2007 terdapat
1.813.000 keluarga petani komersial, namun di antaranya hanya kurang dari 21,2%
atau 387.000 keluarga petani pengusaha.[80] Sebagian besar
angkatan kerja pertanian sudah berusia lanjut, sementara angkatan kerja usia
muda hanya sedikit yang bekerja di bidang pertanian.[81][82]
Diperkirakan oleh
pengamat ekonomi bahwa, Jepang bersama Korea Selatan, India dan RRC akan benar-benar mendominasi dunia ditahun
2030 dan mematahkan dominasi barat atas perekonomian dunia.
Demografi
Pemandangan perempatan Shibuya pada
malam hari. Perempatan Shibuya dikenal sangat ramai dengan penyeberang jalan.
Kewarganegaraan
Jepang diberikan kepada bayi yang dilahirkan dari ayah atau ibu
berkewarganegaraan Jepang, ayah berkewarganegaraan Jepang yang wafat sebelum
bayi lahir, atau bayi yang lahir di Jepang dengan ayah/ibu tidak
diketahui/tidak memiliki kewarganegaraan.[88]Suku bangsa yang paling
dominan adalah penduduk asli yang disebut suku Yamato dan kelompok
minoritas utama yang terdiri dari penduduk asli suku Ainu[89] dan Ryukyu, ditambah kelompok minoritas secara
sosial yang disebut burakumin.[90]
Pada tahun 2006,
tingkat harapan
hidup di Jepang adalah 81,25 tahun, dan merupakan salah satu tingkat
harapan hidup tertinggi di dunia.[91] Namun populasi Jepang dengan
cepat menua sebagai dampak dari ledakan kelahiran pascaperang diikuti dengan
penurunan tingkat kelahiran. Pada tahun 2004, sekitar 19,5% dari populasi
Jepang sudah berusia di atas 65 tahun.[92]
Perubahan dalam
struktur demografi menyebabkan sejumlah masalah sosial, terutama kecenderungan
menurunnya populasi angkatan kerja dan meningkatnya biaya jaminan sosial
seperti uang pensiun. Masalah lain
termasuk meningkatkan generasi muda yang memilih untuk tidak menikah atau memiliki
keluarga ketika dewasa.[93] Populasi Jepang
dikhawatirkan akan merosot menjadi 100 juta pada tahun 2050 dan makin menurun
hingga 64 juta pada tahun 2100.[92] Pakar demografi
dan pejabat pemerintah kini dalam perdebatan hangat mengenai cara menangani
masalah penurunan jumlah penduduk.[93]Imigrasi dan insentif uang
untuk kelahiran bayi sering disarankan sebagai pemecahan masalah penduduk
Jepang yang semakin menua.[94][95C
Perkiraan tertinggi
jumlah penganut agama
Buddha sekaligus Shinto
adalah 84-96% yang menunjukkan besarnya jumlah penganut sinkretisme dari kedua
agama tersebut.[10][96] Walaupun demikian, perkiraan
tersebut hanya didasarkan pada jumlah orang yang diperkirakan ada hubungan
dengan kuil, dan bukan jumlah penduduk yang sungguh-sungguh menganut kedua
agama tersebut.[97] Professor Robert
Kisala (dari Universitas
Nanzan) memperkirakan hanya 30% dari penduduk Jepang yang mengaku
menganut suatu agama.[97
Taoisme dan Konfusianisme dari Cina
juga memengaruhi kepercayaan dan tradisi Jepang. Agama di Jepang cenderung
bersifat sinkretisme dengan hasil
berupa berbagai macam tradisi, seperti orang tua membawa anak-anak ke upacara Shinto, pelajar berdoa di kuil Shinto meminta lulus
ujian, pernikahan ala Barat di kapel
atau gerejaKristen, sementara
pemakaman diurus oleh kuil Buddha.
Penduduk beragama Kristen hanya minoritas
sejumlah (2.595.397 juta atau 2,04%).[98] Kebanyakan orang Jepang
mengambil sikap tidak peduli terhadap agama dan melihat agama sebagai budaya dan tradisi. Bila ditanya
mengenai agama, mereka akan mengatakan bahwa mereka beragama Buddha hanya karena nenek moyang mereka
menganut salah satu sekte agama Buddha. Selain itu, di Jepang sejak pertengahan
abad ke-19 bermunculan berbagai sekte agama baru (Shinshūkyō) seperti Tenrikyo dan Aum Shinrikyo (atau Aleph).
Pendidikan dasar dan
menengah, serta pendidikan tinggi diperkenalkan di Jepang pada 1872 sebagai
hasil Restorasi
Meiji.[103] Sejak 1947,
program wajib belajar di Jepang mewajibkan setiap warga negara untuk untuk
bersekolah selama 9 tahun di Sekolah Dasar dan Sekolah
Menengah Pertama (dari usia 6 hingga 15 tahun). Di kalangan penduduk
berusia 15 tahun ke atas, tingkat melek huruf sebesar 99%, laki-laki: 99%; perempuan:
99% (2002).[104]
Hampir semua murid
meneruskan ke Sekolah
Menengah Atas, dan menurut MEXT sekitar 75,9% lulusan
sekolah menengah atas pada tahun 2005 melanjutkan ke universitas, akademi, sekolah
keterampilan, atau lembaga pendidikan tinggi lainnya.[105] Pendidikan di
Jepang sangat kompetitif,[106] khususnya dalam
ujian masuk perguruan tinggi. Dua peringkat teratas universitas di Jepang
ditempati oleh Universitas
Tokyo dan Universitas
Keio.[107] Dalam peringkat
yang disusun Program Penilaian Pelajar Internasional dari OECD, pengetahuan dan
keterampilan anak Jepang berusia 15 tahun berada di peringkat nomor enam
terbaik di dunia.[108]
Kini, Jepang
merupakan salah sebuah pengekspor budaya pop yang terbesar. Anime, manga, mode, film, kesusastraan, permainan video, dan musik Jepang menerima sambutan hangat di
seluruh dunia, terutama di negara-negara Asia yang lain. Pemuda Jepang gemar
menciptakan trend baru dan kegemaran mengikut gaya mereka memengaruhi
mode dan trend seluruh dunia. Pasar muda-mudi yang amat baik merupakan ujian
untuk produk-produk elektronik konsumen yang baru, di mana gaya dan fungsinya
ditentukan oleh pengguna Jepang, sebelum dipertimbangkan untuk diedarkan ke
seluruh dunia.
Chakinzushi, sushi yang dibungkus telur dadar tipis.
Baru-baru ini Jepang
mula mengekspor satu lagi komoditas budaya yang bernilai: olahragawan.
Popularitas pemain bisbol Jepang di Amerika Serikat
meningkatkan kesadaran warga negara Barat tersebut terhadap segalanya mengenai
Jepang.
Orang Jepang biasanya
gemar memakan makanan tradisi mereka. Sebagian besar acara TV pada waktu petang
dikhususkan pada penemuan dan penghasilan makanan tradisional yang bermutu.
Makanan Jepang mencetak nama di seluruh dunia dengan sushi, yang biasanya dibuat dari pelbagai
jenis ikan mentah yang digabungkan dengan nasi dan wasabi. Sushi memiliki banyak penggemar
di seluruh dunia. Makanan Jepang bertumpu pada peralihan musim, dengan
menghidangkan mi dingin dan sashimi
pada musim panas, sedangkan ramen panas dan shabu-shabu pada musim dingin.
1."法制執務コラム集「法律と国語・日本語」". Biro Legislatif
Majelis Rendah Jepang. Diakses pada 9 Maret 2009. Bahasa nasional Jepang adalah
bahasa Jepang, dan bahasa resmi adalah bahasa Jepang, tidak ada ditetapkan
dalam undang-undang.
13.Luīs
Fróis, "Of the Ilande of Giapan" (February 19, 1565), published in
Richard Willes, "The History of Travayle in the West and East Indies"
(London 1577), cited in "Travel Narratives from the Age of
Discovery", by Peter C. Mancall, pp. 156–57.
14.Delmer
M. Brown (ed.), ed (1993). The Cambridge History of Japan. Cambridge
University Press. hlm. 140–149.
24.Roland
H. Worth, Jr. (1995). No Choice But War: the United States Embargo Against
Japan and the Eruption of War in the Pacific. McFarland. ISBN0-7864-0141-9.
80.Zaidan
Hōjin Yano Tsuneta Kinenkai, 財団法人矢野恒太記念会 (2008). p.134 Tabel
13-6 dan catatan kaki. "Definisi keluarga petani komersial (hambai nōka)
adalah keluarga dengan luas tanah lebih dari 3.000 m² atau pendapatan kotor
lebih dari \500.000 per tahun; definisi keluarga petani pengusaha (shugyō
nōka) adalah keluarga yang berpenghasilan utama dari pertanian, dan
memiliki kepala keluarga berumur di bawah 65 tahun yang bekerja di lahan
pertanian lebih dari 60 hari per tahun."
81.Zaidan
Hōjin Yano Tsuneta Kinenkai 財団法人矢野恒太記念会 (2008) p.136 Tabel
13-8. Report of Survey on Movement of Agriculture Structure.
97.ab Kisala, Robert
(2005). Robert Wargo. ed. The Logic Of Nothingness: A Study of Nishida
Kitarō. University of Hawaii Press. hlm. 3–4. ISBN0824822846.
100.言語学大辞典セレクション:日本列島の言語 (Selection
from the Encyclopædia of Linguistics: The Languages of the Japanese Archipelago).
"琉球列島の言語"
(The Languages of the Ryukyu Islands). 三省堂 1997
Porsi lahan pertanian Jepang hanya 25% dari total wilayahnya yang sebagian besar berupa pegunungan. Namun jumlah yang kecil tersebut mampu memberikan kontribusi yang besar terhadap perekonomian Jepang.
Dilatar belakangi dengan sumberdaya alam yang miskin, Jepang menjadi bangsa yang berpola fikir untuk selalu “berkreasi dan menciptakan” di segala bidang termasuk bidang pertaniannya. Pasca kekalahan perang pada Perang Dunia II, Jepang mulai beralih pada pembangunan ekonomi dengan Pertanian sebagai prioritas utama saat itu.
Kebijakan Pembangunan Pertanian Jangka Panjang
Kebijakan Pembangunan pertanian yang diambil telah diperhitungkan memiliki efek jangka panjang untuk keberlangsungan pertanian itu sendiri. Selain itu beberapa kebijakan saling mendukung untuk memunculkan impact yang besar.
Salah satu kebijakan yang diambil dan manfaatnya dirasakan sampai saat ini adalah Peraturan Nasional tentang Konsolidasi (Penyatuan) Lahan tahun 1961. Kebijakan ini diambil karena kepemilikan lahan pertanian saat itu terpecah-pecah dan luasannya kecil sehingga tidak efektif. Kebijakan konsolidasi lahan tersebut berlaku secara nasional dan wajib bagi seluruh petani di Jepang.
Untuk mendukung kebijakan ini, pemerintah Nasional dan Pemerintah Lokal juga memprioritaskan pembangunan infrastruktur sekitar kawasan pertanian seperti jalan usaha tani, saluran air, dll. Tidak heran bila saat ini kepemilikan lahan pertanian berkisar antara 10 – 30 hektar/KK dan berada sekitar jalan raya (yang notabene merupakan jalan usaha tani).
Dengan luas kepemilikan lahan yang besar dan terpusat pada satu lokasi, membuat produktivitas pertanian Jepang sangat tinggi. Hal ini sangat besar manfaatnya terutama karena pertanian hanya bisa dilakukan satu musim (Jepang memiliki 4 musim) yaitu pada musim panas. Produktivitas ang tinggi akan menutupi masa tidak produktif pada musim Dingin dan gugur.
Peran Koperasi Pertanian
Peran pemerintah dalam pembangunan pertanian secara umum semakin lama semakin berkurang. Saat ini pemerintah Jepang hanya berfungsis sebagai pembuat peraturan dan mengeuarkan kebijakan. Sementara berbagai aktivitas lapangan banyak diambil alih oleh Japan Agriculture Cooperative (JA Cooperative) atau sejenis koperasi pertanian di Indonesia. Sebenarnya terdapat beberapa organisasi pertanian di Jepang, namun yang paling dominant adalah JA Cooperative.
JA Cooperative pada awalnya merupakan lembaga yang dibentuk oleh Pemerintah Jepang sejak awal 1900 an, dan beranggotakan Petani-petani Jepang. Tujuannya adalah untuk membantu mengurangi kemiskinan dan meningkatkan pendapatan petani.
Ini berarti bahwa harus terjadi mobilisasi massa petani, mengatur perusahaan pertanian dan aktivitas mereka, serta memperkuat perekonomian mereka.
Agar berhasil menjalankan fungsinya, setiap petani wajib menjadi anggota JA cooperative. Keharusan ini sudah diterapkan sejak tahun 1931. Oleh karenanya saat ini seluruh petani di Jepang otomatis menjadi anggota JA Cooperative.
Saat ini JA Cooperative telah benar-benar bebas dari Pemerintah dan merupakan lembaga swasta murni yang kepengurusannya terdiri dari para petani. Namun demikian kerjasama dengan pemerintah semakin meningkat.
Saat ini seluruh wilayah Jepang memiliki JA Cooperative yang secara umum tugas nya adalah sangat banyak yakni:
• Memberikan nasehat dalam mengelola usaha tani, penguasaan teknologi, dan penyebaran informasi pertanian
• Mengumpulkan, mengangkut, dan mendistribusikan serta menjual produk pertanian
• Penyediaan sarana produksi
• Mengatur pengolahan produk pertanian dan penyimpanan produk
• Sebagai Bank
• Sebagai badan asuransi, dan
• Menyediakan sarana pelayanan kesehatan masyarakat khususnya petani
Jaringan Usaha yang Kuat
Untuk menjalankan fungsi tersebut JA Cooperative memiliki jaringan kerjasama yang sangat besar dengan dengan pasar local khususnya supermarket, pasar internasional, dan pemerintah.
Selain itu JA Cooperative juga memiliki berbagai fasilitas pertanian yang tersebar di seluruh Jepang seperti Packaging center, Processing center, Pasar Saprodi, Pasar penjualan langsung (direct sale market), supermarket, Gudang, Penggilingan beras, Fasilitas pembuat pupuk organic, dll.
Distribusi Produk Pertanian yang terjamin
Dengan adanya JA Cooperative beberapa peran penting dan crucial bagi petani telah diatasi terutama untuk pemasaran. JA Cooperative memberikan jaminan semua produk petani terjual dengan harga diatas rata-rata dan tentu saja ini memakmurkan petani.
Pada prinsipnya terdapat tiga alternative distribusi dan pemasaran produk yang ditawarkan JA Cooperative untuk para produser (petani), yaitu:
1) Produk dibeli langsung oleh JA Cooperative dengan harga di atas harga pasar (khususnya produk tertentu yang dianggap vital);
2) Petani dapat mendistribusikan sendiri namun melalui petunjuk (advise) dari JA Cooperative (biasanya petani ingin mencari buyer yang lebih tinggi lagi dari JA Coop,);
3) Petani dapat menitipkan produk mereka kepada JA Coop. untuk dijualkan oleh JA Coop. (biasanya perlu waktu agak lama dan hanya untuk produk-produk yang tidak terlalu penting).
Fungsi Perbankan
Sistem distribusi Produk yang paling popular adalah Produk dibeli langsung oleh JA Cooperative.
Produk petani yang sudah dibeli oleh JA Coop. juga aman dari segi financial, karena uang hasil penjualan langsung masuk ke rekening Petani yang otomatis ada di JA Cooperative karena JA Cooperative juga berfungsi sebagai Bank.
Fungsi Bank yang dikelola oleh JA Cooperative kurang lebih sama dengan Bank komersial lainnya.
Hanya saja nasabahnya adalah para petani. Bank JA Cooperative juga menyediakan pelayanan pinjaman modal untuk pengembangan usaha pertanian. Dan setiap surplus dari hasil penjualan produk pertanian diarahkan pada investasi dan perluasan usaha pertanian. Dengan demikian fungsi JA Coop. sebagai Bank sangat besar kontribusinya bagi kemajuan pertanian di Jepang.
Fungsi Jasa
JA Cooperative juga mempunyai peran dalam memberikan pelayanan penting lainnya bagi petani Jepang.
Diantaranya adalah dalam penyediaan dan penyaluran sarana produksi pertanian (termasuk peralatan mesin pertanian), memberikan asuransi produk pertanian, dan pelayanan kesehatan bagi petani.
Berkat pelayanan JA Cooperative atas penyediaan sarana produksi pertanian, para petani mendapat kepastian atas keperluan usaha tani mereka, karena mereka tidak perlu bersusah payah mencari distributor.
Sementara itu asuransi produk sangat membantu petani dalam menjaga keselamatan produk mereka. Sedangkan fungsi pelayanan kesehatan petani merupakan suatu ide cemerlang yang menunjukkan betapa pemerintah Jepang dan JA Cooperative sangat menghargai dan menjamin kehidupan para petani mereka.
Subsidi Harga dari Pemerintah
Meskipun saat ini banyak produk pertanian murah juga melanda Jepang (terutama dari China), namun kemakmuran petani masih tetap terjaga dan bahkan meningkat. Karena selain peran JA Coop. yang begitu besar.
Pemerintah juga memberikan subsidi harga jual untuk produk tertentu petani local.
Pada saat produk petani di beli oleh JA Coop. (produk tertentu) pemerintah telah mensubsidi ± 50% lebih tinggi dari harga pasar dan JA Coop. menjualnya kembali sama dengan harga pasar. Ini dilakukan ketika harga untuk produk yang sama dari luar harganya lebih murah.
Dengan demikian petani Jepang tetap terlindungi dan produk mereka tetap terbeli oleh masyarakat. Dari mana datangnya subsidi tersebut? Tentu saja datang dari industri Otomotif, elektronik, jasa, dan sumber pemasukan lainnya yang tersedia yang dapat mensubsidi silang pertanian. Kita pasti sudah mengetahui bahwa Jepang sangat unggul dibidang otomotif dan elektronik dan pasar produk mereka ada di seluruh dunia.
Kebijakan Prioritas Pada Produk Lokal
Selain memberikan subsidi pada produk tertentu yang dianggap vital (seperti gandum, sugar bit, jagung, kentang, dll) pemerintah Jepang dan JA Cooperative juga mengeluarkan kebijakan agar pasar local memprioritaskan produk local. Supermarket-supermarket dipastikan untuk menyediakan outlet khusus bagi para petani agar dapat melakukan direct sale produk mereka (namun tentu saja kualitas sudah bukan menjadi halangan).
Setiap outlet yang tersedia untuk produk petani local harus dilengkapi dengan photo dan data produsernya (Petani). Tujuannya adalah agar konsumen bisa lebih mengenal siapa yang menghasilkan produk tersebut.
Beberapa pasar memang dirancang khusus untuk para petani agar dapat menjual langsung produk mereka. Sebut saja Niseko Town Direct Sale Station yaitu sebuah pasar langsung di Kota Niseko (Hokkaido) yang khusus menyediakan outlet penjualan langsung untuk 60 petani.
Tidak hanya itu para petani juga langsung memanajemen semua aktivitas mulai dari penentuan Harga (Bar Code), Labeling, dan Packaging. Hanya petugas kashir saja yang dilakukan oleh petugas khusus. Para petani akan mendapatkan informasi langsung melalui SMS atau internet tentang produk apa saja yang sudah laku atau produk mana yang permintaannya tinggi. Informasi tersebut bisa ditanya kapan saja, tergantung kebutuhan.
System Manajemen yang Baik
Peran dan fungsi JA Cooperative tidak akan berjalan sesuai rencana jika tidak dikendalikan dengan system manajemen yang baik. Mulai dari manajemen intern sampai manajemen yang terkait kerjasama dengan pihak pemerintah dan jaringan pasar. Hal sekecil apapun diperhatikan dan dipertimbangkan oleh pihak JA Cooperative untuk meningkatkan kinerja dan pelayanan mereka demi memakmurkan petani dan masyarakat Jepang.
Di sisi lain, Pemerintah Jepang memahami benar bahwa meskipun sudah menjadi Negara industri maju, namun memandang pertanian sebagai salah satu penentu kemakmuran Jepang. Oleh karena itu, meskipun lahan pertanian Cuma menempati kurang dari 25% dari total areal Jepang namun Pemerintah Jepang sangat memperhatikan pengelolaannya.
Pertanian Organik, Agrowisata (Green Tourism), Konservasi Lingkungan
Konsep pembangunan pertanian di Jepang sejak tahun 1980 an sudah mengacu pada tiga hal pokok yaitu Pertanian organic, Green Tourism, dan Konservasi Lingkungan. Pertanian organic bertujuan untuk menghasilkan produk pertanian yang aman, berkualitas dan sehat bagi konsumsi.
Pemerintah juga mengarahkan pembangunan pertanian tidak hanya untuk penyediaan pangan saja, melainkan sekaligus dapat menjadi objek wisata. Tidak heran bila sebagian besar kawasan pertanian di Jepang sangat menarik dan indah karena memang mereka sangat memperhatikan surface (penampilan) di setiap lahan pertanian yang ada.
Konsep pembangunan pertanian lainnya adalah pembangunan pertanian yang tetap menjaga kelestarian lingkungan. Konsep ini sangat erat kaitannya dengan pertanian organic. Kombinasi kedua konsep ini menyebabkan pertanian di Jepang lebih berkesinambungan (Sustainable Agriculture).
PENUTUP
Pada kenyataannya memang tidak mudah bagi Jepang untuk membangun pertaniannya yang saat ini sudah sangat mapan. Namun dengan kerja keras, kesungguhan dan disiplin kerja yang tinggi yang dimiliki oleh masyarakat Jepang akhirnya Jepang mampu membangun pertanian yang tangguh.
Mungkin karena dilator belakangi dengan kondisi alam yang kurang menguntungkan masyarakat Jepang menjadi terbiasa dengan bekerja keras dan bersungguh-sungguh dalam mengelola pertanian mereka apa lagi didukung dengan kebijakan pemerintah dan model system pembangunan pertanian yang tepat.
Memang kita tidak bias membangun pertanian dengan pola yang sama dengan Jepang, namun banyak hal yang bisa dipelajari di Negara matahari terbit ini, terutama sikap hormat, kerja keras, dan disiplin mereka.
Dan jika dibandingkan dengan Indonesia, kondisi kita jauh lebih beruntung karena alam dan iklim yang sangat mendukung pertanian. Namun sekali lagi mungkin karena system pembangunan kita yang kurang tepat, atau mungkin karena sikap mental manusianya, atau mungkin kita belum cukup bekerja keras dan kurang disiplin dalam menekuni pekerjaan.
1) Anton Setyo Nugroho
Staff Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Pesisir DKP
Mahasiswa Doktoral di Saga University-Jepang
Sumber :
The Indonesian Prosperious Farmer and Fisheries Union, Sabtu, 19 Desember
1.Buah Alpukat Bahan: 1/2 - 2 buah alpukat matang. Pemakaian: buah alpukat dimakan begitu saja sebagai buah, lakukan setiap
hari.
2.Wortel Bahan: 5 buah wortel segar ukuran
sedang. Pemakaian: wortel dicuci bersih, lalu diblender atau diparut, kemudian
diperas dan disaring. Minum airnya sekaligus, lakukan setiap hari.
3.Jamur Lingzhi Bahan: 10 gram jamur lingzhi. Pemakaian: jamur Lingzhi dipotong-otong seperlunya. Rebus dengan 3 gelas
air bersih hingga tersisa 1 gelas. Setelah dingin, airnya diminum sekaligus.
4.Rumput Laut Bahan: 30 gram rumput laut kering Pemakaian: rumput laut digiling menjadi bubuk. Masukkan ke dalam cangkir,
lalu seduh dengan air mendidih. Minum air tersebut setiap hari.
5.Belimbing Manis Bahan: 2 buah belimbing manis besar. Pemakaian: buah belimbing dimakan setelah makan pagi dan makan malam,
masing-masing 1 buah.
6.Asam Bahan: 12 gram daun asam segar. Pemakaian: daun asam dicuci bersih, lalu didihkan dengan air 1 gelas selama
15 menit. Setelah dingin, air disaring lalu diminum sekaligus. Lakukan 2 kali
sehari.
7.Bawang merah Bahan: 20 gram bawang merah segar. Pemakaian: Bawang merah diiris tipis-tipis, dimakan bersama nasi. Lakukan 3
kali sehari dengan ukuran yang sama.
8.Bawang putih Bahan: 1-2 siung bawang putih. Pemakaian: bawang putih diiris tipis-tipis atau dipipiskan dan dibuat
bulatan kecil. Lalu ditelan. Lakukan 2 kali sehari.
9.Temulawak Bahan: 3 jari rimpang temulawak segar. Pemakaian: Rimpang temulawak dikupas kulitnya, lalu diparut, tambahkan 3/4
cangkir air panas dan biarkan mengendap. Setelah dingin, endapannya dibuang,
airnya diminum. Lakukan setiap hari.
10.Buncis Bahan: 30 gram buncis segar. Pemakaian: buncis dicuci bersih, lalu rebus. Setelah agak layu, buncis diangkat.
Rebusan buncis ini dimakan bersama nasi.
11.Daun Murbei Bahan: 10 gram daun murbei segar. Pemakaian: Daun dicuci, lalu direbus dalam 3 gelas air hingga tersisa 1
gelas, Setelah dingin, disaring dan diminum. Lakukan setiap hari.
12.Seledri Bahan: 30 gram akar seledri segar. Pemakaian: Akar seledri dicuci bersih, lalu direbus dengan 2 gelas air
bersih hingga tersisa 1 gelas. Setelah dingin, air disaring, minum sekaligus.
13.Daun sirih Bahan: 15 lembar daun sirih segar. Pemakaian: Daun dicuci bersih, lali direbus dalam 3 gelas air hingga
tersisa 1 gelas. Setelah dingin, air disaring dan diminum sekaligus. Lakukan
setiap hari.
Trypanosomiasis yang umum disebut Surra. Surra disebabkan oleh parasit darah yaitu Trypanosoma
evansi. Tempat predileksi parasit ini adalah darah, limpa, dan cairan
serebrospinal.
2.Penularan
Penyakit ini
ditularkan secara mekanik murni oleh vektor, secara congenital lewat induk atau
plasma, mukosa kelamin, mukosa usus, dan bisa melalui luka terbuka. Di dalam tubuh
lalat parasit hidup bertahan selama kurang lebih 6-12 jam.
3. Patogenesis
Vektor utama adalah lalat dan nyamuk Stomoxys calcitrans, Lyperosia,
Glossina dan Tabanus. Trypanosoma evansi diketahui hanya
berbentuk tunggal (monomorfik) berbeda dengan spesies lain yang berbentuk ganda
(pleomorfik). Dalam keadaan tertentu, protozoa ini tidak dapat tertangkap saat
dilakukan pemeriksaan karena dapat bersembunyi di dalam kelenjar limfe.
Penyakit
Tripanosomiasis ditularkan secara mekanik melalui gigitan vektor ketika
menghisap darah penderita, baik pada hewan ternak maupun anjing. Setelah
memasuki peredaran darah, trypanosoma segera memperbanyak diri dengan
pembelahan secara biner.
Dalam waktu singkat
penderita mengalami parasitemia dan suhu tubuh biasanya meningkat. Sel darah merah
penderita yang tersensitisasi oleh parasit segera dikenali oleh makrofag dan
dimakan oleh sel darah putih tersebut. Bila sel darah merah yang dimakan
makrofag cukup banyak anjing penderita segera mengalami anemia normositik dan
normokromik. Sebagai akibat anemia, penderita tampak lesu, malas bergerak, bulu
kusam, nafsu makan menurun dan mungkin juga terjadi oedem di bawah kulit maupun serosa.
Jenis
Trypanosoma yang dalam siklus hidupnya hanya terdapat satu stadium, contoh T.
Equiperdum dan T. Evansi, disebut monomorf, dan memperbanyak diri
dengan cara pembelahan biner. Trypanosoma yang dalam hidupnya terdapat 2 atau
lebih stadium, disebut polimorf, sebagai contohnya T. Gambiense, T. Rhodesiense,
dan T. Brucei.
Di dalam
tubuh vertebrata, stadium terakhirnya adalah Trypanosoma. Jika bersama darah
stadium tadi ditelan oleh serangga, dalam saluran pencernaan parasit itu
mengalami perubahan bentuk melalui satu stadium atau lebih, yaitu stadium
Leishmania, Leptomonas, atau Chritidia. Tiga macam stadium itu tidak infektif
bagi vertebrata. Stadium yang infektif adalah tripanosoma metasiklik. Parasit
bentuk infektif ini dikeluarkan bersama tinja serangga, dan penularan terjadi
bila tinja yang mengandung tripanosoma metasiklik itu kontak langsung dengan
kulit inang vertebrata. Masuknya parasit bentuk infektif ke dalam tubuh inang
dipermudah oleh luka karena gigitan serangga atau karena luka goresan atau
garukan.
4. Gejala Klinis
Suhu badan
naik, demam bersalang-seling,
nemia, muka
pucat
Nafsu makan
berkurang,
Sapi menjadi
kurus, berat badan menurun
Penderita
tak mampu bekerja karena letih
Bulu rontok,
kelihatan kotor, kering seperti sisik
Gerakan
berputar-putar tanpa arah (bila parasit menyerang otak atau syaraf)
5. Differential Diagnosa
T.
equiperdum
Parasit ini
terdapat di seluruh dunia, menyerang pada kuda, sapi, keledai yang menimbulkan
penyakit Dourine. Parasit ini ditemukan
pada darah dan limfe, menyerupai T. evansi,
tetapi parasit ini menyebabkan penyakit kelamin yang ditularkan melalui coitus (kawin).
Pada Jantan
menimbulkan peradangan pada penis, praeputium
dan organ genital lain akhirnya bisa menjadi ulcer.
Pada betina
menyebabkan vaginitis disertai demam. Pada stadium sekunder timbul urtikaria,
reaksi dermatologis dan hemoragi kulit. Pada stadium tertier timbul gangguan
sistem saraf pusat, paralisa, refleks extremitas menurun dan gangguan beberapa
nervus mata/muka. Pada Dourine
menciri pada sekresi cairan genital, infeksi kulit.
Diagnosa
immunologis dilakukan dengan CBR.
6. Diagnosa
Penentuan
diagnosa didasarkan pada ditemukannya parasit dalam pemeriksan darah natif atau
dengan pengecatan HE atau dengan trypan-blue. Pada stadium akut atau awal dari
penyakit ini, tripanosoma dapat ditemukan di dalam aliran darah perifer. Usapan
darah tebal lebih baik dipakai daripada usapan darah tipis pada pemeriksaaan
ini. Protozoa ini lebih banyak ditemukan di dalam kelenjar limfa. Parasit ini
juga dapat ditemukan di dalam usapan cairan yang diperoleh dari tusukan
kelenjar limfa yang segar atau yang telah diwarnai. Pada stadium lebih lanjut
dapat ditemui pada cairan serebrospinal.
7. Prognosa
Sebagian
besar hewan yang terkena penyakit tripanosomiasis ini mengalami kematian.
Penyakit ini lebih menahun pada sapi dan banyak yang menjadi sembuh. Pada kuda,
bagal, dan keledai sangat rentan, begitu juga domba, kambing, dan onta sangat
rentan yang tanda-tandanya sangat mirip dengan kuda.
8.
Penanganan
Tindakan
preventif terhadap tripanosomiasis ditujukan penyelamatan ternak dengan cara mengendalikan reservoir , menghindarkan kontaminasi mekanis yang tidak
disengaja, pengelolaan tanah, dan pengendalian biologik.
Dilakukan surveilans
yang berkelanjutan; pengobatan secara masal dan berkala pada semua hewan; atau
penyembelihan semua hewan yang terserang.
Menghilangkan
tempat berkembangbiak lalat secara besar-besaran karena lalat berkembang biak
di bawah semak-semak sepanjang sungai atau di lokasi-lokasi lain yang bersemak.
Pelepasan lalat
jantan steril untuk mengendalikan populasi lalat dan penyemprotan tanah dengan
insektisida.
Untuk
menyembuhkan infeksi T. evansi pada kuda dan anjing dianjurkan
penggunaan kuinapiramin diberikan secara subkutan; Suramin diberukan secara
Intra Vena; Diminazene aceturat, dan Isometamedium diberikan secara intra
muskuler.
Indonesia masih menghadapi permasalahan zoonosis yaitu
penyakit hewan yang secara alami dapat menular ke manusia atau sebaliknya. Ancaman
zoonosis di Indonesia maupun di dunia cenderung terus meningkat dan
berimplikasi pada aspek sosial, ekonomi, keamanan, dan kesejahteraan rakyat. Zoonosis perlu dikendalikan karena dalam
kondisi tertentu berpotensi menjadi wabah atau pandemi.
Dalam rangka pengendalian zoonosis, Presiden RI
mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 30 Tahun 2011 Tentang
Pengendalian Zoonosis. Perpres terdiri atas 7 bab dan 43 pasal. Perpres ini
mulai berlaku pada tanggal 20 Mei 2011.
Di dalam Perpres No. 30/2011 diatur
langkah-langkah komprehensif dan terpadu yang melibatkan pemerintah pusat,
pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi profesi, lembaga non pemerintah,
perguruan tinggi, lembaga internasional dan pihak terkait lainnya serta seluruh
lapisan masyarakat.
Strategi pengendalian zoonosis dilakukan dengan
mengutamakan prinsip pencegahan penularan kepada manusia dengan meningkatkan
upaya pengendalian zoonosis pada sumber penularan. Strategi ini dilaksanakan
melalui penguatan koordinasi lintas sektor, sinkronisasi, pembinaan, pengawasan,
pemantauan, dan evaluasi pelaksanaan kebijakan, strategi dan program
perencanaan terpadu dan percepatan pengendalian melalui surveilans,
pengidentifikasian, pencegahan, tata laksana kasus dan pembatasan penularan,
penanggulangan wabah atau kejadian luar biasa (KLB) dan pandemi serta
pemusnahan sumber zoonosis pada hewan apabila diperlukan.
Strategi lain yang harus dilaksanakan yaitu
penguatan perlindungan wilayah yang masih bebas terhadap penularan zoonosis
baru; Peningkatan upaya perlindungan masyarakat dari ancaman penularan
zoonosis; Penguatan kapasitas sumber daya manusia, logistik, pedoman
pelaksanaan, prosedur teknis pengendalian, kelembagaan dan anggaran
pengendalian zoonosis; Penguatan penelitian dan pengembangan zoonosis;
Pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan dunia usaha, perguruan tinggi, LSM,
dan organisasi profesi, serta pihak-pihak lain.
Dalam Perpres No. 30/2011 diatur juga pembentukan
Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis yang bertindak sebagai Pusat Pengendalian
Zoonosis saat terjadi kejadian luar biasa/wabah dan pandemi akibat zoonosis.
Komisi Nasional diketuai oleh Menko Kesra. Wakil Ketua Komisi Nasional terdiri
dari Menkes, Mentan dan Mendagri. Anggota Komisi Nasional terdiri dari Menlu,
Menhan, Menkeu, Menhut, Mendiknas, Menristek, Menkominfo, Menhub, Men LH,
Kepala Bappenas, Men PP dan PA, Menbudpar, Panglima TNI, Kapolri, Sesneg, dan
Ketua Umum PMI.
Sekretaris Komisi Nasional adalah Deputi Menko
Kesra Bidang Koordinasi Kesehatan, Kependudukan, dan Keluarga Berencana. Wakil
Sekretaris Komisi Nasional terdiri dari Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan,
Kementerian Pertanian dan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan Kementerian Kesehatan.