Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Monday, 27 July 2026

Mendorong Kursi Roda ke Raudhah, Saya Baru Sadar: Jalan Tercepat Mendekat kepada Allah Ternyata Melayani Sesama!

 


Mendorong Kursi Roda Menuju Raudhah: Ternyata Jalan Tercepat Mendekat kepada Allah Bukan Selalu dengan Berlari

Banyak anak muda hari ini berpikir bahwa ibadah adalah tentang seberapa banyak amal yang bisa dikumpulkan. Semakin sering salat sunnah, semakin banyak tilawah, semakin lama berdoa, maka semakin dekat dengan Allah. Semua itu benar. Namun, ada satu jalan yang sering terlupakan. Jalan yang tidak ramai dipamerkan di media sosial. Jalan yang justru dipenuhi keikhlasan. Jalan itu adalah melayani orang lain karena Allah.

Aku merasakan sendiri pelajaran itu ketika Allah mengizinkanku menunaikan ibadah haji.

Malam pertama tiba di Madinah, tubuh benar-benar lelah setelah perjalanan panjang. Aku langsung terlelap di kamar hotel. Saat itu baru ada tiga orang di dalam kamar.

Di tengah nyenyaknya tidur, terdengar pintu diketuk.

Seorang jamaah baru masuk untuk bergabung sekamar. Rambutnya sudah memutih seluruhnya. Wajahnya menyimpan jejak usia yang panjang. Belakangan aku mengetahui bahwa beliau telah berusia 86 tahun.

Beliau sudah mengenakan kain ihram untuk umrah. Namun cara memakainya belum sempurna hingga auratnya tampak terbuka tanpa beliau sadari.

Saat itu hatiku langsung tergerak.

Tidak ada rasa jijik. Tidak ada rasa malu. Yang ada hanya satu pikiran, "Bagaimana kalau ini ayahku sendiri?"

Aku pun menghampiri beliau dengan pelan. Aku membenarkan kain ihramnya sambil mengajarkan cara memakainya dengan benar. Beliau tersenyum penuh rasa syukur.

Aku kemudian memotret beliau dan mengirimkan foto itu kepada keluarganya di kampung halaman. Aku ingin menenangkan hati anak-anaknya bahwa ayah mereka tidak sendirian. Ada teman yang akan mendampingi selama di Tanah Suci.

Mungkin bagi sebagian orang, itu hanyalah tindakan kecil.

Tetapi ternyata Allah sedang menyiapkan pelajaran yang jauh lebih besar.

Esok paginya aku mendorong beliau dengan kursi roda menuju Masjid Nabawi.

Sejak hari itu, hampir setiap waktu salat aku yang mengantarkan beliau. Aku mendorong kursi roda beliau menuju masjid, mengelilingi pelatarannya, hingga membantu beliau menjalankan ibadah.

Jujur saja, sebelumnya aku belum pernah mendorong kursi roda.

Tidak ada pengalaman.

Tidak ada latihan.

Namun entah mengapa semuanya terasa ringan.

Barangkali karena setiap dorongan itu bukan sekadar menggerakkan roda, tetapi juga sedang menggerakkan hati agar lebih dekat kepada Allah.

Suatu hari datang kesempatan masuk ke Raudhah, taman surga yang sangat dirindukan setiap muslim.

Jutaan orang rela antre berjam-jam untuk dapat masuk ke sana.

Aku mendorong beliau menuju pintu Raudhah.

Masya Allah...

Allah benar-benar Maha Memudahkan.

Para petugas melihat kondisi beliau dan memberikan jalan sehingga kami dapat masuk dengan mudah.

Di kesempatan lain, menjelang salat Magrib, lautan manusia tampak bergegas mengejar waktu agar bisa masuk Raudhah sebelum pintu ditutup.

Sementara kami justru diminta menunggu hingga setelah salat Magrib.

Aku menunggu dengan sabar.

Tidak memprotes.

Tidak memaksa.

Tidak merasa diperlakukan berbeda.

Aku hanya yakin, jika memang Allah mengundang, tidak ada satu pun yang mampu menghalangi.

Benar saja.

Setelah salat Magrib kami dipersilakan masuk kembali.

Bahkan yang membuatku semakin terharu, petugas membiarkan kami tetap berada di dalam Raudhah hingga selesai salat Isya.

Bayangkan...

Di tempat yang begitu didambakan jutaan manusia, Allah memberikan waktu yang begitu panjang untuk beribadah.

Aku hanya mampu menangis dalam hati.

Bukan karena merasa istimewa.

Justru karena merasa tidak pantas menerima nikmat sebesar itu.

Beberapa teman mengetahui pengalaman tersebut.

Mereka berkata dengan nada kagum sekaligus sedikit iri.

Aku lalu menawarkan, "Kalau mau, besok gantian saja mendorong beliau."

Namun mereka tersenyum sambil menggeleng.

"Ah... saya tidak terbiasa mendorong kursi roda."

Aku hanya tersenyum.

Dalam hati aku berkata,

"Aku juga baru pertama kali mendorong kursi roda."

Ternyata yang Allah lihat bukan keahlian kita.

Bukan pengalaman kita.

Bukan seberapa kuat tenaga kita.

Yang Allah lihat adalah kemauan untuk melayani dengan ikhlas.

Sering kali kita mengejar tempat-tempat mulia, tetapi lupa menjadi orang yang memuliakan sesama.

Kita ingin doa cepat dikabulkan, tetapi enggan membantu orang yang sedang kesulitan.

Kita ingin dimudahkan menuju surga, tetapi malas menjadi jalan kemudahan bagi orang lain.

Padahal Rasulullah ﷺ telah mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Mungkin itulah rahasia yang baru kusadari.

Bisa jadi aku tidak masuk Raudhah karena hebatnya ibadahku.

Bisa jadi aku dipersilakan berlama-lama di sana karena Allah sedang membalas setiap dorongan kecil yang kulakukan untuk seorang hamba-Nya yang sudah renta.

Hari ini banyak anak muda berlomba mengejar validasi manusia.

Ingin viral.

Ingin terkenal.

Ingin dipuji.

Padahal di sisi Allah, bisa jadi yang paling tinggi derajatnya bukan orang yang paling banyak dilihat manusia, melainkan orang yang diam-diam mengangkat beban orang lain.

Mendorong kursi roda.

Menggandeng orang tua.

Menyuapi mereka.

Mengantarkan mereka ke masjid.

Menjadi tempat bersandar ketika tenaga mereka sudah tidak lagi kuat.

Kadang-kadang surga tidak dibuka karena langkah kaki kita.

Tetapi karena tangan kita yang rela membantu langkah orang lain.

Kalau hari ini kedua orang tuamu masih ada, peluklah mereka.

Kalau mereka mulai berjalan pelan, jangan malu menggandengnya.

Kalau suatu hari mereka harus memakai kursi roda, jangan pernah merasa terbebani.

Siapa tahu...

Justru roda yang sedang kamu dorong itu adalah kendaraan yang Allah siapkan untuk membawamu menuju surga.

Dan aku hanya bisa mengakhiri kisah ini dengan satu kalimat yang terus terngiang dalam hati:

"Ya Allah, jika aku boleh memilih, izinkan aku lebih sering menjadi orang yang membantu daripada orang yang dibantu. Karena ternyata, di balik keikhlasan melayani seorang hamba-Mu, Engkau menyimpan hadiah-hadiah yang tidak pernah bisa dibeli oleh dunia."


#Raudhah 

#HajiInspiratif 

#MelayaniSesama 

#DakwahIslam 

#KisahHijrah

No comments: