Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Thursday, 10 September 2026

Bukan Cuma Soal Gaji! Terungkap Arti Desil 1–10 dan Mengapa Keluarga Bisa Naik-Turun Kesejahteraan!

 


Membaca Tangga Kesejahteraan Keluarga: Dari Desil 1 hingga Desil 10, Mengapa Pendapatan Bukan Satu-Satunya Ukuran?

 

Infografis “Kesejahteraan Keluarga” di atas menggambarkan masyarakat dalam sepuluh kelompok atau desil, mulai dari Desil 1 – keluarga miskin ekstrem hingga Desil 10 – keluarga kaya. Gambaran tersebut menarik karena memperlihatkan bahwa kesejahteraan keluarga tidak berada dalam dua kutub sederhana—miskin atau kaya—melainkan membentuk suatu spektrum yang panjang dan bertingkat.

 

Namun, ada satu hal penting yang perlu diluruskan. Desil tidak boleh dipahami semata-mata sebagai batas pendapatan bulanan. Dalam sistem statistik dan pemeringkatan kesejahteraan yang digunakan pemerintah, desil merupakan posisi relatif sebuah keluarga dibandingkan keluarga lainnya berdasarkan berbagai karakteristik sosial-ekonomi. BPS pada 2026 menjelaskan bahwa desil membagi keluarga ke dalam sepuluh kelompok, masing-masing sekitar 10 persen keluarga, dengan Desil 1 sebagai kelompok dengan kesejahteraan relatif paling rendah dan Desil 10 paling tinggi.

 

Dengan demikian, infografis tersebut lebih tepat dibaca sebagai ilustrasi tangga sosial-ekonomi, bukan sebagai tabel resmi batas pendapatan nasional.

 

Sepuluh Tangga Kesejahteraan

 

Infografis di atas membagi keluarga menjadi sepuluh kelompok.

 

Desil 1 digambarkan sebagai keluarga miskin ekstrem, dengan kondisi ekonomi sangat terbatas dan kebutuhan dasar yang sulit terpenuhi.

 

Desil 2 merupakan kelompok keluarga miskin. Pada kelompok ini, pendapatan atau kemampuan ekonomi masih rendah sehingga kebutuhan sehari-hari sangat rentan terhadap kenaikan harga, kehilangan pekerjaan, sakit, atau kejadian ekonomi lainnya.

 

Desil 3 disebut sebagai kelompok rentan jatuh miskin. Inilah kelompok yang sering luput dari perhatian. Mereka mungkin sudah mampu memenuhi kebutuhan dasar, tetapi belum memiliki bantalan ekonomi yang kuat. Satu kejadian seperti kehilangan pekerjaan, gagal panen, anggota keluarga sakit, atau kenaikan biaya pendidikan dapat mendorong keluarga tersebut kembali ke kondisi miskin.

 

Desil 4 menggambarkan keluarga menengah rendah. Kebutuhan dasar relatif lebih terpenuhi, tetapi ruang untuk menabung, berinvestasi, atau menghadapi guncangan ekonomi masih terbatas.

 

Selanjutnya, Desil 5 dan Desil 6 menggambarkan kelompok keluarga menengah. Mereka umumnya memiliki kondisi ekonomi yang lebih stabil, tetapi stabilitas tersebut tetap bergantung pada pekerjaan, produktivitas, kesehatan, pendidikan, dan kemampuan mengelola pengeluaran.

 

Desil 7 dan Desil 8 menunjukkan keluarga yang semakin mapan. Kemampuan memenuhi kebutuhan dasar sudah lebih kuat dan terdapat ruang yang lebih besar untuk pendidikan, kesehatan, kepemilikan aset, tabungan, maupun investasi.

 

Sementara itu, Desil 9 dan Desil 10 berada pada kelompok kesejahteraan relatif tertinggi. Kemampuan ekonomi mereka memungkinkan pemenuhan kebutuhan yang lebih luas serta kepemilikan aset dan tabungan yang lebih besar.

 

Sekali lagi, pembagian tersebut sebaiknya dipahami sebagai spektrum kesejahteraan relatif, bukan label permanen terhadap seseorang atau sebuah keluarga.

 

Mengapa Desil Tidak Sama dengan Gaji?

 

Ini merupakan bagian paling penting untuk memahami infografis tersebut.

 

BPS secara khusus menegaskan bahwa desil berbeda dengan pengeluaran per kapita. Desil menunjukkan posisi relatif dalam distribusi kesejahteraan, sedangkan pengeluaran per kapita merupakan rata-rata pengeluaran per orang dalam rumah tangga.

 

Lebih jauh lagi, dalam pemeringkatan keluarga pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), desil tidak ditentukan hanya berdasarkan penghasilan. BPS menjelaskan bahwa berbagai karakteristik dipertimbangkan secara bersama-sama, antara lain kondisi rumah, sumber air minum, bahan bakar memasak, kepemilikan aset, konsumsi listrik, komposisi keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan disabilitas. Pemeringkatan tersebut menggunakan pendekatan statistik Proxy Means Test (PMT).

 

Karena itu, dua keluarga dengan pendapatan yang tampak sama belum tentu memiliki tingkat kesejahteraan yang sama.

 

Bayangkan dua keluarga sama-sama memiliki pemasukan Rp5 juta per bulan. Keluarga pertama terdiri atas dua orang tanpa tanggungan anak dan memiliki rumah sendiri. Keluarga kedua terdiri atas enam orang, memiliki anak yang masih sekolah, membayar kontrakan, dan menanggung anggota keluarga yang membutuhkan perawatan.

 

Secara nominal, pendapatannya sama. Secara kesejahteraan, belum tentu sama.

Inilah alasan mengapa pengukuran kesejahteraan modern membutuhkan lebih banyak variabel daripada sekadar pendapatan.

 

Kemiskinan Bukan Hanya Persoalan Uang

 

Kesejahteraan keluarga sesungguhnya bersifat multidimensional.

Pendapatan memang penting karena menentukan kemampuan keluarga membeli makanan, membayar pendidikan, memperoleh layanan kesehatan, memiliki rumah layak, dan memenuhi kebutuhan lainnya. Tetapi pendapatan hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan kehidupan keluarga.

 

Keluarga dengan pendapatan relatif rendah tetapi mempunyai rumah sendiri, akses air bersih, lingkungan sehat, pendidikan yang baik, pekerjaan stabil, dan jaringan sosial kuat dapat memiliki ketahanan yang berbeda dibandingkan keluarga dengan pendapatan sedikit lebih tinggi tetapi harus membayar sewa rumah, memiliki banyak tanggungan, dan menghadapi biaya kesehatan yang besar.

 

Karena itu, indikator kesejahteraan perlu melihat kemampuan keluarga mempertahankan kualitas hidup, bukan hanya jumlah uang yang masuk setiap bulan.

 

BPS sendiri dalam publikasi Indikator Kesejahteraan Rakyat 2025 menggunakan berbagai sumber data, termasuk Susenas, Sakernas, Podes, Sensus Penduduk 2020, dan Proyeksi Penduduk Indonesia 2020–2050 untuk menggambarkan perkembangan kesejahteraan masyarakat.

 

Desil 3: Kelompok yang Sangat Strategis

 

Jika berbicara mengenai kebijakan publik, Desil 3 dan kelompok di sekitarnya sebenarnya sangat penting.

 

Kelompok miskin ekstrem dan miskin memang membutuhkan perlindungan sosial. Namun, kelompok rentan juga membutuhkan perhatian karena mereka dapat dengan cepat bergerak turun ketika terjadi guncangan ekonomi.

 

Keluarga petani yang gagal panen, nelayan yang kehilangan hasil tangkapan, pekerja informal yang kehilangan pelanggan, pedagang kecil yang mengalami penurunan omzet, atau keluarga yang tiba-tiba menghadapi biaya pengobatan besar dapat mengalami penurunan kesejahteraan dalam waktu relatif singkat.

 

Dengan kata lain, kebijakan pengentasan kemiskinan tidak cukup hanya bertujuan: mengangkat keluarga dari Desil 1 ke Desil 2.


Kebijakan yang lebih baik harus mampu membuat keluarga naik secara berkelanjutan dari Desil 1 → 2 → 3 → 4 dan seterusnya, sekaligus mencegah keluarga yang sudah naik agar tidak kembali jatuh.


Dari Bantuan Sosial Menuju Mobilitas Sosial.


Perspektif desil memberikan pelajaran penting bagi kebijakan pembangunan.

Bantuan sosial sangat diperlukan untuk melindungi masyarakat yang berada pada kondisi paling rentan. Namun, bantuan saja tidak selalu cukup untuk menghasilkan mobilitas ekonomi jangka panjang.

 

Keluarga membutuhkan jalan keluar dari kerentanan.

 

Jalan tersebut dapat berupa peningkatan keterampilan, pekerjaan produktif, akses permodalan, pendidikan anak, pelayanan kesehatan, perlindungan sosial, kepemilikan aset produktif, akses pasar, serta lingkungan tempat tinggal yang sehat.

 

Dengan demikian, keberhasilan program pemerintah seharusnya tidak hanya diukur dari berapa banyak bantuan yang disalurkan, tetapi juga dari pertanyaan:

Berapa banyak keluarga yang berhasil meningkatkan kapasitas ekonominya?

Berapa banyak keluarga yang berhasil keluar dari kemiskinan?

Berapa banyak keluarga yang tidak lagi rentan jatuh miskin?

 

Dan yang paling penting: Apakah peningkatan kesejahteraan tersebut bertahan dalam jangka panjang?


Kesejahteraan Harus Dilihat sebagai Proses.


Kesejahteraan keluarga bukanlah keadaan yang statis.

Sebuah keluarga dapat naik dari kelompok bawah ke kelompok menengah ketika memperoleh pekerjaan yang lebih baik, meningkatkan produktivitas usaha, menyelesaikan pendidikan, atau memiliki aset produktif. Sebaliknya, keluarga yang sudah mapan dapat mengalami penurunan apabila kehilangan pekerjaan, mengalami bencana, menghadapi penyakit serius, atau mengalami krisis ekonomi.

Karena itu, mobilitas sosial-ekonomi menjadi indikator yang sangat penting.

 

Pembangunan yang berhasil bukan hanya menghasilkan lebih banyak keluarga berada pada kelompok atas, tetapi juga menciptakan sistem yang memungkinkan keluarga dari kelompok bawah mempunyai kesempatan nyata untuk naik.

 

Jangan Terjebak pada Angka Nominal dalam Infografis

 

Infografis yang ditampilkan mencantumkan kisaran ekonomi bulanan, mulai dari kurang dari Rp500 ribu pada Desil 1 hingga lebih dari Rp20 juta pada Desil 10.

 

Angka tersebut sebaiknya diperlakukan sebagai ilustrasi, bukan sebagai batas resmi nasional untuk menentukan desil.

 

Hal ini penting karena BPS menegaskan bahwa desil merupakan pemeringkatan relatif, bukan ukuran absolut kemiskinan, pendapatan, atau kekayaan. Bahkan keluarga yang berada pada desil yang sama tidak selalu memiliki pendapatan, pengeluaran, maupun kondisi sosial-ekonomi yang identik.

 

Sebagai pembanding, garis kemiskinan juga memiliki konsep yang berbeda. Berdasarkan Susenas Maret 2025, BPS mencatat garis kemiskinan nasional rata-rata sebesar Rp609.160 per kapita per bulan, dengan rata-rata 4,72 anggota rumah tangga sehingga garis kemiskinan rumah tangga rata-rata sekitar Rp2,875 juta per bulan.

 

Artinya, garis kemiskinan, pendapatan rumah tangga, pengeluaran per kapita, dan desil adalah konsep statistik yang berbeda dan tidak boleh dicampuradukkan.

 

Apa yang Seharusnya Menjadi Target Kebijakan?

 

Jika tangga kesejahteraan digunakan sebagai kerangka kebijakan, maka setiap kelompok membutuhkan strategi yang berbeda.


Kelompok

Fokus kebijakan utama

Desil 1

Perlindungan sosial, kebutuhan dasar, pangan, kesehatan, tempat tinggal

Desil 2

Penguatan pendapatan dan perlindungan sosial

Desil 3

Pencegahan jatuh miskin dan peningkatan produktivitas

Desil 4

Penciptaan pekerjaan dan penguatan usaha

Desil 5–6

Peningkatan produktivitas, tabungan dan aset

Desil 7–8

Penguatan investasi, kewirausahaan dan kualitas SDM

Desil 9–10

Produktivitas, investasi, inovasi dan kontribusi ekonomi

 

Pendekatan semacam ini jauh lebih efektif dibandingkan memberikan satu jenis program kepada semua keluarga.

Keluarga miskin membutuhkan perlindungan. Keluarga rentan membutuhkan ketahanan. Keluarga menengah membutuhkan peluang. Sementara kelompok atas membutuhkan ruang untuk terus berinvestasi dan berkontribusi terhadap perekonomian.

 

Dari “Berapa Penghasilan?” Menjadi “Seberapa Tangguh Keluarga?”

 

Pada akhirnya, infografis tentang sepuluh desil memberikan pesan yang lebih besar daripada sekadar klasifikasi ekonomi.

Pertanyaan tentang kesejahteraan seharusnya tidak berhenti pada:

“Berapa penghasilan keluarga ini?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apakah keluarga ini mampu memenuhi kebutuhan dasar?”

“Apakah anak-anaknya memperoleh pendidikan yang layak?”

“Apakah keluarganya memiliki akses kesehatan?”

“Apakah tempat tinggalnya layak dan lingkungan hidupnya sehat?”

“Apakah mereka memiliki pekerjaan atau usaha yang produktif?”

“Apakah mereka memiliki tabungan atau aset untuk menghadapi krisis?”

 

Dan yang paling penting:

“Apakah mereka mempunyai kesempatan untuk naik ke tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi?”

Di sinilah makna sesungguhnya dari pembangunan inklusif.

 

Pembangunan bukan sekadar membuat angka kemiskinan turun. Pembangunan harus menciptakan mobilitas sosial, ketahanan ekonomi, kesempatan yang adil, dan kualitas hidup yang lebih baik.

 

Dengan demikian, tangga Desil 1 sampai Desil 10 jangan dipandang sebagai sepuluh kotak yang memisahkan masyarakat. Tangga tersebut justru harus menjadi peta untuk memastikan semakin banyak keluarga dapat bergerak naik—dan semakin sedikit keluarga yang jatuh kembali ke bawah.

 

Kesimpulan

 

Infografis kesejahteraan keluarga memberikan gambaran sederhana tentang spektrum kondisi sosial-ekonomi masyarakat. Namun, secara ilmiah, desil tidak identik dengan pendapatan bulanan. Desil merupakan posisi relatif keluarga dalam distribusi kesejahteraan yang mempertimbangkan berbagai karakteristik sosial-ekonomi. Sistem DTSEN juga menempatkan desil sebagai alat pemeringkatan relatif, bukan label absolut mengenai kaya atau miskin.

 

Oleh karena itu, kebijakan publik sebaiknya tidak berhenti pada pendataan siapa yang miskin, tetapi bergerak lebih jauh menuju pertanyaan mengapa sebuah keluarga berada pada posisi tersebut, apa yang membuatnya rentan, dan intervensi apa yang paling efektif untuk meningkatkan kesejahteraannya secara berkelanjutan.

 

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan sekadar berapa banyak bantuan yang telah diberikan, melainkan berapa banyak keluarga yang berhasil menjadi lebih mandiri, lebih produktif, lebih sehat, lebih terdidik, lebih tangguh menghadapi krisis, dan mampu naik ke tingkat kesejahteraan yang lebih baik.

 

Daftar Pustaka

 

Badan Pusat Statistik. (2025). Indikator Kesejahteraan Rakyat 2025. Badan Pusat Statistik.

 

Badan Pusat Statistik. (2025). Indikator SDGs Kesejahteraan Rakyat 2025. Badan Pusat Statistik.

 

Badan Pusat Statistik. (2025). Tingkat kemiskinan kembali menurun. Badan Pusat Statistik.

 

Badan Pusat Statistik. (2026). DTSEN jadi rujukan bersama, BPS jelaskan arti desil. Badan Pusat Statistik.

 

Badan Pusat Statistik. (2026). Pengeluaran untuk konsumsi penduduk Indonesia September 2025. Badan Pusat Statistik.


#DesilKesejahteraan 

#DTSEN 

#BPS 

#Kemiskinan 

#MobilitasSosial

No comments: