Membaca Tangga Kesejahteraan Keluarga: Dari Desil 1
hingga Desil 10, Mengapa Pendapatan Bukan Satu-Satunya Ukuran?
Infografis “Kesejahteraan Keluarga” di atas menggambarkan
masyarakat dalam sepuluh kelompok atau desil, mulai dari Desil 1 – keluarga
miskin ekstrem hingga Desil 10 – keluarga kaya. Gambaran tersebut
menarik karena memperlihatkan bahwa kesejahteraan keluarga tidak berada dalam
dua kutub sederhana—miskin atau kaya—melainkan membentuk suatu spektrum yang
panjang dan bertingkat.
Namun, ada satu hal penting yang
perlu diluruskan. Desil tidak boleh dipahami semata-mata sebagai batas
pendapatan bulanan. Dalam sistem statistik dan pemeringkatan kesejahteraan yang
digunakan pemerintah, desil merupakan posisi relatif sebuah keluarga dibandingkan
keluarga lainnya berdasarkan berbagai karakteristik sosial-ekonomi. BPS pada
2026 menjelaskan bahwa desil membagi keluarga ke dalam sepuluh kelompok,
masing-masing sekitar 10 persen keluarga, dengan Desil 1 sebagai kelompok
dengan kesejahteraan relatif paling rendah dan Desil 10 paling tinggi.
Dengan demikian, infografis tersebut
lebih tepat dibaca sebagai ilustrasi tangga sosial-ekonomi, bukan sebagai tabel
resmi batas pendapatan nasional.
Sepuluh Tangga Kesejahteraan
Infografis di atas membagi keluarga
menjadi sepuluh kelompok.
Desil 1 digambarkan sebagai keluarga
miskin ekstrem, dengan kondisi ekonomi sangat terbatas dan kebutuhan dasar
yang sulit terpenuhi.
Desil 2 merupakan kelompok keluarga miskin.
Pada kelompok ini, pendapatan atau kemampuan ekonomi masih rendah sehingga
kebutuhan sehari-hari sangat rentan terhadap kenaikan harga, kehilangan
pekerjaan, sakit, atau kejadian ekonomi lainnya.
Desil 3 disebut sebagai kelompok rentan
jatuh miskin. Inilah kelompok yang sering luput dari perhatian. Mereka
mungkin sudah mampu memenuhi kebutuhan dasar, tetapi belum memiliki bantalan
ekonomi yang kuat. Satu kejadian seperti kehilangan pekerjaan, gagal panen,
anggota keluarga sakit, atau kenaikan biaya pendidikan dapat mendorong keluarga
tersebut kembali ke kondisi miskin.
Desil 4 menggambarkan keluarga menengah
rendah. Kebutuhan dasar relatif lebih terpenuhi, tetapi ruang untuk menabung,
berinvestasi, atau menghadapi guncangan ekonomi masih terbatas.
Selanjutnya, Desil 5 dan Desil 6
menggambarkan kelompok keluarga menengah. Mereka umumnya memiliki kondisi
ekonomi yang lebih stabil, tetapi stabilitas tersebut tetap bergantung pada
pekerjaan, produktivitas, kesehatan, pendidikan, dan kemampuan mengelola
pengeluaran.
Desil 7 dan Desil 8 menunjukkan keluarga yang semakin
mapan. Kemampuan memenuhi kebutuhan dasar sudah lebih kuat dan terdapat ruang
yang lebih besar untuk pendidikan, kesehatan, kepemilikan aset, tabungan,
maupun investasi.
Sementara itu, Desil 9 dan Desil 10 berada pada
kelompok kesejahteraan relatif tertinggi. Kemampuan ekonomi mereka
memungkinkan pemenuhan kebutuhan yang lebih luas serta kepemilikan aset dan
tabungan yang lebih besar.
Sekali lagi, pembagian tersebut
sebaiknya dipahami sebagai spektrum kesejahteraan relatif, bukan label
permanen terhadap seseorang atau sebuah keluarga.
Mengapa Desil Tidak Sama dengan Gaji?
Ini merupakan bagian paling penting untuk memahami
infografis tersebut.
BPS secara khusus menegaskan bahwa desil berbeda
dengan pengeluaran per kapita. Desil menunjukkan posisi relatif dalam
distribusi kesejahteraan, sedangkan pengeluaran per kapita merupakan rata-rata
pengeluaran per orang dalam rumah tangga.
Lebih jauh lagi, dalam pemeringkatan keluarga pada Data
Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), desil tidak ditentukan hanya
berdasarkan penghasilan. BPS menjelaskan bahwa berbagai karakteristik
dipertimbangkan secara bersama-sama, antara lain kondisi rumah, sumber air
minum, bahan bakar memasak, kepemilikan aset, konsumsi listrik, komposisi keluarga,
pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan disabilitas. Pemeringkatan tersebut
menggunakan pendekatan statistik Proxy Means Test (PMT).
Karena itu, dua keluarga dengan pendapatan yang tampak
sama belum tentu memiliki tingkat kesejahteraan yang sama.
Bayangkan dua keluarga sama-sama
memiliki pemasukan Rp5 juta per bulan. Keluarga pertama terdiri atas dua orang
tanpa tanggungan anak dan memiliki rumah sendiri. Keluarga kedua terdiri atas
enam orang, memiliki anak yang masih sekolah, membayar kontrakan, dan
menanggung anggota keluarga yang membutuhkan perawatan.
Secara nominal, pendapatannya sama. Secara
kesejahteraan, belum tentu sama.
Inilah alasan mengapa pengukuran
kesejahteraan modern membutuhkan lebih banyak variabel daripada sekadar
pendapatan.
Kemiskinan Bukan Hanya Persoalan
Uang
Kesejahteraan keluarga sesungguhnya
bersifat multidimensional.
Pendapatan memang penting karena
menentukan kemampuan keluarga membeli makanan, membayar pendidikan, memperoleh
layanan kesehatan, memiliki rumah layak, dan memenuhi kebutuhan lainnya. Tetapi
pendapatan hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan kehidupan keluarga.
Keluarga dengan pendapatan relatif
rendah tetapi mempunyai rumah sendiri, akses air bersih, lingkungan sehat,
pendidikan yang baik, pekerjaan stabil, dan jaringan sosial kuat dapat memiliki
ketahanan yang berbeda dibandingkan keluarga dengan pendapatan sedikit lebih
tinggi tetapi harus membayar sewa rumah, memiliki banyak tanggungan, dan
menghadapi biaya kesehatan yang besar.
Karena itu, indikator kesejahteraan
perlu melihat kemampuan keluarga mempertahankan kualitas hidup, bukan hanya
jumlah uang yang masuk setiap bulan.
BPS sendiri dalam publikasi Indikator
Kesejahteraan Rakyat 2025 menggunakan berbagai sumber data, termasuk
Susenas, Sakernas, Podes, Sensus Penduduk 2020, dan Proyeksi Penduduk Indonesia
2020–2050 untuk menggambarkan perkembangan kesejahteraan masyarakat.
Desil 3: Kelompok yang Sangat
Strategis
Jika berbicara mengenai kebijakan
publik, Desil 3 dan kelompok di sekitarnya sebenarnya sangat penting.
Kelompok miskin ekstrem dan miskin
memang membutuhkan perlindungan sosial. Namun, kelompok rentan juga membutuhkan
perhatian karena mereka dapat dengan cepat bergerak turun ketika terjadi
guncangan ekonomi.
Keluarga petani yang gagal panen,
nelayan yang kehilangan hasil tangkapan, pekerja informal yang kehilangan
pelanggan, pedagang kecil yang mengalami penurunan omzet, atau keluarga yang
tiba-tiba menghadapi biaya pengobatan besar dapat mengalami penurunan
kesejahteraan dalam waktu relatif singkat.
Dengan kata lain, kebijakan
pengentasan kemiskinan tidak cukup hanya bertujuan: mengangkat keluarga dari
Desil 1 ke Desil 2.
Kebijakan yang lebih baik harus mampu membuat keluarga
naik secara berkelanjutan dari Desil 1 → 2 → 3 → 4 dan seterusnya, sekaligus
mencegah keluarga yang sudah naik agar tidak kembali jatuh.
Dari Bantuan Sosial Menuju Mobilitas
Sosial.
Perspektif desil memberikan
pelajaran penting bagi kebijakan pembangunan.
Bantuan sosial sangat diperlukan
untuk melindungi masyarakat yang berada pada kondisi paling rentan. Namun,
bantuan saja tidak selalu cukup untuk menghasilkan mobilitas ekonomi jangka
panjang.
Keluarga membutuhkan jalan keluar
dari kerentanan.
Jalan tersebut dapat berupa
peningkatan keterampilan, pekerjaan produktif, akses permodalan, pendidikan
anak, pelayanan kesehatan, perlindungan sosial, kepemilikan aset produktif,
akses pasar, serta lingkungan tempat tinggal yang sehat.
Dengan demikian, keberhasilan
program pemerintah seharusnya tidak hanya diukur dari berapa banyak bantuan
yang disalurkan, tetapi juga dari pertanyaan:
Berapa banyak keluarga yang berhasil
meningkatkan kapasitas ekonominya?
Berapa banyak keluarga yang berhasil
keluar dari kemiskinan?
Berapa banyak keluarga yang tidak
lagi rentan jatuh miskin?
Dan yang paling penting: Apakah
peningkatan kesejahteraan tersebut bertahan dalam jangka panjang?
Kesejahteraan Harus Dilihat sebagai
Proses.
Kesejahteraan keluarga bukanlah
keadaan yang statis.
Sebuah keluarga dapat naik dari
kelompok bawah ke kelompok menengah ketika memperoleh pekerjaan yang lebih
baik, meningkatkan produktivitas usaha, menyelesaikan pendidikan, atau memiliki
aset produktif. Sebaliknya, keluarga yang sudah mapan dapat mengalami penurunan
apabila kehilangan pekerjaan, mengalami bencana, menghadapi penyakit serius,
atau mengalami krisis ekonomi.
Karena itu, mobilitas sosial-ekonomi
menjadi indikator yang sangat penting.
Pembangunan yang berhasil bukan
hanya menghasilkan lebih banyak keluarga berada pada kelompok atas, tetapi juga
menciptakan sistem yang memungkinkan keluarga dari kelompok bawah mempunyai
kesempatan nyata untuk naik.
Jangan Terjebak pada Angka Nominal dalam Infografis
Infografis yang ditampilkan mencantumkan kisaran ekonomi
bulanan, mulai dari kurang dari Rp500 ribu pada Desil 1 hingga lebih dari Rp20
juta pada Desil 10.
Angka tersebut sebaiknya diperlakukan sebagai ilustrasi,
bukan sebagai batas resmi nasional untuk menentukan desil.
Hal ini penting karena BPS
menegaskan bahwa desil merupakan pemeringkatan relatif, bukan ukuran absolut
kemiskinan, pendapatan, atau kekayaan. Bahkan keluarga yang berada pada desil
yang sama tidak selalu memiliki pendapatan, pengeluaran, maupun kondisi sosial-ekonomi
yang identik.
Sebagai pembanding, garis kemiskinan
juga memiliki konsep yang berbeda. Berdasarkan Susenas Maret 2025, BPS mencatat
garis kemiskinan nasional rata-rata sebesar Rp609.160 per kapita per bulan,
dengan rata-rata 4,72 anggota rumah tangga sehingga garis kemiskinan rumah
tangga rata-rata sekitar Rp2,875 juta per bulan.
Artinya, garis kemiskinan,
pendapatan rumah tangga, pengeluaran per kapita, dan desil adalah konsep
statistik yang berbeda dan tidak boleh dicampuradukkan.
Apa yang Seharusnya Menjadi Target
Kebijakan?
Jika tangga kesejahteraan digunakan
sebagai kerangka kebijakan, maka setiap kelompok membutuhkan strategi yang
berbeda.
|
Kelompok |
Fokus kebijakan utama |
|
Desil 1 |
Perlindungan sosial,
kebutuhan dasar, pangan, kesehatan, tempat tinggal |
|
Desil 2 |
Penguatan pendapatan
dan perlindungan sosial |
|
Desil 3 |
Pencegahan jatuh
miskin dan peningkatan produktivitas |
|
Desil 4 |
Penciptaan pekerjaan
dan penguatan usaha |
|
Desil 5–6 |
Peningkatan produktivitas, tabungan dan aset |
|
Desil 7–8 |
Penguatan investasi,
kewirausahaan dan kualitas SDM |
|
Desil 9–10 |
Produktivitas,
investasi, inovasi dan kontribusi ekonomi |
Pendekatan semacam ini jauh lebih
efektif dibandingkan memberikan satu jenis program kepada semua keluarga.
Keluarga miskin membutuhkan
perlindungan. Keluarga rentan membutuhkan ketahanan. Keluarga menengah
membutuhkan peluang. Sementara kelompok atas membutuhkan ruang untuk terus
berinvestasi dan berkontribusi terhadap perekonomian.
Dari “Berapa Penghasilan?” Menjadi
“Seberapa Tangguh Keluarga?”
Pada akhirnya, infografis tentang
sepuluh desil memberikan pesan yang lebih besar daripada sekadar klasifikasi
ekonomi.
Pertanyaan tentang kesejahteraan
seharusnya tidak berhenti pada:
“Berapa penghasilan keluarga ini?”
Pertanyaan yang lebih penting
adalah:
“Apakah keluarga ini mampu memenuhi
kebutuhan dasar?”
“Apakah anak-anaknya memperoleh pendidikan yang layak?”
“Apakah keluarganya memiliki akses
kesehatan?”
“Apakah tempat tinggalnya layak dan
lingkungan hidupnya sehat?”
“Apakah mereka memiliki pekerjaan
atau usaha yang produktif?”
“Apakah mereka memiliki tabungan
atau aset untuk menghadapi krisis?”
Dan yang paling penting:
“Apakah mereka mempunyai kesempatan
untuk naik ke tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi?”
Di sinilah makna sesungguhnya dari
pembangunan inklusif.
Pembangunan bukan sekadar membuat
angka kemiskinan turun. Pembangunan harus menciptakan mobilitas sosial,
ketahanan ekonomi, kesempatan yang adil, dan kualitas hidup yang lebih baik.
Dengan demikian, tangga Desil 1
sampai Desil 10 jangan dipandang sebagai sepuluh kotak yang memisahkan
masyarakat. Tangga tersebut justru harus menjadi peta untuk memastikan semakin
banyak keluarga dapat bergerak naik—dan semakin sedikit keluarga yang jatuh
kembali ke bawah.
Kesimpulan
Infografis kesejahteraan keluarga
memberikan gambaran sederhana tentang spektrum kondisi sosial-ekonomi
masyarakat. Namun, secara ilmiah, desil tidak identik dengan pendapatan
bulanan. Desil merupakan posisi relatif keluarga dalam distribusi
kesejahteraan yang mempertimbangkan berbagai karakteristik sosial-ekonomi.
Sistem DTSEN juga menempatkan desil sebagai alat pemeringkatan relatif, bukan
label absolut mengenai kaya atau miskin.
Oleh karena itu, kebijakan publik
sebaiknya tidak berhenti pada pendataan siapa yang miskin, tetapi
bergerak lebih jauh menuju pertanyaan mengapa sebuah keluarga berada pada
posisi tersebut, apa yang membuatnya rentan, dan intervensi apa yang paling
efektif untuk meningkatkan kesejahteraannya secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan
sekadar berapa banyak bantuan yang telah diberikan, melainkan berapa banyak
keluarga yang berhasil menjadi lebih mandiri, lebih produktif, lebih sehat,
lebih terdidik, lebih tangguh menghadapi krisis, dan mampu naik ke tingkat
kesejahteraan yang lebih baik.
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. (2025). Indikator
Kesejahteraan Rakyat 2025. Badan Pusat Statistik.
Badan Pusat Statistik. (2025). Indikator
SDGs Kesejahteraan Rakyat 2025. Badan Pusat Statistik.
Badan Pusat Statistik. (2025). Tingkat
kemiskinan kembali menurun. Badan Pusat Statistik.
Badan Pusat Statistik. (2026). DTSEN
jadi rujukan bersama, BPS jelaskan arti desil. Badan Pusat Statistik.
Badan Pusat Statistik. (2026). Pengeluaran untuk
konsumsi penduduk Indonesia September 2025. Badan Pusat Statistik.
#DesilKesejahteraan
#DTSEN
#BPS
#Kemiskinan
#MobilitasSosial
No comments:
Post a Comment