Peneliti
Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) Pudjiatmoko menyarankan
pemerintah untuk menyiapkan langkah-langkah antisipatif terhadap potensi
penyebaran wabah virus Nipah (NiV) yang kembali terjadi di India pada awal
2026.
“Dengan
tingkat kematian pada manusia yang sangat tinggi (40–75 persen), ketiadaan
vaksin dan pengobatan spesifik, serta karakter penularan yang melibatkan
interaksi manusia–hewan–lingkungan, virus Nipah berpotensi menimbulkan dampak
kesehatan, sosial, dan ekonomi yang signifikan apabila tidak diantisipasi
secara sistematis,” kata Pudjiatmoko, Jumat (6/2/2026).
Pudjiatmoko
menyebut, pemerintah, DPR RI, dan otoritas veteriner perlu memosisikan isu
virus Nipah sebagai ancaman strategis kesehatan nasional berbasis zoonosis.
“Meskipun
penularan antarmanusia relatif terbatas dan tidak seefisien Covid-19, risiko
terjadinya wabah sporadis lintas wilayah tetap nyata, terutama di daerah dengan
kepadatan penduduk tinggi, aktivitas peternakan yang intensif, serta kedekatan
dengan habitat satwa liar,” tegas Pudjiatmoko
Menurut
Pudjiatmoko, wabah terbaru di India kembali menegaskan Asia merupakan wilayah
berisiko tinggi akibat keberadaan reservoir alami virus, praktik konsumsi
pangan tradisional tertentu, serta tingginya kepadatan penduduk.
“Meskipun
tidak berpotensi menjadi pandemi global seperti Covid-19, dampaknya dapat
sangat fatal dan menimbulkan kerugian besar apabila tidak ditangani secara
serius. Oleh karena itu, kebijakan yang proaktif, terkoordinasi, dan berbasis
sains menjadi kunci untuk melindungi kesehatan masyarakat serta menjaga
ketahanan kesehatan regional,” imbuh Pudjiatmoko.
Pudjiatmoko
menegaskan, pendekatan reaktif dalam menghadapi ancaman penyebaran virus Nipah
tidaklah cukup.
“Pemerintah
perlu melakukan investasi berkelanjutan dalam pencegahan zoonosis, penguatan
kesiapsiagaan wabah, serta penerapan pendekatan One Health yang akan memberikan
manfaat jangka panjang dalam mencegah krisis kesehatan di masa depan,” imbau
Pudjiatmoko.
Oleh karena itu, lanjut Pudjiatmoko, pemerintah perlu
menyusun program terintegrasi untuk mengantisipasi penyebaran virus tersebut.
Pudjiatmoko menilai, pemerintah perlu melakukan
setidaknya tiga langkah strategis untuk mengantisipasi penyebaran virus Nipah.
Pertama, tutur Pudjiatmoko, pengendalian risiko
lingkungan dan pangan melalui edukasi konsumsi pangan yang aman, pengamanan
pangan tradisional, serta pengelolaan habitat satwa liar.
“Upaya ini bertujuan untuk menurunkan risiko paparan awal
dari sumber zoonotik,” ulas Pudjiatmoko.
Kedua, sebut Pudjiatmoko, membangun jalur komunikasi dan
edukasi risiko bagi masyarakat dengan menyampaikan informasi yang akurat,
berimbang, dan berbasis sains mengenai wabah ini, serta melibatkan tokoh
masyarakat dan media.
“Langkah ini bertujuan untuk mencegah kepanikan sekaligus
meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap upaya pengendalian,” cetus
Pudjiatmoko.
Ketiga, ucap Pudjiatmoko, lakukan riset serta kerja sama
internasional untuk mengendalikan penyebaran virus Nipah.
“Upaya ini penting guna memperoleh dukungan dalam
pengembangan terapi dan vaksin,” tukas mantan Atase Pertanian KBRI Tokyo untuk
Jepang ini.
“Selain itu, kerja sama internasional juga bermanfaat
untuk berbagi data dan praktik terbaik di tingkat regional,” tutup Pudjiatmoko.
LN-DAN
SUMBER:
LiraNews
https://liranews.com/cegah-penyebaran-virus-nipah-miti-desak-pemerintah-siapkan-program-antisipasi/
#CegahPenyebaranVirusNipah
#VirusNipahZoonosis
#VirusNipahIndia
#PenelitiMITI
#ProgramPemerintah

No comments:
Post a Comment