Sekolah Jadi Panggung Viral? Saat Joget Lebih Laku daripada Prestasi Akademik!
Selamat datang di Indonesia hari ini—sebuah negeri
yang sedang berjuang menjaga jati diri pendidikannya di tengah gelombang besar
media sosial. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang tumbuhnya akal dan
karakter, perlahan-lahan di sebagian tempat justru tampak lebih sibuk mengejar
sorotan kamera. Batas antara lembaga pendidikan dan panggung hiburan terasa
semakin tipis. Konten joget, candaan yang berlebihan, hingga aksi mencari
sensasi kerap lebih cepat viral dibandingkan prestasi akademik.
Fenomena ini bukan sekadar asumsi tanpa dasar.
Cukup membuka media sosial, kita dapat melihat wajah pendidikan yang sering
kali lebih menonjolkan hiburan daripada pemahaman. Sementara itu, ketika
seorang siswa SMP ditanya “4 x 7 berapa?”, jawabannya keliru. Ketika siswa SMA
ditanya “Setahun 12 bulan, kalau 3 tahun berapa bulan?”, ia terdiam. Ini bukan
soal grogi di depan kamera, melainkan pertanyaan mendasar tentang logika yang
seharusnya sudah tertanam kuat.
Di sisi lain, kita melihat anak-anak SD berjoget,
disoraki teman-temannya, bahkan direkam dan disebarkan. Tentu mereka tidak
melakukannya sendiri. Ada arahan, ada persetujuan, bahkan mungkin ada
kebanggaan karena kontennya ramai ditonton. Dalihnya sederhana: untuk hiburan,
untuk kedekatan dengan siswa, untuk promosi sekolah. Namun di sinilah kita
perlu bertanya ulang—apakah semua yang lucu harus mengorbankan marwah? Bukankah
humor bisa tetap cerdas? Komika seperti Panji Pragiwaksono mampu melucu tanpa
kehilangan intelektualitas. Artinya, lucu tidak harus merendahkan akal.
Masalah terbesar kita hari ini adalah pergeseran
standar keberhasilan. Viral seolah menjadi ukuran sukses yang baru.
Banyak “like” dianggap prestasi. Padahal
pendidikan bukan tentang validasi sesaat, melainkan investasi jangka panjang.
Ketika anak-anak lebih terpacu mengejar sorakan dan tayangan dibandingkan
pemahaman, kita sedang menyaksikan gejala degradasi kognitif—penurunan
kemampuan berpikir kritis dan logis.
Sistem belajar pun kerap terjebak pada rutinitas
formalitas. Guru mengajar, murid mencatat, lalu ujian. Materi dihafal, bukan
dipahami. Anak diajarkan bahwa 5 + 5 = 10, tetapi jarang diajak berpikir bahwa
10 bisa berasal dari 6 + 4, 7 + 3, atau 8 + 2. Padahal pendidikan sejati
membangun struktur logika, bukan sekadar memindahkan data dari papan tulis ke
lembar jawaban. Tanpa pemahaman, ijazah hanya menjadi tanda pernah sekolah,
bukan tanda pernah berpikir.
Kritik ini bukan ditujukan kepada semua guru. Kita
tahu masih sangat banyak pendidik berdedikasi tinggi, bekerja dengan hati, dan
menjaga integritas profesinya. Namun kita juga tidak bisa menutup mata terhadap
oknum yang lebih bangga ketika videonya menembus jutaan penonton daripada
ketika siswanya memahami konsep sulit. Ketika guru dan murid sama-sama menjadi
pecandu konten, batas profesionalitas mulai kabur. Kedekatan emosional memang
penting, tetapi tanpa fondasi ilmu, kedekatan itu hampa.
Padahal, pendidikan memiliki pendekatan yang jauh
lebih bermakna. Dalam teori pembelajaran dikenal konsep scaffolding—guru
membangun tangga pemahaman sedikit demi sedikit agar murid mampu naik ke
tingkat berpikir yang lebih tinggi. Guru bukan sekadar penyampai materi,
melainkan arsitek nalar. Jika proses ini berjalan baik, siswa tidak hanya mahir
berhitung, tetapi juga mampu membedakan mana yang pantas dan mana yang tidak.
Kita pernah melihat bukti bahwa anak-anak
Indonesia mampu berprestasi luar biasa ketika mendapat metode yang tepat. Yohanes
Surya, misalnya, membuktikan bahwa tidak ada anak yang bodoh. Ia melatih
anak-anak dari daerah terpencil Papua—yang sebelumnya dianggap
tertinggal—hingga mampu meraih juara olimpiade sains nasional. Keberhasilan itu
bukan karena sensasi, melainkan karena metode, kesabaran, dan keyakinan bahwa
otak manusia bersifat plastis dan bisa berkembang.
Maka jika hari ini kita melihat siswa SMA tidak
mampu menjawab soal dasar, jangan hanya menertawakan mereka. Tanyakan juga:
bagaimana proses belajarnya? Apakah kelas benar-benar menjadi ruang berpikir,
atau sekadar ruang aktivitas? Apakah kurikulum dijalankan dengan kesungguhan,
atau tersisih oleh koreografi perpisahan dan perburuan engagement?
Orang tua bekerja keras menyekolahkan anak dengan
harapan mereka tumbuh menjadi pribadi berilmu dan beretika. Mereka tidak
membayangkan anaknya menjadi sekadar konten hiburan. Sekolah bukan kafe, bukan
panggung audisi, bukan pula agensi bakat. Sekolah adalah tempat membangun
karakter, akal, dan masa depan.
Guru tentu manusia yang juga butuh hiburan dan
ekspresi diri. Namun profesionalitas menuntut kemampuan menempatkan diri. Seragam
dan atribut bukan sekadar pakaian; ia adalah simbol kepercayaan publik. Selama
mengenakannya, seorang guru membawa nama pendidikan bangsa.
Untuk para
siswa, satu pesan sederhana: jangan tertukar antara viral dan berhasil. Dunia
kerja tidak menilai berapa banyak penonton yang pernah bersorak untukmu, tetapi
seberapa kuat logikamu, seberapa jujur karaktermu, dan seberapa terampil
kompetensimu. Sepuluh tahun dari
sekarang, yang menentukan masa depanmu bukan jumlah “like”, melainkan kualitas
ilmu yang kau pelajari hari ini.
Akhirnya, kita perlu kembali pada prinsip dasar:
tidak semua yang viral itu bermoral, dan tidak semua yang tenar itu benar.
Pendidikan bukan tentang menjadi terkenal, melainkan tentang menjadi
tercerahkan. Jika kritik ini terasa tidak nyaman, mungkin memang sudah waktunya
kita bercermin. Karena masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa heboh
kontennya hari ini, melainkan oleh seberapa cerdas dan berintegritas
generasinya esok hari.
#ViralBukanPrestasi
#MarwahPendidikan
#KrisisPendidikan
#LiterasiDanLogika
#GenerasiBerkarakter

No comments:
Post a Comment