Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Saturday, 14 February 2026

Viral Bukan Prestasi: Menyelamatkan Marwah Pendidikan di Era Media Sosial


Sekolah Jadi Panggung Viral? Saat Joget Lebih Laku daripada Prestasi Akademik!

Selamat datang di Indonesia hari ini—sebuah negeri yang sedang berjuang menjaga jati diri pendidikannya di tengah gelombang besar media sosial. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang tumbuhnya akal dan karakter, perlahan-lahan di sebagian tempat justru tampak lebih sibuk mengejar sorotan kamera. Batas antara lembaga pendidikan dan panggung hiburan terasa semakin tipis. Konten joget, candaan yang berlebihan, hingga aksi mencari sensasi kerap lebih cepat viral dibandingkan prestasi akademik.

Fenomena ini bukan sekadar asumsi tanpa dasar. Cukup membuka media sosial, kita dapat melihat wajah pendidikan yang sering kali lebih menonjolkan hiburan daripada pemahaman. Sementara itu, ketika seorang siswa SMP ditanya “4 x 7 berapa?”, jawabannya keliru. Ketika siswa SMA ditanya “Setahun 12 bulan, kalau 3 tahun berapa bulan?”, ia terdiam. Ini bukan soal grogi di depan kamera, melainkan pertanyaan mendasar tentang logika yang seharusnya sudah tertanam kuat.

Di sisi lain, kita melihat anak-anak SD berjoget, disoraki teman-temannya, bahkan direkam dan disebarkan. Tentu mereka tidak melakukannya sendiri. Ada arahan, ada persetujuan, bahkan mungkin ada kebanggaan karena kontennya ramai ditonton. Dalihnya sederhana: untuk hiburan, untuk kedekatan dengan siswa, untuk promosi sekolah. Namun di sinilah kita perlu bertanya ulang—apakah semua yang lucu harus mengorbankan marwah? Bukankah humor bisa tetap cerdas? Komika seperti Panji Pragiwaksono mampu melucu tanpa kehilangan intelektualitas. Artinya, lucu tidak harus merendahkan akal.

Masalah terbesar kita hari ini adalah pergeseran standar keberhasilan. Viral seolah menjadi ukuran sukses yang baru. Banyak “like” dianggap prestasi. Padahal pendidikan bukan tentang validasi sesaat, melainkan investasi jangka panjang. Ketika anak-anak lebih terpacu mengejar sorakan dan tayangan dibandingkan pemahaman, kita sedang menyaksikan gejala degradasi kognitif—penurunan kemampuan berpikir kritis dan logis.

Sistem belajar pun kerap terjebak pada rutinitas formalitas. Guru mengajar, murid mencatat, lalu ujian. Materi dihafal, bukan dipahami. Anak diajarkan bahwa 5 + 5 = 10, tetapi jarang diajak berpikir bahwa 10 bisa berasal dari 6 + 4, 7 + 3, atau 8 + 2. Padahal pendidikan sejati membangun struktur logika, bukan sekadar memindahkan data dari papan tulis ke lembar jawaban. Tanpa pemahaman, ijazah hanya menjadi tanda pernah sekolah, bukan tanda pernah berpikir.

Kritik ini bukan ditujukan kepada semua guru. Kita tahu masih sangat banyak pendidik berdedikasi tinggi, bekerja dengan hati, dan menjaga integritas profesinya. Namun kita juga tidak bisa menutup mata terhadap oknum yang lebih bangga ketika videonya menembus jutaan penonton daripada ketika siswanya memahami konsep sulit. Ketika guru dan murid sama-sama menjadi pecandu konten, batas profesionalitas mulai kabur. Kedekatan emosional memang penting, tetapi tanpa fondasi ilmu, kedekatan itu hampa.

Padahal, pendidikan memiliki pendekatan yang jauh lebih bermakna. Dalam teori pembelajaran dikenal konsep scaffolding—guru membangun tangga pemahaman sedikit demi sedikit agar murid mampu naik ke tingkat berpikir yang lebih tinggi. Guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan arsitek nalar. Jika proses ini berjalan baik, siswa tidak hanya mahir berhitung, tetapi juga mampu membedakan mana yang pantas dan mana yang tidak.

Kita pernah melihat bukti bahwa anak-anak Indonesia mampu berprestasi luar biasa ketika mendapat metode yang tepat. Yohanes Surya, misalnya, membuktikan bahwa tidak ada anak yang bodoh. Ia melatih anak-anak dari daerah terpencil Papua—yang sebelumnya dianggap tertinggal—hingga mampu meraih juara olimpiade sains nasional. Keberhasilan itu bukan karena sensasi, melainkan karena metode, kesabaran, dan keyakinan bahwa otak manusia bersifat plastis dan bisa berkembang.

Maka jika hari ini kita melihat siswa SMA tidak mampu menjawab soal dasar, jangan hanya menertawakan mereka. Tanyakan juga: bagaimana proses belajarnya? Apakah kelas benar-benar menjadi ruang berpikir, atau sekadar ruang aktivitas? Apakah kurikulum dijalankan dengan kesungguhan, atau tersisih oleh koreografi perpisahan dan perburuan engagement?

Orang tua bekerja keras menyekolahkan anak dengan harapan mereka tumbuh menjadi pribadi berilmu dan beretika. Mereka tidak membayangkan anaknya menjadi sekadar konten hiburan. Sekolah bukan kafe, bukan panggung audisi, bukan pula agensi bakat. Sekolah adalah tempat membangun karakter, akal, dan masa depan.

Guru tentu manusia yang juga butuh hiburan dan ekspresi diri. Namun profesionalitas menuntut kemampuan menempatkan diri. Seragam dan atribut bukan sekadar pakaian; ia adalah simbol kepercayaan publik. Selama mengenakannya, seorang guru membawa nama pendidikan bangsa.

Untuk para siswa, satu pesan sederhana: jangan tertukar antara viral dan berhasil. Dunia kerja tidak menilai berapa banyak penonton yang pernah bersorak untukmu, tetapi seberapa kuat logikamu, seberapa jujur karaktermu, dan seberapa terampil kompetensimu. Sepuluh tahun dari sekarang, yang menentukan masa depanmu bukan jumlah “like”, melainkan kualitas ilmu yang kau pelajari hari ini.

Akhirnya, kita perlu kembali pada prinsip dasar: tidak semua yang viral itu bermoral, dan tidak semua yang tenar itu benar. Pendidikan bukan tentang menjadi terkenal, melainkan tentang menjadi tercerahkan. Jika kritik ini terasa tidak nyaman, mungkin memang sudah waktunya kita bercermin. Karena masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa heboh kontennya hari ini, melainkan oleh seberapa cerdas dan berintegritas generasinya esok hari.

 

#ViralBukanPrestasi
#MarwahPendidikan
#KrisisPendidikan
#LiterasiDanLogika
#GenerasiBerkarakter

No comments: