Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Monday, 23 February 2026

Revolusi Pakan Ikan Berbasis Spirulina: Mengakhiri Ketergantungan Tepung Ikan dalam Akuakultur Modern

 

ABSTRAK

Akuakultur merupakan sektor strategis dalam penyediaan protein hewani global, namun efisiensi dan keberlanjutannya sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pakan yang ekonomis dan bernutrisi seimbang. Ketergantungan terhadap tepung ikan sebagai sumber protein utama meningkatkan biaya produksi serta menimbulkan tekanan terhadap sumber daya perikanan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan pakan ikan berbasis Spirulina sp. yang dikombinasikan dengan limbah agro-industri sebagai bahan alternatif berkelanjutan. Spirulina sp. dibudidayakan dalam fotobioreaktor 50 L, dipanen melalui dekantasi, dan dikeringkan sebelum analisis proksimat. Formulasi pakan untuk pembesaran Nile tilapia terdiri atas 20% Spirulina sp., 50% tepung daun singkong, 20% tepung daun gamal (Gliricidia), dan 10% tepung sekam padi. Pelet diproduksi menggunakan metode ekstrusi dan diuji karakteristik fisiknya. Hasil menunjukkan kandungan protein Spirulina sp. sebesar 66,88%, lemak 5,50%, dan kadar air 6,79%. Uji flotasi menunjukkan 60% pelet mengapung >40 menit dan 80% mempertahankan bentuk hingga 4 jam. Pelet memiliki kapasitas penyerapan air tinggi dan tingkat disintegrasi rendah. Hasil ini menunjukkan potensi formulasi berbasis Spirulina sebagai solusi pakan berkelanjutan dalam akuakultur.

Kata kunci: Spirulina, pakan ikan, ekstrusi, limbah agro-industri, akuakultur berkelanjutan

 

ABSTRACT

Aquaculture plays a strategic role in global animal protein supply; however, its sustainability depends largely on feed efficiency and nutritional balance. The high cost of fishmeal and pressure on marine resources necessitate alternative protein sources. This study aimed to develop fish feed pellets based on Spirulina sp. combined with agro-industrial waste materials. Spirulina sp. was cultivated in a 50 L photobioreactor, harvested by decantation, and dried prior to proximate analysis. The feed formulation for grow-out Nile tilapia consisted of 20% Spirulina sp., 50% cassava leaf meal, 20% Gliricidia leaf meal, and 10% rice husk meal. Pellets were produced using extrusion and evaluated for physical properties. Results indicated that Spirulina sp. contained 66.88% protein, 5.50% lipid, and 6.79% moisture. Floatability tests showed that 60% of pellets floated for more than 40 minutes and 80% maintained structural integrity up to 4 hours. The pellets exhibited high water absorption capacity and low disintegration rate. These findings demonstrate the potential of Spirulina-based feed as a sustainable alternative for aquaculture production.

Keywords: Spirulina, fish feed, extrusion, agro-industrial waste, sustainable aquaculture

 

1. INTRODUKSI

Akuakultur berkembang pesat sebagai penyedia protein hewani dunia. Namun, biaya pakan yang mencapai 60–70% dari total biaya produksi menjadi tantangan utama dalam sistem budidaya. Ketergantungan terhadap tepung ikan sebagai sumber protein utama tidak hanya meningkatkan biaya, tetapi juga berdampak pada keberlanjutan sumber daya laut.

Spirulina sp. merupakan mikroalga dengan kandungan protein tinggi (60–70%), asam amino esensial lengkap, serta vitamin dan mineral penting. Produksinya dapat dilakukan secara terkontrol menggunakan fotobioreaktor sehingga relatif efisien dan berkelanjutan. Selain itu, pemanfaatan limbah agro-industri seperti daun singkong, daun gamal (Gliricidia), dan sekam padi dapat mendukung pendekatan ekonomi sirkular.

Penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Menganalisis karakteristik proksimat Spirulina sp. hasil budidaya.
  2. Mengembangkan formulasi pakan berbasis Spirulina dan limbah agro-industri.
  3. Mengevaluasi karakteristik fisik pelet hasil ekstrusi.

 

2. MATERIAL DAN METODE

2.1. Cultivation and Proximate Analysis

Spirulina sp. dibudidayakan dalam fotobioreaktor 50 L dengan aerasi kontinu. Biomassa dipanen melalui dekantasi dan dikeringkan pada suhu terkendali. Analisis proksimat meliputi kadar protein (metode Kjeldahl), lemak (Soxhlet), dan kadar air (gravimetri).

2.2. Preparation of Agro-Industrial Waste

Daun singkong, daun gamal (Gliricidia), dan sekam padi dikeringkan dan digiling menjadi tepung. Sifat kohesi dan elastisitas diuji untuk memastikan kompatibilitas dalam proses ekstrusi.

2.3. Feed Formulation and Extrusion

Formulasi pakan (% berat):

  • Spirulina sp.: 20%
  • Tepung daun singkong: 50%
  • Tepung daun gamal: 20%
  • Tepung sekam padi: 10%

Campuran ditambahkan air (30%) dan diproses menggunakan ekstruder ulir tunggal pada suhu ±100°C. Pelet dikeringkan hingga kadar air ±10%.

2.4. Physical Quality Evaluation

Parameter yang diuji:

  • Floatability (uji apung 40 menit)
  • Water absorption capacity
  • Disintegration rate
  • Structural stability (hingga 4 jam perendaman)

Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif.

 

3. HASIL

3.1. Proximate Composition

Spirulina sp. menunjukkan kandungan protein 66,88%, lemak 5,50%, dan kadar air 6,79%. Kandungan protein yang tinggi menunjukkan potensi sebagai sumber protein alternatif pengganti tepung ikan.

3.2. Pellet Physical Properties

Sebanyak 60% pelet mengapung selama >40 menit. Sebanyak 80% pelet mempertahankan integritas struktural hingga 4 jam. Pelet menunjukkan kapasitas penyerapan air tinggi dan tingkat disintegrasi rendah.

 

4. DISKUSI

Kandungan protein tinggi pada Spirulina sp. sejalan dengan laporan literatur yang menyebutkan kisaran protein 60–70%. Karakteristik fisik pelet menunjukkan bahwa kombinasi bahan dan metode ekstrusi mampu menghasilkan struktur poros yang mendukung daya apung.

Pemanfaatan limbah agro-industri menurunkan ketergantungan pada tepung ikan sekaligus meningkatkan nilai tambah limbah pertanian. Inovasi ini mendukung prinsip keberlanjutan dan efisiensi biaya dalam sistem akuakultur.

 

5. KESIMPULAN

Formulasi pakan berbasis Spirulina sp. dan limbah agro-industri berpotensi sebagai alternatif berkelanjutan pengganti tepung ikan. Pelet hasil ekstrusi menunjukkan karakteristik fisik yang memenuhi standar pakan terapung dan mendukung efisiensi penggunaan pakan dalam budidaya Nile tilapia.

Penelitian lanjutan disarankan untuk uji performa pertumbuhan dan feed conversion ratio (FCR) pada skala budidaya.

 

DAFTAR REFERENSI

Association of Official Analytical Chemists (AOAC). (2005). Official methods of analysis (18th ed.). AOAC International.

Becker, E. W. (2007). Micro-algae as a source of protein. Biotechnology Advances, 25(2), 207–210. https://doi.org/10.1016/j.biotechadv.2006.11.002

FAO. (2022). The state of world fisheries and aquaculture 2022. Food and Agriculture Organization of the United Nations.

Habib, M. A. B., Parvin, M., Huntington, T. C., & Hasan, M. R. (2008). A review on culture, production and use of spirulina as food for humans and feeds for domestic animals. FAO Fisheries and Aquaculture Circular No. 1034.

Naylor, R. L., et al. (2009). Feeding aquaculture in an era of finite resources. Proceedings of the National Academy of Sciences, 106(36), 15103–15110.

No comments: