Di tengah arus modernitas dan kemajuan ilmu
pengetahuan, banyak orang bertanya: adakah titik temu antara wahyu dan sains?
Pertanyaan inilah yang membawa nama Maurice Bucaille dikenal luas di
dunia Islam dan Barat. Ia adalah seorang ahli bedah asal Prancis yang
menorehkan sejarah melalui karya monumentalnya, The Bible, The Qur'an and
Science, sebuah buku yang mengundang diskusi global tentang relasi antara
kitab suci dan ilmu pengetahuan modern.
Namun, sebelum melangkah lebih jauh, penting
bagi kita—terutama para mu’allaf dan pencari kebenaran—untuk memahami fakta
sejarah secara jernih. Berbeda dengan narasi populer di media sosial, tidak
terdapat bukti resmi bahwa Maurice Bucaille pernah menyatakan masuk Islam.
Hingga wafatnya pada tahun 1998, ia tetap dikenal sebagai seorang Katolik. Ia
tidak pernah mengucapkan syahadat secara publik, tidak mengubah namanya, dan
tidak dimakamkan secara Islam. Keluarga dan koleganya pun tetap menganggapnya
sebagai penganut Kristen.
Lalu, mengapa namanya begitu lekat dengan
dakwah Islam?
Ketika Sains Menyentuh Ayat Suci
Bucaille bukanlah seorang dai, melainkan ilmuwan. Ia memosisikan dirinya
sebagai peneliti yang mengagumi kesesuaian Al-Qur’an dengan temuan ilmiah
modern. Dalam penelitiannya terhadap mumi Firaun di Museum Kairo pada
pertengahan 1970-an, ia melakukan analisis medis forensik yang mendalam
terhadap mumi yang diidentifikasi sebagai Merneptah, putra Ramses II.
Menurut kajiannya, terdapat kandungan kristal garam laut yang meresap ke
dalam jaringan tubuh mumi tersebut—berbeda dengan natron yang biasa digunakan
dalam proses mumifikasi. Ia juga mencatat adanya trauma fisik berupa
patah tulang dan cedera yang konsisten dengan hantaman gelombang air besar.
Temuan ini membuatnya teringat pada firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu
supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu…” (QS. Yunus: 92)
Ayat ini secara eksplisit menyebut
penyelamatan jasad Firaun sebagai tanda bagi generasi setelahnya—sebuah detail
yang tidak ditemukan dalam narasi Alkitab. Bagi Bucaille, hal ini menimbulkan
pertanyaan besar: bagaimana mungkin Al-Qur’an yang turun 1.400 tahun lalu
memuat informasi yang baru terungkap secara arkeologis pada abad ke-19, ketika
mumi tersebut ditemukan oleh Victor Loret pada tahun 1898?
Perbandingan Narasi: Al-Qur’an dan Alkitab
Dalam penelitiannya, Bucaille menyoroti
beberapa perbedaan mendasar antara Al-Qur’an dan Alkitab:
- Nasib
jasad Firaun
Al-Qur’an menyebut jasadnya diselamatkan. Alkitab menyatakan Firaun dan pasukannya tenggelam tanpa sisa. - Upaya
pertobatan di detik terakhir
Al-Qur’an mencatat pengakuan iman Firaun saat sakaratul maut, namun ditolak. Alkitab tidak menyebutkan hal ini. - Istilah penguasa Mesir
Al-Qur’an menggunakan istilah “Raja” pada masa Nabi Yusuf dan “Firaun” pada masa Nabi Musa—selaras dengan perkembangan sejarah gelar kerajaan Mesir. Alkitab menggunakan istilah “Firaun” secara umum di semua periode.
Bucaille memandang konsistensi terminologi
dan detail tersebut sebagai indikasi kuat bahwa Al-Qur’an tidak bertentangan
dengan fakta sejarah maupun sains modern.
Reaksi di Mesir dan Lahirnya “Bucaillisme”
Saat temuan itu dipresentasikan di Kairo pada 1975, suasana akademik
bercampur antara kekaguman ilmiah dan resonansi religius. Penelitian ini
mendapat dukungan dari Presiden Anwar Sadat, yang melihatnya sebagai
jembatan antara sejarah Mesir Kuno dan warisan Islam.
Dari sinilah lahir istilah “Bucaillisme”, sebuah pendekatan yang mencoba
membaca ayat-ayat Al-Qur’an dalam cahaya temuan ilmiah modern. Gerakan ini
turut menginspirasi berkembangnya kajian I’jaz Ilmi (mukjizat ilmiah Al-Qur’an)
di dunia Muslim.
Meski demikian, sebagian akademisi sekuler tetap bersikap hati-hati. Mereka
menilai bahwa keberadaan garam laut dan trauma fisik masih membuka ruang
interpretasi lain, seperti kemungkinan penyakit kronis yang memang diderita
Merneptah. Perdebatan ini menunjukkan bahwa dialog antara iman dan sains harus
terus berjalan dengan integritas metodologis.
Pelajaran bagi Para Mu’allaf
Bagi para mu’allaf, kisah Maurice Bucaille bukan sekadar cerita sensasional
tentang “ilmuwan Barat yang masuk Islam”—karena faktanya ia tidak pernah
menyatakan konversi. Justru di sinilah pelajaran pentingnya: kekaguman terhadap
kebenaran Islam bisa lahir dari kejujuran intelektual.
Islam tidak menuntut kita memusuhi sains. Sebaliknya, Islam
mendorong pencarian ilmu. Al-Qur’an berulang kali
mengajak manusia untuk berpikir, merenung, dan meneliti alam semesta. Kisah
Bucaille menunjukkan bahwa ketika penelitian dilakukan dengan objektif,
Al-Qur’an tidak goyah—ia justru semakin relevan.
Namun, dakwah yang matang harus dibangun di atas fakta yang akurat, bukan
klaim berlebihan. Mengatakan Bucaille masuk Islam tanpa bukti justru dapat
merugikan kredibilitas dakwah itu sendiri. Kejujuran adalah bagian dari akhlak
Islam.
Iman yang Berakar pada Ilmu
Kebenaran Islam tidak bergantung pada siapa yang memeluknya, tetapi pada
wahyu yang terjaga dan rasionalitas ajarannya. Jika seorang ilmuwan non-Muslim
saja mengakui keselarasan Al-Qur’an dengan sains, maka betapa beruntungnya kita
yang telah diberi hidayah untuk beriman kepadanya.
Bagi para mu’allaf, perjalanan iman mungkin dimulai dari rasa ingin tahu,
dari pertanyaan-pertanyaan ilmiah, atau dari kegelisahan intelektual. Namun
pada akhirnya, Islam bukan hanya tentang data dan argumen—ia adalah tentang
ketundukan hati kepada Allah, tentang syahadat yang lahir dari keyakinan yang
jernih.
Semoga kisah Maurice Bucaille menjadi penguat bahwa Islam tidak anti-ilmu,
tidak takut pada penelitian, dan tidak goyah oleh waktu. Justru, semakin
manusia meneliti, semakin tampak tanda-tanda kebesaran Allah Swt.
Dan mungkin, di situlah letak misi sejati seorang ilmuwan: membuka pintu
tafakur, agar manusia tidak hanya memahami alam, tetapi juga mengenal
Penciptanya.

No comments:
Post a Comment