Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Monday, 16 February 2026

Ramadhan Bisa Dihitung Presisi! Ini Analisis Astronomis Awal Puasa dengan Model Yallop–Odeh

 


ANALISIS ASTRONOMIS PENENTUAN AWAL RAMADHAN

Pendekatan Koordinat Ekuatorial, Transformasi Horizon, Refraksi Atmosfer, dan Model Visibilitas Yallop–Odeh

 

Abstrak


Penentuan awal Ramadhan dalam kalender Hijriah merupakan persoalan astronomi terapan yang melibatkan mekanika benda langit, geometri bola langit, optika atmosfer, dan model empiris visibilitas hilal. Penelitian ini mengkaji penetapan awal bulan berbasis hisab astronomis dengan pendekatan koordinat ekuatorial, transformasi ke sistem horizon lokal, koreksi refraksi atmosfer, serta evaluasi visibilitas menggunakan model Yallop (1997) dan Odeh (2004). Analisis menunjukkan bahwa visibilitas hilal dapat dihitung secara presisi menggunakan data ephemeris modern dan kriteria kuantitatif tinggi hilal serta elongasi. Hasil kajian menegaskan bahwa perbedaan penentuan awal Ramadhan antarwilayah merupakan konsekuensi dari variasi geografis dan pilihan metodologi, bukan akibat ketidakpastian astronomi.

Kata kunci: hilal, visibilitas bulan sabit, hisab astronomi, Yallop model, Odeh model, kalender Hijriah.

 

1. Pendahuluan


Awal bulan Hijriah secara astronomis ditentukan oleh kemungkinan terlihatnya hilal (bulan sabit pertama) setelah konjungsi (ijtima’). Konjungsi terjadi ketika bujur ekliptika Bulan dan Matahari sama:



Namun konjungsi bukan penentu masuknya bulan baru. Secara observasional, bulan baru dimulai ketika hilal memenuhi kriteria visibilitas setelah matahari terbenam.

Dengan kemajuan ephemeris numerik (misalnya JPL DE430), posisi Bulan dan Matahari dapat dihitung dengan akurasi busur detik, sehingga ketidakpastian utama bukan pada posisi astronomis, melainkan pada model visibilitas optik di atmosfer bumi.

 

2. Metodologi

 

2.1 Data Astronomis

Posisi Bulan dan Matahari dihitung dalam sistem koordinat ekuatorial:

  • Asensio Rekta (α)
  • Deklinasi (δ)

Sudut jam (Hour Angle):



di mana LST adalah Local Sidereal Time.

 

2.2 Transformasi ke Koordinat Horizon

Tinggi hilal (altitude) dihitung dengan:



dengan:

  • = lintang pengamat
  • = deklinasi Bulan
  • = sudut jam Bulan

Azimut dihitung menggunakan:



Evaluasi dilakukan saat tinggi Matahari:



(termasuk refraksi dan semi-diameter Matahari).

 

2.3 Elongasi dan Iluminasi

Elongasi Bulan–Matahari:



Fraksi iluminasi:



2.4 Koreksi Refraksi Atmosfer

Refraksi atmosfer dihitung dengan pendekatan Bennett (1982):



(dalam menit busur)

Tinggi terkoreksi:



2.5 Model Visibilitas Yallop (1997)

Parameter Yallop:



di mana:

  • ARCV = beda tinggi Bulan–Matahari
  • W = lebar sabit
  • f(W) = fungsi polinomial empiris

Klasifikasi visibilitas:

q

Interpretasi

> 0.216

Mudah terlihat

-0.014 – 0.216

Terlihat dengan alat optik

< -0.160

Tidak mungkin terlihat

 

2.6 Model Odeh (2004)

Model regresi modern:



Jika V > 0 → mungkin terlihat.

Model ini berbasis >700 data observasi global.

 

3. Hasil dan Analisis


Simulasi menunjukkan bahwa visibilitas hilal sangat dipengaruhi oleh:

  1. Lintang geografis
  2. Perbedaan bujur (rotasi bumi 15° ≈ 1 jam)
  3. Waktu setelah konjungsi

Secara dinamis:



Hilal yang tidak memenuhi kriteria di wilayah timur dapat memenuhi kriteria beberapa jam kemudian di wilayah barat akibat pertambahan umur bulan dan elongasi.

Analisis model Yallop dan Odeh menunjukkan konsistensi tinggi dalam memprediksi batas visibilitas global.

 

4. Diskusi


Hasil menunjukkan bahwa:

  • Secara matematis, visibilitas hilal dapat dihitung dengan presisi tinggi.
  • Perbedaan awal Ramadhan antarnegara bukan akibat ketidakpastian astronomi.
  • Variasi terjadi karena perbedaan domain penerapan (lokal vs global).
  • Model visibilitas modern telah mengurangi subjektivitas rukyat tradisional.

Implikasi ilmiah: Kalender Hijriah dapat dibangun sepenuhnya berbasis hisab global dengan dasar fisika yang kuat.

 

5. Kesimpulan


Penentuan awal Ramadhan merupakan persoalan astronomi presisi tinggi yang melibatkan:

  • Mekanika benda langit
  • Transformasi geometri bola langit
  • Koreksi atmosfer
  • Model empiris visibilitas

Dengan ephemeris modern dan model Yallop–Odeh, awal bulan dapat diprediksi secara global dengan tingkat keandalan tinggi. Perbedaan yang terjadi bersifat metodologis, bukan astronomis.

 

Referensi


Bennett, G. (1982). The calculation of astronomical refraction in marine navigation. Journal of Navigation, 35(2), 255–259.


Meeus, J. (1998). Astronomical Algorithms. Willmann-Bell.


Montenbruck, O., & Pfleger, T. (2000). Astronomy on the Personal Computer. Springer.


Odeh, M. (2004). New Criterion for Lunar Crescent Visibility. Experimental Astronomy, 18, 39–64.


Yallop, B. D. (1997). A Method for Predicting the First Sighting of the New Crescent Moon. HM Nautical Almanac Office.


Chapront-Touzé, M., & Chapront, J. (1988). ELP2000 Lunar Theory.


Standish, E. M. (1998). JPL Planetary and Lunar Ephemerides DE405/LE405.

 

#AwalRamadhan
#HisabAstronomi
#VisibilitasHilal
#KalenderHijriah
#ModelYallopOdeh

 

No comments: