Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Thursday, 5 February 2026

Virus Nipah: Ancaman Mematikan dari Kelelawar yang Mengintai Asia


Penyakit misterius yang menyebabkan demam dan sakit kepala serta berkembang cepat menjadi ensefalitis akut (dalam beberapa minggu sejak timbulnya gejala) memicu wabah dengan hampir 300 kasus yang dilaporkan dan lebih dari 100 kematian di Malaysia dan Singapura antara September 1998 hingga Mei 1999. Lebih dari 90% kasus tersebut berasal dari kontak dengan babi yang sakit.


Kultur jaringan sistem saraf pusat dari individu yang meninggal mengidentifikasi agen infeksius yang sebelumnya tidak dikenal. Pemeriksaan mikroskop elektron menunjukkan struktur yang konsisten dengan paramiksovirus, dan uji imunofluoresensi mengindikasikan virus yang berkerabat dengan virus Hendra—anggota famili Paramyxoviridae yang kini ditempatkan dalam genus Henipavirus.


Agen penyebab tersebut kemudian dinamai virus Nipah (NiV), diambil dari nama desa di Malaysia, Kampung Sungai Nipah.


Data awal menunjukkan bahwa kelelawar dari genus Pteropus merupakan reservoir virus Nipah di Malaysia. Sumber: CDC Public Health Image Library/Brian W. J. Mahy.

 

Bagaimana Virus Nipah Ditularkan?

Kelelawar pemakan buah, yang juga dikenal sebagai flying foxes, merupakan inang reservoir alami virus Nipah (NiV). Virus ini terdapat dalam urine, feses, dan air liur kelelawar. Pohon buah dapat menarik kelelawar dari habitat sekitarnya. Keberadaan kelelawar di pohon buah dapat menyebabkan kejadian spillover melalui kontaminasi lahan pertanian, tanah, atau buah.


Karena NiV dapat bertahan hidup dalam bahan yang kaya gula, seperti daging buah atau nira aren/kurma, konsumsi buah yang terkontaminasi dapat menyebabkan infeksi. Pada wabah tahun 1998 di Malaysia, buah-buahan yang sebagian dimakan oleh kelelawar yang terinfeksi virus kemudian dimakan oleh babi. Selanjutnya, para pekerja dan peternak babi terinfeksi setelah melakukan kontak erat dengan babi yang sakit.

 

Wabah Nipah di Masa Lalu dan Saat Ini

Beberapa negara telah melaporkan wabah NiV, termasuk Bangladesh, India, Filipina, Malaysia, dan Singapura. Di India, wabah dilaporkan terjadi di negara bagian Benggala Barat (2001 dan 2007) serta Kerala (2018 dan 2021).


Pada tahun 2014, wabah Nipah di Singapura melibatkan 17 kasus antara Maret hingga Mei. Wabah ini dikaitkan dengan paparan terhadap kuda yang terinfeksi serta kontak dengan cairan tubuh kuda yang sakit selama proses penyembelihan dan/atau konsumsi daging kuda yang terkontaminasi atau kurang matang. Kasus penularan sekunder antarmanusia diduga terjadi akibat kurangnya langkah pencegahan yang memadai dan praktik pengendalian infeksi di rumah penderita serta di fasilitas pelayanan kesehatan.


Beberapa tahun kemudian, wabah Nipah kembali melanda Kerala, India pada tahun 2018 dengan 13 kasus dan 11 kematian. Bukti menunjukkan bahwa sumber wabah ini kemungkinan berasal dari paparan sekresi kelelawar saat aktivitas jelajah hutan, konsumsi buah yang telah digigit kelelawar, atau paparan terhadap kelelawar dan sekresinya yang mencemari sebuah sumur yang tidak digunakan.


Di Bangladesh, konsumsi nira kurma mentah yang terkontaminasi NiV dari ekskresi kelelawar merupakan faktor risiko utama penularan infeksi NiV dan telah menyebabkan wabah berulang. Wabah ini sering mengikuti pola musiman pada musim dingin dan semi (November hingga April), yang bertepatan dengan musim panen nira kurma.


Menurut laporan Maret 2023 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Bangladesh Institute of Epidemiology, Disease Control and Research (IEDCR), wabah tahun 2023 telah mencatat 14 kasus dengan 10 kematian. Kasus telah dilaporkan di tujuh distrik di Bangladesh hingga saat ini, meskipun secara historis kasus telah dilaporkan di berbagai distrik di seluruh negeri.


Negara dengan wabah virus Nipah pada manusia yang pernah dilaporkan ditunjukkan dengan warna kuning. Negara tempat spesies kelelawar Pteropus diketahui atau diduga ada ditunjukkan dengan warna merah. Sumber: CDC.

 

Patogenesis dan Diagnosis

Virus Nipah (NiV) merupakan virus RNA beruntai tunggal, tidak bersegmen, dan beramplop. Genom RNA-nya terdiri atas enam gen, yaitu nukleokapsid (N), fosfoprotein (P), matriks (M), glikoprotein fusi (F), glikoprotein perlekatan (G), dan polimerase panjang (L). Protein F dan G berperan penting dalam proses perlekatan virus pada sel serta masuknya virus ke dalam sel inang.


Virus ini menginfeksi sel epitel saluran pernapasan dan sel endotel paru, kemudian masuk ke aliran darah dan menginfeksi berbagai organ, termasuk limpa, ginjal, dan otak. Masuknya virus ke sistem saraf pusat menyebabkan kerusakan sawar darah otak (blood–brain barrier), yang selanjutnya menimbulkan gejala neurologis.


Gejala infeksi NiV meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, gangguan pernapasan, kejang, penglihatan kabur, serta ensefalitis.

 


Citra mikroskop elektron transmisi virus Nipah yang diberi pewarnaan digital, diisolasi dari cairan serebrospinal (CSS) seorang pasien. Sumber: CDC Public Health Image Library/C. S. Goldsmith, P. E. Rollin.


Gejala infeksi virus Nipah (NiV) umumnya muncul dalam waktu 4–14 hari setelah paparan virus. Ensefalitis (pembengkakan otak) dapat menyusul gejala awal, yang menyebabkan kantuk, disorientasi, dan kebingungan mental, serta dapat dengan cepat berkembang menjadi koma dalam waktu 24–48 jam. Angka kematian akibat infeksi NiV berkisar antara 40–75%. Efek jangka panjang pada penyintas infeksi NiV meliputi kejang yang menetap dan perubahan kepribadian. Menariknya, infeksi dorman atau laten yang kemudian menimbulkan gejala atau menyebabkan kematian juga telah dilaporkan terjadi berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, setelah paparan.

Diagnosis infeksi NiV dapat dilakukan selama masa sakit maupun setelah pemulihan melalui berbagai uji laboratorium medis. Pemeriksaan laboratorium pada tahap awal infeksi dapat dilakukan dengan real-time polymerase chain reaction (RT-PCR) menggunakan usap tenggorok dan hidung, cairan serebrospinal, urine, serta darah. Pada akhir fase sakit dan setelah pemulihan, pemeriksaan tidak langsung untuk mendeteksi antibodi terhadap NiV dapat dilakukan dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA).


Penetapan algoritme untuk diagnosis dini infeksi NiV merupakan tantangan karena gejala awal penyakit bersifat tidak spesifik. Salah satu pertimbangan penting adalah individu dengan gejala yang konsisten dengan infeksi NiV (misalnya demam, sakit kepala, batuk, sakit tenggorok, dan gangguan pernapasan lainnya) yang pernah berada di wilayah dengan kejadian virus Nipah yang lebih umum, seperti Bangladesh atau India—terutama jika terdapat riwayat paparan yang jelas. Deteksi dan diagnosis dini meningkatkan peluang kelangsungan hidup pasien serta membantu pencegahan penularan dan pengendalian wabah.

 

Pengobatan dan Kandidat Vaksin

Saat ini, belum tersedia pengobatan yang berlisensi untuk infeksi NiV. Penanganan pasien terbatas pada perawatan suportif, termasuk terapi simptomatik. Terapi imun (antibodi monoklonal) saat ini sedang dikembangkan dan dievaluasi untuk pengobatan infeksi NiV. Antibodi monoklonal m102.4 telah menyelesaikan uji klinis fase 1 dan telah digunakan dalam skema compassionate use. Selain itu, obat antivirus remdesivir terbukti efektif pada primata non-manusia ketika diberikan sebagai profilaksis pascapajanan. Efektivitas ribavirin terhadap NiV masih belum jelas, meskipun obat ini pernah digunakan untuk mengobati sejumlah kecil pasien pada wabah awal NiV di Malaysia.


Saat ini belum ada vaksin virus Nipah yang berlisensi di Amerika Serikat, namun penelitian dan pengembangan vaksin NiV masih terus berlangsung. Pada Juli 2022, National Institutes of Health (NIH) melaporkan uji klinis tahap awal untuk kandidat vaksin Nipah berbasis platform messenger RNA (mRNA) yang dikembangkan oleh Moderna, Inc., Cambridge, Massachusetts. Hasil uji klinis ini diharapkan tersedia setelah penelitian selesai; hingga kini belum ada hasil yang dipublikasikan.


Pada Desember 2022, sebuah publikasi di jurnal The Lancet melaporkan bahwa vaksin VSV-EBOV yang mengekspresikan glikoprotein G virus Nipah (VSV-NiVG) mampu menginduksi titer antibodi penetral yang tinggi dan memberikan perlindungan penuh terhadap tantangan homolog dan heterolog dengan virus Nipah genotipe Bangladesh dan Malaysia pada model monyet hijau Afrika. Temuan ini merupakan langkah yang menjanjikan dalam upaya pengembangan vaksin yang memberikan perlindungan luas terhadap NiV.

 

Pendekatan One Health

 



Pendekatan One Health mengakui adanya keterkaitan erat antara manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan tempat mereka hidup bersama. Sumber: CDC.


Setelah virus Nipah (NiV) pertama kali muncul pada babi di Malaysia pada tahun 1998, penularan dari babi ke manusia (zoonosis) yang berkaitan dengan ensefalitis demam berat mulai dilaporkan. Laporan-laporan tersebut memunculkan hipotesis bahwa penularan NiV terjadi melalui kontak erat dengan hewan yang terinfeksi. Meskipun wabah awal belum mengidentifikasi secara jelas hewan perantara, laporan-laporan yang lebih mutakhir menunjukkan bahwa penularan NiV terutama terjadi dari kelelawar ke manusia serta dari manusia ke manusia.


Mengidentifikasi bagaimana virus baru muncul pada populasi yang sebelumnya belum pernah terpapar (naïve population) serta menentukan sumber penularannya sangat penting untuk memahami epidemiologi suatu penyakit; namun, hal ini merupakan tantangan yang sangat besar. Untuk memahami NiV, penting untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan kejadian spillover antarspesies serta mengkaji pola pergerakan kelelawar yang melintasi batas-batas alam lintas wilayah atau negara (misalnya perbatasan darat maupun perairan seperti sungai).


Virus Nipah telah dengan jelas menunjukkan kemampuannya berpindah dari satu spesies inang ke spesies lain, termasuk manusia. Oleh karena itu, penelitian dan pengendalian Nipah memerlukan pendekatan One Health, yakni pendekatan terpadu yang melibatkan koordinasi dan kolaborasi lintas sektor untuk mencapai hasil kesehatan masyarakat yang lebih baik. Sangat penting bagi komunitas kesehatan masyarakat global, peneliti, dan tenaga kesehatan untuk bekerja sama secara interdisipliner di semua tingkat serta melampaui batas politik dan geografis guna mencegah penularan virus Nipah lebih lanjut.

 

SUMBER:

Priya Dhagat & Rodney E. Rohde. April 2023. What You Need to Know About Nipah Virus. https://asm.org/articles/2023/april/what-you-need-to-know-about-nipah-virus.


#VirusNipah
#ZoonosisMematikan
#OneHealth
#PenyakitMenular
#KesehatanGlobal


No comments: