Penyakit
misterius yang menyebabkan demam dan sakit kepala serta berkembang cepat
menjadi ensefalitis akut (dalam beberapa minggu sejak timbulnya gejala) memicu
wabah dengan hampir 300 kasus yang dilaporkan dan lebih dari 100 kematian di
Malaysia dan Singapura antara September 1998 hingga Mei 1999. Lebih dari 90%
kasus tersebut berasal dari kontak dengan babi yang sakit.
Kultur
jaringan sistem saraf pusat dari individu yang meninggal mengidentifikasi agen
infeksius yang sebelumnya tidak dikenal. Pemeriksaan mikroskop elektron
menunjukkan struktur yang konsisten dengan paramiksovirus, dan uji
imunofluoresensi mengindikasikan virus yang berkerabat dengan virus
Hendra—anggota famili Paramyxoviridae yang kini ditempatkan dalam genus Henipavirus.
Agen
penyebab tersebut kemudian dinamai virus Nipah (NiV), diambil dari nama desa di
Malaysia, Kampung Sungai Nipah.
Data awal menunjukkan bahwa kelelawar dari genus Pteropus merupakan reservoir virus Nipah di Malaysia. Sumber: CDC Public Health Image Library/Brian W. J. Mahy.
Bagaimana Virus Nipah
Ditularkan?
Kelelawar
pemakan buah, yang juga dikenal sebagai flying foxes, merupakan inang
reservoir alami virus Nipah (NiV). Virus ini terdapat dalam urine, feses, dan
air liur kelelawar. Pohon buah dapat menarik kelelawar dari habitat sekitarnya.
Keberadaan kelelawar di pohon buah dapat menyebabkan kejadian spillover
melalui kontaminasi lahan pertanian, tanah, atau buah.
Karena
NiV dapat bertahan hidup dalam bahan yang kaya gula, seperti daging buah atau
nira aren/kurma, konsumsi buah yang terkontaminasi dapat menyebabkan infeksi.
Pada wabah tahun 1998 di Malaysia, buah-buahan yang sebagian dimakan oleh
kelelawar yang terinfeksi virus kemudian dimakan oleh babi. Selanjutnya, para pekerja dan peternak babi
terinfeksi setelah melakukan kontak erat dengan babi yang sakit.
Wabah Nipah di Masa Lalu dan Saat Ini
Beberapa negara telah melaporkan wabah NiV, termasuk
Bangladesh, India, Filipina, Malaysia, dan Singapura. Di India, wabah
dilaporkan terjadi di negara bagian Benggala Barat (2001 dan 2007) serta Kerala
(2018 dan 2021).
Pada tahun 2014, wabah Nipah di Singapura melibatkan 17
kasus antara Maret hingga Mei. Wabah ini dikaitkan dengan paparan terhadap kuda
yang terinfeksi serta kontak dengan cairan tubuh kuda yang sakit selama proses
penyembelihan dan/atau konsumsi daging kuda yang terkontaminasi atau kurang
matang. Kasus penularan sekunder antarmanusia diduga terjadi akibat kurangnya
langkah pencegahan yang memadai dan praktik pengendalian infeksi di rumah
penderita serta di fasilitas pelayanan kesehatan.
Beberapa tahun kemudian, wabah Nipah kembali melanda
Kerala, India pada tahun 2018 dengan 13 kasus dan 11 kematian. Bukti
menunjukkan bahwa sumber wabah ini kemungkinan berasal dari paparan sekresi
kelelawar saat aktivitas jelajah hutan, konsumsi buah yang telah digigit
kelelawar, atau paparan terhadap kelelawar dan sekresinya yang mencemari sebuah
sumur yang tidak digunakan.
Di Bangladesh, konsumsi nira kurma mentah yang
terkontaminasi NiV dari ekskresi kelelawar merupakan faktor risiko utama
penularan infeksi NiV dan telah menyebabkan wabah berulang. Wabah ini sering
mengikuti pola musiman pada musim dingin dan semi (November hingga April), yang
bertepatan dengan musim panen nira kurma.
Menurut
laporan Maret 2023 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Bangladesh
Institute of Epidemiology, Disease Control and Research (IEDCR), wabah tahun
2023 telah mencatat 14 kasus dengan 10 kematian. Kasus telah dilaporkan di
tujuh distrik di Bangladesh hingga saat ini, meskipun secara historis kasus
telah dilaporkan di berbagai distrik di seluruh negeri.
Negara dengan wabah virus Nipah pada manusia yang pernah dilaporkan ditunjukkan dengan warna kuning. Negara tempat spesies kelelawar Pteropus diketahui atau diduga ada ditunjukkan dengan warna merah. Sumber: CDC.
Patogenesis dan
Diagnosis
Virus
Nipah (NiV) merupakan virus RNA beruntai tunggal, tidak bersegmen, dan
beramplop. Genom RNA-nya terdiri atas enam gen, yaitu nukleokapsid (N),
fosfoprotein (P), matriks (M), glikoprotein fusi (F), glikoprotein perlekatan
(G), dan polimerase panjang (L). Protein F dan G berperan penting dalam proses
perlekatan virus pada sel serta masuknya virus ke dalam sel inang.
Virus
ini menginfeksi sel epitel saluran pernapasan dan sel endotel paru, kemudian
masuk ke aliran darah dan menginfeksi berbagai organ, termasuk limpa, ginjal,
dan otak. Masuknya virus ke sistem saraf pusat menyebabkan kerusakan sawar
darah otak (blood–brain barrier), yang selanjutnya menimbulkan gejala
neurologis.
Gejala infeksi NiV meliputi demam, sakit kepala, nyeri
otot, gangguan pernapasan, kejang, penglihatan kabur, serta ensefalitis.
Citra mikroskop elektron transmisi virus Nipah yang diberi pewarnaan digital, diisolasi dari cairan serebrospinal (CSS) seorang pasien. Sumber: CDC Public Health Image Library/C. S. Goldsmith, P. E. Rollin.
Gejala infeksi virus Nipah (NiV) umumnya muncul dalam
waktu 4–14 hari setelah paparan virus. Ensefalitis (pembengkakan otak) dapat
menyusul gejala awal, yang menyebabkan kantuk, disorientasi, dan kebingungan
mental, serta dapat dengan cepat berkembang menjadi koma dalam waktu 24–48 jam.
Angka kematian akibat infeksi NiV berkisar antara 40–75%. Efek jangka panjang
pada penyintas infeksi NiV meliputi kejang yang menetap dan perubahan
kepribadian. Menariknya, infeksi dorman atau laten yang kemudian menimbulkan
gejala atau menyebabkan kematian juga telah dilaporkan terjadi berbulan-bulan,
bahkan bertahun-tahun, setelah paparan.
Diagnosis infeksi NiV dapat dilakukan selama masa sakit
maupun setelah pemulihan melalui berbagai uji laboratorium medis. Pemeriksaan
laboratorium pada tahap awal infeksi dapat dilakukan dengan real-time
polymerase chain reaction (RT-PCR) menggunakan usap tenggorok dan hidung,
cairan serebrospinal, urine, serta darah. Pada akhir fase sakit dan setelah
pemulihan, pemeriksaan tidak langsung untuk mendeteksi antibodi terhadap NiV
dapat dilakukan dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA).
Penetapan
algoritme untuk diagnosis dini infeksi NiV merupakan tantangan karena gejala
awal penyakit bersifat tidak spesifik. Salah satu pertimbangan penting adalah
individu dengan gejala yang konsisten dengan infeksi NiV (misalnya demam, sakit
kepala, batuk, sakit tenggorok, dan gangguan pernapasan lainnya) yang pernah
berada di wilayah dengan kejadian virus Nipah yang lebih umum, seperti
Bangladesh atau India—terutama jika terdapat riwayat paparan yang jelas.
Deteksi dan diagnosis dini meningkatkan peluang kelangsungan hidup pasien serta
membantu pencegahan penularan dan pengendalian wabah.
Pengobatan dan Kandidat Vaksin
Saat ini, belum tersedia pengobatan yang berlisensi untuk
infeksi NiV. Penanganan pasien terbatas pada perawatan suportif, termasuk
terapi simptomatik. Terapi imun (antibodi monoklonal) saat ini sedang
dikembangkan dan dievaluasi untuk pengobatan infeksi NiV. Antibodi
monoklonal m102.4 telah menyelesaikan uji klinis fase 1 dan telah digunakan
dalam skema compassionate use. Selain itu, obat antivirus remdesivir terbukti efektif pada primata
non-manusia ketika diberikan sebagai profilaksis pascapajanan. Efektivitas
ribavirin terhadap NiV masih belum jelas, meskipun obat ini pernah digunakan
untuk mengobati sejumlah kecil pasien pada wabah awal NiV di Malaysia.
Saat ini belum ada vaksin virus Nipah yang berlisensi di
Amerika Serikat, namun penelitian dan pengembangan vaksin NiV masih terus
berlangsung. Pada Juli 2022, National Institutes of Health (NIH) melaporkan uji
klinis tahap awal untuk kandidat vaksin Nipah berbasis platform messenger
RNA (mRNA) yang dikembangkan oleh Moderna, Inc., Cambridge, Massachusetts.
Hasil uji klinis ini diharapkan tersedia setelah penelitian selesai; hingga
kini belum ada hasil yang dipublikasikan.
Pada Desember 2022, sebuah publikasi di jurnal The
Lancet melaporkan bahwa vaksin VSV-EBOV yang mengekspresikan glikoprotein G
virus Nipah (VSV-NiVG) mampu menginduksi titer antibodi penetral yang tinggi
dan memberikan perlindungan penuh terhadap tantangan homolog dan heterolog
dengan virus Nipah genotipe Bangladesh dan Malaysia pada model monyet hijau
Afrika. Temuan ini merupakan langkah yang menjanjikan dalam upaya pengembangan
vaksin yang memberikan perlindungan luas terhadap NiV.
Pendekatan One Health
Pendekatan One Health mengakui adanya keterkaitan erat antara manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan tempat mereka hidup bersama. Sumber: CDC.
Setelah virus Nipah (NiV) pertama kali muncul pada babi
di Malaysia pada tahun 1998, penularan dari babi ke manusia (zoonosis) yang
berkaitan dengan ensefalitis demam berat mulai dilaporkan. Laporan-laporan
tersebut memunculkan hipotesis bahwa penularan NiV terjadi melalui kontak erat
dengan hewan yang terinfeksi. Meskipun wabah awal belum mengidentifikasi secara
jelas hewan perantara, laporan-laporan yang lebih mutakhir menunjukkan bahwa
penularan NiV terutama terjadi dari kelelawar ke manusia serta dari manusia ke
manusia.
Mengidentifikasi bagaimana virus baru muncul pada
populasi yang sebelumnya belum pernah terpapar (naïve population) serta
menentukan sumber penularannya sangat penting untuk memahami epidemiologi suatu
penyakit; namun, hal ini merupakan tantangan yang sangat besar. Untuk memahami
NiV, penting untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan kejadian spillover
antarspesies serta mengkaji pola pergerakan kelelawar yang melintasi
batas-batas alam lintas wilayah atau negara (misalnya perbatasan darat maupun
perairan seperti sungai).
Virus Nipah telah dengan jelas menunjukkan kemampuannya
berpindah dari satu spesies inang ke spesies lain, termasuk manusia. Oleh
karena itu, penelitian dan pengendalian Nipah memerlukan pendekatan One Health,
yakni pendekatan terpadu yang melibatkan koordinasi dan kolaborasi lintas
sektor untuk mencapai hasil kesehatan masyarakat yang lebih baik. Sangat
penting bagi komunitas kesehatan masyarakat global, peneliti, dan tenaga
kesehatan untuk bekerja sama secara interdisipliner di semua tingkat serta
melampaui batas politik dan geografis guna mencegah penularan virus Nipah lebih
lanjut.
SUMBER:
Priya
Dhagat & Rodney E. Rohde. April 2023. What You Need to Know About Nipah
Virus. https://asm.org/articles/2023/april/what-you-need-to-know-about-nipah-virus.
#VirusNipah
#ZoonosisMematikan
#OneHealth
#PenyakitMenular
#KesehatanGlobal





No comments:
Post a Comment