Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Friday, 27 February 2026

Dari Tanaman Liar Jadi Ladang Miliaran! Strategi Ciplukan Waaida Farm Tembus Pasar Premium

 


Strategi Pengembangan Agribisnis Buah Ciplukan (Physalis  peruviana) di Waaida Farm, Jawa Barat.

 

ABSTRAK


Waaida Farm merupakan perusahaan pionir agribisnis ciplukan berjenis Physalis peruviana di Indonesia. Waaida Farm mulai fokus membudidayakan ciplukan karena melihat besarnya peluang pasar komoditas ini di Indonesia. Namun, sejauh ini Waaida Farm baru mampu memenuhi permintaan dari Pulau Jawa karena produksi yang masih rendah. Penelitian ini bertujuan memberikan solusi mengenai strategi pengembangan agribisnis ciplukan berdasarkan analisis faktor internal dan eksternal yang dapat diterapkan di Waaida Farm.


Penelitian dilakukan dengan desain deskriptif kualitatif menggunakan teknik studi kasus. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara, dan studi literatur. Dalam menentukan strategi pengembangan yang tepat, digunakan analisis matriks IFAS, EFAS, IE, SWOT, dan QSPM.


Hasil analisis SWOT menghasilkan lima rumusan strategi yang dapat diterapkan oleh Waaida Farm. Selanjutnya, hasil analisis matriks QSPM menunjukkan bahwa strategi prioritas yang tepat untuk diterapkan adalah menginvestasikan profit perusahaan untuk pembelian boks pendingin. Strategi ini bertujuan mengatasi kekurangan produksi pada periode tertentu serta meningkatkan angka penjualan.

Kata kunci: Ciplukan, Strategi Pengembangan Agribisnis, SWOT, QSPM.

 

ABSTRACT


Waaida Farm is a pioneer agribusiness company cultivating Physalis peruviana (“ciplukan”) in Indonesia. The company began focusing on ciplukan cultivation due to its significant market potential. However, Waaida Farm has only been able to fulfill demand from Java Island because of limited production capacity. This study aims to provide solutions regarding the agribusiness development strategy of ciplukan based on internal and external factor analysis that can be implemented at Waaida Farm.


This research employs a descriptive qualitative design using a case study approach. Data collection methods include observation, interviews, and literature review. To determine the appropriate development strategy, IFAS, EFAS, IE, SWOT, and QSPM matrix analyses were applied.


The SWOT analysis resulted in five strategic formulations applicable to Waaida Farm. Furthermore, the QSPM matrix analysis identified the priority strategy as investing company profits in purchasing cooler boxes. This strategy is intended to overcome production shortages during certain periods and increase sales performance.

Keywords: Ciplukan, Agribusiness Development Strategy, SWOT, QSPM.


PENDAHULUAN


Hortikultura memiliki kontribusi terhadap PDB yang cenderung meningkat sebesar 4,67% dari tahun 2012–2013. Subsektor buah-buahan merupakan kontributor terbesar di antara subsektor hortikultura lainnya (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2015). Angka tersebut terus meningkat dari tahun 2011–2013. Tingginya nilai PDB subsektor buah-buahan disebabkan oleh tingginya konsumsi produk buah-buahan di Indonesia.


Konsumsi buah-buahan mengalami peningkatan dari tahun 2011–2013. Pada tahun 2012, masyarakat menghabiskan sekitar Rp15.443 per bulan untuk mengonsumsi buah-buahan. Sedangkan pada tahun 2013, angka tersebut meningkat menjadi Rp16.379 per bulan. Angka PDB dan pengeluaran per kapita untuk komoditas buah-buahan di atas menunjukkan bahwa buah-buahan merupakan komoditas hortikultura yang prospektif untuk dikembangkan.


Buah-buahan memiliki peran penting dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan di Indonesia. Ciplukan mengandung nutrisi tinggi dan antioksidan. Buahnya mengandung vitamin A, B, C, beta karoten, fosfor, dan zat besi. Buah ini juga merupakan sumber provitamin A serta mengandung beberapa vitamin B kompleks. Kandungan lainnya seperti serat (4,8%), protein (0,3%), dan fosfor (55%) juga cukup tinggi.


Ekstrak buah menunjukkan aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan antihepatotoksik. Selain itu, buah ini memiliki potensi yang sangat baik sebagai bahan dasar produk antidiabetes dan antihipertensi. Khasiat lainnya yaitu memelihara kesehatan jantung, menjaga kesehatan ginjal, berperan sebagai antioksidan, serta membantu menjaga kadar gula dalam tubuh (Valdenegro, 2013).


Menurut Fischer dan Herrera (2011), ciplukan pada awalnya hanya dikenal sebagai tanaman liar yang tumbuh di lahan kosong. Namun kini, ciplukan telah menjadi buah yang memiliki prospek tinggi bagi pengembang maupun eksportir di berbagai negara. Kolombia merupakan negara dengan areal produksi ciplukan terbesar di dunia (800–1000 hektar) dalam satu dekade terakhir dengan hasil panen 15–28 ton per hektar. Pada tahun 2009, Kolombia melakukan ekspor ciplukan ke beberapa negara di Eropa dan Amerika dengan harga pasar mencapai US$3.805 per ton.

Saat ini, ciplukan dihargai cukup tinggi yaitu sekitar Rp150.000/kg di pasar domestik dan Rp250.000/kg di pasar mancanegara. Di luar negeri, ciplukan biasanya dikonsumsi dalam bentuk segar maupun olahan seperti salad, pai, kismis, dan jeli. Rasanya yang manis dan sedikit masam, bulir yang berair, daging buah yang lembut, serta khasiatnya yang tinggi membuat masyarakat di Amerika Serikat, Jerman, dan Singapura sangat menggemari ciplukan (Puente, 2011). Namun di Indonesia, buah ciplukan belum populer di kalangan masyarakat karena masih sedikit pelaku usaha yang mengkomersialkannya.


Waaida Farm merupakan perusahaan pionir agribisnis ciplukan berjenis Physalis peruviana di Indonesia. Pada awalnya, Waaida Farm membudidayakan jambu kristal, talas, serta melakukan perbanyakan bibit tanaman. Namun melihat besarnya peluang pasar ciplukan di Indonesia dengan jumlah produsen yang masih sedikit serta harga jual yang tinggi, sejak tahun 2015 perusahaan mulai fokus membudidayakan ciplukan.

 

Jika diasumsikan bahwa lahan usaha masing-masing komoditas di Waaida Farm adalah satu hektar, maka ciplukan menjadi kontributor pendapatan terbesar pada tahun 2016. Buah ciplukan menyumbang sebesar 53% atau Rp152.693.333 dari total pendapatan. Jambu kristal berkontribusi sekitar 24% atau Rp70.440.800, sedangkan talas menyumbang 23% atau Rp66.197.700. Dengan demikian, ciplukan akan terus dikembangkan melalui berbagai strategi pengembangan untuk memaksimalkan potensi pasar yang tersedia.


Saat ini, target pasar Waaida Farm masih terbatas di Pulau Jawa dengan volume pengiriman sekitar 200 kg per bulan. Padahal, permintaan juga datang dari Bali dan Kalimantan. Dalam memenuhi permintaan tersebut, Waaida Farm menghadapi beberapa kendala, antara lain produktivitas yang belum optimal, sistem manajemen agribisnis yang belum tertata baik, keterbatasan sumber pembiayaan, serta sifat buah yang tidak tahan lama.


Hal tersebut menjadi latar belakang penelitian berjudul “Strategi Pengembangan Agribisnis Buah Ciplukan (Physalis peruviana) di Waaida Farm, Jawa Barat”. Hasil analisis ini diharapkan membantu perusahaan dalam mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman sehingga dapat menentukan strategi prioritas yang tepat.

 

METODE PENELITIAN

 

Objek penelitian adalah strategi pengembangan ciplukan (Physalis peruviana). Penelitian dilaksanakan di Waaida Farm, Desa Pamulihan, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan karena Waaida Farm merupakan pionir agribisnis ciplukan di wilayah tersebut.


Desain penelitian yang digunakan adalah desain kualitatif. Menurut Sugiyono (2012), desain kualitatif digunakan untuk meneliti kondisi objek alamiah, dengan peneliti sebagai instrumen kunci. Teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi dan hasil penelitian lebih menekankan pada makna dibandingkan generalisasi. Metode yang digunakan adalah studi kasus (case study).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Analisis Matriks IFAS


Berdasarkan hasil Analisis Matriks IFAS, faktor “Sumber Daya Manusia yang Berpengalaman dan Terlatih” merupakan kekuatan utama perusahaan dengan skor 0,436. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas SDM menjadi modal strategis utama dalam pengembangan agribisnis ciplukan di Waaida Farm.


Selain itu, faktor “Modal Internal dan Bebas Hutang” juga menjadi kekuatan penting dengan skor 0,435. Kondisi ini memberikan fleksibilitas finansial bagi perusahaan dalam menentukan arah investasi dan ekspansi usaha. Faktor kekuatan lainnya meliputi tanaman multiguna serta kualitas produk yang baik karena berasal dari benih unggulan.


Di sisi lain, kelemahan utama perusahaan adalah “Kesulitan dalam Menerapkan Sistem Rotasi Tanam” dengan skor 0,1. Kelemahan lainnya meliputi belum tersedianya boks pendingin, delegasi tanggung jawab yang masih tumpang tindih, serta keterbatasan lahan produksi.


Secara keseluruhan, total skor IFAS sebesar 2,477 menunjukkan bahwa kondisi internal perusahaan berada pada kategori rata-rata. Artinya, perusahaan belum sepenuhnya mampu memaksimalkan kekuatan yang dimiliki untuk menutup kelemahan yang ada.



Analisis Matriks EFAS


Berdasarkan Analisis Matriks EFAS, faktor “Online Sales” merupakan peluang dengan respons paling kuat dari perusahaan, dengan skor 0,464. Hal ini menunjukkan bahwa Waaida Farm telah cukup adaptif dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana pemasaran. Peluang lainnya adalah potensi menjadi sumber mata pencaharian masyarakat sekitar, kemampuan perusahaan sebagai penentu harga, serta keberadaan reseller sebagai mitra perluasan pasar.

Adapun ancaman utama yang dihadapi adalah “Segmentasi Pasar yang Terbatas” dengan skor 0,196. Ancaman lain meliputi persaingan pasar yang tidak sehat, perubahan cuaca ekstrem, serta potensi persaingan dari pihak reseller. Total skor EFAS sebesar 2,571 menunjukkan bahwa perusahaan relatif mampu merespons peluang eksternal dan mengantisipasi ancaman yang ada.



Analisis Matriks IE (Internal-External)


Kombinasi skor total IFAS (2,477) dan EFAS (2,571) menempatkan Waaida Farm pada Sel V dalam Matriks IE, yaitu posisi “Jaga dan Pertahankan” (Hold and Maintain).

Strategi yang direkomendasikan pada posisi ini adalah strategi intensif, yaitu:

  1. Penetrasi pasar
  2. Pengembangan pasar
  3. Pengembangan produk

Strategi penetrasi pasar dapat dilakukan melalui peningkatan promosi dan perluasan distribusi. Strategi pengembangan produk dapat dilakukan dengan memodifikasi atau menambah variasi produk olahan ciplukan seperti kismis, selai, maupun minuman segar.


Selain itu, strategi integratif juga dapat dipertimbangkan, meliputi integrasi ke depan (forward integration), integrasi ke belakang (backward integration), dan integrasi horizontal guna memperkuat kendali terhadap rantai pasok.



Analisis Matriks SWOT


Berdasarkan analisis faktor internal dan eksternal, diperoleh lima alternatif strategi utama:

  1. Mengembangkan produk olahan dari tanaman ciplukan guna memenuhi permintaan pasar dan memperluas segmentasi pasar.
  2. Menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat dengan memanfaatkan SDM berpengalaman sebagai pembina lapangan.
  3. Menginvestasikan profit perusahaan untuk pembelian boks pendingin guna mengatasi fluktuasi produksi dan meningkatkan penjualan.
  4. Menjaga kualitas produk melalui peningkatan teknik pembibitan serta adaptasi terhadap perubahan cuaca ekstrem.
  5. Menginvestasikan keuntungan perusahaan untuk memperluas lahan produksi guna meningkatkan kapasitas produksi.


Strategi SO menekankan pemanfaatan kekuatan untuk meraih peluang. Strategi WO berfokus pada perbaikan kelemahan dengan memanfaatkan peluang. Strategi ST menekankan penggunaan kekuatan untuk menghadapi ancaman. Sementara strategi WT berupaya meminimalkan kelemahan sekaligus menghindari ancaman.

 

Analisis Matriks QSPM


Tahap akhir perumusan strategi dilakukan melalui Matriks QSPM untuk menentukan prioritas strategi berdasarkan nilai Total Attractiveness Score (TAS).

Hasil analisis menunjukkan urutan prioritas strategi sebagai berikut:

  1. Menginvestasikan profit perusahaan untuk pembelian boks pendingin (TAS = 7,274).
  2. Mengembangkan produk olahan ciplukan (TAS = 7,216).
  3. Memperluas lahan produksi (TAS = 6,914).
  4. Menjaga kualitas produk melalui peningkatan teknik budidaya (TAS = 5,768).
  5. Menciptakan lapangan pekerjaan berbasis pembinaan SDM (TAS = 4,606).


Strategi dengan nilai TAS tertinggi menjadi prioritas utama karena dinilai paling menarik dan realistis untuk diimplementasikan dalam kondisi perusahaan saat ini.

 

KESIMPULAN


Analisis Matriks SWOT menghasilkan lima alternatif strategi pengembangan agribisnis ciplukan di Waaida Farm, yaitu:

  1. Investasi boks pendingin untuk stabilisasi produksi dan peningkatan penjualan.
  2. Pengembangan produk olahan ciplukan.
  3. Perluasan lahan produksi.
  4. Peningkatan kualitas produk melalui perbaikan teknik budidaya.
  5. Penciptaan lapangan kerja berbasis pembinaan SDM.

Matriks IE merekomendasikan strategi intensif berupa penetrasi pasar dan pengembangan produk sebagai pendekatan utama.

Berdasarkan Matriks QSPM, strategi prioritas yang paling tepat diterapkan adalah menginvestasikan profit perusahaan untuk pembelian boks pendingin guna mengatasi kekurangan produksi pada periode tertentu serta memperkuat pasar yang ada.

 

DAFTAR PUSTAKA


Aghnia, F. (2017). Strategi bersaing agroindustri teh rakyat. Skripsi. Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran.


David, F. R. (2009). Manajemen Strategis: Konsep (Edisi 12). Jakarta: Salemba Empat.


Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian. (2015). Rencana Strategis Direktorat Jenderal Hortikultura Tahun 2015–2019.


Fischer, G., & Herrera, A. (2011). Cape gooseberry (Physalis peruviana). Woodhead Publishing Limited.


Hunger, J. D., & Wheelen, T. L. (2003). Manajemen Strategis. Yogyakarta: Penerbit Andi.


Kamil, F. (2011). Strategi pengembangan usaha sayuran organik di Permata Hati Organic Farm Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.


Mastono, dkk. (2013). Peluang usaha atap daun nipah bagi masyarakat di Kelurahan Timbau Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara.


Puente, L. A. (2011). Physalis peruviana: The multiple properties of a highly functional fruit. Food Research International.


Rangkuti, F. (1997). Analisis SWOT: Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta: Gramedia.


Rangkuti, F. (2017). Analisis SWOT: Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta: Gramedia.


Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.


Susanti, T., dkk. (2014). Analisis pendapatan dan pemasaran usahatani pepaya mini (Carica papaya L.) di Kelurahan Teritip Kecamatan Balikpapan Timur Kota Balikpapan.


Valdenegro, M., et al. (2013). The effects of drying processes on organoleptic characteristics and health quality of food ingredients obtained from golden berry fruits (Physalis peruviana).

 

SUMBER:

Nugraha, M. K. A., & Ernah. (2018). Strategi pengembangan agribisnis buah ciplukan (Physalis peruviana) di Waaida Farm, Jawa Barat. Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian, 3(2), 537–547.


#StrategiAgribisnis
#CiplukanIndonesia
#SWOTAgribisnis
#QSPMStrategy
#WaaidaFarm

No comments: