Niat dan Tekad Jalan Menuju Cahaya Masjid
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pagi itu langit masih berwarna biru gelap ketika azan
Subuh mengalun lembut membelah sunyi. Udara terasa sejuk, embun masih
menggantung di pucuk daun. Di antara desir angin dan langkah kaki menuju
masjid, saya kembali meneguhkan niat dalam hati: ya Allah, tetapkan aku
untuk selalu shalat berjamaah lima waktu di masjid, tepat di awal waktu.
Bukankah Rasulullah ﷺ
bersabda, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah shalat pada waktunya.”
(HR. Bukhari dan Muslim). Dan bagi laki-laki, shalat berjamaah di masjid
memiliki keutamaan dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendirian (HR.
Bukhari dan Muslim). Maka niat dan tekad adalah pintu pertama menuju kemuliaan
itu.
Seusai shalat Subuh berjamaah, saya duduk berzikir. Hati
terasa lapang, seakan cahaya fajar turut menyusup ke dalam dada. Allah berfirman, “Ingatlah,
hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Di
samping saya, seorang jamaah sepuh bernama Pak Trisna, 73 tahun, asal
Banjarnegara, tersenyum ramah. Dari zikir yang lirih, lahirlah silaturahim yang
hangat. Kami berbincang ringan tentang keluarga. Ia bercerita dengan mata berbinar
bahwa cucunya baru saja diwisuda dari Universitas Padjadjaran. Anak dan cucunya ada
yang kuliah di UI, IPB, dan Unpad. “Alhamdulillah,” katanya, “meski saya seorang
mualaf, Allah jaga anak-cucu saya dekat dengan Islam.”
Saya
terharu. Di wajahnya terpancar syukur yang dalam. Allah berfirman, “Jika
kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.” (QS. Ibrahim:
7). Ia berkata pelan, “Alhamdulillah rumah saya dan rumah anak-anak dekat
masjid. Kalau jauh, mungkin hidup kami tidak sekondusif ini.” Saya teringat
sabda Nabi ﷺ, “Barang siapa membangun masjid karena Allah, maka Allah
bangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim). Tinggal dekat
masjid adalah nikmat besar—ia memudahkan langkah kaki, menjaga hati, dan
menautkan keluarga dengan jamaah serta ilmu.
Silaturahim itu bukan hanya menginspirasi saya, tetapi juga membangkitkan kembali kenangan perjalanan ke kampung halaman pekan lalu. Sebelum pukul empat pagi, saya dan istri menuju Stasiun Pasar Senen. Sebelum masuk ke peron stasiun, kami singgah di masjid kecil untuk shalat Subuh berjamaah. Betapa indahnya memulai safar dengan sujud. Allah berfirman, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah: 43). Kereta berangkat tepat waktu, dan hati pun terasa tentram karena kewajiban telah ditunaikan—itulah kepuasan yang lazim dirasakan. Akan tetapi tujuan yang lebih utama lagi adalah meraih keridhaan Allah Swt. dengan pahala 27 derajat lebih besar daripada sholat sendiri.
Setiba
di Purwokerto menjelang sholat Jumat, langit cerah menyambut. Udara bersih, angin
berhembus lembut seakan membawa pesan damai. Kami langsung menuju Masjid Agung
dan menunaikan shalat Jumat. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa mandi pada
hari Jumat, lalu berangkat lebih awal dan mendengarkan khutbah dengan khusyuk,
maka diampuni dosanya antara Jumat itu dan Jumat sebelumnya.” (HR.
Muslim). Seusai shalat, kami menikmati soto hangat—nikmat dunia yang terasa
sempurna setelah nikmat ibadah.
Perjalanan silaturahim berlanjut ke rumah adik-adik di
Prigi, Bojanegara, Karangklesem, Bukateja, hingga Babakan. Indahnya, hampir
setiap rumah berjarak hanya belasan meter dari masjid. Saat azan Asar, Magrib,
dan Isya berkumandang, langkah kaki terasa ringan menuju rumah Allah. Allah
berfirman, “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah
orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. At-Taubah: 18).
Di sela canda keluarga dan tangis haru menyambut kelahiran cucu dari anak keponakan kami, kami
tetap menjaga kebersamaan dalam jamaah. Silaturahim menjadi lebih bermakna ketika disertai
ibadah.
Rasulullah ﷺ
mengingatkan, “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan
dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR.
Bukhari dan Muslim). Saya merasakan betul keberkahan itu. Reuni SMA setelah 49
tahun pun menjadi ajang silaturahim yang penuh syukur. Di tengah tawa dan
cerita masa lalu, ketika azan Zuhur berkumandang, saya bersama beberapa sahabat
berjalan sekitar 700 meter menuju masjid. Langkah itu bukan hanya menjaga
shalat, tetapi juga menjaga kesehatan jasmani. Pagi sebelumnya, kami berjalan
kaki tiga kilometer setelah Subuh. Tubuh terasa segar, hati pun bercahaya.
Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim).
Menjaga kesehatan jasmani dan rohani berjalan seiring.
Shalat berjamaah melatih disiplin waktu, menguatkan otot dan sendi melalui
gerakan yang teratur, sekaligus menyucikan jiwa. Silaturahim memperluas empati
dan mempererat ukhuwah. Berbagi ilmu agama, meski hanya satu ayat atau satu
hadis, adalah cahaya. Nabi ﷺ
bersabda, “Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari). Ilmu
yang dipraktikkan adalah amal jariyah yang tak terputus.
Kini saya semakin yakin, kuncinya adalah niat dan tekad.
Ketika hati sudah berazam untuk selalu shalat berjamaah lima waktu di masjid
pada awal waktu, Allah akan mudahkan jalannya. Rumah didekatkan dengan masjid,
keluarga didekatkan dengan kebaikan, langkah kaki dipenuhi pahala. Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah
seseorang bersuci di rumahnya, lalu berjalan ke salah satu rumah Allah untuk
menunaikan kewajiban, melainkan setiap satu langkah menghapus satu dosa dan
langkah lainnya mengangkat satu derajat.” (HR. Muslim).
Alhamdulillah, Allah mengabulkan cita-cita memiliki rumah
dekat masjid—bahkan dekat dengan dua masjid. Begitu pula rumah adik-adik saya.
Ini bukan sekadar lokasi geografis, tetapi posisi hati yang selalu ingin dekat
dengan Allah. Semoga Allah menjaga niat ini hingga akhir hayat, menjadikan
keluarga kami ahli masjid, ahli silaturahim, dan ahli ilmu yang diamalkan.
“Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang menegakkan
shalat dan dari keturunan kami (juga). Ya Tuhan kami, perkenankanlah doa kami.” (QS.
Ibrahim: 40).
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Wassalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
#ShalatBerjamaah
#CahayaMasjid
#SilaturahimBerkah
#HidupIslami
#InspirasiIman

No comments:
Post a Comment