Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Saturday, 21 February 2026

Syirik Tanpa Sadar: Ketika Amalan Wirid dan Gawai Hampir Menggeser Allah dari Hati Kita

 


Bagaimana jika amal saleh yang kita banggakan justru menjadi jalan masuk syirik yang paling halus? Bagaimana jika amalan wirid yang menyembuhkan, atau bahkan layar gawai yang tampak “error”, sebenarnya sedang menguji kemurnian tauhid kita? Di balik kisah sederhana tentang seorang penyembuh dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan seorang ustadz di siang Ramadan, tersembunyi pelajaran mendalam tentang betapa tipisnya batas antara tawakal dan ketergantungan tersembunyi selain kepada Allah.


Langit sore itu berwarna kelabu. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah basah setelah hujan tipis mengguyur komplek perumahan. Di beranda rumah sederhana itu, seorang lelaki duduk termenung. Di hadapannya, mushaf terbuka. Di tangannya, tasbih tergenggam. Namun yang bergetar bukan hanya bibirnya—melainkan hatinya.


I. Ketika “Sebab” Hampir Menggeser “Sang Pencipta Sebab”


Beberapa tahun terakhir, ia dikenal sebagai sosok yang sering dimintai tolong. Bukan karena ia dokter atau tenaga medis. Ia hanya seorang hamba yang gemar berwirid, melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, dan membaca doa-doa penyembuhan.

Anehnya, banyak yang datang dengan keluhan penyakit—dan pulang dengan kabar kesembuhan. Ada yang sakit kepala menahun, ada yang sulit tidur, bahkan ada yang penyakitnya sudah berlarut-larut. Setelah didoakan, mereka membaik. Sebagian sembuh total.

Awalnya ia menangis syukur. Ia yakin sepenuh hati bahwa Allah-lah yang menyembuhkan. Bukankah Allah berfirman melalui lisan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam:

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” (QS. Asy-Syu‘ara: 80)


Namun perlahan, ada bisikan halus yang tak kasatmata.

Kalimat-kalimat seperti:

“Kalau bukan karena wirid saya…”

“Kalau bukan karena bacaan saya…”

Ia tersentak. Hatinya bergetar. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Suatu malam, di tengah sunyi dan dingin yang menusuk, ia teringat sabda Rasulullah ﷺ:

Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.”

Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad)

 

Ia merenung lebih dalam. Syirik tidak selalu berupa menyembah berhala. Ada syirik yang sangat halus—syirik khafi—yang menyusup dalam kebanggaan tersembunyi dan rasa memiliki atas hasil sebuah amal.

Allah berfirman:

“Maka janganlah kamu menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 22)

Bukankah merasa memiliki “kekuatan penyembuhan” adalah bentuk halus dari menyandarkan daya kepada diri sendiri?

Air matanya jatuh.

Ia sadar, wirid hanyalah sebab.

Al-Qur’an adalah cahaya.


Tetapi Asy-Syāfi, Sang Maha Penyembuh, hanyalah Allah.

Ia memilih berhenti. Bukan karena tak mampu. Bukan karena tak lagi bisa. Tapi karena ia takut—sangat takut—jika tanpa sadar hatinya menyekutukan Allah dalam urusan yang paling agung: tauhid.

Keputusan itu terasa berat, namun batinnya menjadi lebih lapang. Ia merasa kembali menjadi hamba—bukan perantara yang diagungkan.

 

II. Ketika Teknologi Nyaris Dipersonifikasikan


Ramadan datang dengan langit biru cerah dan udara siang yang hangat. Seorang guru penghafal Al-Qur’an menerima kiriman konten dari sahabatnya. Judulnya menarik: “Puasa Menyehatkan Tubuh Secara Ilmiah.” Konten itu berasal dari website sebuah sekolah ternama yang kredibel.

Siang itu, setelah tilawah panjang, ia mencoba membuka tautan tersebut.

Error.

Ia ulangi.

Error lagi.

Ia coba dengan mesin pencari.

Tetap tidak terbuka. Bahkan gawainya seperti macet sejenak.


Sahabatnya berseloroh via WA, “Mungkin HP bapak sudah tersetting bahwa siang Ramadan waktunya tilawah, bukan baca artikel.”

Sahabat merasa keheran dalam hati karena ia sangat canggih dalam urusan HP. Namun sang guru terdiam.

Ia menatap layar gelap itu. Ada perasaan yang aneh. Seolah-olah ada pesan yang lebih dalam.

Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Allah berfirman:

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia…” (QS. Al-Baqarah: 185)


Tiba-tiba ia bertanya dalam hati:

Apakah tanpa sadar ia mulai menggantungkan “semangat spiritual”-nya pada konten, informasi, dan validasi ilmiah?

Apakah ia mulai merasa lebih yakin pada “pembuktian sains” daripada cukup dengan firman Allah?

Ia teringat firman-Nya:

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya.” (QS. Al-An‘am: 162–163)


Ia tersenyum tipis.

HP itu hanyalah benda mati.

Ia tidak punya kehendak.

Tidak punya kesadaran.

Namun Allah Maha Mengatur segala sesuatu.

Di situlah ia menangkap pesan: jangan sampai hati mengagungkan sarana—baik itu wirid, reputasi pesantren, maupun teknologi—melebihi posisi Sang Pemberi Petunjuk.

 

III. Benang Merah: Ketika Hati Hampir Bergeser


Dua kisah itu berbeda suasana, tetapi sama ujian.

  • Yang pertama diuji melalui amal saleh.
  • Yang kedua diuji melalui teknologi dan pengetahuan.

Keduanya hampir tergelincir pada satu titik yang sama:

menyandarkan hati pada sebab, bukan pada Allah.

Padahal Rasulullah mengajarkan doa perlindungan dari syirik yang sangat halus:

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun atas apa yang tidak aku ketahui.(HR. Ahmad)

Syirik tidak selalu keras dan terang.

Ia bisa selembut bisikan.

Sehalus rasa bangga.

Seringan ketergantungan pada “alat bantu”.

Tauhid bukan hanya menolak berhala.

Tauhid adalah memastikan hati tidak bersandar kecuali kepada Allah.

 

IV. Penutup: Menjadi Hamba yang Selalu Waspada


Hujan kembali turun malam itu. Angin membawa kesejukan. Lelaki pertama kembali membaca Al-Qur’an, kini tanpa beban ingin menyembuhkan siapa pun. Sang guru kedua melanjutkan tilawahnya, tanpa perlu membuktikan manfaat puasa secara ilmiah.

Keduanya belajar satu hal:

Bahwa menjaga kemurnian tauhid lebih berharga daripada karamah.

Lebih penting daripada reputasi.

Lebih utama daripada kecanggihan teknologi.

Karena pada akhirnya, kita semua hanya hamba.

Dan Allah tidak berbagi dalam keagungan-Nya.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia.” (QS. Al-Isra’: 23)

Semoga Allah menjaga hati kita dari syirik yang nyata maupun yang tersembunyi.

Karena terkadang, yang paling berbahaya bukanlah dosa yang besar—

melainkan rasa “aku” yang tumbuh pelan di balik amal yang terlihat indah.

 

#TauhidMurni
#SyirikKhafi
#RefleksiRamadan
#PenyucianHati
#DakwahIslam

 

No comments: