Kajian Serologis Chlamydophila abortus pada Sapi Betina di Beberapa Wilayah Indonesia Tahun 2011
Meutia Hayati¹, Neneng Atikah¹,
Ahmad Maizir¹, dan Syaefurrosad¹
¹Unit Uji Bakteriologi, Balai Besar
Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH), Gunungsindur, Bogor 16340
ABSTRAK
Pada tahun 2010–2011, Unit Uji
Bakteriologi BBPMSOH melakukan kajian untuk mengetahui tingkat kejadian Chlamydophila
abortus pada sapi betina di beberapa provinsi di Indonesia. Kajian
seroprevalensi tahun 2011 dilakukan di 18 kabupaten yang tersebar pada 9
provinsi. Dari setiap
kabupaten diambil 10 sampel serum sapi betina, sehingga total sampel sebanyak
180. Pengambilan sampel dilakukan pada periode Juni hingga Agustus 2011.
Pengujian dilakukan menggunakan
metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil pengujian
menunjukkan bahwa 36 sampel (20%) positif, 8 sampel (4,4%) suspect, dan 136
sampel (75,6%) negatif terhadap antibodi C. abortus. Prevalensi
positif pada masing-masing kabupaten berkisar antara 0–50%.
Kata
kunci: Chlamydophila abortus, sapi betina, ELISA,
abortus
ABSTRACT
The seroprevalence of Chlamydophila
abortus in cows was investigated by the Bacteriology Unit of BBPMSOH in
several provinces of Indonesia during 2010–2011. In 2011, the study was
conducted in 18 districts across 9 provinces, with 10 serum samples collected
from cows in each district between June and August 2011.
A total of 180 serum samples were
tested using the enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)
method. The results showed that 36 samples (20%) were positive, 8 samples
(4.4%) were suspected, and 136 samples (75.6%) were negative for C. abortus
antibodies. The proportion of positive cases ranged from 0% to 50% among
districts.
Keywords: Chlamydophila abortus,
cows, ELISA, abortion
PENDAHULUAN
Chlamydophila abortus merupakan bakteri anggota famili Chlamydiaceae
yang bersifat intraseluler obligat, Gram negatif, berukuran 250–300 nm, dan
tidak motil (Everett et al., 1999). Bakteri ini dikenal sebagai penyebab epizootic
bovine abortion pada ruminansia, termasuk sapi, kambing, dan domba.
Gejala klinis
infeksi meliputi vaginitis, endometritis, repeat breeding, abortus pada
kebuntingan 4–9 bulan, kelahiran mati (stillbirth), serta retensi plasenta
(Dian et al., 2007). Selain itu, juga dilaporkan adanya manifestasi lain
seperti pneumonia, enteritis, poliarthritis, dan ensefalitis (Godin et al.,
2008).
Kasus abortus akibat C. abortus
telah dilaporkan di berbagai negara. Di Belgia, bakteri ini menjadi salah satu
penyebab abortus selain Brucella, Toxoplasma, dan Neospora
(Vercammen et al., 2004). Temuan serupa juga dilaporkan di Turki dan Swiss, di mana
C. abortus merupakan salah satu agen penting penyebab abortus pada
ruminansia (Otlu et al., 2007).
Di Indonesia,
kajian awal seroprevalensi C. abortus dilakukan pada tahun 2010 di enam
provinsi menggunakan metode ELISA, dengan hasil 25% positif, 15% suspect, dan
60% negatif. Kajian tersebut merupakan laporan awal keberadaan C. abortus
di Indonesia.
Sebagai tindak
lanjut, pada tahun 2011 dilakukan pengkajian lanjutan untuk mengetahui
distribusi seroprevalensi C. abortus di wilayah lain, khususnya di Pulau
Kalimantan dan Sulawesi. Kajian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang
lebih luas mengenai sebaran infeksi di Indonesia.
MATERI DAN METODE
Sampel Serum
Sampel berupa serum darah sapi
betina, baik sapi potong maupun sapi perah, yang berasal dari peternakan rakyat
di 18 kabupaten pada 9 provinsi. Dari setiap kabupaten diambil 10 sampel,
sehingga total sampel sebanyak 180. Pengambilan sampel dilakukan pada periode
Juni–Agustus 2011.
Uji Serologis
Uji Serologis Pengujian ELISA
dilakukan di Laboratorium Bakteriologi terhadap seratus delapan puluh sampel
serum sapi. Pengujian serologis dengan menggunakan uji serologis ELISA kit
komersial dari Idexx, Laboratories Inc, USA. Metode yang digunakan adalah
indirect ELISA, dimana prosedur yang dilakukan sesuai dengan petunjuk pada kit
ELISA. Sampel serum dan kontrol diencerkan dengan wash solution dengan
perbandingan 1:400. Kemudian 100 µl sampel serum dan kontrol yang telah
diencerkan diteteskan pada micro plate wells. Plate diinkubasi selama 60 menit
(± 5 menit) pada suhu 37°C. Setelah diinkubasi, plate dibilas dengan wash
solution 300 µl sebanyak 3 kali. Chekit-Chlamydia-Anti ruminat IgG-PO konjugat
diteteskan sebanyak 100 µl setiap well dan inkubasikan selama 60 menit (± 5
menit) pada suhu 37°C. Lalu plate dibilas dengan wash solution 300 µl sebanyak
3x. Chekit TMB-Substrat diteteskan sebanyak 100 µl pada setiap well dan
diinkubasikan pada suhu ruang selama 15 menit. Hentikan reaksi warna dengan
penambahan 100 µl Chekit stop solution pada setiap well. Hasil pembacaan ELISA
reader dengan panjang gelombang 450 nm dianalisis dengan rumus sebagai berikut:
S/P (Sampel ke positif) ratio (%)=
OD sampel-OD negatif x 100 % OD positif- OD negative
HASIL DAN PEMBAHASAN
Interpretasi hasil pembacaan ELISA
Reader dilakukan dengan cara sebagai berikut: sampel dinyatakan positif jika
S/P ratio (dalam persen) ≥ 40%, jika S/P ratio antara ≥ 30 - ≤ 40%dinyatakan
suspect dan sampel dinyatakan negatif apabila S/P ratio < 30%.
Hasil dari pengujian terhadap 180
sampel darah sapi dapat dilihat pada Tabel 1. Dari tabel tersebut terlihat
bahwa Kabupaten Samarinda di Kalimantan Timur memiliki kasus positif dan
suspect yang tertinggi yaitu sebanyak 50%, dan kasus terendah ditemukan di
Kabupaten Alawahu, Gorontalo; Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan; Kabupaten
Pontianak, Kalimantan Barat; dan Kabupaten Tidore, Maluku Utara yaitu sebanyak
0%. Akan tetapi terlihat bahwa semua propinsi memiliki kasus positif C. abortus
dan jika dilihat dari keseluruhan populasi diperoleh hasil yang cukup besar
yaitu sebanyak 20%.
Tabel 1. Hasil Uji Serologis Serum
Darah Sapi
|
No |
Provinsi |
Kabupaten |
Positif |
Suspect |
Negatif |
Jumlah |
|
1 |
Gorontalo |
Bone Bulango |
3 |
0 |
7 |
10 |
|
2 |
Gorontalo |
Alawahu |
0 |
0 |
10 |
10 |
|
3 |
Sulawesi Selatan |
Pinrang |
2 |
1 |
7 |
10 |
|
4 |
Sulawesi Selatan |
Sidrap |
0 |
0 |
10 |
10 |
|
5 |
Kalimantan Barat |
Kuburaya |
1 |
0 |
9 |
10 |
|
6 |
Kalimantan Barat |
Pontianak |
0 |
0 |
10 |
10 |
|
7 |
Kalimantan Timur |
Kutai |
4 |
1 |
5 |
10 |
|
8 |
Kalimantan Timur |
Samarinda |
5 |
1 |
4 |
10 |
|
9 |
Kalimantan Tengah |
Katingan |
3 |
1 |
6 |
10 |
|
10 |
Kalimantan Tengah |
Palangkaraya |
4 |
1 |
5 |
10 |
|
11 |
Sulawesi Tenggara |
Konawe |
3 |
0 |
7 |
10 |
|
12 |
Sulawesi Tenggara |
Kolaka |
1 |
1 |
8 |
10 |
|
13 |
Sulawesi Utara |
Minahasa Selatan |
1 |
0 |
9 |
10 |
|
14 |
Sulawesi Utara |
Minahasa |
4 |
0 |
6 |
10 |
|
15 |
Sulawesi Tengah |
Peridi Montong |
1 |
2 |
7 |
10 |
|
16 |
Sulawesi Tengah |
Donggala |
2 |
0 |
8 |
10 |
|
17 |
Maluku Utara |
Tidore |
0 |
0 |
10 |
10 |
|
18 |
Maluku Utara |
Ternate |
2 |
0 |
8 |
10 |
|
Total (%) |
36 (20%) |
8 (4,4%) |
136 (75,6%) |
180 |
Selama ini kasus C. abortus
di Indonesia masih jarang diteliti, akan tetapi dari hasil yang diperoleh dari
pengkajian Laboratorium Bakteriologi BBPMSOH 2010-2011, diperoleh hasil yang
cukup signifikan akan keberadaan kasus C. abortus di Indonesia. Pertumbuhan
bakteri C. abortus dapat dihambat oleh antibiotik seperti tetrasiklin dan
erithromisin. Sampai sekarang informasi tentang resistensi C. abortus terhadap
antibiotik belum banyak diamati (6).
Sampel serum sapi yang diambil juga
dilakukan pengujian terhadap Brucella abortus dan Coxiella burnetti
menggunakan ELISA kit. Dari pengujian serum tersebut diperoleh hasil bahwa
keberadaan penyakit tersebut pada sampel serum yang diuji adalah negatif. Terhadap
kedua penyakit tersebut, sama-sama mengakibatkan kasus abortus dan gangguan
reproduksi pada sapi. Fakta tersebut perlu dikaji lebih lanjut sehingga dapat
diambil kebijakan yang lebih baik terhadap manajemen kesehatan peternakan sapi
di Indonesia, dimana selama ini B. abortus masih dianggap sebagai penyebab
kasus abortus terbesar.
SARAN
Dari studi yang dilakukan tahun
2010-2011 dapat disimpulkan bahwa tingkat kejadian C. abortus seharusnya sudah
diperhatikan dengan serius, mengingat penyakit ini mempunyai gejala yang hampir
sama dengan penyakit gangguan reproduksi lainnya. Perlu juga dipertimbangkan
adanya vaksin untuk pencegahan penyakit C. abortus, disamping sanitasi di
lingkungan kandang yang tetap dijaga kebersihannya. Adanya arus keluar masuk
hewan dari dalam dan luar peternakan, penggunaan pejantan yang terinfeksi,
pemisahan individu dalam satu kelompok kandang yang tidak sempurna, kondisi
kandang dan sapi yang kotor, diidentifikasi meningkatkan resiko penularan C.
abortus.
DAFTAR
PUSTAKA
1. Chanton-Greutmann, H., Thoma, R.,
Corboz, L., Borel, N., & Pospichii, A. (2002). Abortion in small ruminants
in Switzerland. Schweiz Arch Tierheilkd, 144(9), 483–492.
2. Dian, R., Wulan, C. P., &
Lukman, A. (2007). Petunjuk teknis penanganan gangguan reproduksi pada sapi
potong. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Peternakan.
3. Everett, K. D. E., Bush, R. M.,
& Andersen, A. A. (1999). Emended description of the order Chlamydiales.
International Journal of Systematic Bacteriology, 49, 415–440.
4. Godin, A., Bjorkman, C., Englund,
S., Niskanen, R. K., & Alenius, S. (2008). Investigation of Chlamydophila
spp. in dairy cows. Acta Veterinaria Scandinavica, 50(1), 39.
5. Kaltenboeck, B., Heard, D.,
DeGraves, F. J., & Schmeer, N. (1997). ELISA detection of antibodies
against abortigenic Chlamydia psittaci. Journal of Clinical
Microbiology, 2293–2298.
6. Kemmerling, K., Muller, U.,
Mielenz, M., & Sauerwein. (2003). Chlamydophila species in dairy
farms. Journal of Dairy Science, 92(9), 4347–4354.
7. McOrist, S. (2000). Obligate
intracellular bacteria and antibiotic resistance. Trends in Microbiology,
8, 483.
8. Otlu, S., Sahin, M., Unver, A.,
& Celebi, O. (2007). Detection of Brucella and Chlamydophila
abortus. Bull Veterinary Institute Pulawy, 51, 493–495.
9. Setiyono, A. (2005). Chlamydiosis
sebagai zoonosis di Indonesia. Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit
Zoonosis.
10. Vercammen, F., De Deken, R., &
Brandt, J. (2004). Seroprevalence of abortive infectious agents. EAZWV
Scientific Meeting.
#ChlamydophilaAbortus
#Seroprevalensi
#ELISA
#KesehatanHewan
#Zoonosis

No comments:
Post a Comment