Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Friday, 27 March 2026

Mengkhawatirkan! 20% Sapi Betina di Indonesia Terinfeksi Chlamydophila abortus, Ini Temuan Lengkapnya

 

Kajian Serologis Chlamydophila abortus pada Sapi Betina di Beberapa Wilayah Indonesia Tahun 2011

 

Meutia Hayati¹, Neneng Atikah¹, Ahmad Maizir¹, dan Syaefurrosad¹

¹Unit Uji Bakteriologi, Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH), Gunungsindur, Bogor 16340

 

ABSTRAK

 

Pada tahun 2010–2011, Unit Uji Bakteriologi BBPMSOH melakukan kajian untuk mengetahui tingkat kejadian Chlamydophila abortus pada sapi betina di beberapa provinsi di Indonesia. Kajian seroprevalensi tahun 2011 dilakukan di 18 kabupaten yang tersebar pada 9 provinsi. Dari setiap kabupaten diambil 10 sampel serum sapi betina, sehingga total sampel sebanyak 180. Pengambilan sampel dilakukan pada periode Juni hingga Agustus 2011.

Pengujian dilakukan menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil pengujian menunjukkan bahwa 36 sampel (20%) positif, 8 sampel (4,4%) suspect, dan 136 sampel (75,6%) negatif terhadap antibodi C. abortus. Prevalensi positif pada masing-masing kabupaten berkisar antara 0–50%.

Kata kunci: Chlamydophila abortus, sapi betina, ELISA, abortus

 

ABSTRACT

 

The seroprevalence of Chlamydophila abortus in cows was investigated by the Bacteriology Unit of BBPMSOH in several provinces of Indonesia during 2010–2011. In 2011, the study was conducted in 18 districts across 9 provinces, with 10 serum samples collected from cows in each district between June and August 2011.

A total of 180 serum samples were tested using the enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) method. The results showed that 36 samples (20%) were positive, 8 samples (4.4%) were suspected, and 136 samples (75.6%) were negative for C. abortus antibodies. The proportion of positive cases ranged from 0% to 50% among districts.

Keywords: Chlamydophila abortus, cows, ELISA, abortion

 

PENDAHULUAN

 

Chlamydophila abortus merupakan bakteri anggota famili Chlamydiaceae yang bersifat intraseluler obligat, Gram negatif, berukuran 250–300 nm, dan tidak motil (Everett et al., 1999). Bakteri ini dikenal sebagai penyebab epizootic bovine abortion pada ruminansia, termasuk sapi, kambing, dan domba.

 

Gejala klinis infeksi meliputi vaginitis, endometritis, repeat breeding, abortus pada kebuntingan 4–9 bulan, kelahiran mati (stillbirth), serta retensi plasenta (Dian et al., 2007). Selain itu, juga dilaporkan adanya manifestasi lain seperti pneumonia, enteritis, poliarthritis, dan ensefalitis (Godin et al., 2008).

 

Kasus abortus akibat C. abortus telah dilaporkan di berbagai negara. Di Belgia, bakteri ini menjadi salah satu penyebab abortus selain Brucella, Toxoplasma, dan Neospora (Vercammen et al., 2004). Temuan serupa juga dilaporkan di Turki dan Swiss, di mana C. abortus merupakan salah satu agen penting penyebab abortus pada ruminansia (Otlu et al., 2007).

 

Di Indonesia, kajian awal seroprevalensi C. abortus dilakukan pada tahun 2010 di enam provinsi menggunakan metode ELISA, dengan hasil 25% positif, 15% suspect, dan 60% negatif. Kajian tersebut merupakan laporan awal keberadaan C. abortus di Indonesia.

 

Sebagai tindak lanjut, pada tahun 2011 dilakukan pengkajian lanjutan untuk mengetahui distribusi seroprevalensi C. abortus di wilayah lain, khususnya di Pulau Kalimantan dan Sulawesi. Kajian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih luas mengenai sebaran infeksi di Indonesia.

 

MATERI DAN METODE

 

Sampel Serum


Sampel berupa serum darah sapi betina, baik sapi potong maupun sapi perah, yang berasal dari peternakan rakyat di 18 kabupaten pada 9 provinsi. Dari setiap kabupaten diambil 10 sampel, sehingga total sampel sebanyak 180. Pengambilan sampel dilakukan pada periode Juni–Agustus 2011.

 

Uji Serologis


Uji Serologis Pengujian ELISA dilakukan di Laboratorium Bakteriologi terhadap seratus delapan puluh sampel serum sapi. Pengujian serologis dengan menggunakan uji serologis ELISA kit komersial dari Idexx, Laboratories Inc, USA. Metode yang digunakan adalah indirect ELISA, dimana prosedur yang dilakukan sesuai dengan petunjuk pada kit ELISA. Sampel serum dan kontrol diencerkan dengan wash solution dengan perbandingan 1:400. Kemudian 100 µl sampel serum dan kontrol yang telah diencerkan diteteskan pada micro plate wells. Plate diinkubasi selama 60 menit (± 5 menit) pada suhu 37°C. Setelah diinkubasi, plate dibilas dengan wash solution 300 µl sebanyak 3 kali. Chekit-Chlamydia-Anti ruminat IgG-PO konjugat diteteskan sebanyak 100 µl setiap well dan inkubasikan selama 60 menit (± 5 menit) pada suhu 37°C. Lalu plate dibilas dengan wash solution 300 µl sebanyak 3x. Chekit TMB-Substrat diteteskan sebanyak 100 µl pada setiap well dan diinkubasikan pada suhu ruang selama 15 menit. Hentikan reaksi warna dengan penambahan 100 µl Chekit stop solution pada setiap well. Hasil pembacaan ELISA reader dengan panjang gelombang 450 nm dianalisis dengan rumus sebagai berikut:

S/P (Sampel ke positif) ratio (%)= OD sampel-OD negatif x 100 % OD positif- OD negative

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Interpretasi hasil pembacaan ELISA Reader dilakukan dengan cara sebagai berikut: sampel dinyatakan positif jika S/P ratio (dalam persen) ≥ 40%, jika S/P ratio antara ≥ 30 - ≤ 40%dinyatakan suspect dan sampel dinyatakan negatif apabila S/P ratio < 30%.

 

Hasil dari pengujian terhadap 180 sampel darah sapi dapat dilihat pada Tabel 1. Dari tabel tersebut terlihat bahwa Kabupaten Samarinda di Kalimantan Timur memiliki kasus positif dan suspect yang tertinggi yaitu sebanyak 50%, dan kasus terendah ditemukan di Kabupaten Alawahu, Gorontalo; Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan; Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat; dan Kabupaten Tidore, Maluku Utara yaitu sebanyak 0%. Akan tetapi terlihat bahwa semua propinsi memiliki kasus positif C. abortus dan jika dilihat dari keseluruhan populasi diperoleh hasil yang cukup besar yaitu sebanyak 20%.

 

Tabel 1. Hasil Uji Serologis Serum Darah Sapi

No

Provinsi

Kabupaten

Positif

Suspect

Negatif

Jumlah

1

Gorontalo

Bone Bulango

3

0

7

10

2

Gorontalo

Alawahu

0

0

10

10

3

Sulawesi Selatan

Pinrang

2

1

7

10

4

Sulawesi Selatan

Sidrap

0

0

10

10

5

Kalimantan Barat

Kuburaya

1

0

9

10

6

Kalimantan Barat

Pontianak

0

0

10

10

7

Kalimantan Timur

Kutai

4

1

5

10

8

Kalimantan Timur

Samarinda

5

1

4

10

9

Kalimantan Tengah

Katingan

3

1

6

10

10

Kalimantan Tengah

Palangkaraya

4

1

5

10

11

Sulawesi Tenggara

Konawe

3

0

7

10

12

Sulawesi Tenggara

Kolaka

1

1

8

10

13

Sulawesi Utara

Minahasa Selatan

1

0

9

10

14

Sulawesi Utara

Minahasa

4

0

6

10

15

Sulawesi Tengah

Peridi Montong

1

2

7

10

16

Sulawesi Tengah

Donggala

2

0

8

10

17

Maluku Utara

Tidore

0

0

10

10

18

Maluku Utara

Ternate

2

0

8

10

Total (%)

36 (20%)

8 (4,4%)

136 (75,6%)

180

 

Selama ini kasus C. abortus di Indonesia masih jarang diteliti, akan tetapi dari hasil yang diperoleh dari pengkajian Laboratorium Bakteriologi BBPMSOH 2010-2011, diperoleh hasil yang cukup signifikan akan keberadaan kasus C. abortus di Indonesia. Pertumbuhan bakteri C. abortus dapat dihambat oleh antibiotik seperti tetrasiklin dan erithromisin. Sampai sekarang informasi tentang resistensi C. abortus terhadap antibiotik belum banyak diamati (6).

 

Sampel serum sapi yang diambil juga dilakukan pengujian terhadap Brucella abortus dan Coxiella burnetti menggunakan ELISA kit. Dari pengujian serum tersebut diperoleh hasil bahwa keberadaan penyakit tersebut pada sampel serum yang diuji adalah negatif. Terhadap kedua penyakit tersebut, sama-sama mengakibatkan kasus abortus dan gangguan reproduksi pada sapi. Fakta tersebut perlu dikaji lebih lanjut sehingga dapat diambil kebijakan yang lebih baik terhadap manajemen kesehatan peternakan sapi di Indonesia, dimana selama ini B. abortus masih dianggap sebagai penyebab kasus abortus terbesar.

 

SARAN


Dari studi yang dilakukan tahun 2010-2011 dapat disimpulkan bahwa tingkat kejadian C. abortus seharusnya sudah diperhatikan dengan serius, mengingat penyakit ini mempunyai gejala yang hampir sama dengan penyakit gangguan reproduksi lainnya. Perlu juga dipertimbangkan adanya vaksin untuk pencegahan penyakit C. abortus, disamping sanitasi di lingkungan kandang yang tetap dijaga kebersihannya. Adanya arus keluar masuk hewan dari dalam dan luar peternakan, penggunaan pejantan yang terinfeksi, pemisahan individu dalam satu kelompok kandang yang tidak sempurna, kondisi kandang dan sapi yang kotor, diidentifikasi meningkatkan resiko penularan C. abortus.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

1.      Chanton-Greutmann, H., Thoma, R., Corboz, L., Borel, N., & Pospichii, A. (2002). Abortion in small ruminants in Switzerland. Schweiz Arch Tierheilkd, 144(9), 483–492.


2.      Dian, R., Wulan, C. P., & Lukman, A. (2007). Petunjuk teknis penanganan gangguan reproduksi pada sapi potong. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.


3.      Everett, K. D. E., Bush, R. M., & Andersen, A. A. (1999). Emended description of the order Chlamydiales. International Journal of Systematic Bacteriology, 49, 415–440.


4.      Godin, A., Bjorkman, C., Englund, S., Niskanen, R. K., & Alenius, S. (2008). Investigation of Chlamydophila spp. in dairy cows. Acta Veterinaria Scandinavica, 50(1), 39.


5.      Kaltenboeck, B., Heard, D., DeGraves, F. J., & Schmeer, N. (1997). ELISA detection of antibodies against abortigenic Chlamydia psittaci. Journal of Clinical Microbiology, 2293–2298.


6.      Kemmerling, K., Muller, U., Mielenz, M., & Sauerwein. (2003). Chlamydophila species in dairy farms. Journal of Dairy Science, 92(9), 4347–4354.


7.      McOrist, S. (2000). Obligate intracellular bacteria and antibiotic resistance. Trends in Microbiology, 8, 483.


8.      Otlu, S., Sahin, M., Unver, A., & Celebi, O. (2007). Detection of Brucella and Chlamydophila abortus. Bull Veterinary Institute Pulawy, 51, 493–495.


9.      Setiyono, A. (2005). Chlamydiosis sebagai zoonosis di Indonesia. Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis.


10.  Vercammen, F., De Deken, R., & Brandt, J. (2004). Seroprevalence of abortive infectious agents. EAZWV Scientific Meeting.

 

#ChlamydophilaAbortus 

#Seroprevalensi 

#ELISA 

#KesehatanHewan 

#Zoonosis

No comments: