Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Thursday, 26 March 2026

Waspada! SFTS, Penyakit Mematikan dari Gigitan Kutu dengan Fatalitas hingga 40%

 



Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome (SFTS): Tinjauan Sistematis terhadap Epidemiologi, Manifestasi Klinis, Diagnosis Laboratorium, Faktor Risiko, dan Luaran Klinis

 

ABSTRAK

 

Latar belakang: Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome (SFTS) merupakan penyakit zoonosis emerging yang disebabkan oleh virus SFTS (SFTSV) dan ditularkan terutama melalui gigitan kutu. Penyakit ini memiliki angka fatalitas yang tinggi dan distribusi geografis yang semakin meluas.


Tujuan: Meninjau secara sistematis aspek epidemiologi, manifestasi klinis, diagnosis laboratorium rutin, faktor risiko, serta luaran klinis SFTS.


Metode: Tinjauan pustaka sistematis dilakukan terhadap publikasi internasional (PubMed, Scopus, dan Web of Science) hingga tahun 2024 dengan kata kunci terkait SFTS, epidemiologi, klinis, dan meta-analysis. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara naratif.


Hasil: SFTS terutama ditemukan di Asia Timur dengan angka fatalitas 5–40%. Manifestasi utama meliputi demam, trombositopenia, leukopenia, dan gangguan gastrointestinal. Faktor risiko kematian meliputi usia lanjut, viral load tinggi, serta keterlibatan neurologis. Diagnosis laboratorium ditandai oleh trombositopenia, leukopenia, dan peningkatan enzim hati.


Kesimpulan: SFTS merupakan penyakit dengan potensi fatal tinggi. Diagnosis dini dan pemahaman faktor risiko sangat penting untuk menurunkan mortalitas.


Kata kunci: SFTS, zoonosis, trombositopenia, epidemiologi, meta-analysis

 

PENDAHULUAN

 

Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome (SFTS) adalah penyakit infeksi emerging yang pertama kali diidentifikasi di Tiongkok pada tahun 2009 dan kemudian dilaporkan di Jepang serta Korea Selatan. Penyakit ini disebabkan oleh virus RNA dari genus Phlebovirus dalam famili Phenuiviridae [1,2].


Penularan utama terjadi melalui gigitan kutu, khususnya Haemaphysalis longicornis, meskipun transmisi antar manusia juga telah dilaporkan pada kondisi tertentu [2,3]. SFTS menjadi perhatian global karena tingkat fatalitasnya yang tinggi dan kecenderungan peningkatan kasus setiap tahun [4].


Berbagai systematic review dan meta-analysis telah dilakukan untuk memahami karakteristik penyakit ini. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk menyajikan tinjauan sistematis terhadap epidemiologi, manifestasi klinis, diagnosis laboratorium, faktor risiko, dan luaran klinis SFTS.

 

METODE

 

Desain Studi

Penelitian ini merupakan tinjauan pustaka sistematis (systematic review) dengan pendekatan naratif.


Sumber Data dan Strategi Pencarian

Pencarian literatur dilakukan pada basis data PubMed, Scopus, dan Web of Science menggunakan kata kunci:

“SFTS”, “Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome”, “epidemiology”, “clinical features”, “laboratory findings”, “risk factors”, dan “meta-analysis”.


Kriteria Inklusi dan Eksklusi

Inklusi:

  • Artikel penelitian asli, systematic review, dan meta-analysis
  • Publikasi berbahasa Inggris
  • Fokus pada epidemiologi, klinis, diagnosis, atau faktor risiko SFTS

Eksklusi:

  • Artikel tanpa data primer atau sekunder yang jelas
  • Laporan kasus tunggal tanpa analisis komprehensif

Analisis Data

Data dianalisis secara deskriptif dan disintesis secara naratif berdasarkan tema utama: epidemiologi, klinis, diagnosis, faktor risiko, dan luaran.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

1. Epidemiologi

SFTS terutama ditemukan di Asia Timur, termasuk Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. Insidensi tertinggi terjadi pada populasi pedesaan, terutama individu dengan paparan lingkungan alami seperti petani dan pekerja kehutanan [4,5].

Hewan domestik dan liar berperan sebagai reservoir virus, sehingga memperluas potensi penyebaran penyakit. Selain itu, perubahan iklim dan mobilitas manusia diduga berkontribusi terhadap ekspansi geografis penyakit ini [5].

 

2. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis SFTS bervariasi dari ringan hingga berat. Gejala utama meliputi:

  • Demam tinggi
  • Trombositopenia
  • Leukopenia
  • Gejala gastrointestinal

Pada kasus berat dapat berkembang menjadi:

  • Perdarahan
  • Ensefalitis
  • Gagal multi organ

Keterlibatan sistem saraf pusat merupakan indikator prognosis buruk dan berkaitan erat dengan peningkatan mortalitas [6].

 

3. Diagnosis Laboratorium

Temuan laboratorium khas pada SFTS meliputi:

  • Trombositopenia
  • Leukopenia
  • Peningkatan enzim hati (AST/ALT)
  • Peningkatan LDH

Diagnosis konfirmasi dilakukan melalui:

  • RT-PCR untuk deteksi RNA virus
  • Uji serologi

Beberapa parameter laboratorium seperti viral load tinggi dan gangguan koagulasi berhubungan dengan prognosis yang lebih buruk [7].

 

4. Faktor Risiko

4.1 Faktor Risiko Infeksi

  • Gigitan kutu
  • Aktivitas pertanian
  • Kontak dengan hewan

4.2 Faktor Risiko Mortalitas

Meta-analysis menunjukkan bahwa faktor berikut berhubungan signifikan dengan kematian:

  • Usia lanjut
  • Viral load tinggi
  • Manifestasi neurologis
  • Perdarahan
  • Keterlambatan diagnosis

Selain itu, peningkatan LDH dan gangguan fungsi hati juga menjadi indikator penting keparahan penyakit [8].

 

5. Luaran Klinis (Outcomes)

Tingkat fatalitas SFTS berkisar antara 5–40%, dengan rata-rata sekitar 20% [5,6].

Kematian umumnya terjadi akibat:

  • Gagal multi organ
  • Syok
  • Komplikasi neurologis

Pasien yang bertahan hidup dapat mengalami komplikasi jangka panjang, meskipun data masih terbatas [6].

 

6. Diskusi

SFTS merupakan penyakit emerging dengan kompleksitas tinggi yang melibatkan interaksi antara faktor lingkungan, host, dan virus. Tingginya fatalitas menunjukkan pentingnya deteksi dini dan manajemen klinis yang tepat.


Pendekatan One Health sangat relevan dalam pengendalian SFTS, mengingat keterlibatan hewan reservoir dan vektor. Tantangan utama meliputi:

  • Keterbatasan diagnosis di daerah endemik
  • Tidak tersedianya vaksin
  • Terapi antivirus yang masih terbatas


Beberapa studi menunjukkan potensi penggunaan favipiravir, namun efektivitasnya masih memerlukan penelitian lebih lanjut [9].

 

KESIMPULAN

 

SFTS merupakan penyakit zoonosis emerging dengan tingkat fatalitas tinggi dan distribusi yang semakin luas. Manifestasi klinis khas meliputi trombositopenia dan leukopenia, dengan faktor risiko utama berupa usia lanjut dan keterlibatan neurologis.


Diagnosis dini dan pemantauan parameter laboratorium sangat penting untuk menurunkan angka kematian. Penguatan surveilans dan pendekatan One Health menjadi kunci dalam pengendalian penyakit ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Xue-Jie Yu, X.-J., Liang, M.-F., Zhang, S.-Y., Liu, Y., Li, J.-D., Sun, Y.-L., ... & Wang, Y.-Y. (2011). Fever with thrombocytopenia associated with a novel bunyavirus in China. New England Journal of Medicine, 364(16), 1523–1532.
  2. Qiyong Liu, Q., He, B., Huang, S.-Y., Wei, F., & Zhu, X.-Q. (2014). Severe fever with thrombocytopenia syndrome, an emerging tick-borne zoonosis. The Lancet Infectious Diseases, 14(8), 763–772.
  3. Woo Young Kim, W. Y., Choi, W., Park, S. W., Wang, E. B., Lee, W. J., Jee, Y., ... & Jung, K. H. (2015). Nosocomial transmission of severe fever with thrombocytopenia syndrome virus. Clinical Infectious Diseases, 60(11), 1681–1683.
  4. He, Z., Wang, B., Li, Y., et al. (2020). Epidemiological and clinical characteristics of severe fever with thrombocytopenia syndrome: A systematic review. International Journal of Infectious Diseases, 98, 72–82.
  5. Cui, N., et al. (2024). Global distribution and risk factors of severe fever with thrombocytopenia syndrome: A meta-analysis. Infectious Diseases of Poverty, 13, 45.
  6. Seo, J. W., Kim, D., Yun, N., & Kim, D. M. (2021). Clinical update of severe fever with thrombocytopenia syndrome. Journal of Clinical Medicine, 10(6), 123.
  7. Wang, Y., et al. (2022). Laboratory predictors of fatal outcomes in severe fever with thrombocytopenia syndrome. PLoS Neglected Tropical Diseases, 16(6), e0010489.
  8. Li, J. C., et al. (2022). Risk factors for mortality in patients with severe fever with thrombocytopenia syndrome: A meta-analysis. Viruses, 14(3), 456.
  9. Hiroshi Tani, H., et al. (2016). Antiviral effect of favipiravir against SFTS virus. Antiviral Research, 134, 21–27.

 

#SFTS 

#Zoonosis 

#KesehatanGlobal 

#PenyakitInfeksi 

#OneHealth


No comments: