“Kemajuan Terkini
dalam Ilmu Pengetahuan tentang Respons Imun Protektif yang Diinduksi oleh
Nano-Vaksin Adjuvan Baru”.
Abstrak
Vaksinasi
memiliki peran yang sangat penting karena dapat melindungi manusia dari
berbagai agen penyebab penyakit. Meskipun penelitian terkait vaksin
telah mengalami banyak kemajuan, pengembangan vaksin yang lebih efektif dan
aman terhadap penyakit infeksi yang sangat merusak—seperti Ebola,
tuberkulosis, dan acquired immune deficiency syndrome (AIDS)—masih
menjadi tantangan besar. Selain itu, beberapa vaksin manusia yang saat ini
digunakan dapat menimbulkan reaksi merugikan pada sebagian individu, sehingga
membatasi penggunaannya dalam program vaksinasi massal. Oleh karena itu,
diperlukan perancangan kandidat vaksin yang optimal yang mampu menimbulkan
respons imun yang tepat tanpa menyebabkan efek samping.
Vaksin subunit relatif aman untuk vaksinasi pada manusia,
namun tanpa adanya adjuvan vaksin tersebut tidak mampu memicu respons imun
protektif yang optimal. Berbagai jenis adjuvan telah digunakan dalam formulasi
vaksin untuk melawan patogen yang memiliki keragaman antigenik tinggi. Akan
tetapi, karena adanya masalah toksisitas dan keamanan yang berkaitan dengan
adjuvan yang digunakan pada manusia, hanya sedikit adjuvan yang telah disetujui
untuk digunakan dalam formulasi vaksin manusia.
Dalam beberapa tahun terakhir, nanopartikel (NP) mendapat
perhatian khusus dan semakin banyak digunakan sebagai adjuvan dalam
pengembangan vaksin maupun sebagai sistem penghantaran obat, karena
kemampuannya yang sangat baik dalam memodulasi respons imun. Tinjauan ini akan membahas keadaan terkini
penggunaan adjuvan dalam pengembangan vaksin, mekanisme kerja adjuvan yang
kompatibel untuk manusia, serta arah penelitian di masa depan. Diharapkan
tinjauan ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat dalam penemuan adjuvan
baru dan sistem penghantaran obat untuk pengembangan vaksin serta terapi baru.
Kata kunci: vaksinasi, adjuvan, sistem penghantaran,
respons imun, perspektif masa depan.
Abstrak Grafis
1. Pendahuluan
Vaksinasi
merupakan salah satu pencapaian paling penting dalam sejarah kedokteran
manusia. Melalui vaksinasi, dunia berhasil memberantas penyakit cacar (smallpox)
dan sampar sapi (rinderpest), serta secara signifikan menurunkan angka
kesakitan dan kematian akibat berbagai penyakit infeksi yang sangat merusak
selama dua abad terakhir. Namun demikian, dalam dua dekade terakhir dunia juga
mengalami berbagai wabah penyakit infeksi, seperti pandemi severe acute
respiratory syndrome (SARS) pada tahun 2003, wabah Ebola pada tahun 2014,
epidemi Nipah di India pada tahun 2018, serta pandemi COVID-19 yang dimulai
pada akhir tahun 2019 di Tiongkok [1–3]. Wabah Ebola pada tahun 2014
menimbulkan krisis serius di berbagai negara maju; khususnya karena tingkat
kematian yang sangat tinggi akibat virus Ebola yang menyebar di negara-negara
Afrika Barat [2]. Munculnya berbagai varian baru virus Ebola dan virus SARS
telah mendorong komunitas ilmiah untuk mengeksplorasi teknologi baru guna
mengembangkan vaksin yang lebih efektif terhadap penyakit infeksi yang
berpotensi muncul kembali [4]. Selain itu, terdapat kebutuhan yang mendesak
untuk mengembangkan vaksin yang aman dan efektif terhadap tuberkulosis dan acquired
immune deficiency syndrome (AIDS) [5].
Adjuvan merupakan
zat yang dapat diformulasikan bersama antigen vaksin untuk meningkatkan dan
memodulasi imunogenisitas antigen melalui berbagai mekanisme [6]. Manfaatnya
telah dibuktikan pada antigen yang diinaktivasi, vaksin subunit, maupun antigen
protein rekombinan melalui berbagai mekanisme kerja; fungsi yang paling
menonjol adalah kemampuannya sebagai pembawa (carrier), depot, dan
stimulator respons imun yang terarah. Aluminium merupakan adjuvan pertama yang
digunakan dalam formulasi vaksin manusia karena kemampuannya merangsang
peningkatan produksi antibodi [7]. Namun demikian, aluminium tidak mampu
menimbulkan respons imun seluler yang kuat dan juga memiliki potensi risiko
menimbulkan inflamasi jangka panjang pada otak [8]. Selain itu, beberapa adjuvan
dapat menyebabkan toksisitas lokal maupun sistemik pada individu yang
divaksinasi [8]. Dilaporkan bahwa Quil A dalam adjuvan Freund dapat menimbulkan
toksisitas lokal [9]. Di sisi lain, adjuvan yang berbasis pathogen-associated
molecular patterns (PAMPs) mengandung molekul mikroba yang dapat memicu
peradangan serta pematangan sel dendritik melalui pattern recognition
receptors [9]. Adjuvan lain yang diformulasikan oleh Freund menggunakan
emulsi berbasis minyak mineral yang mengandung mikobakteri yang telah dimatikan
dengan panas [10]. Meskipun adjuvan memiliki potensi untuk menstimulasi reaksi
imun lokal, sebagian di antaranya gagal menghasilkan respons imun seluler yang
kuat, sehingga diperlukan pengembangan adjuvan baru untuk mendukung
keberhasilan penghantaran vaksin [9]. Menurut basis data terpusat berbasis web
tentang adjuvan vaksin, lebih dari seratus jenis adjuvan vaksin telah digunakan
terhadap berbagai patogen, meskipun hanya sedikit yang telah memperoleh izin
untuk digunakan pada manusia [11].
Nanopartikel (NP)
telah memperoleh perhatian luas sebagai kendaraan penghantaran (delivery
vehicle) untuk vaksin manusia [12]. Formulasi nano-vaksin dapat
memfasilitasi pelepasan obat secara berkepanjangan dan penghantaran yang
terarah, sekaligus meningkatkan imunogenisitas dan stabilitas [12]. Vaksin
berbasis nanopartikel dengan berbagai karakteristik telah disetujui untuk
digunakan pada manusia [12,13]. Pemanfaatan metode penghantaran berbasis
nanopartikel bertujuan untuk meningkatkan durasi proses pengambilan antigen
yang dimediasi oleh sel penyaji antigen (antigen-presenting cells, APC)
dan sel dendritik (dendritic cells, DC), sehingga merangsang aktivasi DC
dan memfasilitasi proses cross-presentation antigen [12,13].
Nanopartikel juga membantu mencegah degradasi adjuvan dan antigen akibat proses
proteolitik maupun enzimatik [14]. Vaksin dapat dihantarkan ke lokasi target
dengan cara dimasukkan ke dalam nanopartikel atau dilapiskan pada permukaannya [15].
Kemampuan sistem
penghantaran berbasis nanopartikel untuk memuat berbagai komponen dalam satu
pembawa memungkinkan penghantaran berbagai antigen, plasmid DNA, toksin, dan
adjuvan secara simultan, terarah, dan berkelanjutan [15,16]. Berbagai faktor
perlu dipertimbangkan dalam pengembangan vaksin, seperti komposisi vaksin,
efektivitasnya, serta tingkat imunogenisitas yang rendah [17–19]. Karakteristik
fisik unik nanopartikel—seperti bentuk, ukuran, dan muatan
permukaan—menjadikannya kendaraan penghantaran yang ideal untuk vaksin [20].
Nanopartikel juga dapat direkayasa permukaannya dengan berbagai protein,
peptida, polimer, dan agen penarget lainnya sehingga menjadi sistem
penghantaran yang sangat fleksibel dalam formulasi nano-vaksin [20]. Desain
vaksin berbasis nanopartikel juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan teknik
pencitraan multimodal yang memungkinkan visualisasi vaksin di dalam sel inang,
sehingga berpotensi meningkatkan efektivitas terapeutik [20,21].
Meskipun memiliki
berbagai keunggulan, nanopartikel juga memiliki beberapa keterbatasan, seperti
interaksi yang tidak diinginkan dengan sistem retikuloendotelial (reticuloendothelial
system, RES) serta kurangnya stabilitas koloid dalam kondisi fisiologis
akibat pembentukan protein corona [22,23].
Namun demikian,
nanopartikel biomimetik menunjukkan stabilitas yang lebih baik dan dirancang
untuk menghindari interaksi dengan sel-sel sistem imun [24,25]. Secara umum,
nano-vaksin dikembangkan dengan memanfaatkan nanopartikel pembawa yang meniru
struktur membran biologis [26]. Nano-vaksin kemudian diberikan ke dalam sel
inang untuk mendukung penghindaran sistem imun (immune evasion) dan
sirkulasi yang lebih lama di dalam tubuh [26]. Sebagai contoh, liposom
biomimetik dibuat melalui dispersi lipid dalam air [27]. Liposom biomimetik
memiliki kapasitas pemuatan yang tinggi dan mampu menghantarkan obat yang
bersifat hidrofilik maupun hidrofobik [28]. Nanopartikel yang dilapisi membran
sel merupakan nanokarier biomimetik yang memiliki struktur inti–selubung (core–shell)
[28]. Struktur ini terbentuk dari inti nanopartikel yang bersifat hidrofobik
serta lapisan membran yang melapisinya [28].
Berbagai jenis membran sel digunakan untuk melapisi
nanopartikel sintetis melalui proses fabrikasi top-down [29]. Metode ini
memastikan bahwa nanopartikel inti mempertahankan sifat fisikokimiawinya
sekaligus mempertahankan komposisi selulernya [29]. Dalam suatu penelitian,
nanopartikel berlapis membran sel dipelajari dengan menggunakan membran sel
darah merah (red blood cells, RBC) yang diekstrusi pada nanopartikel
polimerik [28]. Protein yang dapat merakit diri (self-assembling proteins)
diketahui memiliki stabilitas dan simetri yang tinggi, sehingga memungkinkan
pembentukannya menjadi partikel yang lebih kecil dengan ukuran sekitar 10–150
nm [30,31]. Nanopartikel polimerik ini memiliki berbagai fungsi di dalam tubuh
dan terutama dimanfaatkan sebagai pembawa vaksin karena kemampuannya untuk
merakit diri menjadi struktur yang menyerupai arsitektur alami mikroba [32].
Dalam tinjauan ini, kami membahas keadaan terkini penggunaan
adjuvan dalam pengembangan vaksin, mekanisme kerja adjuvan yang kompatibel
untuk manusia, serta adjuvan nano-vaksin yang baru-baru ini disetujui oleh Food
and Drug Administration (FDA), termasuk tantangan yang dihadapi saat ini
dan arah pengembangan di masa depan.
2. Adjuvantisitas Nanopartikel
Adjuvan merupakan zat yang dapat menstimulasi sistem imun
secara nonspesifik terhadap antigen. Garam aluminium, emulsi minyak, kopolimer
blok nonionik, serta berbagai jenis adjuvan lainnya—termasuk turunan
polisakarida, liposom, dan derivat bakteri—umumnya digunakan sebagai agen
perangsang sistem imun [6,33]. Senyawa berbasis aluminium merupakan adjuvan
yang paling luas digunakan dalam vaksin dan telah disetujui untuk penggunaan
pada manusia [34]. Namun demikian, adjuvan tersebut memiliki berbagai keterbatasan,
antara lain efektivitas yang rendah dalam menghasilkan vaksin berbasis peptida
serta potensi menimbulkan reaksi alergi pada lokasi penyuntikan [35,36].
Karena keterbatasan tersebut, pengembangan adjuvan yang
lebih serbaguna dan efektif menjadi sangat penting. Berbagai penelitian
menunjukkan bahwa efektivitas nanopartikel (NP) dalam merangsang sistem imun
sebanding dengan produk berbasis aluminium [37]. Meskipun mekanisme pasti
adjuvantisitas nanopartikel belum sepenuhnya diketahui, berbagai penjelasan
telah diajukan untuk menjelaskan fenomena tersebut [38].
Berdasarkan ukuran dan karakteristik strukturalnya,
nanopartikel dapat dengan mudah meniru efek infeksi bakteri atau virus [16].
Nanopartikel ini dapat ditelan oleh sel penyaji antigen (antigen-presenting
cells, APC), yang selanjutnya dapat merangsang respons imunologis [16].
Menurut salah satu teori, nanopartikel dapat menstimulasi perkembangan respons
imun seluler melalui interaksi dengan sel dendritik CD8+ [39]. Salah satu
karakteristik penting nanopartikel adalah kemampuannya untuk berpindah dari
jaringan subkutan menuju kelenjar getah bening apabila ukurannya kurang dari
100 nm [39]. Penghantaran antigen ke sel imun yang telah matang di kelenjar
tersebut akan memicu respons imun bawaan (innate immune response) yang
lebih kuat [39].
Beberapa
penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan nanopartikel dalam vaksin dapat
meningkatkan produksi antibodi [40]. Temuan ini mendukung gagasan bahwa
pemanfaatan nanopartikel dapat meningkatkan efektivitas vaksin [38,40].
Dalam beberapa
tahun terakhir, komunitas nanomedisin dan ilmu material telah mengembangkan
nanopartikel lipid (lipid nanoparticles, LNPs) sebagai pembawa untuk
penghantaran molekul kecil. Partikel ini kini menjadi komponen penting dalam
vaksin mRNA COVID-19 [41]. LNP memiliki potensi besar untuk memainkan peran
penting dalam bidang terapi genomik yang sedang berkembang, di mana penghantaran
in vivo yang aman dan efektif masih menjadi tantangan utama. Dalam
banyak kondisi, LNP dapat mengatasi keterbatasan metode sistem penghantaran
lainnya ke dalam sel inang.
Sebagai contoh,
vektor virus sering kali sangat efektif dalam menghantarkan gen ke dalam inti
sel, namun keterbatasan ukuran muatan (payload size) serta kemampuan
pemberian ulang (redosing potential) yang terbatas dapat membatasi
penggunaannya [41].
Tabel 1
menyajikan gambaran umum mengenai kelebihan dan kekurangan penggunaan berbagai
jenis nanopartikel dalam pengembangan vaksin.
Table 1. Benefits and limitations of using different
nanoparticle types for vaccine development.
Perkembangan antibodi yang menargetkan baik nanopartikel
maupun antigen terlibat dalam respons sistem imun terhadap nano-vaksin. Tidak
dilaporkan adanya respons imun spesifik pada imunisasi menggunakan dendrimer
kationik maupun nanopartikel yang tersusun dari fullerene [55]. Menurut
berbagai laporan, nanopartikel (NP) berfungsi sebagai metode penghantaran untuk
vaksinasi bystander dan bukan sebagai antigen itu sendiri [55,56]. Hal
ini sangat penting karena efektivitas vaksin berbasis partikel dapat
dipengaruhi oleh terbentuknya antibodi yang bereaksi terhadap nanopartikel
tersebut. Hanya sedikit penelitian yang menunjukkan bahwa nanopartikel tertentu
dapat menjadi antigenik setelah dihubungkan dengan protein pembawa [55,56].
Penting untuk dicatat bahwa nanosistem dapat meningkatkan
kapasitas molekul imunostimulator dengan memungkinkan molekul tersebut dikemas
bersama (co-encapsulation). Berbagai senyawa, termasuk nanopartikel
dekstran dan nanokapsul kitosan, diketahui dapat berinteraksi dengan agonis
reseptor seperti CpG atau imiquimod [57]. Dalam suatu penelitian, para peneliti
memodifikasi CpG dengan gugus tiophosphat reaktif yang memungkinkan pengikatan
dengan nanopartikel yang difungsionalisasi dengan sisteamin [57]. Dilaporkan
bahwa gugus terminal tiophosphat pada CpG dan nanopartikel yang telah
difungsionalisasi melakukan pertukaran ikatan disulfida sehingga reaksi
tersebut dapat terjadi. Ikatan
kovalen ini dapat diputus menggunakan 2-merkaptoetanol untuk mensimulasikan
lingkungan reduktif pada kompartemen endosomal sel.
Penelitian lain
merancang nanosistem pelepasan berkepanjangan dengan menggunakan nanopartikel
polimerik berlapis kitosan yang mengandung imiquimod (imiquimod-loaded
chitosan-coated polymeric nanoparticles, CS-IMQ NPs) untuk aplikasi
penghantaran obat yang efektif [58]. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
potensial zeta dari CS-IMQ NPs bergeser ke nilai positif, yang menunjukkan
bahwa gugus amino pada molekul kitosan terletak pada permukaan nanopartikel. Selain
itu, interaksi ionik antara nanopartikel IMQ berlapis kitosan yang bermuatan
positif dan membran sel yang bermuatan negatif dapat memperpanjang waktu
tinggal (residence time) partikel tersebut [58]. Namun demikian,
interaksi elektrostatik dan ikatan hidrogen terlibat dalam proses adsorpsi
kitosan pada permukaan nanopartikel polimerik. Pengenalan nano-vaksin oleh
molekul reseptor spesifik dapat meningkatkan aktivasi serta memperkuat respons
sistem imun [59,60].
Kemajuan dalam
rekayasa material selama satu dekade terakhir telah membuka arah baru dalam
pengembangan vaksin. Secara khusus, vaksin telah banyak dikembangkan dengan
menggunakan nanopartikel sintetis [61]. Studi in vitro
menunjukkan bahwa nanopartikel sintetis dengan diameter 25 hingga 200 nanometer
mampu merangsang terbentuknya respons imun yang kuat terhadap target antigen
[61]. Profil keamanan kandidat vaksin berbasis nanopartikel sintetis lebih baik
dibandingkan dengan vaksin yang dilemahkan (attenuated vaccines) karena
nanopartikel tersebut tidak memiliki kemampuan bereplikasi [61].
Banyak keunggulan vaksin nanopartikel dapat dijelaskan oleh
kemiripannya dengan virus alami, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1. Namun
demikian, penggunaan nanopartikel seperti nanopartikel berbasis polimer
sintetis, liposom, atau nanopartikel berbasis logam masih terbatas karena
beberapa kendala, antara lain stabilitas yang rendah, heterogenitas struktur,
potensi imunogenisitas, toksisitas yang tinggi, serta aktivitas di luar target
(off-target activity) [62]. Oleh karena itu, diperlukan alternatif nanopartikel
berbasis protein seperti virus-like particles (VLPs) untuk mengatasi
keterbatasan tersebut.
Nanopartikel berbasis protein memiliki beberapa keunggulan,
antara lain kemudahan fungsionalisasi, kemampuan perakitan yang terkontrol,
biokompatibilitas, dan biodegradabilitas [62,63]. Berbagai karakteristik
virus—seperti morfologi berskala nano, penyajian antigen multivalen, serta
penghantaran antigen atau adjuvan yang terkontrol—dapat merangsang respons imun
pada tingkat seluler maupun fisiologis. Oleh karena itu, tidak mengherankan
apabila nanoformulasi yang mengadopsi sifat menyerupai virus dapat lebih poten
dibandingkan formulasi subunit konvensional, karena sistem imun manusia tidak
secara optimal berkembang untuk merespons nanopartikel virus infeksius (Gambar
1) [64]. Selain itu, sistem imun manusia secara alami telah berevolusi untuk
merespons patogen termasuk virus, sehingga kemungkinan juga dapat merespons
nanopartikel.
Gambar 1. Skema representatif vaksin nanopartikel,
vaksin subunit, dan vaksin virus yang menggambarkan kelebihan serta kekurangan
masing-masing platform.
3. Kemajuan dalam Pengembangan Adjuvan Baru
Pengembangan adjuvan baru memerlukan pembentukan suatu jalur
penemuan (discovery pipeline) yang berfokus pada identifikasi dan
evaluasi aktivitas imunologis pada tahap akhir. Dengan semakin banyaknya jalur
imun dan agonis yang berhasil diidentifikasi, pengembangan adjuvan baru kini
dapat difokuskan pada penentuan respons fenotipik yang ditimbulkannya. Pada
bagian ini akan dibahas berbagai aspek adjuvantisitas yang paling penting untuk
direkayasa.
3.1. Formulasi Adjuvan Generasi Berikutnya untuk
Penghantaran Tertarget
Adjuvan generasi berikutnya umumnya dikembangkan untuk
meningkatkan efektivitas serta penghantaran imunomodulator. Adjuvan yang
disetujui pada tahap awal umumnya menargetkan sel yang tidak spesifik melalui
strategi berbasis suspensi yang heterogen [65]. Strategi tersebut umumnya tidak
lagi sesuai untuk adjuvan yang baru disetujui saat ini. Namun demikian,
pengembangan vaksin baru yang lebih efektif terhadap infeksi yang muncul
kembali telah dimungkinkan melalui penemuan kombinasi adjuvan baru, seperti adjuvant
systems (ASs) [66].
Konsep adjuvant systems awalnya muncul secara tidak
disengaja (serendipity) [66]. Sistem adjuvan ini terdiri atas kombinasi
molekul imunostimulator yang dirancang untuk meningkatkan perlindungan melalui
vaksinasi dibandingkan dengan formulasi tradisional yang hanya menggunakan
garam aluminium. Seri adjuvan AS yang dikembangkan oleh GlaxoSmithKline (GSK)
mengandung berbagai komponen yang dirancang untuk membentuk nanostruktur [66].
Contoh lainnya adalah adjuvan Matrix-M dari NovaVax yang mengombinasikan kolesterol
dan fosfolipid dengan saponin yang bersifat imunostimulator [67,68].
Seiring meningkatnya kompleksitas adjuvan, sangat penting
untuk mempertimbangkan aspek formulasi sejak tahap awal penemuan dan
pengembangan. Adjuvan harus dapat dihantarkan ke berbagai lokasi subseluler
untuk memfasilitasi pengikatan reseptor, mengingat semakin beragamnya jenis zat
tersebut. Endosom, sitosol, dan membran luar merupakan beberapa lokasi reseptor
potensial [68]. Formulasi dapat memanfaatkan lokasi-lokasi ini untuk
mendistribusikan adjuvan. Sebagai contoh, adjuvan STING merupakan reseptor imun
bawaan yang ditemukan di sitoplasma, sementara nanopartikel lipid kationik
secara signifikan dapat meningkatkan pelepasan dari endosom (endosomal
escape) [69].
Ukuran nanopartikel merupakan faktor penting yang harus
dipertimbangkan dalam mengendalikan efisiensi drainase limfatik [70]. Sebagai
contoh, ukuran nanopartikel antara 10 hingga 100 nm dianggap ideal untuk
memfasilitasi difusi yang mudah menuju organ limfoid sekunder utama [70,71]. Ukuran nanopartikel sekitar 50 nm juga
memainkan peran penting dalam aktivasi reaksi inflammasom serta pelepasan dari
endosom [72]. Sebaliknya, penurunan penyerapan seluler akibat ukuran
nanopartikel yang lebih besar dapat membatasi efektivitasnya [73].
Penggunaan ligan
penarget eksternal dapat membantu memfasilitasi penghantaran ke jenis sel yang
diinginkan. Meskipun sebagian besar aktivitas reseptor adjuvan terfokus pada
sel imun, jaringan sekitar (bystander tissues) juga dapat terpengaruh
[74]. Aktivasi sel-sel tersebut dapat mendorong berkembangnya kondisi
proinflamasi yang berkaitan dengan aterosklerosis, misalnya akibat ekspresi
TLR4 pada otot polos arteri [74]. Oleh karena itu, efek di luar target (off-target
effects) pada sel-sel di sekitarnya perlu diminimalkan. Ligan
penarget tidak hanya mengurangi efek samping, tetapi juga meningkatkan
efektivitas. Strategi ini umumnya digunakan untuk menargetkan tipe sel
tertentu, seperti DC-SIGN dan sel dendritik [75].
Namun demikian, penghantaran tertarget juga diyakini dapat
bermanfaat bagi tipe sel khusus lainnya [75,76]. Sebagai contoh, sel stroma dan
sel endotel limfatik diketahui berperan dalam penyimpanan antigen jangka
panjang [77,78]. Reseptor PRG2 dan DAP12 juga dapat dimanfaatkan untuk
menargetkan sel first responders, yang diketahui dapat meningkatkan
proses fagositosis terhadap mikrostruktur [79,80]. Dengan semakin berkembangnya
pemahaman tentang imunitas bawaan, formulasi adjuvan diharapkan akan memainkan
peran yang semakin penting dalam mengarahkan respons terapeutik.
3.2.
Keterkaitan antara Rekayasa Sinyal dan Identifikasi Target
Perubahan
selektif pada jalur pensinyalan untuk menghasilkan respons imun yang diinginkan
dapat memberikan manfaat dalam pengembangan adjuvan. Alih-alih hanya
mengembangkan agonis reseptor yang lebih kuat, diperkirakan bahwa penargetan
bagian lain dari sistem imun bawaan juga dapat menghasilkan berbagai respons
yang lebih beragam [81].
Selain pathogen recognition receptors (PRRs),
berbagai sinyal seluler lain—seperti proliferasi dan metabolisme—juga dapat
berkaitan dengan respons imun [82]. Aktivasi jalur imun bawaan akan
menghasilkan pembentukan sitokin yang berkaitan dengan penentuan nasib (fate-related
cytokines), yang mengendalikan polarisasi sel T [82]. Pengaruh adjuvan
terhadap sitokin yang dihasilkan dapat memberikan dampak besar terhadap respons
imun adaptif pada tubuh manusia.
Reaksi terhadap
vaksin dapat dipicu oleh aktivitas sitokin tertentu. Mengurangi produksi
sitokin yang berkaitan dengan peradangan dapat membantu meminimalkan efek
samping kondisi inflamasi serta meningkatkan peluang keberhasilan penerapan
klinis [82]. Oleh karena itu, eksplorasi jalur baru dan modifikasi jalur target
diyakini dapat membantu mengatasi berbagai masalah pensinyalan yang timbul
akibat faktor-faktor imun bawaan.
3.2.1.
Strategi yang Mungkin untuk Adjuvantisitas
Target adjuvan
perlu diperluas melampaui ligan yang selama ini umum digunakan untuk
menargetkan toll-like receptors (TLRs) [83]. Dalam satu dekade terakhir,
berbagai penelitian telah menemukan reseptor baru untuk pengenalan pola (pattern
recognition), seperti sensor sitosolik STING [83,84]. Berbagai dinukleotida
siklik, seperti cyclic guanosine adenosine monophosphate (cGAMP),
diketahui merupakan ligan STING dan berpotensi digunakan sebagai adjuvan
[83,84].
Selain itu, mekanisme pertahanan imun bawaan NLRP3 mampu
merespons perubahan luas dalam homeostasis dengan mengenali berbagai damage-associated
molecular patterns (DAMPs) dan pathogen-associated molecular patterns
(PAMPs) [84]. Selain PRRs, jalur pensinyalan lainnya juga dapat memengaruhi
aktivasi sistem imun bawaan dan berpotensi dimanfaatkan dalam pengembangan
adjuvan di masa depan (Gambar 2A).
Pengembangan jalur kematian sel melalui kombinasi
piroptosis, apoptosis, dan nekroptosis dapat meningkatkan proses cross-presentation
oleh sel-sel di sekitarnya [85,86]. Selain itu, aktivasi jalur metabolik dan
epigenetik—misalnya melalui peningkatan aktivasi gen yang dimediasi oleh
penanda epigenetik H3K4me3 dan H3K27AC—dapat mengalami perubahan dalam fenomena
yang dikenal sebagai trained immunity [87].
Trained immunity merupakan konsep yang relatif baru,
di mana sel-sel imun bawaan menunjukkan semacam “memori” melalui peningkatan
respons aktivasi ketika terpapar kembali, bahkan terhadap patogen yang berbeda
(heterologous pathogens) [87]. Jalur-jalur ini merupakan sumber yang
sangat luas untuk penemuan adjuvan baru, karena semakin banyak aktivator dari
jalur tersebut yang terus ditemukan.
Gambar 2. Pemanfaatan adjuvan untuk merekayasa efek imunologis baru. Perbandingan antara adjuvan konvensional dan adjuvan generasi berikutnya.
(A) Penargetan jalur pada adjuvan generasi berikutnya tidak hanya terbatas pada
pattern recognition receptors (PRRs). DAMPs dilepaskan akibat kematian
sel, perubahan metabolik meningkatkan sensitivitas sel, dan perubahan
epigenetik memprogram ulang sel sehingga mengadopsi fenotipe imun terlatih (trained
immunity).
(B) Polarisasi sel T bergeser dari sekadar pengelompokan berdasarkan sitokin
menuju identifikasi faktor transkripsi. Adjuvan generasi berikutnya berpotensi
menghasilkan berbagai imunofenotipe.
(C) Adjuvan konvensional umumnya menimbulkan produksi sitokin inflamasi dalam
jumlah besar, sedangkan adjuvan generasi berikutnya dirancang untuk menurunkan
reaktogenisitas sekaligus meningkatkan respons imun adaptif.
3.2.2.
Pengurangan Reaktogenisitas Adjuvan
Persetujuan
penggunaan adjuvan baru sering kali menghadapi tantangan karena adanya
reaktogenisitas [88]. Meskipun adjuvan harus memberikan stimulasi yang cukup
terhadap sistem imun, penggunaannya juga harus menghindari aktivasi yang
berlebihan yang dapat menimbulkan berbagai efek samping. Ketidakmampuan dalam
menyeimbangkan jumlah adjuvan dalam vaksin dapat berdampak negatif terhadap
proses persetujuan klinis dari bahan tersebut.
Efek inflamasi
sistemik yang berkaitan dengan adjuvan dapat meliputi demam, sakit kepala,
serta nyeri pada lokasi penyuntikan [9]. Setelah pemberian vaksin, tingkat
inflamasi dapat dipantau dengan mengukur kadar sitokin proinflamasi, seperti
interleukin-6 (IL-6) dan tumour necrosis factor-alpha (TNF-α) [89]. Selain berdampak pada individu
yang menerima vaksin, reaktogenisitas yang berat juga dapat memengaruhi
persepsi masyarakat terhadap program vaksinasi secara umum [89].
Oleh karena itu,
pengembangan adjuvan generasi berikutnya perlu difokuskan pada upaya
meminimalkan reaktogenisitas vaksin tanpa mengurangi efektivitasnya.
Pada tahap awal
proses penemuan, penting untuk menentukan tingkat reaktogenisitas senyawa
kandidat utama (lead compounds) guna memastikan bahwa senyawa tersebut
dapat diidentifikasi dan diuji terkait potensi menimbulkan peradangan atau
toksisitas [90]. Beberapa vaksin berbasis messenger ribonucleic acid
(mRNA) dan nanopartikel lipid dapat menyebabkan respons inflamasi yang
berlebihan; namun demikian, reaktogenisitas tersebut dapat dikendalikan melalui
pengaturan dosis vaksin mRNA [90]. Sifat reaktogenik mRNA saat ini diatasi
melalui penggunaan bentuk mRNA yang dimodifikasi nukleosida [91].
Mekanisme pasti
bagaimana terapi nanopartikel lipid dapat mengaktivasi sistem imun bawaan masih
belum sepenuhnya dipahami. Berbagai teori telah diajukan mengenai kemungkinan
bahwa kerusakan seluler yang disebabkan oleh partikel tersebut dapat terdeteksi
oleh sistem imun [91]. Oleh karena itu, identifikasi mekanisme sistem imun
bawaan menjadi sangat penting dalam pengembangan adjuvan yang efektif.
Kombinasi antara adjuvan yang tepat dan sistem vaksin berbasis nanopartikel
lipid berpotensi digunakan untuk mengatasi berbagai penyakit, seperti penyakit
Lyme dan COVID-19 [92,93].
Sebagai contoh,
saponin sebagai adjuvan telah digunakan dalam beberapa vaksin yang baru-baru
ini memperoleh otorisasi penggunaan [94,95]. Senyawa kecil yang berasal dari
tanaman ini memiliki sifat imunostimulator yang kuat, namun juga dapat
menimbulkan efek sitotoksik yang membatasi dosis efektif penggunaannya sebagai
adjuvan [96].
Namun demikian,
para peneliti telah memanfaatkan imunomodulator untuk mengatasi peradangan yang
berkaitan dengan adjuvantisitas [97,98]. Imunomodulator ini dapat meningkatkan
kadar antibodi spesifik antigen dalam suatu vaksin. Selain itu,
imunomodulator juga dapat dikombinasikan dengan agonis pattern recognition
receptors (PRR) untuk mengurangi peradangan (Gambar 2C). Pendekatan ini
dapat diterapkan pada berbagai jenis antigen PRR maupun agonis PRR. Agen
imunomodulator tersebut bekerja dengan menargetkan sinyal perantara yang berada
di bagian hilir (downstream) dari reseptor [98]. Berbagai molekul yang
dapat memodifikasi jalur pengenalan pola reseptor terhadap antigen berpotensi
dimanfaatkan di masa depan untuk mengurangi efek reaktogenik vaksin.
3.2.3. Polarisasi Sel TH
Aksi suatu adjuvan dapat memengaruhi perkembangan respons
imun adaptif. Sistem imun bawaan menghasilkan berbagai sitokin yang berkaitan
dengan penentuan nasib sel (fate-related cytokines) [99]. Sitokin-sitokin ini diketahui mendorong polarisasi
keadaan efektor sel T CD4+ [99]. Meskipun adjuvan dapat menstimulasi polarisasi
sel T melalui penghantaran sitokin tertentu, penggunaannya masih terbatas.
Beberapa adjuvan,
seperti CpG 1018, diketahui dapat menginduksi respons TH1 pada pasien,
sedangkan alum merupakan penginduksi TH2 yang kuat [100,101]. Sel T
helper tipe 1 (TH1) CD4+ mensekresikan interferon gamma (IFN-γ), tumour
necrosis factor-alpha (TNF-α), dan interleukin-2 (IL-2) untuk mendukung
respons imun yang dimediasi sel [102]. Sebaliknya, sel TH2 CD4+ mensekresikan
IL-4, IL-5, dan IL-13 yang merangsang respons antibodi. Vaksin profilaksis pada
umumnya dirancang untuk memicu respons TH1, tetapi secara ideal vaksin dan
imunoterapi dapat disesuaikan untuk berbagai aplikasi yang berbeda.
Polarisasi TH alternatif juga dapat bermanfaat untuk
aplikasi tertentu yang tidak berkaitan langsung dengan penyebaran penyakit
infeksi. Produksi IL-17 oleh sel TH17 diketahui memberikan perlindungan
terhadap berbagai jenis bakteri [103]. Sel-sel ini juga berperan dalam respons
sel inang terhadap infeksi yang disebabkan oleh Salmonella, Klebsiella,
dan Pseudomonas [103]. Kehadiran sel TH17 juga dapat membantu
perlindungan terhadap tuberkulosis (TB) dengan cara menginduksi peradangan dan
merekrut neutrofil [104]. Namun demikian, tingkat polarisasi TH17 yang
dipertahankan juga penting, karena produksi respons ini yang berlebihan dapat
menyebabkan patologi tuberkulosis yang lebih parah [105]. Oleh karena itu,
diperlukan pengendalian spesifik terhadap polarisasi TH, bukan sekadar
pergeseran umum dari satu kecenderungan ke kecenderungan lainnya.
Dalam kondisi pengembangan adjuvan saat ini, efek hilir
seperti polarisasi TH umumnya baru dipertimbangkan setelah proses pensinyalan
dipicu oleh interaksi reseptor–ligan [105]. Paradigma pengembangan adjuvan baru
kemungkinan akan berubah dengan ditemukannya agen generasi berikutnya,
khususnya yang menargetkan imunofenotipe tahap akhir, seperti polarisasi TH.
Nomenklatur konvensional untuk polarisasi TH mungkin menjadi
terbatas seiring dengan semakin baiknya pemahaman mengenai kompartemen sel T
helper [106]. Secara tradisional, profil sitokin yang disekresikan oleh sel T
helper digunakan untuk menentukan polarisasi TH. Namun demikian, keberadaan sel
T CD4+ dengan fungsi khusus—seperti sel T regulator (Tregs) dan sel T helper
folikuler (TFH)—dapat memperumit klasifikasi TH [107]. Dalam beberapa tahun
terakhir, berbagai subtipe TH baru juga telah diusulkan, seperti TH9, TH22, dan
THGM [107,108]. Sistem klasifikasi
yang ada saat ini masih kurang presisi karena variasi tingkat ekspresi sitokin
yang mungkin terjadi.
Sebagai
alternatif, klasifikasi adjuvan berdasarkan polarisasi TH dapat didasarkan pada
lima faktor transkripsi utama, yaitu T-bet, GATA-3, RORγt, Bcl-6, dan FoxP3, sebagaimana ditunjukkan pada
Gambar 2B. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekspresi faktor transkripsi
ini bersifat saling eksklusif; namun penelitian yang lebih baru menunjukkan
bahwa ko-ekspresi faktor transkripsi tersebut juga dimungkinkan [109]. Oleh
karena itu, polarisasi TH dapat dipandang sebagai suatu komponen dalam ruang
multidimensi dengan tingkat faktor transkripsi sebagai variabel sumbu.
Pengembangan vaksin baru dapat dicapai dengan memanfaatkan adjuvan yang mampu
mempolarisasi respons TH sesuai dengan berbagai kondisi lingkungan imunologis.
4. Target
Molekuler Adjuvan Nano-Vaksin
Adjuvan memiliki
berbagai keuntungan, antara lain mengurangi jumlah antigen yang diperlukan
dalam setiap dosis vaksin, meningkatkan stabilitas komponen vaksin, serta
menurunkan frekuensi pemberian vaksinasi. Faktor-faktor tersebut dapat membantu
meningkatkan kekuatan imunogenik vaksin [6].
Berbagai jenis
adjuvan telah dikembangkan untuk digunakan dalam produksi vaksin (Tabel 2)
[110].
Tabel 2. Klasifikasi adjuvan berdasarkan mekanisme
kerja utamanya.
Berbagai jenis adjuvan dapat dikelompokkan berdasarkan
karakteristiknya, seperti asal, mekanisme kerja, atau sifat fisikokimia [127]. Salah satu cara klasifikasi yang umum
digunakan adalah berdasarkan mekanisme kerjanya. Dalam hal ini, adjuvan
umumnya dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu sistem penghantaran (delivery
systems) dan penguat respons imun (immune potentiators)
[128].
Adjuvan yang berfungsi sebagai sistem penghantaran berkaitan
dengan pemanfaatan antigen sehingga dapat bertindak sebagai pembawa antigen
yang efektif. Sebagai contoh, antigen yang ditranslokasikan secara inheren
mengalami kendala konformasi karena adanya transporter yang memfasilitasi
ekspor antigen ke sitosol [129]. Antigen diperkirakan mengalami proses unfolding
sebelum proses translokasi, karena kecil kemungkinannya antigen dipindahkan
dalam struktur alaminya mengingat diameter pori transporter yang relatif sempit
[129]. Teori ini didukung oleh fakta bahwa protein yang secara struktural lebih
fleksibel dapat ditranslokasikan ke sitosol dengan lebih efisien dibandingkan
protein yang kaku.
Selain itu, GILT (gamma interferon-inducible
lysosomal thiol reductase), yaitu enzim reduktase tiol lisosomal yang
diinduksi oleh interferon-γ dan secara konstitutif diekspresikan pada sel
penyaji antigen (APCs), berperan dalam mereduksi ikatan disulfida selama proses
unfolding. Proses ini diperlukan untuk ekspor antigen virus yang kaya
ikatan disulfida ke sitosol serta untuk proses cross-presentation
selanjutnya [129].
Pendekatan tersebut dapat merangsang terbentuknya respons
inflamasi lokal dengan mempersiapkan (priming) sistem imun bawaan tubuh.
Proses ini kemudian mengaktifkan
sel-sel imun yang dapat bekerja pada lokasi penyuntikan [130]. Polarisasi
sel T helper (Th) merupakan proses di mana ligan mikroba berinteraksi dengan
berbagai pattern recognition receptors (PRRs), seperti toll-like
receptors, untuk mengaktifkan sel dendritik (DCs) [131]. Aktivasi ini
menghasilkan pelepasan sitokin yang mengatur perkembangan sel CD4+ Th efektor
naif menjadi berbagai subkelompok fungsional.
Sel dendritik yang menghasilkan IL-1β, IL-6, IL-23, dan
TGF-β dapat menstimulasi respons Th17, yang sangat penting untuk
imunitas terhadap protein ekstraseluler. Sebaliknya, sel dendritik yang
menghasilkan IL-12p70 serta mengekspresikan molekul kostimulatori CD40, CD80,
dan CD86 akan menstimulasi respons Th1 untuk melawan protein
intraseluler di dalam sitosol [131].
Selain itu, sel dendritik yang menghasilkan TGF-β dan IL-10
dapat menstimulasi respons Treg apabila tidak terdapat kostimulasi yang
memadai. Sementara itu, sel dendritik yang menghasilkan IL-10 bersama berbagai
molekul kostimulatori (CD80, CD86, CD40, dan OX40L) dapat menstimulasi sel Th2
yang berperan dalam pengendalian protein ekstraseluler. Sel T regulator (Tregs)
memiliki peran penting dalam mengatur respons Th1, Th2, dan Th17, sedangkan sel
T itu sendiri mengekspresikan regulator garis keturunan utama (master
lineage regulators) yang menentukan respons Th yang relevan (Gambar 3)
[131].
Adjuvan juga bermanfaat dalam meningkatkan efektivitas
vaksin pada individu lanjut usia yang mengalami fenomena immunosenescence,
yaitu penurunan respons sistem imun terhadap rangsangan alami maupun buatan
[131]. Dalam konteks ini, penggunaan adjuvan dapat dipertimbangkan sebagai
salah satu strategi untuk mengatasi keterbatasan vaksin. Sebagai contoh,
adjuvan dapat membantu meningkatkan respons pada vaksin subunit tertentu yang
biasanya terlalu lemah untuk merangsang respons imun aktif secara mandiri
[132].
Sebaliknya, vaksin yang telah mendapat izin penggunaan untuk
melawan penyakit meningokokus tidak mengandung adjuvan [133]. Hal ini
disebabkan oleh keberadaan protein pembawa dalam vaksin konjugat yang sudah
mampu menstimulasi respons imun secara efektif [133].
Pengembangan molekul dan faktor baru yang memiliki kemampuan
adjuvan yang lebih baik perlu diperkuat melalui perluasan penelitian pada
platform in vitro maupun in vivo. Namun demikian, persetujuan
obat baru dapat tertunda atau bahkan dibatalkan karena berbagai faktor, seperti
penggunaan teknologi seluler baru, penggunaan adjuvan, maupun perubahan dalam
proses produksi atau transfer teknologi. Kondisi ini dapat menghambat inovasi,
meningkatkan biaya pengembangan, serta menunda ketersediaan vaksin, khususnya di
negara-negara dengan sumber daya terbatas [133].
Gambar 3. Ilustrasi skematis mekanisme kerja
adjuvan yang terlibat dalam aktivasi sistem imun. APCs: antigen-presenting
cells; NK cell: natural killer cell; CTL: cytotoxic
T lymphocytes; Th: T helper cells.
Pandemi COVID-19 menegaskan pentingnya ketersediaan vaksin
yang tepat untuk mencegah terjadinya wabah baru. Vaksin COVID-19 diketahui
memiliki sifat intrinsik yang terkait dengan liposom yang berfungsi sebagai
pembawa RNA [110]. Meskipun platform vaksin COVID-19 terbaru menggunakan
platform standar, vaksin tersebut juga dilengkapi dengan adjuvan yang disebut Matrix-M,
yang tersusun dari ekstrak Quillaja saponaria [110].
Keamanan
merupakan salah satu faktor utama yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan
adjuvan. Adjuvan yang ideal seharusnya mudah diproduksi dan aman untuk
ditangani. Selain itu, adjuvan juga harus memiliki karakteristik farmasi yang
baik, seperti pH yang sesuai, kadar endotoksin rendah, osmolalitas yang tepat,
serta stabilitas penyimpanan yang baik [134]. Memenuhi berbagai persyaratan
tersebut tanpa memengaruhi keamanan vaksin merupakan tantangan tersendiri. Oleh
karena itu, penambahan adjuvan pada vaksin yang telah ada relatif jarang
dilakukan.
Meskipun kemajuan
dalam pengembangan vaksin terus berlangsung, kekhawatiran terkait keamanannya
masih tetap ada. Dibandingkan dengan komponen lainnya, adjuvan sering kali
menjadi fokus perhatian dalam diskusi keamanan di kalangan ilmuwan [134]. Pada
umumnya, vaksin tidak menyebabkan efek samping permanen. Efek samping yang
sering dilaporkan biasanya berupa eritema lokal dan reaksi pada tempat
suntikan, gejala menyerupai flu, serta malaise ringan. Efek-efek tersebut
umumnya mereda dalam beberapa jam hingga beberapa hari setelah vaksinasi. Namun
demikian, pada kasus yang jarang, reaksi berat seperti anafilaksis dapat
terjadi setelah vaksinasi [135].
5. Penghantaran Adjuvan Berbasis Nanopartikel melalui
Microneedles
Dalam beberapa tahun terakhir, teknik berbasis microneedle
semakin menarik perhatian sebagai salah satu strategi penghantaran antigen
melalui kulit [136]. Karena memiliki kedalaman penetrasi yang minimal,
microneedle memiliki keunggulan utama yaitu mampu menembus kulit secara minimal
invasif dan menghantarkan muatan antigen ke lapisan kulit superfisial dengan
potensi tanpa menimbulkan rasa nyeri [137].
Berbagai jenis
microneedle telah dikembangkan untuk penghantaran vaksin [136]. Jenis tersebut
meliputi microneedle berlapis (coated) dan microneedle yang dapat
larut (dissolving), yang mampu menembus kulit dan melepaskan antigen kering
ke dalam dermis dan epidermis. Di sisi lain, antigen atau formulasi partikulat
juga dapat diaplikasikan secara topikal dalam bentuk suspensi atau larutan
menggunakan microneedle berongga (hollow microneedles).
Untuk tujuan
tersebut, para peneliti mengembangkan perangkat hollow microneedle menggunakan
kapiler berbasis fused-silica yang dietsa, sehingga memungkinkan injeksi yang
akurat dan terkontrol ke dalam dermis dan epidermis [138,139]. Dibandingkan
dengan microneedle berlapis atau yang dapat larut, hollow microneedle memiliki
keunggulan karena perubahan dosis, formulasi, atau kedalaman pemberian dapat
dilakukan dengan lebih cepat. Hal ini sangat bermanfaat dalam studi optimasi
formulasi vaksin maupun parameter vaksinasi, seperti dosis vaksin atau
kedalaman penetrasi.
Sebagian besar
penelitian vaksinasi selama ini menggunakan injeksi intramuskular atau subkutan.
Namun, penelitian yang secara langsung mengevaluasi efektivitas berbagai
nanopartikel untuk pemberian vaksin secara topikal masih sangat terbatas
[138–140]. Dalam salah satu penelitian, para peneliti mengevaluasi kemampuan
nanopartikel yang mengenkapsulasi adjuvan atau antigen untuk menstimulasi
respons imun humoral dan seluler setelah imunisasi intradermal menggunakan
hollow microneedles [140].
Dalam penelitian tersebut dirancang empat sistem
penghantaran nanopartikel yang berbeda, yaitu:
- Liposom,
- Nanopartikel
gelatin (GNPs),
- Nanopartikel
silika mesopori (MSNs), dan
- Nanopartikel
poli(lactic-co-glycolic acid) (PLGA) [140].
Masing-masing sistem memiliki karakteristik fisikokimia yang
berbeda. Banyak penelitian telah dilakukan terhadap nanopartikel PLGA
dan liposom sebagai sistem penghantaran vaksin nanopartikel yang
biokompatibel dan biodegradable [141–143]. Sementara itu, MSNs semakin
banyak mendapat perhatian dalam penghantaran vaksin karena memiliki kapasitas
pemuatan tinggi, biokompatibilitas in vivo yang baik, serta ukuran dan
struktur mesopori yang dapat dikontrol [144]. Di sisi lain, nanopartikel
berbasis gelatin juga diteliti sebagai pembawa vaksin potensial karena memiliki
biokompatibilitas tinggi, stabilitas yang baik, dan mudah dimodifikasi pada
permukaannya [145].
Sebelumnya, vaksin virus yang diinaktivasi telah diberikan
menggunakan perangkat hollow microneedle internal atau aplikator microneedle
[136,138,139]. Sebagian besar penelitian menggunakan hollow microneedle dengan
diameter lubang (bore) sekitar 20 μm [140]. Namun, nanopartikel
berukuran besar (>100 nm) belum banyak digunakan dengan teknologi ini.
Penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa hollow microneedle
dengan diameter lubang 20 μm dapat mengalami penyumbatan akibat agregasi
nanopartikel [140]. Masalah ini dapat diatasi dengan meningkatkan diameter
lubang menjadi 50 μm, karena diameter yang lebih besar mengurangi
kemungkinan penyumbatan partikel dalam sistem. Dengan demikian, selama proses vaksinasi tidak terjadi penyumbatan maupun
kebocoran formulasi.
Setelah setiap
injeksi, terbentuk bleb pada lokasi injeksi yang menunjukkan bahwa
injeksi intradermal telah berhasil dilakukan. Selain itu, selama penelitian
eksperimental tidak ditemukan efek samping lokal seperti eritema atau indurasi
kulit pada tempat injeksi [140].
Hasil penelitian
juga menunjukkan bahwa jenis nanopartikel sangat memengaruhi respons imun yang
dihasilkan. Sebagai contoh, enkapsulasi OVA serta ko-enkapsulasi dengan poly(I:C)
menghasilkan respons antibodi IgG2a yang jauh lebih tinggi dibandingkan
larutan OVA/poly(I:C) biasa [140]. Nanopartikel PLGA, khususnya liposom
kationik, terbukti mampu memicu respons IgG2a, sel T CD8+,
dan sel T CD4+ yang paling tinggi, sehingga menunjukkan keunggulannya
dalam vaksinasi intradermal [140].
Perangkat hollow
microneedle/aplikator yang dirancang secara internal tersebut menjadi alat yang
sangat bermanfaat untuk menyaring berbagai formulasi vaksin intradermal
berbasis nanopartikel serta untuk pemberian vaksin intradermal secara presisi.
6. Strategi
Menjanjikan untuk Self-Presentation Antigen dan Pembalikan Imunosupresi
oleh Nano-Vaksin
6.1.
Imunoterapi Sel T
Sel T yang
spesifik terhadap antigen merupakan komponen penting dalam pembentukan imunitas
yang efektif di dalam tubuh [146]. Proses ini melibatkan interaksi antara sel
penyaji antigen (APCs) dan sel T. Kemampuan untuk mengendalikan fungsi APC
merupakan langkah penting dalam pengembangan strategi terapi yang melibatkan
imunoterapi sel T.
Telah terbukti
bahwa aktivasi limfosit T sitotoksik CD8+ (CTL) merupakan faktor kunci
dalam imunoterapi. Perkembangan sel T sangat dipengaruhi oleh komposisi peptida
yang berasal dari tumor serta molekul MHC kelas I (MHC-I) yang digunakan
oleh APC selama proses presentasi antigen [147,148].
Vaksin yang
mengandung protein dan peptida bergantung pada interaksi acak dengan APC. Jika
interaksi tersebut tidak optimal, respons imun dapat terhambat [149]. Oleh
karena itu, presentasi antigen yang efisien menjadi faktor penting dalam
aktivasi sel T CD8+. Keterbatasan ini juga dapat menjelaskan mengapa beberapa
vaksin kanker menunjukkan efektivitas yang terbatas.
Salah satu
keunggulan utama dari terapi sel adopsi (adoptive cell therapy) adalah
kemampuannya untuk menyesuaikan program aktivasi sel serta memodifikasi agen
terapeutik berbasis sel. Pada terapi vaksin kanker berbasis sel
dendritik (DC), respons CTL endogen dapat dihasilkan melalui mekanisme
restriksi standar MHC-I [150,151]. Namun demikian, setelah injeksi, sel
dendritik yang telah diaktivasi hanya bertahan dalam tubuh untuk waktu yang
relatif singkat. Akibatnya, hanya sebagian kecil dari sel tersebut yang
bermigrasi ke kelenjar getah bening drainase [152].
Walaupun terapi
sel T telah menunjukkan kemajuan pada keganasan hematologis, pendekatan ini
masih menghadapi tantangan dalam pengobatan tumor padat (solid tumors)
[153].
Selain itu, immune checkpoints dapat menghambat
perkembangan respons CTL di dalam mikro-lingkungan imun tumor [154]. Terapi
penghambat immune checkpoint memiliki potensi yang besar, tetapi hanya
sebagian kecil pasien yang mencapai respons lengkap. Hal ini disebabkan oleh
kurangnya respons sel T sitotoksik yang sudah ada sebelumnya (pre-existing
cytotoxic T-cell response) [155,156].
Oleh karena itu, terapi kombinasi antara inhibitor immune
checkpoint dan respons sel CD8+ yang kuat dianggap sebagai pendekatan yang
ideal. Mekanisme pasti dari blokade checkpoint masih belum sepenuhnya dipahami.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa jalur CD28 diperlukan untuk
memulihkan fungsi sel CD8+. Jalur CD28/B7 juga dianggap sebagai faktor
penting dalam terapi kanker yang menggunakan antibodi terhadap programmed
cell death protein-1 (PD-1) [157].
Beberapa hipotesis menyatakan bahwa kombinasi molekul
kostimulatori B7-1 dan B7-2 bersama antibodi PD-1 dapat membantu
mengatasi hambatan dalam imunoterapi [158]. Selain itu, pendekatan biomimetik
yang melibatkan sintesis dan presentasi kargo protein pada permukaan sel juga
menjadi strategi menjanjikan untuk menghasilkan nanocarrier yang memiliki ligan
spesifik [159,160]. Proses biosintesis ini memungkinkan protein mempertahankan
sifat struktural dan fungsionalnya [161].
6.2. Imunoterapi Menggunakan Nanocarrier Penarget PD-L1
Secara normal, sel imun mampu mengenali dan menghancurkan
sel kanker sebagai patogen asing. Namun, tumor dapat menghambat sinyal dan
metabolisme sel imun, baik melalui peningkatan mekanisme penghambatan sinyal
imun maupun peningkatan ekspresi reseptor penghambat pada permukaan tumor
[162].
Terapi blokade immune checkpoint telah menunjukkan
keberhasilan klinis yang signifikan, khususnya dengan menargetkan sumbu PD-L1
(programmed death-ligand 1) dan PD-1 (programmed cell death protein-1)
[163]. Saat ini, para peneliti
memanfaatkan teknologi nanoteknologi medis untuk meningkatkan
efektivitas, keamanan, sensitivitas, serta personalisasi terapi tersebut [164].
Selain
menargetkan PD-1, PD-L1 juga menjadi target potensial. Dalam salah satu
penelitian, peneliti menggabungkan peptida yang mengenali PD-L1 dengan peptida
afinitas terhadap vaskularisasi tumor, kemudian memasukkannya ke dalam
nanopartikel methoxy poly(ethylene glycol)3000-poly(ε-caprolactone)20000 (MPEG-PCL). Pada model tikus dengan tumor, kelompok
yang menerima nanopartikel bermuatan paclitaxel menunjukkan peningkatan
waktu kelangsungan hidup masing-masing sebesar 47,5 hari dan 19,5 hari [165].
Dalam penelitian
lain, molekul IR780 dikonjugasikan dengan peptida anti-PD-L1 untuk
membentuk nanopartikel [166]. Ketika tumor dipaparkan dengan radiasi laser,
nanosistem tersebut mampu terakumulasi secara efektif di lokasi tumor dan
menghancurkannya. Konsentrasi peptida juga dapat memengaruhi populasi sel CD8+
T, CD4+ T, dan Treg, sehingga membantu memulihkan
keseimbangan mikro-lingkungan tumor (tumour microenvironment/TME) serta
memperkuat kemampuan sistem imun dalam menghambat pertumbuhan tumor [166].
Model hewan dalam
penelitian tersebut menunjukkan penurunan pertumbuhan tumor yang disertai
peningkatan sel T efektor serta sitokin imun aktif seperti IL-6, IL-2, TNF-α, dan IFN-γ [166].
Dalam penelitian
lain, peneliti terlebih dahulu menyaring peptida yang mampu berikatan dengan
PD-L1 sebelum membuat nanopartikel [167]. Analisis homologi dan struktur
menunjukkan bahwa PD-L1 dapat berinteraksi dengan PD-L1 Pep-1 atau PD-L1
Pep-2. Tikus yang diinjeksi dengan peptida tersebut menunjukkan penurunan
pertumbuhan tumor serta peningkatan rasio CD8+/FoxP3+. Namun, ketika
peptida dan doksorubisin dihantarkan bersama melalui liposom, tumor
dapat dieliminasi sepenuhnya dan persentase sel T CD8+ meningkat secara
signifikan [167].
Penelitian lain
melaporkan penggunaan nanopartikel human serum albumin (HSA)–kurkumin
yang dilapisi peptida pengikat PD-L1 (TYLCGAISLAPKAQIKASL) [168].
Nanopartikel berukuran sekitar 246 nm ini mampu diinternalisasi secara
efisien oleh sel kanker payudara yang mengekspresikan PD-L1. Meskipun
nanosistem ini meningkatkan kematian sel kanker, penelitian in vivo yang
lebih terkontrol masih diperlukan untuk memvalidasi efektivitas strategi ini
[168].
Kelompok peneliti
lain mengkonjugasikan peptida pengikat PD-L1 dengan dua rantai hidrofobik stearyl
menggunakan penghubung sensitif pH untuk mengevaluasi potensi kemo-imunoterapi
[169]. Senyawa baru ini kemudian dikombinasikan dengan doksorubisin
untuk membentuk kompleks nanopartikel. Dalam mikro-lingkungan tumor yang
bersifat asam, nanopartikel akan terurai dan melepaskan doksorubisin, sehingga
memicu imunoterapi dan kemoterapi secara simultan [169].
Strategi
kombinasi ini, baik pada studi in vitro maupun in vivo, terbukti
mampu menekan pertumbuhan tumor CT26 secara signifikan sekaligus
menstimulasi respons imun antitumor yang kuat.
7. Adjuvan
Nano-Vaksin yang Disetujui FDA untuk Uji Klinis
Seiring dengan
adanya kekhawatiran terkait aspek keamanan dalam pengembangan adjuvan vaksin
baru, banyak di antaranya telah dievaluasi secara menyeluruh melalui studi
praklinis dan klinis. Salah satu adjuvan yang umum digunakan di Amerika
Serikat, yaitu alum, telah mendapatkan persetujuan. Lebih dari 70 tahun yang
lalu, vaksin pertama yang menggunakan adjuvan alum telah disetujui.
Pada tahun 1997,
Komisi Eropa mengizinkan penggunaan formulasi vaksin influenza yang
dimodifikasi yang mengandung adjuvan MF59. Pada tahun 2009, suatu adjuvan
vaksin yang dikenal sebagai AS03 telah memperoleh lisensi untuk digunakan dalam
vaksin influenza. Penggunaan adjuvan berbasis liposom, seperti virosom, telah
disetujui oleh FDA dalam vaksin influenza dan hepatitis A pada tahun 2000.
Selain itu, kombinasi adjuvan berbasis alum dan adjuvan monofosforil lipid A
(MPLA), yaitu AS04, juga telah memperoleh persetujuan di Amerika Serikat dan
Eropa. Tabel 3 menunjukkan berbagai jenis adjuvan yang telah dilisensikan untuk
digunakan pada manusia [170].
Meskipun memiliki
berbagai keunggulan, seperti biaya yang lebih rendah, tingkat keamanan yang
lebih baik, dan hasil produksi yang tinggi, banyak antigen vaksin yang belum
cukup efektif dalam merangsang respons imun tubuh karena kurangnya faktor
intrinsik tertentu, seperti pathogen-associated molecular patterns
(PAMPs). Pemahaman mengenai peran PAMPs dalam menstimulasi respons imun serta
bagaimana proses ini diatur dan dikoordinasikan sangatlah penting [171].
Telah dinyatakan
bahwa material partikulat dapat menstimulasi sinyal pada sistem imun bawaan (innate
immune system) [172]. Oleh karena itu, adjuvan dikembangkan untuk
mengaktivasi reseptor pada sel imun yang mampu mendeteksi stres seluler dan
sinyal bahaya.
Tabel 3. Adjuvan
vaksin yang disetujui untuk digunakan pada manusia. (Dicetak ulang
dengan izin dari [170]).
Pengembangan awal adjuvan belum mampu menghasilkan hasil
klinis yang memadai karena rendahnya tolerabilitas dan sifat reaktogeniknya. Seiring dengan karakterisasi vaksin
malaria dan HIV, muncul rasional untuk mengombinasikan berbagai jenis adjuvan
[173]. Pendekatan ini berpotensi menghasilkan respons imun yang lebih
efektif dan beragam. Kombinasi adjuvan tersebut memanfaatkan sistem
penghantaran yang mencakup alum, emulsi atau liposom, serta berbagai agen
imunostimulan, seperti dsRNA, monofosforil lipid A (MPLA) bakteri, atau saponin
Quillaja [173].
Generasi baru sistem terapi kanker dikembangkan berdasarkan
model penghantaran yang tervalidasi dan prinsip-prinsip farmasetika [134].
Sistem penghantaran vaksin berfokus pada aktivasi sinyal imun yang dapat
diarahkan melalui formulasi antigen [174,175]. Vaksin AS01, yang menggunakan
sistem adjuvan berbasis liposom, memberikan perlindungan yang lebih baik
dibandingkan formulasi serupa pada vaksin AS02 [66,176]. Kandidat vaksin
malaria berbasis protein rekombinan (RTS,S) dikembangkan menggunakan sistem adjuvan
AS01, yang menunjukkan bahwa kombinasi dua imunopotensiator diperlukan untuk
mencapai efektivitas optimal. Adjuvan AS01 mengandung saponin QS-21 dan MPLA.
Penelitian menunjukkan bahwa kombinasi QS-21 dan MPLA mampu mengaktivasi
respons imun bawaan, yang selanjutnya memperkuat respons imun adaptif
[174–176].
Sistem adjuvan AS01 dapat menstimulasi respons sel T pada
manusia terhadap berbagai antigen vaksin. Hal ini disebabkan oleh efek sinergis
berbagai imunopotensiator yang dikombinasikan dengan MPLA dan QS-21. Hasil
penelitian tersebut memberikan arah baru dalam pengembangan sistem adjuvan yang
inovatif [174].
Rasional penggunaan sebagian besar adjuvan dalam vaksin
telah dikonfirmasi melalui data dari studi klinis [66,174–176]. Adjuvan umumnya
digunakan untuk menstimulasi respons sistem imun dengan memfasilitasi migrasi
sel yang teraktivasi menuju kelenjar getah bening. Proses ini membantu
meningkatkan imunitas adaptif terhadap patogen. Aktivasi jalur sinyal bahaya
dan pathogen-associated molecular patterns (PAMPs) dapat mendorong
rekrutmen berbagai sel efektor, seperti sel B dan sel T, serta aktivasi sel
penyaji antigen (antigen-presenting cells, APC).
Penelitian menunjukkan bahwa deplesi APC yang telah
teraktivasi dapat digunakan untuk menstimulasi produksi sel T spesifik terhadap
antigen vaksin. Fenotipe sel T spesifik antigen ditentukan oleh sifat aktivasi
sinyal imun. Proliferasi sel T CD4+ dapat dirangsang oleh sekresi
interleukin-18 oleh makrofag subkapsular [177,178]. Selain itu, sekresi sitokin
tertentu oleh APC yang teraktivasi dapat mendorong diferensiasi sel T menuju
fenotipe follicular helper [179]. Penggunaan sistem adjuvan yang
mengandung ligan TLR (Toll-like receptor) dapat meningkatkan kualitas
dan keragaman repertoar klonal sel T spesifik antigen, serta meningkatkan
afinitas reseptor sel T (TCR) [180].
Matrix-M
merupakan salah satu adjuvan penting yang dikembangkan oleh Novavax, Inc.
Senyawa ini berasal dari kulit pohon Soapbark. Adjuvan Matrix-M
digunakan dalam formulasi vaksin anti-SARS-CoV-2 berbasis protein rekombinan.
Vaksin COVID-19 tersebut saat ini sedang menjalani uji klinis fase awal. Selain
itu, adjuvan Matrix-M mampu menstimulasi produksi antibodi dengan kemampuan netralisasi
tinggi serta menginduksi respons sel T yang kuat, sehingga mampu memberikan
perlindungan terhadap berbagai varian virus [181,182].
Diketahui bahwa beberapa saponin, seperti QS-21, dapat
menginduksi titer antibodi yang tinggi serta respons sel T sitotoksik spesifik
terhadap antigen OVA melalui aktivasi kaspase-1 pada sinus subkapsular. Saponin tersebut juga mengaktivasi
tirosin-protein kinase SYK melalui destabilisasi lisosom [183]. Saponin,
termasuk Matrix-M, berperan penting dalam pengembangan respons imun bawaan yang
kemudian memicu respons imun seluler dan humoral. Namun, mekanisme kerja pasti dari adjuvan ini
masih belum sepenuhnya dipahami.
Mekanisme kerja
adjuvan dapat dikaji lebih lanjut melalui pendekatan biologi sistem dalam
pengembangan vaksin [88]. Rasional dan pendekatan mekanistik ini berkaitan erat
dengan tingkat penerimaan dan efektivitas vaksin beradjuvan pada manusia.
Informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyusun protokol yang memungkinkan
evaluasi dan perbandingan berbagai jenis sistem adjuvan, baik pada model klinis
maupun non-klinis. Suatu penelitian menunjukkan bahwa efek lima jenis vaksin
yang berbeda terhadap sel T CD4+ tidak mengubah fenotipenya [184]. Oleh karena
itu, tidak selalu tepat untuk mengasumsikan bahwa kualitas respons imun
individu sepenuhnya dipengaruhi oleh penggunaan adjuvan.
8.
Nanopartikel sebagai Alat untuk Penghantaran Vaksin
Keterbatasan
vaksin menyebabkan ketidakmampuannya untuk secara tepat menargetkan jaringan
tempat pelepasan yang diinginkan, sehingga mengakibatkan distribusi vaksin yang
tidak spesifik pada sel inang. Selain itu, sel dapat menerima konsentrasi obat
yang tinggi akibat posisinya dalam lingkungan seluler inang [185]. Permasalahan
ini dapat diatasi melalui penggunaan sistem penghantaran obat berbasis
nanopartikel.
Penghantaran
vaksin merupakan salah satu aplikasi utama nanopartikel (NPs), yang berperan
penting dalam pengembangan vaksin baru [186]. Dalam proses penghantaran vaksin,
sangat penting untuk mengendalikan pelepasan obat dan mengarahkannya ke lokasi
target. Dua pendekatan utama dalam penargetan oleh nanopartikel adalah
penargetan pasif dan penargetan aktif. Proses penargetan ini bertujuan untuk
mengantarkan vaksin secara spesifik ke populasi sel tertentu guna menghindari
kerusakan pada organ lain.
Nanopartikel
non-targeting mengalami penargetan pasif karena tidak memiliki molekul
penarget. Sebaliknya, penargetan aktif melibatkan penambahan agen penarget
tertentu yang memungkinkan interaksi dengan permukaan sel. Sebagai contoh,
penghantaran yang terarah dapat dicapai dengan melapisi partikel terapeutik
menggunakan antibodi yang mampu mengenali reseptor antigen spesifik pada sel
dendritik [187,188].
Vaksin juga dapat
dihantarkan menggunakan nanopartikel oksida besi superparamagnetik yang
berdiameter antara 1 hingga 30 nm. Karena memiliki domain magnetik yang
unik, partikel ini dapat dimanfaatkan dalam teknik penargetan magnetik.
Kemampuan membawa berbagai biomolekul dengan beragam gugus fungsi permukaan
serta biaya produksi yang relatif rendah merupakan beberapa keunggulan utama
nanopartikel oksida besi [189,190].
Kemampuan pelacakan (traceability) nanopartikel
vaksin menjadi keunggulan penting dalam berbagai metode penghantaran. Sebagai
contoh, kombinasi dengan antigen lain melalui metode inhalasi atau penghantaran
optik dapat memberikan perlindungan terhadap berbagai penyakit sekaligus [191].
Agen kemoterapi dan obat bertarget dapat menyebabkan remisi
serta mengurangi beban tumor secara keseluruhan. Namun, berbagai sekuela
terkait kanker dan mekanisme resistensi masih menjadi hambatan dalam
pengembangan terapi kanker yang dapat diterapkan secara luas. Berbagai peptida bebas dan antigen permukaan telah
diidentifikasi dihasilkan oleh sel kanker. Antigen atau peptida khas ini
menjadi dasar dalam pengembangan vaksin kanker inovatif yang mampu melindungi
pasien terhadap jenis tumor tertentu.
Pengembangan
vaksin kanker menegaskan pentingnya sistem penghantaran yang efektif untuk
pengobatan berbagai penyakit. Berbagai kondisi medis, termasuk kanker, dapat
ditangani melalui pemanfaatan nanopartikel [192]. Nanopartikel dapat digunakan
untuk menghantarkan vaksin atau adjuvan yang mampu menstimulasi respons imun
tubuh terhadap berbagai penyakit mematikan.
Beragam jenis
vaksin dan agen terapeutik telah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit,
dan dapat dimodifikasi untuk menargetkan tumor secara spesifik melalui
perubahan komposisi atau sifat permukaannya. Tabel 4 merangkum berbagai jenis
vaksin kanker yang saat ini tersedia [193].
Salah satu
tantangan utama dalam pengembangan vaksin baru adalah kemampuan untuk
menghantarkan antigen ke populasi sel tertentu, seperti sel NK (natural
killer) dan sel penyaji antigen (antigen-presenting cells, APC). Hal
ini penting untuk memicu respons imunologis terhadap penyakit. Sifat antigen
yang rapuh membuatnya rentan terhadap degradasi dalam lingkungan mikro darah.
Degradasi cepat peptida dan antigen dapat menyebabkan kegagalan penghantaran ke
sel inang, sehingga menghasilkan respons imun yang tidak optimal [61].
Oleh karena itu,
terdapat kebutuhan mendesak untuk mengembangkan metode penghantaran baru yang
mampu mengantarkan antigen tanpa mengurangi bioaktivitasnya.
Tabel 4. Berbagai jenis vaksin kanker dan implementasinya
dalam praktik klinis.
Salah satu cara
untuk meningkatkan efektivitas penghantaran antigen adalah dengan memanfaatkan
nanopartikel. Berkat berbagai keunggulannya, nanopartikel dipertimbangkan
sebagai vektor penghantaran potensial untuk vaksin kanker. Keunggulan tersebut
meliputi kemampuan mempertahankan aktivitas biologis, meningkatkan
bioavailabilitas, serta mencegah degradasi antigen. Berbagai jenis nanopartikel
dapat digunakan sebagai sistem penghantaran, seperti material polimer, misel,
nanostruktur karbon, nanopartikel silika mesopori (mesoporous silica
nanoparticles, MSNs), nanopartikel emas (gold nanoparticles, AuNPs),
serta virus [212].
Inkorporasi agen
penarget permukaan yang spesifik dapat meningkatkan efisiensi penghantaran
nanopartikel serta mengoptimalkan penetrasinya ke organel seluler tertentu yang
berperan dalam respons imun bawaan [213–215]. Vaksin aktif dapat dikembangkan
dengan mengombinasikan berbagai komponen, seperti peptida penembus sel (cell-penetrating
peptides), agen imunostimulan, dan epitop spesifik untuk sel penyaji
antigen (antigen-presenting cells, APC) [216].
9. Tantangan Terkini dan Pengembangan di Masa Depan
Tantangan dalam penyajian antigen naif serta isu toksisitas
merupakan beberapa faktor yang dapat membatasi pengembangan vaksin. Selain itu,
terdapat berbagai kendala dalam proses produksi nanopartikel. Salah satu
tantangan utama dalam pengembangan nano-vaksin di lingkungan steril adalah
proses peningkatan skala produksi (scale-up). Meskipun teknik baru telah
dikembangkan untuk mengatasi sebagian hambatan tersebut, penanganan proses scale-up
dalam kondisi steril tetap menjadi tantangan signifikan [217,218].
Karena ukurannya yang sangat kecil, nanopartikel dapat
dengan mudah mencapai berbagai organ dan jaringan dalam tubuh. Penggunaan nano-vaksin melalui injeksi intradermal
dapat menimbulkan berbagai gangguan kulit. Selain itu, pemberian melalui rute
oral atau nasal berpotensi menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan.
Material nanostruktur juga dapat menembus sawar pelindung otak, yang berpotensi
menyebabkan kerusakan sel saraf [219,220].
Studi pada hewan
coba menunjukkan bahwa agregasi nanopartikel dapat menyebabkan trombosis
vaskular. Kombinasi nanopartikel dengan adjuvan juga berpotensi menyebabkan
akumulasi dalam sel inang, sehingga menimbulkan kekhawatiran terkait paparan
jangka panjang. Sebagai contoh, penelitian pada tikus menunjukkan bahwa quantum
dots dapat bertahan dalam tubuh hingga dua tahun [221]. Meskipun ISCOMs
dapat digunakan pada berbagai vaksin hewan, penggunaan adjuvan berbasis saponin
masih dilarang pada manusia karena sifat toksiknya. Oleh karena itu, penggunaan
nanopartikel dalam vaksin masih memerlukan kajian lebih lanjut [221,222].
Saat ini,
pemanfaatan nanopartikel untuk penghantaran vaksin masih berada pada tahap
awal. Penelitian perlu menunjukkan validitas dan ketelitian temuan serta
membuktikan aplikasinya dalam konteks klinis. Meskipun sifat fisik nanopartikel
diketahui memengaruhi interaksi biologis, dampak spesifiknya masih belum
sepenuhnya dipahami. Eliminasi nanopartikel yang cepat dapat menyebabkan
degradasi dan menurunkan efektivitas terapi.
Diperlukan metode
baru untuk meningkatkan reproduktibilitas material, termasuk pengembangan
pendekatan yang mampu mengatasi berbagai permasalahan kualitas dalam aplikasi
medis dan kesehatan masyarakat. Desain nanopartikel harus mampu menghindari
pengikatan protein, tidak bersifat toksik, serta mampu menghindari eliminasi
cepat. Diperlukan keseimbangan dalam modifikasi nanopartikel untuk memastikan
efektivitas penghantaran vaksin dan stabilitas dalam sirkulasi.
Vaksin perlu
diarahkan secara spesifik ke sel target atau lokasi aktivitas tertentu agar
efektif. Nanopartikel yang digunakan sebagai sistem penghantaran vaksin
diharapkan bersifat biodegradable atau tidak toksik serta dapat dieliminasi
secara sempurna dari tubuh. Berbagai sistem penghantaran hibrida, seperti
kombinasi polimer–lipid dan nanopartikel organik, dapat dimanfaatkan untuk
meningkatkan imunitas seluler.
Partikel mirip
virus (virus-like particles) berbasis klinis telah menunjukkan kemajuan
signifikan, dan beberapa di antaranya telah memperoleh lisensi untuk digunakan
secara global [223]. Namun, sebagian metode penghantaran berbasis
nanopartikel masih berada pada tahap awal pengembangan dengan hasil yang belum
optimal.
Hipotesis lain
menyatakan bahwa biologi kanker itu sendiri dapat memicu mekanisme supresi
sistem imun, terutama pada jenis kanker yang resistan terhadap terapi. Meskipun
vaksin berbasis nanopartikel dapat memicu respons imun, intensitasnya sering
kali belum memadai. Pada pasien tertentu, diperlukan pendekatan yang bersifat
personalisasi untuk menyesuaikan respons imun dengan kondisi spesifik.
Penghantaran nanopartikel ke lokasi tumor juga dapat
menghadapi respons imun yang terkompromi. Penelitian menunjukkan bahwa
peningkatan aktivitas sel T regulator (Treg) dapat menurunkan ekspresi antigen.
Hal ini menunjukkan bahwa efek terapeutik vaksin berbasis nanopartikel
memerlukan respons imun yang berkelanjutan dan terpersonalisasi.
Strategi penelitian yang sederhana namun sistematis
diperlukan, misalnya dengan mengevaluasi respons sel imun atau mikro lingkungan
tumor terhadap terapi nanopartikel pada berbagai jenis kanker. Respons imun
humoral maupun respons seluler ex vivo dapat menjadi acuan penting dalam
pengembangan produk nanopartikel baru.
10. Kesimpulan
Bidang penelitian adjuvan terus mengalami perkembangan dari
waktu ke waktu. Saat ini, jumlah adjuvan vaksin yang disetujui masih terbatas.
Melalui pendekatan desain iteratif dan high-throughput screening,
diharapkan dapat diidentifikasi dan dikembangkan adjuvan yang lebih efektif
dalam meningkatkan respons imun di masa depan.
Pemahaman mendasar mengenai imunologi bawaan terus
berkembang, sehingga memungkinkan identifikasi pendekatan optimal dalam
pengembangan vaksin. Pengetahuan ini
juga membuka peluang untuk menemukan jalur baru serta memodifikasi mekanisme
pensinyalan yang telah ada. Dengan demikian, peneliti dapat mengendalikan
aktivasi respons imun bawaan secara lebih presisi, sehingga menghasilkan
adjuvan baru dengan hasil yang lebih baik, seperti polarisasi sel T yang
spesifik atau penurunan reaktogenisitas vaksin.
Penggunaan nanopartikel dapat meningkatkan penyajian antigen
dan menstimulasi respons imun yang kuat untuk imunisasi yang efektif. Salah
satu faktor utama yang mendorong pengembangan vaksin adalah pemanfaatan
nanopartikel yang menyerupai atau dimodifikasi dari virus. Keberhasilan vaksin
HPV, misalnya, telah mendorong pengembangan vaksin lain dengan menggabungkan
berbagai antigen struktural yang mampu memicu respons imun dan melawan sel
kanker.
Nanopartikel alami yang menyerupai sistem biologis (natural
nanoparticle mimics) memiliki potensi sebagai mekanisme penghantaran
vaksin. Mereka dapat memanfaatkan
fungsi alaminya, seperti sirkulasi dan pengenalan sel, serta menghindari
mekanisme eliminasi yang umum terjadi pada sistem nanopartikel. Salah satu
tantangan terbesar dalam pemanfaatan nanopartikel adalah eliminasi yang cepat
dari tubuh. Jalur mekanistik yang mengatur ekskresi nanopartikel dari jaringan
dan sel setelah masuk ke dalam sel masih terus diteliti.
Melalui
modifikasi sifat permukaan, seperti bentuk, komposisi, dan ukuran, nanopartikel
dapat meningkatkan respons imun terhadap berbagai penyakit. Ke depan,
pemanfaatan nanopartikel dalam praktik klinis harus didukung oleh metode
produksi skala besar yang kuat, dapat direproduksi, dan berbiaya efisien.
Referensi
- Chatterjee,
P. Nipah virus outbreak in India. Lancet 2018, 391,
2200. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Team,
W.E.R. Ebola virus disease in West Africa—The first 9 months of the
epidemic and forward projections. N. Engl. J. Med. 2014, 371,
1481–1495. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Alimolaie,
A. A review of coronavirus disease-2019 (COVID-19). Iran. J. Biol. 2020, 3,
152–157. [Google Scholar]
- Lee,
S.; Nguyen, M.T. Recent advances of vaccine adjuvants for infectious
diseases. Immune Netw. 2015, 15,
51–57. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Corey,
L.; Mascola, J.R.; Fauci, A.S.; Collins, F.S. A strategic approach to
COVID-19 vaccine R&D. Science 2020, 368,
948–950. [Google Scholar] [PubMed]
- Apostolico,
J.d.S.; Lunardelli, V.A.S.; Coirada, F.C.; Boscardin, S.B.; Rosa, D.S.
Adjuvants: Classification, modus operandi, and licensing. J.
Immunol. Res. 2016, 2016, 1459394. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Glenny,
A.; Pope, C.; Waddington, H.; Wallace, U. Immunological notes.
xvii–xxiv. J. Pathol. Bacteriol. 1926, 29,
31–40. [Google Scholar] [CrossRef]
- Gherardi,
R.K.; Authier, F.-J. Aluminum inclusion macrophagic myofasciitis: A
recently identified condition. Immunol. Allergy Clin. 2003, 23,
699–712. [Google Scholar] [CrossRef]
- Petrovsky,
N. Comparative safety of vaccine adjuvants: A summary of current evidence
and future needs. Drug Saf. 2015, 38,
1059–1074. [Google Scholar] [CrossRef]
- Opie,
E.L.; Freund, J. An experimental study of protective inoculation with heat
killed tubercle bacilli. J. Exp. Med. 1937, 66,
761. [Google Scholar] [CrossRef]
- Sun,
B.; Xia, T. Nanomaterial-based vaccine adjuvants. J. Mater. Chem.
B 2016, 4, 5496–5509. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
- Krishnamachari,
Y.; Geary, S.M.; Lemke, C.D.; Salem, A.K. Nanoparticle delivery systems in
cancer vaccines. Pharm. Res. 2011, 28,
215–236. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Hokmabad,
V.R.; Davaran, S.; Aghazadeh, M.; Alizadeh, E.; Salehi, R.; Ramazani, A. A
comparison of the effects of silica and hydroxyapatite nanoparticles on
poly (ε-caprolactone)-poly (ethylene glycol)-poly
(ε-caprolactone)/chitosan nanofibrous scaffolds for bone tissue
engineering. Tissue Eng. Regen. Med. 2018, 15,
735–750. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Bishop,
C.J.; Kozielski, K.L.; Green, J.J. Exploring the role of polymer structure
on intracellular nucleic acid delivery via polymeric nanoparticles. J.
Control. Release 2015, 219, 488–499. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Wang,
X.-W.; Gao, W.; Fan, H.; Ding, D.; Lai, X.-F.; Zou, Y.-X.; Chen, L.; Chen,
Z.; Tan, W. Simultaneous tracking of drug molecules and carriers using
aptamer-functionalized fluorescent superstable gold nanorod–carbon
nanocapsules during thermo-chemotherapy. Nanoscale 2016, 8,
7942–7948. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
- Wang,
L.; Hu, C.; Shao, L. The antimicrobial activity of nanoparticles: Present
situation and prospects for the future. Int. J. Nanomed. 2017, 12,
1227–1249. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
- Park,
W.H. Hydrogen peroxide inhibits the growth of lung cancer cells via the
induction of cell death and G1-phase arrest. Oncol. Rep. 2018, 40,
1787–1794. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Park,
W.; Heo, Y.-J.; Han, D.K. New opportunities for nanoparticles in cancer
immunotherapy. Biomater. Res. 2018, 22,
1–10. [Google Scholar] [CrossRef]
- Oberg,
A.L.; Kennedy, R.B.; Li, P.; Ovsyannikova, I.G.; Poland, G.A. Systems
biology approaches to new vaccine development. Curr. Opin.
Immunol. 2011, 23, 436–443. [Google Scholar] [CrossRef]
- Pillarisetti,
S.; Uthaman, S.; Huh, K.M.; Koh, Y.S.; Lee, S.; Park, I.-K. Multimodal
composite iron oxide nanoparticles for biomedical applications. Tissue
Eng. Regen. Med. 2019, 16, 451–465. [Google Scholar] [CrossRef]
- Yang,
C.; Park, G.K.; McDonald, E.J.; Choi, H.S. Targeted near-infrared
fluorescence imaging for regenerative medicine. Tissue Eng. Regen.
Med. 2019, 16, 433–442. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Corbo,
C.; Molinaro, R.; Tabatabaei, M.; Farokhzad, O.C.; Mahmoudi, M.
Personalized protein corona on nanoparticles and its clinical
implications. Biomater. Sci. 2017, 5,
378–387. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
- Corbo,
C.; Molinaro, R.; Parodi, A.; Toledano Furman, N.E.; Salvatore, F.;
Tasciotti, E. The impact of nanoparticle protein corona on cytotoxicity,
immunotoxicity and target drug delivery. Nanomedicine 2016, 11,
81–100. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
- Fang,
R.H.; Kroll, A.V.; Gao, W.; Zhang, L. Cell membrane coating
nanotechnology. Adv. Mater. 2018, 30,
1706759. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Gao,
W.; Hu, C.M.J.; Fang, R.H.; Luk, B.T.; Su, J.; Zhang, L. Surface
functionalization of gold nanoparticles with red blood cell
membranes. Adv. Mater. 2013, 25,
3549–3553. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Vijayan,
V.; Uthaman, S.; Park, I.-K. Cell membrane-camouflaged nanoparticles: A
promising biomimetic strategy for cancer theragnostics. Polymers 2018, 10,
983. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Peer,
D.; Karp, J.M.; Hong, S.; Farokhzad, O.C.; Margalit, R.; Langer, R.
Nanocarriers as an emerging platform for cancer therapy. Nat.
Nanotechnol. 2007, 2, 751–760. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Hu,
C.-M.J.; Zhang, L.; Aryal, S.; Cheung, C.; Fang, R.H.; Zhang, L.
Erythrocyte membrane-camouflaged polymeric nanoparticles as a biomimetic
delivery platform. Proc. Natl. Acad. Sci. USA 2011, 108,
10980–10985. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Hu,
C.M.J.; Fang, R.H.; Zhang, L. Erythrocyte-inspired delivery systems. Adv.
Healthc. Mater. 2012, 1, 537–547. [Google Scholar] [CrossRef]
- Lee,
L.A.; Wang, Q. Adaptations of nanoscale viruses and other protein cages
for medical applications. Nanomed. Nanotechnol. Biol. Med. 2006, 2,
137–149. [Google Scholar] [CrossRef]
- Kang,
S.; Pushko, P.; Bright, R.; Smith, G.; Compans, R. Influenza virus-like
particles as pandemic vaccines. In Vaccines For Pandemic Influenza;
Springer: Berlin/Heidelberg, Geramny, 2009; pp. 269–289. [Google Scholar]
- Castón,
J.; Carrascosa, J. The Basic Architecture of Viruses. Struct.
Phys. Viruses Integr. Textb. 2013, 68, 53–75.
[Google Scholar]
- Gheibihayat,
S.M.; Sadeghinia, A.; Nazarian, S.; Adeli, Z. Mechanisms and performances
of adjuvants in vaccine immunogenicity. J. Appl. Biotechnol. Rep. 2015, 2,
257–264. [Google Scholar]
- HogenEsch,
H. Mechanism of immunopotentiation and safety of aluminum adjuvants. Front.
Immunol. 2013, 3, 406. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Mbow,
M.L.; De Gregorio, E.; Valiante, N.M.; Rappuoli, R. New adjuvants for
human vaccines. Curr. Opin. Immunol. 2010, 22,
411–416. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Harandi,
A.M.; Davies, G.; Olesen, O.F. Vaccine adjuvants: Scientific challenges
and strategic initiatives. Expert Rev. Vaccines 2009, 8,
293–298. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Nazarizadeh,
A.; Staudacher, A.H.; Wittwer, N.L.; Turnbull, T.; Brown, M.P.; Kempson,
I. Aluminium nanoparticles as efficient adjuvants compared to their
microparticle counterparts: Current progress and perspectives. Int.
J. Mol. Sci. 2022, 23, 4707. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Irvine,
D.J.; Hanson, M.C.; Rakhra, K.; Tokatlian, T. Synthetic nanoparticles for
vaccines and immunotherapy. Chem. Rev. 2015, 115,
11109–11146. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Li,
Z.Z.; Zhong, N.N.; Cao, L.M.; Cai, Z.M.; Xiao, Y.; Wang, G.R.; Liu, B.;
Xu, C.; Bu, L.L. Nanoparticles Targeting Lymph Nodes for Cancer
Immunotherapy: Strategies and Influencing Factors. Small 2024, 20,
2308731. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Swaminathan,
G.; Thoryk, E.A.; Cox, K.S.; Meschino, S.; Dubey, S.A.; Vora, K.A.;
Celano, R.; Gindy, M.; Casimiro, D.R.; Bett, A.J. A novel lipid
nanoparticle adjuvant significantly enhances B cell and T cell responses
to sub-unit vaccine antigens. Vaccine 2016, 34,
110–119. [Google Scholar] [CrossRef]
- Verma,
M.; Ozer, I.; Xie, W.; Gallagher, R.; Teixeira, A.; Choy, M. The landscape
for lipid-nanoparticle-based genomic medicines. Nat. Rev. Drug
Discov. 2023, 22, 349–350. [Google Scholar] [CrossRef]
- Boisselier,
E.; Astruc, D. Gold nanoparticles in nanomedicine: Preparations, imaging,
diagnostics, therapies and toxicity. Chem. Soc. Rev. 2009, 38,
1759–1782. [Google Scholar] [CrossRef]
- Anderson,
J.M.; Shive, M.S. Biodegradation and biocompatibility of PLA and PLGA
microspheres. Adv. Drug Deliv. Rev. 1997, 28,
5–24. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Slütter,
B.; Bal, S.; Keijzer, C.; Mallants, R.; Hagenaars, N.; Que, I.; Kaijzel,
E.; van Eden, W.; Augustijns, P.; Löwik, C. Nasal vaccination with
N-trimethyl chitosan and PLGA based nanoparticles: Nanoparticle
characteristics determine quality and strength of the antibody response in
mice against the encapsulated antigen. Vaccine 2010, 28,
6282–6291. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Toh,
M.-R.; Chiu, G.N. Liposomes as sterile preparations and limitations of
sterilisation techniques in liposomal manufacturing. Asian J.
Pharm. Sci. 2013, 8, 88–95. [Google Scholar] [CrossRef]
- Prabhu,
P.; Patravale, V. Potential of nanocarriers in antigen delivery: The path
to successful vaccine delivery. Nanocarriers 2014, 1,
10–45. [Google Scholar]
- Loos,
C.; Syrovets, T.; Musyanovych, A.; Mailänder, V.; Landfester, K.;
Nienhaus, G.U.; Simmet, T. Functionalized polystyrene nanoparticles as a
platform for studying bio–nano interactions. Beilstein J.
Nanotechnol. 2014, 5, 2403–2412. [Google Scholar] [CrossRef]
- Epple,
M.; Ganesan, K.; Heumann, R.; Klesing, J.; Kovtun, A.; Neumann, S.;
Sokolova, V. Application of calcium phosphate nanoparticles in
biomedicine. J. Mater. Chem. 2010, 20,
18–23. [Google Scholar] [CrossRef]
- Biju,
V.; Mundayoor, S.; Omkumar, R.V.; Anas, A.; Ishikawa, M. Bioconjugated
quantum dots for cancer research: Present status, prospects and remaining
issues. Biotechnol. Adv. 2010, 28,
199–213. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Raman,
S.; Machaidze, G.; Lustig, A.; Aebi, U.; Burkhard, P. Structure-based
design of peptides that self-assemble into regular polyhedral
nanoparticles. Nanomed. Nanotechnol. Biol. Med. 2006, 2,
95–102. [Google Scholar] [CrossRef]
- Kunzmann,
A.; Andersson, B.; Thurnherr, T.; Krug, H.; Scheynius, A.; Fadeel, B.
Toxicology of engineered nanomaterials: Focus on biocompatibility,
biodistribution and biodegradation. Biochim. Biophys. Acta
(BBA)-Gen. Subj. 2011, 1810, 361–373. [Google Scholar] [CrossRef]
- Sun,
H.-X.; Xie, Y.; Ye, Y.-P. ISCOMs and ISCOMATRIX™. Vaccine 2009, 27,
4388–4401. [Google Scholar] [CrossRef]
- Kurosaki,
T.; Kitahara, T.; Fumoto, S.; Nishida, K.; Nakamura, J.; Niidome, T.;
Kodama, Y.; Nakagawa, H.; To, H.; Sasaki, H. Ternary complexes of pDNA,
polyethylenimine, and γ-polyglutamic acid for gene delivery systems. Biomaterials 2009, 30,
2846–2853. [Google Scholar] [CrossRef]
- Tenchov,
R.; Bird, R.; Curtze, A.E.; Zhou, Q. Lipid nanoparticles—From liposomes to
mRNA vaccine delivery, a landscape of research diversity and
advancement. ACS Nano 2021, 15,
16982–17015. [Google Scholar] [CrossRef]
- Agashe,
H.B.; Dutta, T.; Garg, M.; Jain, N. Investigations on the toxicological
profile of functionalized fifth-generation poly (propylene imine)
dendrimer. J. Pharm. Pharmacol. 2006, 58,
1491–1498. [Google Scholar] [CrossRef]
- Andreev,
S.; Babakhin, A.; Petrukhina, A.; Romanova, V.; Parnes, Z.; Petrov, R.
Immunogenic and allergenic properties of fulleren conjugates with
aminoacids and proteins. Dokl. Biochem. Proc. Acad. Sci. USSR
Biochem. Sect. 2000, 370, 4–7. [Google Scholar]
- De
Titta, A.; Ballester, M.; Julier, Z.; Nembrini, C.; Jeanbart, L.; Van Der
Vlies, A.J.; Swartz, M.A.; Hubbell, J.A. Nanoparticle conjugation of CpG
enhances adjuvancy for cellular immunity and memory recall at low
dose. Proc. Natl. Acad. Sci. USA 2013, 110,
19902–19907. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Almomen,
A.; Badran, M.; Alhowyan, A.A.; Alkholief, M.; Alshamsan, A.
Imiquimod-Loaded Chitosan-Decorated Di-Block and Tri-Block Polymeric
Nanoparticles Loaded In Situ Gel for the Management of Cervical
Cancer. Gels 2023, 9, 713. [Google Scholar] [CrossRef]
- Bal,
S.M.; Slütter, B.; Verheul, R.; Bouwstra, J.A.; Jiskoot, W. Adjuvanted,
antigen loaded N-trimethyl chitosan nanoparticles for nasal and
intradermal vaccination: Adjuvant-and site-dependent immunogenicity in
mice. Eur. J. Pharm. Sci. 2012, 45,
475–481. [Google Scholar] [CrossRef]
- Tiyaboonchai,
W. Chitosan nanoparticles: A promising system for drug delivery. Naresuan
Univ. J. Sci. Technol. 2013, 11, 51–66. [Google Scholar]
- Smith,
J.D.; Morton, L.D.; Ulery, B.D. Nanoparticles as synthetic vaccines. Curr.
Opin. Biotechnol. 2015, 34, 217–224. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Perotti,
M.; Perez, L. Virus-like particles and nanoparticles for vaccine
development against HCMV. Viruses 2019, 12,
35. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
- Kim,
K.R.; Lee, A.S.; Kim, S.M.; Heo, H.R.; Kim, C.S. Virus-like nanoparticles
as a theranostic platform for cancer. Front. Bioeng. Biotechnol. 2023, 10,
1106767. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Zhang,
L.; Xu, W.; Ma, X.; Sun, X.; Fan, J.; Wang, Y. Virus-like Particles as
Antiviral Vaccine: Mechanism, Design, and Application. Biotechnol.
Bioprocess Eng. 2023, 28, 1–16. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- He,
P.; Zou, Y.; Hu, Z. Advances in aluminum hydroxide-based adjuvant research
and its mechanism. Hum. Vaccines Immunother. 2015, 11,
477–488. [Google Scholar] [CrossRef]
- Garçon,
N.; Di Pasquale, A. From discovery to licensure, the Adjuvant System
story. Hum. Vaccines Immunother. 2017, 13,
19–33. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Lovgren,
K.; Morein, B. The requirement of lipids for the formation of
immunostimulating complexes (iscoms). Biotechnol. Appl. Biochem. 1988, 10,
161–172. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Reimer,
J.M.; Karlsson, K.H.; Lövgren-Bengtsson, K.; Magnusson, S.E.; Fuentes, A.;
Stertman, L. Matrix-M™ adjuvant induces local recruitment, activation and
maturation of central immune cells in absence of antigen. PLoS ONE 2012, 7,
e41451. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Koshy,
S.T.; Cheung, A.S.; Gu, L.; Graveline, A.R.; Mooney, D.J. Liposomal
delivery enhances immune activation by STING agonists for cancer
immunotherapy. Adv. Biosyst. 2017, 1,
1600013. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Schudel,
A.; Francis, D.M.; Thomas, S.N. Material design for lymph node drug
delivery. Nat. Rev. Mater. 2019, 4,
415–428. [Google Scholar] [CrossRef]
- Thomas,
S.N.; Vokali, E.; Lund, A.W.; Hubbell, J.A.; Swartz, M.A. Targeting the
tumor-draining lymph node with adjuvanted nanoparticles reshapes the
anti-tumor immune response. Biomaterials 2014, 35,
814–824. [Google Scholar] [CrossRef]
- Muñoz-Wolf,
N.; Ward, R.W.; Hearnden, C.H.; Sharp, F.A.; Geoghegan, J.; O’Grady, K.;
McEntee, C.P.; Shanahan, K.A.; Guy, C.; Bowie, A.G. Non-canonical
inflammasome activation mediates the adjuvanticity of nanoparticles. Cell
Rep. Med. 2023, 4, 100899. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Oyewumi,
M.O.; Kumar, A.; Cui, Z. Nano-microparticles as immune adjuvants:
Correlating particle sizes and the resultant immune responses. Expert
Rev. Vaccines 2010, 9, 1095–1107. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
- Yang,
X.; Coriolan, D.; Murthy, V.; Schultz, K.; Golenbock, D.T.; Beasley, D.
Proinflammatory phenotype of vascular smooth muscle cells: Role of
efficient Toll-like receptor 4 signaling. Am. J. Physiol.-Heart
Circ. Physiol. 2005, 289, H1069–H1076. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- García-Vallejo,
J.J.; Unger, W.W.; Kalay, H.; van Kooyk, Y. Glycan-based DC-SIGN targeting
to enhance antigen cross-presentation in anticancer vaccines. Oncoimmunology 2013, 2,
e23040. [Google Scholar] [CrossRef]
- Dhodapkar,
M.V.; Sznol, M.; Zhao, B.; Wang, D.; Carvajal, R.D.; Keohan, M.L.; Chuang,
E.; Sanborn, R.E.; Lutzky, J.; Powderly, J. Induction of antigen-specific
immunity with a vaccine targeting NY-ESO-1 to the dendritic cell receptor
DEC-205. Sci. Transl. Med. 2014, 6,
232ra51. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Stack,
T.; Vincent, M.; Vahabikashi, A.; Li, G.; Perkumas, K.M.; Stamer, W.D.;
Johnson, M.; Scott, E. Targeted delivery of cell softening micelles to
Schlemm’s canal endothelial cells for treatment of glaucoma. Small 2020, 16,
2004205. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Tamburini,
B.A.; Burchill, M.A.; Kedl, R.M. Antigen capture and archiving by
lymphatic endothelial cells following vaccination or viral
infection. Nat. Commun. 2014, 5, 3989.
[Google Scholar] [CrossRef]
- Xue,
Q.; Lu, Y.; Eisele, M.R.; Sulistijo, E.S.; Khan, N.; Fan, R.;
Miller-Jensen, K. Analysis of single-cell cytokine secretion reveals a
role for paracrine signaling in coordinating macrophage responses to TLR4
stimulation. Sci. Signal. 2015, 8,
ra59. [Google Scholar] [CrossRef]
- Deak,
P.; Studnitzer, B.; Ung, T.; Steinhardt, R.; Swartz, M.; Esser-Kahn, A.
Isolating and targeting a highly active, stochastic dendritic cell
subpopulation for improved immune responses. Cell Rep. 2022, 41,
111563. [Google Scholar] [CrossRef]
- Schenone,
M.; Dančík, V.; Wagner, B.K.; Clemons, P.A. Target identification and
mechanism of action in chemical biology and drug discovery. Nat.
Chem. Biol. 2013, 9, 232–240. [Google Scholar] [CrossRef]
- Suresh,
R.; Mosser, D.M. Pattern recognition receptors in innate immunity, host
defense, and immunopathology. Adv. Physiol. Educ. 2013, 37,
284–291. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Ishikawa,
H.; Barber, G.N. STING is an endoplasmic reticulum adaptor that
facilitates innate immune signalling. Nature 2008, 455,
674–678. [Google Scholar] [CrossRef]
- Sun,
L.; Wu, J.; Du, F.; Chen, X.; Chen, Z.J. Cyclic GMP-AMP synthase is a
cytosolic DNA sensor that activates the type I interferon pathway. Science 2013, 339,
786–791. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Albert,
M.L.; Sauter, B.; Bhardwaj, N. Dendritic cells acquire antigen from
apoptotic cells and induce class I-restricted CTLs. Nature 1998, 392,
86–89. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
- Yatim,
N.; Jusforgues-Saklani, H.; Orozco, S.; Schulz, O.; Barreira da Silva, R.;
Reis e Sousa, C.; Green, D.R.; Oberst, A.; Albert, M.L. RIPK1 and NF-κB
signaling in dying cells determines cross-priming of CD8+ T cells. Science 2015, 350,
328–334. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Netea,
M.G.; Domínguez-Andrés, J.; Barreiro, L.B.; Chavakis, T.; Divangahi, M.;
Fuchs, E.; Joosten, L.A.; van der Meer, J.W.; Mhlanga, M.M.; Mulder, W.J.
Defining trained immunity and its role in health and disease. Nat.
Rev. Immunol. 2020, 20, 375–388. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Pulendran,
B.; Arunachalam, P.S.; O’Hagan, D.T. Emerging concepts in the science of
vaccine adjuvants. Nat. Rev. Drug Discov. 2021, 20,
454–475. [Google Scholar] [CrossRef]
- Christian,
L.M.; Porter, K.; Karlsson, E.; Schultz-Cherry, S. Proinflammatory
cytokine responses correspond with subjective side effects after influenza
virus vaccination. Vaccine 2015, 33,
3360–3366. [Google Scholar] [CrossRef]
- Verbeke,
R.; Lentacker, I.; De Smedt, S.C.; Dewitte, H. Three decades of messenger
RNA vaccine development. Nano Today 2019, 28,
100766. [Google Scholar] [CrossRef]
- Tahtinen,
S.; Tong, A.-J.; Himmels, P.; Oh, J.; Paler-Martinez, A.; Kim, L.;
Wichner, S.; Oei, Y.; McCarron, M.J.; Freund, E.C. IL-1 and IL-1ra are key
regulators of the inflammatory response to RNA vaccines. Nat.
Immunol. 2022, 23, 532–542. [Google Scholar] [CrossRef]
- Matias,
J.; Kurokawa, C.; Sajid, A.; Narasimhan, S.; Arora, G.; Diktas, H.; Lynn,
G.E.; DePonte, K.; Pardi, N.; Valenzuela, J.G. Tick immunity using mRNA,
DNA and protein-based Salp14 delivery strategies. Vaccine 2021, 39,
7661–7668. [Google Scholar] [CrossRef]
- Sajid,
A.; Matias, J.; Arora, G.; Kurokawa, C.; DePonte, K.; Tang, X.; Lynn, G.;
Wu, M.-J.; Pal, U.; Strank, N.O. mRNA vaccination induces tick resistance
and prevents transmission of the Lyme disease agent. Sci. Transl.
Med. 2021, 13, eabj9827. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Zhu,
D.; Tuo, W. QS-21: A potent vaccine adjuvant. Nat. Prod. Chem.
Res. 2016, 3, e113. [Google Scholar]
- Wang,
P. Natural and Synthetic Saponins as Vaccine Adjuvants. Vaccines 2021, 9,
222. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Sun,
H.-X.; Xie, Y.; Ye, Y.-P. Advances in saponin-based adjuvants. Vaccine 2009, 27,
1787–1796. [Google Scholar] [CrossRef]
- Moser,
B.; Steinhardt, R.; Escalante-Buendia, Y.; Boltz, D.; Barker, K.;
Cassaidy, B.; Rosenberger, M.; Yoo, S.; McGonnigal, B.; Esser-Kahn, A.
Increased vaccine tolerability and protection via NF-κB modulation. Sci.
Adv. 2020, 6, eaaz8700. [Google Scholar] [CrossRef]
- Moser,
B.A.; Escalante-Buendia, Y.; Steinhardt, R.C.; Rosenberger, M.G.;
Cassaidy, B.J.; Naorem, N.; Chon, A.C.; Nguyen, M.H.; Tran, N.T.;
Esser-Kahn, A.P. Small molecule NF-κB inhibitors as immune potentiators
for enhancement of vaccine adjuvants. Front. Immunol. 2020, 11,
511513. [Google Scholar] [CrossRef]
- Zhu,
J.; Yamane, H.; Paul, W.E. Differentiation of effector CD4 T cell
populations. Annu. Rev. Immunol. 2009, 28,
445–489. [Google Scholar] [CrossRef]
- Ballas,
Z.K.; Krieg, A.M.; Warren, T.; Rasmussen, W.; Davis, H.L.; Waldschmidt,
M.; Weiner, G.J. Divergent therapeutic and immunologic effects of
oligodeoxynucleotides with distinct CpG motifs. J. Immunol. 2001, 167,
4878–4886. [Google Scholar] [CrossRef]
- Bungener,
L.; Geeraedts, F.; Ter Veer, W.; Medema, J.; Wilschut, J.; Huckriede, A.
Alum boosts TH2-type antibody responses to whole-inactivated virus
influenza vaccine in mice but does not confer superior protection. Vaccine 2008, 26,
2350–2359. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Miyauchi,
K.; Sugimoto-Ishige, A.; Harada, Y.; Adachi, Y.; Usami, Y.; Kaji, T.;
Inoue, K.; Hasegawa, H.; Watanabe, T.; Hijikata, A. Protective
neutralizing influenza antibody response in the absence of T follicular
helper cells. Nat. Immunol. 2016, 17,
1447–1458. [Google Scholar] [CrossRef]
- Zambrano-Zaragoza,
J.F.; Romo-Martínez, E.J.; Durán-Avelar, M.; García-Magallanes, N.;
Vibanco-Pérez, N. Th17 cells in autoimmune and infectious diseases. Int.
J. Inflamm. 2014, 2014, 651503. [Google Scholar] [CrossRef]
- Shen,
H.; Chen, Z.W. The crucial roles of Th17-related cytokines/signal pathways
in M. tuberculosis infection. Cell. Mol. Immunol. 2018, 15,
216–225. [Google Scholar] [CrossRef]
- Lyadova,
I.; Panteleev, A. Th1 and Th17 cells in tuberculosis: Protection,
pathology, and biomarkers. Mediat. Inflamm. 2015, 2015,
854507. [Google Scholar] [CrossRef]
- Tuzlak,
S.; Dejean, A.S.; Iannacone, M.; Quintana, F.J.; Waisman, A.; Ginhoux, F.;
Korn, T.; Becher, B. Repositioning TH cell polarization from single
cytokines to complex help. Nat. Immunol. 2021, 22,
1210–1217. [Google Scholar] [CrossRef]
- Crotty,
S. T follicular helper cell biology: A decade of discovery and
diseases. Immunity 2019, 50,
1132–1148. [Google Scholar] [CrossRef]
- Jia,
L.; Wu, C. The biology and functions of Th22 cells. In T Helper
Cell Differentiation and their Function; Springer: Dordrecht, The
Netherlands, 2014; pp. 209–230. [Google Scholar]
- Mirlekar,
B. Co-expression of master transcription factors determines CD4+ T cell
plasticity and functions in auto-inflammatory diseases. Immunol.
Lett. 2020, 222, 58–66. [Google Scholar] [CrossRef]
- Facciolà,
A.; Visalli, G.; Laganà, A.; Di Pietro, A. An overview of vaccine
adjuvants: Current evidence and future perspectives. Vaccines 2022, 10,
819. [Google Scholar] [CrossRef]
- Liang,
S.; Hajishengallis, G. Heat-labile enterotoxins as adjuvants or
anti-inflammatory agents. Immunol. Investig. 2010, 39,
449–467. [Google Scholar] [CrossRef]
- Fong,
D.; Hoemann, C.D. Chitosan immunomodulatory properties: Perspectives on
the impact of structural properties and dosage. Future Sci. 2017, 4,
FSO225. [Google Scholar] [CrossRef]
- Bharati,
K.; Ganguly, N.K. Cholera toxin: A paradigm of a multifunctional
protein. Indian J. Med. Res. 2011, 133,
179. [Google Scholar]
- Sarei,
F.; Dounighi, N.M.; Zolfagharian, H.; Khaki, P.; Bidhendi, S.M. Alginate
nanoparticles as a promising adjuvant and vaccine delivery system. Indian
J. Pharm. Sci. 2013, 75, 442. [Google Scholar]
- Coccia,
M.; Collignon, C.; Hervé, C.; Chalon, A.; Welsby, I.; Detienne, S.; Van
Helden, M.J.; Dutta, S.; Genito, C.J.; Waters, N.C. Cellular and molecular
synergy in AS01-adjuvanted vaccines results in an early IFNγ response
promoting vaccine immunogenicity. Vaccines 2017, 2,
25. [Google Scholar] [CrossRef]
- Cluff,
C.W. Monophosphoryl lipid A (MPL) as an adjuvant for anti-cancer vaccines:
Clinical results. In Lipid A Cancer Therapy; Springer: New
York, NY, USA, 2010; pp. 111–123. [Google Scholar]
- Garçon,
N.; Vaughn, D.W.; Didierlaurent, A.M. Development and evaluation of AS03,
an Adjuvant System containing α-tocopherol and squalene in an oil-in-water
emulsion. Expert Rev. Vaccines 2012, 11,
349–366. [Google Scholar] [CrossRef]
- Garçon,
N.; Morel, S.; Didierlaurent, A.; Descamps, D.; Wettendorff, M.; Van
Mechelen, M. Development of an AS04-adjuvanted HPV vaccine with the
adjuvant system approach. BioDrugs 2011, 25,
217–226. [Google Scholar] [CrossRef]
- Heo,
Y.; Ko, E.; Park, S.; Park, S.-O.; Ahn, B.-C.; Yum, J.-S.; Chun, E.
L-Pampo™, a Novel TLR2/3 Agonist, Acts as a Potent Cancer Vaccine Adjuvant
by Activating Draining Lymph Node Dendritic Cells. Cancers 2023, 15,
3978. [Google Scholar] [CrossRef]
- Parra-Izquierdo,
I.; Lakshmanan, H.H.S.; Melrose, A.R.; Pang, J.; Zheng, T.J.; Jordan,
K.R.; Reitsma, S.E.; McCarty, O.J.; Aslan, J.E. The toll-like receptor 2
ligand Pam2CSK4 activates platelet nuclear factor-κB and Bruton’s tyrosine
kinase signaling to promote platelet-endothelial cell interactions. Front.
Immunol. 2021, 12, 729951. [Google Scholar] [CrossRef]
- De
Waele, J.; Verhezen, T.; van der Heijden, S.; Berneman, Z.N.; Peeters, M.;
Lardon, F.; Wouters, A.; Smits, E.L. A systematic review on poly (I: C)
and poly-ICLC in glioblastoma: Adjuvants coordinating the unlocking of
immunotherapy. J. Exp. Clin. Cancer Res. 2021, 40,
1–20. [Google Scholar] [CrossRef]
- Hajam,
I.A.; Dar, P.A.; Shahnawaz, I.; Jaume, J.C.; Lee, J.H. Bacterial
flagellin—A potent immunomodulatory agent. Exp. Mol. Med. 2017, 49,
e373. [Google Scholar] [CrossRef]
- Bode,
C.; Zhao, G.; Steinhagen, F.; Kinjo, T.; Klinman, D.M. CpG DNA as a
vaccine adjuvant. Expert Rev. Vaccines 2011, 10,
499–511. [Google Scholar] [CrossRef]
- Ishizaka,
S.T.; Hawkins, L.; Chen, Q.; Tago, F.; Yagi, T.; Sakaniwa, K.; Zhang, Z.;
Shimizu, T.; Shirato, M. A novel Toll-like receptor 7/8–specific
antagonist E6742 Ameliorates clinically relevant disease parameters in
murine models of lupus. Eur. J. Pharmacol. 2023, 957,
175962. [Google Scholar] [CrossRef]
- Horvath,
D.; Basler, M. PLGA particles in immunotherapy. Pharmaceutics 2023, 15,
615. [Google Scholar] [CrossRef]
- Awate,
S.; Babiuk, L.A.; Mutwiri, G. Mechanisms of action of adjuvants. Front.
Immunol. 2013, 4, 114. [Google Scholar] [CrossRef]
- Singh,
M.; O’Hagan, D.T. Recent advances in vaccine adjuvants. Pharm.
Res. 2002, 19, 715–728. [Google Scholar] [CrossRef]
- Pashine,
A.; Valiante, N.M.; Ulmer, J.B. Targeting the innate immune response with
improved vaccine adjuvants. Nat. Med. 2005, 11,
S63–S68. [Google Scholar] [CrossRef]
- Gros,
M.; Amigorena, S. Regulation of antigen export to the cytosol during
cross-presentation. Front. Immunol. 2019, 10,
427958. [Google Scholar] [CrossRef]
- Shah,
R.R.; Hassett, K.J.; Brito, L.A. Overview of vaccine adjuvants:
Introduction, history, and current status. In Vaccine Adjuvants:
Methods and Protocols; Humana Press: New York, NY, USA, 2017; pp.
1–13. [Google Scholar]
- Olive,
C. Pattern recognition receptors: Sentinels in innate immunity and targets
of new vaccine adjuvants. Expert Rev. Vaccines 2012, 11,
237–256. [Google Scholar] [CrossRef]
- Skwarczynski,
M.; Toth, I. Peptide-based synthetic vaccines. Chem. Sci. 2016, 7,
842–854. [Google Scholar] [CrossRef]
- Poland,
G.A. Prevention of meningococcal disease: Current use of polysaccharide
and conjugate vaccines. Clin. Infect. Dis. 2010, 50,
S45–S53. [Google Scholar] [CrossRef]
- Brito,
L.A.; Malyala, P.; O’Hagan, D.T. Vaccine adjuvant formulations: A
pharmaceutical perspective. Semin. Immunol. 2013, 25,
130–145. [Google Scholar] [CrossRef]
- Harrison,
E.A.; Wu, J.W. Vaccine confidence in the time of COVID-19. Eur. J.
Epidemiol. 2020, 35, 325–330. [Google Scholar] [CrossRef]
- Van
Der Maaden, K.; Jiskoot, W.; Bouwstra, J. Microneedle technologies for
(trans) dermal drug and vaccine delivery. J. Control. Release 2012, 161,
645–655. [Google Scholar] [CrossRef]
- Verbaan,
F.; Bal, S.; Van den Berg, D.; Dijksman, J.; Van Hecke, M.; Verpoorten,
H.; Van Den Berg, A.; Luttge, R.; Bouwstra, J. Improved piercing of
microneedle arrays in dermatomed human skin by an impact insertion
method. J. Control. Release 2008, 128,
80–88. [Google Scholar] [CrossRef]
- Schipper,
P.; van der Maaden, K.; Romeijn, S.; Oomens, C.; Kersten, G.; Jiskoot, W.;
Bouwstra, J. Determination of depth-dependent intradermal immunogenicity
of adjuvanted inactivated polio vaccine delivered by microinjections via
hollow microneedles. Pharm. Res. 2016, 33,
2269–2279. [Google Scholar] [CrossRef]
- Schipper,
P.; van der Maaden, K.; Romeijn, S.; Oomens, C.; Kersten, G.; Jiskoot, W.;
Bouwstra, J. Repeated fractional intradermal dosing of an inactivated
polio vaccine by a single hollow microneedle leads to superior immune
responses. J. Control. Release 2016, 242,
141–147. [Google Scholar] [CrossRef]
- Du,
G.; Hathout, R.M.; Nasr, M.; Nejadnik, M.R.; Tu, J.; Koning, R.I.; Koster,
A.J.; Slütter, B.; Kros, A.; Jiskoot, W. Intradermal vaccination with
hollow microneedles: A comparative study of various protein antigen and
adjuvant encapsulated nanoparticles. J. Control. Release 2017, 266,
109–118. [Google Scholar] [CrossRef]
- Rosalia,
R.A.; Cruz, L.J.; van Duikeren, S.; Tromp, A.T.; Silva, A.L.; Jiskoot, W.;
de Gruijl, T.; Löwik, C.; Oostendorp, J.; van der Burg, S.H. CD40-targeted
dendritic cell delivery of PLGA-nanoparticle vaccines induce potent
anti-tumor responses. Biomaterials 2015, 40,
88–97. [Google Scholar] [CrossRef]
- Hafner,
A.M.; Corthésy, B.; Merkle, H.P. Particulate formulations for the delivery
of poly (I: C) as vaccine adjuvant. Adv. Drug Deliv. Rev. 2013, 65,
1386–1399. [Google Scholar] [CrossRef]
- Zaric,
M.; Lyubomska, O.; Touzelet, O.; Poux, C.; Al-Zahrani, S.; Fay, F.;
Wallace, L.; Terhorst, D.; Malissen, B.; Henri, S. Skin dendritic cell
targeting via microneedle arrays laden with antigen-encapsulated poly-D,
L-lactide-co-glycolide nanoparticles induces efficient antitumor and
antiviral immune responses. ACS Nano 2013, 7,
2042–2055. [Google Scholar] [CrossRef]
- Mody,
K.T.; Popat, A.; Mahony, D.; Cavallaro, A.S.; Yu, C.; Mitter, N.
Mesoporous silica nanoparticles as antigen carriers and adjuvants for
vaccine delivery. Nanoscale 2013, 5,
5167–5179. [Google Scholar] [CrossRef]
- Sudheesh,
M.; Vyas, S.; Kohli, D. Nanoparticle-based immunopotentiation via tetanus
toxoid-loaded gelatin and aminated gelatin nanoparticles. Drug
Delivery 2011, 18, 320–330. [Google Scholar] [CrossRef]
- Couzin-Frankel,
J. Cancer immunotherapy. Science 2013, 342,
6165. [Google Scholar] [CrossRef]
- Fuertes,
M.B.; Kacha, A.K.; Kline, J.; Woo, S.-R.; Kranz, D.M.; Murphy, K.M.;
Gajewski, T.F. Host type I IFN signals are required for antitumor CD8+ T
cell responses through CD8α+ dendritic cells. J. Exp. Med. 2011, 208,
2005–2016. [Google Scholar] [CrossRef]
- Steinman,
R.M. Decisions about dendritic cells: Past, present, and future. Annu.
Rev. Immunol. 2012, 30, 1–22. [Google Scholar] [CrossRef]
- Heath,
W.R.; Carbone, F.R. Cross-presentation in viral immunity and
self-tolerance. Nat. Rev. Immunol. 2001, 1,
126–134. [Google Scholar] [CrossRef]
- Steinman,
R.M.; Banchereau, J. Taking dendritic cells into medicine. Nature 2007, 449,
419–426. [Google Scholar] [CrossRef]
- Palucka,
K.; Banchereau, J. Cancer immunotherapy via dendritic cells. Nat.
Rev. Cancer 2012, 12, 265–277. [Google Scholar] [CrossRef]
- Park,
D.; Lapteva, N.; Seethammagari, M.; Slawin, K.M.; Spencer, D.M. An
essential role for Akt1 in dendritic cell function and tumor
immunotherapy. Nat. Biotechnol. 2006, 24,
1581–1590. [Google Scholar] [CrossRef]
- Shah,
N.N.; Fry, T.J. Mechanisms of resistance to CAR T cell therapy. Nat.
Rev. Clin. Oncol. 2019, 16, 372–385. [Google Scholar] [CrossRef]
- Ribas,
A.; Wolchok, J.D. Cancer immunotherapy using checkpoint blockade. Science 2018, 359,
1350–1355. [Google Scholar] [CrossRef]
- Brahmer,
J.R.; Tykodi, S.S.; Chow, L.Q.; Hwu, W.-J.; Topalian, S.L.; Hwu, P.;
Drake, C.G.; Camacho, L.H.; Kauh, J.; Odunsi, K. Safety and activity of
anti–PD-L1 antibody in patients with advanced cancer. N. Engl. J.
Med. 2012, 366, 2455–2465. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Garon,
E.B.; Rizvi, N.A.; Hui, R.; Leighl, N.; Balmanoukian, A.S.; Eder, J.P.;
Patnaik, A.; Aggarwal, C.; Gubens, M.; Horn, L. Pembrolizumab for the
treatment of non–small-cell lung cancer. N. Engl. J. Med. 2015, 372,
2018–2028. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Hui,
E.; Cheung, J.; Zhu, J.; Su, X.; Taylor, M.J.; Wallweber, H.A.; Sasmal,
D.K.; Huang, J.; Kim, J.M.; Mellman, I. T cell costimulatory receptor CD28
is a primary target for PD-1–mediated inhibition. Science 2017, 355,
1428–1433. [Google Scholar] [CrossRef]
- Liu,
C.; Liu, X.; Xiang, X.; Pang, X.; Chen, S.; Zhang, Y.; Ren, E.; Zhang, L.;
Liu, X.; Lv, P. A nanovaccine for antigen self-presentation and
immunosuppression reversal as a personalized cancer immunotherapy
strategy. Nat. Nanotechnol. 2022, 17,
531–540. [Google Scholar] [CrossRef]
- Chen,
Z.; Wang, Z.; Gu, Z. Bioinspired and biomimetic nanomedicines. Acc.
Chem. Res. 2019, 52, 1255–1264. [Google Scholar] [CrossRef]
- Zhang,
P.; Zhang, L.; Qin, Z.; Hua, S.; Guo, Z.; Chu, C.; Lin, H.; Zhang, Y.; Li,
W.; Zhang, X. Genetically engineered liposome-like nanovesicles as active
targeted transport platform. Adv. Mater. 2018, 30,
1705350. [Google Scholar] [CrossRef]
- Liu,
X.; Liu, C.; Zheng, Z.; Chen, S.; Pang, X.; Xiang, X.; Tang, J.; Ren, E.;
Chen, Y.; You, M. Vesicular antibodies: A bioactive multifunctional
combination platform for targeted therapeutic delivery and cancer
immunotherapy. Adv. Mater. 2019, 31,
1808294. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- He,
X.; Xu, C. Immune checkpoint signaling and cancer immunotherapy. Cell
Res. 2020, 30, 660–669. [Google Scholar] [CrossRef]
- Jiang,
Y.; Chen, M.; Nie, H.; Yuan, Y. PD-1 and PD-L1 in cancer immunotherapy:
Clinical implications and future considerations. Hum. Vaccines
Immunother. 2019, 15, 1111–1122. [Google Scholar] [CrossRef]
- Tran,
T.H.; Phuong Tran, T.T. Targeting the PD-1/PD-L1 axis for cancer
treatment: A review on nanotechnology. R. Soc. Open Sci. 2022, 9,
211991. [Google Scholar] [CrossRef]
- Sun,
Z.; Zhang, Y.; Cao, D.; Wang, X.; Yan, X.; Li, H.; Huang, L.; Qu, X.;
Kong, C.; Qin, H. PD-1/PD-L1 pathway and angiogenesis dual recognizable
nanoparticles for enhancing chemotherapy of malignant cancer. Drug
Deliv. 2018, 25, 1746–1755. [Google Scholar] [CrossRef]
- Wang,
N.; Zhou, Y.; Xu, Y.; Ren, X.; Zhou, S.; Shang, Q.; Jiang, Y.; Luan, Y.
Molecular engineering of anti-PD-L1 peptide and photosensitizer for immune
checkpoint blockade photodynamic-immunotherapy. Chem. Eng. J. 2020, 400,
125995. [Google Scholar] [CrossRef]
- Gurung,
S.; Khan, F.; Gunassekaran, G.R.; Do Yoo, J.; Vadevoo, S.M.P.; Permpoon,
U.; Kim, S.-H.; Kim, H.-J.; Kim, I.-S.; Han, H. Phage display-identified
PD-L1-binding peptides reinvigorate T-cell activity and inhibit tumor
progression. Biomaterials 2020, 247,
119984. [Google Scholar] [CrossRef]
- Hasanpoor,
Z.; Mostafaie, A.; Nikokar, I.; Hassan, Z.M. Curcumin-human serum albumin
nanoparticles decorated with PDL1 binding peptide for targeting
PDL1-expressing breast cancer cells. Int. J. Biol. Macromol. 2020, 159,
137–153. [Google Scholar] [CrossRef]
- Zhu,
W.; Bai, Y.; Zhang, N.; Yan, J.; Chen, J.; He, Z.; Sun, Q.; Pu, Y.; He,
B.; Ye, X. A tumor extracellular pH-sensitive PD-L1 binding peptide
nanoparticle for chemo-immunotherapy of cancer. J. Mater. Chem. B 2021, 9,
4201–4210. [Google Scholar] [CrossRef]
- Verma,
S.K.; Mahajan, P.; Singh, N.K.; Gupta, A.; Aggarwal, R.; Rappuoli, R.;
Johri, A.K. New-age vaccine adjuvants, their development, and future
perspective. Front. Immunol. 2023, 14,
1043109. [Google Scholar] [CrossRef]
- Paul,
W.E. Bridging innate and adaptive immunity. Cell 2011, 147,
1212–1215. [Google Scholar] [CrossRef]
- Martinon,
F.; Mayor, A.; Tschopp, J. The inflammasomes: Guardians of the body. Annu.
Rev. Immunol. 2009, 27, 229–265. [Google Scholar] [CrossRef]
- Coffman,
R.L.; Sher, A.; Seder, R.A. Vaccine adjuvants: Putting innate immunity to
work. Immunity 2010, 33, 492–503. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Didierlaurent,
A.M.; Collignon, C.; Bourguignon, P.; Wouters, S.; Fierens, K.; Fochesato,
M.; Dendouga, N.; Langlet, C.; Malissen, B.; Lambrecht, B.N. Enhancement
of adaptive immunity by the human vaccine adjuvant AS01 depends on
activated dendritic cells. J. Immunol. 2014, 193,
1920–1930. [Google Scholar] [CrossRef]
- Duewell,
P.; Kisser, U.; Heckelsmiller, K.; Hoves, S.; Stoitzner, P.; Koernig, S.;
Morelli, A.B.; Clausen, B.E.; Dauer, M.; Eigler, A. ISCOMATRIX adjuvant
combines immune activation with antigen delivery to dendritic cells in
vivo leading to effective cross-priming of CD8+ T cells. J.
Immunol. 2011, 187, 55–63. [Google Scholar] [CrossRef]
- Garcon,
N.; Van Mechelen, M. Recent clinical experience with vaccines using
MPL-and QS-21-containing adjuvant systems. Expert Rev. Vaccines 2011, 10,
471–486. [Google Scholar] [CrossRef]
- Desbien,
A.L.; Dubois Cauwelaert, N.; Reed, S.J.; Bailor, H.R.; Liang, H.; Carter,
D.; Duthie, M.S.; Fox, C.B.; Reed, S.G.; Orr, M.T. IL-18 and subcapsular
lymph node macrophages are essential for enhanced B cell responses with
TLR4 agonist adjuvants. J. Immunol. 2016, 197,
4351–4359. [Google Scholar] [CrossRef]
- Kazmin,
D.; Nakaya, H.I.; Lee, E.K.; Johnson, M.J.; Van Der Most, R.; Van Den
Berg, R.A.; Ballou, W.R.; Jongert, E.; Wille-Reece, U.; Ockenhouse, C.
Systems analysis of protective immune responses to RTS, S malaria
vaccination in humans. Proc. Natl. Acad. Sci. USA 2017, 114,
2425–2430. [Google Scholar] [CrossRef]
- Bentebibel,
S.-E.; Khurana, S.; Schmitt, N.; Kurup, P.; Mueller, C.; Obermoser, G.;
Palucka, A.K.; Albrecht, R.A.; Garcia-Sastre, A.; Golding, H. ICOS+ PD-1+
CXCR3+ T follicular helper cells contribute to the generation of
high-avidity antibodies following influenza vaccination. Sci. Rep. 2016, 6,
26494. [Google Scholar] [CrossRef]
- Fazilleau,
N.; McHeyzer-Williams, L.J.; Rosen, H.; McHeyzer-Williams, M.G. The
function of follicular helper T cells is regulated by the strength of T
cell antigen receptor binding. Nat. Immunol. 2009, 10,
375–384. [Google Scholar] [CrossRef]
- Heath,
P.T.; Galiza, E.P.; Baxter, D.N.; Boffito, M.; Browne, D.; Burns, F.;
Chadwick, D.R.; Clark, R.; Cosgrove, C.; Galloway, J. Safety and efficacy
of NVX-CoV2373 Covid-19 vaccine. N. Engl. J. Med. 2021, 385,
1172–1183. [Google Scholar] [CrossRef]
- Keech,
C.; Albert, G.; Cho, I.; Robertson, A.; Reed, P.; Neal, S.; Plested, J.S.;
Zhu, M.; Cloney-Clark, S.; Zhou, H. Phase 1–2 trial of a SARS-CoV-2
recombinant spike protein nanoparticle vaccine. N. Engl. J. Med. 2020, 383,
2320–2332. [Google Scholar] [CrossRef]
- Welsby,
I.; Detienne, S.; N’Kuli, F.; Thomas, S.; Wouters, S.; Bechtold, V.; De
Wit, D.; Gineste, R.; Reinheckel, T.; Elouahabi, A. Lysosome-dependent
activation of human dendritic cells by the vaccine adjuvant QS-21. Front.
Immunol. 2017, 7, 663. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Leroux-Roels,
G.; Marchant, A.; Levy, J.; Van Damme, P.; Schwarz, T.F.; Horsmans, Y.;
Jilg, W.; Kremsner, P.G.; Haelterman, E.; Clément, F. Impact of adjuvants
on CD4+ T cell and B cell responses to a protein antigen vaccine: Results
from a phase II, randomized, multicenter trial. Clin. Immunol. 2016, 169,
16–27. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Nelson,
E. Kinetics of drug absorption, distribution, metabolism, and
excretion. J. Pharm. Sci. 1961, 50,
181–192. [Google Scholar] [CrossRef]
- O’Hagan,
D.T.; Singh, M. Microparticles as vaccine adjuvants and delivery
systems. Expert Rev. Vaccines 2003, 2,
269–283. [Google Scholar] [CrossRef]
- Danhier,
F.; Feron, O.; Préat, V. To exploit the tumor microenvironment: Passive
and active tumor targeting of nanocarriers for anti-cancer drug
delivery. J. Control. Release 2010, 148,
135–146. [Google Scholar] [CrossRef]
- Wang,
M.; Thanou, M. Targeting nanoparticles to cancer. Pharmacol. Res. 2010, 62,
90–99. [Google Scholar] [CrossRef]
- Mahmoudi,
M.; Sant, S.; Wang, B.; Laurent, S.; Sen, T. Superparamagnetic iron oxide
nanoparticles (SPIONs): Development, surface modification and applications
in chemotherapy. Adv. Drug Deliv. Rev. 2011, 63,
24–46. [Google Scholar] [CrossRef]
- Mou,
X.; Ali, Z.; Li, S.; He, N. Applications of magnetic nanoparticles in
targeted drug delivery system. J. Nanosci. Nanotechnol. 2015, 15,
54–62. [Google Scholar] [CrossRef]
- Bao,
G.; Mitragotri, S.; Tong, S. Multifunctional nanoparticles for drug
delivery and molecular imaging. Annu. Rev. Biomed. Eng. 2013, 15,
253–282. [Google Scholar] [CrossRef]
- Wen,
R.; Umeano, A.C. Role of targeting nanoparticles for cancer immunotherapy
and imaging. Trends Immunother. 2019, 3,
79–88. [Google Scholar] [CrossRef]
- Nasti,
T.H.; Eberhardt, C.S. Vaccination against cancer or infectious agents
during checkpoint inhibitor therapy. Vaccines 2021, 9,
1396. [Google Scholar] [CrossRef]
- Sankaranarayanan,
R.; Joshi, S.; Muwonge, R.; Esmy, P.O.; Basu, P.; Prabhu, P.; Bhatla, N.;
Nene, B.M.; Shaw, J.; Poli, U.R.R. Can a single dose of human
papillomavirus (HPV) vaccine prevent cervical cancer? Early findings from
an Indian study. Vaccine 2018, 36,
4783–4791. [Google Scholar] [CrossRef]
- Wang,
M.; Zhao, J.; Zhang, L.; Wei, F.; Lian, Y.; Wu, Y.; Gong, Z.; Zhang, S.;
Zhou, J.; Cao, K. Role of tumor microenvironment in tumorigenesis. J.
Cancer 2017, 8, 761. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
- Lorenzo-Luaces,
P.; Sanchez, L.; Saavedra, D.; Crombet, T.; Van der Elst, W.; Alonso, A.;
Molenberghs, G.; Lage, A. Identifying predictive biomarkers of CIMAvaxEGF
success in non–small cell lung cancer patients. BMC Cancer 2020, 20,
1–8. [Google Scholar] [CrossRef]
- Hu,
Z.; Leet, D.E.; Allesøe, R.L.; Oliveira, G.; Li, S.; Luoma, A.M.; Liu, J.;
Forman, J.; Huang, T.; Iorgulescu, J.B. Personal neoantigen vaccines
induce persistent memory T cell responses and epitope spreading in
patients with melanoma. Nat. Med. 2021, 27,
515–525. [Google Scholar] [CrossRef]
- Lei,
J.; Ploner, A.; Elfström, K.M.; Wang, J.; Roth, A.; Fang, F.; Sundström,
K.; Dillner, J.; Sparén, P. HPV vaccination and the risk of invasive
cervical cancer. N. Engl. J. Med. 2020, 383,
1340–1348. [Google Scholar] [CrossRef]
- Wargowski,
E.; Johnson, L.E.; Eickhoff, J.C.; Delmastro, L.; Staab, M.J.; Liu, G.;
McNeel, D.G. Prime-boost vaccination targeting prostatic acid phosphatase
(PAP) in patients with metastatic castration-resistant prostate cancer
(mCRPC) using Sipuleucel-T and a DNA vaccine. J. Immunother.
Cancer 2018, 6, 1–12. [Google Scholar] [CrossRef]
- Liu,
K.-J.; Chao, T.-Y.; Chang, J.-Y.; Cheng, A.-L.; Ch’ang, H.-J.; Kao, W.-Y.;
Wu, Y.-C.; Yu, W.-L.; Chung, T.-R.; Whang-Peng, J. A phase I clinical
study of immunotherapy for advanced colorectal cancers using
carcinoembryonic antigen-pulsed dendritic cells mixed with tetanus toxoid
and subsequent IL-2 treatment. J. Biomed. Sci. 2016, 23,
1–11. [Google Scholar] [CrossRef]
- Gao,
T.; Cen, Q.; Lei, H. A review on development of MUC1-based cancer
vaccine. Biomed. Pharmacother. 2020, 132,
110888. [Google Scholar] [CrossRef]
- Corulli,
L.R.; Cecil, D.L.; Gad, E.; Koehnlein, M.; Coveler, A.L.; Childs, J.S.;
Lubet, R.A.; Disis, M.L. Multi-Epitope-Based vaccines for colon cancer
treatment and prevention. Front. Immunol. 2021, 12,
729809. [Google Scholar] [CrossRef]
- Faiena,
I.; Comin-Anduix, B.; Berent-Maoz, B.; Bot, A.; Zomorodian, N.; Sachdeva,
A.; Said, J.; Cheung-Lau, G.; Pang, J.; Macabali, M. A phase I,
open-label, dose-escalation, and cohort expansion study to evaluate the
safety and immune response to autologous dendritic cells transduced with
AdGMCA9 (DC-AdGMCAIX) in patients with metastatic renal cell
carcinoma. J. Immunother. 2020, 43,
273–282. [Google Scholar] [CrossRef]
- Obara,
W.; Karashima, T.; Takeda, K.; Kato, R.; Kato, Y.; Kanehira, M.; Takata,
R.; Inoue, K.; Katagiri, T.; Shuin, T. Effective induction of cytotoxic T
cells recognizing an epitope peptide derived from hypoxia-inducible
protein 2 (HIG2) in patients with metastatic renal cell carcinoma. Cancer
Immunol. Immunother. 2017, 66, 17–24. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Yoshimura,
K.; Uemura, H. Role of vaccine therapy for renal cell carcinoma in the era
of targeted therapy. Int. J. Urol. 2013, 20,
744–755. [Google Scholar] [CrossRef]
- Redelman-Sidi,
G.; Glickman, M.S.; Bochner, B.H. The mechanism of action of BCG therapy
for bladder cancer—A current perspective. Nat. Rev. Urol. 2014, 11,
153–162. [Google Scholar] [CrossRef]
- Platten,
M.; Bunse, L.; Wick, A.; Bunse, T.; Le Cornet, L.; Harting, I.; Sahm, F.;
Sanghvi, K.; Tan, C.L.; Poschke, I. A vaccine targeting mutant IDH1 in
newly diagnosed glioma. Nature 2021, 592,
463–468. [Google Scholar] [CrossRef]
- Liau,
L.M.; Ashkan, K.; Tran, D.D.; Campian, J.L.; Trusheim, J.E.; Cobbs, C.S.;
Heth, J.A.; Salacz, M.; Taylor, S.; D’Andre, S.D. First results on
survival from a large Phase 3 clinical trial of an autologous dendritic
cell vaccine in newly diagnosed glioblastoma. J. Transl. Med. 2018, 16,
1–9. [Google Scholar]
- Pallerla,
S.; Abdul, A.u.R.M.; Comeau, J.; Jois, S. Cancer vaccines, treatment of
the future: With emphasis on HER2-positive breast cancer. Int. J.
Mol. Sci. 2021, 22, 779. [Google Scholar] [CrossRef]
- Mittendorf,
E. HER-2 Pulsed Dendritic Cell Vaccine Can Eliminate HER-2 Expression and
Impact Ductal Carcinoma In Situ. Breast Dis. Year Book Q. 2013, 1,
55–56. [Google Scholar] [CrossRef]
- Rini,
B.I.; Weinberg, V.; Fong, L.; Conry, S.; Hershberg, R.M.; Small, E.J.
Combination immunotherapy with prostatic acid phosphatase pulsed
antigen-presenting cells (provenge) plus bevacizumab in patients with
serologic progression of prostate cancer after definitive local
therapy. Cancer Interdiscip. Int. J. Am. Cancer Soc. 2006, 107,
67–74. [Google Scholar] [CrossRef]
- Wen,
R.; Banik, B.; Pathak, R.K.; Kumar, A.; Kolishetti, N.; Dhar, S.
Nanotechnology inspired tools for mitochondrial dysfunction related
diseases. Adv. Drug Deliv. Rev. 2016, 99,
52–69. [Google Scholar] [CrossRef]
- Sun,
Y.-W.; Xu, J.; Zhou, J.; Liu, W.-J. Targeted drugs for systemic therapy of
lung cancer with brain metastases. Oncotarget 2018, 9,
5459. [Google Scholar] [CrossRef]
- Wen,
R.; Umeano, A.C.; Francis, L.; Sharma, N.; Tundup, S.; Dhar, S.
Mitochondrion: A promising target for nanoparticle-based vaccine delivery
systems. Vaccines 2016, 4, 18. [Google Scholar] [CrossRef]
- Xu,
J.; Du, Y.; Liu, X.-J.; Zhu, B.-Y.; Zhang, S.-H.; Li, L.; Li, Y.; Wang,
X.-F.; Shan, C.-K.; Wang, R.-Q. Recombinant EGFR/MMP-2 bi-targeted fusion
protein markedly binding to non-small-cell lung carcinoma and exerting
potent therapeutic efficacy. Pharmacol. Res. 2017, 126,
66–76. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Fujita,
Y.; Taguchi, H. Current status of multiple antigen-presenting peptide
vaccine systems: Application of organic and inorganic nanoparticles. Chem.
Cent. J. 2011, 5, 1–8. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Huntimer,
L.M.; Ross, K.A.; Darling, R.J.; Winterwood, N.E.; Boggiatto, P.;
Narasimhan, B.; Ramer-Tait, A.E.; Wannemuehler, M.J. Polyanhydride
nanovaccine platform enhances antigen-specific cytotoxic T cell
responses. Technology 2014, 2,
171–175. [Google Scholar] [CrossRef]
- Shahbazi,
M.-A.; Santos, H.A. Revolutionary impact of nanovaccines on
immunotherapy. New Horiz. Transl. Med. 2015, 2,
44–50. [Google Scholar] [CrossRef]
- Cruz,
L.J.; Tacken, P.J.; Zeelenberg, I.S.; Srinivas, M.; Bonetto, F.; Weigelin,
B.; Eich, C.; De Vries, I.J.; Figdor, C.G. Tracking targeted bimodal
nanovaccines: Immune responses and routing in cells, tissue, and whole
organism. Mol. Pharm. 2014, 11,
4299–4313. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
- Nandedkar,
T. Nanotechnology a path to nanovaccine. Int. J. Pharma Bio Sci. 2012, 3,
290–292. [Google Scholar]
- Gonzalez-Aramundiz,
J.V.; Cordeiro, A.S.; Csaba, N.; De La Fuente, M.; Alonso, M.J.
Nanovaccines: Nanocarriers for antigen delivery. Biol. Aujourd’hui 2012, 206,
249–261. [Google Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Guy,
B. Adjuvants for protein-and carbohydrate-based vaccines. Carbohydr.-Based
Vaccines Immunother. 2009, 8, 89. [Google Scholar]
- Mohsen,
M.O.; Bachmann, M.F. Virus-like particle vaccinology, from bench to
bedside. Cell. Mol. Immunol. 2022, 19,
993–1011. [Google Scholar] [CrossRef]
SUMBER:
Mansab Ali Saleemi, Yan Zhang and Guoquan Zhang. 2024. Current
Progress in the Science of Novel Adjuvant Nano-Vaccine-Induced Protective
Immune Responses. Pathogens2024,
13(6), 441; https://doi.org/10.3390/pathogens13060441
#NanoVaksin
#Adjuvan
#Imunologi
#Bioteknologi
#InovasiVaksin

No comments:
Post a Comment