Tinjauan
tentang Mikrokapsul Berbasis Kitosan dan Alginat: Mekanisme dan Aplikasinya
dalam Sistem Penghantaran Obat
Abstrak
Polimer
alami seperti kitosan dan alginat memiliki potensi yang besar, baik dari segi
karakteristik maupun kemampuannya untuk dimodifikasi dan diproses sehingga
dapat digunakan sebagai media yang sesuai untuk pelepasan obat dan biomolekul
secara terkendali. Mikrokapsul didefinisikan sebagai partikel berukuran
mikrometer yang dapat digunakan untuk menyimpan berbagai senyawa kimia di
dalamnya.
Dalam
tinjauan ini, dibahas berbagai aspek penting terkait mikrokapsul, meliputi
keunggulan, komponen penyusun, mekanisme pelepasan, metode pembuatan, serta
aplikasinya dalam sistem penghantaran obat. Berbagai metode pembuatan
mikrokapsul menunjukkan efektivitas enkapsulasi yang tinggi dan berpotensi
diterapkan secara luas dalam bidang farmasi dan biomedis.
Keunggulan
utama teknik mikroenkapsulasi antara lain kemampuan memberikan pelepasan obat
secara berkelanjutan dan terkontrol, penargetan obat, peningkatan umur simpan,
stabilisasi senyawa aktif, serta imobilisasi enzim dan mikroorganisme. Seiring
dengan berkembangnya biomaterial baru untuk aplikasi dalam tubuh manusia,
material tersebut semakin sesuai untuk pengembangan sistem farmasi dibandingkan
bahan konvensional karena memiliki sifat yang lebih andal, biokompatibel,
biodegradable, dan tidak toksik.
Selain
itu, mikrokapsul yang dirancang mampu melindungi komponen aktif dari lingkungan
yang merugikan. Di masa depan, teknik yang lebih maju dapat dikembangkan untuk
memfasilitasi formulasi dan aplikasi mikrokapsul dalam industri farmasi dan
medis.
Pendahuluan
Mikrokapsul
merupakan partikel berukuran mikrometer yang dapat digunakan untuk menyimpan
berbagai senyawa kimia di dalamnya. Teknik membungkus partikel kecil berupa
padatan, cairan, atau gas di dalam ruang internal mikrokapsul dikenal sebagai mikroenkapsulasi.
Pembentukan
mikrokapsul menggunakan bahan yang berasal dari sumber alami saat ini menarik
perhatian besar dan telah menjadi fokus berbagai penelitian terbaru. Proses
pembentukan mikrokapsul umumnya dilakukan dengan melapisi suatu template
sementara menggunakan bahan pelapis. Setelah itu, template tersebut
dihilangkan sehingga meninggalkan rongga di dalam kapsul. Stabilitas lapisan
dapat dipertahankan melalui ikatan kovalen maupun interaksi yang lebih lemah.
Penggunaan polimer yang biokompatibel
sebagai lapisan pelindung sangat penting untuk aplikasi seperti penghantaran
obat atau bahan pangan. Karena ketersediaannya yang luas dan sifat
biokompatibelnya, polimer alami seperti polisakarida menarik perhatian
para peneliti untuk digunakan dalam pembuatan mikrokapsul.
Kitosan merupakan polisakarida
alami yang banyak digunakan dalam industri farmasi untuk pembuatan mikrokapsul.
Berbagai metode telah digunakan untuk menghasilkan mikrokapsul berbasis
kitosan, antara lain:
- teknik
emulsion cross-linking,
- thermal
cross-linking,
- spray
drying,
- ionic
cross-linking,
- coacervation
dan precipitation,
- serta
ionotropic gelation.
Polisakarida
alami lain yang banyak digunakan adalah alginat, yang memiliki potensi
tinggi sebagai pembawa bahan aktif farmasi (Active Pharmaceutical
Ingredient/API) maupun untuk enkapsulasi minyak.
Berbagai
sumber alami dapat digunakan untuk menghasilkan nanopartikel polisakarida.
Bahkan, ekstrak dari limbah organik dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan
baku potensial.
Nanopartikel
polisakarida yang memiliki kristalinitas tinggi menawarkan beberapa keunggulan,
seperti kekakuan struktural dan kekuatan tarik yang baik. Nanopartikel
selulosa dan kitin sering digunakan sebagai bahan penguat, dan sifat-sifat
tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan mikrokapsul dengan karakteristik
struktural yang lebih baik. Selain itu, partikel polisakarida kristalin seperti kitin
dan pati juga telah digunakan sebagai lapisan mikrokapsul.
Struktur
dan Karakteristik Mikrokapsul
Mikrokapsul
umumnya memiliki inti cair, atau cairan dapat didispersikan dalam
matriks polimer sebelum proses pemadatan. Mikrokapsul merupakan jenis
mikropartikel heterogen yang terdiri atas material inti (core) yang
membentuk reservoir dan dilapisi oleh lapisan polimer, sehingga dapat
mengontrol pelepasan obat dari dalamnya.
Mikrokapsul
biasanya didispersikan dalam berbagai bentuk sediaan farmasi, misalnya:
- kapsul gelatin keras dengan lapisan enterik,
- suspensi
cair,
- atau
kapsul gelatin lunak.
Bentuk-bentuk
tersebut memungkinkan pelepasan dan dispersi mikrokapsul secara individual
dalam sistem biologis.
Mikrokapsul
berfungsi memberikan pelepasan bahan aktif secara berkelanjutan dan
terkontrol, sehingga menghasilkan reproduksibilitas dan keseragaman yang
lebih baik.
Pelepasan
obat dari mikrokapsul dapat dipengaruhi oleh berbagai kondisi lingkungan
seperti:
- pH,
- kelembapan,
- suhu,
- medan
magnet,
- cahaya,
- gelombang
ultrasonik,
- gaya
mekanik,
- atau
kombinasi dari berbagai faktor tersebut.
Persentase
inti dalam mikrokapsul biasanya berkisar antara 10–90% (b/b).
Mikrokapsul dapat membawa berbagai jenis bahan, seperti:
- obat
farmasi,
- enzim,
- bahan
agrokimia,
- minyak,
- sel hidup, dan lain-lain.
Beberapa mikrokapsul bahkan dapat
memiliki lebih dari satu inti dan dilapisi oleh beberapa lapisan
konsentris.
Salah satu jenis mikrokapsul
adalah kolloidosom, yang memiliki inti berupa hidrogel atau rongga
kosong dan dikelilingi oleh dinding partikel koloid dengan ukuran antara 10–20
nm hingga milimeter.
Mekanisme
Pelepasan Obat
Difusi
obat melalui dinding kapsul bergantung pada ukuran pori pada lapisan tersebut.
Bahan eksipien padat sering digunakan untuk meningkatkan stabilitas, misalnya:
- silika
koloid anhidrat,
- kalsium
karbonat,
- dan
besi oksida,
yang
dapat membentuk emulsi Pickering.
Jenis eksipien yang digunakan
dapat memengaruhi proses ikatan silang kimia (cross-linking) maupun
proses annealing selama imobilisasi bahan aktif.
Sediaan farmasi yang
dienkapsulasi secara mikro telah lama digunakan dalam teknologi farmasi karena
terbukti aman dan efektif sebagai sistem pelepasan obat.
Seiring berkembangnya biomaterial
baru untuk aplikasi dalam tubuh manusia, material tersebut semakin cocok
digunakan dalam pengembangan sistem farmasi dibandingkan bahan konvensional
karena memiliki sifat yang lebih andal, biokompatibel, biodegradable, dan
tidak toksik.
Polimer alami bermuatan anionik
seperti natrium alginat juga dapat membentuk material berperforma tinggi
yang berfungsi sebagai bahan mikroenkapsulasi yang efektif serta memengaruhi
kinetika pelepasan obat melalui proses degradasinya di dalam tubuh.
Kesimpulan
Mikrokapsul
merupakan sistem penghantaran obat berbasis mikropartikel yang memiliki
berbagai aplikasi luas dalam bidang farmasi. Proses
mikroenkapsulasi mampu mengatasi banyak keterbatasan yang dimiliki oleh sistem
penghantaran obat konvensional.
Mikrokapsul dapat dirancang
secara efisien untuk mencapai penghantaran obat yang terarah (targeted
drug delivery). Selain itu, teknik mikroenkapsulasi juga dapat
meningkatkan stabilitas dan umur simpan berbagai senyawa yang bersifat
tidak stabil atau reaktif.
Referensi
1.
Uyen, N.T.T., et al. (2020). Fabrication of alginate microspheres for drug
delivery: A review. International Journal of Biological Macromolecules.
2. Lei, W., et al. (2018). Cellulose
nanocrystals obtained from waste paper and their potential application in PET
packaging materials. Carbohydrate Polymers.
3. Jin, Y., et al. Starch-based
microencapsulation.
4. Lopez-Mendez,
T.B., et al. (2021).
Cell microencapsulation technologies for sustained drug delivery: Latest
advances in efficacy and biosafety. Journal of Controlled Release.
5. Gonzalez-Pujana, A., et al. (2017).
Cell microencapsulation technology: Current vision of its therapeutic potential
through different administration routes. Journal of Drug Delivery Science
and Technology.
6. Lancuški, A., et al. (2017). Design
of starch-formate compound fibers as an encapsulation platform for
biotherapeutics. Carbohydrate Polymers.
7. Eratte, D., et al. (2017). In vitro
digestion of probiotic bacteria and omega-3 oil co-microencapsulated in whey
protein isolate–gum Arabic complex coacervates. Food Chemistry.
8. Chen, F.M., et al. (2013). Surface
engineering of glycidyl methacrylated dextran/gelatin microcapsules with
thermo-responsive poly(N-isopropylacrylamide) gates for controlled delivery of
stromal cell-derived factor-1α. Biomaterials.
9. Yu, Y.L., et al. (2012).
Thermo-responsive monodisperse core–shell microspheres with PNIPAM core and
biocompatible porous ethyl cellulose shell embedded with PNIPAM gates. Journal
of Colloid and Interface Science.
10. Miyazaki, T., et al. (2012).
Preparation of ferromagnetic microcapsules for hyperthermia using water/oil
emulsion as a reaction field. Materials Science and Engineering C.
SUMBER:
Shahid
Ud Din Wani, Mohammad Ali, Seema Mehdi, Mubashir Hussain Masoodi, Mohammed
Iqbal Zargar, Faiyaz Shakeel. 2023. A review on chitosan and alginate-based
microcapsules: Mechanism and applications in drug delivery systems. International
Journal of Biological Macromolecules. Volume 248, 1
September 2023, 125875
#Mikrokapsul
#DrugDelivery
#Biomaterial
#KitosanAlginat
#TeknologiFarmasi

No comments:
Post a Comment