Kitosan:
Sumber, Teknik Pengolahan, dan Modifikasi
ABSTRAK
Kitosan merupakan kopolimer glukosamin dan N-asetil glukosamin yang
diturunkan dari kitin. Kitin ditemukan pada dinding sel krustasea, jamur,
serangga, serta beberapa alga, mikroorganisme, dan hewan invertebrata lainnya.
Kitosan berkembang menjadi bahan baku yang sangat penting untuk sintesis
berbagai produk yang digunakan dalam bidang pangan, medis, farmasi, layanan
kesehatan, pertanian, industri, dan perlindungan terhadap pencemaran
lingkungan.
Tinjauan ini, sejalan dengan fokus edisi khusus ini, memberikan pembaca:
(1) gambaran umum tentang berbagai sumber kitin; (2) perkembangan teknik yang
digunakan untuk mengekstraksi kitin dan mengonversinya menjadi kitosan; (3)
pentingnya karakteristik inheren kitosan dari berbagai sumber yang
menjadikannya sesuai untuk aplikasi tertentu; serta (4) ringkasan singkat
mengenai cara memodifikasi kitosan agar sesuai untuk aplikasi spesifik.
Tinjauan ini juga memaparkan pengaruh derajat asetilasi (DA) dan derajat
deasetilasi (DDA), serta bobot molekul (Mw), terhadap sifat fisikokimia dan
biologis kitosan, perilaku asam-basa, biodegradabilitas, kelarutan,
reaktivitas, dan berbagai sifat lainnya yang menentukan kemudahan pemrosesan
dan kesesuaiannya untuk aplikasi tertentu. Uraian ini diharapkan dapat membantu
peneliti dalam memilih bahan baku kitosan yang tepat untuk aplikasi spesifik
mereka.
Kata kunci: kitin, kitosan, deasetilasi, modifikasi kitosan, pengolahan kitosan
1. PENDAHULUAN
Kitosan adalah kopolimer yang tersusun atas
glukosamin dan N-asetil glukosamin yang berasal dari kitin. Sebagaimana
dirangkum dalam berbagai tinjauan ilmiah yang disajikan pada Tabel 1, kitosan
berkembang sebagai bahan baku serbaguna untuk sintesis dan pembuatan berbagai
produk dengan aplikasi yang mencakup bidang pangan, medis, farmasi, layanan
kesehatan, pertanian, industri, serta perlindungan terhadap pencemaran
lingkungan.
Hal ini disebabkan oleh keberadaan gugus
amino dan hidroksil reaktif yang memberikan berbagai sifat fungsional pada
kitosan, termasuk sifat polielektrolit, antimikroba, antioksidan, pembentuk
gel, biokompatibel, pengkelat logam, serta mudah diproses. Daftar karakteristik
yang mengesankan ini terus berkembang pesat, sehingga memperluas aplikasi
kitosan ke berbagai bidang yang sebelumnya tidak terbayangkan.
Kitin, sebagai senyawa induk kitosan,
merupakan biopolimer yang terdapat pada banyak organisme, termasuk:
- Eksoskeleton
krustasea (misalnya lobster, udang, krill, teritip, udang
karang, dan lain-lain);
- Moluska
(misalnya gurita, sotong, kerang, tiram, cumi-cumi, siput);
- Alga
(misalnya diatom, alga cokelat, alga hijau);
- Serangga
(lalat rumah, ulat sutera, semut, kecoa, laba-laba, kumbang, brakhiopoda,
kalajengking);
- Dinding sel jamur (Ascomycetes, Basidiomycetes,
dan Phycomycetes, misalnya Aspergillus niger, Mucor rouxii, Penicillium
notatum, Trichoderma reesei).
Secara umum, kandungan kitin pada organisme
tersebut berkisar antara:
- 15–30% pada kutikula kepiting,
- 20–30% pada eksoskeleton krustasea,
- 30–40% pada kutikula udang,
- 5–25% pada kutikula serangga, dan
- 2–44% pada dinding sel jamur.
Saat ini, kitosan untuk aplikasi industri
terutama diperoleh dari krustasea, khususnya cangkang kepiting, udang besar,
dan udang kecil, yang eksoskeletonnya tersedia melimpah sebagai limbah dari
industri pengolahan pangan. Selain itu, kitosan juga semakin tersedia sebagai
produk samping dari budidaya kokon dalam industri sutera, hasil samping
ekstraksi protein serangga untuk industri pangan dan pakan, serta dari
fermentasi jamur.
Walaupun sisik ikan mengandung kitin, sumber
ini sering diabaikan karena hasilnya sangat rendah, hanya sekitar 1% dari berat
totalnya.
Menurut beberapa estimasi, produksi kitosan dari krustasea mencapai
10¹²–10¹⁴ ton setiap tahun. Pasar global kitin dan turunannya pada tahun 2017
bernilai sekitar US$ 2,9 miliar, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk
(CAGR) sebesar 14,8%. Nilai pasar tersebut diperkirakan akan mencapai US$ 63
miliar pada tahun 2024.
Sejumlah perusahaan seperti Chinova Bioworks, Heppe Medical Chitosan GmbH,
Golden-Shell Biochemical, dan G.T.C. Bio-corporation merupakan pemain utama di
pasar yang memproduksi berbagai produk untuk pangan, obat, medis, tekstil, dan
pengolahan limbah. Sebagian besar kitosan yang digunakan—sekitar
80% dari total pasar—bersumber dari cangkang udang.
Tabel 1. Ringkasan Aplikasi Utama Kitin dan
Kitosan dalam Berbagai Bidang
|
Bidang
Aplikasi |
Aplikasi |
Referensi |
|
Aplikasi Biomedis
dan Farmasi |
Antioksidan:
penangkap/penetral radikal bebas. |
[11–33] |
|
Produk Layanan
Kesehatan |
Formulasi kosmetik:
sifat antimikroba, antijamur, dan kemampuan menyerap sinar UV dimanfaatkan
dalam berbagai formulasi kosmetik seperti sampo, bilasan rambut, pewarna
rambut, losion rambut, semprotan, pasta gigi, dan tonik. Digunakan dalam
tabir surya, alas bedak pelembap, perona mata, lipstik, bahan pembersih,
produk mandi, obat kumur, serta permen karet sebagai bahan pengisi gigi. |
[34–37] |
|
Industri Pangan |
Pengemasan, pelapis yang dapat dimakan
(edible coating), pengisi massa, agen pengemulsi, penguat cita rasa alami,
pengontrol tekstur, pengental dan penstabil, pengawet pangan (agen
antimikroba), serta antioksidan. |
[38–45] |
|
Pertanian |
Aktivitas antimikroba terhadap berbagai patogen tanaman. |
[46–48] |
|
Aplikasi Industri |
Material
fungsional: nanokapsul karbon grafitik/komposit,
whisker kitin tungsten karbida, dan lain-lain digunakan dalam produksi sistem
mikro-elektrokimia dan jaringan tiga dimensi (3D). |
[49–51] |
|
Elektrolit: kombinasi asam sulfat dan kitosan mampu melepaskan tegangan tinggi. |
[52–59] |
|
|
Industri kertas:
produksi kertas saring, kertas tahan air, kemasan biodegradable, dan kertas
tahan air. |
[59–63] |
|
|
Pembawa enzim: imobilisasi enzim pada bahan padat. |
[64–66] |
|
|
Industri Konstruksi |
Perekat kayu, fungisida, peningkat kualitas kayu, dan bahan pengawet
kayu. |
[67–69] |
|
Pengolahan Limbah |
Agen flokulan dan pengikat muatan negatif
(agen pengkelat) untuk penghilangan zat warna dan ion logam berat serta
dekontaminasi. Digunakan pada berbagai instalasi pengolahan seperti whey,
produk susu, unggas, dan hasil laut. |
[70–75] |
Salah satu aplikasi biomedis kitosan yang
paling menonjol dan telah mapan adalah penggunaannya dalam produksi agen
hemostatik untuk manajemen dan penyembuhan luka, yang telah menghasilkan
berbagai produk komersial yang disetujui oleh United States Food and Drug
Administration (USFDA).
Sejumlah perusahaan juga mulai berkembang
dengan spesialisasi dalam produksi kitosan berbasis jamur, termasuk perusahaan
yang berbasis di Belgia, KitoZyme, yang produknya telah diakui aman oleh Food
and Drug Administration (FDA) serta European Food Safety Authority
(EFSA) untuk digunakan dalam bidang medis, pangan, dan minuman, misalnya
dalam proses pembuatan anggur (klarifikasi, fining, dan sebagainya), serat
pangan, serta mikrogel hidrogel berbentuk mikrobeads untuk pengobatan
osteoartritis.
Demikian pula di Kanada, Mycodev memproduksi
kitosan untuk aplikasi biomedis dan farmasi melalui proses fermentasi,
sementara di Tiongkok, Chibio memproduksi kitosan untuk aplikasi pangan dan
farmasi.
Seiring dengan meningkatnya secara pesat
pentingnya kitosan dalam industri serta penelitian intensif yang terus
berlangsung, tinjauan ini merangkum penelitian terkini mengenai pemanfaatan
berbagai sumber kitosan, teknik ekstraksi, serta menyoroti beberapa sifat
fungsional yang telah dimanfaatkan berdasarkan sumber, teknik ekstraksi, dan
metode pengolahannya. Uraian ini dimaksudkan untuk membantu peneliti dalam
memilih bahan baku kitosan yang tepat sesuai dengan aplikasi yang diinginkan.
2. Biosintesis Kitin
Untuk memahami dasar pemanfaatan kitosan,
penting untuk membahas secara singkat berbagai asal-usulnya, komposisi kimia,
persamaan dan perbedaan dari berbagai sumber yang memengaruhi tidak hanya
pemilihan teknik ekstraksi, tetapi juga sifat akhir kitosan yang dihasilkan.
Pada kitin, meskipun strukturnya mirip dengan
selulosa, gugus hidroksil (OH) pada karbon C2 dari unit glukosa tersubstitusi
oleh gugus asetilamina, sehingga dikenal sebagai
poli-β-[1,4]-N-asetil-D-glukosamin (Gambar 1).
Gambar 1. Struktur Selulosa dan Kitin
Jalur biosintesis kitin sangat terkonservasi pada semua organisme, mulai
dari alga hingga krustasea dan dari jamur hingga serangga. Sebagaimana
dirangkum pada Gambar 2, jalur biosintesis kitin secara umum dapat dibagi
menjadi lima tahap utama, yaitu:
(1) sintesis N-asetilglukosamin-6-fosfat dari gula seperti glukosa, glikogen,
atau trehalosa melalui jalur heksosamin;
(2) sintesis gula amino uridin difosfat N-asetilglukosamin
(UDP-N-asetilglukosamin);
(3) polimerisasi UDP-N-asetilglukosamin oleh enzim kitin sintase menjadi kitin;
(4) deposisi kitin di sepanjang membran sel dan pelepasannya ke ruang
ekstraseluler; dan akhirnya
(5) perakitan menjadi nanofibril kitin.
Sebagaimana dijelaskan secara komprehensif dalam laporan-laporan sebelumnya
dan ditunjukkan pada Gambar 2, trehalosa terlebih dahulu diubah menjadi glukosa
oleh enzim trehalase. Glukosa tersebut kemudian dikonversi menjadi
glukosa-1-fosfat oleh enzim fosforilase. Glukosa-1-fosfat yang terbentuk
selanjutnya diubah menjadi glukosa-6-fosfat oleh enzim fosfomutase, yang
kemudian dikonversi melalui kerja enzim heksokinase.
Fruktosa-6-fosfat kemudian diubah menjadi glukosamin-6-fosfat oleh enzim aminotransferase dengan menggunakan L-glutamin. Glukosamin-6-fosfat selanjutnya dikonversi menjadi N-asetilglukosamin-6-fosfat oleh enzim N-asetiltransferase dengan asetil Ko-A sebagai substrat. Gugus fosfat kemudian dipindahkan dari posisi 6 ke posisi 1 oleh enzim fosfoasetilglukosamin mutase. Selanjutnya, enzim pirofosforilase dengan menggunakan trifosfat sebagai ko-substrat mengubah N-asetilglukosamin-1-fosfat menjadi UDP-N-asetilglukosamin. Pada tahap terakhir, enzim kitin sintase menggunakan UDP-N-asetilglukosamin untuk menghasilkan kitin.
Gambar 2. Jalur Biosintesis Kitin
Rantai kitin linear yang telah disintesis
kemudian dirakit menjadi mikrofibril dan diorganisasikan dalam matriks
ekstraseluler (dinding sel, kutikula, dan matriks peritrofik). Komposisi kitin bervariasi antarorganisme, serta
dipengaruhi oleh musim, jenis kelamin, umur, habitat, dan kondisi lingkungan
lainnya.
Berdasarkan studi difraksi sinar-X, mikrofibril kitin tersusun dalam tiga
bentuk alotrop kristalin, yaitu α-, β-, dan γ-kitin (Gambar 3). Mikrofibril tersebut juga
berbeda dalam orientasi, jumlah rantai, derajat hidrasi, dan ukuran unitnya.
Struktur kristalin α-kitin merupakan bentuk yang paling melimpah dan banyak ditemukan pada
eksoskeleton artropoda seperti krill, lobster, dan kepiting, serta pada
kutikula serangga.
Gambar3. Orientasi dan Susunan Mikrofibril Kitin pada α-, β-, dan γ-Kitin [81]
α-kitin merupakan bentuk kristalin kitin yang paling stabil. Setiap
mikrofibril terdiri atas sekitar dua puluh rantai tunggal kitin yang tersusun
secara antiparalel satu sama lain, menghasilkan polimer yang tersusun rapat
dengan peningkatan ikatan hidrogen intra- dan intermolekuler, sehingga
memberikan stabilitas termodinamika yang sangat tinggi [2,78,82,83].
Berbeda dengan α-kitin yang terutama ditemukan pada eksoskeleton artropoda, β-kitin ditemukan pada diatom dan pena cumi-cumi,
dengan mikrofibril yang tersusun secara paralel [84]. Susunan ini memberikan
sifat yang lebih fleksibel.
Sementara itu, mikrofibril γ-kitin yang ditemukan pada jamur, ragi, dan kokon serangga [84], mengandung
campuran rantai paralel dan antiparalel, sehingga memiliki kombinasi sifat dari
bentuk α dan β [1]. Mikrofibril γ-kitin menunjukkan susunan rantai yang acak
sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3 [2,85].
Secara umum, kitin juga berasosiasi erat dengan komponen biologis lainnya,
seperti protein, mineral, karbohidrat, lipid, dan pigmen yang terdapat dalam
cangkang. Sebagai contoh, kitin jamur mengandung α-kitin yang terdapat pada dinding sel dan
berasosiasi dengan glukan, sedangkan pada serangga, kitin tertanam dalam
matriks protein.
3. Teknik Ekstraksi Kitin
Kitin ditemukan berasosiasi dengan biopolimer lain pada berbagai organisme.
Pada jamur, kitin terikat secara kovalen—baik langsung maupun melalui jembatan
peptida—dengan glukan di dinding sel. Sementara pada serangga dan invertebrata
lainnya, kitin berasosiasi dengan protein tertentu secara kovalen maupun
nonkovalen. Variasi ini menunjukkan bahwa teknik ekstraksi yang berbeda mungkin
diperlukan.
Sebagai contoh, pada serangga dan krustasea, kitin merupakan bagian dari
eksoskeleton, sedangkan pada jamur, kitin membentuk senyawa kompleks yang
fleksibel pada dinding sel dan terikat secara kovalen dengan glukan [86].
Selain itu, kitin organisme laut seperti krustasea berasosiasi dengan mineral,
terutama garam karbonat anorganik, kompleks kitin–protein, serta mengandung
karotenoid (terutama astaxantin) dan lipid [87].
Meskipun kitin artropoda dan serangga sama-sama berasosiasi dengan protein,
lipid, mineral, dan pigmen, jumlahnya berbeda-beda. Secara umum, cangkang
krustasea mengandung 20–30% kitin [88], 30–40% protein, 0–14% lipid [89], dan
30–50% mineral [90]. Persentase ini bervariasi tergantung pada sumber atau
bahkan spesies tempat kitin diisolasi [91].
Berbeda dengan krustasea, serangga umumnya mengandung 30–60% protein,
10–25% lipid, 5–25% kitin, 5–15% pigmen, dan 2–10% mineral [84,92]. Dinding sel
jamur merupakan struktur kompleks yang fleksibel, terutama tersusun atas 2–44%
kitin [6] yang terikat secara kimia melalui ikatan α dan β dengan glukan (80–90%), 3–20% glikoprotein [2], serta sejumlah kecil
lipid, pigmen, dan garam anorganik [10].
Proses produksi kitin secara industri dari limbah cangkang krustasea telah
mapan, memanfaatkan kelimpahan cangkang kepiting, udang, dan rajungan dari
industri pengolahan makanan. Krustasea menyumbang sekitar 69–70% produksi kitin
dunia [93].
Proses ekstraksi tradisional meliputi beberapa tahap, yaitu demineralisasi,
deproteinasi, pemucatan/dekolorisasi, dan akhirnya deasetilasi untuk membentuk
kitosan sebagaimana dirangkum dalam Tabel 2. Berbeda dengan jamur dan serangga,
keberadaan mineral pada krustasea menjadikan tahap demineralisasi sangat
penting. Demineralisasi dilakukan melalui perlakuan asam menggunakan asam
sulfat, asam klorida, asam nitrat, asam asetat, asam oksalat, dan asam format
[94].
Mohan dkk. [95] menunjukkan bahwa penggunaan asam klorida dalam ekstraksi
kitin dari serangga menghasilkan kitin dengan kualitas lebih baik dibandingkan
asam lainnya [96]. Perlakuan asam memecah kalsium karbonat menjadi kalsium
klorida dan karbon dioksida. Meskipun asam klorida merupakan reagen yang paling
umum digunakan untuk demineralisasi cangkang serangga dan krustasea, upaya
sedang dilakukan untuk menggantinya dengan asam organik yang lebih ramah
lingkungan [10].
Ekstraksi kitin dari jamur tidak memerlukan
tahap demineralisasi, tetapi memerlukan deproteinasi menggunakan basa dan asam
kuat pada suhu tinggi serta proses netralisasi lanjutan [97]. Proses ekstraksi
kitin dari jamur umumnya diawali dengan perlakuan alkali, biasanya 1 M NaOH
pada suhu 60–120 °C selama 0,5–12 jam, untuk menghilangkan protein, lipid, dan
karbohidrat yang larut dalam alkali [98].
Bahan yang tidak larut dalam alkali dan
terutama mengandung kitin kemudian diperlakukan lebih lanjut dengan asam,
seperti asam asetat 2–10% pada suhu 50–95 °C [99], untuk menghilangkan bahan
yang larut dalam asam. Fraksi larut asam yang diperoleh, yang kaya akan
kitosan, kemudian diperlakukan dengan alkali hingga 2 N NaOH, diikuti dengan
sentrifugasi dan pencucian menggunakan aseton dan etanol [100,101,98].
Kondisi alkali menyebabkan degradasi bahan
dinding sel sehingga menghasilkan protein tidak larut dan kitin, yang
selanjutnya diperlakukan dengan asam seperti asam klorida, asam laktat, atau
asam asetat. Asam asetat lebih disukai karena efektif menghilangkan fosfat dan
bahan tidak larut. Perlu dicatat bahwa konsentrasi alkali yang tinggi dapat
menyebabkan oksidasi kitosan dan degradasi rantai yang luas, terutama pada suhu
tinggi dan waktu deproteinasi yang lama.
Demikian pula, perlakuan asam juga dapat memengaruhi hasil akhir kitosan
selama proses ekstraksi. Asam laktat menghasilkan rendemen kitosan yang lebih
tinggi dibandingkan asam sulfat panas, bahkan pada suhu yang lebih rendah [98].
Asam format (6% v/v) memberikan rendemen kitin lebih tinggi dibandingkan
asam asetat [99]. Meskipun asam klorida menyebabkan hidrolisis gugus asetil
yang lebih besar, asam ini menghasilkan kitosan dengan derajat deasetilasi
(DDA) lebih tinggi dibandingkan asam asetat dan asam format [9]. Secara umum,
peningkatan konsentrasi asam meningkatkan DDA dan menghasilkan kitosan dengan
warna lebih gelap [9].
Prosedur ini tidak mencakup tahap
deproteinasi maupun demineralisasi seperti yang diperlukan dalam ekstraksi
kitosan dari sumber krustasea. Proses ekstraksi kitin dari jamur terbukti
menghasilkan kitin bebas protein yang dapat menyebabkan reaksi alergi, sehingga
lebih sesuai untuk aplikasi biomedis [102].
Ekstraksi dari sumber laut maupun jamur
mungkin memerlukan tahap dekolorisasi atau pemucatan untuk menghilangkan pigmen
alami yang terdapat dalam organisme tersebut [6]. Dekolorisasi dapat dilakukan
dengan mudah menggunakan pelarut organik seperti aseton, sedangkan pemucatan
dilakukan menggunakan natrium hipoklorit atau hidrogen peroksida [103]. Sebagai
contoh, dekolorisasi kitin krustasea dilakukan menggunakan agen pemutih seperti
natrium hipoklorit, kalium permanganat, asam oksalat, atau hidrogen peroksida,
sedangkan campuran metanol–kloroform atau alkohol–kloroform efektif untuk
menghilangkan warna pada kitin serangga [84].
Tabel 2. Ringkasan Berbagai
Teknik Ekstraksi Kitin
|
Teknik Ekstraksi |
Kondisi Proses |
Keunggulan |
Kelemahan |
Referensi |
|
Metode kimia |
Deproteinasi:
NaOH, KOH, Na₂SO₃, Na₂CO₃; Suhu: 25–100 °C, 30 menit–72 jam |
Waktu proses singkat |
Proses bertahap (multitahap) |
[88,104,105] |
|
Metode biologis dan
berbasis enzim |
Demineralisasi:
fermentasi menggunakan bakteri penghasil asam laktat atau asam laktat |
Kualitas produk akhir tinggi |
Waktu proses lama (berhari-hari) |
[106–120] |
|
Cairan ionik (Ionic
liquids) |
Pelarutan sempurna diikuti presipitasi
selektif kitin |
Proses dapat ditingkatkan ke skala industri
|
Melarutkan kitin secara menyeluruh (bersifat keras) |
[121–128] |
|
Pelarut eutektik
dalam (Deep eutectic solvents/DESs) |
Demineralisasi, deproteinasi, dan pelarutan
kitin dalam satu tahap |
Satu tahap untuk menghilangkan protein dan
mineral sekaligus |
Viskositas tinggi menyulitkan skala besar |
[129–134] |
|
Ekstraksi
ultrasonik |
Efek kavitasi ultrasonik melarutkan protein dan memutus ikatan kovalen |
Mengurangi waktu ekstraksi |
— |
[135–137] |
|
Ekstraksi
berbantuan gelombang mikro (Microwave-assisted extraction/MAE) |
Pemanasan melalui polarisasi dipolar dan konduksi ionik |
Deasetilasi cepat (±24 menit dibanding 6–7
jam metode konvensional) |
— |
[138–142] |
Selain teknik ekstraksi kitin berbasis kimia,
beberapa metode lain seperti metode berbasis hayati (biologis), penggunaan
pelarut ionik, pelarut eutektik dalam (deep eutectic solvents/DES), serta
teknik berbantuan ultrasonik sebagaimana dirangkum dalam Tabel 2, juga mulai
berkembang dan dinilai sesuai untuk digunakan. Teknologi fermentasi mikroba
yang memanfaatkan mikroorganisme penghasil asam laktat atau penggunaan asam
organik hasil produksi biologis terbukti merupakan sistem yang efisien untuk
memperoleh kitin berkualitas tinggi.
Proses ekstraksi biologis umumnya menggunakan
fermentasi dengan memanfaatkan kemampuan mikroorganisme seperti Lactobacillus
(misalnya L. paracasei, L. plantarum, dan L. helveticus)
dalam menghasilkan asam organik. Asam-asam ini efektif untuk proses
demineralisasi kitin. Fermentasi mikroba menggunakan Aspergillus sp., Pseudomonas
sp., dan Bacillus sp. juga terbukti efektif [143].
Proses deproteinasi biologis menggunakan
enzim protease yang diproduksi oleh mikroorganisme. Sekitar 95,3% deproteinasi
dan 99,6% demineralisasi dapat dicapai tanpa menurunkan kualitas kitin [111].
Di antara berbagai enzim tersebut, proteinase mikroba serta protease dari isi
perut ikan, misalnya usus ikan sardinella (Sardinella aurita) dan ikan
triggerfish abu-abu (Balistes capriscus) [144], terbukti efektif sebagai
agen deproteinasi [105]. Metode berbasis enzim memiliki mekanisme
demineralisasi yang serupa dengan metode kimia.
Meskipun menjanjikan, pendekatan ekstraksi
biologis masih menghadapi kendala dalam hal skalabilitas komersial. Namun
demikian, penelitian intensif terus dilakukan untuk menjadikannya layak secara
industri.
Teknik ekstraksi lain yang sedang berkembang
meliputi penggunaan cairan ionik, DES, gelombang mikro, ultrasonik, serta
teknologi medan listrik berdenyut untuk deproteinasi [142]. Di antara berbagai
pendekatan tersebut, ekstraksi berbantuan gelombang mikro, cairan ionik, DES,
dan ekstraksi berbantuan ultrasonik [133,145] menawarkan kendali proses yang
lebih baik, efisiensi energi, dan efektivitas biaya [130,141] dibandingkan
pendekatan kimia konvensional.
Khususnya, penggunaan pelarut hijau yang
sedang berkembang (cairan ionik dan DES) telah diterapkan di berbagai bidang,
seperti pemisahan dan pemurnian biomassa, praperlakuan, serta sintesis polimer
termasuk ekstraksi kitin. Sebagai contoh, penggunaan cairan ionik
1-etil-3-metilimidazolium asetat ([C2mim][OAc]) berhasil mengekstraksi kitin
dari udang, larva lalat, kepiting, dan lobster dengan sifat yang berbeda-beda,
yang kembali menegaskan ketergantungan pada spesies sumbernya [146].
Cairan ionik (ionic liquids/ILs) adalah garam
yang umumnya tersusun atas kation organik besar dan anion organik atau
anorganik yang lebih kecil, dengan titik leleh di bawah 100 °C. Pelarutan kitin
bersifat kompleks dan tidak hanya bergantung pada kemampuan kuat anion IL
sebagai akseptor ikatan hidrogen serta interaksinya dengan kation, tetapi juga
pada tipe kitin serta derajat asetilasi dan kristalinitasnya [122].
Terkait kitin, kelarutan tertinggi dilaporkan
pada [C2C1im][CH3COO], yaitu sekitar 20% berat dengan bantuan iradiasi
gelombang mikro [147]. Ekstraksi kitin dari krustasea menggunakan IL umumnya
difokuskan pada pelarutan total yang diikuti presipitasi selektif untuk
memperoleh kitin murni, dengan rendemen maksimum 94% berat dari cangkang
krustasea menggunakan [C2C1im][CH3COO] [121]. Proses ini juga berhasil
ditingkatkan ke skala industri, yang mengarah pada pendirian perusahaan 525
Solutions [122].
Namun, karena sifat toksisitas dan
ketidakmampuan terurai secara hayati dari cairan ionik, DES muncul sebagai
alternatif dengan sifat serupa. DES merupakan campuran asam dan basa yang
terbentuk melalui pengompleksan antara akseptor ikatan hidrogen (HBA), biasanya
garam amonium kuarterner, dengan donor ikatan hidrogen (HBD) atau garam logam.
DES merupakan kelas baru analog cairan ionik yang berasal dari bahan baku
komersial murah, dengan titik leleh lebih rendah daripada masing-masing
komponennya. DES bersifat biodegradable, murah, dan mudah diproduksi [123].
Dibandingkan cairan ionik tradisional, DES
lebih murah, lebih ramah lingkungan, dan mudah disiapkan [148]. DES mengandung HBD dan HBA yang memiliki interaksi
ikatan hidrogen dan interaksi elektrostatik yang kuat. Umumnya, DES merupakan
sistem dua atau tiga komponen, berupa campuran garam amonium kuarterner atau
garam logam (misalnya kolin klorida, betain) dengan HBD seperti poliol,
poli-asam, dan poli-amin (misalnya etilen glikol, asam laktat, asam oksalat,
urea) [133].
DES mampu melakukan demineralisasi dan deproteinasi secara bersamaan.
Sebagai contoh, demineralisasi kitin menggunakan kolin klorida–asam malat
disebabkan oleh asam malat yang melarutkan mineral dan melemahkan ikatan dalam
struktur internal cangkang udang, sementara protein dan kitin tetap tersisa
[123]. Proses demineralisasi terjadi melalui pelepasan ion hidrogen dari DES
yang bereaksi dengan kalsium karbonat pada krustasea, menghasilkan pelarutan
serta pembentukan garam kalsium, air, dan karbon dioksida [129].
Penghilangan kalsium karbonat menyebabkan polimer kitin–protein menjadi
kurang rapat. DES berinteraksi kuat dengan gugus hidroksil, karboksil, dan
amina pada protein sehingga mengganggu ikatan hidrogen intra- dan
intermolekuler dalam jaringan fibril kitin–protein, yang kemudian memisahkan
keduanya [129].
Walaupun DES dapat melarutkan hingga sekitar 9% berat kitin (misalnya pada
sistem ChCl/tiourea dengan rasio molar 1:2 pada 100 °C), kitin terlarut dapat
dengan mudah dipulihkan menggunakan air atau etanol [132].
Ekstraksi dengan cairan ionik menghasilkan kitin dari udang dengan serat
paling kuat, sedangkan serat yang lebih lemah diperoleh dari kitin kepiting dan
lobster (meskipun keduanya dua kali lebih elastis), sementara kitosan dari
larva lalat menghasilkan serat paling lemah dan paling kurang elastis [146].
Selain krustasea dan jamur, serangga merupakan sumber kitin potensial yang
sedang berkembang. Serangga mencakup lebih dari 900.000 spesies dari total
sekitar 1,3 juta spesies di bumi [5]. Peningkatan permintaan serangga sebagai
sumber protein alternatif berkualitas tinggi akan meningkatkan ketersediaan
kitin dari sumber ini. Hingga tahun 2016, lebih dari 120 perusahaan telah
terdaftar membudidayakan serangga untuk nutrisi manusia dan hewan. Pada tahun
2019, lebih dari 6.000 ton protein tepung dari lalat tentara hitam dan ulat
hongkong kuning diproduksi di Eropa saja [149].
Berbagai spesies serangga seperti lebah madu, ulat sutera, dan lalat sinantropik dapat dibudidayakan secara buatan dan dimanfaatkan sebagai sumber kitin baru yang menjanjikan untuk keperluan industri [150]. Prosedur ekstraksi kitin dari serangga serupa dengan krustasea, kecuali bahwa kitin serangga mengandung mineral dalam jumlah sangat rendah dibandingkan cangkang krustasea [151]. Hal ini menyederhanakan proses pengolahan kitin serangga untuk aplikasi biomedis dan farmasi.
Studi komparatif terhadap kitin pada eksoskeleton tujuh spesies Orthoptera
menunjukkan bahwa kandungan kitin bervariasi antara 5,3–8,9% [152].
Sebagai ringkasan, semakin keras kondisi ekstraksi kimia yang digunakan
(jenis bahan kimia, pH, suhu, dan waktu inkubasi), semakin tinggi derajat
hidrolisis yang terjadi dan hal tersebut dapat memengaruhi kualitas kitin yang
diperoleh. Meskipun telah banyak kemajuan dalam pengembangan teknik ekstraksi
kitin yang ramah lingkungan dan efisien, metode ekstraksi kimia hingga saat ini
masih menjadi pilihan utama karena ketersediaan bahan kimia dan kemudahan
peningkatan skala produksi.
4. Teknik Deasetilasi Kitin
Deasetilasi mengubah kitin menjadi kitosan. Proses ini melibatkan
penghilangan gugus asetil yang terikat pada gugus amina sehingga gugus −NH₂
menjadi terekspos.
Derajat asetilasi (DA) merupakan parameter penting yang memengaruhi sifat
biologis, fisikokimia, dan mekanik, serta menentukan klasifikasi apakah suatu
polimer tergolong kitin atau kitosan. Proses deasetilasi menghasilkan polimer
yang mengandung unit N-asetil-glukosamin dan glukosamin.
Jika hasil deasetilasi masih mengandung lebih
dari 50% unit N-asetil-glukosamin, maka polimer tersebut tetap disebut kitin;
jika kurang dari itu, disebut kitosan. Dengan demikian, deasetilasi tidak hanya
memengaruhi sifat asam-basa, karakteristik elektrostatik, biodegradabilitas,
agregasi diri, kelarutan, sifat adsorpsi, dan kemampuan mengkelat ion logam,
tetapi juga menentukan klasifikasi dan kesesuaian untuk aplikasi tertentu [95].
Persentase unit N-asetil-glukosamin disebut derajat asetilasi (DA) dan
dapat berkisar antara 50% hingga 100%.
Selama proses deasetilasi, depolimerisasi acak juga dapat terjadi akibat
kondisi proses yang ekstrem (basa kuat, suhu dan tekanan tinggi), sehingga
menghasilkan kitosan dengan panjang rantai dan sifat kelarutan air yang
bervariasi.
Walaupun kitin dapat dideasetilasi menggunakan asam maupun basa, ikatan
glikosidik sangat rentan terhadap hidrolisis asam. Oleh karena itu, deasetilasi
alkali menggunakan NaOH pada suhu tinggi lebih sering digunakan untuk
menghindari pemutusan rantai yang tidak diinginkan [96].
Deasetilasi yang memadai dicapai dengan NaOH atau KOH pekat (40–50%) pada
suhu di atas 100 °C [59,153]. Pendekatan industri ini menghidrolisis ikatan
amida sehingga memungkinkan produksi berbagai bentuk kitosan seperti serpihan,
serbuk halus, manik-manik, atau serat.
Secara umum, tingkat deasetilasi dipengaruhi oleh konsentrasi NaOH, waktu
reaksi, suhu, densitas, dan berat molekul awal polimer kitin [59]. Sekitar 82%
deasetilasi dapat dicapai dengan perlakuan kitin menggunakan 50% berat NaOH
selama 1 jam pada 100 °C [59,95].
Proses ini dapat menghasilkan kitin dengan DDA serendah <10% dan berat
molekul hingga 1–2,5 × 10⁶ Da (derajat polimerisasi sekitar 5.000–10.000),
serta kitosan dengan DDA 40–98% dan berat molekul antara 5 × 10⁴ hingga 2 × 10⁶
Da [59].
Namun demikian, kitosan umumnya memiliki derajat deasetilasi (DDA) antara
13–40% dan berat molekul (Mw) antara 2 × 10⁵ hingga 1 × 10⁶ Da [153]. Perlu
dicatat bahwa karena reaktivitas β-kitin yang lebih tinggi, struktur kristalinnya jauh lebih mudah
dihancurkan dibandingkan α-kitin selama proses deasetilasi. Hal ini disebabkan oleh susunan molekul
kitin yang lebih longgar, sehingga dapat sepenuhnya berubah menjadi amorf,
berbeda dengan kitosan dari α-kitin yang sangat kristalin [154].
Secara umum, deasetilasi alkali mengonsumsi energi dalam jumlah besar;
penggunaan larutan alkali dalam jumlah besar menghasilkan kitosan dengan DDA
yang bervariasi dan distribusi berat molekul yang luas [155]. Sebagaimana
dicatat oleh Jug dan Zhao, berbagai penelitian menunjukkan bahwa perlakuan
kimia dapat mengubah sifat struktural kitin akibat pembengkakan, disosiasi
ikatan hidrogen, dan penataan ulang rantai polimer. Berbagai bentuk kitin juga
merespons secara berbeda, misalnya dengan melemahnya ikatan hidrogen antarlapis
dan menurunnya indeks kristalinitas [156].
Perlakuan alkali atau asam terhadap β-kitin dapat mengubahnya menjadi α-kitin, yang memengaruhi sifat fungsional aslinya, termasuk reaktivitas
tinggi dan kerentanannya terhadap pelarut [157]. Strategi untuk meminimalkan
degradasi rantai meliputi menghindari penggunaan asam yang mudah menghidrolisis
ikatan glikosidik, mengurangi jumlah alkali dengan menggunakan pelarut yang
dapat bercampur dengan air seperti 2-propanol atau aseton [155], serta
memperpendek waktu reaksi deasetilasi.
Sebagai alternatif, teknik ekstraksi yang lebih lembut seperti ekstraksi
berbantuan gelombang mikro, kombinasi ledakan uap (steam explosion) dan pelarut
eutektik dalam (DES) yang diintegrasikan dengan gelombang mikro, serta teknik
deasetilasi enzimatik mulai berkembang sebagai proses yang sangat menjanjikan
sekaligus ramah lingkungan untuk menghasilkan kitosan.
Deasetilasi kitin berbantuan gelombang mikro menggunakan natrium hidroksida
mampu meningkatkan efisiensi deasetilasi hingga lebih dari 90% dalam waktu 3
jam, dibandingkan 21 jam pada perlakuan alkali konvensional. Ledakan uap juga
terbukti memfasilitasi proses deasetilasi kitosan [158]. Dalam proses ini,
kitin diperlakukan dalam alat puffing gun menggunakan uap jenuh pada tekanan
dan suhu tinggi selama beberapa menit, kemudian diikuti dengan dekompresi
eksplosif. Konversi energi uap menjadi gaya termomekanik memutus interaksi
antarmolekul dan membebaskan struktur kitin. Kitin dengan kadar
air 75% menunjukkan DDA maksimum (43,7%) dibandingkan kitin dengan kadar air
50% dan 35% yang hanya menghasilkan DDA masing-masing 40% dan 32% [158].
Kitin yang diekstraksi menggunakan DES
menunjukkan kemurnian tinggi (74–91,34%) dan rendemen (12,71–26%) dibandingkan
metode asam/alkali konvensional (kemurnian 91% dan rendemen 6,5%) [158].
Kombinasi gelombang mikro dan DES menghasilkan efisiensi deproteinasi yang
efektif (88–93% tingkat penghilangan) pada kitin udang [159]. Selain itu,
deasetilasi enzimatik menggunakan kitin deasetilase yang diperoleh dari
berbagai sumber biologis seperti jamur dan serangga [90,160] merupakan strategi
alternatif yang efisien [160].
Berbagai proteinase dan deasetilase kini
berkembang sebagai teknologi yang kompeten untuk deproteinasi dan deasetilasi
kitin [105]. Deasetilase kitosan umumnya berasal dari bakteri, jamur, dan
beberapa serangga. Di antara deasetilase kitin jamur yang menonjol adalah yang
dihasilkan oleh Mucor rouxii, Absidia coerulea, Aspergillus
nidulans, dan Colletotrichum lindemuthianum [161].
Perlu dicatat bahwa setiap deasetilase
memiliki efisiensi katalitik yang berbeda. Enzim hidrolitik kitinolitik
diklasifikasikan berdasarkan mekanisme kerjanya menjadi endo- dan
ekso-kitinase, yang mampu menghidrolisis kitin secara menyeluruh. Endo-kitinase
menghidrolisis ikatan glikosidik internal sehingga menghasilkan fragmen mulai
dari dimer hingga polimer, sedangkan ekso-kitinase bekerja pada ujung
non-reduksi kitin dengan melepaskan unit N-asetilglukosamin monomerik dan
dimerik.
Sebagai contoh, deasetilase dari M. rouxii
melakukan deasetilasi tipe ekso secara berurutan pada ujung non-reduksi
oligomer, sedangkan deasetilase dari C. lindemuthianum menghidrolisis
satu gugus asetil sebelum terdisosiasi dan membentuk kompleks aktif baru [162].
Secara umum, sebagian besar deasetilase
kitosan bakteri lebih efektif bekerja pada kitosan dengan berat molekul rendah.
Di antara berbagai kitin deasetilase, enzim yang diperoleh dari Rhizobium
spp. dan Vibrio cholerae [162] dikenal mampu menghasilkan kitosan secara
efisien [163,164].
Karena kemiripan kitosan dengan karbohidrat
seperti selulosa, perlu pula dicatat bahwa enzim seperti selulase dan lisozim
juga mampu menghidrolisis kitosan [162]. Bahkan, oligomer kitosan dengan berat
molekul 5–30 kDa telah berhasil diproduksi menggunakan selulase, pepsin, dan
lisozim [165].
Proses deasetilasi enzimatik cenderung
menghasilkan kitosan yang lebih homogen. Namun, pendekatan ini saat ini belum
layak secara industri karena tingginya biaya enzim yang digunakan [90]. Selain
itu, perlu diperhatikan bahwa kitin deasetilase tidak efektif dalam
mendeasetilasi kitin yang tidak larut, sehingga diperlukan tahap praperlakuan
kitin terlebih dahulu.
5. Sifat Struktur–Fungsi Kitosan
5.1. Pengaruh DDA dan Berat Molekul (Mw)
terhadap Sifat dan Aplikasi Kitosan
Derajat deasetilasi (DDA), polidispersitas,
dan berat molekul (Mw) kitosan merupakan parameter paling penting yang
memengaruhi sifat biologis, fisikokimia, dan mekaniknya, serta menentukan
aplikasinya. Sebagai contoh, DDA dan Mw memengaruhi kelarutan, reaktivitas,
perilaku asam–basa, sifat elektrostatik, fleksibilitas, konformasi polimer,
viskositas, kristalinitas, porositas, kekuatan tarik, konduktivitas, kemampuan
mengkelat logam, serta fotoluminesensi.
Selain itu, kedua parameter tersebut juga
memengaruhi berbagai sifat biologis seperti biodegradabilitas,
biokompatibilitas, mukoadhesivitas, hemostatik, analgesik, peningkat adsorpsi,
antimikroba, antikolesterolemik, dan antioksidan, yang pada akhirnya menentukan
kesesuaian material untuk aplikasi tertentu [10].
Dalam keadaan terprotonasi, gugus -NH₂
memungkinkan kitosan membentuk kompleks dengan turunan bermuatan negatif,
seperti protein, zat warna, enzim, sel tumor, protein dinding sel bakteri, DNA,
RNA, serta berbagai ion logam melalui gugus hidroksil netral atau bermuatan
negatif dari D-glukosamin [10]. Dalam kondisi tertentu, sifatnya yang tidak
larut pada pH netral tetapi larut dalam kondisi asam menjadikannya polimer
serbaguna untuk sintesis polimer, baik dalam bentuk larutan maupun padatan
[10].
Secara umum, jumlah gugus asetil yang tinggi
menghambat degradasi enzimatik kitosan (oleh enzim seperti lisozim), sehingga
cocok untuk sistem penghantaran obat [166]. Meskipun kitin/kitosan mudah larut
dalam banyak pelarut organik dan larutan asam organik encer seperti asam asetat
dan asam format, kelarutannya yang rendah dalam air menjadi salah satu
tantangan utama dalam pemanfaatannya secara optimal. Oleh karena itu, berbagai penelitian telah mengembangkan
teknik untuk meningkatkan kelarutan kitosan dalam air [9].
Hidrolisis asam menggunakan asam klorida pekat pada suhu 80 °C menghasilkan
oligomer kitosan dengan derajat polimerisasi antara 1 hingga 40 [9]. Perlakuan
dengan asam nitrit juga efektif karena menghasilkan produk yang selektif,
cepat, dan mudah dikendalikan secara stoikiometri. Agen nitrosasi menyerang
gugus glukosamin, bukan N-asetilglukosamin, serta memutus ikatan glikosidik.
Bahan kimia seperti hidrogen peroksida dan asam fosfat panas juga digunakan.
Asam yang diproduksi dalam tubuh manusia seperti asam asetat, HCl, asam laktat,
asam sitrat, dan asam piruvat berpotensi digunakan untuk melarutkan kitosan
dalam air (kecuali asam fosfat) [167].
Strategi kedua adalah deasetilasi yang dikombinasikan dengan hidrolisis
rantai panjang polimer kitosan menjadi oligomer dengan Mw lebih rendah.
Peningkatan jumlah gugus amino selama deasetilasi dan penurunan gugus asetil
akan meningkatkan kelarutan. Hal ini karena pada pH asam di bawah 6, gugus
amino terprotonasi penuh. Namun, peningkatan pH di atas 6 secara bertahap
menurunkan kelarutan akibat deprotonasi gugus amino [168]. Peningkatan DDA
menghasilkan oligomer dengan lebih banyak gugus amino terprotonasi yang
memfasilitasi kelarutan.
Ketiga, Mw kitosan juga memengaruhi kelarutan dalam air karena adanya gugus
amina bebas tanpa memerlukan pengasaman [169]. Hidrolisis asam menurunkan Mw
sekaligus meningkatkan kelarutan [105]. Kitosan dengan Mw < 30 kDa mudah
larut dalam air tanpa penambahan asam. Kelarutan kitosan dengan Mw 22–30 kDa
dapat ditingkatkan dengan penambahan asam [105], demikian pula untuk Mw > 30
kDa. Pada Mw di atas 30 kDa, protonasi gugus amino menjadi prasyarat untuk
melarutkannya dalam air.
Diketahui bahwa kitosan dengan Mw < 2 × 10⁶ Da dan kandungan nitrogen 7%
(b/b) sesuai untuk aplikasi tekstil, pangan, fotografi, medis, dan lingkungan
[170]. Namun, meskipun deasetilasi penting untuk menghasilkan oligomer larut
air, Mw tinggi meningkatkan ikatan hidrogen intra- dan antarmolekul yang
menurunkan kelarutan [171]. Kitosan dengan Mw tinggi berkisar 310–375 kDa
[172], Mw sedang 190–310 kDa, dan Mw rendah < 90 kDa [173].
Sebagai contoh, kitosan Mw rendah banyak
digunakan untuk penghantaran obat. Hidrolisis kitosan dapat dilakukan secara
enzimatik (menggunakan lisozim, kitinase, selulase tertentu, dan lipase) [59]
maupun secara kimiawi (HCl, HNO₂, H₂O₂, kalium persulfat). Proses fisik seperti
sonikasi, iradiasi elektromagnetik, iradiasi gamma, gelombang mikro, dan
perlakuan termal juga umum digunakan.
DDA dan kelarutan kitosan memengaruhi sifat
fungsional dan aplikasinya. Kitosan dengan DDA tinggi cocok untuk pembuatan
film dengan kekuatan tarik dan transmisi air lebih tinggi, sedangkan membran
dengan DDA 65–80% efektif dalam menginduksi reaksi inflamasi [174]. Kitosan
dengan DDA 45–55% sangat larut dalam air dan asam lemah [175], sehingga sesuai
untuk bahan fleksibel dan transparan [176].
Perubahan DDA juga mengubah fungsi biologis kitosan, termasuk aktivitas
antibakteri, antitumor, antiinflamasi, penyembuhan luka, dan aktivasi imun
[106]. DDA juga memengaruhi biokompatibilitas, biodegradabilitas,
hidrofilisitas, mukoadhesivitas, hemostatik, analgesik, antikolesterolemik,
antioksidan, dan peningkat adsorpsi biomaterial berbasis kitosan [174].
Sebagai contoh, spons kitosan dengan DDA dan Mw berbeda menunjukkan bahwa
penyebaran sel lebih tinggi pada spons dengan DDA lebih tinggi, yang
meningkatkan aktivitas alkaline phosphatase, osteopontin, VEGF-A, IL-6, serta
menurunkan MCP-1, sclerostin (SOST), dan dickkopf-related protein-1 [177].
Kombinasi DDA dan Mw tinggi meningkatkan sekresi VEGF dan IL-6, tetapi
menurunkan osteopontin dibandingkan kitosan dengan DDA sama namun Mw lebih
rendah [177]. Variasi ini menunjukkan kemungkinan rekayasa kondisi khusus untuk
rekayasa jaringan atau manajemen luka.
Material dengan DDA > 70% cocok untuk
sistem penghantaran obat [178]. DDA dan Mw juga memengaruhi sifat antibakteri,
karena gugus amino bermuatan positif berinteraksi dengan membran bakteri
bermuatan negatif. Kitosan Mw rendah mampu menghambat Escherichia coli
dan Pseudomonas aeruginosa [179]. Gugus -NH₂ mengubah morfologi
permukaan bakteri sehingga meningkatkan permeabilitas membran dan menyebabkan
kebocoran isi sel [182].
Kitosan dengan Mw sekitar 2 × 10⁶ Da dan
nitrogen 7% sesuai untuk aplikasi tekstil, pangan, fotografi, medis, dan
lingkungan. Karena kekakuan dan sifat mekaniknya tinggi, kitosan dengan
kristalinitas tinggi cocok untuk platform rekayasa jaringan [183]. DDA tinggi
membuat kitosan kurang sensitif terhadap biodegradasi enzimatik sehingga cocok
untuk sistem penghantaran [166].
Sebaliknya, kitosan Mw rendah (<300 kDa)
sesuai untuk pembalut luka, pengawet pangan, pengolahan limbah, pencetakan
molekuler, dan bahan pengkelat. Kitosan dengan DDA 70–80% dan Mw tinggi
(>300 kDa) direkomendasikan untuk sistem penghantaran obat, scaffold
rekayasa jaringan, imobilisasi sel dan enzim, enkapsulasi, serta kemasan
pangan. Kitosan dengan DDA rendah (55–70%) dan Mw tinggi cocok sebagai agen
pengemulsi dan aplikasi farmasi, sintesis nanopartikel, serta formulasi pangan.
Sementara itu, kitosan dengan DDA rendah dan Mw rendah sesuai untuk
penghantaran gen dan obat, perlindungan tanaman, serta stimulator pertumbuhan
tanaman [2].
Kitosan dengan Mw sedang menunjukkan
aktivitas antikolesterol lebih tinggi [184]. Secara umum, peningkatan DDA
memperkuat efek biologis, sedangkan penurunan Mw umumnya meningkatkan
bioaktivitas, terutama pada Mw rendah (<20 kDa) dibandingkan Mw tinggi
(>120 kDa) [185].
Dengan demikian, DDA, DA, dan Mw merupakan
karakteristik penting yang harus dipertimbangkan dalam pemanfaatan kitosan
untuk aplikasi tertentu.
5.2. Pengaruh Asal (Sumber) Kitosan
Selain DA, DDA, dan berat molekul (Mw),
sumber (asal) kitosan juga memengaruhi aplikasinya. Sebagai contoh, jika
dibandingkan tiga bentuk alotropik kitosan, yaitu α-, β-, dan γ-kitosan,
β-kitosan memiliki kelarutan lebih tinggi dibandingkan α-kitosan. Hal ini
disebabkan oleh gaya ikatan antarrantai yang lebih lemah pada β-kitosan. Karena memiliki kristalinitas lebih tinggi, α-kitosan tidak hanya kurang larut tetapi juga lebih
kaku. Kekakuan ini memberikan kekuatan mekanik lebih tinggi, sehingga cocok
untuk pembuatan platform rekayasa jaringan.
Reaktivitas β-kitosan yang lebih tinggi—misalnya yang berasal dari pena
cumi-cumi—dibandingkan α-kitosan disebabkan oleh strukturnya yang lebih terhidrasi dan ikatan
hidrogen antarmolekul yang lebih lemah. Hal ini menjadikannya lebih sesuai
untuk sintesis film tipis, aplikasi medis dan pangan, serta produk biosensor
[186]. Kelarutan β-kitosan yang lebih tinggi juga meningkatkan aktivitas biologisnya. Selain
itu, kitosan dari pena cumi-cumi dengan DDA 31–49% bebas dari kalsium karbonat,
karotenoid, dan mineral, sehingga cocok untuk aplikasi biomedis [186]. γ-kitina mengandung bentuk α dan β sekaligus, sehingga memiliki sifat gabungan dari keduanya [1]. Namun,
ketersediaannya yang rendah masih menjadi hambatan untuk produksi massal dan
aplikasi komersial.
Keberadaan kitosan dengan kemurnian dan konsentrasi tinggi pada ikan
menjadikannya lebih menarik untuk aplikasi biomedis dan farmasi dibandingkan
kitosan asal mikroba [187]. α-kitosan yang berasal dari krustasea laut merupakan sumber paling awal dan
melimpah, tersedia dalam jumlah besar dari industri pengolahan pangan. Kitosan
ini banyak digunakan untuk produk biomedis, meskipun terdapat kekhawatiran
terkait upaya tambahan untuk memastikan bebas dari logam berat [85]. Kitosan
krustasea digunakan luas dalam bidang medis (obat, pengelolaan luka, organ
buatan, membran, antikoagulan, agen antimikroba, serta rekayasa tulang dan
kulit buatan) [11], farmakologi (fungisida dan pembawa obat) [188], sistem
pangan (pengawet, pelapis, agen antimikroba dan antioksidan), serta kosmetologi
(krim tubuh, aditif rambut, dan losion) [189].
Mw krustasea yang relatif tinggi (sekitar 1,5 × 10⁶ Da) menyebabkan
kelarutan rendah pada pH netral dan menghasilkan larutan sangat kental
dibandingkan kitosan jamur (1–12 × 10⁴ Da), sehingga menarik sebagai bahan
pengental serta untuk platform rekayasa jaringan dan film [190]. Meskipun
demikian, keberadaan protein, lipid, dan kitosan pada krustasea laut juga
dipandang sebagai sumber nutrisi potensial untuk formulasi pangan fungsional
terapeutik [191].
Kitosan kepiting (15–30%) mengandung mineral tinggi (30–50%) dan protein
(15–50%), serta menunjukkan aktivitas antioksidan yang sangat baik, sehingga
menarik untuk pengembangan produk penangkal kerusakan oksidatif akibat radikal
bebas [192]. Krill, krustasea penting lainnya, mengandung protein (72,9–75,8%),
lipid (12–50%), dan kitin (20–30%), sehingga sesuai untuk formulasi pangan dan
aplikasi kesehatan [191]. Kitosan berbasis krill juga memiliki porositas lebih
tinggi, sehingga cocok untuk modifikasi sulfat [10].
Keberadaan protein, lipid, pigmen, dan CaCO₃ pada kitosan udang dipandang
sebagai sumber potensial produk bernilai tambah tinggi [190]. Udang terbukti
memiliki aktivitas antimikroba kuat terhadap mikroorganisme patogen seperti Staphylococcus
aureus, Enterococcus faecalis, Enterobacter aerogenes, dan Escherichia
coli. Selain itu, kitooligomer udang efektif sebagai pengganti antibiotik
dalam pakan ternak, terutama untuk menghasilkan produk hewani bebas residu
antibiotik [193].
Kitosan dari ikan juga berkembang sebagai sumber kitosan berkualitas tinggi
untuk aplikasi biomedis [187] dan industri agrokimia [103]. Namun, kendala
utamanya adalah ketersediaan yang rendah karena kandungannya kurang dari 1%
berat tubuh ikan.
Meningkatnya minat terhadap serangga sebagai sumber protein alternatif
menjadikan kitosan serangga semakin menarik karena potensi ketersediaannya di
masa depan. Kitosan dari larva Chrysomya megacephala menunjukkan
aktivitas antioksidan sangat baik (IC₅₀ = 1,2 mg/mL) [194], sedangkan kitosan
dari larva Lucilia cuprina memiliki aktivitas antibakteri unggul
terhadap Bacillus subtilis dan Klebsiella pneumoniae [194]. Kitosan
dari kumbang mealworm efektif melawan Staphylococcus aureus, Escherichia
coli, Listeria monocytogenes, dan Bacillus cereus [195]. Kitosan serangga mampu menyebabkan deformasi sel
dan kebocoran isi sel hingga menyebabkan lisis. Kitosan lebah madu telah
terbukti sesuai sebagai aditif pangan untuk pengawetan makanan [196]. Kumbang
juga merupakan sumber kitosan yang baik (~36,6%) [196]. Elastisitas superior
kitosan serangga menguntungkan dalam produksi polimer [197]. Kitosan serangga
cocok untuk aplikasi pertanian (pelapisan benih, perlindungan tanaman, transfer
gen) serta aplikasi biomedis seperti penghantaran obat dan platform biomedis.
Sumber kitosan lain yang semakin menonjol dan
berkembang pesat adalah jamur, yang kelimpahannya menempati urutan kedua
setelah serangga. Kitosan jamur menarik
karena mudah diproduksi melalui fermentasi dalam kondisi terkendali. Meskipun
sifatnya umumnya mirip dengan kitosan krustasea, kitosan jamur memiliki ukuran
partikel lebih seragam, distribusi gugus asetil merata, Mw lebih rendah, homogenitas
Mw unik, distribusi viskositas baik, serta bebas logam berat, sehingga sesuai
untuk berbagai aplikasi [191,198].
Keseragaman ukuran partikel dan efek antimikroba menjadikan kitosan jamur
cocok untuk pemurnian air, pembuatan bir, manajemen luka, dan industri tekstil
[198]. Dengan viskositas 3–5 kali lebih rendah, Mw 1–2 × 10⁵ Da, dan DDA lebih
tinggi (70–90%) [190], kitosan jamur sesuai untuk industri pangan, kesehatan,
dan farmasi [199]. Sebagai contoh, kitosan komersial “Kitozyme” yang diisolasi
dari Agaricus bisporus digunakan untuk penyembuhan luka, bedah biologis,
terapi sel, penghantaran obat, dan vaksin [200].
Pelapis pangan berbasis kitosan juga digunakan luas untuk memperpanjang
daya simpan dan kualitas pangan segar maupun olahan karena aktivitas antijamur
dan antibakterinya [201]. Meskipun ragi mengandung kitin lebih sedikit, kitosan
asal ragi efektif sebagai penstabil dan pengemulsi untuk aplikasi pangan dan
nutrasetikal [202]. Kitosan dari Mucor indicus dan Rhizopus oryzae
terbukti efektif mengendalikan infestasi lapangan oleh jamur entomopatogen (Metarhizium
anisopliae). Menariknya, kitosan dari jamur shiitake (Lentinula edodes)
memiliki sifat imunostimulan kompleks [203].
Kitosan dari Aspergillus niger dengan kandungan glukan residu
<2%, viskositas dalam 1% asam asetat >15 cPs, dan densitas endapan
<0,7 g/cm³ merupakan satu-satunya kitosan yang diizinkan dalam pembuatan
anggur sejak 2009 [204], sebagai alternatif bentonit untuk mengurangi protein
sekaligus sebagai agen antimikroba.
Secara ringkas, viskositas dan Mw yang lebih rendah serta DDA yang lebih
tinggi pada kitosan jamur menjadikannya sangat sesuai untuk aplikasi di
industri pangan, minuman, kesehatan, dan farmasi [199].
Meskipun kitosan alga dari sumber laut—misalnya dari matriks alga koralin Clathromorphum
compactum—masih relatif sedikit diteliti, keberadaan kolagen di dalamnya
menjadikannya menarik untuk aplikasi imobilisasi sel dan sebagai bahan tambahan
pangan [205]. Selain itu, nanofibril α-kitosan dari
mikroalga Phaeocystis globosa menunjukkan kekuatan tarik yang sebanding
dengan nanofibril β-kitosan yang diperoleh dari cumi-cumi Loligo bleekeri
dan cacing tabung Lamellibrachia satsuma, sehingga berpotensi sebagai
kandidat yang baik untuk pembuatan bahan perancah (scaffold) rekayasa jaringan
[206].
6. Rekayasa (Modifikasi) Kitosan untuk Aplikasi Spesifik
Keberadaan gugus amino reaktif pada posisi C2, gugus hidroksil primer pada
posisi C3, dan gugus hidroksil sekunder pada posisi C6 memberikan berbagai
kemungkinan untuk memodifikasi dan memanfaatkan kitosan dalam beragam aplikasi
melalui reaksi-reaksi yang dirangkum pada Gambar 4. Berbagai
reaksi tersebut telah dibahas secara luas dalam [204,207–211], dan pembaca
dapat merujuk ke sumber tersebut untuk rincian lebih lanjut.
Di sini disajikan secara singkat kemungkinan
reaksi yang menargetkan masing-masing gugus fungsional pada Gambar 4. Modifikasi yang menargetkan gugus amino dapat
dilakukan melalui reaksi seperti alkilasi, asilasi, kuartenerisasi,
fosforilasi, nitrasi, sulfonasi, xantasi, N-suksinilasi, tiolasi, serta
kopolimerisasi graft, dan lain-lain. Sementara itu, gugus hidroksil umumnya
dimodifikasi melalui O-asetilasi, sulfonasi, metilasi, hidroksilasi, serta
pengikatan silang/grafting [88].
Di antara berbagai reaksi tersebut, pendekatan yang paling umum digunakan
meliputi asilasi, alkilasi, karboksimetilasi, N-fosfometilasi, adisi Michael,
kuartenerisasi, karboksialkilasi, hidroksilasi, fosforilasi, sulfasi, dan
kopolimerisasi.
Reaksi substitusi yang menargetkan gugus amino—misalnya dengan senyawa
amonium kuarterner—menghasilkan turunan kitosan hidrofilik yang telah banyak
diteliti karena sifat antimikroba, hemostatik, antikoagulan, hidrogel, serta
kemampuan pembentukan film [212]. Pendekatan ini dilakukan dengan terlebih
dahulu mengubah gugus -NH₂ menjadi garam amonium kuarterner, melalui introduksi
senyawa amonium kuarterner atau fosfonium kuarterner, sehingga diperoleh produk
dengan kelarutan air yang lebih baik [213].
Salah satu turunan kitosan kuarterner yang paling penting adalah
N,N,N-trimetil kitosan klorida, yang memiliki kelarutan sangat baik dalam
larutan berair. Senyawa ini telah digunakan sebagai peningkat absorpsi cairan,
agen antibakteri, dan vektor gen, serta meningkatkan bioadhesi,
biokompatibilitas, kelarutan, viskositas, dan indeks pengembangan (swelling
index) polimer yang dihasilkan [213,214].
Modifikasi melalui fosfometilasi yang menargetkan gugus amino menghasilkan
produk dengan kelarutan lebih baik, sifat bakterisidal, kemampuan mengkelat
logam berat, serta potensi dalam rekayasa jaringan. Sementara itu, modifikasi
pada nitrogen dengan gugus N-metilen fosfonat, N,N-dikarboksimetil, dan
N-[(2-hidroksi-3-trimetilamonium)propil] menghasilkan kitosan yang larut dalam
air [211].
Reaksi substitusi selektif pada gugus amino dengan melindungi gugus –OH
pada posisi C3 dan C6 kitosan merupakan strategi efektif untuk mensintesis
turunan N-kuarterner kitosan yang homogen tanpa substitusi O-metil maupun
O-sililasi [211].
Gambar 4. Gugus fungsional kitosan (–OH,
–NH₂) sebagai target modifikasi kimia
Balutan luka hemostatik kitosan yang
difungsionalisasi ganda telah diformulasikan menggunakan variasi rasio kitosan
terkuartenerisasi dan kitosan terfosforilasi, ditambah asam tanat yang berperan
sebagai adjuvan hemostatik sekaligus pengikat silang (crosslinker), serta
poli-ε-lisin untuk memberikan sifat elastis dan adhesif [215].
Sebaliknya, N-asilasi menghasilkan kitosan
yang lebih hidrofobik, misalnya melalui pencangkokan asam lemak lewat reaksi
amidasi antara gugus –COOH asam lemak dengan –NH₂ kitosan. Proses kimia ini menggunakan pereaksi seperti asil
halida atau anhidrida asam dalam pelarut piridina, kloroform/piridina, atau
metanol/air/asam asetat. Reaksi ini juga dapat menghasilkan O-alkil kitosan
pada gugus C2 dan C6–OH. Untuk menghindarinya, diperlukan proteksi menggunakan
gugus tritil [204]. Dua turunan alkinoil-kitosan yang dapat digunakan sebagai
alat penghubung molekul lain melalui kimia “click”, yaitu satu dengan spacer
alkil yang larut dalam medium organik dan satu lagi dengan spacer yang larut
dalam air, telah disintesis dengan mengintroduksi gugus alkuna pada gugus amino
kitosan tanpa menggunakan gugus pelindung [216].
Reaksi yang menargetkan gugus hidroksil (–OH) biasanya memerlukan
perlindungan awal terhadap gugus –NH₂. Hal ini umumnya dilakukan menggunakan
anhidrida ftalat, yang memungkinkan proses regioselektif, misalnya dengan
memasukkan cabang gula untuk meningkatkan kelarutan kitosan dalam air [217].
Gugus ftaloil kemudian dapat dengan mudah dihilangkan dengan memasukkan gugus
penarik elektron (misalnya –NO₂, –Cl) pada cincin aromatik ftaloil untuk
membuka kembali proteksi gugus amino [218]. Melalui strategi ini telah
dihasilkan produk dengan aktivitas antijamur dan film yang fleksibel [219].
Perlu dicatat bahwa meskipun gugus C2–NH₂ atau C6–OH relatif mudah diakses
dan dimodifikasi, hambatan sterik pada gugus C3–OH sering kali menyulitkan
proses modifikasi, walaupun secara kimia tetap dapat dimodifikasi melalui
metilasi, asilasi, atau sulfasi [220].
Sulfonasi menghasilkan kitosan dengan berbagai aktivitas bioaktif seperti
antioksidan dan antikoagulan. Sebagai contoh, kitosan tersulfonasi menggunakan
klorosulfonat menunjukkan peningkatan aktivitas antioksidan [221], sedangkan
sulfonasi kitosan untuk implan logam meningkatkan hidrofilisitas implan
sekaligus menurunkan deposisi kalsium [211].
Tiolasi kitosan—dengan penambahan senyawa seperti sistein, asam tiolaktat,
asam tioglikolat, homosistein, tiobutilamidin, glutathion, dan
lain-lain—digunakan untuk menghasilkan film, hidrogel, dan nanopartikel untuk
aplikasi biomedis dan pangan. Sementara itu, fosforilasi menggunakan fosfor
pentaoksida dalam pelarut asam metansulfonat menghasilkan kitosan dengan
kelarutan air tinggi dan kemampuan mengkelat logam yang penting untuk rekayasa
jaringan, perantara penghantaran obat, dan industri pangan [222].
Karboksialkilasi kitosan menghasilkan polimer yang larut air dan bersifat
amfoter, tidak toksik, biokompatibel, serta biodegradabel, sehingga sesuai
untuk aplikasi biomedis sebagai agen antimikroba, biosensor, penyembuhan luka,
industri pangan, dan bioimaging [222]. O-alkilasi kitosan membuatnya larut
dalam kloroform, etanol, air, dan asam asetat [88], sedangkan fosforilasi,
kuartenerisasi, dan karboksimetilasi secara signifikan meningkatkan kelarutan
kitosan dalam berbagai pelarut pada kondisi lingkungan.
Kopolimerisasi graft/pengikatan silang juga merupakan strategi penting untuk merekayasa dan memperluas aplikasi kitosan. Untuk tujuan ini, berbagai inisiator redoks seperti reagen Fenton, cerium amonium nitrat, amonium dan kalium persulfat, kalium diperiodatokuproat, ferrous amonium sulfat, enzim, serta iradiasi gelombang mikro dan sinar gamma banyak digunakan [96,222]. Pencangkokan yang diinisiasi radikal bebas merupakan pendekatan paling umum.
Contohnya meliputi:
- kitosan-graft-poli(N-hidroksi
etil akrilamida) menggunakan inisiator kalium persulfat [223],
- poliakrilonitril-g-kitosan (PAN-g-CS) dengan
inisiator cerium amonium nitrat [224],
- kitosan graft biner dengan dua monomer
(akrilamida dan (2-metakriloiloksi etil) trimetil amonium klorida) melalui
radiasi gamma [225],
- kopolimer graft kitosan dengan
poli[2-(akriloloksi)etil trimetilamonium klorida] menggunakan kalium
persulfat [226],
- kitosan-g-polianilin dengan APS sebagai inisiator
[227].
Berbagai molekul pengikat silang seperti
senyawa fenolik sederhana, glutaraldehida, epiklorohidrin, etilen glikol,
diglisidil eter, dan natrium tripolifosfat juga digunakan [11,88,227,228].
Pengikatan silang kitosan yang dimediasi glutaraldehida melalui pembentukan
basa Schiff (imina) merupakan teknik yang paling banyak dipelajari. Reaksi ini melibatkan kondensasi antara gugus
aldehida dan gugus amina primer pada rantai kitosan di hadapan hidrogen labil.
Pengikatan silang dengan glutaraldehida menghasilkan polimer dengan
kecenderungan adsorpsi tinggi terhadap ion logam seperti Cd > Cu > Ni
> Ag > Pb > Zn [222].
Biopolimer benzoyl-kitosan, yang berperan penting dalam penghantaran obat,
kosmetik, dan manajemen penyembuhan luka, diperoleh melalui sintesis turunan
o-benzoyl kitosan dari asam benzoat dan p-metoksibenzoat melalui asilasi yang
dimediasi anhidrida asam trifluoroasetat/asam fosfat [222]. Baru-baru ini,
hidrogel berbasis kitosan dengan kemampuan gelasi cepat, elastisitas yang dapat
disesuaikan, dan sifat mekanik terkontrol diperoleh melalui pengikatan silang
basa Schiff antara pati bercabang yang didialdehida dengan gugus amino kitosan
[229]. Di sisi lain, reaksi epoksidasi digunakan untuk menghasilkan polimer
kitosan yang lebih keras [206,230].
Modifikasi kitosan yang diinduksi radiasi merupakan alternatif bebas toksik
yang semakin berkembang untuk menggantikan molekul pengikat silang kimia.
Sejumlah penelitian menunjukkan kemungkinan mengintroduksi berbagai molekul
fungsional ke dalam tulang punggung kitosan melalui radiasi, termasuk sintesis
kopolimer kitosan-g-asam maleat [231] serta pencangkokan asam akrilat,
akrilamida, dan akrilonitril pada kitosan melalui radiasi gelombang mikro
[232].
Selain radiasi, enzim juga berkembang sebagai strategi paling aman untuk
memodifikasi atau mensintesis polimer berbasis kitosan. Banyak
turunan kitosan dengan sifat unik—seperti peningkatan kelarutan air, stabilitas
termal, sensitivitas pH, dan daya rekat—telah berhasil disintesis. Sistem
redoks TEMPO/lakase digunakan untuk mengoksidasi secara selektif gugus C6
kitosan guna menghasilkan kitosan larut air [233], serta untuk mensintesis
hidrogel berbasis kitosan menggunakan lignin dan fenolik sederhana sebagai
pengikat silang [169,230,234]. Sebagai contoh, enzim fosforilase digunakan
untuk menghasilkan kopolimer kitosan-g-amilosa melalui reaksi antara kitosan
dan α-D-glukosa-1-fosfat [235].
Secara ringkas, tersedia berbagai strategi
yang terus berkembang untuk merekayasa kitosan sesuai kebutuhan berbagai
aplikasi industri.
7. Kesimpulan dan Perspektif Masa Depan
Kemajuan signifikan terus dicapai dalam
pengembangan teknologi produksi kitosan dari sumber-sumber baru yang inovatif
dan menjanjikan, seperti serangga dan jamur, seiring dengan perkembangan
budidaya serangga (bioteknologi serangga) dan proses fermentasi jamur.
Sumber-sumber baru ini tidak hanya menyediakan alternatif bahan baku kitosan,
tetapi juga menghasilkan kitosan dengan sifat unggul yang lebih mudah dan aman
digunakan dalam aplikasi pangan, medis, dan farmasi, sekaligus mengatasi
berbagai tantangan yang sering dijumpai pada kitosan berbasis laut yang
diperoleh sebagai produk samping industri pengolahan pangan.
Temuan bahwa kitosan dengan DDA dan berat
molekul (Mw) berbeda secara signifikan memengaruhi sifat intrinsik dan
fungsinya semakin memperluas peluang rekayasa kitosan untuk aplikasi spesifik,
khususnya dalam rekayasa jaringan dan proses penyembuhan luka. Meningkatnya
permintaan terhadap kitosan, yang diiringi dengan pemahaman yang semakin baik
mengenai sifat-sifatnya, teknik ekstraksi, serta berbagai metode modifikasi
kimia dan rekayasa sifatnya, secara nyata memperluas bidang aplikasinya.
Meskipun kitosan dari krustasea laut selama
ini mendominasi penggunaan industri karena ketersediaannya yang melimpah
sebagai hasil samping industri pangan, kitosan dari jamur dan serangga
diperkirakan akan menjadi bahan baku utama di masa depan. Hal ini didorong oleh peningkatan ketersediaan melalui
kemajuan proses bioteknologi untuk produksi massal.
Sebagai contoh, meningkatnya pemanfaatan serangga dan pesatnya perkembangan
bioteknologi serangga sebagai sumber protein baru untuk pangan manusia dan
pakan ternak, serta kemajuan teknologi fermentasi biomassa jamur dengan sifat
unggulnya, kembali menempatkan kitosan sebagai bahan baku strategis yang
penting di masa depan. Dengan demikian, potensi pemanfaatan kitosan secara
nyata untuk aplikasi industri sebenarnya baru mulai berkembang.
REFERENSI
1.Kaya
M., Lelešius E., Nagrockaitė R., Sargin I., Arslan G., Mol A., Baran T., Can
E., Bitim B. Differentiations of Chitin Content and Surface Morphologies of
Chitins Extracted from Male and Female Grasshopper Species. PLoS ONE.
2015;10:e0115531. doi: 10.1371/journal.pone.0115531. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
2.Joseph
S.M., Krishnamoorthy S., Paranthaman R., Moses J., Anandharamakrishnan C. A
review on source-specific chemistry, functionality, and applications of chitin
and chitosan. Carbohydr. Polym. Technol. Appl. 2021;2:100036. doi:
10.1016/j.carpta.2021.100036. [DOI] [Google Scholar]
3.Crognale
S., Russo C., Petruccioli M., D’Annibale A. Chitosan Production by Fungi:
Current State of Knowledge, Future Opportunities and Constraints. Fermentation.
2022;8:76. doi: 10.3390/fermentation8020076. [DOI] [Google Scholar]
4.Yeul
V.S., Rayalu S.S. Unprecedented Chitin and Chitosan: A Chemical Overview. J.
Polym. Environ. 2012;21:606–614. doi: 10.1007/s10924-012-0458-x. [DOI] [Google Scholar]
5.Abidin
N.Z., Kormin F., Abidin N.Z., Anuar N.M., Abu Bakar M. The Potential of Insects
as Alternative Sources of Chitin: An Overview on the Chemical Method of
Extraction from Various Sources. Int. J. Mol. Sci. 2020;21:4978. doi:
10.3390/ijms21144978. [DOI]
[PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
6.Elsoud
M.M.A., El Kady E.M. Current trends in fungal biosynthesis of chitin and
chitosan. Bull. Natl. Res. Cent. 2019;43:59. doi: 10.1186/s42269-019-0105-y. [DOI] [Google Scholar]
7.Ahmad
S.I., Ahmad R., Khan M.S., Kant R., Shahid S., Gautam L., Hasan G.M., Hassan I.
Chitin and its derivatives: Structural properties and biomedical applications.
Int. J. Biol. Macromol. 2020;164:526–539. doi: 10.1016/j.ijbiomac.2020.07.098. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
8.Dutta
P.K., Dutta J., Tripathi V.S. Chitin and chitosan: Chemistry, properties and
applications. J. Sci. Ind. Res. 2004;63:20–31. [Google Scholar]
9.Dhillon
G.S., Kaur S., Brar S.K., Verma M. Green synthesis approach: Extraction of
chitosan from fungus mycelia. Crit. Rev. Biotechnol. 2012;33:379–403. doi:
10.3109/07388551.2012.717217. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
10.Philibert
T., Lee B.H., Fabien N. Current Status and New Perspectives on Chitin and
Chitosan as Functional Biopolymers. Appl. Biochem. Biotechnol.
2017;181:1314–1337. doi: 10.1007/s12010-016-2286-2. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
11.Guebitz
G.M., Pellis A., Nyanhongo G.S. Delivery of Biomolecules Using Chitosan Wound
Dressings. In: Jayakumar R., Prabaharan M., editors. Chitosan for Biomaterials
IV: Biomedical Applications. Springer; Cham, Switzerland: 2021. pp. 447–467. [DOI] [Google Scholar]
12.Yang
E., Hou W., Liu K., Yang H., Wei W., Kang H., Dai H. A multifunctional chitosan
hydrogel dressing for liver hemostasis and infected wound healing. Carbohydr.
Polym. 2022;291:119631. doi: 10.1016/j.carbpol.2022.119631. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
13.Wang
Y., Ma Y., Jiang Z., Hu H., Wang S., Chi J., Qiao J., Zhang W., Wang Z., Liu
W., et al. Multifunctional effects of wound dressing based on
chitosan-coordinated argentum with resistant bacterial penetration. Carbohydr.
Polym. 2022;288:119329. doi: 10.1016/j.carbpol.2022.119329. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
14.Hasibuan
P.A.Z., Yuandani, Tanjung M., Gea S., Pasaribu K.M., Harahap M., Perangin-Angin
Y.A., Prayoga A., Ginting J.G. Antimicrobial and antihemolytic properties of a
CNF/AgNP-chitosan film: A potential wound dressing material. Heliyon.
2021;7:e08197. doi: 10.1016/j.heliyon.2021.e08197. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
15.Chowdhury
F., Ahmed S., Rahman M., Ahmed A., Hossain D., Reza H.M., Park S.Y., Sharker
S.M. Chronic Wound-dressing Chitosan-Polyphenolic Patch for pH Responsive Local
Antibacterial Activity. Mater. Today Commun. 2022;31:103310. doi:
10.1016/j.mtcomm.2022.103310. [DOI] [Google Scholar]
16.Tamer
T., Kenawy E., Agwa M., Sabra S., El-Meligy M., Mohy-Eldin M. Wound dressing
membranes based on immobilized Anisaldehyde onto (chitosan-GA-gelatin)
copolymer: In-vitro and in-vivo evaluations. Int. J. Biol. Macromol.
2022;211:94–106. doi: 10.1016/j.ijbiomac.2022.05.061. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
17.Liu
Z., Wang K., Peng X., Zhang L. Chitosan-based drug delivery systems: Current
strategic design and potential application in human hard tissue repair. Eur.
Polym. J. 2022;166:110979. doi: 10.1016/j.eurpolymj.2021.110979. [DOI] [Google Scholar]
18.Kulkarni
N., Jain P., Shindikar A., Suryawanshi P., Thorat N. Advances in the
colon-targeted chitosan based multiunit drug delivery systems for the treatment
of inflammatory bowel disease. Carbohydr. Polym. 2022;288:119351. doi:
10.1016/j.carbpol.2022.119351. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
19.Liu
L., Gao Q., Lu X., Zhou H. In situ forming hydrogels based on chitosan for drug
delivery and tissue regeneration. Asian J. Pharm. Sci. 2016;11:673–683. doi:
10.1016/j.ajps.2016.07.001. [DOI] [Google Scholar]
20.Singha
I., Basu A. Chitosan based injectable hydrogels for smart drug delivery
applications. Sensors Int. 2022;3:100168. doi: 10.1016/j.sintl.2022.100168. [DOI] [Google Scholar]
21.Aranaz
I., Alcántara A.R., Civera M.C., Arias C., Elorza B., Caballero A.H., Acosta N.
Chitosan: An Overview of Its Properties and Applications. Polymers.
2021;13:3256. doi: 10.3390/polym13193256. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
22.Cheung
R.C.F., Ng T.B., Wong J.H., Chan W.Y. Chitosan: An Update on Potential
Biomedical and Pharmaceutical Applications. Mar. Drugs. 2015;13:5156–5186. doi:
10.3390/md13085156. [DOI]
[PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
23.Wang
J., Wang K., Liang J., Jin J., Wang X., Yan S. Chitosan-tripolyphosphate
nanoparticles-mediated co-delivery of MTHFD1L shRNA and 5-aminolevulinic acid
for combination photodynamic-gene therapy in oral cancer. Photodiagnosis
Photodyn. Ther. 2021;36:102581. doi: 10.1016/j.pdpdt.2021.102581. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
24.Miao
J., Yang X.-Q., Gao Z., Li Q., Meng T.-T., Wu J.-Y., Yuan H., Hu F.-Q.
Redox-responsive chitosan oligosaccharide-SS-Octadecylamine polymeric carrier
for efficient anti-Hepatitis B Virus gene therapy. Carbohydr. Polym.
2019;212:215–221. doi: 10.1016/j.carbpol.2019.02.047. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
25.Kurakula
M., Gorityala S., Moharir K. Recent trends in design and evaluation of
chitosan-based colon targeted drug delivery systems: Update 2020. J. Drug
Deliv. Sci. Technol. 2021;64:102579. doi: 10.1016/j.jddst.2021.102579. [DOI] [Google Scholar]
26.Ahmed
S., Ikram S. Chitosan Based Scaffolds and Their Applications in Wound Healing.
Achiev. Life Sci. 2016;10:27–37. doi: 10.1016/j.als.2016.04.001. [DOI] [Google Scholar]
27.Lodhi
G., Kim Y.-S., Hwang J.-W., Kim S.-K., Jeon Y.-J., Je J.-Y., Ahn C.-B., Moon
S.-H., Jeon B.-T., Park P.-J. Chitooligosaccharide and Its Derivatives:
Preparation and Biological Applications. BioMed Res. Int. 2014;2014:654913.
doi: 10.1155/2014/654913. [DOI]
[PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
28.Jiménez-Gómez
C.P., Cecilia J.A. Chitosan: A Natural Biopolymer with a Wide and Varied Range
of Applications. Molecules. 2020;25:3981. doi: 10.3390/molecules25173981. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
29.Pita-López
M.L., Fletes-Vargas G., Espinosa-Andrews H., Rodríguez-Rodríguez R. Physically
cross-linked chitosan-based hydrogels for tissue engineering applications: A
state-of-the-art review. Eur. Polym. J. 2021;145:110176. doi:
10.1016/j.eurpolymj.2020.110176. [DOI] [Google Scholar]
30.Kazemi-Aghdam
F., Jahed V., Dehghan-Niri M., Ganji F., Vasheghani-Farahani E. Injectable
chitosan hydrogel embedding modified Halloysite nanotubes for bone tissue
engineering. Carbohydr. Polym. 2021;269:118311. doi:
10.1016/j.carbpol.2021.118311. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
31.Davachi
S.M., Haramshahi S.M.A., Akhavirad S.A., Bahrami N., Hassanzadeh S., Ezzatpour
S., Hassanzadeh N., Kebria M.M., Khanmohammadi M., Bagher Z. Development of
chitosan/hyaluronic acid hydrogel scaffolds via enzymatic reaction for
cartilage tissue engineering. Mater. Today Commun. 2022;30:103230. doi:
10.1016/j.mtcomm.2022.103230. [DOI] [Google Scholar]
32.Valachová
K., El Meligy M.A., Šoltés L. Hyaluronic acid and chitosan-based electrospun
wound dressings: Problems and solutions. Int. J. Biol. Macromol.
2022;206:74–91. doi: 10.1016/j.ijbiomac.2022.02.117. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
33.Zeng
X., Chen B., Wang L., Sun Y., Jin Z., Liu X., Ouyang L., Liao Y.
Chitosan@Puerarin hydrogel for accelerated wound healing in diabetic subjects
by miR-29ab1 mediated inflammatory axis suppression. Bioact. Mater.
2022;19:653–665. doi: 10.1016/j.bioactmat.2022.04.032. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
34.Mondéjar-López
M., López-Jimenez A.J., Martínez J.C.G., Ahrazem O., Gómez-Gómez L., Niza E.
Comparative evaluation of carvacrol and eugenol chitosan nanoparticles as
eco-friendly preservative agents in cosmetics. Int. J. Biol. Macromol.
2022;206:288–297. doi: 10.1016/j.ijbiomac.2022.02.164. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
35.Ta
Q., Ting J., Harwood S., Browning N., Simm A., Ross K., Olier I., Al-Kassas R.
Chitosan nanoparticles for enhancing drugs and cosmetic components penetration
through the skin. Eur. J. Pharm. Sci. 2021;160:105765. doi:
10.1016/j.ejps.2021.105765. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
36.Morsy
R., Ali S.S., El-Shetehy M. Development of hydroxyapatite-chitosan gel
sunscreen combating clinical multidrug-resistant bacteria. J. Mol. Struct.
2017;1143:251–258. doi: 10.1016/j.molstruc.2017.04.090. [DOI] [Google Scholar]
37.Resende
A.H.M., Farias J.M., Silva D.D., Rufino R.D., Luna J.M., Stamford T.C.M.,
Sarubbo L.A. Application of biosurfactants and chitosan in toothpaste
formulation. Colloids Surf. B Biointerfaces. 2019;181:77–84. doi:
10.1016/j.colsurfb.2019.05.032. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
38.Tabatabaei
M., Rajaei A., Hosseini E., Aghbashlo M., Gupta V.K., Lam S.S. Effect of type
of fatty acid attached to chitosan on walnut oil-in-water Pickering emulsion
properties. Carbohydr. Polym. 2022;291:119566. doi:
10.1016/j.carbpol.2022.119566. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
39.Cazón
P., Velazquez G., Ramírez J.A., Vázquez M. Polysaccharide-based films and
coatings for food packaging: A review. Food Hydrocoll. 2017;68:136–148. doi:
10.1016/j.foodhyd.2016.09.009. [DOI] [Google Scholar]
40.Rajaei
A., Hadian M., Mohsenifar A., Rahmani-Cherati T., Tabatabaei M. A coating based
on clove essential oils encapsulated by chitosan-myristic acid nanogel
efficiently enhanced the shelf-life of beef cutlets. Food Packag. Shelf Life.
2017;14:137–145. doi: 10.1016/j.fpsl.2017.10.005. [DOI] [Google Scholar]
41.Chen
S., Han Y., Jian L., Liao W., Zhang Y., Gao Y. Fabrication, characterization,
physicochemical stability of zein-chitosan nanocomplex for co-encapsulating
curcumin and resveratrol. Carbohydr. Polym. 2020;236:116090. doi:
10.1016/j.carbpol.2020.116090. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
42.Tanpichai
S., Srimarut Y., Woraprayote W., Malila Y. Chitosan coating for the preparation
of multilayer coated paper for food-contact packaging: Wettability, mechanical
properties, and overall migration. Int. J. Biol. Macromol. 2022;213:534–545.
doi: 10.1016/j.ijbiomac.2022.05.193. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
43.Zhao
W., Liang X., Wang X., Wang S., Wang L., Jiang Y. Chitosan based film
reinforced with EGCG loaded melanin-like nanocomposite (EGCG@MNPs) for active
food packaging. Carbohydr. Polym. 2022;290:119471. doi:
10.1016/j.carbpol.2022.119471. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
44.Maleki
G., Woltering E.J., Mozafari M. Applications of chitosan-based carrier as an
encapsulating agent in food industry. Trends Food Sci. Technol. 2022;120:88–99.
doi: 10.1016/j.tifs.2022.01.001. [DOI] [Google Scholar]
45.Flórez
M., Guerra-Rodríguez E., Cazón P., Vázquez M. Chitosan for food packaging:
Recent advances in active and intelligent films. Food Hydrocoll.
2021;124:107328. doi: 10.1016/j.foodhyd.2021.107328. [DOI] [Google Scholar]
46.Qu
B., Luo Y. Chitosan-based hydrogel beads: Preparations, modifications and
applications in food and agriculture sectors—A review. Int. J. Biol. Macromol.
2020;152:437–448. doi: 10.1016/j.ijbiomac.2020.02.240. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
47.Yuan
X., Zheng J., Jiao S., Cheng G., Feng C., Du Y., Liu H. A review on the
preparation of chitosan oligosaccharides and application to human health,
animal husbandry and agricultural production. Carbohydr. Polym. 2019;220:60–70.
doi: 10.1016/j.carbpol.2019.05.050. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
48.Paulraj
M.G., Ignacimuthu S., Gandhi M.R., Shajahan A., Ganesan P., Packiam S.M.,
Al-Dhabi N.A. Comparative studies of tripolyphosphate and glutaraldehyde
cross-linked chitosan-botanical pesticide nanoparticles and their agricultural
applications. Int. J. Biol. Macromol. 2017;104:1813–1819. doi:
10.1016/j.ijbiomac.2017.06.043. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
49.Masteri-Farahani
M., Shahsavarifar S. Chemical functionalization of chitosan biopolymer and
chitosan-magnetite nanocomposite with sulfonic acid for acid-catalyzed
reactions. Chin. J. Chem. Eng. 2021;39:154–161. doi:
10.1016/j.cjche.2021.04.037. [DOI] [Google Scholar]
50.Kumari
S., Tiyyagura H.R., Pottathara Y.B., Sadasivuni K.K., Ponnamma D., Douglas
T.E., Skirtach A.G., Mohan M. Surface functionalization of chitosan as a
coating material for orthopaedic applications: A comprehensive review.
Carbohydr. Polym. 2020;255:117487. doi: 10.1016/j.carbpol.2020.117487. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
51.Verma
M.L., Dhanya B., Sukriti, Rani V., Thakur M., Jeslin J., Kushwaha R.
Carbohydrate and protein based biopolymeric nanoparticles: Current status and
biotechnological applications. Int. J. Biol. Macromol. 2020;154:390–412. doi:
10.1016/j.ijbiomac.2020.03.105. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
52.Yamazaki
S., Takegawa A., Kaneko Y., Kadokawa J.-I., Yamagata M., Ishikawa M. An acidic
cellulose–chitin hybrid gel as novel electrolyte for an electric double layer
capacitor. Electrochem. Commun. 2009;11:68–70. doi:
10.1016/j.elecom.2008.10.039. [DOI] [Google Scholar]
53.Guo
Y., Chen X., Xie Y., Shen Z., Ling Y., Xue X., Tong Y., Wang J., Zhang W., Zhao
J. A gel polymer electrolyte film based on chitosan derivative and ionic liquid
for the LiFePO4 cathode solid Li metal battery. Mater. Today Commun.
2022;31:103597. doi: 10.1016/j.mtcomm.2022.103597. [DOI] [Google Scholar]
54.Hamza
M.F., Mira H., Wei Y., Aboelenin S.M., Guibal E., Salem W.M. Sulfonation of
chitosan for enhanced sorption of Li(I) from acidic solutions—Application to
metal recovery from waste Li-ion mobile battery. Chem. Eng. J. 2022;441:135941.
doi: 10.1016/j.cej.2022.135941. [DOI] [Google Scholar]
55.Feng
J., Yi H., Lei Z., Wang J., Zeng H., Deng Y., Wang C. A three-dimensional
crosslinked chitosan sulfate network binder for high-performance Li–S
batteries. J. Energy Chem. 2020;56:171–178. doi: 10.1016/j.jechem.2020.07.060. [DOI] [Google Scholar]
56.Chai
L., Qu Q., Zhang L., Shen M., Zhang L., Zheng H. Chitosan, a new and
environmental benign electrode binder for use with graphite anode in
lithium-ion batteries. Electrochimica Acta. 2013;105:378–383. doi:
10.1016/j.electacta.2013.05.009. [DOI] [Google Scholar]
57.Reshad
R.A.I., Alam Jishan T., Chowdhury N.N. Chitosan and its Broad Applications: A
Brief Review. J. Clin. Exp. Investig. 2021;12:em00779. doi:
10.29333/jcei/11268. [DOI]
[Google Scholar]
58.Shang
J., Shao Z., Chen X. Chitosan-based electroactive hydrogel. Polymer.
2008;49:5520–5525. doi: 10.1016/j.polymer.2008.09.067. [DOI] [Google Scholar]
59.Mourya
V., Inamdar N.N. Chitosan-modifications and applications: Opportunities galore.
React. Funct. Polym. 2008;68:1013–1051. doi:
10.1016/j.reactfunctpolym.2008.03.002. [DOI] [Google Scholar]
60.Chungsiriporn
J., Khunthongkaew P., Wongnoipla Y., Sopajarn A., Karrila S., Iewkittayakorn J.
Fibrous packaging paper made of oil palm fiber with beeswax-chitosan solution
to improve water resistance. Ind. Crop. Prod. 2022;177:114541. doi:
10.1016/j.indcrop.2022.114541. [DOI] [Google Scholar]
61.Bhardwaj
S., Bhardwaj N.K., Negi Y.S. Surface coating of chitosan of different degree of
acetylation on non surface sized writing and printing grade paper. Carbohydr.
Polym. 2021;269:117674. doi: 10.1016/j.carbpol.2021.117674. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
62.Parween
S., Bhatnagar I., Bhosale S., Paradkar S., Michael I.J., Rao C.M., Asthana A.
Cross-linked chitosan biofunctionalized paper-based microfluidic device towards
long term stabilization of blood typing antibodies. Int. J. Biol. Macromol.
2020;163:1233–1239. doi: 10.1016/j.ijbiomac.2020.07.075. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
63.Mohan
V L., Shiva Nagendraa S.M., Maiyab M.P. Photocatalytic degradation of gaseous
toluene using self-assembled air filter based on chitosan/activated
carbon/TiO2. J. Environ. Chem. Eng. 2019;7:103455. doi:
10.1016/j.jece.2019.103455. [DOI] [Google Scholar]
64.Ribeiro
E.S., de Farias B.S., Junior T.R.S.C., Pinto L.A.D.A., Diaz P.S. Chitosan–based
nanofibers for enzyme immobilization. Int. J. Biol. Macromol.
2021;183:1959–1970. doi: 10.1016/j.ijbiomac.2021.05.214. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
65.Ji
S., Liu W., Su S., Gan C., Jia C. Chitosan derivative functionalized carbon
nanotubes as carriers for enzyme immobilization to improve synthetic efficiency
of ethyl caproate. LWT. 2021;149:111897. doi: 10.1016/j.lwt.2021.111897. [DOI] [Google Scholar]
66.Nouri
M., Khodaiyan F. Green synthesis of chitosan magnetic nanoparticles and their
application with poly-aldehyde kefiran cross-linker to immobilize pectinase
enzyme. Biocatal. Agric. Biotechnol. 2020;29:101681. doi:
10.1016/j.bcab.2020.101681. [DOI] [Google Scholar]
67.Ji
X., Guo M. Preparation and properties of a chitosan-lignin wood adhesive. Int.
J. Adhes. Adhes. 2018;82:8–13. doi: 10.1016/j.ijadhadh.2017.12.005. [DOI] [Google Scholar]
68.Xi
X., Pizzi A., Lei H., Zhang B., Chen X., Du G. Environmentally friendly
chitosan adhesives for plywood bonding. Int. J. Adhes. Adhes. 2021;112:103027.
doi: 10.1016/j.ijadhadh.2021.103027. [DOI] [Google Scholar]
69.Shalbafan
A., Hassannejad H., Rahmaninia M. Formaldehyde adsorption capacity of chitosan
derivatives as bio-adsorbents for wood-based panels. Int. J. Adhes. Adhes.
2020;102:102669. doi: 10.1016/j.ijadhadh.2020.102669. [DOI] [Google Scholar]
70.Sarode
S., Upadhyay P., Khosa M., Mak T., Shakir A., Song S., Ullah A. Overview of
wastewater treatment methods with special focus on biopolymer chitin-chitosan.
Int. J. Biol. Macromol. 2018;121:1086–1100. doi:
10.1016/j.ijbiomac.2018.10.089. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
71.Sakib
M.N., Mallik A.K., Rahman M.M. Update on chitosan-based electrospun nanofibers
for wastewater treatment: A review. Carbohydr. Polym. Technol. Appl.
2021;2:100064. doi: 10.1016/j.carpta.2021.100064. [DOI] [Google Scholar]
72.Youcefi
F., Ouahab L.W., Borsali L., Bengherbi S.E.-I. Heavy metal removal efficiency
and antibacterial activity of chitosan beads prepared from crustacean waste.
Mater. Today Proc. 2022;53:265–268. doi: 10.1016/j.matpr.2022.01.089. [DOI] [Google Scholar]
73.Ekka
B., Mieriņa I., Juhna T., Kokina K., Turks M. Synergistic effect of activated
charcoal and chitosan on treatment of dairy wastewaters. Mater. Today Commun.
2022;31:103477. doi: 10.1016/j.mtcomm.2022.103477. [DOI] [Google Scholar]
74.Iber
B.T., Okomoda V.T., Rozaimah S.A., Kasan N.A. Eco-friendly approaches to
aquaculture wastewater treatment: Assessment of natural coagulants vis-a-vis
chitosan. Bioresour. Technol. Rep. 2021;15:100702. doi:
10.1016/j.biteb.2021.100702. [DOI] [Google Scholar]
75.Hou
J., Aydemir B.E., Dumanli A.G. Understanding the structural diversity of
chitins as a versatile biomaterial. Philos. Trans. R. Soc. Lond. Ser. A Math.
Phys. Eng. Sci. 2021;379:20200331. doi: 10.1098/rsta.2020.0331. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
76.Santos
V.P., Marques N.S.S., Maia P.C.S.V., De Lima M.A.B., de Oliveira Franco L., De
Campos-Takaki G.M. Seafood Waste as Attractive Source of Chitin and Chitosan
Production and Their Applications. Int. J. Mol. Sci. 2020;21:4290. doi:
10.3390/ijms21124290. [DOI]
[PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
77.Elieh-Ali-Komi
D., Hamblin M.R. Chitin and Chitosan: Production and Application of Versatile
Biomedical Nanomaterials. Int. J. Adv. Res. 2016;4:411–427. [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
78.Liu
X., Cooper A.M., Zhang J., Zhu K.Y. Biosynthesis, modifications and degradation
of chitin in the formation and turnover of peritrophic matrix in insects. J.
Insect Physiol. 2019;114:109–115. doi: 10.1016/j.jinsphys.2019.03.006. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
79.Merzendorfer
H. The cellular basis of chitin synthesis in fungi and insects: Common
principles and differences. Eur. J. Cell Biol. 2011;90:759–769. doi:
10.1016/j.ejcb.2011.04.014. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
80.Bastiaens
L., Soetemans L., D’Hondt E., Elst K. Chitin and Chitosan: Properties and
Applications. Wiley; Hoboken, NJ, USA: 2019. Sources of Chitin and Chitosan and
their Isolation; pp. 1–34. [DOI] [Google Scholar]
81.Kumirska
J., Weinhold M.X., Thöming J., Stepnowski P. Biomedical Activity of
Chitin/Chitosan Based Materials—Influence of Physicochemical Properties Apart
from Molecular Weight and Degree of N-Acetylation. Polymers. 2011;3:1875–1901.
doi: 10.3390/polym3041875. [DOI]
[Google Scholar]
82.Zhu
K.Y., Merzendorfer H., Zhang W., Zhang J., Muthukrishnan S. Biosynthesis,
Turnover, and Functions of Chitin in Insects. Annu. Rev. Entomol.
2016;61:177–196. doi: 10.1146/annurev-ento-010715-023933. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
83.Ru
G., Wu S., Yan X., Liu B., Gong P., Wang L., Feng J. Inverse solubility of
chitin/chitosan in aqueous alkali solvents at low temperature. Carbohydr.
Polym. 2018;206:487–492. doi: 10.1016/j.carbpol.2018.11.016. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
84.Hahn
T., Tafi E., Paul A., Salvia R., Falabella P., Zibek S. Current state of chitin
purification and chitosan production from insects. J. Chem. Technol.
Biotechnol. 2020;95:2775–2795. doi: 10.1002/jctb.6533. [DOI] [Google Scholar]
85.Casadidio
C., Peregrina D.V., Gigliobianco M.R., Deng S., Censi R., Di Martino P. Chitin
and Chitosans: Characteristics, Eco-Friendly Processes, and Applications in
Cosmetic Science. Mar. Drugs. 2019;17:369. doi: 10.3390/md17060369. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
86.Gow
N.A.R., Latge J.-P., Munro C.A. The Fungal Cell Wall: Structure, Biosynthesis,
and Function. Microbiol. Spectr. 2017;5:28513415. doi:
10.1128/microbiolspec.FUNK-0035-2016. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
87.Kjartansson
G.T., Zivanovic S., Kristbergsson A.K., Weiss J. Sonication-Assisted Extraction
of Chitin from North Atlantic Shrimps (Pandalus borealis) J. Agric. Food Chem.
2006;54:5894–5902. doi: 10.1021/jf060646w. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
88.El
Knidri H., Belaabed R., Addaou A., Laajeb A., Lahsini A. Extraction, chemical
modification and characterization of chitin and chitosan. Int. J. Biol.
Macromol. 2018;120:1181–1189. doi: 10.1016/j.ijbiomac.2018.08.139. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
89.Kurita
K. Chitin and Chitosan: Functional Biopolymers from Marine Crustaceans. Mar.
Biotechnol. 2006;8:203–226. doi: 10.1007/s10126-005-0097-5. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
90.Kaur
S., Dhillon G.S. Recent trends in biological extraction of chitin from marine
shell wastes: A review. Crit. Rev. Biotechnol. 2015;35:44–61. doi:
10.3109/07388551.2013.798256. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
91.Bajaj
M., Winter J., Gallert C. Effect of deproteination and deacetylation conditions
on viscosity of chitin and chitosan extracted from Crangon crangon shrimp
waste. Biochem. Eng. J. 2011;56:51–62. doi: 10.1016/j.bej.2011.05.006. [DOI] [Google Scholar]
92.Spranghers
T., Ottoboni M., Klootwijk C., Ovyn A., Deboosere S., De Meulenaer B., Michiels
J., Eeckhout M., De Clercq P., De Smet S. Nutritional composition of black
soldier fly (Hermetia illucens) prepupae reared on different organic waste
substrates. J. Sci. Food Agric. 2017;97:2594–2600. doi: 10.1002/jsfa.8081. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
93.Kaur
S., Dhillon G.S. The versatile biopolymer chitosan: Potential sources,
evaluation of extraction methods and applications. Crit. Rev. Microbiol.
2013;40:155–175. doi: 10.3109/1040841X.2013.770385. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
94.Srinivasan
H., Kanayairam V., Ravichandran R. Chitin and chitosan preparation from shrimp
shells Penaeus monodon and its human ovarian cancer cell line, PA-1. Int. J.
Biol. Macromol. 2018;107:662–667. doi: 10.1016/j.ijbiomac.2017.09.035. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
95.Mohan
K., Ganesan A.R., Muralisankar T., Jayakumar R., Sathishkumar P., Uthayakumar
V., Chandirasekar R., Revathi N. Recent insights into the extraction,
characterization, and bioactivities of chitin and chitosan from insects. Trends
Food Sci. Technol. 2020;105:17–42. doi: 10.1016/j.tifs.2020.08.016. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
96.Younes
I., Rinaudo M. Chitin and Chitosan Preparation from Marine Sources. Structure,
Properties and Applications. Mar. Drugs. 2015;13:1133–1174. doi:
10.3390/md13031133. [DOI]
[PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
97.Lopes
C., Antelo L.T., Franco-Uría A., Alonso A., Perez-Martin R. Chitin production
from crustacean biomass: Sustainability assessment of chemical and enzymatic
processes. J. Clean. Prod. 2018;172:4140–4151. doi:
10.1016/j.jclepro.2017.01.082. [DOI] [Google Scholar]
98.Tasar
O.C., Erdal S., Taskin M. Chitosan production by psychrotolerant Rhizopus
oryzae in non-sterile open fermentation conditions. Int. J. Biol. Macromol.
2016;89:428–433. doi: 10.1016/j.ijbiomac.2016.05.007. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
99.Huq
T., Khan A., Brown D., Dhayagude N., He Z., Ni Y. Sources, production and
commercial applications of fungal chitosan: A review. J. Bioresour. Bioprod.
2022;7:85–98. doi: 10.1016/j.jobab.2022.01.002. [DOI] [Google Scholar]
100.Kasongo
K.J., Tubadi D.J., Bampole L.D., Kaniki T.A., Kanda N.J.M., Lukumu M.E.
Extraction and characterization of chitin and chitosan from Termitomyces
titanicus. SN Appl. Sci. 2020;2:406. doi: 10.1007/s42452-020-2186-5. [DOI] [Google Scholar]
101.Namboodiri
M.M.T., Pakshirajan K. Waste Biorefinery. Elsevier; Amsterdam, The Netherlands:
2020. Chapter 10—Valorization of waste biomass for chitin and chitosan
production; pp. 241–266. [DOI] [Google Scholar]
102.Li
B., Zhang J., Dai F., Xia W. Purification of chitosan by using sol–gel
immobilized pepsin deproteinization. Carbohydr. Polym. 2011;88:206–212. doi:
10.1016/j.carbpol.2011.11.092. [DOI] [Google Scholar]
103.Kumari
S., Rath P., Kumar A.S.H., Tiwari T. Extraction and characterization of chitin
and chitosan from fishery waste by chemical method. Environ. Technol. Innov.
2015;3:77–85. doi: 10.1016/j.eti.2015.01.002. [DOI] [Google Scholar]
104.Morgan
K., Conway C., Faherty S., Quigley C. A Comparative Analysis of Conventional
and Deep Eutectic Solvent (DES)-Mediated Strategies for the Extraction of
Chitin from Marine Crustacean Shells. Molecules. 2021;26:7603. doi:
10.3390/molecules26247603. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
105.Kou
S., Peters L.M., Mucalo M.R. Chitosan: A review of sources and preparation
methods. Int. J. Biol. Macromol. 2020;169:85–94. doi:
10.1016/j.ijbiomac.2020.12.005. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
106.Mohan
K., Ganesan A.R., Ezhilarasi P., Kondamareddy K.K., Rajan D.K., Sathishkumar
P., Rajarajeswaran J., Conterno L. Green and eco-friendly approaches for the
extraction of chitin and chitosan: A review. Carbohydr. Polym. 2022;287:119349.
doi: 10.1016/j.carbpol.2022.119349. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
107.Neves
A.C., Zanette C., Grade S.T., Schaffer J.V., Alves H.J., Arantes M.K.
Optimization of lactic fermentation for extraction of chitin from freshwater
shrimp waste. Acta Sci. Technol. 2017;39:125–133. doi:
10.4025/actascitechnol.v39i2.29370. [DOI] [Google Scholar]
108.Deng
J.-J., Mao H., Fang W., Li Z.-Q., Shi D., Li Z.-W., Zhou T., Luo X.-C.
Enzymatic conversion and recovery of protein, chitin, and astaxanthin from
shrimp shell waste. J. Clean. Prod. 2020;271:122655. doi:
10.1016/j.jclepro.2020.122655. [DOI] [Google Scholar]
109.Chakravarty
J., Yang C.-L., Palmer J., Brigham C.J. Chitin Extraction from Lobster Shell
Waste using Microbial Culture-based Methods. Appl. Food Biotechnol.
2018;5:141–154. doi: 10.22037/AFB.V5I3.20787. [DOI] [Google Scholar]
110.Rakshit
S., Mondal S., Pal K., Jana A., Soren J.P., Barman P., Mondal K.C., Halder S.K.
Extraction of chitin from Litopenaeus vannamei shell and its subsequent
characterization: An approach of waste valorization through microbial
bioprocessing. Bioprocess Biosyst. Eng. 2021;44:1943–1956. doi:
10.1007/s00449-021-02574-y. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
111.Castro
R., Guerrero-Legarreta I., Bórquez R. Chitin extraction from Allopetrolisthes
punctatus crab using lactic fermentation. Biotechnol. Rep. 2018;20:e00287. doi:
10.1016/j.btre.2018.e00287. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
112.Masselin
A., Rousseau A., Pradeau S., Fort L., Gueret R., Buon L., Armand S., Cottaz S.,
Choisnard L., Fort S. Optimizing Chitin Depolymerization by Lysozyme to
Long-Chain Oligosaccharides. Mar. Drugs. 2021;19:320. doi: 10.3390/md19060320. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
113.Guan
F., Han Y., Yan K., Zhang Y., Zhang Z., Wu N., Tian J. Highly efficient
production of chitooligosaccharides by enzymes mined directly from the marine
metagenome. Carbohydr. Polym. 2020;234:115909. doi:
10.1016/j.carbpol.2020.115909. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
114.Synowiecki
J., Al-Khateeb N.A.A.Q. The recovery of protein hydrolysate during enzymatic
isolation of chitin from shrimp Crangon crangon processing discards. Food Chem.
2000;68:147–152. doi: 10.1016/S0308-8146(99)00165-X. [DOI] [Google Scholar]
115.Hongkulsup
C., Khutoryanskiy V.V., Niranjan K. Enzyme assisted extraction of chitin from
shrimp shells (Litopenaeus vannamei) J. Chem. Technol. Biotechnol.
2015;91:1250–1256. doi: 10.1002/jctb.4714. [DOI] [Google Scholar]
116.Xin
R., Xie W., Xu Z., Che H., Zheng Z., Yang X. Efficient extraction of chitin
from shrimp waste by mutagenized strain fermentation using atmospheric and
room-temperature plasma. Int. J. Biol. Macromol. 2019;155:1561–1568. doi:
10.1016/j.ijbiomac.2019.11.133. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
117.Taokaew
S., Zhang X., Chuenkaek T., Kobayashi T. Chitin from fermentative extraction of
crab shells using okara as a nutrient source and comparative analysis of
structural differences from chemically extracted chitin. Biochem. Eng. J.
2020;159:107588. doi: 10.1016/j.bej.2020.107588. [DOI] [Google Scholar]
118.Liu
Y., Xing R., Yang H., Liu S., Qin Y., Li K., Yu H., Li P. Chitin extraction
from shrimp (Litopenaeus vannamei) shells by successive two-step fermentation
with Lactobacillus rhamnoides and Bacillus amyloliquefaciens. Int. J. Biol.
Macromol. 2020;148:424–433. doi: 10.1016/j.ijbiomac.2020.01.124. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
119.Liu
P., Liu S., Guo N., Mao X., Lin H., Xue C., Wei D. Cofermentation of Bacillus
licheniformis and Gluconobacter oxydans for chitin extraction from shrimp
waste. Biochem. Eng. J. 2014;91:10–15. doi: 10.1016/j.bej.2014.07.004. [DOI] [Google Scholar]
120.Aranday-García
R., Saimoto H., Shirai K., Ifuku S. Chitin biological extraction from shrimp
wastes and its fibrillation for elastic nanofiber sheets preparation.
Carbohydr. Polym. 2019;213:112–120. doi: 10.1016/j.carbpol.2019.02.083. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
121.Chen
Q., Xu A., Li Z., Wang J., Zhang S. Influence of anionic structure on the
dissolution of chitosan in 1-butyl-3-methylimidazolium-based ionic liquids.
Green Chem. 2011;13:3446–3452. doi: 10.1039/c1gc15703e. [DOI] [Google Scholar]
122.Morais
E.S., Lopes A.M.D.C., Freire M.G., Freire C.S.R., Coutinho J.A.P., Silvestre
A.J.D. Use of Ionic Liquids and Deep Eutectic Solvents in Polysaccharides
Dissolution and Extraction Processes towards Sustainable Biomass Valorization.
Molecules. 2020;25:3652. doi: 10.3390/molecules25163652. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
123.Huang
W.-C., Zhao D., Guo N., Xue C., Mao X. Green and Facile Production of Chitin
from Crustacean Shells Using a Natural Deep Eutectic Solvent. J. Agric. Food
Chem. 2018;66:11897–11901. doi: 10.1021/acs.jafc.8b03847. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
124.Tolesa
L.D., Gupta B.S., Lee M.-J. Chitin and chitosan production from shrimp shells
using ammonium-based ionic liquids. Int. J. Biol. Macromol. 2019;130:818–826.
doi: 10.1016/j.ijbiomac.2019.03.018. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
125.Ma
Q., Gao X., Bi X., Xia M., Han Q., Peng M., Tu L., Yang Y., Shen Y., Wang M.
Combination of steam explosion and ionic liquid pretreatments for efficient
utilization of fungal chitin from citric acid fermentation residue. Biomass
Bioenergy. 2021;145:105967. doi: 10.1016/j.biombioe.2021.105967. [DOI] [Google Scholar]
126.Kadokawa
J.-I. Dissolution, derivatization, and functionalization of chitin in ionic
liquid. Int. J. Biol. Macromol. 2018;123:732–737. doi:
10.1016/j.ijbiomac.2018.11.165. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
127.Feng
M., He B., Chen X., Xu J., Lu X., Jia C., Sun J. Separation of chitin from
shrimp shells enabled by transition metal salt aqueous solution and ionic
liquid. Chin. J. Chem. Eng. 2022. In press . [DOI]
128.Berton
P., Shamshina J.L., Ostadjoo S., King C.A., Rogers R.D. Enzymatic hydrolysis of
ionic liquid-extracted chitin. Carbohydr. Polym. 2018;199:228–235. doi:
10.1016/j.carbpol.2018.07.014. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
129.Li
Z., Liu C., Hong S., Lian H., Mei C., Lee J., Wu Q., Hubbe M.A., Li M.-C.
Recent advances in extraction and processing of chitin using deep eutectic
solvents. Chem. Eng. J. 2022;446:136953. doi: 10.1016/j.cej.2022.136953. [DOI] [Google Scholar]
130.Wang
Y., Yang Y., Wang R., Zhu Y., Yang P., Lin Z., Wang Z., Cong W. Efficient
extraction of chitin from crustacean waste via a novel ternary natural deep
eutectic solvents. Carbohydr. Polym. 2022;286:119281. doi:
10.1016/j.carbpol.2022.119281. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
131.Saravana
P.S., Ho T.C., Chae S.-J., Cho Y.-J., Park J.-S., Lee H.-J., Chun B.-S. Deep
eutectic solvent-based extraction and fabrication of chitin films from
crustacean waste. Carbohydr. Polym. 2018;195:622–630. doi:
10.1016/j.carbpol.2018.05.018. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
132.Sharma
M., Mukesh C., Mondal D., Prasad K. Dissolution of α-chitin in deep eutectic
solvents. RSC Adv. 2013;3:18149–18155. doi: 10.1039/c3ra43404d. [DOI] [Google Scholar]
133.Wang
J., Teng C., Yan L. Applications of deep eutectic solvents in the extraction,
dissolution, and functional materials of chitin: Research progress and
prospects. Green Chem. 2021;24:552–564. doi: 10.1039/D1GC04340D. [DOI] [Google Scholar]
134.Sun
X., Wei Q., Yang Y., Xiao Z., Ren X. In-depth study on the extraction and
mechanism of high-purity chitin based on NADESs method. J. Environ. Chem. Eng.
2021;10:106859. doi: 10.1016/j.jece.2021.106859. [DOI] [Google Scholar]
135.Suryawanshi
N., Ayothiraman S., Eswari J.S. Ultrasonication mode for the expedition of
extraction process of chitin from the maritime shrimp shell waste. Indian J.
Biochem. Biophys. 2020;57:431–438. [Google Scholar]
136.Singh
A., Benjakul S., Prodpran T. Ultrasound-Assisted Extraction of Chitosan from
Squid Pen: Molecular Characterization and Fat Binding Capacity. J. Food Sci.
2019;84:224–234. doi: 10.1111/1750-3841.14439. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
137.Wardhono
E.Y., Pinem M.P., Kustiningsih I., Effendy M., Clausse D., Saleh K., Guénin E.
Heterogeneous deacetylation reaction of chitin under low-frequency ultrasonic
irradiation. Carbohydr. Polym. 2021;267:118180. doi:
10.1016/j.carbpol.2021.118180. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
138.Sebastian
J., Rouissi T., Brar S.K., Hegde K., Verma M. Microwave-assisted extraction of
chitosan from Rhizopus oryzae NRRL 1526 biomass. Carbohydr. Polym.
2019;219:431–440. doi: 10.1016/j.carbpol.2019.05.047. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
139.Prajapat
A.L., Gogate P.R. Depolymerization of guar gum solution using different
approaches based on ultrasound and microwave irradiations. Chem. Eng. Process.
Process Intensif. 2015;88:1–9. doi: 10.1016/j.cep.2014.11.018. [DOI] [Google Scholar]
140.El
Knidri H., El Khalfaouy R., Laajeb A., Addaou A., Lahsini A. Eco-friendly
extraction and characterization of chitin and chitosan from the shrimp shell
waste via microwave irradiation. Process Saf. Environ. Prot. 2016;104:395–405.
doi: 10.1016/j.psep.2016.09.020. [DOI] [Google Scholar]
141.Apriyanti
D.T., Susanto H., Rokhati N. Influence of Microwave Irradiation on Extraction
of Chitosan from Shrimp Shell Waste. Reaktor. 2018;18:45–50. doi:
10.14710/reaktor.18.1.45-50. [DOI] [Google Scholar]
142.EL
Knidri H., Dahmani J., Addaou A., Laajeb A., Lahsini A. Rapid and efficient
extraction of chitin and chitosan for scale-up production: Effect of process
parameters on deacetylation degree and molecular weight. Int. J. Biol.
Macromol. 2019;139:1092–1102. doi: 10.1016/j.ijbiomac.2019.08.079. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
143.Hajji
S., Ghorbel-Bellaaj O., Younes I., Jellouli K., Nasri M. Chitin extraction from
crab shells by Bacillus bacteria. Biological activities of fermented crab
supernatants. Int. J. Biol. Macromol. 2015;79:167–173. doi:
10.1016/j.ijbiomac.2015.04.027. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
144.Younes
I., Hajji S., Frachet V., Rinaudo M., Jellouli K., Nasri M. Chitin extraction
from shrimp shell using enzymatic treatment. Antitumor, antioxidant and
antimicrobial activities of chitosan. Int. J. Biol. Macromol. 2014;69:489–498.
doi: 10.1016/j.ijbiomac.2014.06.013. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
145.Hou
F., Ma X., Fan L., Wang D., Ding T., Ye X., Liu D. Enhancement of chitin
suspension hydrolysis by a combination of ultrasound and chitinase. Carbohydr.
Polym. 2019;231:115669. doi: 10.1016/j.carbpol.2019.115669. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
146.Achinivu
E.C., Shamshina J.L., Rogers R.D. Chitin extracted from various biomass
sources: It’s not the same. Fluid Phase Equilibria. 2021;552:113286. doi:
10.1016/j.fluid.2021.113286. [DOI] [Google Scholar]
147.Qin
Y., Lu X., Sun N., Rogers R.D. Dissolution or extraction of crustacean shells
using ionic liquids to obtain high molecular weight purified chitin and direct
production of chitin films and fibers. Green Chem. 2010;12:968–971. doi:
10.1039/c003583a. [DOI]
[Google Scholar]
148.Hong
S., Yuan Y., Yang Q., Zhu P., Lian H. Versatile acid base sustainable solvent
for fast extraction of various molecular weight chitin from lobster shell.
Carbohydr. Polym. 2018;201:211–217. doi: 10.1016/j.carbpol.2018.08.059. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
149.Ortiz
J.C., Ruiz A.T., Morales-Ramos J., Thomas M., Rojas M., Tomberlin J. Insects as
Sustainable Food Ingredients. Insects as Sustain Food Ingredients. Elsevier;
Amsterdam, The Netherlands: 2016. [Google Scholar]
150.Battampara
P., Sathish T.N., Reddy R., Guna V., Nagananda G., Reddy N., Ramesha B.,
Maharaddi V., Rao A.P., Ravikumar H., et al. Properties of chitin and chitosan
extracted from silkworm pupae and egg shells. Int. J. Biol. Macromol.
2020;161:1296–1304. doi: 10.1016/j.ijbiomac.2020.07.161. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
151.Liu
S., Sun J., Yu L., Zhang C., Bi J., Zhu F., Qu M., Jiang C., Yang Q. Extraction
and Characterization of Chitin from the Beetle Holotrichia parallela
Motschulsky. Molecules. 2012;17:4604–4611. doi: 10.3390/molecules17044604. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
152.Kaya
M., Erdogan S., Mol A., Baran T. Comparison of chitin structures isolated from
seven Orthoptera species. Int. J. Biol. Macromol. 2015;72:797–805. doi:
10.1016/j.ijbiomac.2014.09.034. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
153.De
Queiroz Antonino R.S.C.M., Lia Fook B.R.P., De Oliveira Lima V.A., De Farias
Rached R.Í., Lima E.P.N., Da Silva Lima R.J., Peniche Covas C.A., Lia Fook M.V.
Preparation and Characterization of Chitosan Obtained from Shells of Shrimp
(Litopenaeus vannamei Boone) Mar. Drugs. 2017;15:141. doi: 10.3390/md15050141. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
154.Pakizeh
M., Moradi A., Ghassemi T. Chemical extraction and modification of chitin and
chitosan from shrimp shells. Eur. Polym. J. 2021;159:110709. doi:
10.1016/j.eurpolymj.2021.110709. [DOI] [Google Scholar]
155.Batista
I., Roberts G.A.F. A novel, facile technique for deacetylating chitin. Die
Makromol. Chemie. 1990;191:429–434. doi: 10.1002/macp.1990.021910217. [DOI] [Google Scholar]
156.Liu
Y., Liu Z., Pan W., Wu Q. Absorption behaviors and structure changes of chitin
in alkali solution. Carbohydr. Polym. 2008;72:235–239. doi:
10.1016/j.carbpol.2007.08.004. [DOI] [Google Scholar]
157.Jung
J., Zhao Y. Alkali- or acid-induced changes in structure, moisture absorption
ability and deacetylating reaction of β-chitin extracted from jumbo squid
(Dosidicus gigas) pens. Food Chem. 2014;152:355–362. doi:
10.1016/j.foodchem.2013.11.165. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
158.Tan
T.S., Chin H.Y., Tsai M.-L., Liu C.-L. Structural alterations, pore generation,
and deacetylation of α- and β-chitin submitted to steam explosion. Carbohydr.
Polym. 2015;122:321–328. doi: 10.1016/j.carbpol.2015.01.016. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
159.Younes
I., Ghorbel-Bellaaj O., Nasri R., Chaabouni M., Rinaudo M., Nasri M. Chitin and
chitosan preparation from shrimp shells using optimized enzymatic
deproteinization. Process Biochem. 2012;47:2032–2039. doi:
10.1016/j.procbio.2012.07.017. [DOI] [Google Scholar]
160.Suresh
P.V., Sakhare P.Z., Sachindra N.M., Halami P.M. Extracellular chitin
deacetylase production in solid state fermentation by native soil isolates of
Penicillium monoverticillium and Fusarium oxysporum. J. Food Sci. Technol.
2012;51:1594–1599. doi: 10.1007/s13197-012-0676-1. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
161.Zhao
Y., Park R.-D., Muzzarelli R. Chitin Deacetylases: Properties and Applications.
Mar. Drugs. 2010;8:24–46. doi: 10.3390/md8010024. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
162.Schmitz
C., Auza L.G., Koberidze D., Rasche S., Fischer R., Bortesi L. Conversion of
Chitin to Defined Chitosan Oligomers: Current Status and Future Prospects. Mar.
Drugs. 2019;17:452. doi: 10.3390/md17080452. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
163.Hembach
L., Cord-Landwehr S., Moerschbacher B.M. Enzymatic production of all fourteen
partially acetylated chitosan tetramers using different chitin deacetylases
acting in forward or reverse mode. Sci. Rep. 2017;7:17692. doi:
10.1038/s41598-017-17950-6. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
164.Hamer
S.N., Cord-Landwehr S., Biarnés X., Planas A., Waegeman H., Moerschbacher B.,
Kolkenbrock S. Enzymatic production of defined chitosan oligomers with a
specific pattern of acetylation using a combination of chitin oligosaccharide
deacetylases. Sci. Rep. 2015;5:srep08716. doi: 10.1038/srep08716. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
165.Wu
Y., Lin Q.L., Chen Z.X., Wu W., Xiao H.X. Preparation of chitosan oligomers COS
and their effect on the retrogradation of intermediate amylose rice starch. J.
Food Sci. Technol. 2011;49:695–703. doi: 10.1007/s13197-010-0210-2. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
166.Daraghmeh
N., Chowdhry B.Z., Leharne S.A., Al Omari M.M.H., Badwan A.A. Co-Processed
Chitin-Mannitol as a New Excipient for Oro-Dispersible Tablets. Mar. Drugs.
2015;13:1739–1764. doi: 10.3390/md13041739. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
167.Pillai
C.K.S., Paul W., Sharma C.P. Chitin and chitosan polymers: Chemistry,
solubility and fiber formation. Prog. Polym. Sci. 2009;34:641–678. doi:
10.1016/j.progpolymsci.2009.04.001. [DOI] [Google Scholar]
168.Moran
H.B.T., Turley J.L., Andersson M., Lavelle E.C. Immunomodulatory properties of
chitosan polymers. Biomaterials. 2018;184:1–9. doi:
10.1016/j.biomaterials.2018.08.054. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
169.Haske-Cornelius
O., Bischof S., Beer B., Bartolome M.J., Olakanmi E.O., Mokoba M., Guebitz G.,
Nyanhongo G. Enzymatic synthesis of highly flexible lignin cross-linked
succinyl-chitosan hydrogels reinforced with reed cellulose fibres. Eur. Polym.
J. 2019;120:109201. doi: 10.1016/j.eurpolymj.2019.08.028. [DOI] [Google Scholar]
170.Dongre
R.S. Chitin-Chitosan—Myriad Functionalities in Science and Technology.
InTechOpen; London, UK: 2018. Introductory Chapter: Multitask Portfolio of
Chitin/Chitosan: Biomatrix to Quantum Dot. [DOI] [Google Scholar]
171.Wang
C., Chang T., Dong S., Zhang D., Ma C., Chen S., Li H. Biopolymer films based
on chitosan/potato protein/linseed oil/ZnO NPs to maintain the storage quality
of raw meat. Food Chem. 2020;332:127375. doi: 10.1016/j.foodchem.2020.127375. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
172.Grobler
S., Perchyonok V. Cytotoxicity of low, medium and high molecular weight
chitosan’s on balb/c 3t3 mouse fibroblast cells at a 75–85% de-acetylation
degree. Mater. Sci. Eng. Adv. Res. 2018;2:27–30. doi: 10.24218/msear.2018.26. [DOI] [Google Scholar]
173.Tan
G., Kaya M., Tevlek A., Sargin I., Baran T. Antitumor activity of chitosan from
mayfly with comparison to commercially available low, medium and high molecular
weight chitosans. In Vitro Cell. Dev. Biol. Anim. 2018;54:366–374. doi:
10.1007/s11626-018-0244-8. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
174.Sivashankari
P., Prabaharan M. Chitosan Based Biomaterials Volume 1. Elsevier; Amsterdam,
The Netherlands: 2017. Deacetylation modification techniques of chitin and
chitosan; pp. 117–133. [DOI] [Google Scholar]
175.Ahmadi
F., Oveisi Z., Samani S.M., Amoozgar Z. Chitosan based hydrogels:
Characteristics and pharmaceutical applications. Res. Pharm. Sci. 2015;10:1–16. [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
176.Hamdi
M., Nasri R., Ben Amor I., Li S., Gargouri J., Nasri M. Structural features,
anti-coagulant and anti-adhesive potentials of blue crab (Portunus segnis)
chitosan derivatives: Study of the effects of acetylation degree and molecular
weight. Int. J. Biol. Macromol. 2020;160:593–601. doi:
10.1016/j.ijbiomac.2020.05.246. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
177.Sukul
M., Sahariah P., Lauzon H.L., Borges J., Másson M., Mano J.F., Haugen H.J.,
Reseland J.E. In vitro biological response of human osteoblasts in 3D chitosan
sponges with controlled degree of deacetylation and molecular weight.
Carbohydr. Polym. 2020;254:117434. doi: 10.1016/j.carbpol.2020.117434. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
178.Ivanova
D.G., Yaneva Z.L. Antioxidant Properties and Redox-Modulating Activity of
Chitosan and Its Derivatives: Biomaterials with Application in Cancer Therapy.
Biores. Open Access. 2020;9:64–72. doi: 10.1089/biores.2019.0028. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
179.Hosseinnejad
M., Jafari S.M. Evaluation of different factors affecting antimicrobial
properties of chitosan. Int. J. Biol. Macromol. 2016;85:467–475. doi:
10.1016/j.ijbiomac.2016.01.022. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
180.Meng
X., Yang L., Kennedy J.F., Tian S. Effects of chitosan and oligochitosan on
growth of two fungal pathogens and physiological properties in pear fruit.
Carbohydr. Polym. 2010;81:70–75. doi: 10.1016/j.carbpol.2010.01.057. [DOI] [Google Scholar]
181.Wu
S. Preparation of water soluble chitosan by hydrolysis with commercial
α-amylase containing chitosanase activity. Food Chem. 2011;128:769–772. doi:
10.1016/j.foodchem.2011.03.111. [DOI] [Google Scholar]
182.Matica
M.A., Aachmann F.L., Tøndervik A., Sletta H., Ostafe V. Chitosan as a Wound
Dressing Starting Material: Antimicrobial Properties and Mode of Action. Int.
J. Mol. Sci. 2019;20:5889. doi: 10.3390/ijms20235889. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
183.Bumgardner
J., Murali V., Su H., Jenkins O., Velasquez-Pulgarin D., Jennings J.,
Sivashanmugam A., Jayakumar R. Chitosan Based Biomaterials Volume 1. Elsevier;
Amsterdam, The Netherlands: 2017. Characterization of chitosan matters; pp.
81–114. [DOI]
[Google Scholar]
184.Kara
A., Stevens R. Characterisation of biscuit fired bone china body
microstructure. Part I: XRD and SEM of crystalline phases. J. Eur. Ceram. Soc.
2002;22:731–736. doi: 10.1016/S0955-2219(01)00371-5. [DOI] [Google Scholar]
185.Pavinatto
A., Pavinatto F.J., Delezuk J.A.D.M., Nobre T.M., Souza A.L., Campana-Filho
S.P., Oliveira O.N. Low molecular-weight chitosans are stronger biomembrane
model perturbants. Colloids Surf. B Biointerfaces. 2013;104:48–53. doi:
10.1016/j.colsurfb.2012.11.047. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
186.Liang
T.-W., Huang C.-T., Dzung N.A., Wang S.-L. Squid Pen Chitin Chitooligomers as
Food Colorants Absorbers. Mar. Drugs. 2015;13:681–696. doi: 10.3390/md13010681. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
187.Vázquez
J.A., Rodríguez-Amado I., Montemayor M.I., Fraguas J., González M.D.P., Murado
M.A. Chondroitin Sulfate, Hyaluronic Acid and Chitin/Chitosan Production Using
Marine Waste Sources: Characteristics, Applications and Eco-Friendly Processes:
A Review. Mar. Drugs. 2013;11:747–774. doi: 10.3390/md11030747. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
188.Barbosa
A.I., Coutinho A.J., Costa Lima S.A., Reis S. Marine Polysaccharides in
Pharmaceutical Applications: Fucoidan and Chitosan as Key Players in the Drug
Delivery Match Field. Mar. Drugs. 2019;17:654. doi: 10.3390/md17120654. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
189.Huang
L., Bi S., Pang J., Sun M., Feng C., Chen X. Preparation and characterization
of chitosan from crab shell (Portunus trituberculatus) by NaOH/urea solution
freeze-thaw pretreatment procedure. Int. J. Biol. Macromol. 2019;147:931–936.
doi: 10.1016/j.ijbiomac.2019.10.059. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
190.Wan
J., Jiang F., Xu Q., Chen D., Yu B., Huang Z., Mao X., Yu J., He J. New
insights into the role of chitosan oligosaccharide in enhancing growth
performance, antioxidant capacity, immunity and intestinal development of
weaned pigs. RSC Adv. 2017;7:9669–9679. doi: 10.1039/C7RA00142H. [DOI] [Google Scholar]
191.Ngo
D.-H., Kim S.-K. Chapter Two–Antioxidant Effects of Chitin, Chitosan, and Their
Derivatives. Adv. Food Nutr. Res. 2014;73:15–31. doi:
10.1016/B978-0-12-800268-1.00002-0. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
192.Yen
M.-T., Yang J.-H., Mau J.-L. Antioxidant properties of chitosan from crab
shells. Carbohydr. Polym. 2008;74:840–844. doi: 10.1016/j.carbpol.2008.05.003. [DOI] [Google Scholar]
193.Varun
T.K., Senani S., Jayapal N., Chikkerur J., Roy S., Tekulapally V.B., Gautam M.,
Kumar N. Extraction of chitosan and its oligomers from shrimp shell waste,
their characterization and antimicrobial effect. Veter. World. 2017;10:170–175.
doi: 10.14202/vetworld.2017.170-175. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
194.Song
C., Yu H., Zhang M., Yang Y., Zhang G. Physicochemical properties and
antioxidant activity of chitosan from the blowfly Chrysomya megacephala larvae.
Int. J. Biol. Macromol. 2013;60:347–354. doi: 10.1016/j.ijbiomac.2013.05.039. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
195.Shin
C.-S., Kim D.-Y., Shin W.-S. Characterization of chitosan extracted from
Mealworm Beetle (Tenebrio molitor, Zophobas morio) and Rhinoceros Beetle
(Allomyrina dichotoma) and their antibacterial activities. Int. J. Biol.
Macromol. 2018;125:72–77. doi: 10.1016/j.ijbiomac.2018.11.242. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
196.Kaya
M., Baran T., Erdoğan S., Menteş A., Özüsağlam M.A., Çakmak Y.S.
Physicochemical comparison of chitin and chitosan obtained from larvae and
adult Colorado potato beetle (Leptinotarsa decemlineata) Mater. Sci. Eng. C.
2014;45:72–81. doi: 10.1016/j.msec.2014.09.004. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
197.Ibitoye
B.E., Lokman I.H., Hezmee M.N.M., Goh Y.M., Zuki A.B.Z., Jimoh A.A. Extraction
and physicochemical characterization of chitin and chitosan isolated from house
cricket. Biomed. Mater. 2017;13:025009. doi: 10.1088/1748-605X/aa9dde. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
198.Karimi
K., Zamani A. Mucor indicus: Biology and industrial application perspectives: A
review. Biotechnol. Adv. 2013;31:466–481. doi:
10.1016/j.biotechadv.2013.01.009. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
199.Ghormade
V., Pathan E.K., Deshpande M.V. Can fungi compete with marine sources for
chitosan production? Int. J. Biol. Macromol. 2017;104:1415–1421. doi:
10.1016/j.ijbiomac.2017.01.112. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
200.Watts
P., Smith A., Hinchcliffe M. Mucosal Delivery of Biopharmaceuticals. Springer;
Boston, MA, USA: 2014. ChiSys® as a Chitosan-Based Delivery Platform for Nasal
Vaccination; pp. 499–516. [DOI] [Google Scholar]
201.Ghidelli
C., Pérez-Gago M.B. Recent advances in modified atmosphere packaging and edible
coatings to maintain quality of fresh-cut fruits and vegetables. Crit. Rev.
Food Sci. Nutr. 2017;58:662–679. doi: 10.1080/10408398.2016.1211087. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
202.Varelas
V., Tataridis P., Liouni M., Nerantzis E.T. Valorization of Winery Spent Yeast
Waste Biomass as a New Source for the Production of β-Glucan. Waste Biomass
Valorization. 2016;7:807–817. doi: 10.1007/s12649-016-9530-4. [DOI] [Google Scholar]
203.Satari
B., Karimi K., Taherzadeh M.J., Zamani A. Co-Production of Fungal Biomass
Derived Constituents and Ethanol from Citrus Wastes Free Sugars without
Auxiliary Nutrients in Airlift Bioreactor. Int. J. Mol. Sci. 2016;17:302. doi:
10.3390/ijms17030302. [DOI]
[PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
204.Brasselet
C., Pierre G., Dubessay P., Dols-Lafargue M., Coulon J., Maupeu J.,
Vallet-Courbin A., de Baynast H., Doco T., Michaud P., et al. Modification of
Chitosan for the Generation of Functional Derivatives. Appl. Sci. 2019;9:1321.
doi: 10.3390/app9071321. [DOI]
[Google Scholar]
205.Rahman
M.A., Halfar J. First evidence of chitin in calcified coralline algae: New
insights into the calcification process of Clathromorphum compactum. Sci. Rep.
2014;4:6162. doi: 10.1038/srep06162. [DOI] [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
206.Saito
T., Kuramae R., Wohlert J., Berglund L.A., Isogai A. An Ultrastrong
Nanofibrillar Biomaterial: The Strength of Single Cellulose Nanofibrils
Revealed via Sonication-Induced Fragmentation. Biomacromolecules.
2012;14:248–253. doi: 10.1021/bm301674e. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
207.Alves
N., Mano J. Chitosan derivatives obtained by chemical modifications for
biomedical and environmental applications. Int. J. Biol. Macromol.
2008;43:401–414. doi: 10.1016/j.ijbiomac.2008.09.007. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
208.Wang
J., Zhuang S. Chitosan-based materials: Preparation, modification and
application. J. Clean. Prod. 2022;355:131825. doi:
10.1016/j.jclepro.2022.131825. [DOI] [Google Scholar]
209.Nunes
Y.L., de Menezes F.L., de Sousa I.G., Cavalcante A.L.G., Cavalcante F.T.T.,
Moreira K.d.S., de Oliveira A.L.B., Mota G.F., Souza J.E.D.S., Falcão I.R.D.A.,
et al. Chemical and physical Chitosan modification for designing enzymatic
industrial biocatalysts: How to choose the best strategy? Int. J. Biol.
Macromol. 2021;181:1124–1170. doi: 10.1016/j.ijbiomac.2021.04.004. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
210.Li
X., Wang Y., Feng C., Chen H., Gao Y. Chemical Modification of Chitosan for
Developing Cancer Nanotheranostics. Biomacromolecules. 2022;23:2197–2218. doi:
10.1021/acs.biomac.2c00184. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
211.Madera-Santana
T.J., Herrera-Méndez C.H., Rodríguez-Núñez J.R. An overview of the chemical
modifications of chitosan and their advantages. Green Mater. 2018;6:131–142.
doi: 10.1680/jgrma.18.00053. [DOI] [Google Scholar]
212.Illy
N., Benyahya S., Durand N., Auvergne R., Caillol S., David G., Boutevin B. The
influence of formulation and processing parameters on the thermal properties of
a chitosan-epoxy prepolymer system. Polym. Int. 2013;63:420–426. doi:
10.1002/pi.4516. [DOI] [Google Scholar]
213.Chen
Y., Li J., Li Q., Shen Y., Ge Z., Zhang W., Chen S. Enhanced water-solubility,
antibacterial activity and biocompatibility upon introducing sulfobetaine and
quaternary ammonium to chitosan. Carbohydr. Polym. 2016;143:246–253. doi:
10.1016/j.carbpol.2016.01.073. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
214.Pardeshi
C.V., Belgamwar V.S. Controlled synthesis of N,N,N-trimethyl chitosan for
modulated bioadhesion and nasal membrane permeability. Int. J. Biol. Macromol.
2016;82:933–944. doi: 10.1016/j.ijbiomac.2015.11.012. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
215.Singh
G., Nayal A., Malhotra S., Koul V. Dual functionalized chitosan based composite
hydrogel for haemostatic efficacy and adhesive property. Carbohydr. Polym.
2020;247:116757. doi: 10.1016/j.carbpol.2020.116757. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
216.Sahariah
P., Másson M. Efficient synthesis of chitosan derivatives as clickable tools.
Eur. Polym. J. 2022;166:111039. doi: 10.1016/j.eurpolymj.2022.111039. [DOI] [Google Scholar]
217.Chen
C., Tao S., Qiu X., Ren X., Hu S. Long-alkane-chain modified N-phthaloyl
chitosan membranes with controlled permeability. Carbohydr. Polym.
2013;91:269–276. doi: 10.1016/j.carbpol.2012.08.042. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
218.Hamed
I., Özogul F., Regenstein J.M. Industrial applications of crustacean
by-products (chitin, chitosan, and chitooligosaccharides): A review. Trends
Food Sci. Technol. 2016;48:40–50. doi: 10.1016/j.tifs.2015.11.007. [DOI] [Google Scholar]
219.Muthumeenal
A., Neelakandan S., Kanagaraj P., Nagendran A. Synthesis and properties of
novel proton exchange membranes based on sulfonated polyethersulfone and
N-phthaloyl chitosan blends for DMFC applications. Renew. Energy.
2016;86:922–929. doi: 10.1016/j.renene.2015.09.018. [DOI] [Google Scholar]
220.Alkabli
J. Progress in preparation of thiolated, crosslinked, and imino-chitosan
derivatives targeting specific applications. Eur. Polym. J. 2022;165:110998.
doi: 10.1016/j.eurpolymj.2022.110998. [DOI] [Google Scholar]
221.Seedevi
P., Moovendhan M., Vairamani S., Shanmugam A. Evaluation of antioxidant
activities and chemical analysis of sulfated chitosan from Sepia prashadi. Int.
J. Biol. Macromol. 2017;99:519–529. doi: 10.1016/j.ijbiomac.2017.03.012. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
222.Negm
N.A., Hefni H., Abd-Elaal A.A., Badr E.A., Kana M.T.A. Advancement on
modification of chitosan biopolymer and its potential applications. Int. J.
Biol. Macromol. 2020;152:681–702. doi: 10.1016/j.ijbiomac.2020.02.196. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
223.Bahramzadeh
E., Yilmaz E., Adali T. Chitosan-graft-poly(N-hydroxy ethyl acrylamide)
copolymers: Synthesis, characterization and preliminary blood compatibility in
vitro. Int. J. Biol. Macromol. 2018;123:1257–1266. doi:
10.1016/j.ijbiomac.2018.12.023. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
224.Dena-Aguilar
J., Jaureguirincon J., Bonilla-Petriciolet A., Romero J. Synthesis and
characterization of aminated copolymers of polyacrylonitrile-graft-chitosan and
their application for the removal of heavy metals from aqueous solution. J.
Chil. Chem. Soc. 2015;60:2876–2880. doi: 10.4067/s0717-97072015000200003. [DOI] [Google Scholar]
225.Wang
J.-P., Chen Y.-Z., Wang Y., Yuan S.-J., Sheng G.-P., Yu H.-Q. A novel efficient
cationic flocculant prepared through grafting two monomers onto chitosan
induced by Gamma radiation. RSC Adv. 2011;2:494–500. doi: 10.1039/C1RA00473E. [DOI] [Google Scholar]
226.Hassan
M.M. Enhanced antimicrobial activity and reduced water absorption of chitosan
films graft copolymerized with poly(acryloyloxy)ethyltrimethylammonium
chloride. Int. J. Biol. Macromol. 2018;118:1685–1695. doi:
10.1016/j.ijbiomac.2018.07.013. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
227.Khairkar
S.R., Raut A.R. Synthesis of chitosan-graft-polyaniline-based composites. Am.
J. Mater. Sci. Eng. 2014;2:62–67. doi: 10.12691/ajmse-2-4-3. [DOI] [Google Scholar]
228.Beer
B., Bartolome M.J., Berndorfer L., Bochmann G., Guebitz G.M., Nyanhongo G.S.
Controlled enzymatic hydrolysis and synthesis of lignin cross-linked chitosan
functional hydrogels. Int. J. Biol. Macromol. 2020;161:1440–1446. doi:
10.1016/j.ijbiomac.2020.08.030. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
229.Liu
Q., Ji N., Xiong L., Sun Q. Rapid gelling, self-healing, and
fluorescence-responsive chitosan hydrogels formed by dynamic covalent
crosslinking. Carbohydr. Polym. 2020;246:116586. doi:
10.1016/j.carbpol.2020.116586. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
230.Huber
D., Tegl G., Baumann M., Sommer E., Gorji E.G., Borth N., Schleining G.,
Nyanhongo G.S., Guebitz G.M. Chitosan hydrogel formation using laccase
activated phenolics as cross-linkers. Carbohydr. Polym. 2017;157:814–822. doi:
10.1016/j.carbpol.2016.10.012. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
231.Zhuang
S., Yin Y., Wang J. Removal of cobalt ions from aqueous solution using chitosan
grafted with maleic acid by gamma radiation. Nucl. Eng. Technol.
2018;50:211–215. doi: 10.1016/j.net.2017.11.007. [DOI] [Google Scholar]
232.Kumar
D., Kumar P., Pandey J. Binary grafted chitosan film: Synthesis,
characterization, antibacterial activity and prospects for food packaging. Int.
J. Biol. Macromol. 2018;115:341–348. doi: 10.1016/j.ijbiomac.2018.04.084. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
233.da
Silva S.B., Krolicka M., van den Broek L.A.M., Frissen A.E., Boeriu C.G.
Water-soluble chitosan derivatives and pH-responsive hydrogels by selective C-6
oxidation mediated by TEMPO-laccase redox system. Carbohydr. Polym.
2018;186:299–309. doi: 10.1016/j.carbpol.2018.01.050. [DOI] [PubMed] [Google Scholar]
234.Huber
D., Ortner A., Daxbacher A., Nyanhongo G.S., Bauer W., Guebitz G.M. Influence
of Oxygen and Mediators on Laccase-Catalyzed Polymerization of Lignosulfonate.
ACS Sustain. Chem. Eng. 2016;4:5303–5310. doi: 10.1021/acssuschemeng.6b00692. [DOI] [Google Scholar]
235.Kaneko
Y., Matsuda S.-I., Kadokawa J.-I. Chemoenzymatic Syntheses of Amylose-Grafted
Chitin and Chitosan. Biomacromolecules. 2007;8:3959–3964. doi:
10.1021/bm701000t. [DOI]
[PubMed] [Google Scholar]
SUMBER:
Alessandro Pellis, Georg M Guebitz, Gibson
Stephen Nyanhongo. 2022. Chitosan: Sources, Processing and Modification
Techniques. Gels. 2022 Jun 21;8(7):393. doi: 10.3390/gels8070393. PMCID: PMC9322947 PMID: 35877478
#Kitin
#Biopolimer
#Bioteknologi
#TeknologiEkstraksi

No comments:
Post a Comment