Pengaruh ENSO: Variabilitas Iklim, Ekologi
Penyakit, dan Implikasinya terhadap Acara Perhelatan Massal
El
Niño–Osilasi Selatan (ENSO) merupakan penggerak iklim antartahun paling kuat
yang memengaruhi distribusi suhu, curah hujan, dan kelembapan secara global.
Fase El Niño (hangat) dan La Niña (dingin) yang terjadi secara bergantian
membentuk dinamika penyakit infeksi melalui perubahan ekologi vektor, sanitasi
air, dan paparan manusia. ENSO telah dikaitkan dengan wabah demam berdarah
dengue, malaria, kolera, demam Rift Valley (Rift Valley fever/RVF),
leptospirosis, ensefalitis, dan infeksi hantavirus di berbagai benua. Pada era
perhimpunan massal (mass gatherings/MGs) seperti ibadah haji dan umrah, Kumbh
Mela, turnamen olahraga internasional, dan kegiatan pariwisata global, ekstrem
iklim yang dipicu ENSO menimbulkan risiko kesehatan yang semakin besar. Pemahaman
mengenai mekanisme dan prediktabilitas ENSO memberikan peluang penting untuk
mengintegrasikan prakiraan iklim ke dalam sistem peringatan dini epidemi guna
melindungi kesehatan jutaan peserta yang berpindah-pindah. Tinjauan ini membahas jalur keterkaitan antara ENSO dan
penularan penyakit infeksi dengan penekanan khusus pada situasi perhimpunan
massal. Artikel ini menegaskan bahwa kesiapsiagaan berbasis informasi iklim
harus menjadi komponen utama dalam tata kelola kesehatan perhimpunan massal
agar mampu mengantisipasi, bukan sekadar merespons, epidemi di masa mendatang.
1. Pendahuluan
Variabilitas iklim memiliki pengaruh yang mendalam
terhadap kesehatan manusia dan ekologi penyakit. Di antara berbagai sistem
iklim global utama, El Niño–Osilasi Selatan (ENSO) memiliki dampak paling luas
karena menyebabkan fluktuasi besar pada curah hujan, suhu, dan kelembapan [1].
Berasal dari Samudra Pasifik ekuatorial, osilasi ENSO antara El Niño (fase
hangat) dan La Niña (fase dingin) menciptakan “telekoneksi” iklim yang
memengaruhi ekosistem dan populasi di berbagai benua. Fluktuasi ini selanjutnya
mengubah lanskap ekologi dan epidemiologi berbagai penyakit infeksi [1], [3],
[4].
Relevansi ENSO terhadap kesehatan semakin jelas dalam
beberapa dekade terakhir. Catatan historis menunjukkan bahwa kejadian ENSO
sering kali mendahului epidemi besar dengue, malaria, kolera, leptospirosis,
dan demam Rift Valley, serta berbagai penyakit lainnya [5], [6], [7], [8], [9],
[13], [14], [15], [16]. Secara mekanistik, perubahan suhu dan curah hujan
memengaruhi perkembangbiakan vektor, replikasi patogen, dan dinamika penularan
penyakit yang ditularkan melalui air. Kejadian cuaca ekstrem juga mengganggu
infrastruktur, menyebabkan perpindahan masyarakat, dan meningkatkan paparan
terhadap air tercemar maupun vektor penyakit [6], [7].
Yang lebih penting, prediktabilitas ENSO—dengan anomali
suhu permukaan laut yang dapat dideteksi beberapa bulan sebelumnya—memberikan
peluang strategis untuk perencanaan kesehatan masyarakat yang bersifat
preventif [21], [22]. Integrasi prakiraan ENSO ke dalam surveilans penyakit dan
upaya kesiapsiagaan merupakan langkah terdepan dalam pencegahan epidemi
berbasis informasi iklim.
Hal ini menjadi sangat penting pada perhimpunan massal
(mass gatherings/MGs), yang merupakan pusat dinamis berkumpulnya manusia.
Organisasi Kesehatan Dunia mendefinisikan perhimpunan massal sebagai kegiatan
yang “menarik cukup banyak orang sehingga membebani sumber daya perencanaan dan
respons lokal.” Perhimpunan tersebut mencakup kegiatan keagamaan, budaya, dan
olahraga seperti ibadah haji dan umrah di Arab Saudi, Kumbh Mela di India,
serta turnamen olahraga internasional seperti Olympic Games dan FIFA World Cup
[2].
Perhimpunan ini meningkatkan kerentanan melalui kombinasi
kepadatan populasi tinggi, mobilitas lintas negara, dan keterbatasan
infrastruktur dalam rentang waktu yang singkat. Ketika perhimpunan massal
berlangsung bersamaan dengan ekstrem iklim terkait ENSO—seperti panas ekstrem,
kekeringan, atau banjir—dampak gabungannya dapat mengubah paparan rutin menjadi
wabah berskala besar. Stres panas, dehidrasi, infeksi bawaan makanan, serta
penyakit yang ditularkan melalui vektor maupun air dapat meningkat tajam dalam
kondisi kompleks tersebut [3], [4], [5], [6], [13], [14], [15], [16].
Sistem kesehatan haji di Arab Saudi memberikan contoh
yang kuat mengenai kesiapsiagaan berbasis ENSO melalui integrasi surveilans
sindromik, vaksinasi, mitigasi panas, dan koordinasi internasional untuk
melindungi jutaan jemaah setiap tahun [21], [22]. Demikian pula, pengelolaan
Kumbh Mela di India menunjukkan pentingnya strategi kesehatan lingkungan dalam
menghadapi variabilitas monsun [23].
Seiring perubahan iklim yang memperkuat kejadian ENSO,
pengalaman-pengalaman tersebut menegaskan munculnya prinsip baru dalam
kesehatan masyarakat, yaitu bahwa intelijen iklim harus diintegrasikan ke dalam
tata kelola perhimpunan massal guna mencapai ketahanan kesehatan yang
berkelanjutan.
2. Mekanisme Keterkaitan ENSO dan Penyakit Infeksi
ENSO memengaruhi penularan penyakit infeksi melalui tiga
jalur yang saling berkaitan, yaitu lingkungan, biologis, dan perilaku.
2.1. Jalur lingkungan
Perubahan curah hujan dan suhu akibat ENSO secara
langsung memengaruhi ekologi vektor dan reservoir penyakit. Episode El Niño
umumnya menyebabkan kekeringan dan panas di beberapa wilayah, tetapi memicu
banjir di wilayah lainnya. Kedua kondisi ekstrem tersebut mendukung terjadinya
infeksi: kekeringan mendorong masyarakat menyimpan air di rumah tangga sehingga
menyediakan tempat perkembangbiakan bagi Aedes aegypti, sedangkan banjir
menciptakan habitat nyamuk yang luas dan merusak infrastruktur sanitasi [4],
[5], [6], [13], [14], [15], [16].
2.2. Jalur biologis
Perubahan suhu memengaruhi perkembangan patogen dan
kelangsungan hidup vektor. Kondisi yang lebih hangat mempercepat replikasi
virus dan memperpendek masa inkubasi ekstrinsik virus dengue, Zika, dan
chikungunya [5], [6]. Demikian pula, peningkatan curah hujan yang dipicu La
Niña mendorong proliferasi nyamuk Anopheles, sehingga meningkatkan
potensi penularan malaria di wilayah tropis dan subtropis [10], [11], [12].
Penghijauan lingkungan selama fase basah juga dikaitkan dengan epizootik demam
Rift Valley di Afrika [7], [8], [9].
2.3. Jalur perilaku
Aktivitas manusia dan perilaku adaptif seperti migrasi,
kepadatan hunian, dan penyimpanan air memodulasi risiko paparan. Kekeringan dan
banjir akibat ENSO mengganggu perumahan, sanitasi, dan pengendalian vektor.
Dalam perhimpunan massal, mandi ritual, kehidupan komunal, dan perjalanan jarak
jauh terjadi secara bersamaan sehingga meningkatkan paparan terhadap infeksi
yang sensitif terhadap perubahan iklim [2], [23].
3.
Pola Global Hubungan ENSO dan Penyakit
Dampak
kesehatan ENSO bersifat heterogen secara spasial (Tabel 1). Fase hangat dan
dinginnya memengaruhi berbagai sistem penyakit secara berbeda tergantung pada
kondisi geografis, ekologi, dan musim.
Tabel
1. Fase ENSO dan penyakit infeksi utama.
|
Fase ENSO |
Wilayah yang Terdampak |
Relevansi terhadap Perhimpunan Massal |
Referensi Utama |
|
|
Dengue, Zika, Chikungunya |
El Niño (hangat) |
Amerika, Asia Tenggara, Pasifik |
Pusat pariwisata, acara olahraga |
[3], [4], [5], [6] |
|
Demam Rift Valley (Rift Valley Fever) |
El Niño / La Niña |
Afrika Timur dan Afrika Selatan |
Perdagangan ternak, impor hewan untuk haji |
[7], [8], [9] |
|
Malaria |
Bervariasi |
Afrika, Amerika Selatan, Asia |
Ibadah ziarah, pariwisata tropis |
[10], [11], [12] |
|
Kolera |
El Niño (hangat) |
Afrika Timur, Asia Selatan |
Haji, Kumbh Mela |
[13], [14] |
|
Leptospirosis |
Berkaitan dengan banjir |
Kepulauan Pasifik, Asia Tenggara |
Festival, pariwisata |
[15], [16] |
|
Ensefalitis (Murray Valley, Japanese Encephalitis/JEV) |
La Niña (dingin) |
Australia, Asia Tenggara |
Kegiatan luar ruangan |
[17], [18], [19] |
|
Hantavirus |
El Niño (hangat) |
Amerika Utara |
Ekowisata |
[20] |
4. ENSO dan Perhimpunan Massal Keagamaan
Perhimpunan massal keagamaan merupakan salah
satu bentuk paling nyata dari ekspresi keimanan, persatuan, dan mobilitas
manusia, tetapi juga menimbulkan tantangan kesehatan masyarakat yang khas
ketika berlangsung bersamaan dengan variabilitas iklim. El Niño–Osilasi Selatan
(ENSO), sebagai penggerak utama fluktuasi iklim antartahun, memberikan pengaruh
besar terhadap lanskap lingkungan dan epidemiologi tempat perhimpunan tersebut
berlangsung.
Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1, ENSO
memengaruhi suhu global, curah hujan, dan kelembapan, sehingga mengubah ekologi
patogen, habitat vektor, dan tingkat paparan manusia. Fase hangatnya (El Niño)
sering menyebabkan kekeringan dan gelombang panas, sedangkan fase dinginnya (La
Niña) umumnya berkaitan dengan curah hujan tinggi dan banjir. Kedua kondisi
ekstrem tersebut dapat meningkatkan penularan penyakit infeksi melalui
mekanisme yang berbeda. Panas dan kelangkaan air mendorong perkembangbiakan Aedes
aegypti pada wadah penyimpanan air, sedangkan banjir memperluas habitat
vektor dan merusak sistem sanitasi.
Gambar
1. Pengaruh ENSO: Variabilitas Iklim, Ekologi Penyakit, dan Implikasinya
terhadap Acara Perhimpunan Massal.
Pada
ibadah haji dan umrah di Arab Saudi, kondisi El Niño meningkatkan stres panas
dan penyakit saluran pernapasan pada jutaan jemaah yang berkumpul di wilayah
yang memang sudah kering. Pada saat yang sama, peningkatan curah hujan terkait
La Niña di Afrika Timur mendorong terjadinya wabah demam Rift Valley, suatu
penyakit zoonosis yang menjadi perhatian khusus mengingat adanya pergerakan dan
perdagangan ternak menjelang musim haji [7], [8], [9], [21], [22].
Kesiapsiagaan Arab Saudi yang responsif terhadap iklim—termasuk surveilans
sindromik secara waktu nyata, operasi pengendalian vektor, dan strategi
mitigasi panas yang terstruktur—menunjukkan model adaptif dalam tata kelola
kesehatan perhimpunan massal berbasis kesadaran ENSO.
Demikian
pula, Kumbh Mela di India—pertemuan manusia terbesar di dunia—sering kali
berlangsung bersamaan dengan variabilitas monsun yang dimodulasi oleh ENSO.
Peristiwa El Niño dapat mengurangi aliran sungai dan meningkatkan konsentrasi
polutan sehingga mempermudah penyebaran kolera dan penyakit enterik lainnya,
sedangkan banjir akibat La Niña meningkatkan kejadian leptospirosis dan wabah
diare [13], [14], [15], [16], [23]. Dinamika ini menegaskan pentingnya
pemantauan lingkungan secara proaktif, surveilans kualitas air, dan komunikasi
kesehatan yang terarah sebelum dan selama acara berlangsung.
Secara
keseluruhan, pengaruh iklim ENSO (Gambar 1) menekankan pentingnya integrasi
intelijen iklim ke dalam perencanaan dan tata kelola perhimpunan massal
keagamaan. Dengan mengintegrasikan prakiraan ENSO ke dalam surveilans
kesehatan, pengelolaan air dan vektor, serta koordinasi internasional, negara
penyelenggara dapat mengubah variabilitas iklim yang dapat diprediksi dari
ancaman berulang menjadi alat peringatan dini strategis—melindungi jemaah
maupun masyarakat tuan rumah sekaligus menjaga keberlangsungan spiritual dan
budaya dari peristiwa global tersebut.
Diagram
ini merangkum bagaimana El Niño–Osilasi Selatan (ENSO) mengubah suhu, curah
hujan, dan kelembapan global sehingga memicu perubahan pada ekologi patogen dan
dinamika vektor. Perubahan iklim tersebut memengaruhi penyebaran dengue,
malaria, kolera, leptospirosis, demam Rift Valley, dan hantavirus. Selama
perhimpunan massal seperti haji, Kumbh Mela, serta berbagai acara olahraga dan
pariwisata besar, panas, kekeringan, atau banjir yang berkaitan dengan ENSO
meningkatkan risiko penularan penyakit. Integrasi prakiraan ENSO ke dalam
perencanaan kesiapsiagaan memungkinkan penerapan peringatan dini, pengendalian
yang terarah, dan respons kesehatan masyarakat yang lebih tangguh terhadap
perubahan iklim.
4.1.
Haji dan Umrah
Ibadah
haji dan umrah di Arab Saudi menghimpun lebih dari dua juta orang setiap tahun
di lingkungan kering yang sensitif terhadap variasi ENSO. El Niño memperburuk
suhu panas ekstrem, dehidrasi, dan gangguan pernapasan, sedangkan La Niña
meningkatkan kelembapan serta potensi munculnya arbovirus melalui perdagangan
ternak dari Afrika Timur [7], [8], [9], [21], [22]. Kerangka kesiapsiagaan
terpadu yang diterapkan negara tersebut—meliputi rencana aksi kesehatan terkait
panas, kewajiban vaksinasi, dan surveilans waktu nyata—menjadi model
pengelolaan perhimpunan massal yang responsif terhadap iklim.
4.2.
Kumbh Mela
Kumbh
Mela di India, sebagai acara keagamaan terbesar di dunia, sering berlangsung
bersamaan dengan fluktuasi monsun yang dipengaruhi ENSO. El Niño menekan curah
hujan sehingga meningkatkan konsentrasi polutan di sistem sungai, sedangkan
banjir akibat La Niña memperparah limpasan limbah, sehingga meningkatkan risiko
kolera, leptospirosis, dan wabah diare [13], [14], [15], [16], [23]. Perencanaan lintas sektor yang mencakup sanitasi,
pemantauan kualitas air, dan edukasi kesehatan sangat penting untuk
meminimalkan penularan penyakit yang dipengaruhi iklim.
5. ENSO dan Acara Olahraga, Pariwisata, serta Budaya
Acara olahraga global dan musim pariwisata sering kali
bertepatan dengan siklus ENSO. Selama El Niño, panas perkotaan dan kelembapan
meningkatkan risiko dengue di kota-kota tropis seperti Rio de Janeiro, Jakarta,
dan Manila [3], [4], [5], [6]. Sebaliknya, La Niña meningkatkan banjir dan
kondisi perkembangbiakan vektor, sehingga berkontribusi terhadap wabah
ensefalitis di Australia dan Asia Tenggara [17], [18], [19]. Negara-negara yang
bergantung pada sektor pariwisata juga mengalami peningkatan kasus kolera dan
leptospirosis yang berkaitan dengan ENSO setelah curah hujan tinggi [13], [14],
[15], [16]. Integrasi data ENSO ke dalam perencanaan acara, advis kesehatan
perjalanan, dan pemantauan lingkungan dapat secara signifikan meningkatkan
kesiapsiagaan global.
6. Dari Prakiraan Iklim Menuju Kesiapsiagaan Epidemi
Peristiwa
ENSO dapat dipantau beberapa bulan sebelum terjadi sehingga memberikan waktu
persiapan yang dapat dimanfaatkan untuk kesiapsiagaan kesehatan masyarakat [7],
[21]. Strategi proaktif meliputi:
- Sistem Peringatan Dini
Iklim–Kesehatan: Mengintegrasikan prakiraan
ENSO dengan surveilans penyakit untuk memprediksi wabah [5], [7], [13],
[21], [22].
- Intervensi Pengendalian Vektor
dan WASH yang Terarah: Menyesuaikan operasi
pengendalian berdasarkan anomali iklim yang diperkirakan [4], [5], [6],
[10], [11], [12], [13], [14], [15], [16].
- Koordinasi
Lintas Sektor:
Menyatukan otoritas meteorologi, kesehatan, dan kedaruratan untuk
menyelaraskan sumber daya [2], [22].
- Komunikasi
Risiko: Menyebarluaskan panduan berbasis ENSO bagi jemaah,
wisatawan, dan peserta acara [23].
Kerangka terpadu tersebut mencerminkan pendekatan One
Health yang menghubungkan intelijen iklim dengan tindakan kesehatan masyarakat
guna melindungi populasi selama perhimpunan massal.
7. Pembahasan
ENSO menunjukkan eratnya keterkaitan antara variabilitas
lingkungan dan kerentanan manusia. Pengaruh sikliknya terhadap suhu, curah
hujan, dan ekologi vektor menegaskan pentingnya perencanaan kesehatan yang
berbasis kesadaran iklim. Dalam konteks perhimpunan massal, interaksi ini
menjadi semakin intensif: kepadatan populasi, mobilitas, dan tekanan terhadap
infrastruktur berpadu dengan stres lingkungan sehingga memperbesar potensi
terjadinya epidemi [2], [3], [23].
Prediktabilitas
ENSO membedakannya dari berbagai bahaya lingkungan lainnya. Kemampuan prediksi
ini memungkinkan para perencana untuk beralih dari pengendalian wabah yang
bersifat reaktif menuju kesiapsiagaan yang antisipatif. Sebagai contoh,
prakiraan El Niño dengan tingkat keyakinan tinggi dapat mendorong penerapan
dini pengendalian vektor, peningkatan perlindungan terhadap panas, dan
penempatan sumber daya medis sebelum kejadian berlangsung. Sebaliknya,
peringatan La Niña dapat digunakan untuk mengarahkan mitigasi banjir, penguatan
sanitasi, dan kesiapsiagaan terhadap kolera.
Aspek kesetaraan dan ketahanan tetap menjadi pertimbangan
utama. Dampak kesehatan ENSO secara tidak proporsional lebih besar dirasakan
oleh negara-negara berpendapatan rendah dan menengah yang memiliki keterbatasan
infrastruktur adaptif dan kapasitas surveilans. Koordinasi
internasional, khususnya melalui program bersama World Health Organization dan
World Meteorological Organization, dapat memperkuat jaringan peringatan dini,
pertukaran data, dan mobilisasi sumber daya [22].
Perencanaan
perhimpunan massal di masa depan perlu melembagakan pedoman operasional
berbasis ENSO dengan mengintegrasikan data satelit, pemodelan lingkungan, dan
intelijen kesehatan masyarakat ke dalam satu sistem respons terpadu. Model
semacam ini dapat mengubah perhimpunan massal dari kegiatan berisiko tinggi
menjadi laboratorium hidup bagi ketahanan kesehatan berbasis iklim.
8. Kesimpulan
ENSO bukan sekadar siklus meteorologi, melainkan suatu
mesin iklim-kesehatan yang memodulasi pola global infeksi, risiko, dan
ketahanan. Fase-fasenya membentuk kemunculan dan penyebaran penyakit yang
mengancam keamanan kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Ketika ekstrem iklim
ENSO beririsan dengan perhimpunan massal, kondisi tersebut meningkatkan baik
tingkat paparan maupun potensi penularan penyakit.
Namun demikian, ENSO juga memberikan peluang.
Prediktabilitas dininya memungkinkan dilakukannya tindakan kesehatan masyarakat
yang bersifat preventif, seperti surveilans berbasis data, infrastruktur
adaptif, dan komunikasi yang terarah untuk mencegah wabah sebelum terjadi.
Dengan mengintegrasikan prakiraan ENSO ke dalam tata kelola kesehatan
perhimpunan massal, berbagai negara dapat mengubah ketidakpastian iklim menjadi
instrumen kewaspadaan dan kesiapsiagaan.
Di tengah dunia yang semakin hangat dan diperkirakan akan
mengalami peningkatan intensitas kejadian ENSO, perencanaan perhimpunan massal
berbasis informasi iklim harus menjadi fondasi utama dalam pencegahan epidemi
dan perlindungan kesehatan global. Mengantisipasi, bukan sekadar bereaksi, kini
menjadi paradigma utama keamanan kesehatan abad ke-21.
Referensi
- McGregor GR, Ebi KL. ENSO
and health: an overview. Atmosphere. 2018;9(7):282.
- World Health Organization. Mass
Gatherings: Health Risks and Planning Strategies. Geneva: WHO; 2020.
- World Health Organization. Disease
Outbreak News: Dengue – Global Situation, 30 April 2024. Geneva: WHO;
2024.
- Pan American Health
Organization. Epidemiological Update: Increase in Dengue Cases in the
Region of the Americas – 18 June 2024. Washington, DC: PAHO; 2024.
- Leung XY, Singh S, Dissanayake
S, et al. A systematic review of dengue outbreak prediction models.
PLoS Neglected Tropical Diseases. 2023;17(2):e0010631.
- Chen Y, Xu Y, Wang Z, et al. Indian
Ocean temperature anomalies predict global dengue trends. Science.
2024;384(6691):eadj4427.
- Anyamba A, Chretien J-P, Small
J, Tucker CJ, Linthicum KJ. Prediction of a Rift Valley fever outbreak.
Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of
America. 2009;106(3):955–959.
- Anyamba A, Linthicum KJ,
Tucker CJ, et al. Climate conditions during a Rift Valley fever
post-epidemic period. Frontiers in Veterinary Science. 2022;9:834338.
- Situma S, Irura Z, Mwaura F,
et al. Widening geographic range of Rift Valley fever disease in
Africa: emerging patterns and public health implications. BMJ Global
Health. 2024;9:e013034.
- Colonia CB, Gutierrez CA,
Jaramillo M. Malaria and its relationship with climatic variables and
climate change in Colombia. Environmental Advances. 2024;10:100442.
- Saavedra-Samillán
M, Huerta M, Alvarado M, et al. Spatiotemporal
dynamics of malaria and climate influence in Peru: a multi-decadal
analysis.
Malaria Journal. 2024;23:203.
- Arisco NJ, Singh M, Mbogo C,
et al. Impact of weather and extreme events on malaria transmission in
Africa. BMC Public Health. 2025;25:896.
- Moore SM, Azman AS, Chaves LF,
et al. El Niño and the shifting geography of cholera in Africa.
Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of
America. 2017;114(17):4436–4441.
- Usmani
M, Khan AA, Siddiqui S, et al. Environmental
triggers and transmission pathways of cholera: a review. Journal of Infection and
Public Health. 2021;14(10):1354–1361.
- Togami
E, Kama M, Tikoduadua L, et al. A
large leptospirosis outbreak following severe floods in Fiji, 2012. American Journal of Tropical
Medicine and Hygiene. 2018;99(5):849–854.
- Rees EM, Wainiqolo I, Lako J,
et al. Climatic indicators and leptospirosis risk in Fiji. PLOS
Global Public Health. 2023;3(8):e0002400.
- Braddick M, Hampson K, Murray
R, et al. Integrated public health response to an outbreak of
mosquito-borne disease in Victoria, Australia, 2022–2023. Frontiers in
Public Health. 2023;11:1256149.
- Walsh MG, Kurucz N, Davis S,
et al. La Niña anomalies and Japanese encephalitis emergence in
Australia, 2022. Scientific Reports. 2023;13:10666.
- Quigley A, Donohue R, Cumming
S, et al. The 2023 Murray Valley encephalitis outbreak in Australia:
implications for vector control and surveillance. Journal of Global
Biosecurity. 2023;14:e216.
- Mills JN, Childs JE, Ksiazek
TG, et al. Hantavirus and ENSO precipitation pulses: ecological drivers
of zoonotic transmission. Emerging Infectious Diseases.
2020;26(3):381–389.
- Thomson MC, Doblas-Reyes FJ,
Mason SJ, et al. Malaria early warnings based on seasonal climate
forecasts from multi-model ensembles. Nature. 2006;439:576–579.
- World Health Organization and
World Meteorological Organization. Climate & Health Joint Programme
2023–2025. Geneva: WHO–WMO; 2023.
- Tiwari S, Choudhary R, Sharma
S, et al. Waterborne and crowd-related infections during Kumbh Mela:
environmental challenges and preventive measures. Journal of Public
Health Policy. 2024;45(2):176–188.
Sumber:
Leena
Hussein Bajrai. 2025. The ENSO effect: Climate variability, disease ecology, and
implications for mass gathering events. Mass Gathering Medicine. Vo. 4, Dec. 2025.
#ENSO
#ElNino
#LaNina
#KesehatanGlobal
#PerubahanIklim

No comments:
Post a Comment