“Ishigaki Sango”: Pepaya Kerdil Tahan Panas dari
Jepang yang Berpotensi Menjadi Harapan Baru Pertanian Tropis
Di tengah perubahan iklim yang semakin nyata, petani buah
tropis di berbagai negara menghadapi tantangan yang tidak ringan. Suhu udara
yang semakin panas, musim yang tidak menentu, curah hujan ekstrem, hingga badai
dan angin kencang menjadi ancaman serius bagi produksi hortikultura. Salah satu
tanaman yang cukup sensitif terhadap perubahan lingkungan adalah pepaya. Buah
yang sangat populer di kawasan tropis ini ternyata mudah mengalami gugur bunga
dan gugur buah ketika suhu terlalu tinggi atau terlalu rendah. Kondisi tersebut
mendorong para peneliti di Jepang untuk mengembangkan varietas pepaya baru yang
lebih tahan terhadap tekanan iklim. Hasilnya adalah lahirnya varietas unggul
bernama “Ishigaki Sango”.
Varietas ini dikembangkan di wilayah subtropis Jepang
bagian selatan, terutama dari Kyushu Selatan hingga Okinawa, daerah yang memang
dikenal sebagai sentra produksi pepaya di Jepang. Di negara tersebut, pepaya
tidak hanya dikonsumsi sebagai buah matang, tetapi juga dimanfaatkan sebagai
sayuran ketika masih muda. Selama bertahun-tahun, keluarga pepaya tipe
“Sunrise” menjadi favorit pasar Jepang maupun pasar internasional karena
rasanya yang manis dan kualitas buahnya yang baik. Namun, varietas tersebut memiliki
kelemahan utama, yaitu pertumbuhan pohon yang relatif tinggi dan mudah
mengalami sterilitas bunga jantan pada suhu ekstrem. Akibatnya, bunga dan buah
mudah rontok sehingga produksi menjadi tidak stabil.
Kondisi ini menjadi masalah besar terutama pada musim
panas yang sangat panas maupun musim dingin yang disertai topan. Oleh karena
itu, para peneliti Jepang memulai program pemuliaan untuk menghasilkan pepaya
bertipe kerdil, tahan panas, dan tetap memiliki kualitas buah setara bahkan
lebih baik dibandingkan kelompok “Sunrise”. Penelitian tersebut
melibatkan berbagai institusi, termasuk Japan International Research Center for
Agricultural Sciences (JIRCAS), National Agriculture and Food Research
Organization (NARO), Kagoshima University, hingga praktisi budidaya pepaya di
Pulau Ishigaki.
Menariknya,
varietas “Ishigaki Sango” sebenarnya berasal dari bibit yang ditemukan secara
tidak sengaja pada tahun 1997 dari varietas “Wonder Bright”. Bibit tersebut
kemudian ditanam bersama berbagai hasil persilangan lain pada tahun 1998.
Setelah melalui proses seleksi yang ketat selama beberapa tahun, tanaman ini
menunjukkan performa yang sangat menonjol. Tanaman tersebut memiliki kualitas
buah tinggi, cepat berbuah, serta menghasilkan produksi paling tinggi
dibandingkan bibit lainnya. Akhirnya, pada tahun
2007 varietas ini resmi diberi nama “Ishigaki Sango” dan didaftarkan pada
Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang.
Tabel 1. Karakteristik Buah dan Pohon “Ishigaki
Sango”
|
Karakteristik |
“Ishigaki Sango” |
“Sunrise” |
“Wonder Flare” |
|
Jenis kelamin bunga |
Betina |
Hermafrodit |
Betina |
|
Posisi pembungaan pertama (ruas) |
15 |
25 |
16 |
|
Panjang ruas batang (mm) |
12 |
35 |
11 |
|
Rata-rata bobot buah
(g) |
840 |
540 |
620 |
|
Warna kulit buah |
Jingga cerah |
Jingga cerah |
Kuning kemerahan cerah |
|
Warna daging buah |
Jingga kemerahan terang |
Merah kekuningan terang |
Kuning kemerahan cerah |
|
Tekstur |
4 |
5 |
4 |
|
Kandungan gula (°Brix) |
13,8 |
14,2 |
13,1 |
|
Cita rasa |
5 |
5 |
2 |
|
Toleransi panas |
5 |
1 |
5 |
Keterangan:
Tekstur: 1 (kasar) – 5 (halus)
Cita rasa: 1 (kurang enak) – 5 (sangat enak)
Toleransi panas: 1 (lemah) – 5 (kuat)
Sumber:
JIRCAS–TARE, 2001–2005.
Salah satu keunggulan paling menarik dari “Ishigaki
Sango” adalah bentuk tanamannya yang kerdil. Dalam budidaya modern, tanaman
kerdil memiliki banyak keuntungan. Pohon yang lebih pendek memudahkan
pemeliharaan, pemanenan, pengendalian hama, hingga perlindungan dari angin
kencang. Selain itu, tanaman kerdil memungkinkan penanaman dengan kepadatan
lebih tinggi sehingga produktivitas per satuan luas dapat meningkat.
Pada varietas ini, ruas batangnya sangat pendek dengan
panjang rata-rata hanya sekitar 12 mm. Posisi buah pertama muncul pada ruas
ke-15, menunjukkan karakter pertumbuhan yang kompak. Bagi petani, karakter
seperti ini sangat menguntungkan karena tanaman menjadi lebih mudah dikelola
dibandingkan pepaya konvensional yang tumbuh tinggi menjulang.
Keunggulan lainnya adalah kemampuan berbuah sangat cepat.
Rata-rata waktu dari penanaman hingga muncul bunga pertama hanya sekitar 90
hari. Artinya, petani dapat memperoleh hasil lebih cepat sehingga perputaran
modal usaha menjadi lebih singkat. Dalam dunia pertanian modern, karakter cepat
panen menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan efisiensi usaha
tani.
“Ishigaki Sango” juga dikenal sebagai varietas yang mampu
berbuah sepanjang tahun. Kemampuan ini berkaitan dengan sifat partenokarpi,
yaitu pembentukan buah tanpa proses penyerbukan sempurna. Sifat ini sangat
penting karena produksi buah tidak terlalu tergantung pada keberhasilan
penyerbukan bunga jantan yang sering terganggu akibat suhu tinggi maupun
rendah. Dengan demikian, tanaman tetap dapat menghasilkan buah meskipun kondisi
lingkungan kurang ideal.
Gambar 1.
Tanaman “Ishigaki Sango” yang ditanam dalam pot.
Kemampuan bertahan hingga suhu sekitar 15°C menunjukkan
bahwa varietas ini memiliki toleransi lingkungan yang cukup baik. Dalam konteks
perubahan iklim global, karakter tahan panas dan stabil berproduksi seperti ini
menjadi aset penting bagi pengembangan pertanian tropis dan subtropis di masa
depan.
Dari sisi kualitas buah, “Ishigaki Sango” juga sangat
menjanjikan. Berat buah rata-rata mencapai sekitar 840 gram, ukuran yang cukup
ideal untuk pasar konsumsi segar. Kulit buah berwarna oranye cerah, sedangkan
daging buahnya berwarna jingga kemerahan yang menarik perhatian konsumen.
Selain penampilannya yang cantik, rasa buahnya juga sangat baik dengan tingkat
kemanisan rata-rata mencapai 13,8° Brix. Angka tersebut menunjukkan kandungan
gula yang cukup tinggi sehingga buah terasa manis dan lezat.
Gambar 2. Buah “Ishigaki Sango.”
A: sisi buah, B: pangkal tangkai
buah, C: ujung buah.
D: penampang memanjang, E:
penampang melintang.
Yang tidak kalah menarik, seluruh tanaman “Ishigaki
Sango” bersifat betina. Dalam budidaya pepaya, keberadaan tanaman jantan sering
kali menjadi tantangan karena tidak menghasilkan buah. Dengan tanaman yang
seluruhnya betina dan mampu membentuk buah partenokarpi, efisiensi kebun
menjadi lebih tinggi karena hampir semua tanaman dapat berproduksi.
Bagi
Indonesia sebagai negara tropis penghasil pepaya, keberhasilan Jepang
mengembangkan “Ishigaki Sango” memberikan pelajaran penting bahwa inovasi
varietas sangat menentukan masa depan pertanian hortikultura. Di tengah ancaman
perubahan iklim, petani memerlukan varietas yang lebih adaptif terhadap suhu
ekstrem, lebih tahan terhadap gangguan cuaca, serta mampu memberikan hasil
stabil sepanjang tahun.
Pengembangan
pepaya kerdil tahan panas seperti “Ishigaki Sango” juga membuka peluang bagi
budidaya pepaya di lahan sempit, sistem pot, greenhouse, maupun pertanian
perkotaan. Bahkan, karakter tanaman yang pendek dan cepat berbuah sangat cocok
untuk mendukung konsep pertanian modern berbasis efisiensi dan teknologi.
Ke
depan, inovasi seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi lembaga penelitian dan
pemulia tanaman di Indonesia untuk mengembangkan varietas pepaya lokal unggul
yang sesuai dengan kondisi agroklimat Nusantara. Indonesia memiliki kekayaan
plasma nutfah pepaya yang sangat besar. Jika dipadukan dengan teknologi
pemuliaan modern dan dukungan riset berkelanjutan, bukan tidak mungkin
Indonesia juga mampu menghasilkan varietas pepaya unggul kelas dunia yang tahan
perubahan iklim, produktif, dan digemari pasar internasional.
“Ishigaki Sango” membuktikan bahwa inovasi pertanian
tidak selalu lahir dari teknologi yang rumit. Kadang-kadang, sebuah bibit yang
ditemukan secara tidak sengaja dapat berkembang menjadi varietas unggul yang
membawa harapan baru bagi masa depan pertanian tropis dunia.
SUMBER:
Japan
International Research Center for Agricultural Sciences (JIRCAS)



No comments:
Post a Comment