Tantangan Standardisasi Analisis Mikroplastik dan Nanoplastik: Pelajaran dari Australia untuk Membangun Harmonisasi Metode Global.
Abstrak
Pencemaran mikroplastik dan nanoplastik telah berkembang menjadi salah satu isu lingkungan yang paling banyak mendapat perhatian dalam dua dekade terakhir. Ribuan penelitian telah membuktikan bahwa partikel plastik berukuran sangat kecil ini telah menyebar ke berbagai kompartemen lingkungan, mulai dari laut, sungai, tanah, udara, hingga rantai pangan dan jaringan tubuh manusia. Namun, pesatnya perkembangan penelitian ternyata belum diimbangi oleh tersedianya standar internasional yang seragam untuk pengambilan sampel, preparasi, analisis, maupun pelaporan hasil. Akibatnya, data yang dihasilkan berbagai laboratorium sering kali sulit dibandingkan karena menggunakan metode yang berbeda-beda.
Kajian Microplastics Standards in Australia and Around the World: Challenges and Perspectives menunjukkan bahwa hingga tahun 2025 berbagai standar internasional telah tersedia untuk analisis mikroplastik, terutama melalui organisasi standardisasi seperti ISO dan ASTM. Sebaliknya, nanoplastik masih belum memiliki standar baku karena karakteristiknya jauh lebih kompleks. Ukuran partikel yang sangat kecil, rendahnya konsentrasi di lingkungan, keterbatasan teknologi deteksi, serta belum tersedianya material acuan bersertifikat menjadi hambatan utama dalam proses standardisasi. Artikel ini mengulas perkembangan standar internasional mikroplastik, berbagai tantangan dalam standardisasi nanoplastik, serta pelajaran penting dari penelitian multidisiplin yang dilakukan National Measurement Research Centre (NMRC) Australia sebagai fondasi menuju harmonisasi metode analisis secara global.
Kata kunci: mikroplastik, nanoplastik, ISO, ASTM, standardisasi, metrologi, lingkungan.
Ketika Data Tidak Bisa Dibandingkan
Dalam dunia ilmiah, sebuah penelitian tidak hanya dituntut menghasilkan data yang akurat, tetapi juga harus mampu menghasilkan data yang dapat dibandingkan dengan penelitian lain. Bayangkan dua laboratorium mengambil sampel air dari sungai yang sama pada waktu yang hampir bersamaan. Anehnya, laboratorium pertama melaporkan konsentrasi mikroplastik sebanyak 250 partikel per liter, sedangkan laboratorium kedua menemukan lebih dari 1.000 partikel per liter. Perbedaan yang sangat besar seperti ini belum tentu disebabkan oleh perubahan kondisi lingkungan, melainkan bisa berasal dari perbedaan metode analisis yang digunakan.
Fenomena tersebut menjadi tantangan besar dalam penelitian mikroplastik dan nanoplastik di seluruh dunia. Selama bertahun-tahun, para peneliti menggunakan teknik pengambilan sampel, preparasi, identifikasi, hingga pelaporan hasil yang beragam. Akibatnya, membandingkan hasil penelitian dari satu negara dengan negara lain menjadi pekerjaan yang tidak sederhana. Kondisi inilah yang kemudian mendorong komunitas ilmiah internasional untuk menyusun standar yang mampu menyatukan berbagai metode agar hasil penelitian menjadi lebih konsisten dan dapat dipercaya.
Mengapa Standardisasi Menjadi Sangat Penting?
Standardisasi merupakan fondasi utama dalam ilmu pengukuran atau metrologi. Tanpa adanya standar yang disepakati bersama, kualitas data akan sangat bergantung pada pengalaman masing-masing laboratorium. Perbedaan kecil dalam ukuran saringan, jenis larutan pencerna bahan organik, metode filtrasi, maupun teknik identifikasi dapat menghasilkan angka konsentrasi mikroplastik yang sangat berbeda.
Kondisi tersebut tentu menjadi persoalan serius ketika data penelitian digunakan sebagai dasar penyusunan kebijakan lingkungan. Pemerintah memerlukan data yang dapat dipertanggungjawabkan untuk menentukan tingkat pencemaran, menyusun regulasi, mengevaluasi efektivitas program pengurangan sampah plastik, maupun menetapkan batas aman paparan terhadap manusia dan ekosistem.
Melalui standardisasi, setiap laboratorium diharapkan menggunakan prosedur yang serupa sehingga hasil pengukuran memiliki tingkat akurasi, presisi, dan reproduksibilitas yang lebih tinggi. Dengan demikian, data dari berbagai negara dapat saling dibandingkan secara langsung dan menjadi dasar yang kuat dalam penyusunan kebijakan internasional.
Dunia Mulai Membangun Standar Mikroplastik
Perjalanan standardisasi mikroplastik sebenarnya masih tergolong baru. Sebelum tahun 2020, sebagian besar penelitian masih menggunakan metode yang dikembangkan secara mandiri oleh masing-masing kelompok peneliti. Baru dalam beberapa tahun terakhir organisasi standardisasi internasional mulai menerbitkan berbagai dokumen resmi yang mengatur prosedur analisis mikroplastik.
Salah satu tonggak penting adalah diterbitkannya ISO/TR 21960, yang memberikan kerangka dasar mengenai terminologi, ruang lingkup penelitian, serta gambaran umum metode analisis mikroplastik. Standar ini menjadi pijakan awal bagi penyusunan standar lain yang lebih spesifik.
Perkembangan berikutnya ditandai dengan hadirnya ISO 24187, yang memberikan panduan mengenai prinsip-prinsip analisis mikroplastik di lingkungan. Standar ini membahas bagaimana merancang penelitian, melakukan pengambilan sampel, mengidentifikasi partikel, hingga mengevaluasi mutu data yang dihasilkan.
Perhatian terhadap sumber pencemaran juga semakin meningkat. Misalnya, ISO 4484 secara khusus membahas pelepasan mikroplastik dari tekstil sintetis, salah satu sumber utama serat mikro yang mencemari perairan. Standar ini menjadi penting mengingat pakaian berbahan poliester, nilon, maupun akrilik dapat melepaskan jutaan serat mikro setiap kali dicuci.
Di bidang kualitas air, seri ISO 5667 juga mulai memasukkan panduan pengambilan sampel mikroplastik. Standar ini membantu memastikan bahwa proses sampling dilakukan secara konsisten sehingga hasil dari berbagai lokasi dapat dibandingkan secara lebih objektif.
Selain ISO, ASTM International turut mengembangkan berbagai metode pengujian yang mencakup analisis air, sedimen, serat mikro, teknik filtrasi, penentuan ukuran partikel, hingga evaluasi material acuan. Kehadiran berbagai standar tersebut menunjukkan bahwa komunitas internasional semakin serius membangun fondasi ilmiah dalam penelitian mikroplastik.
Perkembangan Standar yang Sangat Cepat
Jika diperhatikan secara kronologis, perkembangan standar internasional berlangsung sangat pesat hanya dalam waktu lima tahun. Pada tahun 2020, fokus utama masih berupa penyusunan pedoman umum. Setahun kemudian, ruang lingkup standar mulai meluas ke analisis tekstil dan kualitas air. Tahun 2022 menjadi awal masuknya metode analisis mikroplastik pada pangan, sementara tahun 2023 ditandai oleh semakin banyaknya standar mengenai teknik sampling, filtrasi, dan evaluasi material acuan.
Memasuki tahun 2024 dan 2025, perhatian mulai bergeser ke metode yang lebih maju, seperti identifikasi jenis polimer menggunakan spektroskopi vibrasi, analisis termal, serta peningkatan kualitas data laboratorium. Pada saat yang sama, berbagai standar baru masih terus disiapkan untuk sistem air minum, kompos, material referensi, hingga metode deteksi generasi berikutnya.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa standardisasi merupakan proses yang dinamis dan terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi analisis.
Mengapa Nanoplastik Masih Belum Memiliki Standar?
Berbeda dengan mikroplastik, hingga tahun 2025 belum tersedia standar internasional yang secara khusus mengatur analisis nanoplastik. Kondisi ini bukan berarti penelitian mengenai nanoplastik belum dilakukan, melainkan karena tantangan ilmiahnya jauh lebih kompleks.
Ukuran nanoplastik yang berada di bawah satu mikrometer membuat partikel ini hampir tidak mungkin diamati menggunakan mikroskop optik biasa. Para peneliti harus memanfaatkan instrumen berteknologi tinggi seperti Transmission Electron Microscopy (TEM), Scanning Electron Microscopy (SEM), Atomic Force Microscopy (AFM), Dynamic Light Scattering (DLS), Nanoparticle Tracking Analysis (NTA), serta spektroskopi Raman dan FTIR beresolusi tinggi.
Kesulitan tidak berhenti di situ. Di lingkungan alami, nanoplastik biasanya hadir dalam konsentrasi yang sangat rendah dan bercampur dengan mineral, protein, bahan organik, maupun biomassa mikroba. Keberadaan berbagai komponen tersebut sering kali mengganggu proses identifikasi sehingga pemisahan nanoplastik menjadi pekerjaan yang sangat rumit.
Selain itu, nanoplastik memiliki keragaman yang luar biasa. Ukuran, bentuk, komposisi polimer, tingkat degradasi, hingga sifat kimia permukaannya dapat berbeda-beda. Variasi tersebut membuat penyusunan satu metode yang mampu mengakomodasi seluruh karakteristik nanoplastik menjadi tantangan besar.
Hambatan lainnya adalah belum tersedianya Certified Reference Materials (CRM) yang diakui secara internasional. Tanpa material acuan, laboratorium di berbagai negara tidak memiliki dasar yang sama untuk melakukan kalibrasi maupun validasi metode analisis.
Pelajaran Berharga dari Australia
Salah satu contoh menarik dalam pengembangan standardisasi berasal dari National Measurement Research Centre (NMRC) Australia. Melalui berbagai penelitian multidisiplin, NMRC menunjukkan bahwa karakterisasi nanoplastik tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu bidang ilmu atau satu jenis instrumen.
Pendekatan yang diterapkan menggabungkan kimia analitik, ilmu material, fisika, ilmu polimer, toksikologi, metrologi, dan ilmu lingkungan dalam satu kerangka penelitian yang terintegrasi. Kolaborasi tersebut memungkinkan para peneliti memahami nanoplastik dari berbagai sudut pandang sekaligus, mulai dari sifat fisik, komposisi kimia, perilaku di lingkungan, hingga potensi dampaknya terhadap kesehatan.
Pengalaman NMRC juga menegaskan bahwa pengembangan standar tidak cukup hanya menyusun prosedur laboratorium. Standar harus dibangun melalui validasi antarlaboratorium, penggunaan berbagai teknik analisis yang saling melengkapi, serta pengembangan material acuan yang benar-benar representatif. Pendekatan inilah yang menjadi salah satu fondasi penting menuju harmonisasi metode analisis nanoplastik di tingkat global.
Menuju Era Harmonisasi Global
Melihat perkembangan yang ada, arah standardisasi internasional semakin jelas. Fokus tidak lagi hanya pada teknik identifikasi partikel, tetapi juga mencakup pengembangan material referensi, peningkatan kualitas data, metode ekstraksi yang lebih efisien, serta integrasi berbagai teknologi analisis dalam satu alur kerja.
Di masa depan, kecerdasan buatan (artificial intelligence) diperkirakan akan memainkan peran penting dalam membantu identifikasi jenis polimer secara otomatis melalui analisis citra maupun spektrum. Sementara itu, kombinasi berbagai teknik analisis (hyphenated techniques) akan semakin banyak digunakan untuk meningkatkan sensitivitas dan akurasi deteksi nanoplastik.
Harmonisasi metode pelaporan juga akan menjadi prioritas sehingga hasil penelitian dari berbagai negara dapat disusun dalam basis data global yang memiliki kualitas dan format yang seragam.
Implikasi bagi Indonesia
Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai yang panjang dan tingkat konsumsi plastik yang tinggi, Indonesia memiliki kepentingan besar dalam mengikuti perkembangan standardisasi internasional. Data mengenai pencemaran mikroplastik yang dihasilkan laboratorium nasional akan memiliki nilai yang jauh lebih tinggi apabila diperoleh menggunakan metode yang selaras dengan standar global.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Indonesia perlu memperkuat kapasitas laboratorium, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, mengembangkan fasilitas metrologi, serta memperluas kolaborasi internasional. Persiapan sejak dini akan membuat Indonesia lebih siap mengadopsi standar analisis nanoplastik ketika standar tersebut resmi diterbitkan di masa mendatang.
Selain mendukung penelitian, harmonisasi metode juga akan memperkuat dasar ilmiah dalam penyusunan kebijakan pengendalian pencemaran plastik, perlindungan kesehatan masyarakat, dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Kesimpulan
Perjalanan menuju standardisasi analisis mikroplastik dan nanoplastik masih terus berlangsung. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia telah berhasil membangun berbagai standar internasional untuk analisis mikroplastik melalui pengembangan pedoman oleh ISO dan ASTM yang mencakup berbagai matriks lingkungan, mulai dari air, sedimen, tekstil, hingga pangan. Standar-standar tersebut menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas, konsistensi, dan keterbandingan data penelitian di seluruh dunia.
Di sisi lain, nanoplastik masih menjadi tantangan besar karena karakteristiknya yang jauh lebih kompleks. Ukuran yang sangat kecil, rendahnya konsentrasi di lingkungan, keterbatasan teknologi deteksi, keragaman sifat fisikokimia, serta belum tersedianya material acuan bersertifikat membuat penyusunan standar internasional memerlukan upaya yang lebih panjang. Pengalaman National Measurement Research Centre Australia menunjukkan bahwa solusi terhadap tantangan tersebut hanya dapat dicapai melalui kolaborasi multidisiplin, validasi metode yang ketat, pengembangan material acuan, dan kerja sama antarlaboratorium di berbagai negara.
Ke depan, kemajuan teknologi analitik, metrologi, dan kecerdasan buatan diperkirakan akan mempercepat lahirnya standar global untuk nanoplastik. Harmonisasi metode tersebut bukan sekadar persoalan teknis, melainkan fondasi penting untuk menghasilkan data yang akurat, dapat dibandingkan secara internasional, serta mampu mendukung kebijakan pengelolaan pencemaran plastik yang lebih efektif. Bagi Indonesia, mengikuti perkembangan standardisasi global sejak dini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kualitas penelitian nasional sekaligus meningkatkan kontribusi dalam upaya internasional menjaga kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan.
Daftar Referensi
ASTM International. (2025). Standards for microplastics testing and analysis.
Andrady, A. L. (2017). The plastic in microplastics: A review. Marine Pollution Bulletin, 119(1), 12–22.
Gigault, J., ter Halle, A., Baudrimont, M., Pascal, P.-Y., Gauffre, F., Phi, T.-L., El Hadri, H., Grassl, B., & Reynaud, S. (2018). Current opinion: What is a nanoplastic? Environmental Pollution, 235, 1030–1034.
Hartmann, N. B., Hüffer, T., Thompson, R. C., Hassellöv, M., Verschoor, A., Daugaard, A. E., Rist, S., Karlsson, T., Brennholt, N., Cole, M., Herrling, M. P., Hess, M. C., Ivleva, N. P., Lusher, A. L., & Wagner, M. (2019). Are we speaking the same language? Recommendations for a definition and categorization framework for plastic debris. Environmental Science & Technology, 53(3), 1039–1047.
ISO 21960:2020. (2020). Plastics—Environmental aspects—State of knowledge and methodologies.
ISO 24187:2023. (2023). Principles for the analysis of microplastics present in the environment.
ISO Standards Catalogue. (2025). Catalogue of standards related to plastics, environmental analysis, and microplastics.
Koelmans, A. A., Redondo-Hasselerharm, P. E., Nor, N. H. M., de Ruijter, V. N., Mintenig, S. M., & Kooi, M. (2020). Risk assessment of microplastic particles. Nature Reviews Materials, 7, 138–152.
Löder, M. G. J., & Gerdts, G. (2015). Methodology used for the detection and identification of microplastics—A critical appraisal. Dalam M. Bergmann, L. Gutow, & M. Klages (Eds.), Marine Anthropogenic Litter (hlm. 201–227). Springer.
National Measurement Institute Australia. (2024). Microplastics and nanoplastics measurement research. Canberra, Australia.
Prata, J. C., da Costa, J. P., Lopes, I., Duarte, A. C., & Rocha-Santos, T. (2019). Methods for sampling and detection of microplastics in water and sediment: A critical review. TrAC Trends in Analytical Chemistry, 110, 150–159.
Rochman, C. M., Hoh, E., Hentschel, B. T., & Kaye, S. (2013). Long-term field measurement of sorption of organic contaminants to plastic pellets. Environmental Science & Technology, 47(3), 1646–1654.
Shim, W. J., Hong, S. H., & Eo, S. (2017). Identification methods in microplastic analysis: A review. Analytical Methods, 9(9), 1384–1391.
Thompson, R. C., Olsen, Y., Mitchell, R. P., Davis, A., Rowland, S. J., John, A. W. G., McGonigle, D., & Russell, A. E. (2004). Lost at sea: Where is all the plastic? Science, 304(5672), 838.
Wagner, M., & Lambert, S. (Eds.). (2018). Freshwater Microplastics: Emerging Environmental Contaminants? Springer.
#Mikroplastik
#Nanoplastik
#Standarisasi
#Lingkungan
#Metrologi

No comments:
Post a Comment