Menuju Rumah Allah, Tinggalkan Dulu Perniagaan
Duniawi
Di saat banyak orang mengejar kesempatan emas dan enggan
melewatkan momen penting dalam karier, sebuah keputusan tak biasa justru
diambil di tengah hiruk-pikuk akademik di Jepang. Ketika rapat perdana dengan
profesor berlangsung serius dan penuh harapan masa depan, panggilan azan Jumat
tiba—menghadirkan dilema yang nyata antara urusan dunia dan panggilan Ilahi.
Keputusan untuk “meninggalkan sejenak perniagaan duniawi” bukan hanya mengubah
arah langkah hari itu, tetapi juga membuka sebuah pengalaman spiritual yang
dalam—tentang janji Allah, tentang petunjuk-Nya, dan tentang bagaimana setiap
langkah menuju rumah-Nya tak pernah sia-sia.
Cahaya matahari siang itu terasa menyengat di Nagoya,
menembus kaca-kaca besar gedung asrama mahasiswa asing dan memantul di
wajah-wajah penuh harap. Di dalam ruangan, suasana terasa khidmat sekaligus
menegangkan. Para penerima beasiswa Monbushou (Kementerian Pendidikan dan Olahraga Jepang) duduk
rapi, mengikuti pertemuan perdana dengan profesor pembimbing—sebuah momen yang
bukan sekadar formalitas, melainkan penentu arah perjalanan akademik mereka ke
depan. Beasiswa ini bukan hadiah yang datang dengan mudah; ia adalah buah dari
perjuangan panjang, seleksi ketat, doa yang tak putus, serta pengorbanan besar
di negeri masing-masing. Karena itu, setiap detik dalam pertemuan ini terasa
begitu berharga. Percakapan berlangsung serius, sarat makna, dan dipenuhi
harapan akan masa depan gemilang. Namun di tengah pentingnya momen itu, hadir
satu panggilan yang jauh lebih tinggi—panggilan yang tidak hanya mengatur masa
depan dunia, tetapi juga menentukan keselamatan akhirat.Hari itu adalah Jumat.
Bagi seorang Muslim, Jumat bukan sekadar hari biasa. Ia adalah hari panggilan, hari di mana langit seakan menyeru, mengingatkan setiap jiwa beriman untuk kembali kepada Rabb-nya.
Firman Allah begitu
tegas dan penuh makna:
“Wahai
orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru
untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah
dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)
Di ruangan itu, diskusi masih berlangsung. Semua tampak tenggelam dalam percakapan akademik. Namun hati ini tidak bisa diam. Ada kegelisahan yang sulit dijelaskan—rindu untuk bersujud, rindu untuk memenuhi panggilan Ilahi. Dengan langkah pelan, saya menghampiri satu per satu teman Muslim, mengajak mereka bergegas menuju masjid. Namun kebanyakan menggeleng. Dunia seakan lebih menarik untuk dituntaskan saat itu.
Hingga akhirnya, satu tangan terulur—Ahmad, sahabat baru dari Bangladesh. Tanpa banyak kata, kami sepakat: panggilan Allah harus didahulukan. Kami pun meminta izin dengan santun, lalu melangkah keluar. Dunia Jepang yang teratur dan cepat segera menyambut. Di Stasiun Motoyama, ribuan manusia bergerak seperti arus yang tak pernah berhenti. Langkah-langkah cepat, wajah-wajah serius, dan waktu yang terasa begitu berharga. Namun di tengah hiruk-pikuk itu, kami membawa satu keyakinan: siapa yang melangkah menuju Allah, tidak akan pernah tersesat.
Firman Allah menguatkan langkah kami:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari
keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami…” (QS. Al-‘Ankabut: 69)
Perjalanan itu bukan tanpa ujian. Kami harus berpindah
jalur, memahami sistem subway yang rumit, dan berhadapan dengan kerumunan yang
asing. Di Stasiun Honjin, sempat muncul keraguan. Namun doa tak pernah putus.
Hati terus berbisik, memohon petunjuk dari Yang Maha Mengetahui jalan.
Dan benar saja, seakan ada tangan tak terlihat yang
menuntun langkah kami. Satu demi satu jejak kaki mengarah dengan pasti, hingga
akhirnya tanda masjid itu tampak samar di kejauhan. Hati pun bergetar, dada
dipenuhi haru, dan syukur meluap tanpa tertahan. Kami tiba di masjid yang pada
Jumat sebelumnya menjadi tempat sujud kami—satu-satunya masjid di kota Nagoya
saat itu—yang kini terasa begitu dekat, bukan hanya di mata, tetapi juga di
hati.
Di sanalah kami merasakan kebenaran janji Allah dan kelembutan kasih-Nya.
Sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadis qudsi:
“Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku
mendekat kepadanya sehasta… dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku
akan datang kepadanya dengan berlari.” (HR. Bukhari & Muslim)
Namun perjalanan tidak berhenti di situ.
Sepulang dari masjid, tanpa tekanan waktu salat,
kewaspadaan kami justru melemah. Kami tersesat berkali-kali di labirin jalanan
Nagoya. Rasa lelah dan bingung mulai terasa. Saat itulah sebuah pelajaran besar
menancap dalam hati: ketika tujuan kita adalah Allah, Dia sendiri yang menjadi
penunjuk arah. Namun ketika niat itu mengendur, kita dibiarkan merasakan betapa
lemahnya diri ini tanpa bimbingan-Nya.
Saudaraku,
Kisah ini bukan sekadar perjalanan menuju masjid di
negeri asing. Ini adalah cermin kehidupan kita. Setiap hari, kita dihadapkan
pada pilihan: memenuhi panggilan Allah atau menunda demi urusan dunia. Kita
sering berkata, “sebentar lagi,” hingga waktu berlalu tanpa keberkahan.
Padahal, Allah telah memberi petunjuk yang
jelas—tinggalkan sejenak perniagaan dunia, datanglah kepada-Nya. Bukan karena
Allah membutuhkan kita, tetapi karena kita yang sangat membutuhkan-Nya.
Apa arti kesuksesan dunia jika kita kehilangan arah
menuju akhirat? Apa arti pertemuan penting jika kita melewatkan panggilan Rabb
semesta alam?
Ketahuilah, setiap langkah menuju Allah tidak akan
sia-sia. Bahkan langkah itu akan dibalas dengan pertolongan yang tak terduga,
jalan yang dimudahkan, dan hati yang ditenangkan.
Maka, ketika azan Jumat berkumandang, atau ketika
panggilan salat terdengar, jangan ragu. Tinggalkan sejenak segala urusan dunia.
Langkahkan kaki menuju rumah Allah.
Karena sejatinya, bukan kita yang mencari jalan ke
masjid—tetapi Allah yang sedang mengundang kita untuk kembali kepada-Nya.
#AzanJumat
#HijrahHati
#DakwahIslam
#KisahInspiratif
#Keimanan

No comments:
Post a Comment