Aglomerasi
pada Proses Milling dalam Produksi Nanospirulina: Mekanisme, Faktor Determinan,
dan Implikasinya terhadap Stabilitas Nanopartikel
Pudjiatmoko
Nano
Center Indonesia, Tangerang Selatan
ABSTRAK
Produksi
nanospirulina melalui proses mechanical milling menjadi pendekatan yang
menjanjikan untuk meningkatkan bioavailabilitas dan aktivitas biologis Spirulina.
Namun, salah satu kendala utama
dalam proses ini adalah terjadinya aglomerasi partikel. Penelitian ini
bertujuan untuk mengkaji mekanisme terjadinya aglomerasi selama proses milling
serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Analisis dilakukan melalui pendekatan
kajian literatur terhadap fenomena fisikokimia nanopartikel, termasuk energi
permukaan, gaya antarmolekul, dan interaksi biomolekul. Hasil menunjukkan bahwa
aglomerasi dipicu oleh peningkatan energi permukaan, dominasi gaya Van der
Waals, rendahnya zeta potential, fenomena cold welding, serta keberadaan
biomolekul aktif dalam spirulina. Aglomerasi berdampak pada penurunan
stabilitas dan efektivitas biologis nanospirulina. Oleh karena itu, diperlukan
strategi pengendalian seperti penggunaan stabilizer, optimasi parameter
milling, dan teknik dispersi lanjutan untuk menghasilkan nanopartikel yang
stabil dan homogen.
Keywords:
nanospirulina, aglomerasi, milling, nanopartikel, zeta potential, cold welding
1.
PENDAHULUAN
Spirulina
merupakan mikroalga yang kaya protein, pigmen bioaktif, serta senyawa
imunomodulator yang banyak dimanfaatkan dalam bidang kesehatan dan akuakultur. Transformasi Spirulina menjadi nanopartikel
(nanospirulina) terbukti dapat meningkatkan luas permukaan, kelarutan, serta
bioavailabilitasnya (Sharma et al., 2019).
Salah satu metode yang umum digunakan untuk menghasilkan
nanopartikel adalah mechanical milling, seperti ball milling,
yang bekerja melalui mekanisme tumbukan energi tinggi untuk mereduksi ukuran
partikel (Suryanarayana, 2001). Namun demikian, proses ini sering diikuti oleh
fenomena aglomerasi, yaitu penggabungan kembali partikel-partikel nano menjadi
agregat berukuran lebih besar (Bhattacharjee, 2016).
Aglomerasi merupakan tantangan utama dalam teknologi
nanopartikel karena dapat menurunkan stabilitas sistem dan mengurangi
efektivitas biologisnya. Fenomena ini dipengaruhi oleh berbagai faktor
fisikokimia, termasuk energi permukaan, gaya antarpartikel, dan sifat material
(Israelachvili, 2011).
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara ilmiah
mekanisme terjadinya aglomerasi pada proses milling dalam produksi
nanospirulina serta implikasinya terhadap kualitas nanopartikel.
2.
MATERIALS AND METHODS
Penelitian
ini menggunakan pendekatan studi literatur dengan mengkaji berbagai publikasi
ilmiah terkait:
- Mekanisme mechanical
milling dan pembentukan nanopartikel
- Interaksi antarpartikel pada
skala nano
- Karakteristik biomolekul Spirulina
- Faktor-faktor yang
mempengaruhi stabilitas nanopartikel
Sumber
literatur diperoleh dari jurnal internasional bereputasi seperti Powder
Technology, Journal of Nanoparticle Research, dan Colloids and
Surfaces B: Biointerfaces. Analisis dilakukan
secara deskriptif-komparatif untuk mengidentifikasi hubungan antara proses
milling dan fenomena aglomerasi.
3. RESULTS
3.1. Peningkatan Energi Permukaan
Reduksi ukuran partikel hingga skala nano menyebabkan
peningkatan luas permukaan spesifik secara signifikan. Hal ini meningkatkan
energi bebas permukaan sehingga sistem menjadi tidak stabil dan cenderung
mengalami aglomerasi untuk mencapai kondisi energi minimum (Bhattacharjee,
2016).
3.2.
Dominasi Gaya Van der Waals
Pada
skala nano, gaya Van der Waals menjadi dominan dibandingkan gaya lainnya. Gaya
ini menyebabkan partikel saling tarik-menarik dan membentuk agregat, terutama
ketika tidak terdapat gaya tolak yang cukup (Israelachvili, 2011).
3.3.
Pengaruh Zeta Potential
Zeta
potential merupakan indikator kestabilan dispersi nanopartikel. Nilai zeta
potential yang rendah (± < 30 mV) menunjukkan lemahnya gaya repulsi
elektrostatik, sehingga meningkatkan kemungkinan aglomerasi (Hunter, 2001).
3.4.
Fenomena Cold Welding
Selama
proses high-energy milling, tumbukan antar partikel dapat menyebabkan
deformasi plastis dan adhesi permukaan, yang dikenal sebagai cold welding.
Fenomena ini menyebabkan partikel-partikel kecil bergabung kembali menjadi
agregat (Suryanarayana, 2001).
3.5. Peran Biomolekul Spirulina
Komponen utama Spirulina seperti protein,
polisakarida, dan lipid memiliki sifat adhesif dan hidrofilik. Senyawa ini
dapat bertindak sebagai pengikat alami yang mempercepat proses aglomerasi,
terutama dalam kondisi lembap (Becker, 2007).
3.6.
Pengaruh Kelembapan
Kelembapan
berperan dalam pembentukan liquid bridge antar partikel yang
meningkatkan kohesi dan mempercepat aglomerasi (Pietsch, 2002).
4.
DISKUSI
Hasil
kajian menunjukkan bahwa aglomerasi pada nanospirulina merupakan fenomena
multifaktorial yang dipengaruhi oleh interaksi antara faktor mekanik dan
fisikokimia.
Peningkatan
energi permukaan akibat reduksi ukuran partikel menjadi faktor utama yang
mendorong sistem menuju kondisi yang lebih stabil melalui aglomerasi. Hal ini
sejalan dengan prinsip termodinamika bahwa sistem cenderung meminimalkan energi
bebasnya (Bhattacharjee, 2016).
Selain itu, dominasi gaya Van der Waals pada skala nano
memperkuat interaksi antarpartikel. Tanpa adanya gaya penstabil seperti repulsi
elektrostatik atau sterik, partikel akan mudah membentuk agregat
(Israelachvili, 2011).
Fenomena
cold welding selama milling juga menjadi faktor penting yang membedakan
proses ini dari metode sintesis lainnya. Energi tumbukan yang tinggi tidak
hanya memecah partikel tetapi juga dapat menyebabkan penyatuan kembali partikel
(Suryanarayana, 2001).
Dalam
konteks nanospirulina, keberadaan biomolekul aktif memperparah aglomerasi
karena sifat adhesifnya. Hal ini menjadi karakteristik unik dibandingkan
nanopartikel anorganik.
Implikasi dari aglomerasi sangat signifikan, terutama
dalam aplikasi biologis. Aglomerasi dapat menurunkan luas permukaan efektif,
mengurangi bioavailabilitas, serta menyebabkan distribusi ukuran partikel yang
tidak homogen. Dalam aplikasi imunologi ikan, kondisi ini dapat mempengaruhi
efisiensi penyerapan dan respons imun.
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan
komprehensif, antara lain:
- Penggunaan surfaktan atau
polimer sebagai stabilizer
- Optimasi parameter milling
- Penggunaan metode wet
milling
- Kombinasi dengan teknik
ultrasonikasi
Pendekatan
ini bertujuan untuk menyeimbangkan gaya tarik dan gaya tolak antarpartikel
sehingga sistem tetap stabil.
5.
KESIMPULAN
Aglomerasi
pada proses milling dalam produksi nanospirulina disebabkan oleh kombinasi
faktor energi permukaan, gaya Van der Waals, rendahnya zeta potential, fenomena
cold welding, serta interaksi biomolekul Spirulina. Fenomena ini
berdampak negatif terhadap stabilitas dan efektivitas nanopartikel. Oleh karena
itu, strategi pengendalian yang tepat sangat diperlukan untuk menghasilkan
nanospirulina yang stabil, homogen, dan optimal dalam aplikasi biologis.
REFERESI
Becker, E. W. (2007). Micro-algae as a
source of protein. Biotechnology Advances, 25(2), 207–210.
Bhattacharjee, S. (2016). DLS and zeta
potential—What they are and what they are not? Journal of Controlled Release,
235, 337–351.
Hunter, R. J. (2001). Foundations of
Colloid Science. Oxford University Press.
Israelachvili, J. N. (2011). Intermolecular
and Surface Forces (3rd ed.). Academic Press.
Pietsch, W. (2002). Agglomeration
Processes: Phenomena, Technologies, Equipment. Wiley-VCH.
Sharma, S., et al. (2019). Nanotechnology
approaches for Spirulina: A review. Journal of Applied Phycology, 31,
1–12.
Suryanarayana, C. (2001). Mechanical alloying
and milling. Progress in Materials Science, 46(1–2), 1–184.

No comments:
Post a Comment