Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Wednesday, 24 September 2025

Fakta Mengejutkan di Balik Krisis Ketahanan Pangan

 

Pernahkah kamu membayangkan bahwa hampir semua negara di dunia tidak bisa mencukupi kebutuhan makanannya sendiri tanpa bantuan dari negara lain? Sebuah studi global terbaru berjudul Gap Between National Food Production and Food-Based Dietary Guidance Highlights Lack of National Self-Sufficiency (2025) menemukan bahwa hanya ada satu negara di dunia yang benar-benar bisa hidup dari hasil pertaniannya sendiri tanpa perlu mengimpor makanan dari luar negeri. Fakta ini membuka mata tentang rapuhnya sistem pangan global, terutama ketika dunia dihadapkan pada pandemi, konflik, dan perubahan iklim.

 

1. Guyana jadi satu-satunya negara yang swasembada pangan

Temuan pertama yang mengejutkan adalah Guyana, negara kecil di pesisir utara Amerika Selatan, menjadi satu-satunya negara yang mampu swasembada penuh. Dari 186 negara yang diteliti, hanya Guyana yang berhasil memenuhi tujuh kelompok pangan sehat menurut standar diet Livewell WWF, yaitu daging, ikan dan makanan laut, produk susu, pati, legum, kacang dan biji-bijian, buah, serta sayuran. Keberhasilan ini lahir dari lonjakan investasi besar di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Pemerintah Guyana meningkatkan produksi beras dengan menyediakan 152.000 karung benih, mendorong pertumbuhan peternakan hingga 24,6 persen, serta memperluas budidaya kacang merah, kedelai, dan jagung. Diversifikasi pangan juga didukung oleh produksi sayuran bernilai tinggi, pembangunan ratusan rumah tanam, serta peningkatan produksi madu. Strategi komprehensif inilah yang menjadikan Guyana contoh nyata swasembada pangan berkelanjutan.

 

2. Lebih dari 80 persen negara tak bisa memenuhi separuh kebutuhan pangan

Namun, gambaran global justru menunjukkan sebaliknya. Lebih dari 80 persen negara di dunia tidak mampu memenuhi separuh kebutuhan pangannya. Sebanyak 154 negara hanya bisa memenuhi dua hingga lima kelompok pangan sehat, bahkan lebih dari sepertiga hanya sanggup menyediakan dua kelompok atau kurang. Kawasan yang paling terdampak adalah Afrika, Karibia, dan sebagian Eropa. Keterbatasan lahan subur, air, dan tanah produktif menjadi alasan utama, sehingga negara-negara tersebut terpaksa bergantung pada perdagangan internasional untuk mencukupi kebutuhan makanannya.

 

3. Negara-negara maju belum tentu lebih mandiri ketahanan pangan

Menariknya, ketahanan pangan tidak selalu sejalan dengan tingkat kemajuan ekonomi. Negara-negara kaya seperti UEA, Qatar, Irak, dan Makau justru tidak mampu memenuhi kebutuhan dari satu pun kelompok pangan sehat secara lokal, meskipun memiliki infrastruktur modern dan pendapatan tinggi. Sebaliknya, Guyana yang ekonominya relatif kecil mampu mandiri berkat investasi serius di sektor pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan lebih ditentukan oleh strategi pembangunan dan kebijakan investasi pangan, bukan sekadar kekayaan nasional.

 

4. Ikan dan sayuran, kelompok pangan paling sulit dipenuhi secara lokal

Dari semua kelompok pangan, ikan dan sayuran menjadi yang paling sulit dipenuhi secara lokal. Hanya 25 persen negara yang mampu memenuhi kebutuhan ikan dan seafood, sementara untuk sayuran angkanya bahkan lebih rendah, hanya 24 persen. Sebagian besar negara Sub-Sahara Afrika gagal memenuhi kebutuhan sayurannya, dan bahkan negara maju pun kesulitan dalam produksi sayuran karena keterbatasan lahan, air, iklim, serta infrastruktur rantai dingin. Kondisi ini ironis, mengingat kedua kelompok pangan ini sangat penting sebagai sumber mikronutrien.

 

5. Ketergantungan tinggi pada negara mitra berisiko saat krisis

Ketergantungan tinggi pada negara mitra juga memperbesar risiko ketika krisis melanda. Banyak negara, misalnya di Karibia dan Amerika Tengah, sangat bergantung pada impor dari Amerika Serikat, sementara negara-negara di Asia Timur dan Afrika Sub-Sahara sering mengandalkan satu negara untuk lebih dari separuh impor pangannya. Situasi ini membuat sistem pangan global rentan terguncang oleh peristiwa tak terduga, seperti pandemi COVID-19, insiden kapal Ever Given yang tersangkut di Terusan Suez, atau kebijakan tarif impor.

 

6. Perdagangan regional meningkatkan ketahanan pangan, tapi tidak cukup

Kerja sama regional sebenarnya mampu meningkatkan ketahanan pangan, tetapi tidak cukup untuk mencapai swasembada penuh. Serikat Ekonomi dan Moneter Afrika Barat misalnya, hanya mandiri dalam produksi kacang-kacangan dan pangan bertepung. Komunitas Karibia hanya mandiri pada buah dan daging, sementara Dewan Kerja Sama Teluk hanya pada daging. Rata-rata, perdagangan dalam blok regional ini hanya meningkatkan swasembada sekitar seperempat kelompok pangan, meski ada pengecualian seperti Kongo, Malaysia, dan Afghanistan yang mengalami lonjakan lebih signifikan.

 

Meski kondisi sekarang terlihat rapuh, harapan untuk perubahan tetap ada. Teknologi pertanian modern dan kebijakan pangan yang progresif bisa mengubah peta ketahanan pangan dunia. Proyeksi hingga tahun 2032 memperkirakan peningkatan signifikan dalam produksi daging di Timur Tengah dan Afrika Utara, serta pertumbuhan besar untuk kacang-kacangan, biji-bijian, dan pangan bertepung di Eropa, Asia Tengah, dan Afrika. Inisiatif nasional seperti strategi "30 by 30" di Singapura, yang menargetkan produksi 30 persen kebutuhan pangan secara lokal pada 2030, menunjukkan bagaimana investasi dan inovasi bisa membawa perubahan nyata.

 

7. Potensi teknologi dan kebijakan bisa mengubah peta ketahanan pangan

Pada akhirnya, fakta-fakta ini memberi pelajaran bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tetapi juga soal kebijakan, distribusi, dan ketergantungan antarnegara. Di balik sepiring nasi atau semangkuk sayur yang kita makan, ada rantai pasokan panjang yang bisa terganggu kapan saja oleh perang, cuaca ekstrem, atau krisis global lainnya. Meski tantangannya besar, negara-negara masih memiliki peluang untuk memperkuat diri jika mulai berinvestasi pada sistem pangan yang berkelanjutan. Dalam dunia yang semakin tidak pasti, swasembada pangan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan.

Prospek Ekonomi dan Perbaikan Iklim Investasi



Pemerintah Republik Indonesia menyelenggarakan presentasi makan siang kelompok di Imperial Hotel Tokyo pada 8 Mei 2007. Sambutan pembukaan disampaikan oleh H.E. Dr. Jusuf Anwar, Duta Besar Republik Indonesia, serta Mr. Yuji Shirakawa, Chairman Nikko Citigroup Limited.

 

Dr. Anggito Abimanyu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, memaparkan materi berjudul “Prospek Ekonomi dan Perbaikan Iklim Investasi”. Beliau menjelaskan mengenai “Undang-Undang Penanaman Modal yang Baru Disahkan – Iklim yang Mendukung Investasi” kepada lima puluh investor Jepang.

 

A. Kesetaraan Status Hukum

  1. Kesetaraan status dan perlakuan bagi investor dalam negeri maupun asing.


B. Perlindungan Investor

2. Perlindungan terhadap nasionalisasi dan bentuk pengambilalihan lainnya, yang harus didasarkan pada hukum serta disertai kompensasi sesuai harga pasar.

3. Menjamin hak untuk memulangkan kembali keuntungan dalam mata uang asing.

4. Penghapusan kewajiban divestasi paksa dan batasan jangka waktu investasi asing yang sebelumnya diatur dalam Undang-Undang Penanaman Modal Asing Tahun 1967.


C. Penyelesaian Sengketa

5. Arbitrase internasional yang bersifat mengikat dalam hal terjadi sengketa antara pemerintah dengan investor asing.


D. Daftar Negatif Investasi

6. Semua kegiatan usaha terbuka bagi investasi kecuali yang secara tegas dinyatakan tertutup atau terbatas.

7. Daftar negatif investasi yang transparan, disusun berdasarkan klasifikasi standar industri, dan ditetapkan melalui satu Peraturan Presiden.


E. Hak atas Properti

8. Penguatan hak atas properti (misalnya hak guna lahan bagi investor hingga 95 tahun).


F. Prosedur Keimigrasian

9. Tenaga kerja asing dapat diberikan izin tinggal selama dua tahun dengan visa masuk berganda.

10. Izin tinggal tersebut dapat diubah menjadi izin tinggal tetap bagi mereka yang telah menetap di Indonesia secara berkesinambungan lebih dari dua tahun.


G. Insentif Pajak

11. Pemberian insentif pajak khusus untuk jenis investasi tertentu dengan syarat tertentu, misalnya: pembebasan pajak (tax holiday) bagi industri pionir, pengurangan pajak penghasilan, pembebasan bea masuk dan PPN atas barang modal dan bahan baku, percepatan penyusutan aset, serta pengurangan pajak bumi dan bangunan.

Dua Beban Pangan Global: Hewan dan Tanaman

 


Sistem pangan dunia ibarat mesin raksasa yang seharusnya berjalan mulus untuk memberi makan umat manusia. Namun kenyataannya, mesin ini penuh gangguan. Hama, penyakit, kekeringan, hingga banjir silih berganti merusak hasil panen dan melemahkan kesehatan ternak. Kerugian yang muncul tidak hanya dalam bentuk uang, tetapi juga berdampak pada gizi, kesehatan, bahkan kelestarian lingkungan. Lebih rumit lagi, ancaman ini tidak mengenal batas—kerusakan di sektor tanaman langsung berimbas pada sektor ternak, dan sebaliknya.

 

Sistem pangan adalah jaringan proses yang saling terhubung untuk mengubah berbagai masukan—seperti lahan, tenaga kerja, air, nutrisi, dan sumber daya genetik—menjadi keluaran berupa pangan dan pendapatan bagi manusia. Dalam bayangan ideal, sistem pangan seharusnya berjalan efisien tanpa kerugian, tetapi kenyataannya sistem ini penuh tantangan. Berbagai ancaman biotik seperti hama dan penyakit, serta ancaman abiotik seperti kekeringan atau banjir, membuat sistem pangan kita bekerja jauh dari kata sempurna. Kerugian pun tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga berdampak pada kesehatan, gizi, dan lingkungan.

 

Menariknya, ancaman dalam sistem pangan tidak pernah mengenal batas antara sektor tanaman dan ternak. Kedua sektor ini justru saling terkait erat. Hasil tanaman menjadi pakan ternak, sementara limbah ternak seperti pupuk kandang mendukung produksi tanaman. Jika satu sektor terguncang, sektor lain ikut terdampak. Hubungan yang saling memengaruhi inilah yang mendorong pentingnya pendekatan lintas disiplin, salah satunya melalui kerangka One Health yang menekankan keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

 

Dua inisiatif besar kini sedang dikembangkan untuk memahami masalah ini: Global Burden of Crop Loss (GBCL) dan Global Burden of Animal Diseases (GBAD). Keduanya berfokus menghitung kerugian yang muncul akibat bahaya di sektor tanaman maupun hewan. GBCL menyoroti kerugian hasil panen akibat serangan hama, penyakit, atau bencana iklim yang dapat mencapai 20–40% dari total produksi tanaman pangan. Sementara GBADs berusaha memetakan kerugian ekonomi akibat penyakit menular, tidak menular, maupun ancaman eksternal di sektor peternakan.

 

Kerja sama antara GBCL dan GBADs menjadi langkah penting untuk memahami gambaran besar kerugian sistem pangan secara terpadu. Penyelarasan metodologi kedua pendekatan ini memungkinkan kita menghitung kerugian tanaman dan hewan secara bersamaan, sehingga memberi informasi yang lebih komprehensif bagi pengambil kebijakan. Misalnya, larangan penggunaan tepung daging dan tulang di Uni Eropa memicu lonjakan impor kedelai sebagai pengganti bahan pakan. Kasus ini menunjukkan bagaimana kebijakan di satu sektor bisa memicu dampak besar di sektor lainnya.

Menguak Beban Ganda Sistem Pangan



Perspektif sistem pangan: bagaimana Beban Global Penyakit Hewan terkait dengan Beban Global Kehilangan Tanaman

 

Ringkasan

 

Sistem pangan terdiri dari jaringan proses yang saling terhubung yang bersama-sama mengubah masukan (lahan, tenaga kerja, air, nutrisi, genetika, dan lain-lain) menjadi keluaran, termasuk nutrisi dan pendapatan bagi masyarakat manusia. Sistem yang sempurna tidak ada, dan sistem pangan global kita beroperasi di tengah ancaman bahaya, baik biotik maupun abiotik, dan dengan keterbatasan sumber daya untuk memitigasi ancaman tersebut. Oleh karena itu, terdapat inefisiensi dalam sistem yang menyebabkan kerugian: nilai moneter, nutrisi, kesehatan, dan lingkungan, serta menciptakan eksternalitas negatif tambahan dalam ruang kesehatan, sosial, dan lingkungan. Ancaman bahaya kesehatan dalam sistem pangan kita tidak menghormati perbedaan sewenang-wenang antara sektor 'tanaman' dan 'ternak', yang sangat saling terkait. Keterkaitan ini terjadi ketika satu sektor menyediakan masukan bagi sektor lain atau melalui efek substitusi di mana pasokan di satu sektor memengaruhi permintaan di sektor lain. Pendekatan Satu Kesehatan menganjurkan penyelidikan bahaya lintas sektoral dengan cara yang sangat interdisipliner. Makalah ini memberikan kerangka kerja konseptual tentang bagaimana metodologi yang dikembangkan oleh inisiatif Beban Kehilangan Tanaman Global dan Beban Penyakit Hewan Global dapat diintegrasikan untuk menghasilkan estimasi beban bahaya dalam sistem pangan kita, yang lebih memperhitungkan interkonektivitas dan mengarahkan kita menuju pemahaman yang lebih baik tentang sistem pangan yang selaras dengan sifat interdisipliner pendekatan Satu Kesehatan. Studi kasus terkait keterkaitan sektor jagung dan unggas dalam konteks kesehatan masyarakat dan lingkungan yang lebih luas disajikan.

 

Kata Kunci: Kesehatan Hewan, Kehilangan Tanaman, Produksi Tanaman, Sistem Pangan, GBAD, GBCL, Beban Kehilangan Tanaman Globa, Beban Kehilangan Tanaman Global, Jagung, Satu Kesehatan, Unggas, Afrika Selatan.

 

Pendahuluan

 

Memenuhi permintaan pangan yang terus meningkat sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari pertanian merupakan salah satu tantangan utama Antroposen. Menanggapi peningkatan populasi, urbanisasi, dan meningkatnya ekspektasi konsumen, sistem pangan (Scientific and Technical Review 3 43_19_Szyniszewska_preprint 3/19) perlu memproduksi lebih banyak lagi untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk dunia yang mendekati 9 miliar jiwa pada tahun 2050 [1-3]. Sistem pangan ini saat ini menyumbang sepertiga emisi gas rumah kaca antropogenik, yang diproyeksikan meningkat sebesar 30–40% pada tahun 2050 [4], dan sangat penting untuk mengurangi dampak lingkungan dari pertanian guna mempertahankan fungsi ekosistem [5].

 

Sistem pangan terdiri dari proses-proses yang saling terhubung yang mengubah masukan (lahan, tenaga kerja, air, nutrisi, dan sebagainya) menjadi keluaran yang menciptakan nutrisi dan pendapatan bagi masyarakat. Sistem pangan yang ‘sempurna’ akan memungkinkan transformasi ini terjadi secara efisien tanpa pemborosan atau kerugian. Namun, sistem yang sempurna tidak ada, dan sistem pangan global menghadapi bahaya biotik dan abiotik, yang menyebabkan inefisiensi pada sistem dan menyebabkan kerugian moneter, nutrisi, dan lingkungan.

 

Strategi untuk mengurangi dampak bahaya di seluruh sistem pangan diperlukan untuk mengurangi kerugian dan memitigasi degradasi lingkungan sekaligus meningkatkan hasil gizi dan ekonomi. Terdapat kebutuhan mendesak akan bukti berbasis data yang kuat mengenai skala dan sifat bahaya ini untuk menginformasikan keputusan investasi dan intervensi guna mencapai hal tersebut. Terdapat banyak penelitian tentang estimasi beban bahaya dalam sistem pangan [6-8], tetapi metodologi yang kuat dan terstandarisasi yang memungkinkan perbandingan antara bahaya atau sistem produksi masih kurang.

 

Kemitraan yang sedang berkembang antara Beban Kehilangan Tanaman Global (GBCL) dan Beban Penyakit Hewan Global (GBADs) bertujuan untuk mengisi kesenjangan ini melalui kuantifikasi kerugian yang disebabkan oleh faktor sosial-ekonomi, biotik, dan abiotik pada sistem produksi yang 'ideal' dan bebas bahaya. Pendekatan ini akan mengkuantifikasi biaya kerugian produksi pangan yang dapat dicegah untuk menyoroti bahaya utama dalam pengambilan keputusan kebijakan [9,10]. Metodologi yang sedang dikembangkan ini pada dasarnya bersifat interdisipliner, mengakui interaksi yang signifikan antara pilar-pilar utama sistem pangan, dan memanfaatkan kerangka kerja teoretis yang saling melengkapi untuk mengintegrasikan pemetaan bahaya antara tanaman pangan dan ternak.

 

Dalam makalah ini, kami mengidentifikasi sinergi antara Sistem Pangan dan pendekatan Satu Kesehatan, memperkenalkan pendekatan GBCL dan GBAD untuk penilaian beban, dan menguraikan keterkaitan antara pendekatan-pendekatan ini. Untuk mengilustrasikan lebih lanjut keterkaitan ini, kami kemudian menyajikan studi kasus keterkaitan sektor produksi jagung dan ayam pedaging di Afrika Selatan sebelum mempertimbangkan tantangan dan peluang yang ada di masa mendatang untuk pendekatan semacam ini.

 

Sistem Pangan dan Pendekatan Satu Kesehatan

 

Sistem Pangan mencakup berbagai masukan, aktivitas, dan keluaran yang terlibat dalam membawa produk pangan dari ladang ke meja makan, sementara One Health memperluas konsep tersebut untuk secara eksplisit mencakup dampak kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem dari proses-proses ini. Aktivitas sistem pangan mencakup produksi, pemrosesan, pengemasan, distribusi, ritel, dan konsumsi, serta terkait dengan konteks ekologi, ekonomi, sosial, dan politik tempat aktivitas tersebut berlangsung [11]. Pendekatan sistem pangan mengakui kompleksitas sistem-sistem ini dan trade-off yang melekat antara berbagai fungsi sistem pangan. Sistem pangan sendiri merupakan pendorong utama hasil kesehatan, baik positif maupun negatif, di tiga domain: manusia, hewan, dan lingkungan [12].

 

Konsep One Health memberikan kontribusi penting bagi pendekatan Sistem Pangan, yaitu: 'pendekatan terpadu dan terpadu yang bertujuan untuk menyeimbangkan dan mengoptimalkan kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem secara berkelanjutan' [13]. Baik pendekatan One Health maupun Sistem Pangan mengakui saling ketergantungan antara manusia, hewan, dan lingkungan yang lebih luas. One Health secara eksplisit bertujuan untuk mengoptimalkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, sementara pendekatan sistem pangan berfokus pada maksimalisasi hasil gizi dan ekonomi manusia. Penerapan pendekatan One Health untuk menciptakan metrik keberhasilan sistem pangan pada studi kasus akuakultur berkelanjutan menggambarkan potensi integrasi kedua konsep ini.

 

Menerapkan pendekatan One Health–Sistem Pangan yang terpadu untuk memahami bahaya dalam sistem mengharuskan kita untuk mengonseptualisasikan dinamika fundamental proses-proses di dalam sistem, interaksi dengan eksternalitas, termasuk lingkungan, dan siklus umpan balik yang ada. Berdasarkan pengetahuan dan model proses spesifik sektor kami, integrasi sektor tanaman pangan dan peternakan ke dalam model proses terpadu membawa kita lebih dekat pada representasi sejati dari dinamika kompleks sistem pangan.

 

Pendekatan GBCL

 

GBCL bertujuan untuk mendukung ketahanan pangan dengan menghasilkan estimasi kerugian tanaman yang dapat ditindaklanjuti dan mengidentifikasi penyebab yang mendasarinya, untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik di seluruh kesehatan tanaman dan sistem pangan. Penelitian menunjukkan bahwa hama saja menyebabkan kerugian yang signifikan, sekitar 20–40%, pada tanaman pangan utama [14,15]. Kehilangan panen mengganggu ketersediaan dan keterjangkauan hasil pertanian penting, yang menyebabkan gangguan nutrisi manusia dan ternak serta kenaikan harga pangan, sekaligus memberikan tekanan lebih besar pada Scientific and Technical Review 5 43_19_Szyniszewska_preprint 5/19 untuk menjembatani kesenjangan yang disebabkan oleh produksi yang suboptimal. Meskipun jelas bahwa mengurangi kehilangan hasil panen akibat faktor biotik atau abiotik, terutama dalam konteks pertumbuhan populasi, merupakan peluang besar untuk meningkatkan produksi pangan dengan dampak lingkungan lebih lanjut yang minimal, kita kekurangan bukti yang kuat tentang masalah ini untuk memobilisasi tindakan.

 

Data tentang skala, cakupan, pola spasial, dan faktor-faktor penyebab kehilangan hasil panen sudah usang, kurang terperinci, tidak dibagikan, atau bahkan hilang sama sekali. Kesenjangan bukti ini menimbulkan tantangan yang signifikan bagi para pengambil keputusan, menghambat kemampuan mereka untuk mengidentifikasi masalah yang paling kritis dan mengevaluasi pengembalian investasi mereka. GBCL bertujuan untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan ini dengan menyediakan penilaian berbasis bukti tentang kehilangan hasil panen, mengidentifikasi tanaman spesifik yang terdampak, dan menganalisis faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kehilangan tersebut. Tujuan utamanya adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan para pemangku kepentingan di sektor pertanian, termasuk donor penelitian, pembuat kebijakan, dan industri, untuk membuat keputusan yang tepat.

 

Kami mendefinisikan beban ekonomi kehilangan panen sebagai nilai panen yang hilang akibat bahaya, ditambah biaya langkah-langkah pengendalian yang diterapkan untuk memitigasi kerugian, termasuk input dan tenaga kerja (Gambar 1). Amplop kehilangan panen dihitung sebagai selisih antara produksi aktual dan hasil panen hipotetis yang dapat dicapai tanpa adanya bahaya. Hasil panen yang dapat dicapai (Ya) adalah hasil panen yang dicapai dengan praktik optimal secara ekonomi dengan keterbatasan minimal akibat cuaca selama musim tanam [16-18]. Hasil panen yang dapat dicapai dalam konteks (AYIC), sebagaimana didefinisikan oleh GBCL, merupakan ambang batas atas untuk tanaman tertentu yang dapat dicapai dengan mempertimbangkan konteks lokal termasuk iklim, ketersediaan air, input nutrisi yang diharapkan, dan konteks sosial-ekonomi wilayah tersebut, termasuk praktik agronomi yang dominan. Beban spesifik bencana kemudian diperkirakan melalui atribusi beban keseluruhan terhadap penyebab abiotik (misalnya kekeringan, banjir, dll.) dan biotik (misalnya gulma, jamur, bakteri, virus, dan hama lainnya) tertentu. Memahami dan mengelola berbagai faktor ini secara efektif sangat penting untuk mengoptimalkan hasil panen dan memastikan ketahanan serta keberlanjutan sistem pangan.

 

Pendekatan GBADs

 

GBADs memiliki visi yang sama dengan GBCL, yaitu menyediakan data beban yang andal dan terstandar untuk menginformasikan keputusan investasi Mirip dengan GBCL, inisiatif GBAD bertujuan untuk mencapai visi ini melalui pendekatan analisis kesenjangan; untuk mengukur dan menghubungkan kerugian yang dialami di sektor peternakan akibat penyakit menular, penyakit tidak menular, dan bahaya eksternal (misalnya peristiwa iklim ekstrem, pemangsaan, pencurian). Analisis kesenjangan yang dikembangkan oleh GBAD ini disebut sebagai ‘Animal Health Loss Scientific and Technical Review 6 43_19_Szyniszewska_preprint 6/19 Envelope’ (AHLE) [19] dan membentuk batasan atribusi spesifik bahaya apa pun, sekaligus menghilangkan risiko penghitungan ganda dampak spesifik bahaya seperti yang mungkin terjadi dalam estimasi beban sumatif ‘tradisional’ [19].

 

Pendekatan ini memungkinkan kondisi produksi saat ini dibandingkan dengan tingkat produksi ideal untuk menilai ‘kesenjangan’ beban kerugian yang ditanggung sektor peternakan (Gambar 2). Nilai-nilai yang relevan secara lokal diterapkan pada total biomassa bobot hidup ‘pada kuku’ dan pada produk sumber ternak yang dihasilkan, dan hasil ini dikuantifikasi dalam istilah ekonomi yang memungkinkan kompatibilitas antar sistem dan dengan pendekatan GBCL. Selubung kerugian kesehatan hewan dan skenario kesehatan sempurna juga diisi oleh data spesifik konteks, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti genetika dan pendekatan peternakan [20].

 

Beban spesifik bahaya diatribusikan dalam AHLE berdasarkan dampak relatifnya terhadap berbagai penyakit dan kondisi. Untuk melakukan atribusi tersebut secara terstandarisasi, ontologi kesehatan hewan [21] telah dikembangkan untuk memastikan definisi konsep dan hubungan kesehatan hewan yang interoperabel dan jelas. Selain itu, metodologi atribusi telah dikembangkan yang secara khusus menggabungkan hubungan antara kondisi penyakit dan dampak sinergis atau antagonis dari komorbiditas [22].

 

Mendefinisikan nilai AHLE penting karena memungkinkan risiko untuk dievaluasi dan diperingkat. Sumber daya keuangan yang terbatas, baik di peternakan individu, di dalam lembaga pembangunan, atau pemerintah, berarti kuantifikasi risiko memungkinkan intervensi untuk menunjukkan pengembalian investasi. Hal ini melengkapi pengelolaan sistem pangan skala kecil atau makro dan meningkatkan ketahanan melalui pengurangan dampak ekonomi penyakit dengan cara yang paling efisien secara finansial.

 

Keterkaitan antara GBCL dan GBAD

 

Pendekatan kami mengakui bahwa dua komponen terbesar produksi pangan, sektor tanaman pangan dan peternakan, saling terhubung dan bergantung pada hubungan input-output yang sangat saling bergantung. Penyelarasan metodologis antara GBCL dan GBAD memungkinkan kami mengembangkan kerangka kerja konseptual untuk mengintegrasikan penilaian kedua sektor tersebut, yang akan mendukung pendekatan sistem pangan perintis untuk penilaian beban. Mengingat keterkaitan yang nyata, yang diilustrasikan dalam studi kasus konseptual jagung dan unggas di Afrika Selatan di bawah ini, jelas bahwa bahaya, baik yang berasal dari dalam sistem tanaman pangan maupun peternakan, memiliki dampak yang luas di seluruh sistem pangan. Produksi tanaman pangan dan residu terkaitnya menyediakan input bagi sektor peternakan, ketersediaan, kualitas, dan harga produksi tanaman pangan, oleh karena itu berdampak langsung pada produktivitas ternak. Sebaliknya, produk sampingan ternak (pupuk kandang, tepung daging dan tulang) menyediakan pupuk bagi sektor tanaman pangan, dan di banyak belahan dunia, ternak dimanfaatkan untuk memberikan daya tarik bagi pengelolaan, produksi, panen, dan distribusi produk-produk sektor tanaman pangan. Produk tanaman pangan dan ternak dapat memiliki hubungan substitusi berdasarkan elastisitas permintaan atau didorong oleh tekanan regulasi.

 

Sebagai contoh, larangan Uni Eropa terhadap tepung daging dan tulang sebagai input pakan untuk produksi unggas dan babi antara tahun 2001–2021 mengakibatkan peningkatan impor kedelai yang sesuai selama periode tersebut, menunjukkan hubungan substitusi yang kuat antara sektor-sektor ini [23]. Bahaya yang terdapat pada tanaman pangan atau sisa tanaman dapat menyebabkan dampak langsung terhadap kesehatan ternak (misalnya, aflatoksikosis dan keracunan tembaga), sementara bahaya yang berasal dari produk sampingan ternak, misalnya pemberian pupuk kandang yang menyebabkan peningkatan kadmium, kromium, tembaga, dan seng dalam tanah, dapat berdampak konsekuensial terhadap kesehatan tanaman [24,25]. Akibat interkonektivitas antara kedua industri tersebut, sektor tanaman pangan dan peternakan mengalami berbagai bahaya identik yang memengaruhi produktivitas, termasuk aflatoksin yang mengakibatkan pemborosan pangan serta menyebabkan toksisitas bagi ternak dan manusia, wabah penyakit, peristiwa cuaca ekstrem, kontaminan lingkungan, dan lainnya. Apabila bahaya-bahaya ini berdampak langsung di kedua sektor, beban bahaya dapat diatribusikan di kedua sektor tersebut untuk estimasi beban yang lebih akurat guna memandu pengambilan keputusan kebijakan.

 

Misalnya, bahaya abiotik akibat perubahan iklim akan berdampak pada sektor pertanian dan peternakan. Perubahan pola cuaca akan mengakibatkan perubahan distribusi vektor dan patogen, yang berpotensi meningkatkan jangkauan geografis atau jumlah generasi yang telah selesai. Peningkatan suhu, serta defisit air atau tekanan berlebih, berpotensi mengurangi hasil panen [26,27]. Penurunan hasil panen sereal diperkirakan terjadi di beberapa lokasi, yang dapat menyebabkan persaingan sumber daya antara nutrisi manusia dan hewan. Persaingan dan keterbatasan sumber daya tersebut dapat berdampak pada preferensi ras ternak dengan rasio konversi pakan yang lebih tinggi. Namun, ras-ras ini pada gilirannya dapat mengalami peningkatan beban penyakit tidak menular, misalnya deformitas tungkai yang terkait dengan ras unggas yang tumbuh lebih cepat.

 

Kerangka kerja konseptual tingkat tinggi memberikan representasi yang disederhanakan tentang keterkaitan antara bagian-bagian sistem pangan serta kesehatan lingkungan dan manusia (Gambar 3). Kemampuan untuk memodelkan bahaya yang berdampak pada sektor tanaman pangan dan peternakan akan memberikan platform baru untuk pengelolaan masalah yang memengaruhi kedua sektor secara bersamaan (Szyniszewska, 8 43_19_Szyniszewska_preprint 8/19).

 

Dampak

 

Baik GBCL maupun GBAD bertujuan untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti dan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para pembuat kebijakan lokal, nasional, dan global (Gambar 4). Kolaborasi antarinisiatif ini memperhitungkan interkonektivitas antarsektor sistem pangan untuk memberikan bukti empiris yang kuat tentang skala faktor yang berkontribusi terhadap kerugian tanaman dan ternak, mengidentifikasi sinergi dan trade-off yang terkait dengan mitigasi bahaya, dan berkontribusi pada pemahaman yang lebih baik tentang implikasi yang lebih luas dari kerugian yang disebabkan oleh bahaya biotik dan abiotik dalam sistem pangan.

 

Keputusan dapat berkaitan dengan strategi pengendalian bahaya, pendekatan subsidi, atau pengembangan strategi adaptasi. Misalnya, mungkin lebih hemat biaya bagi pemerintah untuk mensubsidi strategi perlindungan tanaman di hulu, daripada menanggung konsekuensi dampak di hilir (misalnya pada kualitas gizi, kerugian ekonomi, ketahanan air, emisi gas rumah kaca, dan hilangnya keanekaragaman hayati) [28]. Biaya relatif strategi pencegahan versus profilaksis telah terdefinisi dengan baik untuk dampak spesies invasif [28]. Kesadaran ini dapat mendukung alokasi sumber daya yang tepat dan memungkinkan perbandingan dengan peluang investasi potensial lainnya, termasuk potensi untuk mendorong peningkatan investasi sektor swasta atau publik dalam mitigasi bahaya pertanian.

 

Di tingkat petani, mengomunikasikan risiko kerugian yang disebabkan oleh tekanan (misalnya, peristiwa iklim ekstrem atau penyakit) dapat memberdayakan petani untuk mengambil tindakan tepat waktu dan menerapkan strategi mitigasi yang tepat. Studi terbaru di Afrika Selatan dan Kenya [29,30] menemukan bahwa sebagian besar peternak skala kecil tidak tangguh terhadap kekeringan, meskipun strategi adaptasi telah terbukti bermanfaat dan adopsinya masih rendah. Studi-studi ini menyoroti perlunya dukungan dan penyelarasan kebijakan yang tepat, meskipun hal ini dapat didukung oleh integrasi GBCL dan GBAD.

 

Estimasi kerugian yang ditimbulkan melalui GBCL dan GBAD akan memungkinkan penilaian risiko yang lebih baik, yang berpotensi mendukung pengajuan kredit dan pengembangan produk asuransi yang tepat bagi petani. Estimasi kerugian yang dihasilkan melalui inisiatif-inisiatif ini juga dapat memberikan data tambahan tentang dokumen bebas penyakit yang dapat dikembangkan, membuka saluran ekspor yang lebih baik untuk operasi komersial, serta meningkatkan akses pasar dan peluang perdagangan. Tinjauan Ilmiah dan Teknis 9 43_19_Szyniszewska_pracetak 9/19

 

Pendekatan proaktif terhadap mitigasi bahaya berbasis data dapat memitigasi dampak negatif pada sistem pangan, mengoptimalkan dan menyeimbangkan hasil gizi, kesehatan, dan ekonomi manusia serta kesehatan hewan, orang yang bekerja dengan hewan, dan ekosistem sejalan dengan pendekatan Satu Kesehatan.

 

Keterkaitan sektor jagung dan unggas di Afrika Selatan

 

GBCL dan GBAD telah ditunjuk untuk berkolaborasi dalam program Satu Pangan, sebuah kemitraan antara pemerintah Inggris dan Afrika Selatan yang bertujuan untuk menerapkan pendekatan 'semua bahaya' untuk memetakan bahaya dalam sistem pangan. Fokus proyek ini adalah untuk mengintegrasikan model yang dihasilkan oleh GBCL dan GBAD untuk memperkirakan beban bahaya di seluruh sektor tanaman pangan dan peternakan. Proyek ini menggunakan contoh rantai nilai tanaman pangan (jagung) dan peternakan (daging unggas) sebagai dasar untuk eksplorasi bahaya.

 

Pada tahun pertama dari proyek tiga tahun tersebut, proses-proses kunci dan pendorong-pendorong dianalisis untuk menghasilkan sebuah model konseptual mengenai hubungan antara sektor tanaman pangan dan hewan dalam sistem pangan. Metode estimasi hasil panen GBCL menilai produksi tanaman pangan dalam konteks kondisi lokal dengan menggunakan model ensemble Fase3a dari AgMIP’s Global Gridded Crop Model Intercomparison project. Kami menghitung hasil panen model di setiap lokasi yang dijalankan pada klimatologi historis antara tahun 1996-2015 [31]. Rata-rata, 28% dari hasil panen pra-panen hilang akibat faktor biotik dan abiotik. Pada beberapa tahun, seperti pada musim kemarau 2015/6, angka ini jauh lebih besar, mencapai lebih dari 50% kehilangan. Rata-rata, kehilangan pasca panen yang terjadi selama tahap pengeringan, penyimpanan, dan pengangkutan, diperkirakan

 

 

 

ated sebesar 15% menurut data dalam Sistem Informasi Kehilangan Pasca Panen Afrika (APHLIS). Sekitar setengah dari jagung yang diproduksi di Afrika Selatan digunakan untuk produk makanan manusia dan hampir setengahnya digunakan sebagai pakan ternak, dengan sejumlah kecil digunakan untuk keperluan industri. Pakan ternak berbasis jagung merupakan mayoritas diet berdasarkan volume di sektor unggas. Industri ayam pedaging adalah pasar jagung terbesar kedua di Afrika Selatan [32] (Gambar 5).

 

Pendekatan pemetaan bahaya tanaman dan ternak gabungan dapat memberikan wawasan berharga tentang masalah yang memengaruhi kedua sistem. Misalnya, beberapa patogen jamur jagung menyebabkan kerugian tanaman di ladang dalam bentuk busuk tongkol dan batang, dan juga dapat ditransfer ke sistem pengolahan jagung karena pertumbuhan jamur dapat terjadi setelah panen selama penyimpanan, baik di dalam maupun di makanan [33]. Pertumbuhan jamur ini dapat menyebabkan sintesis mikotoksin yang menimbulkan risiko bagi ternak dan kesehatan manusia. Melalui pemodelan ekonomi lebih lanjut dalam kerangka ekuilibrium parsial, kolaborasi ini akan mengkuantifikasi variabilitas kerugian dan bahaya, serta menyelidiki dampaknya terhadap volume dan biaya produk jagung dan unggas (Scientific and Technical Review 10 43_19_Szyniszewska_preprint 10/19). Kerja sama akan terjalin dengan mitra Afrika Selatan untuk meningkatkan data masukan ke dalam model dan mendorong wawasan lokal yang bermanfaat, yang pada gilirannya akan menginformasikan kebijakan.

 

Tantangan, kebutuhan data, dan arah masa depan

 

Sebagai sebuah kemitraan, kami bercita-cita untuk memberikan estimasi akurat tentang kerugian sistem pangan, guna meningkatkan efektivitas penelitian dalam surveilans bahaya, respons bahaya, dan epidemiologi. Melalui penyelarasan program GBCL dan GBAD, kami bekerja sama untuk menciptakan metodologi sinergis, yang akan memungkinkan kami memperoleh hasil yang lebih baik ini. Kemitraan ini dapat memberikan pandangan holistik dan menyeluruh tentang permasalahan yang dihadapi dalam produksi pangan, sehingga kami harus terus menghubungkan hasil kami di tahun-tahun mendatang untuk mempercepat pemahaman kami tentang kerugian dalam sistem pangan. Melalui pekerjaan kami hingga saat ini, kami sedang menyelidiki cara-cara untuk meningkatkan efisiensi pengumpulan bukti dan proses-proses ini dapat dibagikan di seluruh program untuk meningkatkan kumpulan data yang tersedia untuk pemodelan.

 

Keberhasilan kemitraan ini bergantung pada ketersediaan data ini untuk mendorong model-model agar menghasilkan keluaran yang bermakna yang dapat meningkatkan kedalaman bukti yang tersedia untuk pengambilan keputusan seputar bahaya sistem pangan [27]. Penyediaan data dapat menjadi hambatan bagi pemodelan karena banyak tingkat sistem pangan belum sepenuhnya siap untuk secara akurat menangkap semua masukan dan keluaran produksi pangan [34]. Melalui integrasi dan penyelarasan kedua inisiatif kami, kami dapat memastikan bahwa prinsip-prinsip data FAIR berada di garis depan pendekatan sistem pangan. Melalui komitmen terhadap prinsip-prinsip FAIR, inisiatif kami akan menyediakan platform terbuka bagi upaya yang benar-benar global dan berbasis komunitas untuk mengatasi beban ekonomi dan lingkungan terbesar yang berdampak pada sistem pangan [9].

 

Kesimpulan

 

Estimasi ilmiah tentang kehilangan hasil panen dan ternak serta dampak ekonomi sangat penting dalam sistem pangan. Mereka meningkatkan kesadaran, mendorong intervensi yang terarah, mengamankan sumber daya, dan meningkatkan ketahanan, yang menghasilkan penurunan volatilitas harga, peningkatan akses pasar, dan pasokan pangan yang andal. Estimasi kerugian dan bahaya kesehatan terkait sejauh ini telah didekati secara spesifik untuk setiap sektor. Kolaborasi yang dijelaskan dalam makalah ini merupakan contoh pergeseran menuju pendekatan holistik, yaitu Sistem Pangan-Kesehatan Tunggal, yang akan memungkinkan pengambilan keputusan optimal dari perspektif masyarakat.

 

Referensi

[1] Tilman D., Balzer C., Hill J. & Befort B.L. (2011). – Global food demand and the sustainable intensification of agriculture. Proc. Natl Acad. Sci. USA, 108(50), 20260-20264. https://doi.org/10.1073/pnas.1116437108

[2] Alexandratos N. & Bruinsma J. (2012). – World agriculture towards 2030/2050: the 2012 revision. ESA Working Paper No. 12-03. Food and Agriculture Organization of the United Nations, Rome, Italy, 147 pp. https://doi.org/10.22004/ag.econ.288998

[3] Godfray H.C.J., Beddington J.R., Crute I.R., Haddad L., Lawrence D., Muir J.F. et al. (2010). – Food security: the challenge of feeding 9 billion people. Science, 327(5967), 812-818. https://doi.org/10.1126/science.1185383

[4] Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) (2022). – Climate Change and Land: IPCC Special Report on Climate Change, Desertification, Land Degradation, Sustainable Land Management, Food Security, and Greenhouse Gas Fluxes in Terrestrial Ecosystems. Cambridge University Press, Cambridge, United Kingdom, 896 pp. https://doi.org/10.1017/9781009157988

[5] Hunter M.C., Smith R.G., Schipanski M.E., Atwood L.W. & Mortensen D.A. (2017). – Agriculture in 2050: recalibrating targets for sustainable intensification. BioScience, 67(4), 386-391. https://doi.org/10.1093/biosci/bix010

[6] Vermeulen S.J., Campbell B.M. & Ingram J.S.I. (2012). – Climate change and food systems. Annu. Rev. Environ. Resour., 37, 195-222. https://doi.org/10.1146/annurev-environ-020411-130608 Scientific and Technical Review 12 43_19_Szyniszewska_preprint 12/19

[7] Myers S.S., Smith M.R., Guth S., Golden C.D., Vaitla B., Mueller N.D. et al. (2017). – Climate change and global food systems: potential impacts on food security and undernutrition. Annu. Rev. Public Health, 38, 259-277. https://doi.org/10.1146/annurev-publhealth-031816-044356

[8] Béné C., Prager S.D., Achicanoy H.A.E., Toro P.A., Lamotte L., Cedrez C.B. et al. (2019). – Understanding food systems drivers: a critical review of the literature. Glob. Food Secur., 23, 149-159. https://doi.org/10.1016/j.gfs.2019.04.009

[9] Rushton J., Bruce M., Bellet C., Torgerson P., Shaw A., Marsh T. et al. (2018). – Initiation of Global Burden of Animal Diseases Programme. Lancet, 392(10147), 538-540. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(18)31472-7

[10] CABI (2024). – Global Burden of Crop Loss. CABI, Wallingford, United Kingdom. Available from: https://www.cabi.org/projects/global-burden-of-crop-loss (accessed on 5 September 2023).

[11] Brown M.E., Antle J.M., Backlund P., Carr E.R., Easterling W.E., Walsh M.K. et al. (2015). – Climate Change, Global Food Security, and the U.S. Food System. U.S. Global Change Research Program, Washington, DC, United States of America, 146 pp. https://doi.org/10.7930/J0862DC7

[12] Häsler B., Queenan K., Alarcon P., Raj E. & Whatford L. (2023). – Where One Health meets Food Systems teaching and learning: expanding skillsets for food system transformation. One Health Cases, 2023, ohcs20230010. https://doi.org/10.1079/onehealthcases.2023.0010

[13] One Health High-Level Expert Panel (OHHLEP), Adisasmito W.B., Almuhairi S., Behravesh C.B., Bilivogui P., Bukachi S.A. et al. (2022). – One Health: a new definition for a sustainable and healthy future. PLoS Pathog., 18(6), e1010537. https://doi.org/10.1371/journal.ppat.1010537

[14] Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) (2020). – 27th Session of the Committee on Agriculture. Item 2.2: preventing, anticipating and responding to high-impact animal and plant diseases and pests. FAO, Rome, Italy. Available at: https://www.fao.org/3/nd740en/nd740en.pdf (accessed on 5 September 2023).

[15] Savary S., Willocquet L., Pethybridge S.J., Esker P., McRoberts N. & Nelson A. (2019). – The global burden of pathogens and pests on major food crops. Nat. Ecol. Evol., 3(3), 430-439. https://doi.org/10.1038/s41559-018-0793-y

[16] Fischer R.A. (2015). – Definitions and determination of crop yield, yield gaps, and of rates of change. Field Crops Res., 182, 9-18. https://doi.org/10.1016/j.fcr.2014.12.006

[17] Reynolds M., Kropff M., Crossa J., Koo J., Kruseman G., Molero Milan A. et al. (2018). – Role of modelling in international crop research: overview and some case studies. Agronomy, 8(12), 291. https://doi.org/10.3390/agronomy8120291

[18] Lobell D.B., Cassman K.G. & Field C.B. (2009). – Crop yield gaps: their importance, magnitudes, and causes. Annu. Rev. Environ. Resour., 34, 179-204. https://doi.org/10.1146/annurev.environ.041008.093740 Scientific and Technical Review 13 43_19_Szyniszewska_preprint 13/19

[19] Torgerson P.R. & Shaw A.P.M. (2021). – A simple metric to capture losses: the concept of an animal health loss envelope. Bull. Panorama 2021-1. World Organisation for Animal Health, Paris, France. https://doi.org/10.20506/bull.2021.1.3259

[20] Gilbert W., Marsh T.L., Chaters G., Jemberu W.T., Bruce M., Steeneveld W. et al. (2023). – Measuring disease cost in farmed animals for the Global Burden of Animal Diseases: a model of the Animal Health-Loss Envelope [pre-print]. Social Science Research Network. https://doi.org/10.2139/ssrn.4472099

[21] Bruce M. & McIntyre K.M. (2021). – Animal health ontology and attribution: linking key elements in the GBADs programme. Bull. Panorama 2021-1. World Organisation for Animal Health, Paris, France. https://doi.org/10.20506/bull.2021.1.3260

[22] Rasmussen P., Shaw A.P.M., Muñoz V., Bruce M. & Torgerson P.R. (2022). – Estimating the burden of multiple endemic diseases and health conditions using Bayes’ Theorem: a conditional probability model applied to UK dairy cattle. Prev. Vet. Med., 203, 105617. https://doi.org/10.1016/j.prevetmed.2022.105617

[23] Elferink E.V., Nonhebel S. & Schoot Uiterkamp A.J.M. (2007). – Does the Amazon suffer from BSE prevention? Agric. Ecosyst. Environ., 120(2–4), 467-469. https://doi.org/10.1016/j.agee.2006.09.009

[24] Borobia M., Villanueva-Saz S., Ruiz de Arcaute M., Fernández A., Verde M.T., González J.M. et al. (2022). – Copper poisoning, a deadly hazard for sheep. Animals (Basel), 12(18), 2388. https://doi.org/10.3390/ani12182388

[25] Rizvi A., Zaidi A., Ameen F., Ahmed B., AlKahtani M.D.F. & Saghir Khan M. (2020). – Heavy metal induced stress on wheat: phytotoxicity and microbiological management. RSC Adv., 10(63), 38379-38403. https://doi.org/10.1039/D0RA05610C

[26] Thornton P., Nelson G., Mayberry D. & Herrero M. (2022). – Impacts of heat stress on global cattle production during the 21st century: a modelling study. Lancet Planet. Health, 6(3), e192-e201. https://doi.org/10.1016/S2542-5196(22)00002-X

[27] Raymond K., BenSassi N., Patterson G.T., Huntington B., Rushton J., Stacey D.A. et al. (2023). – Informatics progress of the Global Burden of Animal Diseases programme towards data for One Health. Rev. Sci. Tech., 42, 218-229. https://doi.org/10.20506/rst.42.3365

[28] Cuthbert R.N., Diagne C., Hudgins E.J., Turbelin A., Ahmed D.A., Albert C. et al. (2022). – Biological invasion costs reveal insufficient proactive management worldwide. Sci. Total Environ., 819, 153404. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2022.153404

[29] Bahta Y.T. & Myeki V.A. (2022). – The impact of agricultural drought on smallholder livestock farmers: empirical evidence insights from Northern Cape, South Africa. Agriculture, 12(4), 442. https://doi.org/10.3390/agriculture12040442 Scientific and Technical Review 14 43_19_Szyniszewska_preprint 14/19

[30] Kalele D.N., Ogara W.O., Oludhe C. & Onono J.O. (2021). – Climate change impacts and relevance of smallholder farmers’ response in arid and semi-arid lands in Kenya. Sci. Afr., 12, e00814. https://doi.org/10.1016/j.sciaf.2021.e00814

[31] Frieler K., Volkholz J., Lange S., Schewe J., Mengel M., del Rocío Rivas López M. et al. (2024). – Scenario setup and forcing data for impact model evaluation and impact attribution within the third round of the Inter-Sectoral Impact Model Intercomparison Project (ISIMIP3a). Geosci. Model Dev., 17(1), 1-51. https://doi.org/10.5194/gmd-17-1-2024

[32] South African Poultry Association (SAPA) (2021). – 2021 industry profile. SAPA, Honeydew, South Africa, 100 pp. Available at: https://www.sapoultry.co.za/wp-content/uploads/2023/01/2021- Industry-Profile.pdf (accessed on 5 September 2023).

[33] World Health Organization (WHO) (2023). – Mycotoxins. WHO, Geneva, Switzerland. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/mycotoxins (accessed on 12 January 2024).

[34] Biermann O., Koya S.F., Corkish C., Abdalla S.M. & Galea S. (2021). – Food, big data, and decision-making: a scoping review–the 3-D Commission. J. Urban Health, 98(Suppl. 1), 69-78. https://doi.org/10.1007/s11524-021-00562-x


SUMBER:

A.M. Szyniszewska, K.M. Simpkins, L. Thomas, T. Beale, A.E. Milne, M.E. Brown, B. Taylor, G. Oliver, D.P. Bebber, T. Woolman, S. Mahmood, C. Murphy, B. Huntington & C. Finegold. 2024.

A food systems perspective: how Global Burden of Animal Diseases links to the Global Burden of Crop Loss. Scientific and Technical Review 43 | 2024 |

https://www.woah.org/app/uploads/2024/03/43-19-szyniszewska-preprint.pdf

 

Kaskade Dampak Perubahan Iklim terhadap Sistem Pangan


 

Perubahan iklim bukan hanya soal naiknya suhu rata-rata global. Ia memicu sebuah kaskade atau rantai sebab–akibat yang panjang, yang akhirnya bermuara pada ketahanan pangan dan gizi manusia. Gambar FAO yang sering dijadikan rujukan memperlihatkan alur keterkaitan ini: perubahan iklim memengaruhi sistem agro-ekosistem, lalu berdampak pada produksi pertanian dan pasca-panen, menggerus mata pencaharian masyarakat, hingga akhirnya mengancam pilar-pilar ketahanan pangan: ketersediaan (availability), akses (access), pemanfaatan (utilization), dan stabilitas (stability).

 

Kaskade ini dimulai dari perubahan kondisi fisik lingkungan. Suhu rata-rata yang terus meningkat menyebabkan pergeseran musim tanam dan stres panas pada tanaman maupun ternak. Variabilitas curah hujan yang semakin ekstrem menimbulkan kekeringan di satu sisi dan banjir di sisi lain, keduanya merusak lahan produktif. Kenaikan muka laut mengancam lahan pesisir dengan intrusi air asin, sementara pengasaman laut menurunkan produktivitas ikan dan biota laut lainnya. Semua perubahan ini menjadi pintu masuk bagi disrupsi yang lebih besar.

 

Agro-ekosistem—yang mencakup tanaman pangan, ternak, perikanan, hutan, hingga interaksi dengan hama dan penyakit—mengalami tekanan langsung. Hasil pertanian cenderung menurun, dan kandungan gizi pada tanaman pun dapat berkurang. Ternak menghadapi risiko stres panas yang menurunkan produksi susu dan daging. Perikanan merugi akibat berkurangnya stok ikan serta migrasi spesies ke wilayah lain. Hama dan penyakit menyebar ke daerah-daerah baru, sementara hutan semakin rentan terhadap kebakaran dan degradasi.

 

Dampak berikutnya terasa pada produksi pertanian dan pasca-panen. Panen menjadi lebih tidak stabil, kualitasnya fluktuatif, dan kehilangan hasil pasca-panen meningkat akibat infrastruktur penyimpanan dan distribusi yang rusak oleh bencana iklim. Banjir, badai, dan suhu ekstrem merusak gudang maupun jalur transportasi, sehingga distribusi pangan terganggu. Situasi ini memicu kenaikan harga pangan, memperbesar volatilitas pasar, dan menurunkan pendapatan petani kecil yang sudah rentan.

 

Masyarakat miskin, terutama rumah tangga yang menghabiskan sebagian besar pendapatannya untuk makanan, menjadi kelompok paling terdampak. Ketika pasokan menurun dan harga pangan naik, akses mereka terhadap makanan bergizi berkurang drastis. Hal ini mendorong mereka mengonsumsi makanan murah dengan kualitas gizi rendah, yang pada akhirnya meningkatkan risiko malnutrisi. Anak-anak dan perempuan menjadi kelompok yang paling rawan terhadap guncangan ini.

 

Pilar-pilar ketahanan pangan dan gizi pun tergerus. Dari sisi ketersediaan, produksi pangan yang menurun membuat pasokan tidak mencukupi kebutuhan. Dari sisi akses, daya beli masyarakat melemah karena harga naik sementara pendapatan stagnan atau menurun. Pemanfaatan pangan ikut terdampak, karena kualitas gizi dan keamanan pangan tidak lagi terjamin. Terakhir, stabilitas sistem pangan kian rapuh akibat ketidakpastian jangka panjang dan fluktuasi antarmusim.

 

Contoh konkret bisa dengan mudah kita lihat. Kenaikan suhu dan kekeringan di Asia Tenggara menekan produksi padi, membuat harga beras melonjak, dan memaksa keluarga miskin mengurangi konsumsi protein hewani. Banjir besar di wilayah pesisir merusak gudang dan jalan, sehingga buah dan sayuran segar hilang dari pasar. Di sisi lain, pemanasan laut dan pengasaman menyebabkan tangkapan ikan berkurang, meningkatkan tekanan pada ternak darat, dan ikut mendorong kenaikan harga protein hewani.

 

Lebih jauh lagi, ada lingkaran umpan balik yang memperparah situasi. Pertanian sendiri menyumbang emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar: metana dari sawah dan ternak, dinitrogen oksida dari pupuk, serta karbon dioksida dari deforestasi. Emisi ini kembali memperkuat perubahan iklim, menciptakan siklus negatif yang dikenal sebagai climate–food insecurity loop. Lahan yang terdegradasi kehilangan kemampuan menyerap karbon, membuat siklus ini semakin sulit diputus.

 

Meski demikian, kaskade ini tidak harus berakhir pada krisis. Ada sejumlah opsi adaptasi yang dapat memperlambat atau bahkan membalikkan dampaknya. Pertanian dapat diarahkan ke sistem yang lebih tangguh, misalnya dengan diversifikasi tanaman, penggunaan varietas tahan kekeringan dan panas, serta pengelolaan air yang efisien. Infrastruktur pasca-panen dapat diperkuat dengan gudang tahan cuaca, fasilitas pendinginan, dan jalur distribusi yang lebih andal. Di sisi sosial, jaring pengaman seperti bantuan pangan, akses kredit mikro, serta program gizi untuk anak dan ibu hamil bisa melindungi kelompok rentan.

 

Dari perspektif mitigasi, praktik agroforestri, restorasi lahan, dan pengelolaan pupuk yang bijak akan menekan emisi sekaligus memperkuat ketahanan sistem pangan. Ditambah dengan sistem peringatan dini berbasis cuaca dan iklim, langkah-langkah ini dapat membantu petani membuat keputusan tanam yang lebih adaptif.

 

Pada akhirnya, pesan dari kaskade ini jelas: dampak perubahan iklim terhadap pangan jauh lebih kompleks daripada sekadar penurunan hasil panen. Ia menyentuh seluruh mata rantai sistem pangan, mulai dari ekosistem, produksi, distribusi, pendapatan rumah tangga, hingga pola konsumsi. Karena itu, solusi yang diperlukan bukan hanya teknis, melainkan juga sosial, ekonomi, dan kebijakan. Tanpa aksi terintegrasi, risiko krisis pangan global akan terus membayangi.