Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Wednesday, 17 September 2025

Ketahanan Pangan Global di Ambang Krisis: Perubahan Iklim, Konflik, dan Masa Depan Makanan Dunia

 

 

Ketahanan Pangan Global di Tengah Perubahan Iklim


Jumlah orang yang mengalami kerawanan pangan akut meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2019 tercatat 135 juta orang, sementara pada Juni 2022 jumlah itu melonjak menjadi 345 juta orang di 82 negara. Lonjakan ini dipicu oleh perang di Ukraina, gangguan rantai pasokan, serta dampak ekonomi berkepanjangan dari pandemi COVID-19 yang mendorong harga pangan ke titik tertinggi sepanjang masa.

 

Selain faktor geopolitik dan ekonomi, perubahan iklim juga menjadi penyebab utama memburuknya ketahanan pangan. Pemanasan global mengubah pola cuaca, meningkatkan risiko gelombang panas, curah hujan ekstrem, dan kekeringan berkepanjangan. Pada 2021, kenaikan harga komoditas pangan akibat iklim menjadi faktor penting yang mendorong sekitar 30 juta orang tambahan di negara-negara berpenghasilan rendah masuk ke dalam kondisi rawan pangan.

 

Ironisnya, sistem pangan global justru berkontribusi besar terhadap krisis iklim. Diperkirakan sepertiga emisi gas rumah kaca berasal dari sistem pangan, menempati posisi kedua setelah sektor energi. Sistem ini juga menjadi sumber utama emisi metana serta penyebab hilangnya keanekaragaman hayati.

 

Populasi yang Paling Rentan

 

Dampak perubahan iklim terhadap pangan tidak dirasakan secara merata. Sekitar 80% populasi dunia yang paling berisiko gagal panen dan kelaparan berada di Afrika Sub-Sahara, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Di wilayah ini, mayoritas keluarga petani hidup dalam kondisi miskin dan sangat rentan.

 

Kekeringan parah akibat El Niño atau perubahan iklim seringkali mendorong jutaan orang jatuh lebih dalam ke jurang kemiskinan. Bahkan negara berpendapatan menengah seperti Filipina dan Vietnam pun menghadapi tantangan besar, karena petani di sana banyak yang hidup di ambang kemiskinan. Kenaikan harga pangan pun menghantam keras konsumen perkotaan miskin yang harus mengalokasikan sebagian besar pendapatan mereka untuk membeli makanan.

 

Dampak Perubahan Iklim terhadap Pertanian

 

Peningkatan suhu dan konsentrasi CO₂ memang dapat memberikan sedikit keuntungan pada pertumbuhan tanaman dalam kondisi tertentu. Namun, manfaat itu dibayangi oleh dampak negatif yang lebih besar, seperti percepatan hilangnya air dari tanah dan tanaman, meningkatnya frekuensi banjir, badai, tekanan panas, serta serangan hama dan penyakit.

 

Risiko ini semakin besar di wilayah yang sudah menghadapi keterbatasan air. Jika suhu global naik lebih dari 2°C, adaptasi akan menjadi semakin sulit dan mahal. Negara dengan suhu tinggi, seperti di Sahel (Afrika) dan Asia Selatan, akan menghadapi penurunan hasil panen signifikan, terutama pada komoditas penting seperti gandum. Tanpa solusi yang tepat, jutaan orang akan jatuh miskin; diperkirakan 43 juta orang di Afrika dapat hidup di bawah garis kemiskinan pada 2030 akibat penurunan hasil pertanian.

 

Strategi Adaptasi Pertanian

 

Untuk menghadapi tantangan ini, sektor pertanian perlu beradaptasi dengan perubahan iklim melalui inovasi sosial, ekonomi, dan teknologi. Beberapa strategi utama antara lain:

  • Efisiensi penggunaan air. Mengoptimalkan penggunaan air dengan teknologi irigasi cerdas, sensor kelembapan tanah, dan pemantauan satelit. Praktik seperti pembasahan dan pengeringan sawah secara bergantian terbukti menghemat air sekaligus mengurangi emisi metana.
  • Diversifikasi tanaman. Petani dianjurkan beralih ke tanaman yang lebih tahan kekeringan dan membutuhkan lebih sedikit air, misalnya jagung atau kacang-kacangan. Meski demikian, transisi ini tidak mudah karena terkait tradisi dan pola konsumsi masyarakat yang sudah mengakar.
  • Peningkatan kesehatan tanah. Tanah yang kaya karbon organik mampu menahan air lebih lama, meningkatkan kesuburan, serta mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Praktik seperti tidak mengolah tanah, menggunakan tanaman penutup, dan rotasi tanaman dapat membantu pemulihan tanah.

SARAN-SARAN:

  1. Pemerintah dan pembuat kebijakan perlu memperkuat regulasi dan dukungan bagi praktik pertanian berkelanjutan, termasuk investasi pada teknologi irigasi cerdas, sistem pemantauan iklim, serta infrastruktur yang mendukung ketahanan pangan.
  1. Petani dan komunitas lokal perlu diberi akses pada pelatihan, penyuluhan, serta insentif agar mampu mengadopsi teknik pertanian adaptif seperti rotasi tanaman, penggunaan benih tahan kekeringan, dan pengelolaan tanah yang lebih sehat.
  1. Kerja sama internasional harus ditingkatkan untuk menghadapi tantangan lintas batas, baik melalui transfer teknologi, pendanaan, maupun kebijakan global yang mendukung pertanian rendah emisi dan pengurangan pemborosan pangan.
  1. Penelitian dan inovasi perlu terus dikembangkan untuk mencari solusi berbasis alam serta teknologi baru yang mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menekan dampak negatif terhadap lingkungan.

Solusi berbasis alam seperti ini diperkirakan dapat menyumbang hingga 37% mitigasi perubahan iklim yang dibutuhkan untuk mencapai target Perjanjian Paris. Namun, penerapan di lapangan membutuhkan dukungan kebijakan, penyuluhan, dan pelatihan bagi para petani, terutama di wilayah dengan lahan sempit.

 

Peran Bank Dunia dalam Membangun Ketahanan Pangan

 

Bank Dunia melalui Rencana Aksi Perubahan Iklim (2021–2025) memperkuat dukungan bagi pertanian cerdas iklim di seluruh rantai pasok pangan. Upaya ini mencakup intervensi kebijakan, peningkatan produktivitas, serta pengurangan emisi gas rumah kaca.

 

Selain itu, Bank Dunia juga membantu negara-negara dalam mengurangi kehilangan dan pemborosan pangan, serta mengelola risiko bencana seperti banjir dan kekeringan. Contohnya, proyek di Niger yang mendistribusikan benih tahan kekeringan, memperluas irigasi efisien, dan menerapkan teknik konservasi lahan. Hingga kini, lebih dari 336.000 petani telah terbantu dalam mengelola lahan secara berkelanjutan di hampir 80.000 hektar wilayah pertanian.

 

KESIMPULAN

 

Ketahanan pangan global menghadapi tantangan yang semakin besar akibat kombinasi faktor geopolitik, ekonomi, dan perubahan iklim. Lonjakan jumlah penduduk yang mengalami kerawanan pangan akut menunjukkan betapa rapuhnya sistem pangan dunia. Perubahan iklim menjadi faktor yang memperburuk kondisi ini, dengan dampak berupa kekeringan, banjir, gelombang panas, hingga serangan hama dan penyakit tanaman.

 

Populasi paling rentan adalah mereka yang tinggal di wilayah miskin dan bergantung pada pertanian, terutama di Afrika Sub-Sahara, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Tanpa upaya serius untuk beradaptasi, perubahan iklim berpotensi menurunkan hasil panen secara signifikan dan mendorong jutaan orang jatuh ke dalam kemiskinan, khususnya jika suhu global terus meningkat di atas 2°C.

 

Meski demikian, terdapat peluang untuk memperbaiki kondisi ini melalui strategi adaptasi. Efisiensi penggunaan air, diversifikasi tanaman, dan peningkatan kesehatan tanah menjadi kunci untuk menjaga produktivitas sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca. Inisiatif seperti yang dilakukan Bank Dunia menunjukkan bahwa transformasi menuju pertanian cerdas iklim bukan hanya mungkin dilakukan, tetapi juga mendesak untuk keberlanjutan pangan global.


Dengan langkah-langkah tersebut, dunia masih memiliki peluang untuk memperkuat ketahanan pangan, melindungi kelompok rentan, dan memastikan sistem pangan global yang lebih adil, tangguh, serta berkelanjutan di tengah perubahan iklim.


#KetahananPangan 

#PerubahanIklim 

#KrisisPangan 

#PertanianBerkelanjutan 

#PanganGlobal

Ingin Ingatan Tajam?: Otak Anda Bekerja Seperti Ini! Kenali 4 Tahap Pemrosesan Informasi.

 

Kenali 4 Tahap Pemrosesan Informasi ala Robert Gagne

 

Setiap hari kita menerima begitu banyak informasi, mulai dari suara, gambar, kata-kata, hingga berbagai peristiwa di sekitar kita. Namun, tidak semua informasi itu langsung tersimpan dalam ingatan. Ada proses tertentu yang membuat sebagian informasi bisa bertahan lama, sementara sebagian lainnya cepat terlupakan. Proses inilah yang disebut pemrosesan informasi.

 

Robert Gagne, seorang tokoh dalam bidang psikologi pendidikan, menjelaskan bahwa otak manusia bekerja melalui beberapa tahap untuk menerima, mengolah, menyimpan, dan kemudian mengingat kembali informasi. Menurutnya, ada empat tahap utama dalam pemrosesan informasi: receiving, acquisition, storage, dan retrieval.

 

1. Receiving the Stimulus

Tahap pertama adalah menerima stimulus. Pada fase ini, seseorang mulai memperhatikan rangsangan tertentu dari lingkungan. Stimulus bisa berupa suara, gambar, gerakan, sentuhan, atau bahkan kata-kata yang didengar. Pancaindra menjadi pintu masuk utama informasi sebelum akhirnya diteruskan ke otak. Di sini, individu berusaha memahami makna stimulus tersebut sesuai dengan cara pandangnya.

 

2. Stage of Acquisition

Tahap berikutnya adalah penguasaan atau acquisition. Pada tahap ini, informasi baru yang masuk akan dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya. Otak memilih secara selektif mana informasi yang penting untuk disimpan, mana yang cukup disimpan sementara, dan mana yang tidak relevan sehingga dibuang. Informasi penting biasanya masuk ke dalam memori jangka panjang, sedangkan informasi sementara hanya berada di memori jangka pendek.

 

3. Storage

Tahap ketiga adalah penyimpanan atau storage. Pada fase ini, informasi yang telah dipilih akan “diendapkan” dalam memori. Informasi disusun berdasarkan kategori tertentu sehingga lebih mudah ditemukan kembali saat dibutuhkan. Penyimpanan ini bisa berlangsung dalam waktu singkat maupun lama, tergantung seberapa kuat informasi tersebut diproses dan diulang.

 

4. Retrieval

Tahap terakhir adalah retrieval, yaitu kemampuan mengingat atau memanggil kembali informasi yang telah disimpan. Proses ini terjadi ketika seseorang membutuhkan informasi tertentu untuk menyelesaikan masalah, mengambil keputusan, atau sekadar mengingat peristiwa masa lalu. Kadang, informasi bisa hilang atau sulit diakses. Untuk mengatasinya, otak perlu dirangsang dengan informasi baru yang terkait, sehingga memori lama dapat kembali muncul secara terorganisir.


#PsikologiPendidikan 

#RobertGagne

#ProsesBelajar 

#CaraOtakBekerja 

#PemrosesanInformasi

Monday, 15 September 2025

Risiko Penularan Schistosoma japonicum Demam Keong


Schistosomiasis, yang juga dikenal sebagai demam keong, merupakan penyakit parasitik yang disebabkan oleh cacing dari genus Schistosoma. Di antara beberapa jenisnya, Schistosoma japonicum menjadi penyebab utama penyakit ini di Indonesia. Cacing ini hidup di pembuluh darah kecil usus dan hati, meletakkan telur yang dapat memicu peradangan serius, bahkan menimbulkan komplikasi seperti luka parut di hati, pembesaran limpa, hingga perdarahan pada saluran pencernaan.

 

Di Indonesia, penyakit ini bersifat endemik di dua wilayah Sulawesi Tengah, yaitu Dataran Tinggi Lindu dan Napu, dengan sekitar 15.000 penduduk berisiko tertular. Penularan terjadi melalui air, ketika larva cacing (cercaria) yang dilepaskan dari keong perantara masuk ke tubuh manusia melalui kulit. Setelah itu, larva berubah menjadi cacing dewasa di hati, lalu menetap di pembuluh darah usus kecil dan bertelur di sana. Telur-telur inilah yang keluar bersama tinja, kembali ke lingkungan air, dan melanjutkan siklus hidupnya melalui keong jenis Oncomelania hupensis lindoensis.

 

Risiko penularan meningkat pada masyarakat yang sering berkontak dengan air, seperti petani, nelayan, pekerja irigasi, atau mereka yang terbiasa mencuci dan beraktivitas rumah tangga di sungai atau saluran air. Hewan mamalia, termasuk sapi, kerbau, anjing, babi, dan berbagai jenis tikus, juga dapat menjadi reservoir alami, sehingga memperkuat rantai penularan di daerah endemik.

 

Upaya pengendalian schistosomiasis di Indonesia sudah dilakukan sejak tahun 1970-an, meliputi pengobatan penderita, pemberantasan keong penular dengan molusisida, hingga rekayasa lingkungan. Surveilans rutin juga sangat penting, meliputi pemeriksaan tinja untuk mendeteksi kasus lebih awal, survei habitat keong untuk mencegah perkembangbiakan, serta pemantauan tikus sebagai reservoir. Dengan pendekatan terpadu ini, risiko penularan Schistosoma japonicum diharapkan dapat ditekan, sehingga masyarakat di wilayah endemik bisa terhindar dari ancaman penyakit kronis yang berbahaya ini.

 

SUMBER:

Penularan Schistosoma Japonicum.

https://www.blogger.com/blog/post/edit/7660215345650741072/5599762958168669362

Sunday, 14 September 2025

4 Kunci Hidup Sukses Dunia Akhirat yang Sering Dilupakan Banyak Orang


Setiap manusia mendambakan hidup yang sukses. Ada yang mengejarnya dengan harta, jabatan, atau kedudukan. Namun, Islam mengajarkan bahwa kesuksesan sejati tidak berhenti di dunia, melainkan berlanjut hingga akhirat. Hidup yang benar-benar sukses adalah hidup yang selamat dengan iman di dunia dan mulia dengan ridha Allah di akhirat. Allah menegaskan: “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia akan mendapatkan kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab [33]: 71). Karena itu, seorang muslim harus memiliki pedoman hidup yang jelas, agar setiap langkahnya bernilai ibadah dan menjadi bekal untuk perjalanan panjang setelah kematian.

 

Awal Renungan


Setiap manusia mendambakan kesuksesan. Namun, hakikat sukses dalam pandangan Islam bukan sekadar memiliki harta, jabatan, atau kedudukan, tetapi bagaimana seseorang selamat di dunia dengan keimanan dan amal sholeh, serta mulia di akhirat dengan ridha Allah. Allah berfirman:

"Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia akan mendapatkan kemenangan yang besar." (QS. Al-Ahzab [33]: 71)

Ayat ini menunjukkan bahwa kesuksesan sejati hanya bisa diraih dengan ketaatan. Oleh karena itu, seorang muslim memerlukan pedoman hidup yang jelas agar setiap langkahnya bernilai ibadah. Rasulullah bersabda:

“Orang yang cerdas adalah yang mampu menundukkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati, sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya lalu berangan-angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)



A. Selalu Mengingat Dua Hal


1. Ingat Allah


Hidup seorang mukmin tidak akan tenang tanpa mengingat Allah. Dzikir, doa, dan tadabbur menjadi penyejuk hati. Allah ﷻ berfirman:

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra’d [13]: 28)

Mengenal Allah melalui Asmaul Husna menjadi kunci penguatan iman. Dari 99 nama Allah, ada 20 nama yang banyak digunakan para ulama untuk menggambarkan sifat utama Allah seperti Ar-Rahman (Maha Pengasih), Ar-Rahim (Maha Penyayang), Al-Adl (Maha Adil), Al-Hakim (Maha Bijaksana), Al-Qadir (Maha Kuasa), dan lain-lain. Dengan mengenal sifat-sifat-Nya, seorang mukmin lebih tunduk, sabar, dan tawakal.

Kisah sahabat Umar bin Khattab ra. menggambarkan hal ini. Beliau selalu bergetar hatinya saat mendengar ayat-ayat Allah. Bahkan, ketika membaca ayat tentang azab, Umar jatuh pingsan karena rasa takutnya yang mendalam kepada Allah. Inilah bukti hati yang hidup karena senantiasa mengingat Allah.


2. Ingat Kematian


Kematian adalah kepastian. Rasulullah bersabda:

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (kematian).” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i)

Mengingat kematian membuat seorang muslim selalu berhati-hati, tidak menunda amal, dan selalu memperbanyak kebaikan.

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka berkuranglah sebagian dari dirimu.”

Kisah sahabat Utsman bin Affan ra. juga menjadi teladan. Beliau menangis tersedu-sedu setiap kali berada di kuburan. Ketika ditanya mengapa beliau lebih menangis di kuburan daripada ketika mengingat surga dan neraka, beliau menjawab: “Karena kubur adalah awal perjalanan akhirat. Jika seseorang selamat di kubur, maka setelahnya akan lebih mudah. Tetapi jika ia binasa di kubur, maka setelahnya akan lebih berat baginya.”



B. Selalu Melakukan Dua Hal


1. Melupakan Kebaikan Diri


Islam mengajarkan kita untuk tidak sombong atau merasa bangga dengan amal yang telah kita lakukan. 

Allah berfirman:

"Mereka memberikan makanan yang mereka sukai kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan, (sambil berkata), 'Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya karena mengharap wajah Allah; kami tidak menghendaki balasan darimu dan tidak pula (ucapan) terima kasih." (QS. Al-Insan [76]: 8–9)

Rasulullah juga bersabda:

“Tiga perkara yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang yang merasa dirinya paling benar (ujub).” (HR. Thabrani)

Kisah sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. menjadi teladan. Beliau adalah orang yang sangat dermawan, membebaskan budak, memberi infak tanpa pamrih, namun tetap rendah hati seolah-olah belum berbuat apa-apa.


2. Melupakan Keburukan Orang Lain


Seorang muslim dituntut untuk mudah memaafkan dan tidak menyimpan dendam. Allah berfirman:

"Dan balasan kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Tetapi jika seseorang memaafkan dan memperbaiki (hubungan), maka pahalanya ada di sisi Allah." (QS. Asy-Syura [42]: 40)

Rasulullah adalah teladan terbaik dalam hal pemaaf. Ketika penduduk Thaif menolak dakwah dengan melempari beliau hingga berdarah, Rasulullah tidak mendoakan keburukan, tetapi justru berdoa: “Ya Allah, berilah hidayah kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”

Imam Syafi’i rahimahullah juga pernah dihina oleh seseorang. Namun beliau hanya tersenyum seraya berkata: “Jika benar yang engkau katakan, semoga Allah mengampuniku. Jika salah, semoga Allah mengampunimu.”



Simpulan Hikmah


Kesuksesan sejati dalam Islam bukan diukur dari banyaknya harta atau tinggi jabatan, melainkan dari hati yang selalu ingat Allah, sadar akan kematian, ikhlas melupakan kebaikan diri, dan lapang dada melupakan keburukan orang lain.

Marilah kita mulai mengamalkan empat prinsip ini dalam kehidupan sehari-hari, agar hidup kita penuh keberkahan dan berakhir dengan husnul khatimah.

Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk istiqamah hingga akhir hayat.

“Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umur kami di ujungnya, sebaik-baik amal kami di penutupnya, dan sebaik-baik hari kami adalah hari ketika kami berjumpa dengan-Mu.”


#IslamicSuccess 

#DuniaAkhirat 

#HidupBerkah 

#RefleksiIman 

#AmalSholeh

Saturday, 13 September 2025

Dunia Panik! Pakar Global Berbondong ke Brasil Cari Solusi Flu Burung

 

Brasil mendadak menjadi sorotan dunia. Selama tiga hari, 9–11 September 2025, sekitar 500 pakar dari berbagai belahan dunia berkumpul di sana untuk membahas ancaman flu burung yang kini menyebar tanpa batas. Untuk pertama kalinya, dialog global multisektoral digelar—mempertemukan pemerintah, ilmuwan, industri, dan organisasi internasional—dengan satu tujuan mendesak: mencari solusi nyata menghadapi panzootik flu burung yang kian mengancam kesehatan hewan, manusia, perdagangan, hingga ketahanan pangan global.

 

Dalam respons yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap penyebaran flu burung patogenisitas tinggi (HPAI) yang cepat di seluruh dunia, para pemangku kepentingan dan pakar dari seluruh sektor perunggasan, kesehatan masyarakat, sains, dan kebijakan berkumpul di Brasil dalam sebuah pertemuan penting pada 9-11 September 2025. Dialog multisektoral global pertama ini bertujuan untuk membentuk pertahanan terkoordinasi terhadap ancaman yang semakin meningkat terhadap kesehatan hewan dan manusia serta mata pencaharian pertanian.

 

Avian Influenza (AI), umumnya dikenal sebagai flu burung, adalah penyakit virus yang sangat menular yang terutama menginfeksi unggas. Virus ini termasuk dalam famili influenza Tipe A, yang dikenal karena kemampuannya bermutasi dan berubah dengan cepat. Sejak 2020, HPAI telah berkembang pesat di berbagai benua, menghancurkan populasi unggas, berdampak pada keanekaragaman hayati, perdagangan, dan ketahanan pangan, serta menimbulkan kekhawatiran akan potensinya memicu pandemi pada manusia. Para ahli memperingatkan bahwa panzootik influenza burung yang saat ini beredar kini telah menyebar luas dan merupakan salah satu ancaman pandemi paling serius. Influenza burung telah menyebar ke 83 spesies mamalia, termasuk sapi perah dan satwa liar, dan menimbulkan risiko yang terus berkembang pesat.

 

“Flu burung bukan lagi ancaman sporadis; kini telah menjadi tantangan global,” kata Beth Bechdol, Wakil Direktur Jenderal FAO. “Tidak ada satu negara atau sektor pun yang dapat mengatasi ancaman ini sendirian—dan kegagalan bukanlah suatu pilihan. Kolaborasi praktis berbasis sains seperti ini sangat penting untuk melindungi sistem pertanian pangan, mata pencaharian, dan kesehatan masyarakat kita,” tambahnya. Diselenggarakan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dan Peternakan Brasil, acara "Menangani flu burung patogenisitas tinggi bersama – Dialog sains, kebijakan, dan sektor swasta global" mempertemukan sekitar 500 pakar dan pengambil keputusan untuk menggalang kolaborasi dan investasi multisektoral.

 

Perwakilan dari sektor swasta, termasuk asosiasi industri yang terlibat dalam produksi unggas dan penyediaan layanan kesehatan hewan, juga bergabung dengan para pemimpin pemerintah dan ilmiah untuk pertama kalinya dalam dialog global semacam ini—memberikan kesempatan untuk lebih memahami tantangan sektor swasta, mengakui upaya berkelanjutan mereka, dan menyoroti solusi yang telah mereka terapkan untuk mengatasi ancaman yang ditimbulkan oleh flu burung.

 

Para pakar dari Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika – banyak di antaranya merupakan anggota Jaringan Keahlian OFFLU tentang Influenza Hewan dari FAO dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) – juga berpartisipasi dalam dialog ini. “Menangani flu burung membutuhkan upaya kolektif yang menyatukan negara, sektor produktif, komunitas ilmiah, dan organisasi internasional. Tantangan ini harus dihadapi dengan transparansi penuh, karena hanya dengan cara inilah kita dapat membangun kepercayaan dan menjaga ketahanan pangan global,” ujar Carlos Favaro, Menteri Pertanian dan Peternakan Brasil. “Saya ingin menekankan bahwa tahun ini, ketika flu burung terdeteksi di sebuah peternakan komersial, Brasil menunjukkan perbedaan yang signifikan. Respons kami yang cepat dan efektif menunjukkan kekuatan dan kredibilitas sistem sanitasi Brasil.”

 

TEMA PRIORITAS

 

Acara ini bertujuan untuk mengembangkan Strategi Global untuk Pencegahan dan Pengendalian HPAI, yang baru-baru ini diluncurkan oleh FAO bekerja sama dengan WOAH. Strategi ini bertujuan untuk mendukung pengembangan dan implementasi rencana aksi nasional dan regional sekaligus memperkuat upaya global untuk mengurangi risiko lintas batas dan pandemi.

 

Acara tiga hari ini berfokus pada:

• Mengidentifikasi strategi pencegahan dan pengendalian HPAI yang efektif—terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan sistem peternakan unggas informal,

• Mempromosikan sistem peringatan dini, strategi vaksinasi, dan langkah-langkah biosekuriti,

• Meningkatkan koordinasi multisektoral berdasarkan pendekatan Satu Kesehatan,

• Berbagi solusi inovatif dan siap pakai di lapangan untuk diagnostik, surveilans, dan respons wabah.

 

Thanawat Tiensin, Kepala Dokter Hewan FAO dan Direktur Divisi Produksi dan Kesehatan Hewan, merangkum pendekatan FAO dalam sambutannya: “Peningkatan surveilans, biosekuriti, dan vaksinasi jika diperlukan, dikombinasikan dengan pengendalian penyakit yang cepat, merupakan kunci untuk mengendalikan penyakit ini. Pada saat yang sama, transformasi produksi unggas yang berkelanjutan menawarkan pendekatan dan perlindungan baru untuk mencegah kerugian akibat penyakit unggas. Diperlukan pendekatan holistik dan kemitraan dengan sektor swasta untuk secara efektif mengurangi risiko flu burung bagi generasi mendatang.”

 

"Perdebatan seputar Flu Burung merupakan masalah kerja sama internasional dan membutuhkan upaya bersama dari semua negara," ujar Ricardo Santin, presiden Asosiasi Protein Hewani Brasil dan Dewan Unggas Internasional. "Ini merupakan isu yang berdampak langsung pada arus perdagangan dan, akibatnya, pada inflasi dan ketahanan pangan global. Ini adalah isu sensitif yang harus dipandu oleh pengetahuan dan sains, dan yang menuntut revisi konsep dan paradigma."


#FluBurung 

#KesehatanGlobal 

#OneHealth 

#KetahananPangan 

#IndustriUnggas