Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Friday, 14 November 2025

Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik (CPOHB) Agar Aman, Efektif, dan Berkualitas (Bagian V)

 


PENYIMPANAN DAN DISTRIBUSI

A. Umum

  1. Sistem penyimpanan dan distribusi harus menjamin mutu obat hewan tetap terpelihara sejak diterima, disimpan, hingga disalurkan ke pengguna akhir.
  2. Bahan awal, bahan pengemas, produk antara, produk setengah jadi, dan produk jadi harus disimpan di area yang bersih, aman, dan memenuhi kondisi lingkungan yang sesuai dengan persyaratan masing-masing.

  1. Penataan gudang harus memungkinkan rotasi stok berdasarkan prinsip First-Expired, First-Out (FEFO) dan First-In, First-Out (FIFO).

  1. Distribusi harus dilakukan dengan cara yang mencegah terjadinya kontaminasi, kerusakan fisik, maupun penurunan kualitas produk.
  2. Semua kegiatan penyimpanan dan distribusi harus terdokumentasi dengan baik dan dapat ditelusuri.

B. Penyimpanan Bahan dan Produk

  1. Kondisi Penyimpanan
    • Suhu, kelembapan, dan pencahayaan harus dikendalikan dan dipantau secara teratur sesuai persyaratan produk.
    • Produk yang memerlukan penyimpanan dingin harus disimpan dalam lemari pendingin atau ruang berpendingin dengan sistem pemantauan suhu otomatis.
    • Bahan atau produk yang mudah rusak harus ditempatkan di area terpisah dengan pengendalian lingkungan yang sesuai.
  2. Penataan dan Identifikasi
    • Setiap bahan dan produk harus diberi label identifikasi yang mencantumkan nama, nomor bets, status (misalnya “Dalam Karantina”, “Disetujui”, “Ditolak”), serta tanggal penerimaan.
    • Area penyimpanan harus memiliki zona yang jelas untuk bahan dan produk dengan status yang berbeda.
  3. Penyimpanan Bahan Awal dan Bahan Pengemas
    • Bahan awal dan bahan pengemas hanya boleh digunakan setelah dinyatakan memenuhi spesifikasi oleh unit pengawasan mutu.
    • Bahan yang telah melewati masa simpan atau tidak memenuhi spesifikasi harus dipisahkan dan diberi tanda “Ditolak”.
  4. Penyimpanan Produk Jadi
    • Produk jadi hanya boleh disimpan setelah dinyatakan memenuhi spesifikasi dan disetujui oleh pengawasan mutu.
    • Produk jadi harus ditempatkan dalam area penyimpanan khusus yang aman dan terlindung dari paparan langsung sinar matahari, kelembapan berlebih, atau hama.
    • Produk kadaluarsa harus segera dipisahkan dan dimusnahkan sesuai prosedur yang berlaku.

C. Pengendalian Stok

  1. Semua bahan dan produk harus dicatat dalam sistem inventori yang akurat, mencakup jumlah, nomor bets, lokasi penyimpanan, dan tanggal penerimaan.
  2. Stok harus diperiksa secara berkala untuk memastikan kesesuaian antara catatan dan kondisi fisik di gudang.
  3. Produk yang masa kedaluwarsanya mendekat harus diprioritaskan untuk distribusi terlebih dahulu.
  4. Setiap perbedaan atau kehilangan stok harus segera diselidiki dan dicatat dalam laporan penyimpangan.

D. Distribusi Produk

  1. Distribusi hanya boleh dilakukan untuk produk yang telah disetujui oleh bagian pengawasan mutu dan memiliki catatan pelepasan (release certificate).
  2. Sistem distribusi harus memastikan bahwa produk dikirim ke pelanggan atau distributor yang sah sesuai dengan izin edar yang berlaku.
  3. Kendaraan pengangkut harus memenuhi kondisi kebersihan dan pengendalian suhu sesuai dengan kebutuhan produk.
  4. Produk harus dikemas dengan baik untuk mencegah kerusakan selama transportasi.
  5. Setiap pengiriman produk harus disertai dengan dokumen pengiriman yang memuat:
    • Nama dan alamat penerima;
    • Nama produk, bentuk sediaan, dan jumlah;
    • Nomor bets dan tanggal kedaluwarsa;
    • Kondisi penyimpanan selama pengiriman;
    • Tanggal dan tanda tangan petugas pengirim.

E. Penarikan Kembali (Recall)

  1. Produsen harus memiliki sistem yang efektif untuk melakukan penarikan kembali produk dari pasar apabila ditemukan cacat mutu, penyimpangan keamanan, atau kesalahan distribusi.
  2. Prosedur penarikan kembali harus tertulis, disetujui, dan diuji efektivitasnya secara berkala melalui simulasi.
  3. Semua produk yang ditarik harus diidentifikasi dengan jelas, disimpan terpisah, dan tidak boleh diedarkan kembali.
  4. Penarikan kembali harus dilaporkan kepada otoritas yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
  5. Investigasi terhadap penyebab penarikan harus dilakukan dan hasilnya digunakan untuk tindakan korektif serta pencegahan di masa mendatang.

F. Dokumentasi Penyimpanan dan Distribusi

  1. Semua catatan terkait penerimaan, penyimpanan, pengeluaran, dan distribusi produk harus dijaga agar mudah ditelusuri.
  2. Dokumen penyimpanan dan distribusi harus disimpan selama minimal satu tahun setelah tanggal kedaluwarsa produk.
  3. Perubahan sistem atau prosedur penyimpanan dan distribusi harus didokumentasikan dan disetujui oleh penanggung jawab mutu sebelum diterapkan.
#PenyimpananObatHewan #DistribusiAman #LogistikVeteriner #MutuProduk #FEFO #FIFO #QualityControl #VetSupplyChain #GMPVeteriner #BiosekuritiProduk

Tuesday, 11 November 2025

Menggali Kekuatan Inovasi Global: Belajar dari Sains Teknopark Negara Maju dan Arah Pengembangan di Indonesia

 


Dalam era ekonomi berbasis pengetahuan, kekuatan suatu negara tidak lagi hanya ditentukan oleh sumber daya alam, tetapi oleh kemampuan menciptakan dan mengelola inovasi. Negara-negara maju seperti Jepang, China, Korea Selatan, India, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa telah membuktikan bahwa kunci kemajuan ekonomi mereka terletak pada sinergi kuat antara lembaga riset dan sektor industri. Salah satu instrumen strategis yang mendukung kolaborasi tersebut adalah Science Techno Park (STP) atau Sains Teknopark.


STP berperan sebagai jembatan yang menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan industri dan masyarakat, memastikan inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi bertransformasi menjadi produk, layanan, dan teknologi bernilai ekonomi tinggi.
Konsep inilah yang kini mulai digerakkan secara sistematis di Indonesia untuk mempercepat hilirisasi riset nasional.


Keunggulan Negara Maju dalam Pemanfaatan Hasil Penelitian


1. Jepang: Budaya Kaizen dan Inovasi Berkelanjutan

Jepang memiliki ekosistem riset yang berorientasi pada peningkatan kualitas dan efisiensi industri. Universitas dan lembaga riset seperti RIKEN dan AIST menjadi mitra aktif industri otomotif, elektronik, dan robotik. Melalui model kemitraan riset jangka panjang, Jepang menerapkan prinsip Kaizenperbaikan berkelanjutan—yang membuat inovasi lahir dari praktik industri sehari-hari, bukan sekadar hasil eksperimen laboratorium.



2. China: Hilirisasi Cepat Melalui Dukungan Negara dan Swasta

China berhasil membangun lebih dari 150 Science and Technology Parks yang tersebar di seluruh negeri. Zhongguancun Science Park di Beijing adalah contoh sukses di mana universitas, startup, dan raksasa teknologi seperti Huawei, Baidu, dan Xiaomi berkolaborasi langsung. Pemerintah China menyediakan insentif pajak, dana riset, dan kebijakan proteksi inovasi untuk mempercepat transformasi hasil penelitian menjadi produk industri.


3. Korea Selatan: Integrasi Universitas–Industri–Pemerintah
  

Model Triple Helix di Korea Selatan—kolaborasi erat antara universitas, industri, dan pemerintah—menjadi tulang punggung pengembangan teknologi nasional. KAIST dan POSTECH, dua universitas riset unggulan, didesain bukan hanya sebagai pusat pendidikan tetapi juga sebagai mitra industri dalam riset terapan. Dukungan besar pemerintah melalui lembaga seperti KIST dan KIAT memperkuat rantai inovasi hingga tahap komersialisasi.


4. India: Inkubator Start-up dan Transformasi Digital

India membangun ratusan Technology Business Incubators di universitas negeri dan swasta. Program seperti “Startup India” dan “Make in India” membuka peluang besar bagi hasil riset untuk dihilirkan menjadi usaha rintisan. Indian Institute of Technology (IIT) berperan penting dalam melahirkan inovator muda yang memanfaatkan teknologi untuk memecahkan masalah sosial, pertanian, dan energi.


5. Amerika Serikat: Ekosistem Inovasi Berbasis Pasar

AS dikenal dengan model inovasi berbasis pasar yang fleksibel. Universitas seperti Stanford dan MIT membangun research park yang menjadi rumah bagi ratusan perusahaan teknologi. Di Silicon Valley, hubungan erat antara venture capital, universitas, dan lembaga riset menciptakan budaya kolaborasi dan keberanian mengambil risiko. Sistem paten dan lisensi yang kuat juga memastikan peneliti mendapatkan insentif ekonomi dari hasil karyanya.


6. Eropa: Sinergi Regional dan Keberlanjutan Inovasi

Negara-negara Eropa, melalui inisiatif seperti European Research Area dan Horizon Europe, memperkuat kolaborasi lintas negara. Science parks seperti Cambridge Science Park (Inggris) dan Sophia Antipolis (Prancis) menjadi pusat inovasi berbasis keberlanjutan dan digitalisasi. Fokus mereka tidak hanya pada profit ekonomi, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan dan sosial.


Arah dan Penerapan di Indonesia


Indonesia kini menapaki jalur serupa melalui pengembangan Science Techno Park di berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Tujuannya adalah menciptakan National Innovation Ecosystem yang menyatukan akademisi, industri, dan pemerintah dalam satu sistem inovasi terintegrasi.


Beberapa contoh STP unggulan di Indonesia antara lain:


-IPB Science Techno Park (Bogor): fokus pada inovasi pertanian, peternakan, dan pangan fungsional.


-UGM Science Techno Park (Yogyakarta): mengembangkan bidang kesehatan, energi, dan bioteknologi.


-ITB Innovation and Entrepreneurship Center: memperkuat riset material maju dan energi bersih.


-Depok Science Techno Park (UI): mendorong komersialisasi inovasi biomedis dan kesehatan.


-BRIN National Science Techno Park: mengintegrasikan hasil riset nasional agar dapat diakses industri dan UMKM teknologi.


Upaya ini memperlihatkan keseriusan pemerintah dalam mempercepat hilirisasi hasil riset dan menumbuhkan technopreneur baru. Namun, tantangan masih besar, terutama dalam hal pembiayaan berkelanjutan, perlindungan HKI, dan keterlibatan industri.



Menuju Ekosistem Inovasi Berdaya Saing Global


Untuk meniru keberhasilan negara maju, Indonesia perlu memperkuat beberapa aspek kunci:
1.
Kebijakan insentif inovasi: pemberian insentif fiskal dan non-fiskal bagi industri yang menggunakan hasil riset dalam negeri.

2.Pendidikan berbasis inovasi: mendorong universitas untuk mengintegrasikan riset dengan kewirausahaan.

3.Pendanaan riset terapan: memperbesar porsi dana untuk riset yang berpotensi dikomersialisasi.

4.Kolaborasi internasional: menjalin kemitraan dengan STP global agar inovasi lokal mendapat akses pasar dan teknologi.

5.Sistem perlindungan HKI yang kuat: memastikan peneliti dan inovator mendapatkan hak ekonomi yang adil.


Dengan langkah-langkah tersebut, STP di Indonesia tidak hanya menjadi wadah riset, tetapi juga motor penggerak ekonomi nasional yang berbasis inovasi dan pengetahuan.



Daftar Pustaka


1.OECD. (2023). Science, Technology and Innovation Outlook 2023. OECD Publishing.

2.World Bank. (2022). Innovation Ecosystems and Technology Commercialization in Emerging Economies. Washington, DC.

3.BRIN. (2024). Peta Jalan Pengembangan Science Techno Park Nasional. Jakarta.

4.Etzkowitz, H., & Leydesdorff, L. (2000). The Dynamics of Innovation: From National Systems to a Triple Helix of University–Industry–Government Relations. Research Policy, 29(2).

5.UNESCO. (2023). Science Report: Building Knowledge Societies. Paris.


#inovasiteknologi

#sainsteknopark

#hilirisasiriset

#kebijakaninovasi

#ekonomiberbasispengetahuan

#kolaborasirisetindustri

#universitasriset

#pembangunanteknologi

Kelelawar Bisa Jadi Kunci Obat Virus di Masa Depan — Begini Cara Sistem Imunnya Bekerja

 



Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa kelelawar bisa membawa virus berbahaya seperti Ebola atau corona tanpa sakit sedikit pun? Hewan kecil ini ternyata memiliki sistem kekebalan tubuh yang luar biasa canggih — mampu menekan infeksi virus tanpa menyebabkan peradangan yang berlebihan. Rahasia di balik daya tahan super kelelawar kini mulai terungkap, dan bisa menjadi inspirasi besar bagi dunia kedokteran dalam menghadapi wabah di masa depan.


Kelelawar sering dikaitkan dengan misteri malam dan kisah menegangkan. Namun, di balik citra menyeramkan itu, hewan ini menyimpan rahasia biologis luar biasa. Dalam dua dekade terakhir, ilmuwan menemukan bahwa kelelawar memiliki sistem kekebalan tubuh yang unik dan sangat efisien. Mereka mampu hidup berdampingan dengan berbagai virus mematikan seperti Ebola, Marburg, Nipah, Hendra, SARS, dan MERS tanpa menunjukkan gejala sakit. Temuan ini memicu minat besar di dunia ilmiah karena bisa menjadi kunci memahami bagaimana tubuh manusia dapat bertahan lebih baik terhadap infeksi virus.


Kelelawar dan Hubungannya dengan Virus


Kelelawar, anggota ordo Chiroptera, terdiri atas lebih dari 1.300 spesies yang tersebar di hampir seluruh belahan dunia. Selain berperan penting dalam ekosistem sebagai penyerbuk, penyebar biji, dan pengendali serangga, kelelawar juga dikenal sebagai inang alami (reservoir) bagi berbagai virus zoonotik—virus yang dapat menular ke manusia.


Penelitian menunjukkan bahwa meskipun virus-virus tersebut bereplikasi dalam tubuh kelelawar, hewan ini tidak mengalami gejala klinis apa pun. Fenomena ini tampaknya merupakan hasil evolusi panjang yang berhubungan dengan kemampuan terbang. Aktivitas terbang menuntut metabolisme tinggi yang menghasilkan panas dan stres oksidatif. Untuk mengatasinya, kelelawar mengembangkan sistem perbaikan DNA dan pengaturan imun yang sangat efisien. Adaptasi inilah yang membuat mereka tahan terhadap infeksi virus tanpa merusak tubuh sendiri.


Sistem Kekebalan yang Selalu Siaga


Seperti mamalia lain, kelelawar memiliki sistem kekebalan bawaan yang berfungsi sebagai garis pertahanan pertama terhadap infeksi. Sistem ini mengenali keberadaan virus melalui reseptor khusus, lalu memicu pelepasan interferon (IFN), protein penting yang mencegah virus berkembang biak.


Namun, kelelawar memiliki keunggulan unik: gen interferon mereka, terutama IFN-α, selalu aktif bahkan saat tidak ada infeksi. Kondisi “siaga permanen” ini memungkinkan sel-sel kelelawar bereaksi sangat cepat ketika virus masuk. Menariknya, meski sistem imun mereka selalu waspada, tubuh kelelawar tidak mengalami peradangan berlebihan seperti pada manusia.


Bagi manusia, peradangan adalah pedang bermata dua: penting untuk melawan infeksi, tetapi bila berlebihan justru bisa merusak jaringan tubuh. Kelelawar telah menemukan keseimbangan sempurna antara melawan virus dan menjaga ketenangan sistem imun.


Menekan Peradangan, Menjaga Tubuh Tetap Sehat


Kelebihan lain sistem imun kelelawar adalah kemampuannya mengontrol reaksi peradangan. Penelitian pada spesies Eptesicus fuscus menunjukkan bahwa beberapa protein yang biasanya memicu peradangan pada mamalia lain bekerja lebih lembut pada kelelawar. Kompleks protein inflammasom NLRP3, misalnya, berfungsi lebih lemah sehingga produksi zat proinflamasi seperti IL-1β menjadi terbatas.


Dengan mekanisme ini, kelelawar dapat menghadapi infeksi tanpa menimbulkan kerusakan jaringan atau gejala penyakit. Inilah yang membuat mereka mampu hidup lama meski berukuran kecil—umur kelelawar bisa mencapai 30 tahun, jauh lebih panjang dibanding mamalia seukuran tikus.


Kemampuan Terbang dan Evolusi Sistem Imun


Kemampuan terbang berperan besar dalam evolusi sistem kekebalan kelelawar. Saat terbang, suhu tubuh mereka dapat meningkat hingga di atas 40°C, menyerupai kondisi demam pada manusia. “Demam alami” ini mungkin membantu mereka menekan pertumbuhan virus. Selain itu, metabolisme tinggi akibat terbang membuat kelelawar harus memiliki mekanisme perbaikan sel yang efisien agar tidak rusak oleh radikal bebas.


Secara evolusioner, kombinasi antara kemampuan memperbaiki DNA, mengendalikan stres oksidatif, dan menjaga sistem imun tetap stabil menjadikan kelelawar mamalia dengan daya tahan luar biasa.


Interferon dan Gen Antivirus


Interferon memicu aktivasi ratusan gen antivirus, dikenal sebagai interferon-stimulated genes (ISG). Gen-gen ini memiliki berbagai fungsi: menghancurkan RNA virus, menghambat pembentukan protein virus, hingga mencegah virus berpindah dari satu sel ke sel lain.


Beberapa gen antivirus pada kelelawar berevolusi lebih cepat daripada pada mamalia lain, menandakan bahwa mereka beradaptasi secara khusus untuk menghadapi berbagai jenis virus. Studi menunjukkan, protein antivirus Mx1 pada kelelawar bahkan mampu menekan replikasi virus Ebola dan influenza ketika diuji pada sel manusia.


Menariknya, ekspresi gen antivirus pada kelelawar berlangsung cepat tetapi tidak lama, cukup untuk mengendalikan infeksi tanpa menimbulkan kelelahan sistem imun. Ini berbeda dengan manusia, yang sering mempertahankan aktivitas kekebalan terlalu lama sehingga menyebabkan stres seluler dan peradangan kronis.


Pelajaran bagi Dunia Kedokteran


Pemahaman tentang sistem kekebalan kelelawar memberikan wawasan penting bagi dunia kesehatan. Kelelawar membuktikan bahwa pertahanan tubuh yang efektif tidak harus agresif. Sebaliknya, keseimbangan antara daya tahan antivirus dan pengendalian peradangan justru lebih menguntungkan.


Konsep ini membuka peluang bagi pengembangan terapi baru. Misalnya, obat-obatan yang meniru cara kerja interferon kelelawar atau molekul yang menekan inflammasi berlebihan dapat digunakan untuk mengobati penyakit virus berat seperti Ebola dan COVID-19. Kelelawar juga menjadi contoh nyata pendekatan One Health, yaitu kesadaran bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terhubung erat.


Menjaga Kelelawar, Menjaga Keseimbangan Alam


Sayangnya, masih banyak kesalahpahaman tentang kelelawar. Mereka sering dianggap sumber penyakit dan diburu, padahal justru berperan besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Kelelawar membantu penyerbukan tanaman, menyebarkan biji buah, dan mengendalikan populasi serangga.


Alih-alih memusnahkan, langkah terbaik adalah melindungi habitat alami kelelawar serta mengurangi kontak langsung antara manusia dan satwa liar. Dengan memahami cara kerja sistem imun kelelawar, kita tidak hanya belajar tentang ketahanan tubuh, tetapi juga tentang pentingnya hidup berdampingan dengan alam.


Penutup


Kelelawar menunjukkan kepada kita bahwa kekuatan sejati tidak selalu terletak pada serangan yang keras, tetapi pada kemampuan menjaga keseimbangan. Evolusi telah membentuk mereka menjadi makhluk dengan sistem imun paling efisien di dunia mamalia. Memahami rahasia ini bukan hanya prestasi ilmiah, tetapi juga langkah penting menuju masa depan di mana manusia lebih siap menghadapi penyakit menular — dengan meneladani kebijaksanaan alam yang tersembunyi di balik sayap kelelawar

 

Monday, 10 November 2025

Terungkap! Rahasia Jambu Mete yang Mengubah Lahan Tandus Jadi Ladang Emas Hijau!


Tahukah Anda bahwa tanaman yang tampak sederhana ini mampu mengubah lahan tandus menjadi ladang emas hijau?

Jambu mete, atau sering disebut jambu monyet, bukan hanya menghasilkan kacang mete yang gurih, tetapi juga membuka peluang agribisnis besar bagi petani di daerah kering. Dengan perawatan yang mudah dan daya adaptasi tinggi terhadap iklim tropis Indonesia, jambu mete menjadi komoditas ekspor andalan yang menjanjikan keuntungan berlipat. Panduan berikut akan membawa Anda mengenal lebih dalam tentang sejarah, teknik budidaya, hingga potensi ekonominya yang luar biasa.

 

1. SEJARAH SINGKAT

Jambu mete merupakan tanaman buah berupa pohon yang berasal dari Brasil Tenggara. Tanaman ini dibawa oleh pelaut Portugis ke India 425 tahun yang lalu, kemudian menyebar ke daerah tropis dan subtropis lainnya seperti Bahama, Senegal, Kenya, Madagaskar, Mozambik, Sri Lanka, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Indonesia.

Di antara sekian banyak negara produsen, Brasil, Kenya, dan India merupakan negara pemasok utama jambu mete dunia. Jambu mete tersebar di seluruh Nusantara dengan nama berbeda-beda:

  • Di Sumatera Barat disebut jambu erang atau jambu monye,
  • Di Lampung disebut gayu,
  • Di Jawa Barat disebut jambu mede,
  • Di Jawa Tengah dan Jawa Timur disebut jambu monyet,
  • Di Bali disebut jambu jipang atau jambu dwipa,
  • Di Sulawesi Utara disebut buah yaki.

 

2. JENIS TANAMAN

Jambu mete memiliki banyak varietas dengan variasi warna kulit buah, antara lain putih, merah, merah muda, kuning, hijau kekuningan, dan hijau.

 

3. MANFAAT TANAMAN

Tanaman jambu mete merupakan komoditas ekspor yang hampir seluruh bagiannya bermanfaat, mulai dari akar, batang, daun, hingga buah.

Biji mete (kacang mete) dapat digoreng menjadi makanan bergizi tinggi. Buah semu jambu mete dapat diolah menjadi berbagai produk seperti sari buah mete, anggur mete, manisan kering, selai mete, buah kalengan, dan jam jambu mete.

Kulit kayu jambu mete mengandung cairan berwarna cokelat yang berubah menjadi hitam setelah terkena udara. Cairan ini digunakan sebagai bahan tinta, pewarna, atau bahan pencelup. Selain itu, kulit batang pohon jambu mete berkhasiat sebagai obat kumur atau obat sariawan.

Batang pohon mete menghasilkan gum (blendok) yang digunakan sebagai bahan perekat buku dan berfungsi sebagai anti gengat. Akar jambu mete berkhasiat sebagai pencuci perut.

Daun muda jambu mete biasa dimanfaatkan sebagai lalap, terutama di daerah Jawa Barat, sedangkan daun tua dapat digunakan sebagai obat luka bakar.

 

4. SENTRA PENANAMAN

Tanaman jambu mete banyak tumbuh di:

  • Jawa Tengah: Jepara, Wonogiri.
  • Jawa Timur: Bangkalan, Sampang, Sumenep, Pasuruan, Ponorogo.
  • Yogyakarta: Gunung Kidul, Bantul, Sleman.
  • Bali: Karangasem.
  • Sulawesi Selatan: Kepulauan Pangkajene, Sidenreng, Soppeng, Wajo, Maros, Sinjai, Bone, Barru.
  • Sulawesi Tenggara: Muna.
  • Nusa Tenggara Barat: Sumbawa Besar, Dompu, Bima.

 

5. SYARAT TUMBUH

5.1. Iklim

  1. Tanaman jambu mete menyukai sinar matahari penuh. Kekurangan cahaya menyebabkan penurunan produktivitas atau kegagalan berbuah.
  2. Suhu optimal untuk pertumbuhan adalah rata-rata 27°C, dengan kisaran 15–35°C.
  3. Kelembaban ideal antara 70–80%, namun masih toleran hingga 60%.
  4. Penyerbukan jambu mete lebih banyak dibantu oleh serangga dibanding angin.
  5. Curah hujan ideal adalah 1.000–2.000 mm/tahun dengan 4–6 bulan kering.

 

6. PEDOMAN BUDIDAYA

6.1. Pembibitan

Perbanyakan jambu mete dapat dilakukan secara generatif (biji) atau vegetatif (cangkok, okulasi, sambung).
Biji harus berasal dari pohon induk unggul.

Langkah penanganan benih:
a. Panen buah pada pertengahan musim panen.
b. Pastikan buah matang dan tidak cacat.
c. Keluarkan biji dari buah semu, cuci bersih, dan sortir.
d. Jemur hingga kadar air 8–10%.
e. Simpan di ruang bersirkulasi udara baik (25–30°C, kelembaban 70–80%).
f. Lama penyimpanan ±6 bulan, maksimum 8 bulan.
g. Benih disemai terlebih dahulu sebelum ditanam.

 

6.2. Pengolahan Media Tanam

1) Persiapan

Lahan dibersihkan, pH tanah 4–6, dan sebaiknya diolah pada musim kemarau menjelang hujan. Tanaman jambu mete toleran terhadap kondisi tanah kering maupun lembab, serta dapat tumbuh di tanah liat.

2) Pembukaan Lahan

Tanah dibajak atau dicangkul sebelum musim hujan. Jika drainase buruk, buat parit pembuangan air.

3) Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan pupuk kandang dua kali setahun, terutama pada fase awal pertumbuhan, dengan cara menggali lubang melingkar di sekitar batang.

 

6.3. Teknik Penanaman

1) Pola dan Jarak Tanam

  • Monokultur: 12 × 12 m (69 pohon/ha) atau 6 × 6 m (276 pohon/ha).
  • Polikultur: dapat disela tanaman palawija atau rumput.
  • Di lahan miring, jarak disesuaikan dengan kontur.

2) Pembuatan Lubang Tanam

Ukuran standar 30 × 30 × 30 cm (atau 50 × 50 × 50 cm bila tanah liat).
Lubang dibiarkan terbuka 4 minggu, lalu diisi kembali dengan tanah atas yang dicampur pupuk kandang.

3) Cara Penanaman

Bibit ditanam sedalam leher akar, tanah di sekitar batang dipadatkan, dan tanaman diberi ajir penyangga.

 

6.4. Pemeliharaan Tanaman

  1. Penyiraman: dilakukan pagi dan sore hari tanpa menggenangi tanah.
  2. Penyulaman: dilakukan sebelum umur 3 tahun.
  3. Penyiangan & Penggemburan: dilakukan setiap 45 hari.
  4. Pemupukan: menggunakan pupuk kandang atau pupuk buatan secara bergilir.
  5. Pemangkasan: membentuk tajuk dan menjaga kesehatan tanaman.
  6. Penjarangan: dilakukan bila tajuk antar tanaman saling menutupi (umur 6–10 tahun).

 

7. HAMA DAN PENYAKIT

7.1. Hama

Hama utama jambu mete: ulat kipat (Cricula trisfenestrata), Helopeltis sp., ulat penggerek batang (Plocaederus feeeugineus), dan penggerek buah (Nephoteryx sp.).
Pengendalian dilakukan dengan insektisida seperti Tamaron, Folidol, Lamnate, Basudin, dan Dimecron sesuai dosis anjuran.

7.2. Penyakit

Penyakit umum meliputi busuk batang, layu (Phytophthora, Fusarium), serta busuk bunga dan buah (Colletotrichum sp., Botryodiplodia sp.).
Pengendalian dilakukan secara terpadu dengan fungisida (Dithane M-45, Captacol, Theophanate, dll) dan sanitasi kebun.

 

8. PANEN

8.1. Ciri dan Umur Panen

Buah matang ditandai dengan warna kulit kuning–merah, daging lunak, aroma harum, dan biji berwarna keabu-abuan mengilat.
Tanaman mulai berbuah umur 3–4 tahun, panen berlangsung November–Februari.

8.2. Cara Panen

a. Cara lelesan: buah dibiarkan jatuh sendiri.
b. Cara selektif: buah dipetik langsung atau menggunakan galah/tangga.

8.3. Prakiraan Produksi

Hasil panen meningkat sesuai umur tanaman:

  • 3–4 tahun: 2–3 kg/pohon
  • 20–30 tahun: 15–20 kg/pohon

 

9. PASCAPANEN

9.1. Pengumpulan

Mutu kacang mete bervariasi tergantung varietas, pengolahan, dan pengawasan selama proses pascapanen.

9.2. Pengolahan Gelondong Mete

Tahapan:
a) Pemisahan buah semu
b) Pencucian
c) Sortasi dan klasifikasi mutu
d) Pengeringan
e) Penyimpanan

9.3. Pengolahan Kacang Mete

Urutan: pelembaban, penyangraian, pengupasan kulit, pelepasan kulit ari, sortasi mutu, dan pengemasan.

 

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA

10.1. Analisis Usaha

Produksi mulai pada umur 5 tahun dan terus meningkat hingga umur 20 tahun.

10.2. Peluang Agribisnis

Selain menjaga kelestarian tanah, penanaman jambu mete juga menguntungkan secara ekonomi. Sebagai contoh:
100 pohon × 5 kg/pohon × Rp500 = Rp250.000 per hektar (tahun 1988).

 

11. STANDAR PRODUKSI

11.1. Ruang Lingkup

Mutu kacang mete ditentukan oleh ukuran, bobot, warna, rasa, bau, dan tekstur.

11.2. Deskripsi

Biji mete kupas (Cashew Kernels) adalah biji jambu mete yang telah dikupas dan dikeringkan. Standar mutu mengacu pada SNI 01-2906-1992.

11.3. Klasifikasi dan Standar Mutu

Kelas mutu: I, II, III, dan IV, dinilai dari kondisi biji, kadar air, warna, serta kebersihan.

11.4. Pengambilan Contoh

Contoh diambil acak dari setiap partai barang dengan metode pembagian bertahap hingga diperoleh 1.000 gram contoh uji.

11.5. Pengemasan

Kacang mete dikemas dalam kaleng hampa udara berisi karbondioksida, kedap udara, dan bebas karat. Label kemasan harus mencantumkan:
a) Produksi Indonesia
b) Nama barang
c) Nama perusahaan/eksportir
d) Jenis mutu
e) Nomor kemasan
f) Berat kotor dan bersih
g) Negara tujuan

 

12. DAFTAR PUSTAKA

  1. Liptan. (1988). Jambu Mete Sebagai Tanaman Penghijauan. Balai Informasi Pertanian Banjarbaru.
  2. Liptan. (1990). Budidaya Jambu Mete. Proyek Informasi Pertanian Kalimantan Tengah.
  3. Saragih, Y.P. & Haryadi, Y. (1994). Mete: Budidaya Jambu Mete dan Pengupasan Gelondong. Bogor: Penebar Swadaya.

 

Sumber: 

Sistem Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS


#JambuMete 

#BudidayaMete 

#AgribisnisMete 

#EmasHijau 

#PertanianKering



Friday, 7 November 2025

Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik (CPOHB) Agar Aman, Efektif, dan Berkualitas (Bagian IV)

 


A. Umum

  1. Pengawasan mutu (Quality Control/QC) merupakan bagian penting dari sistem CPOHB yang berfungsi memastikan bahwa bahan baku, bahan pengemas, produk antara, produk setengah jadi, dan produk jadi memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan.
  2. Unit pengawasan mutu harus beroperasi secara independen dari unit produksi dan memiliki wewenang penuh untuk menolak atau menyetujui bahan dan produk berdasarkan hasil pengujian.
  3. Pengawasan mutu harus dilaksanakan oleh personel yang kompeten, menggunakan metode yang tervalidasi dan peralatan yang terkalibrasi.
  4. Semua kegiatan QC harus didokumentasikan dengan jelas dan mudah ditelusuri.
  5. Spesifikasi bahan dan produk harus disusun, ditinjau, serta disetujui oleh bagian pengawasan mutu.
  6. Tidak boleh ada bahan atau produk yang digunakan atau diedarkan sebelum disetujui oleh unit pengawasan mutu.

B. Tanggung Jawab Pengawasan Mutu

Tanggung jawab unit pengawasan mutu meliputi:

  1. Pemeriksaan dan pengujian terhadap bahan awal, bahan pengemas, produk antara, dan produk jadi.
  2. Persetujuan atau penolakan bahan dan produk berdasarkan hasil pengujian.
  3. Pemantauan kondisi lingkungan produksi dan laboratorium.
  4. Validasi metode analisis dan kalibrasi peralatan pengujian.
  5. Pengawasan terhadap penyimpanan bahan dan produk berdasarkan persyaratan stabilitas.
  6. Peninjauan dan persetujuan terhadap catatan produksi dan hasil pengawasan dalam proses.
  7. Penyelidikan terhadap ketidaksesuaian atau penyimpangan hasil pengujian.
  8. Pemeliharaan arsip spesifikasi, metode analisis, dan catatan pengujian.
  9. Penentuan masa simpan produk berdasarkan hasil uji stabilitas.

C. Pemeriksaan dan Pengujian

  1. Bahan awal dan bahan pengemas
    • Setiap batch bahan awal dan bahan pengemas harus diperiksa identitas dan kualitasnya sebelum digunakan.
    • Hanya bahan yang memenuhi spesifikasi yang boleh disetujui untuk digunakan dalam proses produksi.
  2. Produk antara dan produk setengah jadi
    • Harus dilakukan pengujian untuk memastikan bahwa produk memenuhi kriteria mutu sebelum dilanjutkan ke tahap berikutnya.
  3. Produk jadi
    • Pengujian harus dilakukan terhadap setiap batch produk jadi sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan sebelum disetujui untuk distribusi.
    • Parameter yang diuji dapat mencakup identitas, kadar bahan aktif, kemurnian, sterilitas, homogenitas, pH, dan stabilitas.
  4. Sampel Retensi (Retention Samples)
    • Sampel dari setiap batch produk jadi harus disimpan untuk keperluan pemeriksaan ulang bila diperlukan.
    • Sampel retensi disimpan dalam kemasan asli dan pada kondisi penyimpanan yang sesuai hingga minimal satu tahun setelah tanggal kedaluwarsa.

D. Dokumentasi dan Catatan Pengujian

  1. Setiap hasil pengujian harus dicatat secara lengkap, mencakup identitas sampel, metode pengujian, hasil, tanggal, serta nama analis dan peninjau.
  2. Semua catatan harus ditinjau dan disetujui oleh pejabat pengawasan mutu sebelum produk dapat dilepas.
  3. Catatan hasil pengujian dan sertifikat analisis harus disimpan dalam arsip sesuai dengan ketentuan waktu retensi dokumen yang berlaku.
  4. Perubahan metode atau spesifikasi harus didokumentasikan dengan justifikasi ilmiah dan disetujui oleh unit QC serta QA.

E. Validasi, Kalibrasi, dan Stabilitas

  1. Semua metode analisis yang digunakan dalam pengawasan mutu harus divalidasi untuk memastikan keandalan hasil uji.
  2. Peralatan laboratorium harus dikalibrasi secara berkala dan dicatat dalam log kalibrasi.
  3. Studi stabilitas harus dilakukan untuk menetapkan masa simpan dan kondisi penyimpanan produk.
  4. Hasil studi stabilitas harus ditinjau secara berkala untuk menentukan kebutuhan pembaruan masa kedaluwarsa.

F. Penanganan Produk Tidak Memenuhi Spesifikasi (Out of Specification – OOS)

  1. Bila hasil pengujian menunjukkan bahwa produk tidak memenuhi spesifikasi, harus dilakukan penyelidikan menyeluruh untuk menentukan penyebabnya.
  2. Produk tersebut harus diisolasi dan tidak boleh diedarkan sebelum investigasi selesai.
  3. Hasil investigasi harus didokumentasikan dan menjadi dasar pengambilan keputusan terhadap produk, apakah akan ditolak, diperbaiki, atau dimusnahkan.
  4. Tindakan perbaikan dan pencegahan (CAPA) harus dilakukan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.