Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Thursday, 25 September 2025

Gawat! Perubahan Iklim Bikin Sektor Peternakan Kolaps—Dampaknya Jauh Lebih Besar dari yang Kita Bayangkan!

 



RINGKASAN


Secara global, sektor peternakan mengalami perubahan cepat sebagai respons terhadap globalisasi dan meningkatnya permintaan pangan hewani berkualitas. Performa ternak optimal hanya dapat dicapai bila faktor lingkungan berada pada kondisi ideal, namun hal ini sulit terpenuhi karena sifatnya yang sangat bervariasi. Tingkat dan jenis stres akibat lingkungan fisik dipengaruhi oleh iklim suatu wilayah, kemampuan adaptasi hewan, karakteristik ras, serta intervensi manajemen manusia untuk meminimalkan kerugian.

 

Perubahan iklim menjadi ancaman serius bagi produktivitas ternak, keberlanjutan pertanian dan vegetasi, ketersediaan air, produksi susu, kesehatan dan reproduksi ternak, serta keanekaragaman hayati. Emisi metana dari pencernaan enterik dan pengelolaan kotoran ternak merupakan sumber utama kontribusi peternakan terhadap perubahan iklim. Oleh karena itu, diperlukan strategi multidisiplin yang menitikberatkan pada nutrisi, manajemen perumahan, dan kesehatan hewan untuk mengurangi dampak negatif stres lingkungan terhadap ternak.

 

PENDAHULUAN


Iklim India secara umum dapat digolongkan sebagai iklim monsun tropis dengan empat musim utama: musim dingin (Januari–Februari), musim panas (Maret–Mei), monsun barat daya (Juni–September), dan monsun timur laut (Oktober–Desember). Namun, terdapat variasi spesifik di wilayah tertentu, misalnya lembah Kashmir yang beriklim sedang serta Ladakh yang memiliki iklim gurun dingin-kering. Proyek Penelitian Pertanian Nasional (NARP) dan indeks panas–kelembapan Thornthwaite digunakan untuk mengklasifikasikan iklim di India.

 

Secara global, perubahan iklim merupakan masalah kompleks yang memengaruhi aspek biologis, lingkungan, hingga sosial-politik. Meningkatnya suhu bumi, pola musim yang tidak menentu, serta kejadian cuaca ekstrem—seperti gelombang panas, kekeringan, banjir, dan curah hujan berlebihan—menimbulkan tantangan besar bagi produksi pertanian dan peternakan.

 

Sejarah mencatat, untuk pertama kalinya konsentrasi CO₂ atmosfer melebihi 400 ppm pada tahun 2013. Tren jangka panjang suhu dan curah hujan digunakan sebagai indikator utama perubahan iklim, di samping faktor lain seperti kelembapan dan tekanan lingkungan. Dampak yang paling nyata meliputi perubahan pola cuaca, mencairnya lapisan es, serta kenaikan permukaan laut.

 

Menurut Carney (2015), terdapat dua jenis risiko yang terkait dengan perubahan iklim, yaitu risiko fisik dan risiko transisi. Risiko fisik umumnya berkaitan dengan dampak negatif terhadap masyarakat, rantai pasok, serta operasi bisnis akibat bencana iklim (Tankov & Tantet, 2019). Sementara itu, risiko transisi berhubungan dengan perubahan menuju ekonomi rendah karbon, termasuk implikasinya bagi bahan bakar fosil dan sektor yang bergantung padanya (Curtin et al., 2019).

 

Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) memperkirakan suhu permukaan global akan meningkat rata-rata 0,2 °C per dekade, dan pada tahun 2100 kenaikan bisa mencapai 1,8–4 °C (IPCC, 2007). Pemanasan global juga memengaruhi siklus hidrologi. IPCC mencatat suhu global rata-rata telah meningkat 0,85 °C sejak 1880. Jika suhu naik 1,5–2,5 °C, maka 20–30% spesies tumbuhan dan hewan diprediksi terancam punah.

 

Di India, sekitar 70% populasi ternak dimiliki oleh petani kecil dan buruh tanpa lahan, sehingga dampak perubahan iklim terhadap sektor peternakan akan sangat signifikan.

 

A) Dampak Perubahan Iklim pada Pertanian


Perubahan iklim memengaruhi pertanian melalui dampak langsung maupun tidak langsung pada tanaman, tanah, ternak, dan hama.

  • Tanaman dengan jalur fotosintesis C3 mendapat manfaat dari peningkatan CO₂ atmosfer karena berfungsi sebagai pupuk yang mendorong pertumbuhan dan produktivitas.
  • Kenaikan suhu dapat memperpendek umur tanaman, meningkatkan laju respirasi, mengubah proses fotosintesis, serta memengaruhi kelangsungan hidup dan penyebaran populasi serangga.
  • Peningkatan frekuensi dan durasi peristiwa cuaca ekstrem, seperti gelombang panas, siklon, banjir, dan kekeringan, berdampak negatif terhadap produktivitas pertanian.
  • Produksi menurun di daerah yang mengandalkan hujan akibat meningkatnya kebutuhan air tanaman dan perubahan pola curah hujan.
  • Penurunan kualitas terjadi pada komoditas seperti kopi, teh, tanaman aromatik dan obat, buah-buahan, serta sayuran.
  • Perubahan pola hama dan penyakit pertanian dipicu oleh meningkatnya sensitivitas inang, percepatan penularan patogen, serta meningkatnya produksi patogen dan vektor.
  • Suhu yang lebih hangat, naiknya permukaan laut, curah hujan yang tidak menentu, serta meningkatnya frekuensi dan intensitas bencana alam menimbulkan ancaman bagi keanekaragaman hayati pertanian.
  • Jika suhu di India meningkat 2,5–4,9 °C, hasil panen padi diperkirakan turun 32–40%, sedangkan hasil gandum turun 41–52%.
  • Penelitian Institut Penelitian Pertanian India (IARI) menunjukkan bahwa setiap kenaikan suhu 1 °C dapat menurunkan produktivitas gandum sebesar 4–5 juta ton, terutama pada tanaman musim rabi.

 

B) Dampak Perubahan Iklim terhadap Ternak


Perubahan iklim menimbulkan risiko terhadap hasil produksi ternak, tergantung pada tingkat kinerja, kerentanan hewan, dan kondisi lingkungan. Hewan semakin rentan karena tuntutan produksi yang tinggi, seperti pertambahan berat badan, produksi susu, maupun produksi telur. Mengingat bahwa 70% ternak India dimiliki oleh petani kecil dan marjinal, sektor peternakan sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim.

 

a) Dampak Iklim pada Produksi Hewan

 

Kesehatan, pertumbuhan, dan reproduksi ternak secara langsung dipengaruhi oleh cuaca buruk dan kondisi iklim ekstrem. Dampak tidak langsung meliputi perubahan kualitas serta kuantitas pakan, peningkatan biaya produksi, frekuensi kejadian penyakit, serta perubahan distribusi penyakit dan hama.

 

Perubahan iklim terutama memengaruhi laju pertumbuhan, konsumsi pakan, efisiensi reproduksi, serta produksi susu, telur, dan wol. Stres panas menjadi faktor utama yang menurunkan produktivitas, karena berdampak pada konsumsi pakan, perkembangan, kesehatan, dan kemampuan reproduksi hewan.

 

Suhu tinggi juga memengaruhi emisi metana enterik; pada kondisi stres panas ekstrem, produksi metana meningkat per unit asupan bahan kering (Yadav et al., 2012) [18]. Produksi susu menurun baik dari segi jumlah maupun kualitas, ditandai dengan berkurangnya kadar lemak, SNF, laktosa, serta meningkatnya kadar asam stearat dan palmitat.

 

Stres panas juga menekan sistem imun, baik humoral maupun seluler, misalnya pada ayam. Sebaliknya, pada kondisi stres dingin, asupan pakan meningkat namun daya cerna menurun karena nutrisi dialihkan untuk menghasilkan panas. Dengan demikian, baik stres panas maupun dingin sama-sama berdampak buruk terhadap kondisi fisiologis dan imunologis hewan.

 

b) Pengaruh Iklim terhadap Pertumbuhan Hewan

 

Suhu lingkungan yang tinggi menurunkan pertumbuhan ternak karena mengurangi asupan pakan dan meningkatkan energi yang dikeluarkan untuk mengatasi stres. Pada kondisi stres panas, asupan pakan menurun, sedangkan pada stres dingin nutrisi lebih banyak dialihkan untuk produksi panas. Kedua kondisi ini menyebabkan penurunan pertambahan bobot harian.

 

Stres panas juga meningkatkan pemecahan protein untuk energi dan menurunkan daya cerna, sehingga retensi nitrogen berkurang. Kehilangan nitrogen melalui keringat semakin memperparah kondisi hewan yang sedang tumbuh.

 

c) Efek Iklim pada Produksi Susu, Daging, dan Telur

 

Secara umum, stres panas menurunkan asupan pakan, produksi susu, pertambahan bobot harian, produksi telur, serta kualitas kerabang telur, sementara kebutuhan energi pemeliharaan meningkat.

 

Pada sapi perah dengan produksi tinggi, stres panas memberikan dampak besar terhadap kuantitas dan kualitas susu. Komposisi susu juga berubah, dengan berkurangnya total protein, menurunnya laktosa, serta perubahan konsentrasi asam lemak. Stres panas memengaruhi produksi susu secara tidak langsung melalui penurunan hormon tirotropik, perubahan pasokan substrat untuk sintesis susu, peningkatan adrenalin, dan penurunan hormon aldosteron.

 

Produksi daging juga terdampak, ditandai dengan rendahnya asupan pakan, pertumbuhan buruk, penurunan bobot karkas, rendahnya kadar protein dan pH otot, berkurangnya kandungan glikogen, serta meningkatnya kehilangan tetesan. Dampak ini terutama terlihat pada unggas.

 

Suhu dan kelembapan tinggi menurunkan produksi telur, yang ditunjukkan melalui penurunan ukuran telur, kualitas kerabang, laju pertambahan bobot ayam, serta meningkatnya mortalitas akibat ketidakseimbangan hormon.

 

d) Pengaruh Iklim terhadap Produksi Wol

 

Variasi iklim yang signifikan berdampak negatif terhadap pertumbuhan wol domba. Faktor yang memengaruhi antara lain kondisi fisiologis, ras, pakan, jenis kelamin, serta waktu pencukuran bulu. Sebagai hewan yang bereproduksi musiman, fisiologi domba sangat dipengaruhi oleh panjang siang–malam (fotoperiode).

 

KESIMPULAN

 

Perubahan iklim membawa tantangan besar bagi sektor pertanian dan peternakan, terutama di negara-negara dengan ketergantungan tinggi pada sumber daya alam dan dominasi petani kecil. Dampaknya terlihat pada produktivitas tanaman, ketersediaan pakan, kesehatan hewan, pertumbuhan, serta hasil produksi seperti susu, daging, telur, dan wol. Suhu ekstrem, curah hujan yang tidak menentu, serta meningkatnya frekuensi bencana alam memperburuk kerentanan sistem pangan.

 

Selain itu, perubahan iklim juga memperparah penyebaran penyakit dan hama, menurunkan kualitas komoditas pertanian, serta memengaruhi komposisi gizi produk hewani. Kondisi ini tidak hanya mengancam keberlanjutan produksi, tetapi juga berimplikasi pada ketahanan pangan, pendapatan petani, dan kesejahteraan masyarakat.

 

Untuk menghadapi tantangan ini, diperlukan strategi adaptasi dan mitigasi yang bersifat multidisiplin. Upaya tersebut mencakup perbaikan manajemen pakan, perumahan, kesehatan hewan, pemuliaan ternak yang lebih tahan terhadap stres iklim, serta penerapan teknologi ramah lingkungan guna menekan emisi gas rumah kaca. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga penelitian, sektor swasta, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun sistem pertanian dan peternakan yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.

 

REFERENSI

 

1. Aggarwal A, Upadhyay RC. Pulmonary and cutaneous evaporative water losses in Sahiwal and Sahiwal x Holstein cattle during solar exposure. Asian Australas Journal of Animal Sciences. 1997;10:318-323.

2. Barnes A, Beechener S, Cao Y, Elliot J, Harris D, Jones G, et al. Market Segmentation in the Agriculture Sector: Climate Change, DEFRA Project FF0201. ADAS, UK; c2008.

3. Bouwman AF. Direct emission of nitrous oxide from agricultural soils. Nutrient cycling in agroecosystems.1996;46:53-70.

4. Carvalho G, Moutinho P, Nepstad D, Mattos L, Santilli M. An Amazon perspective on the forest-climate connection: opportunity for climate mitigation, conservation and development. Environment, development and sustainability. 2004;6:163-174.

5. Denef K, Archibeque S, Paustian K. Greenhouse gas emissions from US agriculture and forestry: A review of emission sources, controlling factors, and mitigation potential. Interim report to USDA under Contract# GS-23F8182H, 2011, 53.

6. Dickie A, Streck C, Roe S, Zurek M, Haupt F, Dolginow A. Strategies for mitigating climate change in agriculture: Abridged report. Climate focus and California environmental associates, prepared with the support of the climate and land use Alliance; c2014.

7. Havlík P, Valin H, Mosnier A, Obersteiner M, Baker JS, Herrero M, et al. Crop productivity and the global livestock sector: Implications for land use change and greenhouse gas emissions. American Journal of Agricultural Economics. 2013;95(2):442-448.

8. Henry B, Charmley E, Eckard R, Gaughan JB, Hegarty R. Livestock production in a changing climate: adaptation and mitigation research in Australia. Crop and Pasture Science. 2012;63(3):191-202.

9. IFAD (International Fund for Agricultural Development). Livestock and climate change; c2010. Available at: http://www.ifad.org/lrkm/events/cops/papers/climate.pdf. 2010.

10. IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change). Climate Change 2007: Synthesis Report; c2007.

11. Kurukulasuriya P, Rosenthal S. Climate change and agriculture: A review of impacts and adaptations; c2013.

12. Lallawmkimi MC, Singh SV, Dandage SD, Vaidya MM, Upadhyay RC. Impact of vitamin E supplementation on antioxidants in thermal stressed Murrah buffaloes. Revista Veterinaria, 2010, 21(1). 13. Rischkowsky B, Pilling D. The state of the world's animal genetic resources for food and agriculture. Food & Agriculture Org; c2007.

14. Rowlinson P. Adapting livestock production systems to climate change–temperate zones. Livestock and Global Climate Change, 2008, 61.

15. Steinfeld H. Livestock's long shadow: Environmental issues and options. Food & Agriculture Org.; c2006.

16. Thornton PK, Gerber PJ. Climate change and the growth of the livestock sector in developing countries. Mitigation and adaptation strategies for global change. 2010;15:169-184.

17. UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change). Challenges and opportunities for mitigation in the agricultural sector: technical paper; c2008.

18. Yadav B, Singh G, Wankar A, Dutta N, Verma AK, Chaturvedi VB. Effect of thermal stress on methane emission in crossbred cattle. In Proceedings of VIIIth Biennial Conference of ANAC and symposium on Animal Nutrition Research Strategies for Food Security; c2012 Nov. p. 28-30.

19. Carney M. Breaking the tragedy of the horizon–climate change and financial stability. Speech given at Lloyd’s of London. 2015 Sep 29;29:220-30.

20. Tankov P, Tantet A. Climate data for physical risk assessment in finance. Available at SSRN 3480156. 2019 Nov 3.

21. Curtin D, Drewes M, McCullough M, Meade P, Mohapatra RN, Shelton J, et al. Long-lived particles at the energy frontier: the MATHUSLA physics case. Reports on progress in physics. 2019 Oct 1;82(11):116201.

22. Kumar K, Parida M, Katiyar VK. Short term traffic flow prediction for a non-urban highway using artificial neural network. Procedia-Social and Behavioral Sciences. 2013 Dec 2; 104:755-64.

 

SUMBER

Karishma Choudhary, Vinod Kumar Palsaniya and MC Sharma. 2024. Impact of climate change on livestock sector. International Journal of Research in Agronomy 2024; SP-7(3): 34-37

#PerubahanIklim 

#Peternakan 

#KesehatanTernak 

#KetahananPangan 

#SektorPertanian

Apa itu CO2e (Setara CO2)?

 


CO2e, atau setara karbon dioksida, adalah satuan standar yang digunakan untuk mengukur dampak iklim dari berbagai gas rumah kaca. Meskipun karbon dioksida (CO2) adalah gas rumah kaca yang paling sering dirujuk, ia bukan satu-satunya yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Gas-gas lain, seperti metana (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O), memiliki potensi pemanasan yang jauh lebih tinggi daripada CO2, sehingga sulit untuk membandingkan dampaknya terhadap iklim. CO2e mengatasi hal ini dengan menyediakan cara untuk mengukur dampak berbagai gas rumah kaca menggunakan satu metrik yang dapat dibandingkan.

 

Baik Anda membaca laporan keberlanjutan perusahaan, menilai jejak karbon pribadi, atau meninjau target kebijakan iklim, Anda kemungkinan besar akan menemukan CO2e. Namun, bagaimana tepatnya CO2e dihitung, dan mengapa CO2e menjadi alat yang sangat penting dalam melawan perubahan iklim?

 

Dalam artikel ini, kita akan membahas apa itu CO2e, bagaimana cara menghitungnya, dan mengapa CO2e memainkan peran penting dalam pelaporan emisi dan upaya keberlanjutan. Apa itu CO2e?

 

CO2e, atau setara karbon dioksida, adalah metrik yang digunakan untuk menstandardisasi pengukuran emisi gas rumah kaca. Metrik ini menyediakan satuan umum yang memungkinkan berbagai gas dibandingkan berdasarkan potensi pemanasan global (GWP)-nya. Standardisasi ini memudahkan penilaian dampak iklim secara keseluruhan dari berbagai aktivitas, produk, atau bahkan keseluruhan organisasi.

 

Pada intinya, CO2e mencerminkan jumlah karbon dioksida (CO2) yang akan menciptakan tingkat pemanasan global yang sama dengan emisi gas rumah kaca yang diukur. Karena berbagai gas memiliki kemampuan memerangkap panas dan masa hidup atmosfer yang berbeda-beda, CO2e menyederhanakan perbedaan ini menjadi satu angka yang dapat dibandingkan.

 

Misalnya, metana (CH4) jauh lebih kuat daripada CO2 dalam jangka pendek, dengan GWP lebih dari 80 kali lebih tinggi selama periode 20 tahun. Dinitrogen oksida (N2O) juga jauh lebih kuat, dengan GWP sekitar 273 kali lebih besar selama satu abad. CO2e membantu menyeimbangkan variasi ini dengan mengubah emisi berbagai gas menjadi jumlah emisi CO2 yang setara. Dengan menggunakan CO2e, bisnis, pembuat kebijakan, dan individu dapat menilai dampak iklim dari aktivitas mereka secara lebih akurat, melacak kemajuan menuju tujuan keberlanjutan, dan membuat keputusan yang tepat mengenai strategi pengurangan emisi.

 

Mengapa CO2e dikembangkan?


CO2e dikembangkan untuk menjawab tantangan dalam membandingkan dampak iklim dari berbagai gas rumah kaca. Meskipun karbon dioksida (CO2) merupakan gas rumah kaca yang paling umum, gas-gas lain seperti metana (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O) memiliki potensi pemanasan global (GWP) yang jauh lebih tinggi meskipun dipancarkan dalam jumlah yang lebih kecil. Tanpa sistem pengukuran yang terstandarisasi, akan sulit untuk menilai dampak iklim gabungan dari berbagai gas atau membandingkan emisi lintas industri dan wilayah.

 

Konsep CO2e diperkenalkan untuk menyederhanakan penghitungan iklim dengan menyatakan semua emisi gas rumah kaca menggunakan satu metrik yang sebanding berdasarkan potensi pemanasan globalnya. GWP suatu gas mengukur seberapa banyak panas yang terperangkap di atmosfer selama periode tertentu, biasanya 100 tahun, dibandingkan dengan karbon dioksida. Misalnya, metana memiliki GWP sekitar 80 selama 20 tahun, sementara karbon dioksida memiliki GWP 1, menjadikan CO2 sebagai dasar perbandingan.

 

CO2e memainkan peran penting dalam:


• Perjanjian iklim global: CO2e digunakan dalam kerangka kerja seperti Perjanjian Paris untuk menetapkan target pengurangan emisi bagi negara-negara.

• Pelaporan keberlanjutan: Perusahaan menggunakan CO2e untuk mengungkapkan jejak karbon mereka dan melacak kemajuan menuju tujuan pengurangan emisi.

• Kebijakan dan regulasi: Regulasi lingkungan sering menggunakan CO2e untuk menentukan persyaratan pelaporan dan ambang batas emisi.

“Dengan menyediakan cara standar untuk membandingkan emisi dari semua gas rumah kaca, CO2e telah menjadi alat dasar untuk aksi iklim, yang memungkinkan pelaporan, penetapan target, dan akuntabilitas yang lebih konsisten di seluruh sektor.”

 

Bagaimana CO2e dihitung?


CO2e dihitung dengan mengalikan kuantitas gas rumah kaca yang dipancarkan dengan potensi pemanasan globalnya (GWP). Rumus ini memungkinkan berbagai gas rumah kaca dinyatakan dalam dampak setaranya dibandingkan dengan karbon dioksida. Rumus dasar perhitungan CO2e:

CO2e = Jumlah GRK yang diemisikan (kg) × GWP gas

 

Apa itu Potensi Pemanasan Global (GWP)?


GWP adalah ukuran seberapa banyak panas yang terperangkap di atmosfer oleh gas rumah kaca dibandingkan dengan karbon dioksida selama periode waktu tertentu, biasanya 100 tahun. CO2 memiliki GWP 1, yang berfungsi sebagai nilai dasar, sementara gas-gas lain memiliki nilai yang lebih tinggi karena kemampuannya yang lebih besar dalam memerangkap panas. Contoh:

• Karbon dioksida (CO2) – GWP 1

• Metana (CH4) – GWP 28-80 (tergantung jangka waktunya)

• Dinitrogen oksida (N2O) – GWP 273

 

Contoh perhitungan CO2e:


Bayangkan sebuah perusahaan menghasilkan gas rumah kaca berikut:

• 1.000 kg CO2

• 100 kg metana (CH4)

• 50 kg dinitrogen oksida (N2O)

 

Langkah 1: Konversi setiap gas menggunakan GWP-nya (berdasarkan periode 100 tahun):

• CO2: 1.000 × 1 = 1,000 kg CO2e

• CH4: 100 × 28 = 2.800 kg CO2e

• N2O: 50 × 273 = 13.650 kg CO2e

 

Langkah 2: Jumlahkan hasilnya:

1.000 + 2.800 + 13.650 = 17.450 kg CO2e

Total ini mewakili dampak iklim gabungan dari semua gas yang dipancarkan, yang dinyatakan sebagai satu angka dalam CO2e.

 

Mengapa perhitungan CO2e yang akurat penting:


• Konsistensi: CO2e memastikan emisi dari berbagai gas dilaporkan secara konsisten.

• Keterbandingan: Perusahaan dan negara dapat membandingkan emisi menggunakan metrik standar.

• Transparansi: Memungkinkan penilaian dampak iklim dan penetapan target yang lebih jelas.

Dengan menstandardisasi cara pengukuran emisi, CO2e memudahkan bisnis dan pembuat kebijakan untuk mengidentifikasi aktivitas mana yang memiliki dampak iklim terbesar dan di mana upaya pengurangan harus difokuskan.

 

CO2e dan berbagai gas rumah kaca


CO2e menyediakan cara terstandardisasi untuk membandingkan dampak iklim dari berbagai gas rumah kaca berdasarkan potensi pemanasan global (GWP)-nya. Meskipun karbon dioksida (CO2) adalah gas rumah kaca yang paling umum dipancarkan, ada gas lain yang berkontribusi signifikan terhadap pemanasan global dan diperhitungkan dalam perhitungan CO2e.

 

Gas Rumah Kaca

Potensi Pemanasan Global (GWP)

Sumber Utama

Karbon dioksida (CO₂)

1 (acuan dasar)

Pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, industri

Metana (CH₄)

28–80

Pertanian (ternak), tempat pembuangan sampah, kebocoran gas

Dinitrogen oksida (N₂O)

273

Penggunaan pupuk, aktivitas industri, bahan bakar

Hidrofluorokarbon (HFCs)

Hingga 12.400

Pendinginan, AC

Perfluorokarbon (PFCs)

Hingga 12.200

Produksi aluminium, manufaktur semikonduktor

Sulfur heksafluorida (SF₆)

25.200

Isolasi listrik, pemrosesan magnesium

Nitrogen trifluorida (NF₃)

17.200

Manufaktur semikonduktor

 

Mengapa memasukkan beberapa gas dalam perhitungan CO2e?


Setiap gas rumah kaca bervariasi dalam kemampuannya memerangkap panas dan masa hidupnya di atmosfer. Misalnya:

• Metana memerangkap panas jauh lebih banyak daripada CO2 tetapi terurai lebih cepat.

• Gas terfluorinasi dapat bertahan selama ribuan tahun dengan potensi pemanasan ekstrem.

Dengan mengonversi semua gas rumah kaca menjadi satu angka CO2e, penilaian dampak iklim menjadi lebih konsisten dan sebanding, membantu bisnis dan pembuat kebijakan menetapkan target pengurangan yang lebih jelas dan melacak kemajuan.

 

Manfaat penghitungan CO2e


CO2e memainkan peran penting dalam mengukur dan mengelola emisi gas rumah kaca, menjadikannya landasan upaya aksi iklim global. Dengan menyediakan metrik standar, hal ini memungkinkan bisnis, pembuat kebijakan, dan individu untuk menilai dan membandingkan dampak iklim dari berbagai aktivitas, produk, dan industri secara lebih efektif.

 

Berikut alasan mengapa CO2e sangat penting:


• Konsistensi dalam pelaporan: CO2e menstandardisasi data emisi, memastikan konsistensi di seluruh industri dan wilayah. Keseragaman ini menyederhanakan perbandingan emisi dari berbagai sumber, baik itu penggunaan energi, manufaktur, maupun aktivitas rantai pasokan.

• Penyederhanaan data iklim yang kompleks: Gas rumah kaca berbeda dalam kemampuan memerangkap panas dan umur atmosfernya. CO2e menyederhanakan kompleksitas ini dengan mengonversi emisi menjadi angka tunggal berdasarkan potensi pemanasan global (GWP), sehingga data iklim lebih mudah diinterpretasikan.

• Pengambilan keputusan yang terinformasi: Dengan CO2e sebagai tolok ukur, perusahaan dan pemerintah dapat membuat keputusan yang lebih terinformasi tentang strategi pengurangan emisi. Data ini memungkinkan organisasi untuk mengidentifikasi area berdampak tinggi, menetapkan target pengurangan, dan memantau kemajuan secara lebih efektif.

• Kepatuhan dan regulasi: Banyak kebijakan dan kerangka kerja iklim, termasuk Perjanjian Paris dan Inisiatif Target Berbasis Sains (SBTi), menggunakan CO2e untuk menentukan tujuan pengurangan dan persyaratan pelaporan. Perusahaan seringkali perlu mengungkapkan emisi CO2e mereka untuk mematuhi peraturan dan standar keberlanjutan.

• Akuntabilitas dan transparansi: Dengan menggunakan CO2e, bisnis dapat memberikan informasi yang lebih jelas kepada para pemangku kepentingan tentang dampak lingkungan mereka. Pelaporan yang transparan membangun kepercayaan dengan investor, pelanggan, dan regulator sekaligus menjaga akuntabilitas organisasi atas komitmen iklim mereka. • Melacak kemajuan iklim global: Dalam skala global, CO2e membantu negara-negara menilai kemajuan mereka menuju tujuan pengurangan emisi. CO2e memainkan peran fundamental dalam perjanjian iklim internasional, memungkinkan emisi global dilacak dan dibandingkan.

 

Keterbatasan CO2e

 

Meskipun CO2e merupakan metrik yang banyak digunakan untuk standarisasi emisi gas rumah kaca, CO2e memiliki beberapa keterbatasan yang dapat memengaruhi cara pengukuran dan pemahaman dampak iklim. Mengenali keterbatasan ini penting untuk memastikan data emisi digunakan secara bertanggung jawab dan diinterpretasikan secara akurat.

 

1. Penyederhanaan Dampak Iklim yang Berlebihan


CO2e menyederhanakan kompleksitas beberapa gas rumah kaca menjadi satu angka tunggal, yang terkadang dapat menyederhanakan dampak lingkungan yang sebenarnya. Gas yang berbeda berperilaku berbeda di atmosfer; beberapa memerangkap panas lebih efektif tetapi untuk durasi yang lebih pendek, sementara yang lain bertahan selama berabad-abad. Misalnya:

• Metana (CH4) sangat kuat dalam jangka pendek tetapi terurai lebih cepat daripada CO2.

• CO2 memiliki GWP yang lebih rendah tetapi tetap berada di atmosfer lebih lama.

Pengurangan menjadi satu metrik tunggal ini dapat mengaburkan rentang waktu dan dampak yang bervariasi dari berbagai gas.

 

2. Ketidakpastian dalam estimasi Potensi Pemanasan Global (GWP)


Nilai GWP yang digunakan dalam perhitungan CO2e didasarkan pada model ilmiah, yang dapat berubah seiring waktu seiring perkembangan ilmu iklim. Misalnya, GWP metana dapat berbeda tergantung pada apakah skala waktu 20 tahun atau 100 tahun digunakan, yang menyebabkan variasi dalam nilai CO2e yang dilaporkan.

 

3. Sensitivitas jangka waktu


Perhitungan CO2e biasanya didasarkan pada jangka waktu GWP 100 tahun, yang mungkin tidak secara akurat mencerminkan dampak iklim jangka pendek dari gas-gas kuat seperti metana. Hal ini dapat menyebabkan perkiraan yang terlalu rendah terhadap dampak langsung dari beberapa emisi, terutama di wilayah yang berfokus pada aksi iklim jangka pendek.

 

4. Potensi penyalahgunaan dalam klaim pengimbangan


CO2e sering digunakan dalam klaim pengimbangan karbon dan netralitas, yang dapat menyesatkan. Karena CO2e menggabungkan semua gas rumah kaca menjadi satu angka, perusahaan mungkin berfokus pada penyeimbangan emisi melalui pengimbangan alih-alih memprioritaskan pengurangan langsung. Akibatnya, beberapa strategi pengimbangan dapat memberikan kesan yang salah tentang kemajuan iklim.

 

5. Pengecualian dampak iklim non-GRK


CO2e hanya berfokus pada gas rumah kaca dan mengecualikan faktor-faktor lain yang berdampak pada iklim seperti perubahan penggunaan lahan, deforestasi, dan polusi aerosol, yang juga dapat memengaruhi suhu global.

 

Poin utama:


Meskipun CO2e merupakan alat yang berharga untuk menstandardisasi pelaporan emisi, alat ini harus digunakan bersamaan dengan penilaian iklim yang lebih komprehensif. Mengakui keterbatasannya membantu memastikan metrik tersebut mendukung pengurangan emisi yang sesungguhnya, alih-alih bertindak sebagai jalan pintas akuntansi iklim yang disederhanakan.

 

Bagaimana Greenly dapat membantu perusahaan Anda


Greenly menawarkan solusi manajemen karbon ahli untuk membantu bisnis mengukur, menganalisis, dan mengurangi emisi CO2e mereka secara akurat, mendukung masa depan yang lebih berkelanjutan. Layanan kami meliputi:

• Pelacakan emisi komprehensif: Platform kami memantau emisi Cakupan 1, 2, dan 3, memastikan bisnis memiliki pemahaman yang menyeluruh tentang jejak karbon mereka.

• Penilaian Siklus Hidup (LCA): Kami melakukan LCA terperinci untuk menilai dampak CO2e dari produk dan layanan di sepanjang siklus hidupnya.

• Wawasan berbasis data: Perangkat lunak kami mengidentifikasi area dengan emisi tinggi dan memberikan rekomendasi berbasis data untuk strategi pengurangan.

• Dukungan dekarbonisasi: Kami membantu bisnis mengembangkan rencana aksi yang disesuaikan untuk mengurangi emisi, meningkatkan keberlanjutan rantai pasokan, dan menetapkan target pengurangan yang dapat dicapai yang selaras dengan tujuan berbasis sains.

• Kepatuhan regulasi: Greenly membantu perusahaan dalam menavigasi regulasi iklim yang kompleks dengan menyediakan pelaporan CO2e yang akurat dan pengungkapan keberlanjutan.

 

Dengan menawarkan data emisi yang transparan dan wawasan yang dapat ditindaklanjuti, Greenly memberdayakan bisnis untuk membuat keputusan yang tepat yang berkontribusi secara signifikan terhadap upaya keberlanjutan global. Hubungi kami hari ini untuk mengetahui lebih lanjut.

 

REFERENSI

1.Environmental Defence Fund, Methane: A crucial opportunity in the climate fight, https://www.edf.org/climate/methane-crucial-opportunity-climate-fight#:~:text=Methane%20is%20a%20potent%20greenhouse,warming%20in%20the%20near%20term

2.United States Environmental Protection Agency, Understanding Global Warming Potentials, https://www.epa.gov/ghgemissions/understanding-global-warming-potentials#:~:text=Nitrous%20Oxide%20(N2O,Sinks%20uses%20a%20different%20value.)

3.United States Environmental Protection Agency, Understanding Global Warming Potentials, https://www.epa.gov/ghgemissions/understanding-global-warming-potentials#:~:text=CO2%2C%20by%20definition%2C%20has,will%20last%20thousands%20of%20years.

4.Eurostat, Glossary:Carbon dioxide equivalent, https://ec.europa.eu/eurostat/statistics-explained/index.php?title=Glossary:Carbon_dioxide_equivalent

5.European Commission, Methane Emissions, https://energy.ec.europa.eu/topics/carbon-management-and-fossil-fuels/methane-emissions_en

6.United States Environmental Protection Agency, Overview of Greenhouse Gases, https://www.epa.gov/ghgemissions/overview-greenhouse-gases#:~:text=In%20general%2C%20fluorinated%20gases%20are,nitrogen%20trifluoride%20(NF3).

 

SUMBER

Kara Anderson. January 8, 2025. What is CO2e (CO2 equivalent)? https://greenly.earth/en-us/blog/company-guide/what-is-co2e-co2-equivalent

Wednesday, 24 September 2025

Revolusi Pangan Dunia Selamatkan Lahan Bumi

 


Sistem pangan global saat ini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia menjadi penopang utama bagi miliaran orang di seluruh dunia. Namun di sisi lain, cara kita memproduksi, mendistribusikan, dan mengonsumsi pangan justru mempercepat kerusakan lingkungan, memperburuk perubahan iklim, serta mengikis keanekaragaman hayati. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature menunjukkan bahwa reformasi besar-besaran pada sistem pangan mampu membalikkan kondisi tersebut sekaligus membuka jalan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

 

Penelitian yang melibatkan 21 ilmuwan internasional ini mengingatkan bahwa degradasi lahan tengah meningkat dengan cepat di berbagai belahan dunia. Dampaknya sangat luas, mulai dari ancaman terhadap ketahanan pangan dan air, hingga meningkatnya migrasi paksa, kerusuhan sosial, dan ketidaksetaraan ekonomi. Namun, jika reformasi sistem pangan dilakukan secara serius, para peneliti memperkirakan sekitar setengah dari lahan terdegradasi di dunia dapat dipulihkan pada tahun 2050.

 

Salah satu temuan menarik dari studi ini adalah perhitungan gabungan antara pengurangan limbah makanan hingga 75 persen serta pergeseran pola konsumsi dari produk hewani—yang boros lahan—menuju makanan laut yang berkelanjutan. Kombinasi langkah ini diperkirakan dapat membebaskan lahan seluas 30 juta kilometer persegi. Jika ditambah dengan upaya restorasi, total lahan yang bisa dilindungi dan dipulihkan mencapai 43,8 juta kilometer persegi—luas yang setara dengan hampir tiga kali lipat benua Afrika.

 

Lantas, apa saja langkah konkret yang direkomendasikan? 


Pertama, memulihkan 13 juta kilometer persegi lahan melalui pengelolaan berkelanjutan. Upaya ini harus melibatkan masyarakat adat, petani kecil, perempuan, dan komunitas rentan yang selama ini justru menjadi garda terdepan pengelolaan lahan. Selain itu, subsidi pertanian perlu dialihkan dari sistem industri skala besar menuju pertanian berkelanjutan, dengan jaminan hak atas tanah, akses teknologi, serta pasar yang adil.

 

Kedua, mengurangi limbah pangan yang saat ini mencapai sepertiga dari total produksi global. Dengan menekan angka pemborosan tersebut, lahan seluas 13,4 juta kilometer persegi bisa dihemat. Ketiga, melakukan transformasi pola makan. Produksi daging merah, terutama yang tidak berkelanjutan, sangat intensif dalam penggunaan lahan, air, dan pakan, serta menyumbang emisi gas rumah kaca yang tinggi. Mengganti 70 persen konsumsi daging merah dengan ikan, moluska, dan rumput laut berkelanjutan, dapat membebaskan 17,1 juta kilometer persegi lahan. Bahkan, hanya dengan mengganti 10 persen asupan sayuran dengan rumput laut, kita sudah bisa melepaskan 0,4 juta kilometer persegi lahan.

 

Meski begitu, para peneliti menegaskan bahwa rekomendasi ini tidak berlaku sama rata di seluruh dunia. Di negara-negara kaya, konsumsi daging yang berlebihan perlu dikurangi, sementara di wilayah miskin produk hewani masih berperan penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. “Kami menyajikan serangkaian tindakan terpadu yang berani untuk mengatasi degradasi lahan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim secara bersamaan, serta jalur yang jelas untuk mengimplementasikannya pada tahun 2050,” ujar Fernando T. Maestre, penulis utama penelitian dari King Abdullah University of Science and Technology, Arab Saudi.

 

Jika reformasi pangan global benar-benar dilakukan, kita bukan hanya menyelamatkan miliaran hektare lahan, tetapi juga memberi peluang bagi bumi untuk pulih. Dengan begitu, generasi mendatang dapat mewarisi sebuah planet yang lebih sehat, adil, dan berkelanjutan.