Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Friday, 22 May 2026

Rahasia Sukses Budidaya Porang Super: Cara Menghasilkan Umbi Besar Bernilai Ekspor Tinggi!


Pendahuluan

 

Porang (Amorphophallus muelleri) merupakan salah satu komoditas pertanian unggulan Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan permintaan secara signifikan di pasar internasional. Umbi porang dikenal kaya akan glukomanan, yaitu serat alami larut air yang banyak dimanfaatkan dalam industri pangan, farmasi, kosmetik, kesehatan, hingga industri biodegradable. Tingginya kandungan glukomanan menjadikan porang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi, terutama untuk kebutuhan ekspor ke negara-negara seperti Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan beberapa negara Eropa.

 

Di sektor pangan, glukomanan digunakan sebagai bahan baku pembuatan mie shirataki, konnyaku, pengental makanan, serta produk diet rendah kalori. Dalam industri kosmetik, glukomanan dimanfaatkan sebagai bahan pelembap alami dan bahan dasar produk perawatan kulit. Oleh karena itu, budidaya porang tidak hanya menjadi peluang usaha yang menjanjikan, tetapi juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani dan mendukung pengembangan agribisnis berbasis ekspor.

 

Keberhasilan budidaya porang sangat dipengaruhi oleh teknik budidaya yang tepat, mulai dari pemilihan lahan, penggunaan bibit unggul, pengaturan nutrisi tanaman, hingga penanganan panen dan pascapanen. Kesalahan dalam pengelolaan budidaya dapat menyebabkan pertumbuhan umbi tidak optimal, ukuran kecil, kadar glukomanan rendah, bahkan meningkatkan risiko serangan penyakit dan pembusukan umbi. Oleh sebab itu, diperlukan penerapan teknik budidaya yang terukur dan berkelanjutan agar diperoleh hasil panen berkualitas tinggi dengan produktivitas maksimal.

 

Artikel ini membahas secara lengkap teknik budidaya porang mulai dari persiapan lahan hingga pascapanen untuk menghasilkan umbi porang berkualitas super, berukuran besar, sehat, dan memiliki kandungan glukomanan tinggi.

 

Karakteristik Tanaman Porang

 

Porang merupakan tanaman umbi-umbian dari famili Araceae yang tumbuh optimal di daerah tropis dengan kelembapan cukup tinggi. Tanaman ini memiliki sifat unik berupa fase vegetatif dan fase dormansi. Pada fase vegetatif, tanaman aktif tumbuh dan melakukan fotosintesis untuk membentuk cadangan makanan dalam umbi. Sementara itu, pada fase dormansi, bagian daun dan batang akan menguning, mengering, lalu mati secara alami sebagai tanda bahwa umbi telah mencapai kematangan fisiologis.

 

Tanaman porang mampu tumbuh baik pada ketinggian 100–700 meter di atas permukaan laut dengan suhu optimal berkisar 25–35°C. Salah satu keunggulan porang adalah kemampuannya tumbuh di bawah naungan sehingga cocok dikembangkan pada sistem agroforestri atau tumpangsari di bawah tegakan pohon hutan.


Umbi porang memiliki bentuk bulat agak pipih dengan ukuran yang dapat mencapai beberapa kilogram apabila dibudidayakan secara intensif. Kandungan glukomanan pada umbi porang dapat mencapai 35–65% tergantung varietas, umur panen, dan teknik budidaya yang diterapkan.

 

Persiapan Lahan dan Media Tanam

 

Persiapan lahan merupakan tahap awal yang sangat menentukan keberhasilan budidaya porang. Lahan yang baik akan mendukung perkembangan akar, pembentukan umbi, serta meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara.

 

Tanah yang ideal untuk budidaya porang adalah tanah gembur, subur, kaya bahan organik, dan memiliki drainase baik. Tanah yang terlalu padat dapat menghambat perkembangan umbi, sedangkan tanah yang terlalu becek dapat memicu pembusukan akibat serangan jamur dan bakteri.



Tingkat keasaman tanah atau pH sangat berpengaruh terhadap ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Porang tumbuh optimal pada pH tanah antara 6 hingga 7. Jika pH terlalu rendah, pengapuran menggunakan dolomit dapat dilakukan untuk menetralkan kondisi tanah.

 

Karena porang termasuk tanaman yang menyukai naungan, tingkat keteduhan ideal berkisar 40–60%. Oleh sebab itu, tanaman ini sangat cocok dibudidayakan di bawah tegakan pohon seperti jati, mahoni, sengon, atau tanaman kehutanan lainnya. Naungan membantu menjaga kelembapan tanah dan mengurangi intensitas cahaya matahari langsung yang berlebihan.

 

Pengolahan tanah dilakukan dengan membajak atau mencangkul lahan sedalam sekitar 30 cm. Setelah itu dibuat bedengan dengan lebar sekitar 1 Meter dan tinggi 25–30 cm. Bedengan membantu memperbaiki drainase serta memudahkan pengelolaan tanaman.

 

Saluran drainase perlu dibuat di sekitar bedengan agar air hujan tidak menggenang. Genangan air merupakan salah satu faktor utama penyebab kerusakan dan pembusukan umbi porang.

 

Pemilihan dan Persiapan Bibit Berkualitas

 

Kualitas bibit sangat menentukan pertumbuhan awal tanaman dan hasil panen yang diperoleh. Bibit porang umumnya berasal dari katak (bulbil) atau umbi kecil.

 

Bibit katak merupakan bagian vegetatif yang muncul pada pangkal percabangan daun. Katak yang baik memiliki ukuran seragam, sehat, tidak cacat, dan telah matang fisiologis yang ditandai dengan terlepas secara alami dari tanaman induk.


 

Selain menggunakan katak, petani juga dapat menggunakan bibit berupa umbi kecil. Umbi bibit harus berasal dari tanaman sehat, bebas penyakit, tidak luka, dan tidak mengalami pembusukan. Penggunaan bibit sehat sangat penting untuk mengurangi risiko penularan penyakit di lapangan.

 

Sebelum ditanam, bibit sebaiknya dikarantina terlebih dahulu selama 1–2 bulan di tempat yang sejuk, kering, dan memiliki sirkulasi udara baik. Proses ini bertujuan untuk memecahkan dormansi dan merangsang munculnya mata tunas. Selain itu, penyimpanan yang baik dapat mengurangi risiko serangan jamur selama masa persiapan tanam.

 

Untuk meningkatkan daya tumbuh bibit, beberapa petani melakukan perlakuan perendaman menggunakan fungisida hayati atau larutan mikroba antagonis guna mencegah infeksi jamur patogen.

 

Teknik Penanaman Porang

 

Waktu tanam yang tepat sangat penting agar tanaman memperoleh cukup air selama fase awal pertumbuhan. Penanaman porang umumnya dilakukan pada awal musim hujan, yaitu sekitar bulan Oktober hingga November.

 

Jarak tanam harus disesuaikan dengan ukuran bibit dan target produksi. Jarak tanam ideal berkisar 60 cm × 60 cm atau 40 cm × 60 cm. Pengaturan jarak tanam yang baik akan memberikan ruang cukup bagi perkembangan umbi serta mengurangi persaingan unsur hara antar tanaman.

 

Lubang tanam dibuat dengan ukuran sekitar 20 cm × 20 cm × 20 cm. Sebelum bibit dimasukkan, dasar lubang dapat diberi pupuk organik matang untuk meningkatkan kesuburan tanah.



Bibit ditanam dengan posisi mata tunas menghadap ke atas, kemudian ditutup tanah gembur setebal sekitar 5 cm. Penanaman yang terlalu dalam dapat memperlambat pertumbuhan tunas, sedangkan penanaman terlalu dangkal dapat menyebabkan bibit mudah kering.

 

Setelah penanaman selesai, kelembapan tanah perlu dijaga agar proses perkecambahan berlangsung optimal.

 

Manajemen Pemupukan untuk Meningkatkan Produksi Umbi

 

Pemupukan merupakan faktor penting dalam pembentukan ukuran umbi dan peningkatan kandungan glukomanan. Kombinasi pupuk organik dan anorganik yang tepat mampu meningkatkan produktivitas tanaman secara signifikan.

 

Pupuk dasar diberikan sebelum penanaman dengan menggunakan kompos, pupuk kandang fermentasi, atau pupuk organik lainnya sebanyak 1–2 kg per lubang tanam. Pupuk organik berfungsi memperbaiki struktur tanah, meningkatkan aktivitas mikroorganisme, serta menyediakan unsur hara secara bertahap.

 


Pada umur sekitar dua bulan setelah tanam, tanaman memerlukan nitrogen dalam jumlah cukup tinggi untuk mendukung pertumbuhan daun dan batang. Oleh karena itu, pupuk susulan berupa urea atau NPK dapat diberikan sesuai dosis anjuran.

 

Memasuki umur empat hingga lima bulan, kebutuhan kalium meningkat untuk mendukung pembentukan dan pembesaran umbi. Pupuk dengan kandungan kalium tinggi seperti KCl atau NPK buah sangat membantu meningkatkan kualitas dan bobot umbi.

 

Selain unsur makro, unsur mikro seperti magnesium, kalsium, dan boron juga berperan penting dalam metabolisme tanaman. Penggunaan pupuk hayati dan biofertilizer dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan efisiensi penyerapan hara sekaligus memperbaiki kesehatan tanah.

 

Pemeliharaan Tanaman Porang

 

Pemeliharaan yang baik bertujuan menjaga kondisi tanaman tetap sehat dan produktif selama masa pertumbuhan.

 

Penyiangan gulma perlu dilakukan secara rutin karena gulma dapat bersaing dengan tanaman porang dalam memperoleh air, cahaya, dan unsur hara. Penyiangan sebaiknya dilakukan secara manual agar tidak merusak akar dan umbi.

 

Pembubunan dilakukan dengan menambahkan tanah gembur di sekitar pangkal batang. Tindakan ini penting karena umbi porang akan terus membesar selama masa pertumbuhan. Pembubunan membantu melindungi umbi agar tidak muncul ke permukaan tanah.

 

Kebutuhan air tanaman porang cukup tinggi pada fase vegetatif aktif. Namun, penyiraman perlu dikurangi ketika tanaman mulai memasuki fase dormansi yang ditandai dengan daun menguning. Kelebihan air pada fase dorman dapat memicu pembusukan umbi.

 

Selain itu, pengendalian hama dan penyakit harus dilakukan secara terpadu. Hama yang sering menyerang porang antara lain ulat daun dan nematoda, sedangkan penyakit utama biasanya berupa busuk umbi akibat jamur. Sanitasi lahan, penggunaan bibit sehat, dan pengaturan drainase merupakan langkah penting dalam pencegahan penyakit.

 

Panen dan Pascapanen Porang

 

Panen porang dilakukan ketika tanaman memasuki fase dormansi penuh. Kondisi ini ditandai dengan daun menguning, batang mengering, dan roboh secara alami ke tanah. Waktu panen umumnya berlangsung pada bulan Mei hingga Juli tergantung kondisi lingkungan dan waktu tanam.


Pemanenan harus dilakukan secara hati-hati agar umbi tidak terluka. Luka pada umbi dapat menurunkan kualitas dan mempercepat pembusukan selama penyimpanan. Penggalian dilakukan menggunakan sekop atau cangkul dengan jarak tertentu dari titik tanaman agar umbi tidak tergores.


Setelah dipanen, umbi dibersihkan dari tanah dan akar yang menempel. Umbi kemudian disortir berdasarkan ukuran dan kualitas. Umbi sehat, besar, dan tidak cacat memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar ekspor.

 

Penyimpanan dilakukan di tempat kering, bersih, memiliki ventilasi baik, dan menggunakan alas kayu agar sirkulasi udara tetap terjaga. Penanganan pascapanen yang baik sangat penting untuk mempertahankan kualitas glukomanan dan mencegah kerusakan umbi sebelum dipasarkan atau diolah lebih lanjut.



Potensi Ekonomi dan Prospek Budidaya Porang

 

Budidaya porang memiliki prospek ekonomi yang sangat menjanjikan. Permintaan pasar global terhadap glukomanan terus meningkat seiring berkembangnya industri pangan sehat dan kosmetik alami. Indonesia sebagai negara tropis memiliki potensi besar menjadi salah satu produsen utama porang dunia.

 

Selain nilai jual umbi segar, porang juga memiliki nilai tambah tinggi apabila diolah menjadi chip, tepung glukomanan, maupun produk turunan lainnya. Pengembangan hilirisasi porang dapat meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperkuat daya saing produk pertanian Indonesia di pasar internasional.

 

Sistem budidaya porang yang dapat dikombinasikan dengan tanaman kehutanan juga mendukung konsep pertanian berkelanjutan dan konservasi lingkungan. Oleh karena itu, pengembangan porang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memiliki manfaat ekologis.

 

Kesimpulan

 

Porang (Amorphophallus muelleri) merupakan komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi dengan prospek ekspor yang sangat menjanjikan. Keberhasilan budidaya porang sangat dipengaruhi oleh penerapan teknik budidaya yang tepat mulai dari persiapan lahan, pemilihan bibit, teknik penanaman, manajemen pemupukan, pemeliharaan, hingga penanganan panen dan pascapanen.

 

Penggunaan lahan dengan drainase baik, pemberian naungan optimal, pemilihan bibit sehat, serta pengelolaan nutrisi yang tepat dapat menghasilkan umbi porang berukuran besar dengan kandungan glukomanan tinggi. Selain itu, perawatan yang konsisten dan penanganan pascapanen yang baik akan meningkatkan kualitas umbi sehingga memiliki daya saing tinggi di pasar ekspor.

 

Dengan meningkatnya permintaan global terhadap produk berbasis glukomanan, budidaya porang berpotensi menjadi salah satu sektor agribisnis unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan di Indonesia.

 

Daftar Pustaka

 

  1. Aryanti, N., & Abidin, Z. (2020). Budidaya dan Prospek Pengembangan Porang di Indonesia. Jakarta: Penebar Swadaya.
  2. Hidayat, N., Supriyanto, A., & Wibowo, S. (2021). Teknologi Budidaya Porang untuk Mendukung Ekspor Umbi Glukomanan. Jurnal Agribisnis Indonesia, 9(2), 115–128.
  3. Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2021). Pedoman Budidaya Porang yang Baik dan Benar. Jakarta: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.
  4. Koswara, S. (2013). Teknologi Pengolahan Umbi Porang dan Manfaat Glukomanan. Bogor: IPB Press.
  5. Santosa, E., Sugiyama, N., & Kurniawati, A. (2018). Growth and Production of Amorphophallus muelleri under Different Shading Levels. Indonesian Journal of Agricultural Science, 19(1), 25–34.
  6. Sumarwoto. (2005). Iles-Iles (Amorphophallus muelleri Blume): Deskripsi dan Sifat-Sifat Lainnya. Biodiversitas, 6(3), 185–190.
  7. Syaefudin, A., & Prasetyo, B. (2022). Pengaruh Pemupukan terhadap Pertumbuhan dan Kandungan Glukomanan Tanaman Porang. Jurnal Ilmu Pertanian Tropika, 14(1), 45–57.
  8. Widjanarko, S. B. (2019). Potensi Glukomanan Porang sebagai Bahan Pangan Fungsional dan Industri. Malang: Universitas Brawijaya Press.

#BudidayaPorang 
#PorangEkspor 
#UmbiPorang 
#Glukomanan 
#PertanianModern




Membangun Kesalehan Ritual dan Sosial: Tadabur Surah An-Nisa Ayat 36–37.

 


Membangun Kesalehan Ritual dan Sosial: Tadabur Surah An-Nisa Ayat 36–37


Islam adalah agama yang sempurna dan menyeluruh. Ajarannya tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesama. Seorang Muslim tidak cukup hanya rajin beribadah, namun juga harus menghadirkan akhlak mulia dalam kehidupan sosialnya. Kesalehan ritual dan kesalehan sosial harus berjalan seiring agar lahir pribadi mukmin yang utuh dan diridai Allah.


Prinsip agung ini tergambar dengan sangat indah dalam Al-Qur'an Surah An-Nisa ayat 36–37. Dalam dua ayat tersebut, Allah memberikan tuntunan lengkap tentang bagaimana seorang hamba membangun hubungan dengan Rabb-nya sekaligus membangun kepedulian terhadap sesama manusia. Ayat ini bukan hanya perintah ibadah, melainkan juga peta jalan menuju masyarakat yang penuh kasih sayang, empati, dan keadilan.


Allah memulai ayat ini dengan perintah yang paling mendasar dalam kehidupan seorang Muslim, yaitu tauhid. Allah berfirman, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” Inilah pondasi seluruh amal saleh. Tauhid menjadi akar dari semua kebaikan. Tanpa tauhid, amal sebesar apa pun akan kehilangan nilainya di sisi Allah. Sebaliknya, tauhid yang benar akan melahirkan akhlak yang mulia dan kepedulian sosial yang tulus.


Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memerintahkan manusia agar hanya beribadah kepada-Nya semata tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan dengan Allah harus dibangun di atas ketundukan total dan keikhlasan yang murni. Namun menariknya, setelah memerintahkan tauhid, Allah langsung memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada sesama. Ini menandakan bahwa ibadah kepada Allah tidak boleh dipisahkan dari kepedulian sosial.


Setelah hak Allah disebutkan, Allah menyebut hak-hak manusia yang harus ditunaikan. Orang pertama yang mendapat perhatian setelah perintah tauhid adalah kedua orang tua. Berbakti kepada ayah dan ibu menempati kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Bentuk bakti itu bukan sekadar memberi nafkah, tetapi juga berbicara dengan lembut, menghormati, membantu, dan mendoakan mereka sepanjang hayat. Tidak sedikit orang yang rajin beribadah, tetapi lisannya kasar kepada orang tua. Padahal, ridha Allah sangat bergantung pada ridha kedua orang tua.


Kemudian Allah memerintahkan agar seorang Muslim menjaga hubungan baik dengan kerabat dan keluarga besar. Silaturahmi bukan sekadar tradisi sosial, melainkan ibadah yang membawa keberkahan umur dan rezeki. Dalam kehidupan modern yang serba sibuk, banyak hubungan keluarga menjadi renggang karena ego, kesibukan, atau persoalan harta. Padahal Islam mengajarkan bahwa keluarga adalah lingkungan pertama yang harus dipenuhi dengan kasih sayang dan perhatian.


Allah juga memberikan perhatian besar kepada anak yatim dan orang miskin. Mereka adalah kelompok yang lemah dan sering kali terpinggirkan. Kehadiran seorang Muslim seharusnya menjadi sumber ketenangan dan harapan bagi mereka. Menyantuni anak yatim bukan hanya memberi bantuan materi, tetapi juga menghadirkan kasih sayang dan perlindungan. Begitu pula membantu orang miskin bukan semata memberi sedekah, melainkan juga menjaga martabat dan perasaan mereka.


Selanjutnya, Allah memerintahkan agar kita berbuat baik kepada tetangga, baik tetangga dekat maupun tetangga jauh. Para ulama tafsir seperti Ibnu Abbas menjelaskan bahwa tetangga dekat dapat dimaknai sebagai tetangga yang memiliki hubungan kerabat atau sesama Muslim, sedangkan tetangga jauh adalah mereka yang tidak memiliki hubungan darah atau bahkan berbeda agama. Ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan toleransi dan kemanusiaan yang luas. Kebaikan kepada tetangga tidak dibatasi oleh suku, agama, maupun status sosial.


Di zaman sekarang, hubungan antar tetangga sering terasa dingin. Banyak orang mengenal teman di media sosial lebih dekat dibanding tetangga di samping rumahnya sendiri. Padahal Rasulullah ﷺ sangat menekankan pentingnya memuliakan tetangga. Kehangatan sosial dimulai dari lingkungan terdekat. Senyum, sapaan, bantuan kecil, dan kepedulian sederhana dapat menjadi amal besar di sisi Allah.


Allah juga menyebut “teman sejawat” atau orang yang berada dekat dengan kita dalam kehidupan sehari-hari. Menurut At-Tabari, makna ini mencakup pasangan hidup, sahabat, rekan kerja, maupun teman perjalanan. Islam mengajarkan agar seorang Muslim menjadi pribadi yang menenangkan dan membahagiakan orang-orang di sekitarnya. Jangan sampai kehadiran kita justru membawa luka, pertengkaran, dan kesulitan bagi orang lain.


Tidak berhenti di situ, Allah juga memerintahkan agar memperhatikan ibnu sabil, yaitu musafir yang kehabisan bekal, serta orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab kita. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Setiap manusia memiliki hak untuk diperlakukan secara layak dan penuh penghormatan.


Namun setelah menyebut semua bentuk kebaikan sosial itu, Allah memberikan peringatan keras terhadap penyakit hati yang sangat berbahaya, yaitu kesombongan. Allah menegaskan bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Kesombongan adalah racun yang merusak amal dan mematikan empati. Orang yang sombong sulit menghargai orang lain karena merasa dirinya lebih tinggi dan lebih mulia.


Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kesombongan menjadi penghalang utama seseorang untuk berbuat ihsan kepada sesama. Orang yang hatinya dipenuhi kesombongan tidak akan ringan membantu orang miskin, tidak mudah menghormati tetangga, dan sulit merendahkan hati di hadapan orang lain. Kesombongan melahirkan jarak sosial dan mengikis rasa kasih sayang.


Penyakit hati ini kemudian melahirkan sifat lain yang tidak kalah berbahaya, yaitu kikir. Orang yang kikir bukan hanya enggan berbagi, tetapi juga sering memengaruhi orang lain agar ikut pelit dan menahan kebaikan. Mereka lupa bahwa semua nikmat yang dimiliki hanyalah titipan Allah. Harta, ilmu, jabatan, dan kekuasaan bukanlah milik abadi manusia, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.


Ironisnya, seseorang bisa tampak saleh secara lahiriah, tetapi hatinya dipenuhi kesombongan dan kekikiran. Ia rajin beribadah, namun enggan membantu sesama. Ia fasih berbicara agama, tetapi sulit berbagi dan mudah meremehkan orang lain. Padahal Islam tidak menghendaki kesalehan yang timpang. Ibadah yang benar seharusnya melahirkan kelembutan hati, kepedulian sosial, dan akhlak yang mulia.


Melalui tadabur Surah An-Nisa ayat 36–37, kita belajar bahwa ukuran keimanan bukan hanya seberapa lama kita berdiri dalam shalat, tetapi juga seberapa besar manfaat yang kita hadirkan bagi sesama. Seorang Muslim sejati adalah pribadi yang kuat tauhidnya, lembut hatinya, santun lisannya, dan luas kepeduliannya. Ia menjaga hubungannya dengan Allah sekaligus menjaga hak-hak manusia di sekitarnya.


Karena itu, marilah kita memperbaiki diri dengan membangun keseimbangan antara ibadah ritual dan kepedulian sosial. Mari membersihkan hati dari kesombongan, riya’, dan sifat kikir. Mari hadir menjadi pribadi yang ringan menolong, mudah berbagi, dan penuh kasih sayang kepada siapa pun. Sebab pada akhirnya, kemuliaan seorang hamba di sisi Allah bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari seberapa besar rahmat dan kebaikan yang ia tebarkan kepada sesama manusia.


#MembangunKesalehan

#KesalehanRitual

#KesalehanSosial

Thursday, 21 May 2026

ENSO Bisa Picu Wabah Global? Ini Dampak El Niño dan La Niña terhadap Haji, Pariwisata, dan Kesehatan Dunia

 


Pengaruh ENSO: Variabilitas Iklim, Ekologi Penyakit, dan Implikasinya terhadap Acara Perhelatan Massal

 

Absttak 


El Niño–Osilasi Selatan (ENSO) merupakan penggerak iklim antartahun paling kuat yang memengaruhi distribusi suhu, curah hujan, dan kelembapan secara global. Fase El Niño (hangat) dan La Niña (dingin) yang terjadi secara bergantian membentuk dinamika penyakit infeksi melalui perubahan ekologi vektor, sanitasi air, dan paparan manusia. ENSO telah dikaitkan dengan wabah demam berdarah dengue, malaria, kolera, demam Rift Valley (Rift Valley fever/RVF), leptospirosis, ensefalitis, dan infeksi hantavirus di berbagai benua. Pada era perhimpunan massal (mass gatherings/MGs) seperti ibadah haji dan umrah, Kumbh Mela, turnamen olahraga internasional, dan kegiatan pariwisata global, ekstrem iklim yang dipicu ENSO menimbulkan risiko kesehatan yang semakin besar. Pemahaman mengenai mekanisme dan prediktabilitas ENSO memberikan peluang penting untuk mengintegrasikan prakiraan iklim ke dalam sistem peringatan dini epidemi guna melindungi kesehatan jutaan peserta yang berpindah-pindah. Tinjauan ini membahas jalur keterkaitan antara ENSO dan penularan penyakit infeksi dengan penekanan khusus pada situasi perhimpunan massal. Artikel ini menegaskan bahwa kesiapsiagaan berbasis informasi iklim harus menjadi komponen utama dalam tata kelola kesehatan perhimpunan massal agar mampu mengantisipasi, bukan sekadar merespons, epidemi di masa mendatang.

 

1. Pendahuluan

 

Variabilitas iklim memiliki pengaruh yang mendalam terhadap kesehatan manusia dan ekologi penyakit. Di antara berbagai sistem iklim global utama, El Niño–Osilasi Selatan (ENSO) memiliki dampak paling luas karena menyebabkan fluktuasi besar pada curah hujan, suhu, dan kelembapan [1]. Berasal dari Samudra Pasifik ekuatorial, osilasi ENSO antara El Niño (fase hangat) dan La Niña (fase dingin) menciptakan “telekoneksi” iklim yang memengaruhi ekosistem dan populasi di berbagai benua. Fluktuasi ini selanjutnya mengubah lanskap ekologi dan epidemiologi berbagai penyakit infeksi [1], [3], [4].

 

Relevansi ENSO terhadap kesehatan semakin jelas dalam beberapa dekade terakhir. Catatan historis menunjukkan bahwa kejadian ENSO sering kali mendahului epidemi besar dengue, malaria, kolera, leptospirosis, dan demam Rift Valley, serta berbagai penyakit lainnya [5], [6], [7], [8], [9], [13], [14], [15], [16]. Secara mekanistik, perubahan suhu dan curah hujan memengaruhi perkembangbiakan vektor, replikasi patogen, dan dinamika penularan penyakit yang ditularkan melalui air. Kejadian cuaca ekstrem juga mengganggu infrastruktur, menyebabkan perpindahan masyarakat, dan meningkatkan paparan terhadap air tercemar maupun vektor penyakit [6], [7].

 

Yang lebih penting, prediktabilitas ENSO—dengan anomali suhu permukaan laut yang dapat dideteksi beberapa bulan sebelumnya—memberikan peluang strategis untuk perencanaan kesehatan masyarakat yang bersifat preventif [21], [22]. Integrasi prakiraan ENSO ke dalam surveilans penyakit dan upaya kesiapsiagaan merupakan langkah terdepan dalam pencegahan epidemi berbasis informasi iklim.

 

Hal ini menjadi sangat penting pada perhimpunan massal (mass gatherings/MGs), yang merupakan pusat dinamis berkumpulnya manusia. Organisasi Kesehatan Dunia mendefinisikan perhimpunan massal sebagai kegiatan yang “menarik cukup banyak orang sehingga membebani sumber daya perencanaan dan respons lokal.” Perhimpunan tersebut mencakup kegiatan keagamaan, budaya, dan olahraga seperti ibadah haji dan umrah di Arab Saudi, Kumbh Mela di India, serta turnamen olahraga internasional seperti Olympic Games dan FIFA World Cup [2].

 

Perhimpunan ini meningkatkan kerentanan melalui kombinasi kepadatan populasi tinggi, mobilitas lintas negara, dan keterbatasan infrastruktur dalam rentang waktu yang singkat. Ketika perhimpunan massal berlangsung bersamaan dengan ekstrem iklim terkait ENSO—seperti panas ekstrem, kekeringan, atau banjir—dampak gabungannya dapat mengubah paparan rutin menjadi wabah berskala besar. Stres panas, dehidrasi, infeksi bawaan makanan, serta penyakit yang ditularkan melalui vektor maupun air dapat meningkat tajam dalam kondisi kompleks tersebut [3], [4], [5], [6], [13], [14], [15], [16].

 

Sistem kesehatan haji di Arab Saudi memberikan contoh yang kuat mengenai kesiapsiagaan berbasis ENSO melalui integrasi surveilans sindromik, vaksinasi, mitigasi panas, dan koordinasi internasional untuk melindungi jutaan jemaah setiap tahun [21], [22]. Demikian pula, pengelolaan Kumbh Mela di India menunjukkan pentingnya strategi kesehatan lingkungan dalam menghadapi variabilitas monsun [23].

 

Seiring perubahan iklim yang memperkuat kejadian ENSO, pengalaman-pengalaman tersebut menegaskan munculnya prinsip baru dalam kesehatan masyarakat, yaitu bahwa intelijen iklim harus diintegrasikan ke dalam tata kelola perhimpunan massal guna mencapai ketahanan kesehatan yang berkelanjutan.

 

2. Mekanisme Keterkaitan ENSO dan Penyakit Infeksi

ENSO memengaruhi penularan penyakit infeksi melalui tiga jalur yang saling berkaitan, yaitu lingkungan, biologis, dan perilaku.

 

2.1. Jalur lingkungan

Perubahan curah hujan dan suhu akibat ENSO secara langsung memengaruhi ekologi vektor dan reservoir penyakit. Episode El Niño umumnya menyebabkan kekeringan dan panas di beberapa wilayah, tetapi memicu banjir di wilayah lainnya. Kedua kondisi ekstrem tersebut mendukung terjadinya infeksi: kekeringan mendorong masyarakat menyimpan air di rumah tangga sehingga menyediakan tempat perkembangbiakan bagi Aedes aegypti, sedangkan banjir menciptakan habitat nyamuk yang luas dan merusak infrastruktur sanitasi [4], [5], [6], [13], [14], [15], [16].

 

2.2. Jalur biologis

Perubahan suhu memengaruhi perkembangan patogen dan kelangsungan hidup vektor. Kondisi yang lebih hangat mempercepat replikasi virus dan memperpendek masa inkubasi ekstrinsik virus dengue, Zika, dan chikungunya [5], [6]. Demikian pula, peningkatan curah hujan yang dipicu La Niña mendorong proliferasi nyamuk Anopheles, sehingga meningkatkan potensi penularan malaria di wilayah tropis dan subtropis [10], [11], [12]. Penghijauan lingkungan selama fase basah juga dikaitkan dengan epizootik demam Rift Valley di Afrika [7], [8], [9].

 

2.3. Jalur perilaku

Aktivitas manusia dan perilaku adaptif seperti migrasi, kepadatan hunian, dan penyimpanan air memodulasi risiko paparan. Kekeringan dan banjir akibat ENSO mengganggu perumahan, sanitasi, dan pengendalian vektor. Dalam perhimpunan massal, mandi ritual, kehidupan komunal, dan perjalanan jarak jauh terjadi secara bersamaan sehingga meningkatkan paparan terhadap infeksi yang sensitif terhadap perubahan iklim [2], [23].

 

3. Pola Global Hubungan ENSO dan Penyakit

Dampak kesehatan ENSO bersifat heterogen secara spasial (Tabel 1). Fase hangat dan dinginnya memengaruhi berbagai sistem penyakit secara berbeda tergantung pada kondisi geografis, ekologi, dan musim.

 

Tabel 1. Fase ENSO dan penyakit infeksi utama.

Penyakit

Fase ENSO

Wilayah yang Terdampak

Relevansi terhadap Perhimpunan Massal

Referensi Utama

Dengue, Zika, Chikungunya

El Niño (hangat)

Amerika, Asia Tenggara, Pasifik

Pusat pariwisata, acara olahraga

[3], [4], [5], [6]

Demam Rift Valley (Rift Valley Fever)

El Niño / La Niña

Afrika Timur dan Afrika Selatan

Perdagangan ternak, impor hewan untuk haji

[7], [8], [9]

Malaria

Bervariasi

Afrika, Amerika Selatan, Asia

Ibadah ziarah, pariwisata tropis

[10], [11], [12]

Kolera

El Niño (hangat)

Afrika Timur, Asia Selatan

Haji, Kumbh Mela

[13], [14]

Leptospirosis

Berkaitan dengan banjir

Kepulauan Pasifik, Asia Tenggara

Festival, pariwisata

[15], [16]

Ensefalitis (Murray Valley, Japanese Encephalitis/JEV)

La Niña (dingin)

Australia, Asia Tenggara

Kegiatan luar ruangan

[17], [18], [19]

Hantavirus

El Niño (hangat)

Amerika Utara

Ekowisata

[20]

 

4. ENSO dan Perhimpunan Massal Keagamaan

 

Perhimpunan massal keagamaan merupakan salah satu bentuk paling nyata dari ekspresi keimanan, persatuan, dan mobilitas manusia, tetapi juga menimbulkan tantangan kesehatan masyarakat yang khas ketika berlangsung bersamaan dengan variabilitas iklim. El Niño–Osilasi Selatan (ENSO), sebagai penggerak utama fluktuasi iklim antartahun, memberikan pengaruh besar terhadap lanskap lingkungan dan epidemiologi tempat perhimpunan tersebut berlangsung.

 

Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1, ENSO memengaruhi suhu global, curah hujan, dan kelembapan, sehingga mengubah ekologi patogen, habitat vektor, dan tingkat paparan manusia. Fase hangatnya (El Niño) sering menyebabkan kekeringan dan gelombang panas, sedangkan fase dinginnya (La Niña) umumnya berkaitan dengan curah hujan tinggi dan banjir. Kedua kondisi ekstrem tersebut dapat meningkatkan penularan penyakit infeksi melalui mekanisme yang berbeda. Panas dan kelangkaan air mendorong perkembangbiakan Aedes aegypti pada wadah penyimpanan air, sedangkan banjir memperluas habitat vektor dan merusak sistem sanitasi.

 

Fig. 1

Gambar 1. Pengaruh ENSO: Variabilitas Iklim, Ekologi Penyakit, dan Implikasinya terhadap Acara Perhimpunan Massal.

 

Pada ibadah haji dan umrah di Arab Saudi, kondisi El Niño meningkatkan stres panas dan penyakit saluran pernapasan pada jutaan jemaah yang berkumpul di wilayah yang memang sudah kering. Pada saat yang sama, peningkatan curah hujan terkait La Niña di Afrika Timur mendorong terjadinya wabah demam Rift Valley, suatu penyakit zoonosis yang menjadi perhatian khusus mengingat adanya pergerakan dan perdagangan ternak menjelang musim haji [7], [8], [9], [21], [22]. Kesiapsiagaan Arab Saudi yang responsif terhadap iklim—termasuk surveilans sindromik secara waktu nyata, operasi pengendalian vektor, dan strategi mitigasi panas yang terstruktur—menunjukkan model adaptif dalam tata kelola kesehatan perhimpunan massal berbasis kesadaran ENSO.

 

Demikian pula, Kumbh Mela di India—pertemuan manusia terbesar di dunia—sering kali berlangsung bersamaan dengan variabilitas monsun yang dimodulasi oleh ENSO. Peristiwa El Niño dapat mengurangi aliran sungai dan meningkatkan konsentrasi polutan sehingga mempermudah penyebaran kolera dan penyakit enterik lainnya, sedangkan banjir akibat La Niña meningkatkan kejadian leptospirosis dan wabah diare [13], [14], [15], [16], [23]. Dinamika ini menegaskan pentingnya pemantauan lingkungan secara proaktif, surveilans kualitas air, dan komunikasi kesehatan yang terarah sebelum dan selama acara berlangsung.

 

Secara keseluruhan, pengaruh iklim ENSO (Gambar 1) menekankan pentingnya integrasi intelijen iklim ke dalam perencanaan dan tata kelola perhimpunan massal keagamaan. Dengan mengintegrasikan prakiraan ENSO ke dalam surveilans kesehatan, pengelolaan air dan vektor, serta koordinasi internasional, negara penyelenggara dapat mengubah variabilitas iklim yang dapat diprediksi dari ancaman berulang menjadi alat peringatan dini strategis—melindungi jemaah maupun masyarakat tuan rumah sekaligus menjaga keberlangsungan spiritual dan budaya dari peristiwa global tersebut.

 

Diagram ini merangkum bagaimana El Niño–Osilasi Selatan (ENSO) mengubah suhu, curah hujan, dan kelembapan global sehingga memicu perubahan pada ekologi patogen dan dinamika vektor. Perubahan iklim tersebut memengaruhi penyebaran dengue, malaria, kolera, leptospirosis, demam Rift Valley, dan hantavirus. Selama perhimpunan massal seperti haji, Kumbh Mela, serta berbagai acara olahraga dan pariwisata besar, panas, kekeringan, atau banjir yang berkaitan dengan ENSO meningkatkan risiko penularan penyakit. Integrasi prakiraan ENSO ke dalam perencanaan kesiapsiagaan memungkinkan penerapan peringatan dini, pengendalian yang terarah, dan respons kesehatan masyarakat yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.

 

4.1. Haji dan Umrah

 

Ibadah haji dan umrah di Arab Saudi menghimpun lebih dari dua juta orang setiap tahun di lingkungan kering yang sensitif terhadap variasi ENSO. El Niño memperburuk suhu panas ekstrem, dehidrasi, dan gangguan pernapasan, sedangkan La Niña meningkatkan kelembapan serta potensi munculnya arbovirus melalui perdagangan ternak dari Afrika Timur [7], [8], [9], [21], [22]. Kerangka kesiapsiagaan terpadu yang diterapkan negara tersebut—meliputi rencana aksi kesehatan terkait panas, kewajiban vaksinasi, dan surveilans waktu nyata—menjadi model pengelolaan perhimpunan massal yang responsif terhadap iklim.

 

4.2. Kumbh Mela

 

Kumbh Mela di India, sebagai acara keagamaan terbesar di dunia, sering berlangsung bersamaan dengan fluktuasi monsun yang dipengaruhi ENSO. El Niño menekan curah hujan sehingga meningkatkan konsentrasi polutan di sistem sungai, sedangkan banjir akibat La Niña memperparah limpasan limbah, sehingga meningkatkan risiko kolera, leptospirosis, dan wabah diare [13], [14], [15], [16], [23]. Perencanaan lintas sektor yang mencakup sanitasi, pemantauan kualitas air, dan edukasi kesehatan sangat penting untuk meminimalkan penularan penyakit yang dipengaruhi iklim.

 

5. ENSO dan Acara Olahraga, Pariwisata, serta Budaya

 

Acara olahraga global dan musim pariwisata sering kali bertepatan dengan siklus ENSO. Selama El Niño, panas perkotaan dan kelembapan meningkatkan risiko dengue di kota-kota tropis seperti Rio de Janeiro, Jakarta, dan Manila [3], [4], [5], [6]. Sebaliknya, La Niña meningkatkan banjir dan kondisi perkembangbiakan vektor, sehingga berkontribusi terhadap wabah ensefalitis di Australia dan Asia Tenggara [17], [18], [19]. Negara-negara yang bergantung pada sektor pariwisata juga mengalami peningkatan kasus kolera dan leptospirosis yang berkaitan dengan ENSO setelah curah hujan tinggi [13], [14], [15], [16]. Integrasi data ENSO ke dalam perencanaan acara, advis kesehatan perjalanan, dan pemantauan lingkungan dapat secara signifikan meningkatkan kesiapsiagaan global.

 

6. Dari Prakiraan Iklim Menuju Kesiapsiagaan Epidemi

 

Peristiwa ENSO dapat dipantau beberapa bulan sebelum terjadi sehingga memberikan waktu persiapan yang dapat dimanfaatkan untuk kesiapsiagaan kesehatan masyarakat [7], [21]. Strategi proaktif meliputi:

  • Sistem Peringatan Dini Iklim–Kesehatan: Mengintegrasikan prakiraan ENSO dengan surveilans penyakit untuk memprediksi wabah [5], [7], [13], [21], [22].
  • Intervensi Pengendalian Vektor dan WASH yang Terarah: Menyesuaikan operasi pengendalian berdasarkan anomali iklim yang diperkirakan [4], [5], [6], [10], [11], [12], [13], [14], [15], [16].
  • Koordinasi Lintas Sektor: Menyatukan otoritas meteorologi, kesehatan, dan kedaruratan untuk menyelaraskan sumber daya [2], [22].
  • Komunikasi Risiko: Menyebarluaskan panduan berbasis ENSO bagi jemaah, wisatawan, dan peserta acara [23].

 

Kerangka terpadu tersebut mencerminkan pendekatan One Health yang menghubungkan intelijen iklim dengan tindakan kesehatan masyarakat guna melindungi populasi selama perhimpunan massal.

 

7. Pembahasan

 

ENSO menunjukkan eratnya keterkaitan antara variabilitas lingkungan dan kerentanan manusia. Pengaruh sikliknya terhadap suhu, curah hujan, dan ekologi vektor menegaskan pentingnya perencanaan kesehatan yang berbasis kesadaran iklim. Dalam konteks perhimpunan massal, interaksi ini menjadi semakin intensif: kepadatan populasi, mobilitas, dan tekanan terhadap infrastruktur berpadu dengan stres lingkungan sehingga memperbesar potensi terjadinya epidemi [2], [3], [23].

 

Prediktabilitas ENSO membedakannya dari berbagai bahaya lingkungan lainnya. Kemampuan prediksi ini memungkinkan para perencana untuk beralih dari pengendalian wabah yang bersifat reaktif menuju kesiapsiagaan yang antisipatif. Sebagai contoh, prakiraan El Niño dengan tingkat keyakinan tinggi dapat mendorong penerapan dini pengendalian vektor, peningkatan perlindungan terhadap panas, dan penempatan sumber daya medis sebelum kejadian berlangsung. Sebaliknya, peringatan La Niña dapat digunakan untuk mengarahkan mitigasi banjir, penguatan sanitasi, dan kesiapsiagaan terhadap kolera.

 

Aspek kesetaraan dan ketahanan tetap menjadi pertimbangan utama. Dampak kesehatan ENSO secara tidak proporsional lebih besar dirasakan oleh negara-negara berpendapatan rendah dan menengah yang memiliki keterbatasan infrastruktur adaptif dan kapasitas surveilans. Koordinasi internasional, khususnya melalui program bersama World Health Organization dan World Meteorological Organization, dapat memperkuat jaringan peringatan dini, pertukaran data, dan mobilisasi sumber daya [22].

 

Perencanaan perhimpunan massal di masa depan perlu melembagakan pedoman operasional berbasis ENSO dengan mengintegrasikan data satelit, pemodelan lingkungan, dan intelijen kesehatan masyarakat ke dalam satu sistem respons terpadu. Model semacam ini dapat mengubah perhimpunan massal dari kegiatan berisiko tinggi menjadi laboratorium hidup bagi ketahanan kesehatan berbasis iklim.

 

8. Kesimpulan

 

ENSO bukan sekadar siklus meteorologi, melainkan suatu mesin iklim-kesehatan yang memodulasi pola global infeksi, risiko, dan ketahanan. Fase-fasenya membentuk kemunculan dan penyebaran penyakit yang mengancam keamanan kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Ketika ekstrem iklim ENSO beririsan dengan perhimpunan massal, kondisi tersebut meningkatkan baik tingkat paparan maupun potensi penularan penyakit.

 

Namun demikian, ENSO juga memberikan peluang. Prediktabilitas dininya memungkinkan dilakukannya tindakan kesehatan masyarakat yang bersifat preventif, seperti surveilans berbasis data, infrastruktur adaptif, dan komunikasi yang terarah untuk mencegah wabah sebelum terjadi. Dengan mengintegrasikan prakiraan ENSO ke dalam tata kelola kesehatan perhimpunan massal, berbagai negara dapat mengubah ketidakpastian iklim menjadi instrumen kewaspadaan dan kesiapsiagaan.

 

Di tengah dunia yang semakin hangat dan diperkirakan akan mengalami peningkatan intensitas kejadian ENSO, perencanaan perhimpunan massal berbasis informasi iklim harus menjadi fondasi utama dalam pencegahan epidemi dan perlindungan kesehatan global. Mengantisipasi, bukan sekadar bereaksi, kini menjadi paradigma utama keamanan kesehatan abad ke-21.

 

Referensi

 

  1. McGregor GR, Ebi KL. ENSO and health: an overview. Atmosphere. 2018;9(7):282.
  2. World Health Organization. Mass Gatherings: Health Risks and Planning Strategies. Geneva: WHO; 2020.
  3. World Health Organization. Disease Outbreak News: Dengue – Global Situation, 30 April 2024. Geneva: WHO; 2024.
  4. Pan American Health Organization. Epidemiological Update: Increase in Dengue Cases in the Region of the Americas – 18 June 2024. Washington, DC: PAHO; 2024.
  5. Leung XY, Singh S, Dissanayake S, et al. A systematic review of dengue outbreak prediction models. PLoS Neglected Tropical Diseases. 2023;17(2):e0010631.
  6. Chen Y, Xu Y, Wang Z, et al. Indian Ocean temperature anomalies predict global dengue trends. Science. 2024;384(6691):eadj4427.
  7. Anyamba A, Chretien J-P, Small J, Tucker CJ, Linthicum KJ. Prediction of a Rift Valley fever outbreak. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 2009;106(3):955–959.
  8. Anyamba A, Linthicum KJ, Tucker CJ, et al. Climate conditions during a Rift Valley fever post-epidemic period. Frontiers in Veterinary Science. 2022;9:834338.
  9. Situma S, Irura Z, Mwaura F, et al. Widening geographic range of Rift Valley fever disease in Africa: emerging patterns and public health implications. BMJ Global Health. 2024;9:e013034.
  10. Colonia CB, Gutierrez CA, Jaramillo M. Malaria and its relationship with climatic variables and climate change in Colombia. Environmental Advances. 2024;10:100442.
  11. Saavedra-Samillán M, Huerta M, Alvarado M, et al. Spatiotemporal dynamics of malaria and climate influence in Peru: a multi-decadal analysis. Malaria Journal. 2024;23:203.
  12. Arisco NJ, Singh M, Mbogo C, et al. Impact of weather and extreme events on malaria transmission in Africa. BMC Public Health. 2025;25:896.
  13. Moore SM, Azman AS, Chaves LF, et al. El Niño and the shifting geography of cholera in Africa. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 2017;114(17):4436–4441.
  14. Usmani M, Khan AA, Siddiqui S, et al. Environmental triggers and transmission pathways of cholera: a review. Journal of Infection and Public Health. 2021;14(10):1354–1361.
  15. Togami E, Kama M, Tikoduadua L, et al. A large leptospirosis outbreak following severe floods in Fiji, 2012. American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. 2018;99(5):849–854.
  16. Rees EM, Wainiqolo I, Lako J, et al. Climatic indicators and leptospirosis risk in Fiji. PLOS Global Public Health. 2023;3(8):e0002400.
  17. Braddick M, Hampson K, Murray R, et al. Integrated public health response to an outbreak of mosquito-borne disease in Victoria, Australia, 2022–2023. Frontiers in Public Health. 2023;11:1256149.
  18. Walsh MG, Kurucz N, Davis S, et al. La Niña anomalies and Japanese encephalitis emergence in Australia, 2022. Scientific Reports. 2023;13:10666.
  19. Quigley A, Donohue R, Cumming S, et al. The 2023 Murray Valley encephalitis outbreak in Australia: implications for vector control and surveillance. Journal of Global Biosecurity. 2023;14:e216.
  20. Mills JN, Childs JE, Ksiazek TG, et al. Hantavirus and ENSO precipitation pulses: ecological drivers of zoonotic transmission. Emerging Infectious Diseases. 2020;26(3):381–389.
  21. Thomson MC, Doblas-Reyes FJ, Mason SJ, et al. Malaria early warnings based on seasonal climate forecasts from multi-model ensembles. Nature. 2006;439:576–579.
  22. World Health Organization and World Meteorological Organization. Climate & Health Joint Programme 2023–2025. Geneva: WHO–WMO; 2023.
  23. Tiwari S, Choudhary R, Sharma S, et al. Waterborne and crowd-related infections during Kumbh Mela: environmental challenges and preventive measures. Journal of Public Health Policy. 2024;45(2):176–188.

 

Sumber:

 

Leena Hussein Bajrai. 2025. The ENSO effect: Climate variability, disease ecology, and implications for mass gathering events. Mass Gathering Medicine. Vo. 4, Dec. 2025.


#ENSO 

#ElNino 

#LaNina 

#KesehatanGlobal 

#PerubahanIklim