Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Monday, 30 March 2026

Spirulina Bikin Nila Tumbuh Super Cepat & Lebih Kurus! Ini Rahasia Untung Besar Petani Ikan

 


ABSTRAK

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh suplementasi spirulina terhadap pertumbuhan, akumulasi lemak, serta kelayakan ekonomi budidaya ikan nila. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap pertama di Costa Rican Institute of Fisheries and Aquaculture (INCOPESCA) dan tahap kedua di sebuah tambak di Buenos Aires, Puntarenas, Kosta Rika. Pakan yang digunakan mengandung spirulina sebesar 9% hingga 25% sebagai pengganti pakan dasar. Pertumbuhan ikan di lingkungan luar dimodelkan menggunakan kurva pertumbuhan Pearl, sedangkan rasio konversi pakan (feed conversion ratio, FCR) dianalisis untuk menilai efisiensi pakan. Kandungan mineral, rasio efisiensi protein, serta profil lipid dianalisis menggunakan metode standar.

 

Substitusi spirulina sebesar 9% terbukti mempercepat pertumbuhan ikan nila dengan mengurangi waktu mencapai bobot panen sebesar 1,9 bulan. Ikan yang diberi pakan mengandung spirulina menunjukkan kandungan lemak yang lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol. Meskipun biaya pakan meningkat sedikit akibat penambahan spirulina, penghematan waktu dan tenaga kerja menghasilkan keuntungan ekonomi bersih sekitar 220 dolar AS per 100 ekor ikan. Efisiensi produksi yang meningkat serta penghematan operasional tersebut mampu mengimbangi tambahan biaya spirulina, sehingga menunjukkan kelayakan ekonominya. Temuan ini mengindikasikan bahwa suplementasi spirulina merupakan praktik yang menguntungkan bagi pelaku budidaya perikanan, baik dari aspek ekonomi maupun nutrisi.

Kata kunci: Akuakultur, Pakan Akuakultur, Mikroalga, Spirulina, Pertumbuhan

 

PENDAHULUAN

 

Akuakultur merupakan sektor yang semakin penting secara global sebagai penyedia sumber protein berkelanjutan bagi konsumsi manusia (Kassem et al., 2021). Di antara berbagai spesies yang dibudidayakan, Oreochromis spp. (nila) menonjol karena pertumbuhannya yang cepat dan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan. Saat ini, terdapat peningkatan minat dalam optimalisasi formulasi pakan nila untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan, dengan sianobakteri Arthrospira spp. sebagai salah satu suplemen pakan yang menjanjikan (Al-Deriny et al., 2020; Allen, 2016; Mahmoud et al., 2018; Sarker et al., 2020).

 

Sianobakteri Arthrospira maxima, yang dikenal sebagai spirulina, merupakan alga hijau-biru yang kaya akan protein, asam lemak esensial, vitamin, dan mineral (Nuhu, 2013; Whitton, 2012). Penambahan A. maxima dalam pakan Oreochromis spp. dapat memberikan dampak positif terhadap laju pertumbuhan, efisiensi konversi pakan, serta fungsi sistem imun (Al-Deriny et al., 2020; El-Murr et al., 2014; Sarker et al., 2020; Trevi et al., 2023; Velasquez et al., 2016). Selain itu, penggunaan A. maxima sejalan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan, karena budidayanya dalam sistem tertutup dapat mengurangi pencucian nutrien dan meminimalkan dampak lingkungan dari pakan ikan konvensional (Naylor et al., 2021).

 

Arthrospira maxima juga dikenal sebagai sumber alami zat besi yang mudah diserap (bioavailable iron), yang berperan penting dalam pertumbuhan dan fungsi imun ikan. Suplementasi zat besi dalam pakan terbukti meningkatkan pertumbuhan, parameter hematologi, serta respons imun-antioksidan pada Oreochromis niloticus (Elabd et al., 2022), sehingga menunjukkan bahwa penambahan A. maxima dalam pakan berpotensi memberikan efek fisiologis yang serupa.

 

Modulasi ekspresi gen terkait sistem imun juga telah dilaporkan pada nila yang diberi berbagai senyawa bioaktif, seperti Leucas aspera, oksisiklodekstrin, dan bentonit (Kurian et al., 2021). Selain itu, antioksidan dalam pakan berperan penting dalam mengurangi stres oksidatif akibat kontaminan lingkungan. Senyawa allicin yang berasal dari bawang putih diketahui mampu meningkatkan mekanisme pertahanan antioksidan pada O. niloticus yang terpapar karbofuran (Hamed et al., 2021). Mengingat A. maxima mengandung fikosianin dan molekul antioksidan lainnya, penggunaannya dalam pakan berpotensi memberikan efek protektif serupa, sehingga memperkuat perannya sebagai bahan fungsional dalam pakan akuakultur.

 

Namun demikian, potensi penuh A. maxima sebagai sumber pakan untuk Oreochromis spp. masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Beberapa aspek penting yang perlu dikaji meliputi efek jangka panjang terhadap kesehatan ikan, pengembangan metode budidaya dan panen yang ekonomis, serta penerimaan konsumen terhadap ikan nila yang dibesarkan dengan pakan berbasis sianobakteri (Trevi et al., 2023).

 

Industri akuakultur, khususnya di wilayah seperti Kosta Rika, menghadapi tantangan signifikan terkait ketersediaan benih dan produksi pakan dalam pasar yang kompetitif. Produsen ikan seperti nila, trout, dan pangasius perlu mengadopsi teknologi baru untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan. Tantangan seperti peningkatan impor pakan, fluktuasi nilai tukar dolar, penangkapan ikan berlebih, perubahan iklim, dan pencemaran semakin menyulitkan produsen lokal untuk bersaing di pasar internasional (INCOPESCA, 2019).

 

Salah satu aspek krusial adalah kualitas pakan akuakultur. Saat ini belum tersedia pakan khusus untuk induk ikan (broodstock), sehingga diperlukan pakan berkadar protein tinggi yang meningkatkan biaya produksi. Penambahan mikroalga dalam pakan ikan diketahui dapat meningkatkan kualitas telur dan interval pemijahan (Lu & Takeuchi, 2004).

 

Manfaat fungsional spirulina terhadap kesejahteraan ikan dan keberlanjutan akuakultur juga telah dibuktikan, di mana suplementasi spirulina mampu menormalkan parameter darah dan serum yang terganggu akibat paparan CdCl₂ serta mengurangi stres oksidatif (Banaee et al., 2022). Dalam konteks ini, mikroalga Arthrospira sp. merupakan alternatif yang layak karena menyediakan sumber nutrien yang kaya sekaligus efek fungsional, dengan praktik budidaya berkelanjutan menggunakan limbah agroindustri, serta berkontribusi terhadap penyerapan CO₂ dan produksi oksigen (Habib et al., 2008).

 

Institut Teknologi Kosta Rika (Instituto Tecnológico de Costa Rica, ITCR) telah mengembangkan teknologi produksi mikroalga skala semi-massal dengan memanfaatkan limbah agroindustri sebagai substrat. Pendekatan ekonomi sirkular ini tidak hanya menghasilkan mikroalga berkualitas tinggi, tetapi juga meningkatkan kualitas air dan mengurangi jejak lingkungan (Poveda-Víquez et al., 2023; Villalta-Romero et al., 2019). Hal ini sejalan dengan tantangan global di bidang pangan, pertanian, dan kesehatan, serta berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Barkia et al., 2019).

 

Pemanfaatan biomassa A. maxima memberikan peluang yang menarik untuk meningkatkan keberlanjutan dan efisiensi produksi pangan, sekaligus menjawab tantangan lingkungan dan ketahanan pangan global (Gouveia et al., 2008).

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh A. maxima sebagai substituen pakan pada Oreochromis niloticus, dengan fokus pada kinerja pertumbuhan pada stadia larva dan benih (fry dan fingerlings), efisiensi konversi pakan, tingkat kelangsungan hidup, indeks patologis, serta komposisi nutrisi fillet.

 

METODOLOGI

 

Kultivasi dan Skala Produksi A. Maxima

 

Mikroalga Arthrospira maxima diperoleh dari koleksi strain di Laboratorium Bioenergi dan Mikroalga, Institut Teknologi Kosta Rika (ITCR). Proses kultivasi dilakukan mengacu pada metode yang dijelaskan oleh Rojas-Villalta et al. (2024). Secara ringkas, A. maxima (strain MT27) awalnya dikultur dalam medium cair Zarrouk, kemudian dipindahkan ke media agar untuk menghasilkan inokulan aksenik. Selanjutnya, kultur ditingkatkan skalanya secara bertahap ke dalam media cair menggunakan labu Erlenmeyer, diikuti oleh bioreaktor berkapasitas 18 L, dan akhirnya ke dalam tangki berkapasitas 1000 L dengan volume kerja 800 L.

 

Biomassa dipanen pada kecepatan 4200 rpm menggunakan separator Westfalia (SSD 606 007, GEA, Düsseldorf, Jerman) dengan interval pembuangan setiap 25 menit dan laju alir 1000 L/jam. Pasta biomassa yang dihasilkan (kadar air 85–90%) kemudian dikeringkan menggunakan metode spray drying dengan atomizer bertekanan (SPF-1500, Tiongkok) pada suhu 150 °C, sehingga diperoleh serbuk berwarna hijau dengan ukuran partikel sekitar 150 µm.

 

Komposisi Bahan dan Persiapan Pakan

 

Biomassa mikroalga dianalisis kandungan nutrisinya (Tabel 1). Formulasi pakan pada uji tahap pertama menggunakan pakan komersial sebagai kontrol (T0) serta empat perlakuan dengan tingkat substitusi A. maxima masing-masing sebesar 9% (T9), 15% (T15), 20% (T20), dan 25% (T25). Pakan disajikan dalam bentuk serbuk (ukuran sekitar 1,2–1,5 mm) setelah proses pencampuran. Produksi pakan komersial dilakukan di BELINA S.A, Kosta Rika, dalam kondisi terkontrol.

 

Pada uji tahap kedua (lanjutan), formulasi pakan disusun berdasarkan hasil awal uji tahap pertama, dengan mempertimbangkan komposisi proksimat mikroalga dan pakan dasar (Tabel 2), sehingga diperoleh pakan dengan kandungan protein (iso-proteik) dan lemak (iso-lipidik) yang setara.

 

Tabel 1. Komposisi nutrisi biomassa Arthrospira platensis berdasarkan bahan kering serta komposisi utama minyaknya

Nutrien

Nilai

Protein (Nx6,25) (g/100 g)

60,8 ± 3,5

Karbohidrat total (g/100 g)

25,7 ± 4,9

Kadar air (g/100 g)

6,13 ± 0,87

Lemak kasar (g/100 g)

0,915 ± 0,077

Lemak tak jenuh ganda (g/100 g)

24,9 ± 2,4

Lemak jenuh (g/100 g)

69,7 ± 6,6

Lemak tak jenuh tunggal (g/100 g)

5,40 ± 0,41

Abu (g/100 g)

6,43 ± 0,47

Kalsium (mg/100 g)

84 ± 14

Kalium (mg/100 g)

807 ± 120

Besi (mg/100 g)

52,3 ± 9,5

Fosfor (mg/100 g)

1017 ± 174

Tembaga (mg/100 g)

0,71 ± 0,17

Seng (mg/100 g)

4,74 ± 0,20

Natrium (mg/100 g)

617 ± 81

Nilai energi total (kJ/100 g)

1,484

Total karotenoid (ekuivalen β-karoten) (g/100 g)

0,211 ± 0,021

Total fikosianin (g/100 g)

9,20 ± 2,88

Ekuivalen vitamin A (mg/100 g)

17,62

Vitamin C (HPLC) (mg/100 g)

56,1 ± 5,1

Asam undekanoat C11:0 (g/100 g minyak)

43,2 ± 7,3

Asam palmitat C16:0 (g/100 g minyak)

23,5 ± 4,0

Asam palmitoleat C16:1 (g/100 g minyak)

1,63 ± 0,28

Asam stearat C18:0 (g/100 g minyak)

2,96 ± 0,50

Asam oleat C18:1 (g/100 g minyak)

3,77 ± 0,64

Asam linoleat C18:2 (omega-6) (g/100 g minyak)

12,2 ± 2,1

Asam gamma-linolenat C18:3 (omega-6) (g/100 g minyak)

12,7 ± 2,2

Keterangan:

Vitamin K, E, dan D tidak terdeteksi (<0,06 mg/100 g).

 

Tabel 2. Komposisi nutrisi pakan iso-proteik dan iso-lipidik untuk percobaan ikan nila pada kultur luar ruang. Pakan kontrol (T0) dan pakan substitusi dengan 9% spirulina (T9)

Nutrien

T0

T9

Protein (Nx6,25) (g/100 g)

36,2 ± 2,14

38,34 ± 2,26

Karbohidrat total (g/100 g)

40,2 ± 7,7

38,90 ± 7,45

Kadar air (g/100 g)

6,58 ± 0,96

6,54 ± 0,95

Lemak kasar (g/100 g)

8,85 ± 0,72

8,14 ± 0,66

Abu (g/100 g)

9,70 ± 0,71

9,41 ± 0,69

Kalsium (mg/100 g)

1760,01 ± 0,30

1609,16 ± 1,53

Kalium (mg/100 g)

1080,00 ± 0,16

1055,43 ± 10,95

Besi (mg/100 g)

25,0 ± 4,50

27,46 ± 4,95

Fosfor (mg/100 g)

1220 ± 210

1110 ± 207

Tembaga (mg/100 g)

1,27 ± 0,30

1,22 ± 0,29

Seng (mg/100 g)

7,99 ± 0,34

7,70 ± 0,33

Natrium (mg/100 g)

590,00 ± 78,00

592,43 ± 78,27

Nilai energi total (kJ/100 g)

1600

1589,56

Total karotenoid (mg/100 g)¹

0,40 ± 0,01

19,36 ± 1,90

Keterangan:

¹ Karotenoid dinyatakan sebagai ekuivalen β-karoten.

 

Uji Pakan

 

Uji pakan dilakukan dalam dua percobaan terpisah dengan kondisi dan lokasi yang berbeda. Ikan nila (Oreochromis niloticus) hasil pembalikan kelamin (sex-reversed) yang diproduksi di stasiun percobaan masing-masing lokasi digunakan dalam penelitian ini. Pakan dicampur dengan hormon 17-alfa-metiltestosteron dan alkohol, kemudian diberikan selama 27 hari. Setelah itu, pemberian pakan dihentikan selama 24 jam sebelum ikan dipindahkan ke unit percobaan.

 

Percobaan pertama bersifat pendahuluan untuk menentukan formulasi pakan pada percobaan kedua. Perlakuan pakan yang diuji meliputi T0, T15, T20, dan T25. Uji pakan pertama dilakukan di Stasiun Percobaan Los Diamantes, Institut Perikanan dan Akuakultur Kosta Rika (INCOPESCA), pada koordinat (10.2607, −83.7743). Percobaan dilaksanakan dalam sistem resirkulasi air tawar di dalam ruangan yang terdiri atas empat bak semen, masing-masing diperuntukkan bagi perlakuan tertentu.

 

Setiap perlakuan terdiri atas empat ulangan, sehingga total terdapat 12 unit percobaan. Setiap unit berupa keramba jaring (happa) berukuran 0,64 m³ yang terbuat dari jaring anti-afid (lubang 2 mm), dengan kepadatan 83 ekor ikan per bak. Air berasal dari mata air alami di Los Diamantes, Guápiles. Bobot awal larva ikan nila sekitar 0,02 g pada awal percobaan. Ikan diberi pakan uji secara manual tiga kali sehari hingga kenyang (apparent satiety) selama 60 hari. Pembuangan feses dilakukan secara kontinu sepanjang hari melalui proses pergantian air yang berlangsung terus-menerus.

 

Percobaan kedua (percobaan lapang) dilakukan di Finca Flores, Buenos Aires, Puntarenas, pada koordinat (9.2541, −83.2986). Pakan yang digunakan terdiri atas pakan kontrol (T0) dan pakan perlakuan dengan substitusi spirulina sebesar 9% (T9). Pakan T9 diformulasikan berdasarkan hasil percobaan sebelumnya dan dirancang agar kedua perlakuan memiliki kandungan protein dan lemak yang setara (isoproteik dan isolipidik).

 

Air dialirkan dari mata air alami di lokasi menuju dua kolam buatan terbuka dengan volume kerja 13 m³ (2 × 10 × 0,65 m) dan kemiringan 0,5% menuju saluran pembuangan. Pada setiap kolam diterapkan satu jenis perlakuan pakan, dengan tiga unit happa (200 × 3000 × 60 cm) yang dibuat dari jaring anti-afid sebagai unit percobaan. Setiap happa diisi 100 ekor benih ikan nila (unit percobaan) dengan bobot awal sekitar 0,8 g.

 

Percobaan berlangsung selama 120 hari, dari September hingga Desember 2023. Setelah 50 hari, jaring diganti dengan ukuran lubang 2 cm untuk memungkinkan pembuangan limbah yang lebih besar seiring pertumbuhan ikan. Aerasi dilakukan melalui sistem aliran air bertingkat (cascading water) pada setiap keramba. Untuk mencegah predasi dan menghindari ikan meloncat keluar, kolam ditutup menggunakan jaring insang (gill net) berukuran 1 inci. Pemantauan rutin terhadap kualitas air, meliputi suhu, pH, oksigen terlarut, dan nitrogen, dilakukan sepanjang percobaan.

 

Pengambilan Sampel dan Analisis

 

Pada akhir percobaan kedua, sebanyak 10 ekor ikan per happa dimatikan secara humanis menggunakan metode kejutan air dingin, sesuai dengan protokol yang disetujui oleh Institutional Animal Care and Use Committee di Universitas Kosta Rika (CICUA-049–2022). Bagian usus proksimal (±5 cm dari lambung) diambil dan difiksasi dalam formalin 10% kualitas histologis.

 

Setelah fiksasi, preparat usus diamati menggunakan mikroskop cahaya, dan lipatan usus (3 lipatan per sampel) diukur menggunakan perangkat lunak analisis citra (ImageJ). Untuk analisis komposisi karkas (mineral), digunakan metode AOAC, yaitu natrium (985.35), kalsium (991.25), kalium (985.35), dan besi (999.11).

 

Analisis protein dilakukan dengan metode Bradford. Sampel jaringan diliofilisasi dan dilarutkan dalam 5 mL air suling. Selanjutnya, 0,5 mL larutan diencerkan sebanyak 10 kali. Tiga alikuot masing-masing 50 μL (larutan stok terencerkan, blanko/larutan ekstraksi, dan ekstrak) dimasukkan ke dalam mikrotabung 1 mL. Kemudian ditambahkan 250 μL reagen Bradford (Sigma Aldrich), dan dilakukan pengukuran secara spektrofotometri.

 

Untuk analisis profil lipid, digunakan sampel komposit dari tiga ulangan yang dianalisis melalui hidrolisis asam dan ekstraksi eter. Analisis dilakukan menggunakan kromatografi gas (GC-FID) berdasarkan metode AOCS 996.06 dan AOAC Ce 1e-91 (P-SA-MQ-034).

 

Prosedur Analitik dan Perhitungan

 

Teknik analisis standar digunakan untuk mengolah sampel yang dikumpulkan. Kandungan protein, lipid, kadar air, dan abu pada sampel karkas ditentukan menggunakan metode baku. Hasil ini digunakan untuk menghitung komposisi nutrisi pakan percobaan serta mengevaluasi pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan.

 

Parameter pertumbuhan, seperti pertambahan bobot, laju pertumbuhan spesifik, rasio konversi pakan, dan tingkat kelangsungan hidup, dihitung menggunakan rumus standar (Suhaimi et al., 2022). Berdasarkan data bobot ikan, dilakukan pemodelan untuk memprediksi pertumbuhan menggunakan persamaan kurva pertumbuhan Pearl. Nilai parameter diestimasi menggunakan metode kuadrat terkecil nonlinier (nonlinear least squares) dengan bantuan perangkat lunak Excel 18.0.

 

dimana:

L: merepresentasikan bobot maksimum yang diharapkan (600 g),

a: parameter model yang menyesuaikan kurva terhadap data pertumbuhan ikan (b sebagai parameter perlambatan pertumbuhan),

Periode: mencerminkan umur ikan dalam bulan.

Analisis statistik dilakukan untuk menguji signifikansi perbedaan antarperlakuan dengan membandingkan parameter produksi menggunakan analisis varians (ANOVA) melalui perangkat lunak Minitab versi 21.1.0.

 

Analisis Biaya Produksi Ikan Nila dengan Substitusi Spirulina 9%

 

Waktu yang diproyeksikan untuk mencapai bobot target 450 g ditentukan menggunakan persamaan kurva Pearl yang telah disesuaikan dengan pola pertumbuhan ikan nila pada kondisi nutrisi yang berbeda. Analisis ini didasarkan pada data yang diperoleh dari INCOPESCA dan distributor pakan ikan nila lokal (Tabel 3).

Perhitungan dilakukan menggunakan mata uang lokal (kolon), dengan nilai konversi sebesar 550 kolon per 1 dolar Amerika Serikat (USD).

 

Tabel 3. Data dan asumsi untuk analisis biaya produksi ikan nila dengan substitusi pakan mengandung 9% spirulina

Parameter

Nilai (CRC/USD)

Harga jual ikan nila

4.000 kolon/kg (7,27 USD)

Harga spirulina kering murni

13.000 kolon/kg (23,64 USD)

Biaya spirulina 9% dalam pakan

1.170 kolon/kg (2,13 USD)

Total konsumsi pakan dalam 40 minggu

97,02 kg untuk 100 ekor ikan

Rincian biaya pakan

− 50 hari pertama (0 × 0 mm, protein 40%)

34.000 kolon per 30 kg (61,82 USD)

− Hari ke-51 hingga 115 (2 × 2 mm, protein 38%)

30.000 kolon per 30 kg (54,55 USD)

− Hari ke-116 hingga 185 (4 × 4 mm, protein 32%)

29.800 kolon per 30 kg (54,18 USD)

− Hari ke-186 hingga 322 (6 × 6 mm, protein 28%)

21.050 kolon per 30 kg (38,27 USD)

Tingkat kelangsungan hidup dengan spirulina (T9)

100%

Tingkat kelangsungan hidup tanpa spirulina

88%

Biaya tenaga kerja

12.000 kolon per hari untuk 3 jam (21,82 USD)

 

HASIL

 

Percobaan pertama pemberian pakan pada benih ikan nila yang dilakukan di dalam ruangan dipertahankan pada suhu 26 °C selama periode 60 hari. Analisis varians (ANOVA) terhadap rasio konversi pakan (feed conversion ratio, FCR) menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan (p > 0,1). Namun demikian, terdapat kecenderungan penurunan nilai FCR dengan penambahan mikroalga dalam pakan.

 

Inklusi mikroalga juga menghasilkan tingkat mortalitas yang lebih rendah, di mana pakan dengan kandungan 15% mikroalga menunjukkan tingkat mortalitas terendah (p > 0,001) (Tabel 4). Hasil ini menjadi dasar penentuan tingkat inklusi spirulina pada percobaan kedua.

 

Percobaan sebelumnya dengan penambahan mikroalga hingga 3% dalam pakan juga dilaporkan mampu menurunkan mortalitas benih ikan nila (O. niloticus) selama 30 hari pertama pemeliharaan (data tidak ditampilkan).

 

Tabel 4. Parameter produksi ikan nila (Oreochromis niloticus) pada kondisi pemeliharaan dalam ruangan, umur 0–60 hari

Parameter

T0

T15

T20

T25

Bobot awal (g/ekor)

0,02 ± 0,01

0,02 ± 0,01

0,02 ± 0,01

0,02 ± 0,01

Bobot akhir (g/ekor)

9,73 ± 1,98

12,11 ± 1,02

11,31 ± 0,72

12,93 ± 6,58

Pertambahan bobot (g/ekor)

8,07 ± 1,98

12,07 ± 1,02

11,29 ± 0,72

12,91 ± 6,58

Rasio konversi pakan (FCR)

1,69 ± 0,36

1,32 ± 0,12

1,41 ± 0,09

1,54 ± 0,86

Kelangsungan hidup (%)ᵃ

63,45 ± 15,58ᵇ

82,68 ± 11,55ᵃ

58,15 ± 6,08ᵇ

47,15 ± 1,90ᵇ

Keterangan:

ᵃ Huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang signifikan antarperlakuan (p < 0,05).

 

Pada percobaan kedua yang dilakukan pada kondisi luar ruang, parameter kualitas air dalam sistem budidaya semi-intensif ikan nila (Oreochromis niloticus) menunjukkan kondisi termal yang stabil, sebagaimana ditunjukkan oleh suhu yang relatif konsisten antara kelompok kontrol (T0) dan kelompok pakan substitusi (T9).

 

Tidak ditemukan perbedaan pada nilai pH maupun kadar oksigen terlarut, yang tetap relatif stabil pada kedua kelompok perlakuan. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi pH dan tingkat oksigenasi berada pada kisaran yang memadai untuk mendukung kehidupan dan pertumbuhan organisme akuatik (Tabel 5).

 

Tabel 5. Kualitas air pada sistem budidaya semi-intensif ikan nila (Oreochromis niloticus) selama empat bulan (September–Desember) percobaan pakan. Pakan kontrol (T0) dan pakan substitusi dengan 9% spirulina (T9)

Variabel

T0

T9

Suhu (°C)

25,27 ± 1,25

25,34 ± 1,34

pH

6,73 ± 0,31

6,48 ± 0,39

Oksigen terlarut (mg L⁻¹)

8,3 ± 3,6

8,0 ± 3,5

Amonium (mg L⁻¹)

1,3 ± 0,5

1,7 ± 0,5

Nitrat (mg L⁻¹)

<10 ± 0,5

<10 ± 0,5

 

Hasil

 

Analisis rasio konversi pakan (feed conversion ratio, FCR) menunjukkan bahwa pada pakan kontrol, laju pertumbuhan relatif terhadap konsumsi pakan lebih rendah selama periode percobaan 120 hari (Gambar 1).

 

Pada perlakuan spirulina, untuk menghasilkan 1 kg biomassa ikan nila utuh pada umur 160 hari (40 hari fase prapembesaran benih dan 120 hari fase percobaan pakan), diperlukan pakan sebesar 1,59 kg. Nilai ini lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan pakan kontrol yang membutuhkan 2,22 kg pakan.

 

Namun demikian, perbedaan ini tidak menunjukkan signifikansi statistik pada tingkat kepercayaan 95% (p > 0,05) (Tabel 6).

Gambar 1. Kurva pertumbuhan bobot ikan nila (Oreochromis niloticus) berdasarkan model logistik Pearl, yang diproyeksikan hingga bobot target 600 g. Garis penuh merepresentasikan bobot hasil proyeksi, sedangkan penanda menunjukkan data hasil percobaan ± simpangan baku (SD) (n = 90).

 

Tabel 6. Parameter produksi ikan nila (Oreochromis niloticus) pada kondisi pemeliharaan luar ruang, umur 0–160 hari. Pakan kontrol (T0) dan pakan substitusi dengan 9% spirulina (T9)

Parameter

T0

T9

Bobot awal (g/ekor)

0,8 ± 0,05

0,8 ± 0,05

Bobot akhir (g/ekor)

50,38 ± 18,48

69,70 ± 22,73

Pertambahan bobot (g/ekor)

49,58 ± 10,26

69,17 ± 12,70

Rasio konversi pakan (FCR)

2,22 ± 0,41

1,59 ± 0,31

Kelangsungan hidup (%)ᵃ

88 ± 5,29ᵇ

100 ± 0,00ᵃ

Panjang lipatan usus proksimal (µm)

611,70 ± 107,07

600,03 ± 105,34

Keterangan:

ᵃ Huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang signifikan antarperlakuan (p < 0,05).

 

Pertumbuhan ikan diproyeksikan menggunakan bobot sebagai variabel dalam model logistik Pearl. Perlakuan spirulina (T9) menunjukkan bahwa bobot populasi ikan lebih cepat mendekati batas maksimum dibandingkan dengan kelompok kontrol (T0).

 

Pengaruh spirulina terhadap pertumbuhan terlihat lebih nyata pada fase awal, namun kemudian mengalami perlambatan (deceleration) yang lebih cepat dibandingkan dengan kelompok kontrol (Tabel 7).

 

Tabel 7. Parameter, estimasi, dan galat baku model Pearl untuk pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus)

Pakan

L (g)

aᶜ

bᶜ

SSE

T0

600

169,7430

0,5214

745.786,70

0,78

T9

600

177,4267

0,6242

1.262.279,27

0,88

Keterangan:

ᶜ Parameter a dan b merupakan parameter dalam fungsi pertumbuhan.

 

Lebih lanjut, nilai jumlah kuadrat galat (sum of squares due to error, SSE) lebih besar pada perlakuan pakan mikroalga (T9), yang menunjukkan adanya variabilitas yang tidak terjelaskan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Meskipun demikian, nilai koefisien determinasi (R²) pada perlakuan T9 lebih tinggi, yang mengindikasikan bahwa model memberikan kecocokan (fit) yang lebih baik terhadap data pada perlakuan spirulina dibandingkan dengan data pada kelompok kontrol.

 

Kandungan protein pada ikan nila tanpa isi perut (eviscerated) menunjukkan persentase yang relatif serupa pada kedua perlakuan pakan, tanpa perbedaan yang signifikan secara statistik (p > 0,05) pada tingkat kepercayaan 95%.

 

Sementara itu, berdasarkan konsentrasi ekstrak hasil hidrolisis asam, perlakuan spirulina menghasilkan akumulasi lemak yang lebih rendah pada daging ikan nila dibandingkan dengan kelompok kontrol (p < 0,05), tanpa memengaruhi profil lipid (Tabel 8).

 

Tabel 8. Kandungan protein, lemak, dan mineral pada daging ikan nila (umur 160 hari): pakan kontrol (T0) vs. pakan substitusi spirulina 9% (T9)

Nutrien

T0

T9

Protein (g/100 g)

16,42 ± 0,35

17,57 ± 0,48

Lemak (g/100 g)ᵃ

7,67 ± 0,31ᵃ

6,24 ± 0,20ᵇ

Lemak tak jenuh ganda (g/100 g dalam lemak)

17,07 ± 1,93

17,82 ± 1,77

Lemak tak jenuh tunggal (g/100 g dalam lemak)

47,85 ± 4,49

47,51 ± 3,69

Lemak jenuh (g/100 g dalam lemak)

35,07 ± 4,17

34,67 ± 3,21

Natrium (mg/100 g)

90 ± 18

91 ± 18

Kalsium (mg/100 g)

526 ± 54

562 ± 58

Kalium (mg/100 g)

224 ± 25

221 ± 24

Besi (mg/100 g)

1,51 ± 0,21

1,54 ± 0,21

Keterangan:

ᵃ Huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang signifikan antarperlakuan (p < 0,05).

 

Analisis ester lipid tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara perlakuan pakan. Asam lemak yang paling dominan adalah asam oleat (C18:1), asam palmitat (C16:0), dan asam linoleat (C18:2), yang secara bersama-sama menyumbang sekitar 78% dari total komposisi minyak.

 

Asam alfa-linolenat (ALA, C18:3) merupakan satu-satunya asam lemak omega-3 yang terdeteksi dalam profil tersebut, dengan konsentrasi sekitar 1% (Gambar 2).

 

Gambar 2. Komposisi persentase asam lemak dari ekstrak hasil hidrolisis asam pada daging ikan nila (Oreochromis niloticus) umur 160 hari, yang diberi pakan kontrol (T0) dan pakan substitusi dengan 9% spirulina (T9).

 

Proyeksi Analisis Biaya Produksi Ikan Nila dengan Substitusi Spirulina 9%

 

Analisis biaya yang didasarkan pada proyeksi pertumbuhan bobot ikan nila (Oreochromis niloticus) hingga mencapai 450 g (rata-rata bobot jual) menunjukkan bahwa substitusi pakan dengan spirulina layak secara ekonomi.

 

Total biaya pakan untuk 100 ekor ikan tanpa spirulina selama 40 minggu adalah sekitar 476.104 CRC (864,74 USD), sedangkan penambahan spirulina (9% dalam pakan) sedikit meningkatkan biaya menjadi 476.218 CRC (864,96 USD). Hal ini menunjukkan adanya tambahan biaya sebesar 1.170 CRC (2,13 USD) per kilogram pakan dengan kandungan mikroalga 9%.

 

Meskipun demikian, penggunaan spirulina mampu mengurangi waktu yang dibutuhkan ikan nila untuk mencapai bobot panen (450 g) sebesar 1,9 bulan, yaitu dari 12 bulan pada perlakuan kontrol menjadi 10,1 bulan pada perlakuan dengan spirulina.

 

Pengurangan waktu pemeliharaan ini menghasilkan penghematan yang signifikan dalam biaya operasional dan tenaga kerja:

  • Penghematan biaya pakan dasar: sebesar 20.683,73 CRC (37,61 USD) sebagai akibat dari pemendekan periode pertumbuhan.
  • Penghematan biaya tenaga kerja: sebesar 177.876 CRC (323,41 USD).
  • Nilai tambahan dari peningkatan tingkat kelangsungan hidup: sebesar 36.000 CRC (65,45 USD) akibat peningkatan jumlah ikan yang bertahan hidup.

 

Analisis ekonomi pada skala produksi 100 ekor ikan nila menunjukkan keuntungan bersih sekitar 121.046,33 CRC (220,08 USD), dengan mempertimbangkan tambahan biaya spirulina, penghematan pakan dan tenaga kerja, serta peningkatan pendapatan akibat tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi. Untuk menutupi tambahan biaya spirulina sebesar 113.513,40 CRC (206,39 USD), diperlukan sekitar 94 ekor ikan agar investasi spirulina menjadi menguntungkan dalam kondisi yang diasumsikan. Dengan demikian, penggunaan spirulina dalam pakan dapat dinyatakan layak secara ekonomi, bahkan untuk pembudidaya skala kecil, selama manfaat tambahan dan penghematan yang dihitung tetap konsisten.

 

PEMBAHASAN

 

Biomassa Arthrospira platensis yang digunakan dalam penelitian ini memiliki komposisi nutrisi yang masih berada dalam kisaran normal sebagaimana dilaporkan sebelumnya (Allen, 2016; Poveda-Víquez et al., 2023). Namun demikian, kandungan protein tercatat lebih dari 60%, sementara kadar lemak tetap di bawah 1%, berbeda dengan beberapa studi serupa (Abo El-Ward et al., 2016; Al Mahrouqi et al., 2023; Madkour et al., 2012). Pakan dasar (kontrol) telah memenuhi proporsi nutrisi yang direkomendasikan untuk benih ikan nila (Montanhini Neto & Ostrensky, 2015). Substitusi spirulina sebesar 9% tidak memberikan dampak negatif terhadap kandungan protein kasar, lipid, kadar air, maupun abu dalam pakan, namun secara nyata meningkatkan kandungan total karotenoid.

 

Tingkat substitusi yang lebih tinggi, bahkan hingga 30%, tidak menyebabkan penurunan kandungan nutrien dalam pakan (Velasquez et al., 2016). Akan tetapi, diperkirakan bahwa substitusi di atas 40% dapat menurunkan kadar asam amino esensial seperti metionin dan lisin, yang masing-masing dibutuhkan sekitar 0,5% dan 1,5% dalam pakan (Balakamatchi et al., 2022; Torres-Novoa & Hurtado-Nery, 2012). Hal ini dapat terjadi meskipun biomassa mikroalga mengandung kedua asam amino tersebut dalam jumlah yang memadai (Poveda-Víquez et al., 2023), dan berpotensi memengaruhi pertumbuhan ikan.

 

Pada percobaan pertama, kinerja produksi dan tingkat kelangsungan hidup ikan nila meningkat ketika A. maxima ditambahkan sebesar 15% dalam pakan. Namun, tingkat kelangsungan hidup menurun secara signifikan pada tingkat inklusi mikroalga yang lebih tinggi. Inklusi di atas 30% menunjukkan tren negatif terhadap pertumbuhan dan efisiensi pakan (Rincón et al., 2012; Velasquez et al., 2016). Hasil ini dibandingkan dengan penelitian Abo El-Ward et al. (2016) yang menggunakan ikan nila juvenil dengan umur yang sama selama 57 hari. Dalam penelitian ini, nilai rasio konversi pakan (FCR) lebih rendah (yang menunjukkan produktivitas lebih baik), kemungkinan disebabkan oleh kandungan protein pakan yang lebih tinggi (sekitar 7%) dibandingkan dengan penelitian tersebut.

 

Hasil produktivitas (FCR) pada percobaan kedua menunjukkan pola yang serupa dengan percobaan pertama. Penurunan kadar biomassa mikroalga sebesar 6% (dari 15% menjadi 9%) tidak mengubah tren peningkatan produktivitas yang diamati pada percobaan pendahuluan.

 

Penurunan tingkat mortalitas juga diamati pada kelompok ikan yang diberi pakan mengandung spirulina. Efek ini diduga berkaitan dengan kandungan molekul fungsional seperti karotenoid dan fikosianin yang terdapat dalam konsentrasi tinggi pada biomassa A. maxima. Berbagai strain nila merah dan spesies ikan lainnya menunjukkan peningkatan pertumbuhan, pigmentasi, dan tingkat kelangsungan hidup ketika diberi ekstrak karotenoid (Judan Cruz et al., 2021; Rashidian et al., 2021; Velasco et al., 2018). Selain itu, Rashidian et al. (2021) juga menunjukkan bahwa variasi dosis karotenoid dan sumber cahaya memengaruhi pertumbuhan serta performa reproduksi ikan pedang (Xiphophorus helleri), yang menegaskan pentingnya karotenoid dalam fisiologi ikan.

 

Penurunan kandungan lemak pada daging ikan yang diberi pakan dengan inklusi A. maxima juga berkaitan dengan kandungan polifenol dalam mikroalga tersebut (Velasquez et al., 2016). Beberapa polifenol, seperti fikosianin, diketahui meningkatkan aktivitas lipolitik serta enzim pencernaan usus, termasuk kimotripsin, tripsin, lipase, dan amilase, ketika ditambahkan dalam pakan (50 mg/kg) (Hassaan et al., 2021). Perbaikan struktur histologis usus dan hati pada O. niloticus juga telah dilaporkan pada ikan yang diberi pakan dengan tambahan 0,15% fikosianin (El-Araby et al., 2022), dan tinggi vili usus (panjang lipatan usus) yang dilaporkan dalam penelitian sebelumnya sejalan dengan hasil penelitian ini (El-Araby et al., 2022; Margaret et al., 2021).

 

Model Pearl yang digunakan dalam penelitian ini mampu memprediksi produktivitas O. niloticus (bobot ikan terhadap waktu) dengan baik (Fuentes-Andraca et al., 2023; Lugert et al., 2016; Oliveira Zardin et al., 2019; Santos et al., 2019; Santos et al., 2013; Sun & Wang, 2024), yang menunjukkan bahwa model logistik tersebut memiliki kecocokan yang baik. Meskipun data eksperimental juga dapat mengikuti kurva eksponensial, model tersebut memiliki keterbatasan dalam memprediksi pertumbuhan jangka panjang. Oleh karena itu, model eksponensial lebih sesuai untuk menggambarkan pertumbuhan jangka pendek dibandingkan keseluruhan siklus pertumbuhan (Santos et al., 2013).

 

Bobot akhir benih ikan nila setelah 7 minggu pemberian pakan dalam kondisi budidaya lapang sejalan dengan penelitian sebelumnya (rata-rata 32,67 ± 3,02 g) (Maghawri et al., 2023). Namun, jika dibandingkan dengan standar komersial lokal berdasarkan model logistik termodifikasi (model Gompertz) dengan parameter umum (W = 900 g, k = 0,12, t₀ = 4 bulan), ikan nila jantan hasil pembalikan kelamin dapat mencapai bobot 450 g dalam waktu sekitar 7,05 bulan (Lugert et al., 2016; Oliveira Zardin et al., 2019).

 

Waktu yang lebih lama dalam penelitian ini diduga disebabkan oleh sistem pemeliharaan dalam happa dengan kepadatan tebar tertentu, yang ditunjukkan oleh penurunan tingkat kelangsungan hidup dan bobot rata-rata akhir seiring meningkatnya biomassa per unit. Hasil ini mendukung perlunya periode pemeliharaan yang lebih panjang, hingga sekitar 10 bulan dibandingkan 7 bulan, untuk mencapai bobot target rata-rata 450 g per ekor (Fuentes-Andraca et al., 2023; Yi & Kwei Lin, 2001).

 

Analisis biaya menunjukkan bahwa pembudidaya skala kecil dapat menerapkan pakan yang dikaji dalam penelitian ini secara ekonomis untuk meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dan keuntungan bersih dalam kegiatan akuakultur selama periode 10 bulan. Substitusi 20% protein dengan tepung A. platensis dalam pakan ikan nila terbukti efektif dalam meningkatkan pertumbuhan dan lebih efisien secara biaya pada benih ikan nila (Oreochromis niloticus) dalam kondisi percobaan, dengan harga pakan formulasi yang lebih rendah yaitu sekitar 0,07 USD/kg (Abo El-Ward et al., 2016), dibandingkan dengan 3,94 USD/kg pada penelitian ini.

 

KESIMPULAN

 

Pengembangan dan validasi pakan alternatif untuk ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan mengintegrasikan spirulina sebagai substituen parsial pakan berbasis hewani merupakan langkah penting dalam mendorong keberlanjutan industri akuakultur.

 

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan tersebut layak secara teknis maupun ekonomis, serta memberikan manfaat langsung berupa penurunan dampak lingkungan dan potensi peningkatan kesehatan serta pertumbuhan ikan.

 

Ke depan, adopsi teknologi ini berpotensi berkontribusi terhadap penurunan jejak karbon dalam produksi ikan nila secara jangka panjang, sekaligus meningkatkan profitabilitas bagi pembudidaya skala kecil dan mendorong penerapan praktik budidaya yang lebih berkelanjutan secara luas di industri akuakultur.


 REFERENSI

  1. Abo El-Ward, A., Eid, A.E., Mohamed, K.A., Abd-elfattah, B., & Hasan, M.A. (2016). Growth performance of Nile tilapia (Oreochromis niloticus) fingerlings fed diet supplemented with different levels of Spirulina platensis. Egyptian Journal of Animal Production, 53(3), 181–190. https://doi.org/10.21608/ejap.2016.93305
  2. Al Mahrouqi, H., Dobretsov, S., & Abdala-Daz, R.T. (2023). The effect of Spirulina (Arthrospira platensis) feed supplement on proteins, lipids, carbohydrates, and microbiota of juvenile Nile tilapia (Oreochromis niloticus). Applied Environmental Biotechnology, 8(1), 1–8. https://doi.org/10.26789/AEB.2023.01.001
  3. Al-Deriny, S.H., Dawood, M.A.O., Zaid, A.A.A., El-Tras, W.F., Paray, B.A., Van Doan, H., & Mohamed, R.A. (2020). The synergistic effects of Spirulina platensis and Bacillus amyloliquefaciens on growth performance, intestinal histomorphology, and immune response of Nile tilapia (Oreochromis niloticus). Aquaculture Reports. https://doi.org/10.1016/j.aqrep.2020.100390
  4. Allen, K. (2016). Evaluating Spirulina as a protein source in Nile tilapia (Oreochromis niloticus) grow-out diets. http://hdl.handle.net/1974/14452
  5. Balakamatchi, T., Aparna, S.M.T., & Ramabhai, V. (2022). Nutritional requirement of Nile tilapia (Oreochromis niloticus) in a commercial farm: A review. International Journal of Zoological Investigations, 8(2). https://doi.org/10.33745/ijzi.2022.v08i02.006
  6. Banaee, M., Impellitteri, F., Evaz-Zadeh Samani, H., Piccione, G., & Faggio, C. (2022). Dietary Arthrospira platensis in rainbow trout (Oncorhynchus mykiss): A means to reduce threats caused by CdCl₂ exposure? Toxics, 10(12), 731. https://doi.org/10.3390/toxics10120731
  7. Barkia, I., Saari, N., & Manning, S.R. (2019). Microalgae for high-value products towards human health and nutrition. Marine Drugs, 17(5), 304. https://doi.org/10.3390/md17050304
  8. Costa Rican Institute of Fishery and Aquaculture. (2019). Strategic Plan for Aquaculture INCOPESCA 2019–2023. INCOPESCA. https://www.infoagro.go.cr/Documents/Plan_Estrategico_Acuicultura_Costa_Rica_2019-2023.pdf
  9. Elabd, H., Youssuf, H., Mahboub, H.H., Salem, S.M.R., Husseiny, W.A., Khalid, A., El-Desouky, H.S., & Faggio, C. (2022). Growth, hemato-biochemical, immune-antioxidant response, and gene expression in Nile tilapia (Oreochromis niloticus) receiving nano iron oxide-incorporated diets. Fish & Shellfish Immunology, 128, 574–581. https://doi.org/10.1016/j.fsi.2022.07.051
  10. El-Araby, D.A., Amer, S.A., Attia, G.A., Osman, A., Fahmy, E.M., Altohamy, D.E., Alkafafy, M., Elakkad, H.A., & Tolba, S.A. (2022). Dietary Spirulina platensis phycocyanin improves growth, tissue histoarchitecture, and immune responses in Nile tilapia (Oreochromis niloticus). Aquaculture, 546, 737413. https://doi.org/10.1016/j.aquaculture.2021.737413
  11. El-Murr, A., Elhakim, A., & El-Sayed, M. (2014). Effect of spirulina-enriched diet on growth and health of Oreochromis niloticus and protection against Aeromonas hydrophila. Abbassa International Journal of Aquaculture, 7(2), 475–489.
  12. Fuentes-Andraca, V.H., Araneda-Padilla, M.E., Domínguez-May, R., Gullian-Klanian, M., Marin-Coria, E.J., Quintana-Casares, J.C., Peñalosa-Martinell, D., & Ponce-Díaz, G. (2023). Modeling Nile tilapia heterogeneous growth under different stocking densities. Aquaculture Research, 2023, 1–18. https://doi.org/10.1155/2023/9347654
  13. Gouveia, L., Batista, A.P., Sousa, I., Raymundo, A., & Bandarra, N.M. (2008). Microalgae in novel food products. In K.N. Papadopoulos (Ed.), Food Chemistry Research Developments (pp. 75–112). Nova Science Publishers Inc.
  14. Habib, M.A.B., Parvin, M., Huntington, T.C., & Hasan, M.R. (2008). A review of culture, production and use of Spirulina as food for humans and feeds for domestic animals and fish. FAO Fisheries and Aquaculture Circular No. 1034. FAO.
  15. Hamed, H.S., Ismail, S.M., & Faggio, C. (2021). Effect of allicin on antioxidant defense system and immune response after carbofuran exposure in Nile tilapia (Oreochromis niloticus). Comparative Biochemistry and Physiology Part C: Toxicology & Pharmacology, 240, 108919. https://doi.org/10.1016/j.cbpc.2020.108919
  16. Hassaan, M.S., Mohammady, E.Y., Soaudy, M.R., Sabae, S.A., Mahmoud, A.M.A., & El-Haroun, E.R. (2021). Comparative study on dietary β-carotene and phycocyanin from Spirulina platensis in Nile tilapia (Oreochromis niloticus). Fish & Shellfish Immunology, 108, 63–72. https://doi.org/10.1016/j.fsi.2020.11.012
  17. Judan Cruz, K.G., Landingin, E.P., Gajeton, M.B., Fernando, S.I.D., & Watanabe, K. (2021). Carotenoid coloration and gene expression in red tilapia (Oreochromis sp.). BMC Veterinary Research, 17(1), 1–9. https://doi.org/10.1186/s12917-021-03006-5
  18. Kassem, T., Shahrour, I., El Khattabi, J., & Raslan, A. (2021). Smart and sustainable aquaculture farms. Sustainability, 13(19), 10685. https://doi.org/10.3390/su131910685
  19. Kurian, A., Lakshmi, S., Fawole, F.J., Faggio, C., & Elumalai, P. (2021). Combined effects of plant extracts and additives on Nile tilapia (Oreochromis niloticus). Turkish Journal of Fisheries and Aquatic Sciences, 21(3), 147–158. https://doi.org/10.4194/1303-2712-V21_3_05
  20. Lu, J., & Takeuchi, T. (2004). Spawning and egg quality of Nile tilapia fed Spirulina across generations. Aquaculture, 234(1–4), 625–640. https://doi.org/10.1016/j.aquaculture.2003.12.027
  21. Lugert, V., Thaller, G., Tetens, J., Schulz, C., & Krieter, J. (2016). Fish growth calculation methods in aquaculture. Reviews in Aquaculture, 8(1), 30–42. https://doi.org/10.1111/raq.12071
  22. Madkour, F.F., Kamil, A.-E.-W., & Nasr, H.S. (2012). Production and nutritive value of Spirulina platensis. Egyptian Journal of Aquatic Research, 38(1), 51–57. https://doi.org/10.1016/j.ejar.2012.09.003
  23. Maghawri, A., Marzouk, S.S., Ezz El-Din, H.M., & Nashaat, M. (2023). Brown algae as dietary supplement in Nile tilapia culture. Egyptian Journal of Aquatic Research, 49(3), 379–385. https://doi.org/10.1016/j.ejar.2023.03.001
  24. Mahmoud, M.M.A., El-Lamie, M.M.M., Kilany, O.E., & Dessouki, A.A. (2018). Spirulina supplementation improves growth and immunity in Nile tilapia. Fish & Shellfish Immunology, 72, 291–300. https://doi.org/10.1016/j.fsi.2017.11.006
  25. Margaret, A., Euglance, G.M., & Racheal, N. (2021). Effects of phytogenic additives on intestinal histomorphology of Nile tilapia. Scientific African, 12, e00750. https://doi.org/10.1016/j.sciaf.2021.e00750
  26. Montanhini Neto, R., & Ostrensky, A. (2015). Evaluation of commercial feeds for Nile tilapia production. Aquaculture Nutrition, 21(3), 311–320. https://doi.org/10.1111/anu.12154
  27. Naylor, R.L., Hardy, R.W., Buschmann, A.H., Bush, S.R., Cao, L., Klinger, D.H., Little, D.C., Lubchenco, J., Shumway, S.E., & Troell, M. (2021). A 20-year review of global aquaculture. Nature, 591(7851). https://doi.org/10.1038/s41586-021-03308-6
  28. Nuhu, A.A. (2013). Spirulina (Arthrospira) as a source of nutritional and medicinal compounds. Journal of Marine Biology, 2013. https://doi.org/10.1155/2013/325636
  29. Oliveira Zardin, A.M.S., de Oliveira, C.A.L., de Oliveira, S.N., Yoshida, G.M., de Albuquerque, D.T., de Campos, C.M., & Ribeiro, R.P. (2019). Growth curves of Nile tilapia using Gompertz model. Aquaculture, 511, 734243. https://doi.org/10.1016/j.aquaculture.2019.734243
  30. Poveda-Víquez, G., Villalta-Romero, F., Murillo-Vega, F., Guerrero-Barrantes, M., & Salas-Durán, C. (2023). Effects of Arthrospira maxima in poultry diets. Brazilian Journal of Poultry Science, 25(4). https://doi.org/10.1590/1806-9061-2022-1753
  31. Rashidian, G., Rainis, S., Prokić, M.D., & Faggio, C. (2021). Effects of carotenoids and light on fish growth and reproduction. Natural Product Research, 35(21), 3675–3686. https://doi.org/10.1080/14786419.2020.1723091
  32. Rincón, D.D., Velásquez, H.A., Dávila, M.J., Semprun, A.M., Morales, E.D., & Hernández, J.L. (2012). Replacement of fish meal with Arthrospira maxima in tilapia diets. Revista Colombiana de Ciencias Pecuarias, 25(3), 430–437.
  33. Rojas-Villalta, D., Gómez-Espinoza, O., Guillén-Watson, R., Murillo-Vega, F., Villalta-Romero, F., Vaquerano-Pineda, F., Chicas, M., Guerrero, M., & Núñez-Montero, K. (2024). Impact of Arthrospira maxima on tilapia gut microbiota. Fishes, 9(10), 374. https://doi.org/10.3390/fishes9100374
  34. Santos, V.B., Mareco, E.A., & Silva, M.D.P. (2013). Growth curves of Nile tilapia under different temperatures. Acta Scientiarum. Animal Sciences, 35(3), 235–242. https://doi.org/10.4025/actascianimsci.v35i3.19443
  35. Santos, J.F., Assis, C.R.D., Soares, K.L.S., Rafael, R.E.Q., Oliveira, V.M., Vasconcelos Filho, J.E., França, R.C.P., Lemos, D., & Bezerra, R.S. (2019). Growth parameters of Nile tilapia in different culture systems. Aquaculture, 503. https://doi.org/10.1016/j.aquaculture.2018.12.044
  36. Sarker, P.K., Kapuscinski, A.R., McKuin, B., Fitzgerald, D.S., Nash, H.M., & Greenwood, C. (2020). Microalgae-based feed improves tilapia growth. Scientific Reports, 10(1). https://doi.org/10.1038/s41598-020-75289-x
  37. Suhaimi, H., Yuslan, A., Azani, N., Habib, A., Liew, H.J., & Rasdi, N.W. (2022). Effects of enhanced Moina macrocopa diet on tilapia fry. Egyptian Journal of Aquatic Research, 48(1), 67–73. https://doi.org/10.1016/j.ejar.2021.08.004
  38. Sun, X., & Wang, Y. (2024). Growth models in aquaculture for groupers. Aquaculture, 578. https://doi.org/10.1016/j.aquaculture.2023.740026
  39. Torres-Novoa, D.M., & Hurtado-Nery, V.L. (2012). Nutritional requirements of Nile tilapia. Orinoquia, 16(1). https://doi.org/10.22579/20112629.266
  40. Trevi, S., Uren Webster, T., Consuegra, S., & Garcia de Leaniz, C. (2023). Benefits of microalgae in fish nutrition: A meta-analysis. Scientific Reports, 13(1). https://doi.org/10.1038/s41598-023-29183-x
  41. Velasco, R.R., Dandan, R.R., Tomas, P.A.G., Torres, J.C., Galvan, J.A., Fernando, S.I.D., & Bartolome, R.M. (2018). Skin pigmentation in tilapia fed carotenoid-rich plants. International Journal of Biology, Pharmacy and Allied Sciences, 7(8), 1601–1615. https://doi.org/10.31032/IJBPAS/2018/7.8.4519
  42. Velasquez, S.F., Chan, M.A., Abisado, R.G., Traifalgar, R.F.M., Tayamen, M.M., Maliwat, G.C.F., & Ragaza, J.A. (2016). Dietary Spirulina improves performance of Nile tilapia juveniles. Journal of Applied Phycology, 28(2). https://doi.org/10.1007/s10811-015-0661-y
  43. Villalta-Romero, F., Murillo-Vega, F., Martínez-Gutiérrez, B., Valverde-Cerdas, J., Sánchez-Kopper, A., & Guerrero-Barrantes, M. (2019). Microalgal biotechnology in Costa Rica. Revista Tecnología en Marcha, 32(SI), 85–93. https://doi.org/10.18845/tm.v32i9.4634
  44. Whitton, B.A. (2012). Ecology of cyanobacteria II. In B.A. Whitton (Ed.), Ecology of Cyanobacteria II: Their Diversity in Space and Time. Springer. https://doi.org/10.1007/978-94-007-3855-3
  45. Yi, Y., & Kwei Lin, C. (2001). Effects of biomass and aeration on Nile tilapia growth in integrated systems. Aquaculture, 195(3–4), 253–267. https://doi.org/10.1016/S0044-8486(00)00558-5


SUMBER:

Francinie Murillo Vega, Mauricio Chicas Romero, Olga Vargas Jiménez, Maritza Guerrero Barrantes. Enhanced growth and reduced fat accumulation in Nile tilapia (Oreochromis niloticus) through spirulina supplementation: a cost-benefit analysis. Egyptian Journal of Aquatic Research. Volume 51, Issue 3, September 2025, Pages 415-422

 

#Spirulina 

#Nila 

#PakanIkan 

#Akuakultur 

#BudidayaIkan

Saturday, 28 March 2026

Impor Kakao RI Meledak! Fakta Mengejutkan di Balik Sorotan Utama

 


Impor Kakao RI Meledak, Masalahnya Memang Rumit

 

Ketergantungan Indonesia terhadap kakao impor disorot Presiden Prabowo Subianto.  Dibalik sorotan Prabowo, terdapat persoalan struktural dalam industri dan pertanian kakao Indonesia, mulai dari penyempitan lahan, stagnasi ekspor, dan lonjakan impor.

Dalam diskusi bersama jurnalis dan ekonom di kediamannya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Prabowo mempertanyakan fenomena banyaknya impor kakao.

Indonesia diperkirakan mengimpor kakao senilai US$ 1,1 miliar per tahun meski mampu memproduksi 600.000 ton per tahun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor lebih besar. Menyempitnya lahan menjadi salah satu faktornya.

 

Lahan Luas, Tapi Mulai Menyusut

 

Selama dua dekade terakhir, data luas areal perkebunan kakao Indonesia yang dicatat oleh BPS menunjukkan tren yang tidak stabil. Setelah mencapai puncaknya sekitar 2012 dengan luas lebih dari 1,7 juta hektare, angka ini terus mengalami penurunan hingga sekitar 1,36 juta hektare pada 2024.


Sumber: BPS

 

Penurunan ini mencerminkan masalah klasik sektor perkebunan, seperti minimnya peremajaan yang menyebabkan rendahnya produktivitas tanaman.

Yang menarik, lebih dari 90% kebun kakao dikelola oleh perkebunan rakyat. Hal ini memberi sinyal bahwa tantangan utama berada di level petani kecil.

 

Ekspor Stagnan, Impor Makin Dominan

 

Dari sisi perdagangan, Indonesia masih tercatat sebagai eksportir kakao. Namun, jika dilihat lebih dalam, volumenya cenderung stagnan di kisaran 330-609 ribu ton selama 20 tahun terakhir.


Sebaliknya, impor menunjukkan tren yang jauh lebih agresif, terutama pada 2014 di mana impor kakao melonjak tajam sebesar 121.6% dari impor 2013. Bahkan pada 2023, volume impor hampir menyamai ekspor dengan selisih 462 ton saja, menandai titik kritis di mana Indonesia nyaris kehilangan status sebagai eksportir bersih.

 

Tren Ekspor-Impor Kakao 2003–2024

 

Tren perdagangan kakao Indonesia menunjukkan stagnasi ekspor dalam dua dekade terakhir, sementara impor meningkat signifikan dan mendekati volume ekspor.


 

Meski demikian, kakao yang diekspor Indonesia secara konsisten memiliki harga yang sedikit lebih tinggi dibandingkan kakao impor.

Berdasarkan perhitungan nilai terhadap volume, harga ekspor kakao Indonesia selama 2003-2023 berada di kisaran US$1,4-US$3,7 per kg, dengan rata-rata sekitar US$2,8 per kg.

Sementara itu, harga kakao impor berada pada kisaran US$1,5-US$4,0 per kg, dengan rata-rata sekitar US$2,66 per kg.

 

Perkembangan Harga Kakao Ekspor dan Impor Indonesia (2003–2024)

 

Harga kakao Indonesia cenderung lebih tinggi pada ekspor dibanding impor, namun selisih keduanya semakin menyempit. Lonjakan tajam pada 2024 mencerminkan tekanan global di pasar kakao.


Sumber: BPS diolah.

 

Pada 2024, baik harga ekspor maupun impor mengalami lonjakan signifikan masing-masing menjadi sekitar US$7,6 per kg dan US$6,1 per kg, mencerminkan tekanan global di pasar kakao.

Tingginya harga kakao Indonesia menunjukkan bahwa posisinya dalam rantai nilai global masih ditopang oleh kualitas produk. Namun, peningkatan impor dengan harga yang semakin mendekati harga ekspor mengindikasikan adanya kerentanan dalam daya saing tersebut.

 

Dari Produsen ke Import-Dependent?

 

Data terbaru memperkuat arah pergeseran ini. Pada 2025, impor kakao Indonesia mencapai hampir 195 ribu ton dengan nilai US$1,7 miliar atau sekitar Rp 28,7 triliun.  Pasokan utamanya berasal dari negara-negara produsen besar seperti Ekuador dan kawasan Afrika Barat.

 

Impor Kakao Indonesia Menurut Negara Asal, 2025

 

Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun Indonesia masih kuat di sektor hulu, posisinya masih tertinggal dalam pengolahan serta penguasaan pasar produk akhir.

Di sisi lain, pasar domestik justru dibanjiri produk cokelat dan olahan dari merek global. Ini menegaskan bahwa nilai tambah terbesar tidak dinikmati di dalam negeri, melainkan di negara pengolah.

 

SUMBER:

Amalia Zahira, CNBC Indonesia. 26 March 2026 14:25. Impor Kakao RI Meledak, Masalahnya Memang Rumit.

 

#ImporKakao 

#EkonomiIndonesia 

#PerkebunanKakao 

#EksporImpor 

#HargaKakao

Rahasia rrn Terungkap! Ini Arti Sebenarnya “Penghubung 16S–23S” yang Sering Disalahpahami

 


Istilah rrn kerap muncul dalam kajian mikrobiologi, namun tidak jarang disalahartikan—terutama ketika dikaitkan dengan frasa “penghubung antar gen 16S–23S”. Padahal, di balik istilah yang tampak sederhana ini tersimpan konsep penting dalam genetika bakteri yang berperan besar dalam proses sintesis protein sekaligus menjadi kunci dalam identifikasi molekuler. Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan rrn, dan mengapa “penghubung” antara gen 16S dan 23S menjadi begitu krusial? Artikel singkat ini mengupas tuntas makna ilmiah di balik istilah tersebut, sekaligus mengungkap peran strategisnya dalam penelitian mikrobiologi modern.

 

rrn = ribosomal RNA operon.

 

Secara umum, operon rrn terdiri atas tiga gen utama, yaitu gen 16S rRNA, 23S rRNA, dan 5S rRNA. Ketiga gen ini ditranskripsi sebagai satu kesatuan, kemudian diproses menjadi molekul rRNA yang matang. Di antara gen-gen tersebut terdapat daerah non-koding yang berfungsi sebagai penghubung. Salah satu bagian yang paling penting adalah daerah di antara gen 16S dan 23S rRNA, yang dikenal sebagai Internal Transcribed Spacer (ITS). Meskipun tidak menyandi protein atau rRNA, daerah ITS memiliki peran penting dalam proses pematangan transkrip rRNA.

 

Dalam konteks kalimat “penghubung rrn (penghubung antar gen 16S–23S)”, yang dimaksud adalah daerah spacer ITS yang berada di antara gen 16S dan 23S rRNA dalam operon rrn. Daerah ini menjadi penghubung struktural sekaligus bagian dari transkrip awal yang kemudian dipotong selama proses pematangan rRNA. Dengan demikian, istilah “penghubung rrn” tidak merujuk pada gen tertentu, melainkan pada segmen penghubung dalam satu kesatuan operon rRNA.

 

Menariknya, daerah ITS memiliki tingkat variasi yang relatif tinggi dibandingkan gen rRNA yang lebih konservatif, seperti 16S rRNA. Sifat variatif ini menjadikan ITS sangat berguna dalam berbagai kajian mikrobiologi. Dalam studi filogenetik, ITS dapat digunakan untuk membedakan organisme yang memiliki kedekatan genetik tinggi. Dalam epidemiologi molekuler, variasi ITS membantu melacak sumber dan penyebaran strain bakteri. Selain itu, ITS juga banyak dimanfaatkan dalam karakterisasi strain untuk tujuan diagnostik maupun penelitian.

 

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa rrn adalah operon rRNA yang terdiri dari gen 16S, 23S, dan 5S, sedangkan penghubung rrn merujuk pada daerah ITS yang terletak di antara gen 16S dan 23S rRNA. Meskipun hanya berupa segmen non-koding, keberadaan dan variasinya memiliki nilai ilmiah yang tinggi, terutama dalam identifikasi, klasifikasi, dan analisis molekuler bakteri.

 

#rrn

#ITS

#16SrRNA

#GenetikaBakteri

#Mikrobiologi

 

Friday, 27 March 2026

Impor Kakao RI Meledak hingga Rp26 Triliun! Alarm Keras dari Presiden Prabowo untuk Masa Depan Industri Nasional

 

Impor Kakao Indonesia Meledak: Mengurai Masalah Struktural dan Arah Kebijakan

 

RINGKASAN EKSEKUTIF

 

Sorotan Presiden Prabowo Subianto terhadap lonjakan impor kakao menegaskan adanya persoalan struktural dalam industri kakao nasional. Meskipun Indonesia masih memproduksi sekitar 600.000 ton kakao per tahun, impor justru meningkat tajam hingga mencapai US$1,7 miliar pada 2025. Kondisi ini mencerminkan ketidakseimbangan antara sektor hulu dan hilir, stagnasi produktivitas, serta lemahnya daya saing industri pengolahan domestik. Tanpa intervensi kebijakan yang komprehensif, Indonesia berisiko beralih dari eksportir bersih menjadi negara yang bergantung pada impor kakao.

 

LATAR BELAKANG

 

Indonesia merupakan salah satu produsen kakao utama dunia. Namun, dalam dua dekade terakhir, industri kakao nasional menghadapi tantangan serius:

  • Penyusutan lahan perkebunan kakao
  • Dominasi perkebunan rakyat dengan produktivitas rendah
  • Stagnasi ekspor
  • Lonjakan impor yang signifikan

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan luas areal kakao menurun dari lebih dari 1,7 juta hektare (2012) menjadi sekitar 1,36 juta hektare (2024). Sementara itu, impor terus meningkat dan hampir menyamai ekspor.

 

PERMASALAHAN UTAMA

 

1. Penyusutan Lahan dan Produktivitas Rendah

  • Penurunan luas lahan mencerminkan minimnya peremajaan tanaman
  • Tanaman tua menyebabkan produktivitas menurun
  • 90% kebun dikelola petani kecil sehingga keterbatasan akses modal, teknologi, dan pendampingan

2. Stagnasi Ekspor

  • Volume ekspor relatif stagnan (330–609 ribu ton selama 20 tahun)
  • Ketergantungan pada ekspor bahan mentah (raw beans)

3. Lonjakan Impor

  • Impor melonjak signifikan sejak 2014
  • Tahun 2025: ±195 ribu ton (US$1,7 miliar)
  • Sumber utama: Ekuador dan Afrika Barat

4. Ketimpangan Hulu–Hilir

  • Indonesia kuat di produksi (hulu), lemah di pengolahan (hilir)
  • Nilai tambah dinikmati negara pengolah
  • Pasar domestik didominasi produk cokelat impor

5. Tekanan Harga Global

  • Harga kakao global melonjak (2024):
    • Ekspor: ±US$7,6/kg
    • Impor: ±US$6,1/kg
  • Selisih harga menyempit → indikasi penurunan daya saing

 

ANALISIS KEBIJAKAN

 

Fenomena meningkatnya impor kakao bukan sekadar masalah produksi, tetapi mencerminkan:

  • Kegagalan transformasi struktural dari ekonomi berbasis komoditas mentah ke industri bernilai tambah
  • Fragmentasi rantai pasok, khususnya antara petani dan industri
  • Keterbatasan industrialisasi sektor agro

Indonesia menghadapi “middle trap” dalam industri kakao: kuat sebagai produsen bahan baku, namun lemah sebagai produsen produk olahan bernilai tinggi.

 

OPSI KEBIJAKAN

 

1. Revitalisasi Perkebunan Kakao

  • Program peremajaan tanaman (replanting) berbasis klon unggul
  • Insentif fiskal bagi petani kecil
  • Penguatan penyuluhan dan pendampingan teknis

2. Penguatan Industri Hilir

  • Insentif investasi industri pengolahan kakao domestik
  • Pengembangan kawasan industri kakao terpadu
  • Kebijakan hilirisasi berbasis nilai tambah

3. Reformasi Tata Niaga

  • Penguatan kemitraan petani–industri
  • Transparansi harga dan rantai distribusi
  • Pengendalian impor berbasis kebutuhan industri

4. Diversifikasi Produk dan Pasar

  • Pengembangan produk turunan kakao (cokelat premium, kosmetik, farmasi)
  • Promosi ekspor produk olahan bernilai tinggi

5. Peningkatan Daya Saing Petani

  • Akses pembiayaan (KUR sektor perkebunan)
  • Digitalisasi pertanian
  • Sertifikasi mutu dan keberlanjutan

 

REKOMENDASI UTAMA

 

  1. Prioritaskan program nasional peremajaan kakao untuk meningkatkan produktivitas
  2. Dorong hilirisasi industri kakao secara agresif melalui insentif fiskal dan regulasi
  3. Batasi impor secara selektif untuk melindungi produksi domestik tanpa mengganggu industri
  4. Bangun ekosistem kemitraan petani–industri yang berkelanjutan
  5. Perkuat riset dan inovasi dalam pengolahan kakao dan diversifikasi produk

 

IMPLIKASI KEBIJAKAN

 

Tanpa reformasi struktural, Indonesia berisiko:

  • Kehilangan status sebagai eksportir bersih kakao
  • Meningkatnya ketergantungan impor
  • Hilangnya potensi nilai tambah ekonomi domestik

Sebaliknya, dengan kebijakan yang tepat, Indonesia berpotensi menjadi pusat industri kakao bernilai tambah tinggi di kawasan Asia.

 

DAFTAR REFERENSI

 

  1. Zahira A. Impor kakao RI meledak, masalahnya memang rumit. CNBC Indonesia. 2026 Mar 26.
  2. Badan Pusat Statistik. Statistik kakao Indonesia 2003–2024. Jakarta: BPS; 2025.
  3. Badan Pusat Statistik. Statistik perdagangan luar negeri Indonesia: ekspor dan impor kakao. Jakarta: BPS; 2024.
  4. Food and Agriculture Organization. FAOSTAT: Crops and livestock products—cocoa beans. Rome: FAO; 2025.
  5. International Cocoa Organization. Quarterly bulletin of cocoa statistics. London: ICCO; 2024.
  6. International Cocoa Organization. Cocoa market report 2024. London: ICCO; 2024.
  7. Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Statistik perkebunan Indonesia: kakao 2023–2025. Jakarta: Direktorat Jenderal Perkebunan; 2025.
  8. Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Laporan kinerja perdagangan komoditas kakao. Jakarta: Kemendag; 2024.
  9. Neilson J, Pritchard B. Value chain struggles: institutions and governance in the plantation districts of South Sulawesi, Indonesia. World Dev. 2009;37(8):1296–1312.
  10. Fold N, Neilson J. Global value chains and producer livelihoods: the case of Indonesian cocoa. Dev Policy Rev. 2016;34(3):357–379.
  11. Akiyama T, Nishio Z. Indonesia’s cocoa sector: challenges and policy options. World Bank Policy Note. Washington DC: World Bank; 2019.
  12. World Bank. Commodity markets outlook: cocoa. Washington DC: World Bank; 2024.


#ImporKakao 
#IndustriKakao 
#KebijakanPublik 
#Hilirisasi 
#EkonomiIndonesia

Waspada! SFTS Sudah Menyebar di Asia Timur—Apakah Indonesia Benar-Benar Aman?

 

Sebaran Negara Terdampak SFTS dan Situasi di Indonesia

 

Penyakit Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome (SFTS) pertama kali diidentifikasi di China pada tahun 2009, dan sejak itu dilaporkan menyebar ke beberapa negara di kawasan Asia Timur. Hingga saat ini, negara-negara yang telah melaporkan kasus SFTS pada manusia meliputi:

  • China → negara dengan jumlah kasus terbanyak dan pusat awal identifikasi penyakit
  • Japan → melaporkan kasus dengan tingkat fatalitas yang cukup tinggi
  • South Korea → kasus meningkat sejak pertama kali dilaporkan pada 2013


Selain ketiga negara utama tersebut, keberadaan virus SFTS (SFTSV) atau antibodinya juga pernah terdeteksi pada hewan atau vektor di beberapa wilayah lain di Asia, seperti:

  • Vietnam
  • Taiwan
  • Thailand

Namun, penting dicatat bahwa tidak semua negara tersebut telah melaporkan kasus klinis pada manusia secara luas—sebagian masih berupa temuan surveilans atau penelitian.

 

Bagaimana dengan Indonesia?


Hingga saat ini, Indonesia belum secara resmi melaporkan kasus konfirmasi SFTS pada manusia. Artinya, penyakit ini belum dinyatakan sebagai masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.

Namun demikian, ada beberapa hal penting yang perlu menjadi perhatian:


  1. Potensi Risiko Tetap Ada

Indonesia memiliki iklim tropis yang mendukung keberadaan berbagai jenis caplak, termasuk yang secara ekologis berkerabat dengan vektor SFTS seperti Haemaphysalis longicornis. Meskipun spesies ini belum dilaporkan luas di Indonesia, keberadaan caplak lain membuka kemungkinan adanya siklus virus serupa.


  1. Mobilitas Global dan Perdagangan Hewan

Pergerakan manusia, hewan, dan produk hewan antarnegara dapat menjadi jalur masuk penyakit baru. Dalam konteks ini, Indonesia tetap berisiko terhadap introduksi SFTS dari negara endemik.


  1. Perlu Penguatan Surveilans

Karena gejala SFTS (demam, trombositopenia) mirip dengan penyakit lain seperti dengue, ada kemungkinan kasus tidak terdeteksi jika tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium spesifik.


Kesimpulan


Saat ini, SFTS masih terbatas terutama di kawasan Asia Timur, khususnya China, Japan, dan South Korea. Meskipun Indonesia belum melaporkan kasus, kewaspadaan tetap diperlukan melalui pendekatan One Health, termasuk penguatan surveilans, monitoring vektor, dan edukasi masyarakat.


Daftar Pustaka


  1. World Health Organization. Severe fever with thrombocytopenia syndrome (SFTS) [Internet]. Geneva: WHO; 2023 [cited 2026 Mar 27]. Available from: https://www.who.int
  2. Centers for Disease Control and Prevention. Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome (SFTS) [Internet]. Atlanta: CDC; 2024 [cited 2026 Mar 27]. Available from: https://www.cdc.gov
  3. European Centre for Disease Prevention and Control. Severe fever with thrombocytopenia syndrome: factsheet [Internet]. Stockholm: ECDC; 2022 [cited 2026 Mar 27]. Available from: https://www.ecdc.europa.eu
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia [Internet]. Jakarta: Kemenkes RI; 2023 [cited 2026 Mar 27]. Available from: https://www.kemkes.go.id
  5. World Organisation for Animal Health. Emerging zoonotic diseases: SFTS situation reports [Internet]. Paris: WOAH; 2023 [cited 2026 Mar 27]. Available from: https://www.woah.org
  6. Yu Xue-jie, Liang MF, Zhang SY, Liu Y, Li JD, Sun YL, et al. Fever with thrombocytopenia associated with a novel bunyavirus in China. N Engl J Med. 2011;364(16):1523–32.
  7. Takahashi Tomohiko, Maeda K, Suzuki T, Ishido A, Shigeoka T, Tominaga T, et al. The first identification and retrospective study of severe fever with thrombocytopenia syndrome in Japan. J Infect Dis. 2014;209(6):816–27.
  8. Kim Ki-Joon, Yi J, Kim G, Choi SJ, Jun KI, Kim NH, et al. Severe fever with thrombocytopenia syndrome, South Korea, 2012. Emerg Infect Dis. 2013;19(11):1892–4.
  9. Food and Agriculture Organization. Ticks and tick-borne diseases in Asia: emerging threats [Internet]. Rome: FAO; 2022 [cited 2026 Mar 27]. Available from: https://www.fao.org
  10. National Institute of Infectious Diseases Japan. SFTS surveillance updates in Japan [Internet]. Tokyo: NIID; 2023 [cited 2026 Mar 27]. Available from: https://www.niid.go.jp

 

#SFTS 

#Zoonosis 

#OneHealth 

#KesehatanGlobal 

#WaspadaPenyakit