Abstrak Grafis
Nanopartikel
Lipid dalam Pengembangan Vaksin mRNA untuk COVID-19
RINGKASAN
Penyakit coronavirus
(COVID-19) pertama kali dilaporkan pada Desember 2019 di Provinsi Hubei, Tiongkok.
Hingga 9 Desember 2021, sindrom pernapasan akut parah akibat coronavirus-2
(SARS-CoV-2) telah menginfeksi 266.018.810 orang di seluruh dunia dengan
5.265.092 kematian. Wabah pandemi COVID-19 telah menyebabkan krisis kesehatan
masyarakat yang parah di seluruh dunia. Asam nukleat telah berkembang sebagai
kandidat potensial untuk mengobati berbagai penyakit.
Nanopartikel lipid (Lipid
Nanoparticles atau LNP) memiliki potensi besar untuk mengantarkan asam
nukleat, termasuk mRNA. Dua vaksin berbasis mRNA, yaitu BNT162b2
(Pfizer-BioNTech) dan mRNA-1273 (Moderna), telah diberikan izin penggunaan
darurat (Emergency Use Authorization atau EUA) oleh Badan Pengawas Obat
dan Makanan Amerika Serikat (US-FDA) untuk mencegah COVID-19 yang disebabkan
oleh SARS-CoV-2. Kedua vaksin tersebut dikembangkan menggunakan teknologi LNP.
Artikel ini berfokus
pada diskusi potensi aplikasi LNP dalam pengembangan dan pengantaran vaksin mRNA untuk
COVID-19.
1. Nanopartikel Lipid
Dr. Alec D. Bangham,
seorang ahli hematologi asal Inggris, adalah orang pertama yang mendeskripsikan
liposom pada tahun 1961 di Babraham Institute, Cambridge. Pada awal tahun
1970-an, G. Gregoriadis mengusulkan bahwa liposom dapat digunakan sebagai pembawa
untuk penghantaran obat. Liposom adalah vesikel mikroskopis yang terdiri atas
membran fosfolipid bilayer yang serupa dengan membran sel. Liposom dapat
digunakan untuk mengantarkan berbagai zat, termasuk obat yang bersifat
hidrofilik maupun hidrofobik, zat diagnostik, protein, DNA, dan RNA. Liposom
melindungi obat yang dikandungnya dari enzim metabolik dan lingkungan biologis.
Liposom konvensional
mudah dikeluarkan dari darah. Oleh karena itu, liposom yang distabilisasi
secara sterik (stealth liposomes) diperkenalkan untuk menghindari
eliminasi cepat dari darah serta memberikan karakteristik farmakokinetik yang
lebih menguntungkan setelah pemberian. Hal ini dilakukan dengan melapisi
permukaan liposom menggunakan zat hidrofilik, biasanya turunan polietilen glikol
(PEG). Selain itu, komposisi bilayer lipid dapat dimodifikasi sehingga
memungkinkan pembentukan kompleks dengan gen dan transportasi obat ke dalam
sitosol melalui jalur endosom/ lisosom.
Formulasi berbasis
liposom pertama kali diperkenalkan di pasaran pada awal 1990-an. Istilah lipid
nanoparticle (LNP) mulai digunakan pada awal 1990-an. LNP berbeda dari
liposom dalam hal struktur internalnya, di mana LNP membentuk struktur misel di
dalam intinya, yang dapat dimodifikasi dengan mengubah parameter formulasi
untuk mendapatkan karakteristik yang diinginkan.
Nanopartikel telah
banyak diteliti untuk penghantaran berbagai jenis obat dan asam nukleat.
Dibandingkan dengan nanokarier lainnya, LNP menawarkan beberapa keunggulan,
seperti stabilitas yang lebih tinggi, biaya produksi yang lebih rendah, serta
kemampuan untuk diproduksi secara massal menggunakan teknik seperti
mikrofluidik. LNP juga menunjukkan toksisitas seluler dan imunogenisitas yang
lebih rendah dibandingkan liposom. Selain itu, LNP memiliki efisiensi
enkapsulasi asam nukleat yang tinggi dengan peningkatan efisiensi transfeksi.
Sebuah penelitian oleh
Ndeupen et al. pada tikus menunjukkan bahwa LNP yang digunakan dalam vaksin
mRNA yang dimodifikasi nukleosida dapat memicu respons inflamasi. LNP
menyebabkan peradangan setelah injeksi intradermal dan intramuskular, yang
ditandai dengan infiltrasi neutrofil, aktivasi berbagai jalur inflamasi, serta
produksi sitokin dan kemokin inflamasi.
Kompleksasi asam
nukleat dengan lipid bermuatan positif menstabilkan asam nukleat dan
melindunginya dari degradasi oleh nuklease, sehingga memungkinkan pengantarannya
ke dalam sel. LNP dapat digunakan untuk mengantarkan berbagai jenis obat dan
asam nukleat, seperti DNA, mRNA, dan siRNA. Badan Pengawas Obat dan Makanan
Amerika Serikat (US-FDA) telah menyetujui Patisiran (Onpattro®), yang
mengandung siRNA yang ditargetkan pada transtiretin dalam formulasi LNP, untuk
mengobati polineuropati akibat amiloidosis transtiretin herediter.
2. Vaksin mRNA Berbasis Nanopartikel Lipid untuk COVID-19
Penghantaran vaksin
mRNA yang efektif merupakan tantangan tersendiri. Muatan positif dan sifat
hidrofilik asam nukleat menghambat penyebarannya melintasi membran sel. Selain
itu, degradasi oleh nuklease endogen serta penyerapan oleh sel fagosit semakin
menghambat penghantaran yang efektif. Oleh karena itu, sistem penghantaran yang
efisien, seperti nanokarier, diperlukan untuk penghantaran asam nukleat pada
tingkat seluler.
Berbagai pembawa telah
diteliti untuk penghantaran mRNA, termasuk polimer, lipid, dan turunan protein.
LNP telah dipelajari secara sistematis dan berhasil digunakan dalam
penghantaran siRNA dan mRNA. Saat ini, banyak LNP yang mengandung mRNA sedang
dalam tahap uji klinis untuk pengobatan kanker, infeksi virus, dan penyakit
genetik. LNP yang terdiri atas lipid kationik sintetis banyak digunakan sebagai
pembawa asam nukleat non-virus.
Dalam endosom, pH
lebih rendah dibandingkan dengan lingkungan ekstraseluler. Oleh karena itu, setelah
endositosis, lipid ionizable dalam LNP menjadi terprotonasi dan bermuatan
positif, yang dapat menyebabkan destabilisasi membran dan membantu pelepasan
endosomal LNP, sehingga memungkinkan pengantaran material yang terenkapsulasi
ke dalam sitosol. Di dalam sitosol, mRNA akan diterjemahkan menjadi protein
antigenik yang merangsang produksi antibodi oleh sistem kekebalan tubuh.
Penghantaran asam
nukleat menggunakan LNP melibatkan adsorpsi LNP pada membran plasma sel dan
kemudian diambil ke dalam sel melalui endositosis, diikuti dengan pelepasan
asam nukleat di dalam sel. Adsorpsi LNP dan fusi dengan membran plasma didorong
oleh interaksi elektrostatis antara muatan negatif membran sel dan muatan
positif LNP. Setelah LNP memasuki sel, pelepasan asam nukleat dari pembawa kationik
terjadi ketika muatan LNP dinetralkan oleh lipid anionik di dalam sel. Hal ini
mengganggu struktur nanopartikel dan menghasilkan bentuk nonlamelar yang
memungkinkan pelepasan asam nukleat.
LNP-mRNA biasanya
dibuat dengan metode pencampuran cepat, umumnya menggunakan microfluidic
mixers. Salah satu metode yang sering digunakan adalah pengenceran etanol,
di mana larutan etanol ditambahkan ke dalam media berair yang menghasilkan
pembentukan nanodroplet. Metode ini menunjukkan efisiensi enkapsulasi asam
nukleat yang signifikan, di mana molekul mRNA yang terenkapsulasi terlindungi
dari degradasi oleh enzim nuklease.
LNP terdiri atas lipid
struktural, seperti fosfolipid dan kolesterol, serta lipid PEG. Fungsi
lipid-lipid ini adalah untuk menstabilkan partikel, mengontrol ukurannya, dan
memberikan kompatibilitas dengan darah. Namun, penting untuk memodifikasi sifat
kimia dan mengoptimalkan konsentrasi lipid-lipid ini guna memastikan
penghantaran mRNA yang efektif.
Modifikasi struktural
dari turunan kolesterol meningkatkan penyerapan seluler dan distribusi LNP
hingga 25 kali lipat. Sementara itu, lipid PEG memengaruhi ukuran partikel,
mencegah agregasi dan destabilisasi, serta mengurangi adsorpsi opsonin pada
permukaan LNP, sehingga menghindari opsonisasi dan eliminasi oleh sistem
retikuloendotelial (RES), serta memperpanjang waktu paruh dalam sirkulasi
darah. Lapisan PEG juga dapat membantu navigasi LNP melalui media kental
seperti mukus paru. Struktur kimia lipid PEG, termasuk bagian hidrofilik dan
hidrofobiknya, memengaruhi ukuran partikel, penetrasi melintasi membran lipid,
serta respons imun. Oleh karena itu, struktur dan konsentrasi lipid PEG perlu
dioptimalkan untuk mempertahankan efek stealth dari LNP.
Dua vaksin berbasis mRNA,
yaitu Pfizer-BioNTech (BNT162b2) dan Moderna (mRNA-1273), telah diberikan izin
penggunaan darurat (Emergency Use Authorization atau EUA) oleh US-FDA
untuk pencegahan COVID-19 yang disebabkan oleh SARS-CoV-2.
Struktur nanopartikel lipid dan nanopartikel lipid berbasis mRNA.
SUMBER
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9238147/
#NanopartikelLipid
#VaksinmRNA
#COVID19
#Nanoteknologi
#InovasiKesehatan