Antisipasi Penyakit Demam Babi Afrika, Kementan Siapkan Kebijakan Strategis
AGRICULTURE, FOOD, LIVESTOCK, AND ANIMAL HEALTH
Skin Design: Kisi Karunia
Base Code:
Free Blogger Skins
Antisipasi Penyakit Demam Babi Afrika, Kementan Siapkan Kebijakan Strategis
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
10:21
0
comments
Labels: African Swine Fever
Pameran Asal Usul Orang Indonesia (ASOI) yang diselenggarakan oleh Historia bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, resmi dibuka oleh Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, di Museum Nasional, 15 Oktober 2019. Pameran yang hendak memberikan perspektif baru tentang siapa leluhur orang Indonesia ini akan berlangsung hingga 10 November 2019.
Pameran ini menampilkan hasil tes DNA sukarelawan seperti Najwa Shihab, Hasto Kristiyanto, Grace Natalie, Budiman Sudjatmiko, Mira Lesmana, Ayu Utami, Riri Riza, dan Ariel Noah, serta hasil tes DNA dari peserta umum terpilih yang mendaftar di microsite Historia yaitu Sultan Syahrir, Esthi Swastika, Irfan Nugraha, Farida Yuniar, Aryatama Nurhasyim, Solikhin, dan Zaenin Natib.
Pameran ASOI ini, juga menampilkan peta penyebaran manusia di dunia dan Indonesia, serta sejarah manusia dari sudut pandang arkeologis dan antropologis.
Gelombang Migrasi
Homo Sapiens telah mengembara selama ratusan ribu tahun dari benua Afrika. Kemudian sekitar 50.000 tahun yang lalu, sampailah gelombang migrasi pertama di kepulauan Nusantara.
“Jadi dari 150.000 tahun, 100.000 tahun berjalan mengembara melewati lingkungan yang berbeda. Ada hutan yang lebat sekali, orangnya pasti akan mengecil. Karena untuk mencegah penguapan. Rambut juga mungkin lebih keriting. Jadi semua itu yang menyebabkan kita menjadi berbeda dalam perjalanannya. Beragam, bukan berbeda,” ungkap Prof. Dr. Herawati Supolo Sudoyo, Deputi Penelitian Fundamental Eijkman Institute dalam pembukaan pameran ini.
Kepulauan Nusantara menjadi menarik bagi para peneliti genetika karena keberagaman genetika. Lokasi Kepulauan Nusantara yang strategis mengalami empat gelombang migrasi manusia modern. Gelombang pertama yang datang ke Nusantara, berasal dari Afrika secara langsung melewati pantai selatan.
“Dekat laut, dekat daratan juga. Jalan aja. Waktu mereka datang ke Nusantara, Kalimantan, Sumatera, dan Jawa masih jadi satu. Lautnya pendek,” kata Herawati.
Menurut Herawati, sebagian manusia pada gelombang pertama itu pergi lagi ke satu daratan besar bernama Sahul. Sahul pada zaman itu, atau 50.000 tahun yang lalu, merupakan Papua dan Australia yang sekarang. Gelombang kedua, datang dari mereka yang sebelumnya telah sampai ke Asia daratan.
“Ini biasanya pertanyaan. Oh kalau yang gelombang kedua itu mengahabiskan yang pertama ya? Karena perang, kompetisi lahan dan sebagainya. Jawabannya tidak. Karena kita melihat semua DNA yang kita periksa ada campurannya. Jadi itu berarti ada kawin-mawin,” kata Herawati.
Gelombang ketiga datang dari Taiwan atau Pulau Formosa. Orang dari Taiwan ini awalnya juga datang dari Asia daratan. Mereka menyebar ke Filipina, Sulawesi, Kalimantan, membawa Bahasa Austronesia. Diaspora Austronesia ini juga sampai ke Madagaskar hingga Pulau Paskah.
Sementara itu, gelombang keempat datang melalui jalur perdagangan dan pengenalan keagamaan sekitar tahun 700-1300. Orang-orang dari Eropa, India hingga Timur Tengah masuk melalui pelabuhan-pelabuhan di Nusantara.
“Jadi kalau diperiksa itu, teman-teman yang lahir dan besar di Jepara, Rembang, Semarang, Tuban dan sebagainya, campur seperti gado-gado,” ujar Herawati.
Gelombang-gelombang migrasi manusia ke Kepulauan Nusantara, kemudian menyebabkan terjadinya pencampuran gen orang Indonesia. Berangkat dari hal itu, menurut Herawati, toleransi bisa dibuktikan dari hasil penelitian genetika.
Menolak Intoleransi
Melalui tes DNA dalam proyek ini, yang hasilnya menunjukan keberagaman gen, dapat menjadi pengetahuan yang mencerahkan terkait permasalahan ‘pribumi’ dan ‘non pribumi’ maupun sentimen ras, etnis, serta agama yang belakangan muncul lagi.
Perihal itu, Hamid Basyaib, dari Balai Pustaka, yang juga menjadi pembicara, menyebut bahwa etnisitas, yang seringkali memicu intoleransi hanyalah konstruksi sosial.
“Etnisitas ini kan yang dipandang paling core. Itu konstruksi sosial. Maka konsekuensinya sikap rasisme misalnya, tidak punya dasar ilmiah sama sekali,” sebutnya.
Menurutnya, sumber-sumber konflik terkait etnis merupakan politik belaka dan bahkan bukan agama. Ia mencontohkan sentimen anti-Semit yang semakin massif pasca didirikannya negara Israel.
“Sebelum Israel berdiri itu tidak pernah jadi isu besar. Baru setelah Israel berdiri, baru kemudian dikait-kaitkan dengan hal-hal teologis yang lebih mendasar, yang lebih sakral dan sebagainya,” ungkapnya.
Di Indonesia, yang menurutnya merupakan melting pot berbagai ras maupun etnis, sebenarnya telah memiliki sikap toleran sejak dulu.
“Sekarang masalahnya, apakah benar bangsa ini juga seperti yang tercermin dipermukaan bahwa intoleran. Saya nggak yakin. Saya kira anda sangat terlalu terpengaruh oleh medsos, pada ujaran-ujaran kebencian pada orang yang kebetulan sangat menonjol,” sebutnya.
Hamid menekankan agar masyarakat tidak membenarkan atau kesan-kesan intoleransi tersebut. “Kita nggak perlu memperteguh image bahwa terjadi atau muncul sikap intoleransi yang luar biasa akhir-akhir ini, 10 tahun terakhir, 5 tahun terakhir, atau terkait pilpres. Saya kira itu bukan gejala yang permanen,” katanya.
Hasto Kristiyanto, Sekjen DPP PDI Perjuangan yang juga merupakan sukarelawan proyek DNA ini menyebut bahwa hasil penelitian DNA dapat membuktikan bahwa manusia Indonesia terbentuk dari pembauran multietnis dan tidak ada yang bisa mengklaim paling asli Indonesia.
“Realitas uji coba DNA tersebut semakin mengukuhkan prinsip kebangsaan dan moto Bhinneka Tunggal Ika sebagai realitas yang hidup, menjadi nilai, dan kesadaran bahwa Indonesia adalah satu kesatuan bangsa yang berkesadaran dan berkehendak menyatukan diri dalam satu kesatuan wilayah Nusantara. Heterogenitas inilah yang menjadi alasan mengapa sila persatuan Indonesia begitu relevan,” sebutnya.
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
07:29
0
comments
Labels: Sosial
Untuk mengetahui apakah suatu bahan makanan mengandung wax atau tidak, bisa dicari tulisan pada kemasan berupa 'Coated with food-grade vegetable-, petroleum-, beeswax-, atau shellac- based wax atau resin to maintain freshness'.
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
07:05
0
comments
Labels: Keamanan lilin pada buah
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
12:53
0
comments
Labels: Rabies
1. PENGANTAR
Penyakit African
Swine Fever (ASF) adalah penyakit viral yang menyerang ternak babi dan babi
liar (Suidae). Penyakit ini dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang tinggi
karena morbiditas yang tinggi (100%), mortalitas yang tinggi (10–100%),
bersifat sangat menular, dapat mengganggu stabilitas perdagangan domestik
maupun internasional, menimbulkan larangan ekspor-impor dan pembatasan lalu
lintas antar daerah, serta memerlukan tindakan depopulasi karena hingga kini
belum terdapat vaksin. ASF juga menyebabkan epidemi yang dapat berlangsung
terus menerus.
Penyakit ini
sangat sulit dikendalikan karena virus ASF sangat tahan terhadap lingkungan.
Virus dapat bertahan beberapa hari di dalam feses, beberapa bulan di kandang
yang terkontaminasi, hingga 18 bulan di dalam darah. Virus juga dapat bertahan
selama 140 hari di dalam produk olahan daging babi serta bertahun-tahun di
dalam karkas. Penularan ASF dapat terjadi secara langsung maupun tidak
langsung.
Strategi
pencegahan meliputi karantina, biosekuriti peternakan, serta berbagai langkah
lain untuk meminimalisir risiko penularan. Rencana kontingensi harus mencakup
seluruh tindakan yang diperlukan untuk memastikan penularan ASF dapat dikenali
dan dikendalikan sebelum mencapai fase epidemi, sekaligus memantau kemajuan
program eliminasi. Karena tidak adanya vaksin, strategi pengendalian dan
pemberantasan ASF yang paling memungkinkan adalah depopulasi.
2. ETIOLOGI
Virus ASF
diklasifikasikan dalam genus Asfivirus, anggota satu-satunya dari famili
Asfaviridae. ASF juga
merupakan satu-satunya virus DNA yang ditransmisikan oleh artropoda. Virulensi
isolat virus bervariasi dari rendah hingga tinggi.
a. Hewan Peka
Hewan yang peka terhadap ASF adalah babi domestik
dan babi liar. Semua babi liar Afrika rentan namun tidak menunjukkan gejala
klinis sehingga dianggap sebagai reservoir. Babi liar Eropa (Sus
scrofa) rentan dengan tingkat fatalitas yang mirip babi domestik. Babi liar di Amerika Selatan dan Karibia
juga memiliki kerentanan tinggi. Manusia tidak rentan terhadap ASF.
b. Penyebaran di Dunia dan Kejadian di Indonesia
ASF pertama dilaporkan di Afrika bagian selatan
pada 1900–1905, kemudian menyebar ke Afrika tengah dan utara (Sub-Sahara). Pada
1957, ASF dilaporkan di Portugal dan kemudian menyebar ke Eropa tengah hingga
Rusia pada 2008. Pada Agustus 2018 penyakit ini dilaporkan di China.
Setelah itu ASF ditemukan di Mongolia (Januari
2019), Vietnam (Februari 2019), Kamboja (Maret 2019), Hongkong (Mei 2019),
Korea Utara (Mei 2019), Laos (Juni 2019), Myanmar (Agustus 2019), Filipina dan
Timor Leste (September 2019). Hingga informasi terakhir, penyakit ini
belum dikonfirmasi di Indonesia.
c. Kriteria Diagnosis
Babi yang
menunjukkan demam, anoreksia, lesu, kemerahan kulit, atau kematian dengan
mortalitas >5%, atau kematian mendadak >30% tanpa gejala klinis khas.
Disertai perubahan patologi:
• Pembengkakan limfoglandula gastrohepatika
• Pembengkakan limpa berwarna kehitaman dan rapuh
Positif melalui
isolasi/identifikasi virus atau deteksi gen ASF menggunakan PCR di laboratorium
yang ditunjuk.
Tanda-Tanda Klinis (Perakut,
Akut, Subakut, Kronis)
• Mati mendadak tanpa gejala (perakut)
• Demam hingga 42°C
• Hiperemia/sianosis ekstremitas (telinga, moncong)
• Hilang nafsu makan
• Tidak mampu berdiri, konvulsi
• Inkoordinasi
PATOLOGI
Patologi Anatomi
a. Bentuk Akut
• Hemoragi limfoglandula (ginjal, usus halus, gastrohepatika, submandibular)
• Pembesaran limpa 2–3 kali ukuran normal, gelap, lunak, mudah hancur
• Hemoragi hampir di semua organ
• Udema septa paru-paru
• Cairan dalam rongga tubuh
b. Bentuk Subakut
• Hemoragi limfoglandula dan ginjal
• Pembesaran limpa tanpa penyumbatan
• Konsolidasi lobular paru bagian kranial
• Hemoragi pada intestinal, limfoglandula, ginjal
c. Bentuk Kronis
• Pembesaran limfoglandula
• Perikarditis fibrinosa dan pleurisy
• Perlekatan lobular paru-paru, dapat menjadi nekrosis
• Paru mengecil, keras, dengan nodular putih
• Arthritis
• Ulser kulit
• Kondisi tubuh buruk
HISTOPATOLOGI
Nekrosis jaringan limfatik umum
terjadi, terutama limfoglandula, dengan karioreksis dan hemoragi. Nekrosis
lebih berat dibandingkan CSF. Terdapat vasculitis dengan degenerasi endotel dan
perubahan fibrinoid arteri. Dapat
ditemukan inflamasi pada otak, sumsum tulang belakang, dan saraf spinal tanpa
nanah.
a. Uji Laboratorium
Deteksi dan karakterisasi:
• RT-PCR, isolasi virus, ELISA antigen, PCR konvensional, sequencing
Uji serologi:
• ELISA, imunoperoksidase
b. Spesimen
• Identifikasi agen: darah berantikoagulan, jaringan organ (tonsil, limpa,
limfoglandula, paru, ginjal, usus halus)
• Serologi: serum
• Histopatologi: jaringan dalam PBS
c. Pengiriman Spesimen
Sampel harus didinginkan dan dikirim menggunakan gel beku.
d. Diagnosis Laboratorium
Deteksi virus menggunakan PCR, isolasi virus, ELISA. Karakterisasi dengan
sequencing. Serologi menggunakan imunoperoksidase.
e. Diagnosis Banding
• CSF
• Penyakit Aujeszky
• Erysipelas
• Salmonellosis
• Keracunan (warfarin)
• Pasteurellosis/pneumonia
• Aborsi/mumifikasi/stillbirth
• Mulberry heart disease
• Isoimmune thrombocytopenia
• Viral encephalomyelitis
RESISTENSI DAN IMUNITAS
Virus ASF adalah virus DNA besar
dengan 165 gen dan 50 protein.
Imunitas Bawaan
Populasi babi yang belum terpapar sangat rentan. Populasi yang pernah terpapar
memiliki resistensi lebih tinggi. Di Mozambik, sekitar 40% babi menunjukkan
variasi imunitas bawaan.
Imunitas Dapatan
Perbedaan gejala lebih disebabkan variasi virulensi strain dibandingkan status
imun. Babi yang selamat terlindung terhadap strain homolog tetapi rentan
terhadap strain heterolog. Virus ASF dapat menghindari respons imun dengan
bereplikasi pada makrofag.
a. Vaksinasi dan Penanganan
Hewan Terinfeksi
• Belum ada vaksin komersial
• Vaksin hidup dilemahkan memberi perlindungan homolog, tetapi belum aman
• Vaksin inaktif menghasilkan antibodi tetapi tidak cukup protektif
• Tidak ada pengobatan efektif
EPIDEMIOLOGI
a. Siklus ASF
• Siklus silvatik (babi liar–caplak)
• Siklus caplak–babi domestik
• Siklus domestik (babi–produk babi)
b. Masa Inkubasi
5–15 hari, kadang hingga 20 hari
c. Persistensi Virus dan Transmisi
• Bertahan pada pH 4–10
• Bertahan berbulan-bulan pada daging mentah/beku
• Bertahan 1 bulan di kandang terkontaminasi
• Diinaktivasi Cresol, NaOH 2%, Formalin 1%, sodium carbonate, iodofor, asam
fosfor, deterjen non-ionik, pelarut lemak
d. Transmisi
• Kontak langsung antar babi, termasuk melalui semen
• Kontak tidak langsung melalui feses, urine, pakan, kendaraan, peralatan
• Penularan melalui caplak
e. Vektor
Ornithodorus spp., Phacochoerus spp., Potamochoerus spp., Hylochoerus spp.;
nyamuk dan lalat sebagai penyebar mekanis.
RISIKO MASUKNYA ASF KE INDONESIA
Risiko terbesar berasal dari daging
babi dan produk babi terkontaminasi, bahan genetik babi, serta masuknya babi
hidup. Produk babi ilegal yang dibawa penumpang kapal, pesawat, atau barang
kiriman merupakan rute utama. Sampah kapal pesiar dan bahan genetik impor
ilegal juga menjadi jalur risiko.
#ASF
#SwineFever
#Biosecurity
#PigHealth
#DiseaseAlert
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
18:22
0
comments
Labels: African Swine Fever
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
16:26
0
comments
Labels: African Swine Fever
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
16:05
0
comments
Labels: African Swine Fever
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
11:53
0
comments
Labels: African Swine Fever