Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Sunday, 20 October 2019

Cegah Masuk ASF dari Timor Leste

Kunci untuk Melindungi NTT dan Indonesia dari Masuknya ASF dari Luar Negeri

  1. Hentikan atau kurangi lalu-lintas babi dan produknya antar pulau
  2. Gunakan biosekuriti yang ketat terhadap barang yang dizinkan masuk
  3. Lakukan desinfeksi roda kendaraan yang masuk very dari Timor Barat atau pulau lainnya jika memungkinkan
  4. Lakukan pencucian truck pada saat dikeluarkan dari pelabuhan pengeluaran dan pemasukan
  5. Beri peringatan dan awasi barang bawaan penumpang kapal laut dan kapal udara.
  6. Dilarang membawa daging babi yang dilalu-lintaskan antar pulau bagi penumpang kapal laut dan udara
  7. Laksanakan surveilans secara intensif di: (a) sepanjang perbatasan; (b) sekitar fasilitas penanganan babi; (c) peternakan komersial dan peternakan kecil; (d) daerah babi liar
  8. Perbaiki metode surveilans : (a) gunakan iSIKHNAS untuk pelaporan ASF; (b) Lakukan pengambilan sampel dari babi mati, sakit dan suspect serta babi yang tidak kontak; (c) Gunakan metoda PCR untuk Uji yang dilakukan di BBVet Denpasar.

Langkah yang harus dilakukan di Timor Barat dan NTT
  1. Hentikan lalu-lintas babi dan produknya baik masuk maupun keluar dari NTT di : (a) pintu masuk di perbatasan resmi; (b) Pelabuhan udara dan laut; (c) Hentikan lalu-lintas babi di dekat perbatasan dan kurangi populasi babi di sekitar perbatasan.
  2. Disiapkan protokol Desinfeksi yang efektif beserta perlengkapannya: (a) sebanyak mungkin pada titik-titik perbatasan Timor Leste dan Indonesia; (b) untuk semua kendaraan yang masuk dari Timor Leste masuk ke Indonesia; (c) untuk kendaraan dan orang yang mengangkut babi di dalam Timor Barat; (d) semua petugas yang melakukan surveilans dan kegiatan pencegahan penyakit; (e) pada tempat pengepul dan pemotongan babi.

Strategi Nasional dengan asumsi ASF akan segera masuk ke Indonesia

Sasarannya adalah untuk meminimalkan kerugian ekonomi dan dampak sosial di Indonesia: (a) mencegah penyebaran ASF ke luar pula Timor; (b) melindungi pulau-pulau lain selain Timor seperti Pulau Bali dan Pulau Bulan; (c) melakuan surveilan secara intensif dan membuat rencana strategi respon di wilayah Timor Barat dan Sumut dll; (d) Penerapan biosekuriti pada peternakan komersial besar.

Langkah yang dilakukan oleh penentu kebijakan tingkat atas
  1. Mengembangkan strategi Nasional, Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk mengidentifikasi masalah dengan menggunakan asesmen risiko secepat mungkin.
  2. Penganggaran kesiagaan darurat secepat mungkin.
  3. Membentuk Taskforce dan Pusat pengendalian ASF tingkat Nasional dan Provinsi
  4. Mengembangkan SOP untuk strategi yang disepakati.


Saturday, 19 October 2019

Lima Negara di Afrika Jadi 10 Besar Dunia Th 2100





Pada Tahun 2100, Lima dari Sepuluh Negara Terbesar di Dunia Diproyeksikan Berada di Afrika

 

Lanskap populasi dunia diperkirakan akan mengalami perubahan signifikan pada akhir abad ke-21, dengan Afrika menjadi pusat pertumbuhan penduduk global. Menurut proyeksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berbagai studi demografis, lima dari sepuluh negara dengan jumlah penduduk terbesar akan berada di benua Afrika.

 

Negara-Negara Kunci

Negara-negara seperti Nigeria, Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, Mesir, dan Tanzania diperkirakan akan menjadi negara dengan jumlah penduduk terbanyak. Pertumbuhan ini didorong oleh tingkat kelahiran yang tinggi, perbaikan dalam layanan kesehatan, penurunan angka kematian anak, serta peningkatan harapan hidup.

 

Misalnya, jumlah penduduk Tanzania diperkirakan akan meningkat dari 61,7 juta menjadi 244 juta jiwa pada tahun 2100, menjadikannya negara terpadat ke-9 di dunia dan negara terpadat ke-4 di Afrika.

 

Sementara itu, Mesir diperkirakan akan memiliki jumlah penduduk sekitar 225 juta jiwa pada tahun 2100, yang merupakan peningkatan signifikan dari proyeksi saat ini.

 

Proyeksi ini menunjukkan pergeseran demografis yang signifikan, dengan Afrika menjadi pusat pertumbuhan penduduk global pada abad mendatang.

 


Gunakan Antibiotik dengan Bijak untuk Pet


Hentikan, Pikirkan, dan Pilih dengan Bijak Penggunaan Antibiotik pada Anjing dan Kucing


Friday, 18 October 2019

Amankan Makanan Umat Manusia Sedunia

Sebanyak 1,3 miliar ton makanan terbuang sia-sia setiap tahun. Namun, 1 dari 9 orang tertidur dengan rasa lapar setiap hari.

Stop membuang makanan secara sia-sia:
1. Belilah porsi makanan yang lebih kecil
2. Jangan sisakan makanan di piring kita
3. Berbagilah makanan dengan orang lain

Sumber: PBB.

Thursday, 17 October 2019

Antisipasi Penyakit ASF

 

Antisipasi Penyakit Demam Babi Afrika, Kementan Siapkan Kebijakan Strategis


Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus berupaya mengantisipasi potensi penyebaran wabah penyakit hewan Demam Babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) ke Indonesia. Tindakan kewaspadaan dini ASF telah dimulai sejak adanya notifikasi kejadian wabah ASF di Tiongkok pada September 2018. Hal tersebut diwujudkan dalam bentuk tindakan teknis yang meliputi deteksi cepat, pelaporan sigap dan penanganan tepat. Hal tersebut disampaikan oleh Dirjen PKH, I Ketut Diarmita saat membuka Rapat Koordinasi Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) di Yogyakarta, Senin (14/10/2019).

“Hal yang mengkhawatirkan dari penyebaran penyakit ASF ini adalah belum ditemukannya vaksin untuk pencegahan penyakit dan virusnya sangat tahan hidup di lingkungan serta relatif lebih tahan terhadap disinfektan. Hal tersebut yang menyebabkan penyebaran ASF sulit ditahan dibanyak negara, bahkan bagi negara-negara maju seperti di kawasan Eropa. Penyakit ini merupakan ancaman bagi populasi babi di Indonesia yang mencapai kurang lebih 8,5 juta ekor,” ujar Ketut.

Menurut Ketut, Asia Tenggara dinilai rawan tertular ASF. Kerugian akibat ASF ini akan dirasakan oleh semua pemangku kepentingan, oleh karena itu perlu upaya bersama untuk mencegah sedini mungkin, melakukan kerjasama dengan berbagai pihak terkait, baik di tingkat pemerintah pusat, pemerintah daerah, stakeholder tekait dan masyarakat. 

“Harapannya rapat koordinasi ini menghasilkan kebijakan yang cepat dan tepat, serta untuk menyamakan pola pandang kita terkait ancaman dan langkah-langkah strategis yang harus dilakukan untuk mencegah masuk, dan kemungkinan menyebarnya penyakit ini,” terang Ketut dihadapan peserta rapat yang berasal dari perwakilan dari Eselon II Lingkup Ditjen PKH, Barantan Kementan, Ditjen Bea Cukai Kemenkeu, Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub, UPT lingkup Ditjen PKH, Dinas yang membidangi fungsi Peternakan dan Kesehatan Hewan seluruh Indonesia, PT. Pelabuhan Indonesia, PT. Angkasa Pura, Asosiasi Obat Hewan (ASOHI), Asosiasi Dokter Hewan Monogastrik Indonesia (ADHMI), Ketua Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI), Asosiasi Peternak Babi, PRISMA, dan FAO.

Lanjut Ketut menjelaskan bahwa dalam rangka melindungi sumberdaya kita dari ancaman ASF, diperlukan adanya kebijakan ketat terhadap importasi babi hidup dan produk-produk daging babi, terutama dari negara-negara yang tertular ASF. “Saya menyadari bahwa mempertahankan status bebas ASF merupakan tantangan yang sangat besar, namun kita harus tetap optimis dan berkontribusi seoptimal mungkin sesuai dengan peran kita masing-masing, sehingga Indonesia dapat benar-benar tetap bebas dari ancaman ASF” jelasnya.

*Kesiapsiagaan Kementan Menghadapi ASF*

Ketut menyampaikan Kementan telah menyusun pedoman kesiapsiagaan darurat veteriner ASF (Kiatvetindo ASF), dimana terdapat empat tahapan pengendalian dan penanggulangan apabila terjadi kasus ASF yakni Tahap Investigasi, Tahap Siaga, Tahap Operasional, dan Tahap pemulihan. Berdasarkan kajian analisa risiko, ada beberapa faktor yang menyebabkan masuknya ASF ke Indonesia diantaranya melalui pemasukan daging babi dan produk babi lainnya, sisa-sisa katering transportasi intersional baik dari laut maupun udara, serta orang yang terkontaminasi virus ASF dan kontak dengan babi di lingkungannya. 

Lanjut Ketut menjelaskan langkah strategis utama dalam mencegah terjadi ASF adalah melalui penerapan biosekuriti dan manajemen peternakan babi yang baik. Ketut juga meminta daerah yang berisiko tinggi untuk dapat segera dilakukan pengawasan yang ketat dan intensif.

“Penerapan biosekuriti yang benar perlu dipahami oleh seluruh peternak khususnya peternak babi sehingga menjadi tanggung jawab kita semua untuk memotivasi peternak dengan memberikan informasi dan edukasi” ungkap Ketut.

Sementara itu, Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen PKH, Fadjar Sumping Tjatur Rasa menyampaikan Kementan telah memperkuat penyidikan dan pengawasan penyakit hewan untuk mengantisipasi penyebaran ASF masuk ke wilayah Indonesia, dan menegaskan bahwa laboratorium Indonesia sudah siap untuk pelaksanaan deteksi penyakit ini. “Upaya deteksi cepat melalui kapasitasi petugas dan penyediaan reagen untuk mendiagnosa ASF ini telah dilakukan oleh laboratorium Kementan yakni Balai Veteriner dan Balai Besar Veteriner di seluruh Indonesia yang mampu melakukan uji dengan standar internasional”ungkap Fadjar. 

Pada kesempatan itu, Anak Agung Gde Putra, salah satu anggota Komisi Ahli Kesehatan Hewan, Kesmavet, dan karantina Hewan menyampaikan pencegahan di negara-negara yang belum terinfeksi dapat dilakukan apabila petugas dan masyarakat mempunyai pengetahuan yang baik tentang ASF dan menerapkan manajemen populasi babi liar dengan tepat. Selanjutnya diperlukan juga koordinasi antar-instansi atau lembaga yang bertanggung jawab atas hewan ternak serta memperkuat sistem biosekuriti.

“Untuk mencegah masuk dan menyebarnya ASF, diperlukan kebijakan pemerintah dalam memastikan bahwa tidak ada babi hidup atau olahannya dari wilayah tertular yang masuk ke wilayah bebas, dan memastikan peternak babi tidak melakukan pemberian pakan yang bersumber dari sisa-sisa makanan (swill feed) yang tidak diolah/ dipanaskan terlebih dahulu," pungkasnya.

Sumber : Kementerian Pertanian

Asal Usul Orang Indonesia

Pameran Asal Usul Orang Indonesia (ASOI) yang diselenggarakan oleh Historia bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, resmi dibuka oleh Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, di Museum Nasional, 15 Oktober 2019. Pameran yang hendak memberikan perspektif baru tentang siapa leluhur orang Indonesia ini akan berlangsung hingga 10 November 2019.

Pameran ini menampilkan hasil tes DNA sukarelawan seperti Najwa Shihab, Hasto Kristiyanto, Grace Natalie, Budiman Sudjatmiko, Mira Lesmana, Ayu Utami, Riri Riza, dan Ariel Noah, serta hasil tes DNA dari peserta umum terpilih yang mendaftar di microsite Historia yaitu Sultan Syahrir, Esthi Swastika, Irfan Nugraha, Farida Yuniar, Aryatama Nurhasyim, Solikhin, dan Zaenin Natib.

Pameran ASOI ini, juga menampilkan peta penyebaran manusia di dunia dan Indonesia, serta sejarah manusia dari sudut pandang arkeologis dan antropologis.

Gelombang Migrasi
Homo Sapiens telah mengembara selama ratusan ribu tahun dari benua Afrika. Kemudian sekitar 50.000 tahun yang lalu, sampailah gelombang migrasi pertama di kepulauan Nusantara.

“Jadi dari 150.000 tahun, 100.000 tahun berjalan mengembara melewati lingkungan yang berbeda. Ada hutan yang lebat sekali, orangnya pasti akan mengecil. Karena untuk mencegah penguapan. Rambut juga mungkin lebih keriting. Jadi semua itu yang menyebabkan kita menjadi berbeda dalam perjalanannya. Beragam, bukan berbeda,” ungkap Prof. Dr. Herawati Supolo Sudoyo, Deputi Penelitian Fundamental Eijkman Institute dalam pembukaan pameran ini.

Kepulauan Nusantara menjadi menarik bagi para peneliti genetika karena keberagaman genetika. Lokasi Kepulauan Nusantara yang strategis mengalami empat gelombang migrasi manusia modern. Gelombang pertama yang datang ke Nusantara, berasal dari Afrika secara langsung melewati pantai selatan.

“Dekat laut, dekat daratan juga. Jalan aja. Waktu mereka datang ke Nusantara, Kalimantan, Sumatera, dan Jawa masih jadi satu. Lautnya pendek,” kata Herawati.

Menurut Herawati, sebagian manusia pada gelombang pertama itu pergi lagi ke satu daratan besar bernama Sahul. Sahul pada zaman itu, atau 50.000 tahun yang lalu, merupakan Papua dan Australia yang sekarang. Gelombang kedua, datang dari mereka yang sebelumnya telah sampai ke Asia daratan.

“Ini biasanya pertanyaan. Oh kalau yang gelombang kedua itu mengahabiskan yang pertama ya? Karena perang, kompetisi lahan dan sebagainya. Jawabannya tidak. Karena kita melihat semua DNA yang kita periksa ada campurannya. Jadi itu berarti ada kawin-mawin,” kata Herawati.

Gelombang ketiga datang dari Taiwan atau Pulau Formosa. Orang dari Taiwan ini awalnya juga datang dari Asia daratan. Mereka menyebar ke Filipina, Sulawesi, Kalimantan, membawa Bahasa Austronesia. Diaspora Austronesia ini juga sampai ke Madagaskar hingga Pulau Paskah.

Sementara itu, gelombang keempat datang melalui jalur perdagangan dan pengenalan keagamaan sekitar tahun 700-1300. Orang-orang dari Eropa, India hingga Timur Tengah masuk melalui pelabuhan-pelabuhan di Nusantara.

“Jadi kalau diperiksa itu, teman-teman yang lahir dan besar di Jepara, Rembang, Semarang, Tuban dan sebagainya, campur seperti gado-gado,” ujar Herawati.

Gelombang-gelombang migrasi manusia ke Kepulauan Nusantara, kemudian menyebabkan terjadinya pencampuran gen orang Indonesia. Berangkat dari hal itu, menurut Herawati, toleransi bisa dibuktikan dari hasil penelitian genetika.

Menolak Intoleransi
Melalui tes DNA dalam proyek ini, yang hasilnya menunjukan keberagaman gen, dapat menjadi pengetahuan yang mencerahkan terkait permasalahan ‘pribumi’ dan ‘non pribumi’ maupun sentimen ras, etnis, serta agama yang belakangan muncul lagi.

Perihal itu, Hamid Basyaib, dari Balai Pustaka, yang juga menjadi pembicara, menyebut bahwa etnisitas, yang seringkali memicu intoleransi hanyalah konstruksi sosial.

“Etnisitas ini kan yang dipandang paling core. Itu konstruksi sosial. Maka konsekuensinya sikap rasisme misalnya, tidak punya dasar ilmiah sama sekali,” sebutnya.

Menurutnya, sumber-sumber konflik terkait etnis merupakan politik belaka dan bahkan bukan agama. Ia mencontohkan sentimen anti-Semit yang semakin massif pasca didirikannya negara Israel.

“Sebelum Israel berdiri itu tidak pernah jadi isu besar. Baru setelah Israel berdiri, baru kemudian dikait-kaitkan dengan hal-hal teologis yang lebih mendasar, yang lebih sakral dan sebagainya,” ungkapnya.

Di Indonesia, yang menurutnya merupakan melting pot berbagai ras maupun etnis, sebenarnya telah memiliki sikap toleran sejak dulu.

“Sekarang masalahnya, apakah benar bangsa ini juga seperti yang tercermin dipermukaan bahwa intoleran. Saya nggak yakin. Saya kira anda sangat terlalu terpengaruh oleh medsos, pada ujaran-ujaran kebencian pada orang yang kebetulan sangat menonjol,” sebutnya.

Hamid menekankan agar masyarakat tidak membenarkan atau kesan-kesan intoleransi tersebut. “Kita nggak perlu memperteguh image bahwa terjadi atau muncul sikap intoleransi yang luar biasa akhir-akhir ini, 10 tahun terakhir, 5 tahun terakhir, atau terkait pilpres. Saya kira itu bukan gejala yang permanen,” katanya.

Hasto Kristiyanto, Sekjen DPP PDI Perjuangan yang juga merupakan sukarelawan proyek DNA ini menyebut bahwa hasil penelitian DNA dapat membuktikan bahwa manusia Indonesia terbentuk dari pembauran multietnis dan tidak ada yang bisa mengklaim paling asli Indonesia.

“Realitas uji coba DNA tersebut semakin mengukuhkan prinsip kebangsaan dan moto Bhinneka Tunggal Ika sebagai realitas yang hidup, menjadi nilai, dan kesadaran bahwa Indonesia adalah satu kesatuan bangsa yang berkesadaran dan berkehendak menyatukan diri dalam satu kesatuan wilayah Nusantara. Heterogenitas inilah yang menjadi alasan mengapa sila persatuan Indonesia begitu relevan,” sebutnya.

Amankah Pengawet Lilin Pada Buah-buahan yang Tampak Mengkilat?




Mungkin tak banyak orang tahu bahwa apel, pir dan buah-buahan impor lainnya di supermarket dilapisi lilin untuk membuatnya tetap segar, licin dan bagus.

Buah yang dilapisi lilin akan terasa kesat dan perlu digosok-gosok di air agar lapisan lilinnya hilang. Bahkan sebagian orang memilih menguliti kulit buah agar lilinnya hilang.

Bagaimana kalau lilin tersebut ikut kemakan? Amankah buah-buahan yang diberi lilin tersebut jika dikonsumsi?

Secara alami sebenarnya buah mengeluarkan lapisan lilin atau wax untuk melapisi permukaan kulitnya. Lilin atau wax pada buah ini bermanfaat untuk melindungi dan menjaga kesegaran dari buah itu sendiri.

Namun lilin alami ini akan hilang pada saat buah dipanen dan dicuci oleh petani. Untuk melindungi buah dan menjaga kesegaran buah, pengusaha biasanya melapisi kembali buah tersebut dengan wax atau lilin buatan.

Wax atau lilin buatan ini mempunyai struktur yang mirip dengan lilin yang dikeluarkan secara alami oleh tanaman. Dengan adanya lapisan lilin, maka penguapan air dapat dicegah, sehingga kesegaran buah dapat terjaga sekaligus melindungi buah dari parasit dan jamur yang dapat membuat buah cepat busuk dan rusak.

Menurut Food and Drug Administration (FDA) Amerika, seperti dikutip dari Go Ask Alice, Senin (8/2/2010), lapisan lilin yang banyak dipakai pada buah-buahan berasal dari bahan alami (non petroleum-based) dan aman dipakai untuk semua jenis makanan.

FDA mengatakan bahwa lapisan lilin ditujukan untuk membuat buah tetap terlindungi selama masa transportasi, penyimpanan, penjualan, memperbaiki penampilan dan meningkatkan selera, menjaga kelembaban buah, mencegah tumbuhnya jamur serta menjaga buah tersebut dari benturan fisik.

Satu pon lilin bisa digunakan untuk melapisi sekitar 160.000 buah. Namun tak perlu khawatir, lapisan lilin tersebut bisa hilang dengan mencucinya lagi dengan air mengalir sebelum dikonsumsi atau dimasak.

Untuk mengetahui apakah suatu bahan makanan mengandung wax atau tidak, bisa dicari tulisan pada kemasan berupa 'Coated with food-grade vegetable-, petroleum-, beeswax-, atau shellac- based wax atau resin to maintain freshness'.


Wax yang digunakan untuk melapisi buah dan sayur adalah wax jenis food grade (khusus untuk makanan), terbuat dari madu atau yang terbuat dari tanaman. Wax bersifat 'indegistible' maka wax tidak akan dapat hancur oleh enzim pencernaan dan tidak dapat diserap oleh tubuh tapi aman apabila termakan oleh manusia.


Namun jika Anda masih merasa khawatir mengonsumsi buah-buahan yang mengandung lapisan lilin, sebaiknya:
1. Cuci buah terlebih dahulu sebelum dihidangkan tapi jangan cuci jika akan disimpan karena akan cepat rusak.
2. Karena wax adalah lemak, maka cucilah menggunakan air hangat agar wax dapat cepat larut dalam air atau gunakan cairan khusus untuk mencuci sayur dan buah.
3. Jika Anda masih ragu, sebaiknya konsumsi buah yang sudah dikupas karena wax tidak akan dapat menembus hingga ke daging buah.


Wednesday, 16 October 2019

Jakarta Tegaskan Status Bebas Rabies! Dinas KPKP Rayakan Hari Rabies Sedunia di Balai Kota



Dinas KPKP DKI Jakarta Gelar Peringatan Hari Rabies Sedunia


Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, Saefullah membuka kegiatan peringatan Hari Rabies Sedunia yang digelar oleh Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta di halaman Gedung Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat.


"Apresiasi terhadap seluruh pihak yang selama ini membantu dan bekerja sama dengan pemerintah dalam penanggulangan rabies di DKI Jakarta, "

"Melalui kegiatan ini dan kegiatan vaksinasi secara rutin serta langkah-langkah penanggulangan rabies lainnya diharapkan Jakarta tetap menjadi kota yang terbebas dari rabies," ujar Saefullah, di Balai Kota, Selasa (15/10).
Dalam kesempatan itu, ia juga mengimbau agar masyarakat yang memiliki hewan peliharaan, baik kucing, anjing, kera dan musang harus rutin melakukan vaksinasi hewannya ke dokter hewan atau Dinas KPKP DKI Jakarta.
"Saya juga mengucapkan terima kasih dan apresiasi terhadap seluruh pihak yang selama ini membantu dan bekerja sama dengan pemerintah dalam penanggulangan rabies di DKI Jakarta," jelasnya.
Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Darjamuni menuturkan, peringatan Hari Rabies Sedunia ini terlaksana atas kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk dengan Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) yang senantiasa bersama Pemprov melakukan vaksinasi dan sterilisasi.
"Selain itu, Dinas KPKP dan PDHI juga kerap melakukan sosialisasi dan edukasi pada pelajar, pecinta hewan dan warga pada umumnya," tuturnya.
Ia menambahkan, untuk mempertahankan Jakarta sebagai kota yang bebas rabies sejak 2004, pihaknya setiap tahun memvaksin dan melakukan sterilisasi sebanyak 35.000 hewan. Untuk bulan ini dari tanggal 1-9 Oktober pihaknya sudah memvaksin sebanyak 2.283 dan sterilisasi pada kucing sebanyak 1.503.
"Ke depan kami juga akan lebih meningkatkan pengawasan pada hewan yang masuk dari daerah tetangga yang memang belum bebas rabies," tandasnya.

Sumber :

#HariRabiesSedunia
#JakartaBebasRabies
#VaksinasiHewan
#KesehatanHewan
#OneHealthJakarta

Tuesday, 15 October 2019

Alarm ASF! Terungkap Fakta Mengejutkan tentang Ancaman Mematikan yang Mengintai Peternakan Babi Indonesia!


1. PENGANTAR


Penyakit African Swine Fever (ASF) adalah penyakit viral yang menyerang ternak babi dan babi liar (Suidae). Penyakit ini dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang tinggi karena morbiditas yang tinggi (100%), mortalitas yang tinggi (10–100%), bersifat sangat menular, dapat mengganggu stabilitas perdagangan domestik maupun internasional, menimbulkan larangan ekspor-impor dan pembatasan lalu lintas antar daerah, serta memerlukan tindakan depopulasi karena hingga kini belum terdapat vaksin. ASF juga menyebabkan epidemi yang dapat berlangsung terus menerus.

 

Penyakit ini sangat sulit dikendalikan karena virus ASF sangat tahan terhadap lingkungan. Virus dapat bertahan beberapa hari di dalam feses, beberapa bulan di kandang yang terkontaminasi, hingga 18 bulan di dalam darah. Virus juga dapat bertahan selama 140 hari di dalam produk olahan daging babi serta bertahun-tahun di dalam karkas. Penularan ASF dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung.

 

Strategi pencegahan meliputi karantina, biosekuriti peternakan, serta berbagai langkah lain untuk meminimalisir risiko penularan. Rencana kontingensi harus mencakup seluruh tindakan yang diperlukan untuk memastikan penularan ASF dapat dikenali dan dikendalikan sebelum mencapai fase epidemi, sekaligus memantau kemajuan program eliminasi. Karena tidak adanya vaksin, strategi pengendalian dan pemberantasan ASF yang paling memungkinkan adalah depopulasi.

 

2. ETIOLOGI


Virus ASF diklasifikasikan dalam genus Asfivirus, anggota satu-satunya dari famili Asfaviridae. ASF juga merupakan satu-satunya virus DNA yang ditransmisikan oleh artropoda. Virulensi isolat virus bervariasi dari rendah hingga tinggi.

a. Hewan Peka

Hewan yang peka terhadap ASF adalah babi domestik dan babi liar. Semua babi liar Afrika rentan namun tidak menunjukkan gejala klinis sehingga dianggap sebagai reservoir. Babi liar Eropa (Sus scrofa) rentan dengan tingkat fatalitas yang mirip babi domestik. Babi liar di Amerika Selatan dan Karibia juga memiliki kerentanan tinggi. Manusia tidak rentan terhadap ASF.

b. Penyebaran di Dunia dan Kejadian di Indonesia

ASF pertama dilaporkan di Afrika bagian selatan pada 1900–1905, kemudian menyebar ke Afrika tengah dan utara (Sub-Sahara). Pada 1957, ASF dilaporkan di Portugal dan kemudian menyebar ke Eropa tengah hingga Rusia pada 2008. Pada Agustus 2018 penyakit ini dilaporkan di China.

Setelah itu ASF ditemukan di Mongolia (Januari 2019), Vietnam (Februari 2019), Kamboja (Maret 2019), Hongkong (Mei 2019), Korea Utara (Mei 2019), Laos (Juni 2019), Myanmar (Agustus 2019), Filipina dan Timor Leste (September 2019). Hingga informasi terakhir, penyakit ini belum dikonfirmasi di Indonesia.

c. Kriteria Diagnosis

  1. Kasus Terduga ASF

Babi yang menunjukkan demam, anoreksia, lesu, kemerahan kulit, atau kematian dengan mortalitas >5%, atau kematian mendadak >30% tanpa gejala klinis khas.

  1. Kasus Terduga Kuat ASF

Disertai perubahan patologi:

• Pembengkakan limfoglandula gastrohepatika

• Pembengkakan limpa berwarna kehitaman dan rapuh

  1. Kasus Telah Dikonfirmasi ASF

Positif melalui isolasi/identifikasi virus atau deteksi gen ASF menggunakan PCR di laboratorium yang ditunjuk.

 

Tanda-Tanda Klinis (Perakut, Akut, Subakut, Kronis)

• Mati mendadak tanpa gejala (perakut)

• Demam hingga 42°C

• Hiperemia/sianosis ekstremitas (telinga, moncong)

• Hilang nafsu makan
• Tidak mampu berdiri, konvulsi
• Inkoordinasi

 

PATOLOGI

 

Patologi Anatomi

a. Bentuk Akut
• Hemoragi limfoglandula (ginjal, usus halus, gastrohepatika, submandibular)
• Pembesaran limpa 2–3 kali ukuran normal, gelap, lunak, mudah hancur
• Hemoragi hampir di semua organ
• Udema septa paru-paru
• Cairan dalam rongga tubuh

b. Bentuk Subakut
• Hemoragi limfoglandula dan ginjal
• Pembesaran limpa tanpa penyumbatan
• Konsolidasi lobular paru bagian kranial
• Hemoragi pada intestinal, limfoglandula, ginjal

c. Bentuk Kronis
• Pembesaran limfoglandula
• Perikarditis fibrinosa dan pleurisy
• Perlekatan lobular paru-paru, dapat menjadi nekrosis
• Paru mengecil, keras, dengan nodular putih
• Arthritis
• Ulser kulit
• Kondisi tubuh buruk

 

HISTOPATOLOGI

 

Nekrosis jaringan limfatik umum terjadi, terutama limfoglandula, dengan karioreksis dan hemoragi. Nekrosis lebih berat dibandingkan CSF. Terdapat vasculitis dengan degenerasi endotel dan perubahan fibrinoid arteri. Dapat ditemukan inflamasi pada otak, sumsum tulang belakang, dan saraf spinal tanpa nanah.

a. Uji Laboratorium
Deteksi dan karakterisasi:
• RT-PCR, isolasi virus, ELISA antigen, PCR konvensional, sequencing
Uji serologi:
• ELISA, imunoperoksidase

b. Spesimen
• Identifikasi agen: darah berantikoagulan, jaringan organ (tonsil, limpa, limfoglandula, paru, ginjal, usus halus)
• Serologi: serum
• Histopatologi: jaringan dalam PBS

c. Pengiriman Spesimen
Sampel harus didinginkan dan dikirim menggunakan gel beku.

d. Diagnosis Laboratorium
Deteksi virus menggunakan PCR, isolasi virus, ELISA. Karakterisasi dengan sequencing. Serologi menggunakan imunoperoksidase.

e. Diagnosis Banding
• CSF
• Penyakit Aujeszky
• Erysipelas
• Salmonellosis
• Keracunan (warfarin)
• Pasteurellosis/pneumonia
• Aborsi/mumifikasi/stillbirth
• Mulberry heart disease
• Isoimmune thrombocytopenia
• Viral encephalomyelitis

 

RESISTENSI DAN IMUNITAS

 

Virus ASF adalah virus DNA besar dengan 165 gen dan 50 protein.

Imunitas Bawaan
Populasi babi yang belum terpapar sangat rentan. Populasi yang pernah terpapar memiliki resistensi lebih tinggi. Di Mozambik, sekitar 40% babi menunjukkan variasi imunitas bawaan.

Imunitas Dapatan
Perbedaan gejala lebih disebabkan variasi virulensi strain dibandingkan status imun.
Babi yang selamat terlindung terhadap strain homolog tetapi rentan terhadap strain heterolog. Virus ASF dapat menghindari respons imun dengan bereplikasi pada makrofag.

a. Vaksinasi dan Penanganan Hewan Terinfeksi
• Belum ada vaksin komersial
• Vaksin hidup dilemahkan memberi perlindungan homolog, tetapi belum aman
• Vaksin inaktif menghasilkan antibodi tetapi tidak cukup protektif
• Tidak ada pengobatan efektif

 

EPIDEMIOLOGI

 

a. Siklus ASF
• Siklus silvatik (babi liar–caplak)
• Siklus caplak–babi domestik
• Siklus domestik (babi–produk babi)

b. Masa Inkubasi
5–15 hari, kadang hingga 20 hari

c. Persistensi Virus dan Transmisi
• Bertahan pada pH 4–10
• Bertahan berbulan-bulan pada daging mentah/beku
• Bertahan 1 bulan di kandang terkontaminasi
• Diinaktivasi Cresol, NaOH 2%, Formalin 1%, sodium carbonate, iodofor, asam fosfor, deterjen non-ionik, pelarut lemak

d. Transmisi
• Kontak langsung antar babi, termasuk melalui semen
• Kontak tidak langsung melalui feses, urine, pakan, kendaraan, peralatan
• Penularan melalui caplak

e. Vektor
Ornithodorus spp., Phacochoerus spp., Potamochoerus spp., Hylochoerus spp.; nyamuk dan lalat sebagai penyebar mekanis.

 

RISIKO MASUKNYA ASF KE INDONESIA

 

Risiko terbesar berasal dari daging babi dan produk babi terkontaminasi, bahan genetik babi, serta masuknya babi hidup. Produk babi ilegal yang dibawa penumpang kapal, pesawat, atau barang kiriman merupakan rute utama. Sampah kapal pesiar dan bahan genetik impor ilegal juga menjadi jalur risiko.


#ASF 

#SwineFever 

#Biosecurity 

#PigHealth 

#DiseaseAlert

Monday, 14 October 2019

Kelangsungan Hidup Virus ASF


Kelangsungan hidup virus African Swine Fever di berbagai kondisi dan dalam daging

 

Virus ASF pada suhu kamar bisa bertahan selama 11 hari.  Virus African Swine Fever apabila terkena suhu 50 oC bisa bertahan selama 180 menit, pada suhu 56 oC bisa bertahan selama 70 menit dan pada panas suhu 60 oC bertahan selama 20 menit. 


Virus ASF pada pen kandang yang terkontaminasi bisa bertahan selama sebulan. 

Apabila virus ASF dalam darah disimpan pada suhu 4 oC bisa bertahan tetap hidup selama 18 bulan. Virus ASF ada darah yang dimurnikan bisa bertahan selama 15 minggu.

Dalam daging segar beku virus ASF bisa bertahan hidup hingga 1000 hari.
Virus ASF Dalam kulit atau lemak bertahan selama 300 hari.  Virus ASF dalam daging dengan tulang dikeringkan juga bisa bertahan selama 300 hari.

Visus ASF dalam Parma Ham tahan 183 hari; dalam daging tanpa tulang digarami tahan 182 hari; dalam special ham (serrano) dan Iberian ham tahan 140 hari; dalam jeroan, daging tanpa tulang, daging dengan tulang dan daging giling tahan 105 hari; daging tanpa tulang diasap tahan 30 hari. Sedangkan dalam daging tanpa tulang dimasak dan daging dimasak dikalengkan tidak ditemukan virus ASF.

Sumber : DEFRA (2018)


ASF Menyebar Cepat di Asia-Pasifik: Peta Wabah dan Negara Terdampak per 3 Oktober 2019

Situasi ASF di Asia-Pasifik per 3 Okt 2019


Situasi terbaru African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika ini periode 27 September - 3 Oktober 2019. Laporan ini merupakan ringkasan dari semua Pemberitahuan Segera / Immediate Notifications (INs) dan Laporan Tindak Lanjut / Follow-up reports (FURs) yang disampaikan kepada OIE oleh negara-negara di wilayah tersebut untuk melaporkan terjadinya penyakit sejak 2018. Klasifikasi populasi yang terkena dampak (oleh halaman belakang dan babi yang diternakkan, dan babi hutan) dibuat dengan mempertimbangkan peran mereka yang berbeda dalam epidemiologi penyakit.

Laporan terbaru (IN / FUR) disampaikan kepada OIE di Asia dan Pasifik. 

Sejak kemunculan pertama ASF di Tiongkok (People's Rep.) pada 1 Agustus 2018, penyakit ini telah menyebar ke Mongolia (Januari, 2019), Vietnam (Februari, 2019), Kamboja (Maret, 2019), Hong Kong (SAR-RRC) (Mei, 2019), Korea (Dem. People's Rep.) (Mei, 2019), Laos (Juni, 2019), Myanmar (Agustus, 2019), Filipina (Juli, 2019), Korea (Rep. of) (September, 2019), dan yang terbaru, Timor-Leste (September, 2019). Selain itu, Rusia melaporkan peristiwa ASF di sisi timur negara itu (berbatasan dengan China (People's Rep.)), pada Agustus 2019.

Kamboja: sejak kejadian pertama penyakit, 13 wabah telah dilaporkan di lima divisi administrasi yang berbeda. Semua wabah telah dilaporkan telah diselesaikan.

China (People's Rep.): Sejak kemunculan pertama di negara itu (1 Agustus 2018), 159 wabah telah dilaporkan di 31 divisi administrasi yang berbeda, dari mana 103 telah diselesaikan. Saat ini, 56 wabah di 17 divisi administrasi yang berbeda masih berlangsung di China (People's Rep. Of).

Hong Kong (SAR-PRC): sejak kemunculan pertama penyakit pada 2 Mei, tiga wabah telah diberitahukan. Virus terdeteksi dalam sampel jaringan yang dikumpulkan dari babi di rumah jagal, sebagai bagian dari sistem pengawasan. Semua acara ASF di negara ini telah diselesaikan.

Korea (Dem. People's Rep.): Memberitahukan kejadian pertama penyakit di negara itu pada 30 Mei. Sejak saat itu, tidak ada pembaruan yang diajukan.

Korea (Republik): negara ini melaporkan kejadian pertama penyakit pada tanggal 18 September. Sembilan wabah saat ini sedang berlangsung di negara itu. Dua divisi administratif telah terkena wabah (Gyeonggi-Do dan Incheon Metropolitan City).

Laos: sejak kemunculan pertama ASF di negara ini pada 20 Juni tahun ini, 94 wabah telah dilaporkan di lima belas divisi administratif yang berbeda. Semua wabah masih berlangsung.

Myanmar: penyakit ini pertama kali dilaporkan di negara itu pada 14 Agustus tahun ini (kejadian dimulai 1 Agustus 2019). Empat wabah telah dilaporkan di Negara Bagian Shan. Semua masih berlangsung.

Mongolia: semua kejadian ASF telah bisa ditanggulangi. Jumlah keseluruhan ada 11 wabah terjadi di negara itu sejak kejadian pertama pada Januari 2019.

Filipina: pada 9 September tahun ini, negara itu memberitahukan kejadian pertama penyakit itu. Tujuh wabah saat ini sedang berlangsung. Kejadian dimulai pada 25 Juli tetapi hanya dikonfirmasi pada 30 Agustus 2019.

Rusia: penyakit ini dilaporkan di Rusia untuk pertama kalinya pada 2007. Baru-baru ini, penyakit ini diberitahukan di tiga divisi administrasi baru (Oblast Amurskaya, Primorskiy Kray, dan Oblast Yevreyskaya Avtonomnaya) yang berbatasan dengan China (People's Rep.). Lima puluh wabah telah dilaporkan dalam kejadian ASF ini. Saat ini ada 26 wabah yang sedang berlangsung di bagian Asia negara itu. Untuk memiliki pandangan tentang total wabah yang sedang berlangsung di negara ini, dapat merujuk ke update global OIE terbaru tentang ASF.

Timor Leste: penyakit ini pertama kali terjadi di negara itu pada 9 September tahun ini dan dikonfirmasi pada 26 September tahun ini. Pada saat ini terdapat 100 wabah yang sedang berlangsung di Kotamadya Dili.

Vietnam: secara total, 6.083 wabah telah dilaporkan di 63 divisi administratif sejak pertama kali penyakit ini muncul di negara tersebut (1 Februari 2019). Tak satu pun dari wabah ini yang dilaporkan telah bisa ditanggulangi. Jumlah cluster sampai sebanyak 447 wabah telah dilaporkan di negara ini.

CATATAN: Kerugian dihitung berdasarkan jumlah hewan yang mati dan dimusnahkan di peternakan yang terinfeksi atau peternakan backyard yang diberitahukan dalam wabah. Namun, OIE tidak mengumpulkan informasi kuantitatif tentang langkah-langkah tambahan pengendalian yang diterapkan dalam menanggapi wabah (misalnya pemusnahan pencegahan di zona sekitar wabah).

OIE telah menerbitkan laporan ASF setiap dua minggu di situs web.  Untuk informasi terbaru silakan merujuk ke WAHIS.

Sumber: OIE, Situational updates of ASF in Asia and the Pacific (27 September – 3 October 2019)

#ASF 
#WabahHewan 
#AsiaPasifik 
#KesehatanHewan 
#Biosekuriti

Waspada! Virus ASF Tahan Hidup hingga 83 Hari di Daging Kering Italia — Ancaman Tersembunyi di Balik Lezatnya Produk Babi Olahan

 




Kelangsungan hidup virus ASF di berbagai produk daging kering tradisional Italia
 
 
Sejumlah penyakit hewan dapat ditularkan ke babi melalui daging babi dan produk babi yang diimpor dari daerah yang terinfeksi. Oleh karena itu,memberi makan Swill Feed kepada babi diatur atau dilarang di banyak negara. Demam babi Afrika adalah salah satu penyakit babi utama yang diakui penularannya secara signifikan melalui jalur pemberian makan Swill Feed.

Penilaian risiko penyakit yang terkait dengan produk daging babi membutuhkan pengetahuan tentang (a) keberadaan virus hidup dalam bahan aslinya, dan (b) berapa lama virus masih bertahan bisa menginfeksi dalam produk babi.

Efek dari proses pengeringan kering pada inaktivasi virus demam babi Afrika (ASFV) dalam tiga produk daging kering Italia berbeda yang dibuat dari babi yang terinfeksi secara eksperimental yang disembelih pada saat puncak viremia. Produk daging diproses menggunakan metode komersial dan prosedur industri yang saat ini biasa dilakukan di Italia. Sampel yang dikumpulkan pada interval yang telah ditentukan selama pemrosesan dianalisis untuk kelangsungan hidup virus dengan isolasi virus dan inokulasi pada hewan.

ASFV masih bisa dideteksi pada percobaan in vivo hingga 18 hari untuk produk Salami Italia, 60 hari untuk daging bagian perut babi (pork belly), dan 83 hari untuk daging bagian pinggang babi (loin).  Data ini memberikan informasi berharga bagi industri pengolahan daging babi ketika merencanakan ekspor produk-produk ini.

Sumber :
Petrini SFeliziani FCasciari CGiammarioli MTorresi CDe Mia GM.  2019. Survival of African swine fever virus (ASFV) in various traditional Italian dry-cured meat products. Prev Vet Med. 2019 Jan 1;162:126-130.

#DemamBabiAfrika
#ASFVDagingBabi
#KeamananProdukHewan
#RisikoSwillFeed
#ProdukDagingOlahan