Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Sunday, 17 November 2019

Spektakuler! ‘Kembang Api’ Bawah Laut di Great Barrier Reef Resmi Dimulai—Lebih Dahsyat dari Tahun-Tahun Sebelumnya!

 


Pemijahan Massal Terumbu Karang Tahunan di Great Barrier Reef Australia Dimulai


Bayangkan miliaran telur dan sperma karang melayang serempak di bawah permukaan laut, menciptakan pertunjukan alam bak kembang api bawah air, sebuah keajaiban tahunan yang hanya berlangsung dalam hitungan jam. Inilah momen langka yang kini tengah terjadi di Great Barrier Reef, Australia, ketika pemijahan massal terumbu karang kembali memuncak. Tahun ini, para ilmuwan menyaksikan lonjakan luar biasa dalam volume reproduksi alami ini, menyulut harapan baru bagi ekosistem laut yang tengah berjuang melawan dampak perubahan iklim.


Pemijahan massal terumbu karang telah dimulai di Great Barrier Reef Australia, dengan indikasi awal bahwa peristiwa tahunan ini dapat menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir, menurut para ahli biologi kelautan setempat pada Minggu (17 November).

 

Diterpa oleh peningkatan suhu laut akibat perubahan iklim dan pemutihan karang, sistem terumbu terbesar di dunia ini memasuki masa "kegilaan" setahun sekali dengan pelepasan massal telur dan sperma karang yang terkoordinasi untuk meningkatkan peluang fertilisasi.


 


Ahli biologi kelautan Pablo Cogollos dari operator tur berbasis di Cairns, Sunlover Reef Cruises, mengatakan bahwa malam pertama pemijahan tahun 2019 sangat "melimpah", memberikan tanda positif bagi ekosistem yang terancam ini.

 

"Volume telur dan sperma tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu, ketika karang lunak memijah empat malam setelah bulan purnama dan dianggap sebagai pemijahan karang terbaik dalam lima tahun," katanya.

 

Fenomena alam ini, yang sering dibandingkan dengan kembang api bawah laut atau badai salju, hanya terjadi setahun sekali dalam kondisi tertentu: setelah bulan purnama ketika suhu air berkisar antara 27 hingga 28 derajat Celsius.


Karang lunak adalah yang pertama memijah, diikuti oleh karang keras, dalam proses yang biasanya berlangsung antara 48 hingga 72 jam.

 

Terumbu karang sepanjang 2.300 kilometer ini telah kehilangan sebagian besar areanya akibat kenaikan suhu laut yang terkait dengan perubahan iklim, meninggalkan sisa-sisa kerangka dalam proses yang dikenal sebagai pemutihan karang.




Bagian utara terumbu ini mengalami dua tahun berturut-turut pemutihan parah yang belum pernah terjadi sebelumnya pada tahun 2016 dan 2017, sehingga memunculkan kekhawatiran bahwa kerusakan tersebut mungkin tidak dapat diperbaiki.



Para ilmuwan tahun lalu meluncurkan proyek untuk mengumpulkan telur dan sperma karang selama pemijahan, yang kemudian direncanakan untuk ditumbuhkan menjadi larva karang dan digunakan untuk meregenerasi area terumbu yang rusak parah.


Di tengah kekhawatiran akan punahnya salah satu keajaiban alam terbesar di dunia, ledakan kehidupan di Great Barrier Reef justru menunjukkan bahwa alam belum menyerah. Pemijahan massal tahun ini bukan hanya sebuah siklus biologis—ini adalah seruan keras dari samudra bahwa harapan masih hidup. Jika kita mampu mendengarkan dan bertindak, barangkali, kerangka-kerangka karang yang memutih itu bisa kembali berwarna, satu larva demi satu.

 

Sungguh, fenomena luar biasa ini mengingatkan kita pada firman Allah dalam Al-Qur’an: "Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. Az-Zariyat: 20–21)

 

Terumbu karang yang hidup kembali adalah salah satu dari sekian banyak tanda kebesaran-Nya—bahwa kehidupan bisa tumbuh bahkan dari sisa-sisa yang nyaris mati, jika kita menjaganya dengan ilmu, iman, dan kepedulian.

 

SUMBER:

The Strait Times, 17 November 2019

#GreatBarrierReef 

#CoralSpawning 

#TerumbuKarang 

#Oseanografi 

#Iklim


Kupu-Kupu Jepang Terancam Punah: Alarm Keras Kerusakan Alam yang Mengancam Satwa Lain

 


Penurunan Drastis Populasi Kupu-Kupu di Jepang; Satwa Lain Juga Dikhawatirkan Terancam Punah

Sebuah pengamatan tetap terhadap satwa liar di area hutan dekat desa-desa di Jepang selama tahun fiskal 2005–2017 menemukan bahwa sekitar 40% spesies kupu-kupu umum mengalami penurunan jumlah dan kemungkinan terancam punah. Temuan ini disampaikan dalam laporan yang dirilis oleh Kementerian Lingkungan Hidup Jepang dan Nature Conservation Society of Japan (NACS-J) pada 12 November.

 

Satwa liar lainnya, termasuk kelinci liar—yang awalnya dianggap memiliki risiko kepunahan relatif rendah—juga menunjukkan penurunan jumlah yang signifikan. Para ahli menuntut adanya upaya segera untuk melestarikan habitat hewan-hewan ini.

 

Kementerian Lingkungan Hidup, yang secara rutin memantau flora dan fauna di sekitar 1.000 lokasi di kawasan pegunungan dan pesisir, menyusun hasil penelitian yang dilakukan di 192 area hutan. Selain itu, mereka memeriksa perubahan populasi 87 spesies kupu-kupu umum yang diamati selama tahun fiskal 2005–2017 dengan bantuan penduduk setempat dan NACS-J.

 

Kementerian menemukan bahwa 34 spesies, atau sekitar 40%, mengalami penurunan populasi setidaknya 30%, menunjukkan kemungkinan bahwa spesies tersebut kini terancam punah.

 

Secara khusus, populasi kupu-kupu nasional Jepang, great purple emperor, serta spesies Alpine black swallowtail dan empat spesies lainnya diperkirakan menurun drastis lebih dari 90%. Kesimpulannya, jumlah enam spesies tersebut kini setara dengan kategori "Terancam Punah Kelas IA" pada daftar merah hewan yang terancam punah dari kementerian, yang merupakan kategori risiko kepunahan tertinggi.

 

Menurut kementerian, penyebab utama penurunan populasi kupu-kupu kemungkinan meliputi kerusakan kulit pohon dan semak akibat rusa, pencemaran air, serta penggunaan bahan kimia pertanian.

 

"Alasan lainnya mungkin adalah kurangnya perawatan manusia terhadap hutan, sehingga kawasan tersebut menjadi rusak dan mengurangi jumlah tumbuhan yang diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang sesuai bagi kupu-kupu," kata Minoru Ishii, profesor emeritus entomologi dari Universitas Prefektur Osaka yang ahli dalam ekologi kupu-kupu. "Saya percaya penurunan populasi kupu-kupu dapat berdampak pada makhluk lain, seperti burung," tambahnya.

 

"Data ini benar-benar mengejutkan," kata seorang perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup.

 

Spesies lain yang diduga telah menjadi terancam punah meliputi kelinci liar yang terutama hidup di padang rumput, cerpelai Jepang yang hidup di hutan, dua jenis kunang-kunang termasuk genji-botaru, serta katak cokelat gunung yang hidup di daerah sekitar perairan.

 

SUMBER
The Mainichi, 17 November 2019


#KupuKupuJepang
#KrisisKeanekaragamanHayati
#SatwaTerancamPunah
#LingkunganHidup
#KonservasiAlam


Friday, 15 November 2019

Penggunaan Antimikroba yang Bertanggung Jawab


 

Penggunaan Antimikroba yang Bertanggung Jawab dan Bijak

 
Sementara penggunaan besar antimikroba telah terjadi dalam kesehatan manusia dan hewan selama beberapa dekade terakhir, dunia menghadapi peningkatan yang cepat dalam munculnya resistensi antimikroba. Namun penemuan pengobatan baru tidak cukup untuk mempertahankan perang melawan bakteri, organisme yang bertanggung jawab atas penyakit serius pada manusia dan hewan.
Lebih jauh, globalisasi perdagangan produk makanan, bersama dengan pariwisata tradisional dan medis, memungkinkan bakteri yang ada atau yang akan datang untuk mengkolonisasi seluruh planet dengan mudah, apa pun tindakan pencegahan lokal yang diterapkan. Risiko yang diambil oleh satu negara dengan demikian dapat membahayakan efektivitas dan ketersediaan antibiotik untuk seluruh planet bumi ini.
Melindungi kemanjuran agen antimikroba
Resistensi antimikroba menimbulkan ancaman kesehatan di seluruh dunia: konsekuensinya, langsung dan tidak langsung, dapat merusak kesehatan manusia dan hewan.
Bagi mereka yang berada di sektor kesehatan hewan, penggunaan produk obat hewan, termasuk agen antimikroba, sangat penting untuk:
• melindungi kesehatan dan kesejahteraan hewan, dengan pengetahuan bahwa penyakit hewan dapat menyebabkan kerugian produksi hingga 20%
• berkontribusi pada keamanan pangan, karena pertumbuhan populasi dunia mengarah pada peningkatan permintaan protein hewani berkualitas tinggi, misalnya, yang ditemukan dalam telur, daging, dan susu;
• melindungi kesehatan masyarakat, karena lebih dari 60% penyakit hewan menular dapat menular ke manusia.
Semua alasan ini, agen antimikroba merupakan barang publik global, dan melindungi kemanjurannya tetap penting.
Merasionalisasi dan mengawasi penggunaan agen antimikroba
OIE merekomendasikan kebijakan yang memungkinkan jaringan hewan dasar untuk pengawasan kesehatan hewan yang efektif yang memastikan deteksi dini penyakit hewan potensial (termasuk zoonosis) dan respons cepat untuk menampungnya di lokasi wabah. Jaringan ini juga menjamin tingkat kesehatan hewan secara umum, memfasilitasi penggunaan produk hewan dan antibiotik yang masuk akal, sesuai dan terbatas.
OIE menganjurkan penggunaan agen antimikroba yang bertanggung jawab dan bijaksana, di bawah pengawasan dokter hewan yang telah terlatih dengan baik dan diawasi dengan baik oleh badan hukum veteriner. Dalam konteks ini, Organisasi menerbitkan standar, pedoman, dan rekomendasi antar pemerintah yang ditujukan untuk Layanan Kedokteran Hewan di Negara-negara Anggota.
Pengawasan penggunaan agen antimikroba pada hewan
Di banyak negara, termasuk negara maju, agen antimikroba tersedia secara luas untuk semua, secara langsung dan tidak langsung, dengan hampir tidak ada pembatasan pada kondisi yang tepat untuk impor, produksi, distribusi dan penggunaan produk hewan, termasuk agen antimikroba. Dengan demikian, produk-produk ini beredar seperti barang-barang biasa, tanpa kontrol, dan sering dipalsukan.
Selain itu, belum ada sistem pengawasan yang harmonis untuk memantau penggunaan dan sirkulasi agen antimikroba pada hewan di seluruh dunia. Mengumpulkan informasi ini akan memungkinkan negara-negara untuk lebih mengontrol kualitas dan efektivitas produk yang digunakan. Dalam konteks inilah OIE diberi mandat oleh Negara-negara Anggotanya untuk mengumpulkan informasi yang hilang ini dan membuat basis data di seluruh dunia untuk memantau penggunaan agen antimikroba pada hewan. Basis data ini, yang pada akhirnya akan dihubungkan dengan Sistem Informasi Kesehatan Hewan Dunia OIE (WAHIS), akan memudahkan untuk menganalisis dan mengendalikan sumber obat-obatan impor, meningkatkan keterlacakannya oleh Negara-negara Anggota OIE.
Mengembangkan pengobatan alternatif untuk antibiotik
OIE mendukung penelitian baru menjadi alternatif untuk antibiotik (terutama vaksin) dan khususnya menyambut simposium internasional tentang masalah ini pada tahun 2012, yang diselenggarakan oleh Aliansi Internasional untuk Standardisasi Biologis (IABS) dan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA).

Sumber:
OIE

Reformasi Kelembagaan Pengelolaan Irigasi


Ada tiga faktor yang saling mempengaruhi yang akan menentukan arah pengelolaan irigasi dimasa yang akan datang yaitu produk hukum berupa undang undang dan peraturan pemerintah, kearifan lokal yang dipraktekkan oleh masya­rakat setempat, dan perkembangan teknologi.

(1) Memperjuangkan Kewenangan Melalui Produk Hukum
Menurut Schlager dan Ostrom(1999) pengelolaan air dari perspektif kelembagaan dapat diartikan sebagai kewenangan membuat keputusan dalam pemanfaatan sumber daya air. Pengelolaan air merupakan salah satu tipe hak atas air yang dapat bersifat kumulatip. Termasuk dalam hak atas air (water rights) misalnya hak untuk akses, yaitu hak untuk masuk dalam suatu kawasan sumberdaya, hak pemanfaatan, yaitu hak untuk mamanfaatkan satuan dari sumberdaya, hak mengenyampingkan (exclusion right), yaitu hak untuk menentu­kan siapa yang boleh dan tidak boleh masuk kawasan dan memanfaatkan sumberdaya, hak transfer yaitu hak untuk menjual atau menyewakan sumberdaya. Hak untuk akses dan pemanfaatan adalah hak pada tingkat operasional sedangkan tiga hak lainnya adalah hak kolektif.
Tatkala krisis ekonomi yang terjadi sejak 1997 mulai berkepanjangan dirasakan bahwa kemampuan pemerintah dalam membiayai operasi dan pemeliharaan sistem irigasi yang menjadi tanggung jawabnya semakin terbatas. Hal ini antara lain terjadi karena meluasnya sistem irigasi berbasis masyarakat yang terkooptasi menjadi sistem irigasi berbasis pemerintah.
Apa sebenarnya permasalahan yang timbul dengan adanya intervensi pemerintah dalam memperbaiki sistem irigasi masyarakat pada masa lampau? Permasalahan utamanya terletak pada kerangka pengelolaan, yaitu rancangbangun yang melandasi pola pengelolaan berbasis pemerintah tersebut. Dalam prakteknya pola ini menghendaki adanya keputusan yang cenderung sentralistik, dalam mengatur pola tanam dan pembagian air. Keputusan yang dibuat diatur melalui operasi bangunan-bangunan air seperti pintu air yang ada dalam suatu sistem irigasi.
Kerangka fisik yang baru dari suatu sistem irigasi dengan demikian menghendaki kerangka pengelolaan tertentu yang berbeda dengan kerangka pengelolaan semula dan sebagai akibat lebih lanjut adalah meningkatnya ketergantungan masyarakat tani setempat terhadap pemerintah dalam pengelolaan irigasi, termasuk pembiayaan operasi dan pemeliharaan (Pasandaran, 2004).
Mencermati perkembangan tersebut sebenarnya PP 77 tahun 2001, yang memberikan kewenangan penuh bagi masyarakat untuk mengelola sistem irigasi dapatlah dianggap sebagai suatu terobosan kelembagaan dalam rangka memulihkan citra irigasi berbasis masyarakat.
Namun demikian upaya mewujudkan pengelolaan irigasi berbasis masyarakat yang mandiri di masa datang hendaknya dilihat dalam kerangka dinamika evolusioner dengan menyegarkan kembali (reinvigoration) secara penuh kekuatan melekat yang menjadi cirinya, misalnya ciri-ciri keterbukaan, musyawa­rah, partisipatif, dan saling mempercayai. Semua ciri tersebut adalah bagian dari kapital sosial yang diperlukan bagi terwujudnya tatanan pemerintahan yang baik (Good Governance) dalam mengelola sumberdaya air. Membangun kembali elemen kapital sosial tersebut berarti juga memperkuat prinsip "subsidiarity" atau ketangguhan lokal untuk menjaga goncangan-goncangan yang berasal dari luar.
Pertarungan kepentingan politik lebih lanjut dalam era reformasi dan desentralisasi menghasilkan Undang Undang no 7 tahun 2004 tentang sumberdaya air yang tidak memberikan kewenangan kepada petani untuk mengelola irigasi secara menyeluruh. Pada tingkat "judicial review" oleh Mahkamah Konstitusi dipersoalkan apakah undang undang tersebut mampu menterjemahkan aspirasi yang terdapat dalam UUD 1945? Dalam hal memenuhi amanat pasal 33 ayat 3 apakah pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya air yang diatur melalui undang-undang ini mampu memberi peluang bagi sebesar besarnya kemakmuran rakyat?
Mengingat cukup banyak undang-undang yang dihasilkan dimasa lampau menjadi tidak efektif dalam pelaksanaannya, salah satu cara untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah menyoroti apakah suatu produk hukum merupakan perwujudan dari prinsip atau kerangka dasar yang dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya atau kelompok masyarakat yang terkait dengan masalah yang diatur. Sebelum menjawab secara langsung tentang apa relevansi undang-undang ini dari sudut pandang tersebut, terlebih dahulu digambarkan kontekstualisasi politik penyusunan undang-undang yang menyangkut sumberdaya air di Indonesia.
Ada dua undang-undang yang mendahului yaitu "Algemeen Water Reglement" (AWR) pada tahun 1936 (Staatsblad, 489), dan UU No. 11 tahun 1974 yang perlu diperhatikan mengingat kedua produk hukum ini turut memberi warna
terhadap UU No. 7, 2004.
AWR pada hakekatnya adalah produk hukum yang memberi landasan bagi pengelolaan sumberdaya air khususnya irigasi, mengingat irigasi adalah salah satu instrumen kebijakan yang dituangkan dalam politik etika (Ethiesche Politiek) yang di sampaikan Ratu Wilhelmina tatkala membuka lembaran abad 20 pada tahun 1900 di depan perlemen Belanda (Tweede Kamer). Setelah mengalami ujicoba pembangunan irigasi dalam skala besar selama kurang lebih 50 tahun sejak pertengahan abad 19 dan mengalami evaluasi oleh berbagai komisi, antara lain komisi Van Deventer, barulah formalisasi kebijakan dilakukan.
Demikian pula AWR disusun berdasarkan suatu proses yang memakan waktu, terutama menyangkut prinsip pengelolaan yang digunakan misalnya apakah prinsip yang mengutamakan otonomi masyarakat dalam pengelolaan irigasi ataukah prinsip yang didominasi oleh pengaturan pemerintah (Hasselman, 1914). Walaupun kebijakan pembangunan irigasi dimaksudkan untuk memper­baiki kesejahteraan masyarakat pribumi, upaya pembangunan tersebut tidak lepas dari kepentingan ekonomi pemerintah jajahan yaitu mendukung komoditas ekspor seperti tanaman tebu. Oleh karena itu dibangun suatu prinsip pengelolaan bahwa pengaturan irigasi pada jaringan utama dikuasai oleh pemerintah, sedangkan pada tingkat tersier dikelola oleh masyarakat tani. Termasuk dalam prinsip pengelolaan adalah rencana tata tanam (cultuur plan) yang perlu mendapat persetujuan representasi lembaga-lembaga pemerintah yang duduk dalam panitia irigasi. Ujicoba terhadap prinsip tersebut berlangsung cukup lama, termasuk desentralisasi pengelolaan ke tingkat provinsi (Van der Giessen,1946). Dapatlah disimpulkan bahwa AWR dan kemudian disusul dengan Provinciale Water Reglement (PWR) merupakan formalisasi terhadap peraturan yang telah dipraktekkan.
Berpangkal tolak dari irigasi, upaya membangun kesejahteraan masya­rakat kemudian dikembangkan oleh Blomestijn pada tahun 1946 dengan mengusulkan pembangunan dalam lingkup yang lebih luas seperti pembangunan waduk guna memenuhi kebutuhan air untuk berbagai keperluan seperti tenaga listrik, air minum, dan keperluan lainnya. Rencana tersebut diwujudkan dalam pemerintahan Presiden Sukarno dengan pembangunan waduk Jatiluhur, karena bagi Bung Karno, seperti yang diucapkannya dalam upacara peletakan batu pertama Fakultas Pertanian Universitas Indonesia di Bogor pada tahun 1952, bahwa masalah pangan adalah hidup atau matinya bangsa Indonesia.
Tatkala revolusi hijau mulai bergulir dengan ditemukannya varitas padi unggul yang responsif terhadap pupuk dan air pada tahun 1960 an terbersit harapan bagi Indonesia untuk mencapai swasembada beras. Komitmen untuk swa sembada beras dituangkan sejak Repelita pertama dengan memberikan porsi anggaran pembangunan yang besar pada sektor pertanian dan pengairan.
UU No. 11 tahun 1974 tentang Pengairan pada hakekatnya memberi lingkup yang lebih luas dari AWR dan memberi kewenangan kepada Pemerintah dalam berbagai dimensi pembangunan dan pengelolaan dibidang pengairan termasuk didalamnya irigasi, pengendalian banjir, pengembangan air tanah dan pengusahaan air untuk berbagai keperluan dan memberikan landasan hukum pada pelaksanaan berbagai program pembangunan yang sedang berjalan termasuk didalamnya perbaikan dan perluasan irigasi. Upaya pembangunan tersebut khususnya perbaikan dan perluasan irigasi memberikan sumbangan yang besar bagi pencapaian swasembada beras pada tahun 1984 bersama sama dengan teknologi pertanian, dan kebijakan insentif harga yang memadai.
Setelah tahun 1984 muncul masalah-masalah baru, seperti semakin mahalnya biaya investasi dan semakin seringnya terjadi gejala-gejala yang disebabkan oleh semakin rusaknya sumber daya alam yang tersedia yang disebabkan oleh semakin tingginya tekanan terhadap sumberdaya lahan dan air dan yang juga dipicu oleh kebijakan pembangunan sektoral yang tidak seirama. Masalah yang muncul dipermukaan adalah efisiensi pemanfaatan sumberdaya air dan munculnya gejala seperti banjir dan kekeringan yang frekuensinya semakin tinggi. Barulah disadari bahwa pendekatan sektoral yang selama ini dianut tidak memadai, karena masalah banjir ataupun kekeringan tidak dapat dipecahkan oleh satu sektor pembangunan saja, demikian pula tidak dapat dipecahkan dengan mengandalkan pendekatan prasarana saja. Setelah adanya oil shock tahun 1987 diuji coba berbagai pendekatan kelembagaan, namun itu semua dianggap kurang efektif karena terbelenggu oleh pendekatan sektoral.
UU No. 7 tahun 2004 menempatkan konservasi sebagai upaya kebijakan utama untuk memulihkan kinerja sumberdaya alam termasuk air, dan menempatkan pendekatan keterpaduan melalui Dewan Sumberdaya Air pada berbagai jenjang wilayah, termasuk Wilayah Sungai, sebagai upaya strategis untuk memecahkan masalah tersebut diatas. Inilah kekuatan tetapi sekaligus merupakan tantangan besar dari undang-undang baru ini. Karena berbeda dengan dua undang-undang terdahulu yang telah mengalami proses pematangan sebelum diundangkan, undang-undang baru ini semata mata didasarkan pada keberanian moral termasuk didalamnya komitmen politik.
Suatu kerangka dasar yang memberikan inspirasi bagi pelaksanaan pengelolaan terpadu sumberdaya air yang memuat berbagai asas seperti aturan keterwakilan dalam berbagai jenjang dewan sumberdaya air, keadilan dalam alokasi dan distribusi air, kemitraan dalam proses dialog antar pemangku kepentingan, dan pelayanan yang bertanggung jawab (accountability), perlu dibangun terlebih dahulu. Namun demikian apabila undang-undang ini dilaksanakan secara arif dengan berpijak pada kerangka dasar tersebut dan menempatkan Dewan Sumberdaya Air sebagai kekuatan pendukung, masalah yang dipersoalkan seperti ancaman dominasi sektor swasta dan dominasi pemerin­tah dalam menetapkan batas kewenangan dalam pengelolaan irigasi dapatlah dihindarkan melalui pendekatan keterpaduan. Apabila pendekatan keterpaduan tersebut efektif dilaksanakan, amanat pasal 33 ayat 3 UUD 1945 mudah-mudahan dapat dirasakan oleh generasi yang akan datang.

(2) Mengintegrasikan Kearifan Lokal dalam Perumusan dan Pelaksanaan Kebijakan
Tanah dan Air adalah identitas kultural bagi banyak suku bangsa di dunia termasuk suku-suku bangsa di Indonesia. Tanah dapat diwariskan sebagai milik individu ataupun kelompok sedangkan air dalam suatu wilayah pada umumnya dipandang sebagai warisan bersama (common heritage resources). Dalam praktek irigasi di pedesaan dikenal berbagai kearifan lokal yang memungkinkan terjadinya interaksi antar individu, antar kelompok dalam suatu sistem irigasi, dan antar kelompok masyarakat dalam sistem irigasi yang berbeda dalam suatu Daerah Aliran Sungai (DAS). Dalam sistem interaksi tersebut penggunaan air antar individu ataupun antar kelompok dapat dipertukarkan pada suatu musim ataupun antar musim berdasarkan prinsip kepercayaan timbal balik (mutual trust) dan ada sanksi yang dilaksanakan berdasarkan norma yang berlaku setempat. Pengawasan terhadap proses yang berlaku dilakukan secara kolektif dan transparan dan pengambilan keputusan yang dilakukan bersama didorong oleh rasa tanggung jawab bahwa sumberdaya air adalah kepentingan bersama yang perlu dipelihara dengan baik.
Prinsip lain yang sangat penting dalam pengelolaan irigasi adalah asas keadilan dalam pembagian air. Banyak contoh irigasi yang dibangun masyarakat setempat mewariskan rancangbangun pembangunan dan pengelolaan irigasi yang mencerminkan keadilan pembagian air yang dihubungkan dengan antara lain luasnya lahan yang diairi. Pembagian air proporsional secara konsisten dilakukan pada berbagai jenjang sistem irigasi. Pembagian air dengan sistem bifurkasi dan proporsional merefleksikan asas keadilan berdasarkan kesamaan dalam memperoleh kesempatan atau menurut kategori Rawls (1971) dalam bukunya yang berjudul A Theory of Justice disebut sebagai ''principle of equality of opportunity" Contoh yang baik untuk ditampilkan adalah irigasi subak di Bali yang rancang bangunnya memudahkan pengawasan bagi setiap anggota subak.Prinsip keputusan yang demokratis pada tingkat karama subak memperkuat pandangan bahwa sistem subak dikelola sebagai suatu "self governing system" (Ostrom,1999) Berbeda dengan irigasi besar di kawasan Asia lainnya seperti Cina dan India terjadi apa yang disebut oleh Karl Wittfogel (1957) sebagai "oriental despotism" yaitu polarisasi kekuasaan melalui penguasaan atas sumberdaya air, gejala tersebut sampai sekarang ini tidak nampak di Indonesia (lihat Geertz, 1980 ).
Keterkaitan melalui proses interaksi tidak saja terjadi antar sistem irigasi saja tetapi dengan unit-unit kegiatan lainnya yang terkait dengan air baik lahan kering di hulu maupun lahan pantai di hilir yang memungkinkan terjadinya suatu sistem pengelolaan yang bersifat "Policentric Governance' yang dicirikan oleh interaksi harmonis berbagai lembaga yang ada dalam suatu Daerah Aliran Sungai (Cardenas, 2002).
Uraian tersebut sesungguhnya mencerminkan praktek pengelolaan yang bersifat "good governance", suatu modal budaya yang terdapat tidak saja di Bali tetapi juga pada sistem irigasi yang dibangun petani di kawasan pedesaan Jawa dan Sumatra. Pendekatan skolastik dalam upaya memperbaiki irigasi desa dan subak pada masa Orde Baru dalam banyak hal mengabaikan prinsip-prinsip tersebut yaitu memperbaiki irigasi masyarakat tani dengan rancangbangun yang standar yang diturunkan dari "Dutch School of Thought" yang berbasis hukum AWR yang pada hakekatnya mengutamakan prinsip kegunaan dan kepentingan (the classical principle of utility, lihat Rawls,1970).
UU No. 7 tahun 2004 memberikan ruang gerak bagi masyarakat petani untuk membangun sistem irigasinya sendiri dan juga mengakui hak-hak tradisional seperti hak ulayat, suatu langkah yang lebih maju dibandingkan dengan UU 11 tahun 1974. Walaupun hal ini merupakan "necessary condition" namun perlu dimunculkan 'sufficient condition". UU tersebut perlu diterjemahkan lebih lanjut berupa peraturan yang hendaknya dapat menjadi pemicu bagi pemulihan kembali dan pemanfaatan nilai-nilai budaya luhur yang terkandung dalam pengelolaan sumberdaya air khususnya dan sumberdaya alam pada umumnya yang diwariskan dari generasi kegenerasi.
Apabila harapan tersebut dapat diwujudkan, yang mungkin terjadi dalam jangka panjang, visi terwujudnya kesejahteraan rakyat yang seluas-luasnya dapat terpenuhi karena munculnya peluang yang lebih luas bagi pembangunan ekonomi yang berlanjut adil dan terpelihara serta berkembangnya nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Undang undang no. 7 tahun 2004 memberikan landasan hukum yang cakupannya lebih luas dibandingkan dengan dua undang-undang sebelumnya namun demikian terbentang tantangan yang jauh lebih besar dalam menghadapi permasalahan pembangunan dan pengelolaan sumberdaya air dimasa sekarang dan yang akan datang.yang memerlukan kemampuan pemahaman yang lebih jernih dan dalam untuk mengetahui hakekat permasalahan yang dihadapi dan dalam menentukan agenda dan langkah pembangunan yang tepat untuk mewujudkan amanat oleh UUD 1945.

(3) Perkembangan Teknologi
Teknologi irigasi dapat dipandang sebagai suatu kerangka fisik yang melandasi perkembangan kelembagaan pengelolaan irigasi. Oleh karena itu perkembangan teknologi irigasi terkait erat dengan fase-fase perkembangan kelembagaan pengelolaan irigasi. Teknologi penyadapan air dengan pengambilan bebas dari sungai (free intake diversion system) dilengkapi dengan cross regulator yang sederhana dan sementara untuk memasukkan air ke blok persawahan mungkin merupakan inovasi awal yang dilakukan oleh masyarakat petani.
Perkembangan lebih lanjut adalah teknologi yang menggunakan pembagian proporsional dengan bangunan-bagi bercabang (bifurcation structure). Teknologi pembagian air proporsional secara utuh dipraktekkan pada irigasi Subak di Bali. Sedangkan teknologi free intake dengan cross regulator yang sederhana banyak dipraktekkan pada irigasi berbasis masyarakat di pulau Jawa. Karena sifatnya yang otonom dan transparan, teknologi ini merupakan penciri dari irigasi berbasis masyarakat. Irigasi yang dibangun dengan teknologi ini umumnya berskala kecil, sesuai dengan ciri kelompok masyarakat seperti yang terdapat di pulau Jawa umumnya berbasis desa. Karena itu sistem irigasi seperti ini biasanya disebut irigasi desa atau irigasi pedesaan.
Pada jaman kolonial Belanda mulai dibangun irigasi yang membendung sungai dengan berbagi kelengkapan pengaturan air. Horst (1998) membangun dua kategori teknologi yang dipraktekkan yaitu yang disebut teknologi buka dan tutup yaitu yang menggunakan pintu air yang dapat dibuka dan ditutup sedangkan kategori yang kedua adalah teknologi yang dapat mengatur air secara bertahap (gradually adjustable system). Sistem irigasi yang dibangun dengan menggunakan teknologi ini umumnya berskala lebih besar dari pada irigasi berbasis masyarakat dan memerlukan hirarki pengelolaan pada berbagai jenjang yang mendorong munculnya pengelolaan yang bersifat sentralistik. Inilah ciri-ciri dari irigasi berbasis pemerintah yang diintroduksi oleh pemerintah kolonial yang dimaksudkan baik untuk mengurangi kemiskinan yang terjadi pada masyarakat pribumi maupun untuk menjaga kepentingan komoditi ekspor yang memerlukan dukungan irigasi seperti tanaman tebu.
Perkembangan yang menggunakan teknologi yang lebih maju yaitu yang menggunakan peralatan otomatik untuk mengatur air dan yang menggunakan bantuan komputer untuk mengatur presisi suplai air. Sumber air yang dimanfaat­kan dapat berupa air permukaan dan air tanah secara sendiri sendiri atau bersama (Conjunctive use). Seperti yang telah dibahas sebelumnya pengelolaaan air yang berbasis pasar mungkin saja akan menggunakan teknologi seperti dalam kategori tersebut apabila komoditas yang diusahakan memberikan keuntungan yang besar dan diperlukan efisiensi yang tinggi serta pemberian air yang tepat waktu.
Pada masa yang akan datang, disamping irigasi berbasis pemerintah dan irigasi berbasis masyarakat pengelolaan irigasi berbasis pasar sebagai respons permintaan pasar terhadap komoditas yang bernilai tinggi diharapkan akan semakin meluas baik sebagai segmen sistem irigasi yang sudah ada maupun sebagai sistem irigasi yang berdiri sendiri. Sistem irigasi tersebut diharapkan akan memperkuat daya saing sesuatu komoditas dalam persaingan pasar global sedangkan sistem irigasi lainnya diharapkan memperkuat ketangguhan kinerjanya dengan memanfaatkan kearifan lokal dan sumberdaya setempat sehingga beban pengeluaran untuk operasi dan pemeliharaan, demikian pula rehabilitasi, turut dipikul oleh masyarakat setempat.
Oleh karena persaingan dalam memanfaatkan air akan semakin luas sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan penduduk, dan perkembangan teknologi, maka konsep keterpaduan dalam lingkup yang luas dalam pengelolaan sumberdaya air menjadi semakin relevan.

Sumber :
Effendi Pasandaran, 2006. Reformasi Irigasi dalam Kerangka Pengelolaan Terpadu Sumberdaya Air.  Analisis Kebijakan Pertanian. Volume 3 No. 3, September 2005 : 217-235.

Tuesday, 12 November 2019

Sentimen Pengamat Ekonomi Terendah

 

Sentimen Pengamat Ekonomi Jepang pada Oktober Turun ke Level Terendah dalam 8 Tahun setelah Kenaikan Pajak
 

Sentimen bisnis di kalangan pekerja yang pekerjaannya sensitif terhadap tren ekonomi menurun ke level terendah dalam delapan tahun pada bulan Oktober akibat penurunan penjualan setelah kenaikan pajak konsumsi di awal bulan tersebut, menurut data pemerintah yang dirilis pada hari Senin.

 

Indeks difusi kepercayaan di antara "pengamat ekonomi" seperti pengemudi taksi dan staf restoran turun 10,0 poin dari September menjadi 36,7, level terendah sejak Mei 2011 ketika konsumsi masih melemah pasca gempa bumi besar dan tsunami yang melanda wilayah timur laut Jepang pada Maret tahun tersebut.

 

Besarnya penurunan ini adalah yang paling tajam sejak April 2014, ketika indeks turun 15,7 poin setelah penyesuaian musiman menyusul kenaikan pajak konsumsi dari 5 persen menjadi 8 persen. Tarif pajak kemudian dinaikkan lagi menjadi 10 persen pada Oktober tahun ini.

 

Sentimen bisnis, yang turun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, juga melemah akibat dampak serangkaian bencana alam yang melanda Jepang pada Oktober, termasuk Topan Hagibis, menurut seorang pejabat pemerintah.

 

Angka di bawah 50 menunjukkan bahwa lebih banyak responden melaporkan kondisi yang memburuk dibandingkan yang melaporkan perbaikan dalam tiga bulan terakhir.

 

Meskipun indeks turun tajam, Kantor Kabinet mempertahankan penilaiannya bahwa "Ekonomi menunjukkan pergerakan lemah dalam pemulihannya," dengan pejabat tersebut menggambarkan dampak kenaikan pajak dan bencana sebagai "faktor sementara."

 

Dalam survei tersebut, seorang pegawai di toko peralatan rumah tangga di wilayah Koshinetsu, Jepang tengah, mengatakan jumlah pelanggan menurun setelah periode peningkatan permintaan menjelang kenaikan pajak.

 

Sementara itu, indeks difusi yang mengukur prospek ekonomi dalam beberapa bulan mendatang naik 6,8 poin menjadi 43,7 karena banyak responden memperkirakan dampak negatif dari kenaikan tarif pajak kemungkinan akan berkurang dalam waktu dekat.

 

Seorang pekerja di sebuah department store di wilayah Kanto selatan, Jepang timur, mengatakan bahwa pemulihan ekonomi kemungkinan akan terjadi lebih cepat dibandingkan setelah kenaikan pajak sebelumnya, karena musim belanja akhir tahun semakin dekat.

 

Survei ini melibatkan 2.050 orang dari tanggal 25 hingga 31 Oktober, dengan 1.830 orang atau 89,3 persen memberikan tanggapan.

 

SUMBER

The Mainichi, 12 November 2019