Jalan-Jalan ke Kuil Sensoji Asakusa Tokyo
Sensoji Asakusa Tokyo
Sensoji salah satu kuil tertua sekaligus yang paling ramai dikunjungi wisatawan.
Liburan akhir tahun hampir tiba. Jika kebetulan punya rencana berlibur ke Jepang, mampirlah ke Kuil Sensoji, salah satu kuil tertua sekaligus yang paling ramai dikunjungi wisatawan. Berlokasi di Asakusa, kuil yang dibangun pada abad keenam ini sering disebut Kuil Kannon Asakusa. Wisatawan bisa pergi ke sana dengan naik kereta bawah tanah (chikatetsu) dari semua stasiun terkenal di Tokyo.
Akses yang mudah dari seluruh penjuru kota, ditambah adanya toko oleh-oleh terkenal di Nakamise Dori, menjadikan area Asakusa objek wisata paling ramai di Tokyo
Saat sampai di area kuil, pengunjung akan disambut sebuah lampion raksasa berwarna merah yang tergantung di gerbang Kuil Sensoji atau bernama Kaminarimon. Di sana, pengunjung bisa berfoto dengan latar lentera yang lengkap dengan desain gerbang ala Jepang.
Pengunjung bisa melanjutkan perjalanan menyusuri Nakamise-dori yang sebenarnya adalah jalan utama menuju Kuil Sensoji di Asakusa.
Nakamise-dori menghubungkan Kaminarimon dengan Kuil Sensoji di bagian dalam. Dengan panjang sekitar 200 meter, Nakamise-dori tersusun lebih dari 80 toko yang menjual pernak-pernik dan oleh-oleh khas Jepang, seperti kipas Jepang atau Yukata dan kimono.
Satu hal yang harus dicoba di Nakamise-dori adalah sembei atau kerupuk beras yang rasanya unik dengan harga 180 yen.
Wisatawan bisa menemukan gelas dan piring dengan ukiran huruf Jepang, kaus dengan tulisan kanji, hiasan gantung, gantungan kunci, dan semua aksesoris lainnya.
Kuliner
Area Kuil Sensoji juga menyuguhkan wisata kuliner dengan harga bervariasi. Anda bisa makan sushi, gyudon, ramen, soba, dan makanan khas Jepang lainnya dengan harga miring. Restoran-restoran ini bisa kita temukan di sepanjang jalan Stasiun Asakusa Subway sampai ke Gerbang Kaminarimon.
Di ujung jalan pasar "Nakamise-dori", barulah tampak kompleks Kuil Sensoji, yang terdiri dari kuil dan beberapa bangunan untuk tempat tinggal pendeta Budha, serta fasilitas lainnya.
Seperti di semua kuil di Jepang, sebelum kita masuk ke kuil itu sendiri selalu disediakan bangunan dengan air yang disucikan. Untuk membasuh tangan dan kaki atau disebut ‘Osuisha’, yaitu sebuah tempat untuk menyucikan diri sebelum memasuki bangunan utama.
Bagi yang ingin bersembahyang di kuil, khususnya yang beragama Buddha, wisatawan berkumpul untuk membasuh tangan dan kaki serta berkumur dengan air yang keluar dari mulut patung naga yang terbuat dari batu dan berada di tengah.
Setelah membasuh tubuh dan membersihkan diri, akhirnya mereka berkumpul di sekitar "Jokoro", atau tempat dupa, yang berada di depan aula utama kuil. Mereka melumuri tubuh mereka dengan asap dari dupa yang sedang dibakar. Kemudian masuk ke dalam kuil dengan mengantri.
Sumber:
Republika 30 November 2019.
Sunday, 1 December 2019
Mengenal Adat Istiadat Jepang
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
11:10
0
comments
Labels: Kebudayaan Jepang
Tuesday, 26 November 2019
Ilmuwan Temukan ‘Enzim Keabadian’: Benarkah Manusia Bisa Awet Muda Selamanya?
Bisakah Manusia Tetap Awet Muda atau
Bahkan Membalikkan Proses Penuaan?
Penelitian terbaru mengungkap rahasia tersembunyi
dari enzim telomerase—molekul ajaib yang sering dijuluki enzim keabadian.
Enzim ini berperan dalam memperpanjang telomer, yaitu pelindung di ujung
kromosom yang menentukan seberapa lama sel dapat terus membelah dan memperbarui
diri.
Temuan ilmuwan dari Arizona State University
mengungkap langkah penting dalam siklus katalitik telomerase yang berpotensi
menjadi kunci terobosan terapi anti-penuaan dan regenerasi sel manusia di masa
depan.
Mengungkap
Siklus Katalitik Telomerase
Penelitian yang
dipimpin oleh Profesor Julian Chen dari School of Molecular Sciences,
Arizona State University, menemukan fase penting dalam siklus katalitik
enzim telomerase. Siklus ini menentukan kemampuan telomerase manusia untuk
mensintesis DNA, khususnya dalam menambahkan segmen pengulangan DNA spesifik
sepanjang enam nukleotida pada ujung kromosom. Proses ini berperan penting
dalam mempertahankan kestabilan genetik dan memperpanjang umur sel.
Memahami
mekanisme kerja telomerase membuka peluang baru bagi pengembangan terapi
anti-penuaan yang lebih efektif.
Telomer dan
Batas Kehidupan Sel
Sebagian besar
sel manusia bersifat fana dan tidak dapat memperbarui diri tanpa batas. Seperti
yang dijelaskan Leonard Hayflick lebih dari setengah abad lalu, setiap sel
memiliki batas jumlah pembelahan sebelum berhenti tumbuh—dikenal sebagai batas
Hayflick. Batas ini berkaitan langsung dengan panjang telomer, yaitu segmen
DNA pelindung di ujung kromosom.
Setiap kali sel
membelah, telomer akan memendek. Ketika panjang telomer mencapai titik kritis,
sel kehilangan kemampuan untuk membelah dan akhirnya mati. Pemendekan telomer
ini bertindak seperti “jam molekuler” yang menghitung mundur masa hidup sel,
dan menjadi penyebab alami proses penuaan serta penurunan fungsi jaringan dan
organ.
Muda di
Tingkat Molekuler
Enzim telomerase
berperan penting dalam memperlambat proses ini. Telomerase bekerja dengan
menambahkan kembali segmen DNA “GGTTAG” ke ujung kromosom menggunakan templat
RNA yang dimilikinya sendiri. Dengan demikian, telomerase mampu memperpanjang
umur sel dengan memperpanjang telomer.
Namun, aktivitas
telomerase pada sel manusia dewasa sangat terbatas. Akibatnya, sel-sel induk
yang bertugas memperbaiki jaringan dan mengganti sel rusak menjadi semakin
lemah seiring bertambahnya usia. Pemendekan telomer yang berkelanjutan
menyebabkan melambatnya proses penyembuhan dan penurunan regenerasi jaringan
pada individu lanjut usia.
Memanfaatkan
Potensi Telomerase
Pemahaman lebih
dalam mengenai pengaturan dan keterbatasan telomerase membuka peluang untuk
memperpanjang umur sel dan memperbaiki jaringan yang menua. Tim Profesor Chen,
bersama Yinnan Chen, Joshua Podlevsky, dan Dhenugen Logeswaran, berhasil
menemukan fase penting dalam siklus katalitik telomerase yang bertindak sebagai
“rem alami”.
“Telomerase
memiliki sistem pengereman internal untuk memastikan sintesis DNA berlangsung
dengan tepat. Namun, rem ini juga membatasi aktivitas keseluruhan enzim,” jelas
Profesor Chen. “Menemukan cara untuk melepaskan rem ini berpotensi memulihkan
panjang telomer pada sel induk dewasa dan bahkan membalikkan penuaan sel itu
sendiri.”
Sinyal jeda
bawaan dalam RNA telomerase memberi tahu enzim untuk berhenti setelah
menyelesaikan satu urutan “GGTTAG”. Penemuan ini menjelaskan misteri lama mengapa satu nukleotida spesifik
dapat merangsang aktivitas telomerase. Dengan menargetkan sinyal jeda tersebut,
aktivitas telomerase dapat ditingkatkan untuk mempertahankan panjang telomer
lebih baik dan meremajakan sel-sel induk manusia yang menua.
Antara
Peremajaan dan Risiko Kanker
Beberapa
penyakit manusia seperti dyskeratosis congenita, anemia aplastik, dan
fibrosis paru idiopatik terkait dengan mutasi yang mengganggu aktivitas
telomerase atau mempercepat pemendekan telomer. Kondisi ini menyerupai penuaan
dini, ditandai dengan kerusakan organ progresif dan harapan hidup yang lebih
pendek.
Peningkatan aktivitas telomerase dapat menjadi
solusi menjanjikan untuk penyakit tersebut. Namun, peningkatan ini harus
dilakukan dengan sangat hati-hati. Sama seperti telomerase menjaga vitalitas
sel induk muda, sel kanker juga memanfaatkan telomerase untuk mempertahankan
pertumbuhan tak terkendali. Karena itu, mengatur aktivitas telomerase dengan
presisi menjadi tantangan penting—berjalan di antara garis tipis antara
peremajaan dan risiko kanker.
Menuju Terapi Anti-Penuaan yang Aman
Berbeda dengan sel induk, sebagian besar sel
somatik manusia tidak memiliki aktivitas telomerase, yang justru membantu
mencegah perkembangan kanker. Oleh karena itu, obat yang meningkatkan aktivitas
telomerase secara umum pada semua jenis sel tidak diinginkan.
Untuk mencapai tujuan meningkatkan aktivitas
telomerase secara tepat dan selektif pada sel induk dewasa, temuan ini membuka
jalan baru dalam pengembangan terapi. Molekul obat berukuran kecil dapat
disaring atau dirancang untuk secara khusus mengaktifkan telomerase di dalam
sel induk, sehingga memungkinkan pengobatan penyakit degeneratif dan terapi
anti-penuaan tanpa meningkatkan risiko kanker
Sumber Cerita: Materi disediakan
oleh Arizona State University.
Referensi:
Chen, Y., J. Podlevsky, D. Logeswaran
dan J.J.-L. Chen. 2018. The step of combining a single nucleotide limits the activity
of adding repeat human telomerase. EMBO Journal. DOI: 10.15252 / emboj.201797953.
#AntiAging
#Telomerase
#EnzimKeabadian
#SainsModern
#PenuaanSel
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
13:57
0
comments
Labels: Riset Anti-Penuaan Modern
Monday, 25 November 2019
Bumi Butuh Lebih Sedikit Manusia
Bumi Butuh Lebih Sedikit Manusia untuk Mengatasi Krisis Iklim, Kata Para Ilmuwan
Lebih dari 11.000 ahli menandatangani deklarasi darurat yang memperingatkan bahwa energi, pangan, dan reproduksi harus segera berubah.
Empat puluh tahun lalu, ilmuwan dari 50 negara berkumpul di Jenewa untuk membahas apa yang saat itu disebut sebagai “masalah iklim CO2.” Pada waktu itu, ketergantungan pada bahan bakar fosil telah memicu krisis minyak tahun 1979, dan mereka memprediksi pemanasan global pada akhirnya akan menjadi tantangan lingkungan utama.
Para ilmuwan mulai bekerja, menyusun strategi untuk menghadapi masalah tersebut dan meletakkan dasar bagi Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), badan ilmiah terkemuka di dunia untuk perubahan iklim. Tujuan mereka adalah mengantisipasi masalah ini sebelum terlambat. Namun, setelah awal yang cepat, industri bahan bakar fosil, politik, dan prioritas terhadap pertumbuhan ekonomi di atas kesehatan planet memperlambat upaya mereka.
Kini, empat dekade kemudian, kelompok ilmuwan yang lebih besar membunyikan alarm yang jauh lebih mendesak. Lebih dari 11.000 ahli dari seluruh dunia menyerukan tambahan kritis terhadap strategi utama untuk menggantikan bahan bakar fosil dengan energi terbarukan: planet ini membutuhkan lebih sedikit manusia.
“Kami menyatakan, dengan lebih dari 11.000 tanda tangan ilmuwan dari seluruh dunia, secara jelas dan tegas bahwa planet Bumi menghadapi keadaan darurat iklim,” tulis para ilmuwan dalam peringatan tegas yang diterbitkan pada Selasa di jurnal BioScience.
Meskipun peringatan tentang konsekuensi perubahan iklim yang tidak terkendali telah menjadi begitu umum hingga kebal bagi konsumen berita biasa, komunike terbaru ini sangat signifikan mengingat data yang menyertainya.
Ketika diuraikan secara berurutan, grafik-grafik ini menggambarkan tren yang menghancurkan bagi kesehatan planet. Dari konsumsi daging, emisi gas rumah kaca, dan hilangnya es hingga kenaikan permukaan laut dan kejadian cuaca ekstrem, mereka melukiskan potret suram dari 40 tahun peluang yang terbuang.
Para ilmuwan secara spesifik menyerukan kepada pembuat kebijakan untuk segera mengimplementasikan perubahan sistemik pada kebijakan energi, pangan, dan ekonomi. Namun, mereka melangkah lebih jauh ke wilayah sensitif secara politik tentang pengendalian populasi. Populasi “harus distabilkan—dan, idealnya, secara bertahap dikurangi—dalam kerangka yang memastikan integritas sosial,” tulis mereka.
Masalah ini sangat besar, tetapi para penandatangan masih mampu menyampaikan nada optimis. Meski ada banyak peluang yang terlewat, kemajuan sedang dibuat, menurut mereka.
“Kami didorong oleh lonjakan kekhawatiran baru-baru ini,” kata surat tersebut. “Badan-badan pemerintah membuat deklarasi darurat iklim. Anak-anak sekolah melakukan aksi mogok. Gugatan ekosida sedang diproses di pengadilan. Gerakan masyarakat akar rumput menuntut perubahan, dan banyak negara, negara bagian, provinsi, kota, serta bisnis merespons.”
Namun, laporan ini muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump memulai prosedur resmi untuk menarik Amerika keluar dari Perjanjian Iklim Paris.
SUMBER
Bloomberg.com. oleh Eric Roston, 5 November 2019.
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
22:11
0
comments
Labels: Global Warming
Perlambat Proses Penuaan Manusia
Penemuan Terobosan pada DNA Tumbuhan Dapat Memperlambat Proses Penuaan pada Manusia
Ilmu pengetahuan telah mengidentifikasi "mata rantai yang hilang" dalam keabadian seluler antara manusia dan hewan bersel satu di dunia tumbuhan, menurut sebuah studi baru yang dipimpin oleh para ilmuwan dari Arizona State University dan Texas A&M University.
"Ini adalah pertama kalinya kami mengidentifikasi struktur rinci dari komponen telomerase pada tumbuhan," ujar Dr. Julian Chen, salah satu penulis studi dan profesor biokimia di Arizona State University. Penelitian ini diterbitkan pada hari Senin di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.
Methuselah adalah pohon pinus bristlecone berusia 4.845 tahun di California Timur, dinamai sesuai tokoh Alkitab yang memiliki umur terpanjang, yakni 969 tahun. Lokasi pasti Methuselah dirahasiakan untuk melindunginya dari vandalisme. Methuselah merupakan organisme hidup tertua yang diketahui secara non-klonal di dunia, hingga penemuan pada 2013 tentang pohon pinus lain yang tumbuh pada tahun 3051 SM dengan usia lebih dari 5.000 tahun.
Telomerase adalah enzim yang membentuk DNA dari telomer, struktur senyawa yang berada di ujung kromosom kita. Telomer melindungi sel kita dari penuaan saat mereka berkembang biak.
"Dalam hal penelitian fundamental, ini adalah terobosan besar karena sekarang kita akhirnya memiliki cara untuk mempelajari telomerase pada tumbuhan dan memahami sejauh mana perbedaannya atau kesamaannya dengan hewan," kata Chen.
Apakah penemuan ini bisa membuat manusia suatu hari hidup selama pohon Methuselah, spesies pinus bristlecone yang dapat hidup lebih dari 5.000 tahun? Mungkin suatu hari nanti.
"Ini adalah penelitian dasar. Penerapannya pada manusia masih sangat jauh," ujar Chen.
Namun, para ahli seperti Elizabeth Blackburn dari University of California, San Francisco, memiliki pandangan optimis. Blackburn memenangkan Hadiah Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada 2009, bersama dengan Carol Greider dari Johns Hopkins dan Jack Szostak dari Harvard, atas penemuan mereka tentang telomer dan telomerase.
"Dengan sangat menarik, makalah ini melaporkan bagaimana tumbuhan mengisi mata rantai yang hilang dalam sejarah evolusi RNA telomerase ... dari nenek moyang kita yang paling sederhana," kata Blackburn. "Pemahaman fundamental baru ini mungkin membuka jalan bagi cara baru untuk mengoptimalkan pemeliharaan telomer demi kesehatan manusia."
Kunci Umur Sel
Telomer dapat diibaratkan sebagai tutup plastik di ujung tali sepatu. Tingkat telomerase yang tinggi menjaga telomer tetap panjang, sehingga mereka dapat terus melindungi sel kita dari kerusakan saat membelah.
Sebagian besar sel dalam tubuh kita memiliki tingkat telomerase yang sangat rendah, sehingga menua seiring pembelahannya (bayangkan ujung tali sepatu yang aus hingga habis). Sel yang menua berarti tubuh yang menua, dengan sel-sel yang tidak lagi berfungsi normal.
Namun, ketika ujung sel dilindungi oleh telomer, hanya sebagian kecil telomer yang hilang saat sel membelah, dan DNA penting tetap tidak rusak. Mengingat sel rata-rata membelah sekitar 50 hingga 70 kali, ketiadaan penutup pelindung dapat menyebabkan ketidakstabilan kromosom atau sel yang berhenti membelah.
Pada manusia, misalnya, kromosom dalam sel telur, sperma, dan sel punca mengandung tingkat telomerase yang tinggi, sehingga dapat terus membelah tanpa mengalami penuaan yang cepat.
Pencarian Keabadian Seluler
Namun, bahkan telomer tidak memiliki kehidupan abadi. Setiap kali sel bereplikasi, sekitar 20 pasangan basa hilang dari telomer. Kita dapat kehilangan lebih banyak — 50 hingga 100 pasangan basa per pembelahan sel — ketika tubuh kita mengalami stres oksidatif.
Kita menciptakan stres oksidatif pada tubuh dengan merokok, pola makan buruk, stres, dan kebiasaan hidup berbahaya lainnya. Antara keausan normal dan stres oksidatif dari gaya hidup kita, bahkan telomer yang panjang sekalipun akan habis.
Namun, jika ilmu pengetahuan dapat memanfaatkan rahasia enzim telomerase, sangat mungkin kita dapat memperpanjang usia telomer, memperlambat proses penuaan.
Kita mungkin juga dapat membalikkan penyakit di mana telomer menjadi pendek, seperti fibrosis paru.
Manfaat lain dari memecahkan misteri ini adalah kemampuan untuk mengendalikan sel kanker. Sel kanker mengandung tingkat telomerase yang tinggi, memungkinkan mereka terus bereplikasi hingga membentuk tumor.
Mematikan aktivitas telomerase pada sel kanker dapat memendekkan telomernya, mengikisnya hingga panjang kritis, yang kemudian memicu kematian sel terprogram.
Tujuan akhir: menghentikan kanker secara total.
Mengapa Telomerase pada Tumbuhan Penting
Ketika Blackburn, Greider, dan Szostak memenangkan Hadiah Nobel pada 2009, itu adalah karena penemuan mereka yang luar biasa tentang telomer dan telomerase. Mereka mengekstraksi DNA telomer dari organisme bersel tunggal di air kolam, menunjukkan bagaimana itu melindungi kromosom pada ragi, dan mengidentifikasi serta menamai enzim telomerase yang membangun DNA telomer dan memperpanjang hidupnya.
Sejak saat itu, telomerase ditemukan hampir secara universal di berbagai spesies, tetapi dengan cara yang rumit.
"Aksi enzim ini serupa dari organisme paling sederhana hingga manusia," kata Blackburn. "Namun, bagian RNA telomerase dari telomerase telah lama menjadi misteri karena sangat berbeda antara cabang evolusi kehidupan yang berbeda."
Setiap spesies memiliki elemen unik dalam RNA telomernya, dan tidak semuanya tampaknya melindungi dari penuaan. Misalnya, beberapa spesies dengan telomer lebih panjang memiliki masa hidup lebih pendek dibandingkan dengan yang memiliki telomer lebih pendek.
Para ilmuwan terus mengeksplorasi peran telomer dan enzim telomerase dalam penuaan, dan kini percaya bahwa mereka mungkin hanya menjadi salah satu bagian dari proses penuaan, setidaknya pada hewan.
"Jika sel memiliki telomerase, mereka akan hidup lebih lama, tetapi sel-sel ini hanya sebagian dari tubuh Anda," kata Chen. "Apakah ini dapat menunda penuaan individu secara keseluruhan atau meningkatkan umur panjang mereka, itu cerita yang berbeda."
Kini ilmu pengetahuan memiliki seluruh kerajaan baru telomerase untuk dipelajari: Plantae, yang terdiri dari lebih dari 2.500 spesies.
"Mungkin aktivitas telomerase berbeda pada tumbuhan dibandingkan dengan hewan," kata Chen. "Kami tahu bahwa beberapa intinya serupa, tetapi mungkin ada fitur tambahan yang spesifik untuk tumbuhan."
"Kami berharap dapat mempelajari sesuatu dari regulasi, mekanisme, atau struktur mereka yang dapat diterapkan pada telomerase manusia," ujar Chen. "Jadi dalam hal penelitian dasar, ini sangat menarik karena ini adalah kerajaan baru yang benar-benar dapat kami eksplorasi untuk memahami bagaimana telomer menjalankan fungsinya pada tumbuhan."
SUMBER:
www.cnn.com
https://t.co/DqY51B2uYC
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
07:11
0
comments
Labels: Kesehatan
Sunday, 24 November 2019
Gelembung Mikro Pembersih Air
Gelembung berukuran mikro membantu merestorasi perairan yang tercemar.
Tim periset LIPI Bandung mengembangkan ultrafine nano bubble untuk merestorasi air yang tercemar. "Resirasi ini mengembalikan kwalutas air" kata peneliti LIPI Anto Tri Sugiarto pada Selasa 5 November lalu.
Pembuatan pembersih air ini berawal dari rendahnya tingkat efisiensi kelarutan oksigen dalam air dalam proses pengolahan air. Alat Tim LIPI itu bekerja secara sederhana mencampurkan air dan udara dengan sudut pencampuran tertentu di dalam tabung (swirl). Air diputar dengan kecepatan tertentu untuk memecah udara menjadi gelembung berukuran mikrometer, bahkan nanometer.
Teknologi ini, menurut Anto, awalnya dikembangkan di Jepang. Namu para peneliti LIPI memperbaiki dan mematenkan sudut serangnya. "Ini sudutkecepatan air agar dapat memecah gelembung udara dengan tepat" ujar Doktor lulusan Gunma University, Jepang, itu.
Para peneliti LIPI telah mencoba sistem ini untuk mwmbersihkan Kali Item yang keruh dan berbau menyengat saat Asian Games 2018 di Kemayoran Jakarta Pusat. Alat nano nubble mampu menjernihkan air dan melenyapkan bau tak sedap yang keluar dari kali. "Itu bukan sulap" ucap Anto.
Teknologi pemompa udara biasa hanya menghasilkan gelembung berukuran besar, yang mengapung dan pecah di permukaan air. Akibatnya, persediaan udara di dalam air sedikit. Generator Nano Bubble yang dikembangkan sejak 2016 itu memproduksi gelembung berukuran mikrometer dan bertahan lebih lama di dalam air. Perubahan kondisi udara di dalam air seperti itu berpengaruh pada aktivitas organisme air, termasuk ikan dan udang.
Untuk membersihkan perairan yang tercemar, udara dialirkan dengan campuran gas ozon. Gas ini bisa membongkar ikatan senyawa benzena, bahan beracun yang sulit dipecahkan oleh bakteri. “Setelah pecah, bakteri bisa bekerja mengurai,” kata Kepala Satuan Kerja di Balai Pengembangan Instrumentasi LIPI Bandung itu.
Proses itu dapat menjernihkan air yang keruh. Bau air yang tercemar juga lenyap. Selain itu, bakteri E. coli mati sehingga air hasil restorasi tersebut dapat menjadi air baku minum. Konsep pembersihan air dengan gelembung udara mikro ini juga bisa diterapkan di tambak ikan dan udang. Bedanya, gas yang dipakai adalah oksigen untuk membantu hidup populasi ikan atau udang di kolam.
Kolam berukuran 1 meter persegi bisa diisi hingga 600 udang. Padahal, sebelum dialiri gelembung mikro, populasinya hanya berkisar 75-150 ekor. “Tidak jadi masalah karena oksigennya cukup,” ujar Anto.
Generator itu telah dites di kolam budi daya udang vaname milik Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan di Karawang, Jawa Barat. Udang vaname merupakan produk budi daya hasil laut terbesar kedua selain ikan. Sebanyak 80 persen udang vaname menjadi produk ekspor nasional. Masalahnya, budi daya udang vaname terganjal masalah virus penyakit dan lahan yang terbatas. Generator Nano Bubble bisa menaikkan kadar oksigen dalam air tambak sekaligus menekan virus penyakit.
Alat cukup dihidupkan selama enam jam dalam sehari. Bakteri pun mendapat pasokan oksigen sehingga lebih cepat mengurai lumpur kotoran udang di dasar tambak. Dengan demikian, tingkat kematian udang bisa ditekan. “Yang hidup di atas 95 persen dari biasanya 80-85 persen,” kata Anto.
Sumber:
Majalah Tempo, Edusi 20 Novembet 2019
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
10:49
0
comments
Labels: Lingkungan Hidup
