Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Wednesday, 20 June 2007

Komisi Flu Burung Indonesia Desak Kampanye Vaksinasi H5N1 Lebih Masif: Ancaman Pandemi Mengintai!


Komisi Flu Burung Indonesia Merekomendasikan Kampanye Vaksinasi AI yang Lebih Kuat

 

Ketua Komite Koordinasi Flu Burung Indonesia pada 14 Juni 2007 merekomendasikan program vaksinasi yang lebih intensif serta langkah-langkah lain untuk mengendalikan influenza avian pada populasi unggas. Bayu Krisnamurthi mengumumkan rekomendasi baru ini setelah melakukan konsultasi selama dua hari dengan para pakar internasional di Jakarta.

 

“Kami telah banyak belajar dalam beberapa tahun terakhir mengenai pengendalian virus, dan kami harus menerapkan pengetahuan ini untuk meningkatkan dan memperluas program AI guna memastikan bahwa masyarakat di seluruh kepulauan ini tidak lagi berisiko,” kata Bayu Krisnamurthi, Kepala Eksekutif Komite Koordinasi Nasional untuk Pengendalian Influenza Burung dan Kesiapsiagaan Pandemi Influenza (KOMNAS FBPI).

 

Bayu Krisnamurthi menjelaskan bahwa meskipun vaksinasi sudah dilakukan di banyak wilayah, hanya sekitar 25% peternakan kecil dan pedesaan yang mendapatkan vaksinasi dengan benar. Rekomendasi baru ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas program vaksinasi.

 

Menurut Bayu Krisnamurthi, saat ini terdapat tiga jenis strain vaksin yang harus digunakan, yaitu vaksin inaktivasi berbasis emulsi minyak homolog H5N1, atau vaksin heterolog H5N2 dan H5N9. Ia menekankan perlunya program vaksinasi yang terintegrasi, mencakup setiap tahapan proses, mulai dari pemilihan vaksin, logistik, hingga sumber daya manusia. Efektivitas vaksin juga menjadi perhatian utama.

 

"Semua vaksin yang digunakan harus mendapat persetujuan dari Kementerian Pertanian dan diberikan kepada unggas yang sehat di bawah pengawasan dokter hewan. Program vaksinasi yang sukses harus memiliki pendanaan yang cukup, tenaga vaksinator yang berkualifikasi, serta dukungan logistik yang memadai," tegas Bayu Krisnamurthi.

 

Selain itu, semua vaksin harus terdaftar dan mendapat izin dari Kementerian Pertanian. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah menghubungkan vaksinasi dengan langkah-langkah biosekuriti, memperluas cakupan vaksinasi untuk mencakup ayam dan unggas lainnya, serta menargetkan kampanye vaksinasi di daerah berisiko tinggi. Ia juga menekankan bahwa hanya ternak yang sehat yang boleh divaksinasi, dengan pengawasan dokter hewan.

 

Proses vaksinasi dan jenis vaksin yang digunakan perlu dievaluasi secara berkala sesuai dengan perkembangan virus di lapangan. Setelah berkonsultasi dengan para pakar, Bayu Krisnamurthi menekankan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, termasuk memperkuat dan memperluas layanan kesehatan hewan serta merestrukturisasi industri unggas dari tahap produksi hingga penjualan. Para pakar berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia dan mendukung KOMNAS FBPI dalam upaya mengendalikan virus pada unggas serta mengurangi ancaman pandemi.

 

“Kemampuan virus H5N1 untuk menyebabkan penyakit dan kematian pada manusia, serta potensi munculnya virus pandemi influenza yang besar, telah meningkatkan kekhawatiran para pejabat secara drastis,” kata Laurence Gleeson, Kepala Regional Pusat Darurat Penyakit Hewan Lintas Batas di Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO).

 

Virus influenza avian merupakan virus yang sangat patogenik dan terutama menyerang unggas. Dalam kasus yang jarang terjadi, penyakit ini dapat menular ke manusia. Para pakar khawatir bahwa flu burung dapat bermutasi menjadi virus influenza baru yang mudah menyebar antar manusia, dengan potensi memicu pandemi influenza global.

 

Langkah-langkah yang Dapat Dilakukan untuk Mengurangi Risiko Infeksi H5N1:

1.Jangan menyentuh unggas yang sakit atau mati. Jika terlanjur menyentuh, segera cuci tangan dan laporkan ke otoritas setempat.

2.Cuci tangan dan peralatan makan dengan sabun serta air sebelum makan atau memasak. Pastikan unggas dan telur dimasak dengan matang.

3. Pisahkan unggas yang baru dibeli dari yang lama selama dua minggu.

4.Segera pergi ke klinik kesehatan jika mengalami demam dengan gejala mirip flu dan memiliki riwayat kontak dengan unggas.

 

SUMBER:

KOMNAS FBPI


#FluBurung
#VaksinasiH5N1
#BiosekuritiUnggas
#KesehatanHewan
#CegahPandemi

Tuesday, 19 June 2007

Si Merah Manis Mangga Hadiah


Mangga Miyazaki yang diproduksi di Jepang telah dipublikasikan di TV Jepang pada tanggal 18 Juni 2007. Pada publikasi tersebut telah diceritakan kelezatan rasanya, kandungan gizinya sampai dengan bagaimana cara mengupasnya dalam suatu program yang menarik.

Setelah melihat tayangan tersebut ingin sekali mendapatkannya. Dalam waktu kurang dari satu jam telah dapat di peroleh di supermarket di wilayah Meguro-ku, Tokyo. Rasanya memang sangat manis, aromanya wangi meskipun wanginya tidak sekhas mangga Aromanis, bentuknya lonjong mencirikan bentuk asli buah mangga, warna kulitnya merah berbecak menarik, daging buahnya empuk dengan kandungan air yang cukup.

Sebuah mangga Miyazaki dikemas dalam satu kotak plastik seperti pada gambar diatas. Di supermarket tersebut mangga Miyazaki seberat 350 gram berharga 3.980 yen. Jadi harga per kilogramnya 11.371 yen atau 830.000 rupiah. Sedangkan harga mangga impor di Jepang bervariasi antara 820 yen sampai dengan 2.250 yen per kilogram.
Berat satu buah mangga impor berkisar 160 gram dan 450 gram, perbandingan besarnya dapat dilihat pada gambar diatas.

Tentu kita akan bertanya apakah mangga tersebut akan laku dijual dan mampu bersaing dengan mangga impor yang harganya lebih murah. Yang jelas mereka mempunyai segmen pasar untuk produk-produk bermutu meskipun dengan harga selangit. Biasanya dikirim sebagai omeyage atau hadiah. Ini pelajaran untuk kita, agar berlomba meningkatkan mutu poduk mangga kita sehingga mampu memasuki pasar Jepang yang mempunyai daya beli tinggi, diiringi standar mutu tinggi, dengan selera konsumen yang tinggi pula.

Sunday, 17 June 2007

Shock! Pestisida Neonicotinoid Diduga Jadi Penyebab Runtuhnya Koloni Lebah Madu di 35 Negara Bagian AS



Dalam beberapa dekade terakhir, dunia dikejutkan oleh fenomena misterius: koloni lebah madu tiba-tiba menghilang secara massal. Lebah pekerja yang biasanya memenuhi sarang tiba-tiba lenyap, meninggalkan ratu, telur, dan madu tanpa penjaga. Fenomena ini pertama kali menarik perhatian global setelah laporan dari seorang peternak lebah di Amerika Serikat yang mengalami kerugian luar biasa besar.


Para ilmuwan kemudian menyadari bahwa masalah ini bukan sekadar kematian serangga biasa. Kehilangan lebah dalam jumlah besar dapat mengguncang sistem pangan dunia karena banyak tanaman bergantung pada lebah untuk proses penyerbukan.

 

Awal Mula Terungkapnya Misteri Koloni Lebah yang Hilang


Kasus ini pertama kali dilaporkan oleh seorang peternak lebah Amerika bernama David Hackenberg pada tahun 2006. Ia menemukan bahwa sebagian besar lebah pekerja di peternakannya menghilang secara misterius. Dari sekitar 3.200 koloni lebah yang dimilikinya, sekitar 75% mengalami kerugian besar.


Hackenberg kemudian melaporkan fenomena tersebut kepada para peneliti di Pennsylvania State University. Tidak lama setelah laporan itu muncul, peternak lebah lain di berbagai wilayah Amerika Serikat juga melaporkan kejadian serupa.


Investigasi lebih lanjut menunjukkan bahwa lebih dari 35 negara bagian di Amerika Serikat mengalami fenomena yang sama, dengan tingkat kehilangan koloni antara 35% hingga 90% pada beberapa peternakan lebah.

Fenomena ini kemudian dikenal sebagai: Colony Collapse Disorder (CCD)

CCD menjadi salah satu krisis ekologis terbesar dalam dunia perlebahan modern.

 

Mengapa Lebah Sangat Penting bagi Kehidupan Manusia?


Lebah bukan hanya penghasil madu. Mereka adalah penyerbuk utama bagi banyak tanaman pangan. Diperkirakan lebih dari sepertiga produksi pangan dunia bergantung pada penyerbukan oleh serangga, terutama lebah.

Tanaman yang sangat bergantung pada lebah antara lain:

  • apel
  • almond
  • jeruk
  • berbagai buah beri
  • sayuran
  • tanaman biji-bijian tertentu

Tanpa lebah, produktivitas tanaman tersebut dapat menurun drastis. Karena itu, kematian massal lebah tidak hanya menjadi masalah bagi peternak lebah, tetapi juga bagi:

  • petani buah
  • petani sayur
  • petani tanaman biji
  • industri pangan global.

 

Dugaan Penyebab: Pestisida Neonicotinoid


Salah satu faktor yang paling banyak diteliti sebagai penyebab CCD adalah pestisida Neonicotinoid.

Neonicotinoid merupakan kelompok insektisida modern yang bekerja dengan cara menyerang sistem saraf serangga, mirip dengan cara kerja nikotin pada reseptor saraf. Pestisida ini banyak digunakan untuk melindungi tanaman dari hama seperti kutu daun dan kumbang.

Meskipun namanya mirip dengan nikotin, neonicotinoid tidak mengandung nikotin dari tembakau. Namun mekanisme kerjanya serupa, yaitu:

  • mengganggu sistem saraf serangga
  • menyebabkan gangguan orientasi
  • menurunkan kemampuan mencari makan
  • melemahkan sistem imun serangga.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan neonicotinoid dapat menyebabkan lebah kehilangan kemampuan navigasi, sehingga tidak mampu menemukan jalan kembali ke sarangnya.

Akibatnya, lebah pekerja mati di luar sarang dan koloni akhirnya runtuh.

 

“Perfect Storm”: Bukan Satu Penyebab Tunggal


Walaupun pestisida sering disorot sebagai penyebab utama, banyak ilmuwan menilai bahwa CCD kemungkinan merupakan kombinasi beberapa faktor.

Penelitian di Pennsylvania State University menunjukkan bahwa koloni lebah yang terkena CCD sering memiliki berbagai masalah sekaligus, seperti:

  • infeksi virus, termasuk virus kelumpuhan lebah Israel
  • parasit seperti tungau Varroa
  • infeksi jamur
  • paparan pestisida
  • kekurangan nutrisi
  • stres lingkungan.

Para peneliti menyebut kondisi ini sebagai “perfect storm”, yaitu gabungan berbagai tekanan lingkungan yang akhirnya menyebabkan koloni lebah runtuh.

 

Dampak Global bagi Ekosistem dan Pangan


Kematian lebah tidak hanya berdampak pada produksi madu. Dampaknya jauh lebih luas:

  1. Penurunan produksi buah dan sayuran
  2. Gangguan keseimbangan ekosistem
  3. Kerugian ekonomi bagi petani dan peternak lebah
  4. Ancaman terhadap ketahanan pangan dunia

Di Amerika Serikat saja, jasa penyerbukan oleh lebah diperkirakan bernilai miliaran dolar setiap tahun.

Jika populasi lebah terus menurun, banyak tanaman pangan akan mengalami penurunan hasil panen.

 

Upaya Menyelamatkan Lebah


Karena pentingnya lebah bagi ekosistem, berbagai negara mulai mengambil langkah untuk melindungi serangga ini, antara lain:

  • pembatasan penggunaan pestisida tertentu
  • pengembangan pertanian ramah penyerbuk
  • penanaman tanaman berbunga untuk sumber pakan lebah
  • penelitian tentang kesehatan koloni lebah.

Beberapa negara bahkan telah melarang sebagian pestisida neonicotinoid setelah muncul bukti bahwa bahan kimia tersebut berpotensi membahayakan lebah.

 

Pelajaran Penting bagi Masa Depan


Kisah runtuhnya koloni lebah memberi pelajaran penting bagi manusia: ekosistem sangat rapuh dan saling terhubung.

Serangga kecil seperti lebah ternyata memiliki peran besar dalam menjaga rantai produksi pangan dunia. Ketika keseimbangan alam terganggu—baik oleh pestisida, penyakit, atau perubahan lingkungan—dampaknya bisa merambat hingga ke meja makan manusia.

Melindungi lebah berarti juga melindungi ketahanan pangan dan keberlanjutan ekosistem bumi.

 

Referensi


  1. vanEngelsdorp D. et al. 2007. Colony Collapse Disorder: A Descriptive Study.
  2. Cox-Foster D. et al. 2007. A Metagenomic Survey of Microbes in Honey Bee Colony Collapse Disorder. Science.
  3. Pennsylvania State University – Honey Bee Collapse Research.
  4. Reports on colony losses across the United States.
  5. Reports on pesticide impacts on bee behavior.

 

#LebahMadu

#Neonicotinoid

#ColonyCollapseDisorder

#KrisisPenyerbuk

#KetahananPangan

#Pestisida


Friday, 15 June 2007

Jepang Gaspol Bioethanol! Teknologi Jerami Padi Jadi Senjata Baru Lawan Krisis Energi



Jepang sedang membidik bioethanol sebagai bahan bakar untuk mencegah ketergantungan energi yang diimpor dari luar negeri. Meskipun produksi biethanol di Jepang baru tahap awal, terdapat langkah-langkah penting baik umum maupun sektor swasta untuk menggunakan teknologi Jepang dalam rangka meningkatkan produksi bahan bakar berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Para ahli mengatakan bahwa agar dapat bersaing dengan produk impor, produksi bioethanol dalam negeri perlu waktu bertahun-tahun. Akan tetapi mereka juga berkata bahwa Jepang akan terdepan dalam menerapkan teknologi fermentasi dan teknologi konservasi energi.

Pengembangan proses pembuatan bioethanol yang efisien dengan hasil besar akan membantu Jepang dalam menurunkan ketergantungan terhadap sumber energi dari luar negeri. Dan pada saat yang bersamaan dapat mengurangi pencemaran udara yang dipersyaratkan oleh Protokol Kyoto.

Bioethanol adalah alkohol yang dibuat dari fermentasi bahan organic seperti jagung, tebu, jerami gandum atau padi dalam suatu proses yang mirip dengan pembuatan bir. Hasil akhirnya dicampur dengan bensin untuk mengurangi polutan gas buang kendaraan termasuk diantaranya karbodioksida.

Emisi karbondioksida yang dihasilkan pembakaran bioethanol sama dengan pembakaran bensin. Akan tetapi dengan bioethanol, karbondioksida akan digunakan oleh tanaman tebu, jagung, padi, gandum dsb. ketika terjadi fotosintesis pada tumbuhan. Hal tersebut menyebabkan bioethanol menjadi sangat menarik dalam mencari jalan keluar dalam mengurangi emisi; yang dapat menurunkan emisi 6% dibawah 1990 seperti yang dipersyaratkan Protokol Kyoto. Akan tetapi para pembuat kebijakan dan para peneliti menyatakan masih terdapat kekurangan bioethanol.

Dua produsen bioethanol terbesar adalah Brazil dan Amerika Serikat, Brazil memproduksi bioethanol dari tebu, sedangkan Amerika Serikat dari Jagung. Peningkatan permintaan bioethanol akan menarik perhatian, dalam waktu dekat mereka akan kekurangan gula dan jagung untuk dikonsumsi sebagai bahan makanan.

Masalah besar lain adalah bahwa akan diperlukan jumlah besar bahan bakar fosil untuk membuat bioethanol dalam pabrik dan pengapalan bioethanol ke Jepang.

Honda Motor Co. telah bekerjasama dengan the Kyoto-based Research Institute of Innovative Technology for the Earth (RITE) untuk memproduksi bioethanol dengan bahan jerami padi dan sampah pertanian lain yang dapat diperoleh di Jepang. Jepang relative baru dalam masalah bahan bakar bioethanol ini, akan tetapi Honda yang beraliansi dengan RITE telah memulai pekerjaannya pada musim gugur tahun lalu, dan telah memperoleh hasil yang menjanjikan.

Sampai sekarang dalam proses fermentasi, bahan yang kurang murni akan mengganggu kerja yeast bacteria dalam merubah glukosa dalam jerami padi menjadi alkohol sehingga produk ethanol yang diperoleh sedikit. RITE telah mendapatkan solusi dengan cara menggantikan Yeast bacteria dengan Coryne bacteria hasil rekayasa genetika yang dapat bekerja dengan baik terhadap kondisi bahan yang kurang murni. Penemuan pertama kali oleh Honda dan RITE ini dapat meningkatkan produk ethanol 20 kali lebih banyak. Menurut Mr. Yoshikazu Fujisawa Pimpinan Senior Honda R&D dalam metode baru ini 1 kg jerami padi dapat menghasilkan sekitar 200 gram alkohol.

Pemerintah juga mendanai penelitian bagaimana cara merubah limbah pertanian menjadi bioethanol. Tahun lalu diperkirakan terdapat 6 pilot project yang menghasilkan 30 kiloliter ethanol. Satu diantara projek tersebut dilakukan oleh Mitsui Enginering & Shipbuilding Co. Perusahaan tersebut telah memproduksi ethanol dari limbah kayu di Okayama Prefecture sejak tahun 2005 menggunakan enzyme yang dikembangkan oleh Finland ‘S VTT Technical Research Center. Bahan baku lainnya termasuk gandum, sorghum dan tebu.

Pada awal bulan ini pemerintah juga telah meresmikan dua proyek baru di Hokkaido dan Niigata Prefecture. Proyek tersebut diharapkan setiap tahunnya dapat memproduksi 31.000 kiloliter bioethanol yang terbuat dari beras dan gandum selama lebih dari 5 tahun.

Masalah sangat sensitif apabila produk bahan makanan digunakan untuk keperluan selain sebagai makanan. Jepang adalah salah satu negara industri yang swasembada pangannya rendah, hanya dapat mencukupi sendiri 40% dari kebutuhan kalorinya. Maka dari itu, hal ini akan mendorong Jepang untuk memproduksi bahan bakar yang berasal dari bagian tanaman padi yang tidak dapat dimakan.

Sumber: Japan Time 15 Juni 2007

#Bioethanol 
#EnergiTerbarukan 
#Jepang 
#JeramiPadi 
#EmisiKarbon

Sunday, 3 June 2007

Pertukaran Pelajar di Gunma Prefecture

Pada tanggal 17 Mei 2007 telah dilakukan penerimaan Pertukaran Pelajar Sekolah Pertanian di Gunama Prefecture yang kesepuluh. Para pelajar berasal dari lima negara yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Philipina dan Mongolia. Dalam program Asian Agricultural High School Student Overseas Study program ini, setiap negara mengirimkan 3 pelajar kelas II untuk belajar di Gunma Prefectural Agricultural High School. Di Sekolah Pertanian Seta Norin Koko mereka menimba ilmu pertanian baik teori maupun praktek selama setahun. Pada gambar diatas 3 pelajar Indonesia Santy Andriyani, Ummi Safrida Harahap, dan Mahmudianshah didampingi Atase Pertanian KBRI Tokyo diterima oleh Gubernur Gunma Prefecture.

Setiap pelajar dijemput oleh orang tua angkat masing-masing yang bertempat tinggal di sekitar Sekolah Pertanian tempat mereka belajar.