Banjir Bandang dan Panggilan
Keseimbangan dari Allah SWT
Beberapa waktu terakhir, banjir
bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera menyisakan duka dan
keprihatinan mendalam. Harta benda rusak, aktivitas masyarakat terganggu,
bahkan tidak sedikit nyawa yang melayang. Dalam pandangan iman, peristiwa seperti
ini tidak hanya dipahami sebagai fenomena alam semata, tetapi juga sebagai
pesan dan pelajaran dari Allah SWT bagi manusia.
Al-Qur’an mengajarkan bahwa alam
semesta diciptakan Allah dengan penuh keseimbangan. Prinsip keseimbangan ini
dikenal dengan istilah mizan, yaitu ukuran yang adil dan proporsional.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Rahman ayat 7–9: “Dan Dia meninggikan
langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas
tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah
kamu mengurangi neraca itu.” Ayat ini menegaskan bahwa manusia dilarang
merusak keseimbangan yang telah Allah tetapkan, baik dalam kehidupan sosial
maupun dalam pengelolaan alam.
Ketika
keseimbangan itu dilanggar, dampaknya akan kembali kepada manusia sendiri.
Kerusakan lingkungan akibat penebangan hutan secara liar, pencemaran sungai,
serta eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan dapat memperparah risiko
bencana. Selain itu, ketidakadilan sosial seperti keserakahan, korupsi, dan
pengelolaan sumber daya yang tidak amanah juga menjadi bagian dari pelanggaran
terhadap mizan. Lebih jauh lagi, pengabaian akhlak—ketika manusia hanya
memikirkan keuntungan pribadi tanpa peduli pada lingkungan dan sesama—ikut
mempercepat kerusakan tersebut.
Allah SWT
mengingatkan hal ini dalam Surah Ar-Rum ayat 41: “Telah tampak kerusakan di
darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah
membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka
kembali ke jalan yang benar.” Ayat ini mengajarkan bahwa bencana bisa
menjadi teguran agar manusia sadar, berhenti dari kesalahan, dan kembali kepada
aturan Allah.
Namun
demikian, Islam juga mengajarkan kita untuk tidak memandang musibah semata-mata
sebagai hukuman. Di balik peristiwa banjir bandang, terdapat hikmah dan rahmat
Allah SWT yang sering kali luput dari pandangan manusia. Air bah yang datang dapat
membersihkan lingkungan dari sampah dan kotoran yang selama ini diabaikan.
Endapan lumpur dan sedimen yang terbawa banjir juga dapat menyuburkan tanah,
yang pada akhirnya menjadi sumber rezeki bagi manusia di masa depan.
Lebih dari itu, banjir bandang
adalah pengingat yang kuat agar manusia kembali merenungi hubungannya dengan
Allah dan dengan alam. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 96: “Dan
sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pasti Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” Ayat
ini menegaskan bahwa iman dan takwa memiliki hubungan erat dengan keberkahan
alam dan kehidupan.
Tentu kita
tidak menutup mata bahwa banjir bandang juga membawa penderitaan, kehilangan,
dan luka yang mendalam. Karena itu, sebagai hamba Allah, kita dituntut untuk
berdoa, bersabar, dan saling tolong-menolong, sekaligus berikhtiar menjaga
lingkungan dengan lebih baik. Merawat alam, bersikap adil, dan memperbaiki
akhlak bukan hanya tanggung jawab sosial, tetapi juga bagian dari ibadah kepada
Allah SWT.
Semoga setiap
peristiwa yang terjadi menjadi jalan bagi kita untuk semakin dekat kepada-Nya,
memperbaiki diri, dan menjaga keseimbangan alam sebagaimana yang Allah
kehendaki. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya
kepada kita semua. Aamiin
ya Rabbal ‘aalamiin.
#BanjirBandang
#PesanAlQuran#MizanAlam
#DakwahLingkungan
#IslamDanBencana

No comments:
Post a Comment