Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Wednesday, 31 December 2025

Pangan Dikuasai, Sampah Dikirim: Inikah Wajah Baru Penjajahan Global?

 


Dalam sejarah klasik, penjajahan identik dengan pendudukan wilayah, penguasaan sumber daya alam, dan dominasi kekuatan militer oleh bangsa asing. Namun, di abad ke-21, wajah penjajahan tak lagi hadir melalui senjata atau bendera kolonial. Ia berubah menjadi bentuk yang lebih halus namun sistemik: dominasi ekonomi global, ketimpangan perdagangan, dan eksploitasi lingkungan — terutama dalam sektor pangan, pertanian, dan pengelolaan sampah.

Fenomena ini sering disamarkan sebagai “perdagangan bebas”, “globalisasi”, atau “efisiensi pasar”, tetapi dampaknya nyata dan berkepanjangan, terutama bagi negara-negara berkembang di belahan selatan bumi.

 

Polarisasi Utara–Selatan: Ketergantungan dan Nilai Tambah

Negara-negara Global South termasuk Indonesia berperan sebagai pemasok utama bahan mentah dunia seperti kopi, kakao, kelapa sawit, rempah, dan komoditas pertanian lainnya. Namun, nilai ekonomi terbesar dari komoditas ini justru dinikmati oleh negara-negara maju melalui industri pengolahan, branding, dan distribusi. Akibatnya, negara produsen sering terjebak dalam posisi sebagai pemasok bahan baku tanpa kemampuan mengolah produk bernilai tinggi.

Misalnya, meskipun negara berkembang menyumbang porsi besar produksi pangan global, Asia tetap menjadi pengimpor bersih pangan terbesar pada 2023, sementara Amerika menjadi eksportir pangan terbesar dunia menurut data FAO terbaru. Total perdagangan produk pertanian meningkat signifikan antara 2010–2023, tetapi dominasi rantai nilai masih kuat di negara maju. FAOHome

Selain itu, laporan Kompas menyoroti bahwa lebih dari dua-pertiga negara berkembang bergantung pada ekspor komoditas primer, menjadikan mereka rentan terhadap fluktuasi harga dan perubahan permintaan global. Ketergantungan ini terjadi pada sekitar 95 dari 143 negara antara 2021–2023. Lestari Kompas

Ketimpangan dalam nilai tambah ini memperlihatkan bahwa meskipun negara berkembang memproduksi banyak bahan baku, pendapatan terbesar tetap tertahan di hilir industri yang dikuasai oleh negara maju. Ini menjadikan struktur perdagangan global secara efektif meminggirkan peran negara berkembang dalam rantai nilai yang lebih menguntungkan.

 

Paradoks Ketergantungan Pangan: Lumbung yang Impor

Paradoks muncul ketika negara yang relatif “surplus pangan” tetap bergantung pada impor input produksi. Indonesia, meskipun menjadi salah satu produsen beras utama, tetap mengimpor bahan baku plastik dan produk plastik senilai hampir US$1 miliar, serta memperkuat impor barang konsumsi lain yang banyak bergantung pada teknologi dan bahan baku asing. Bisnis.com Ekonomi+1

Kondisi ini bukan semata karena produktivitas kurang, tetapi juga karena arsitektur perdagangan global yang timpang — di mana teknologi pengemasan, input produksi berteknologi tinggi, dan akses pasar masih didominasi oleh negara maju. Sementara itu, regulasi domestik sering kali belum sepenuhnya memprioritaskan produsen lokal seperti petani kecil dan nelayan.

Dari sisi pangan global, terdapat paradox besar: lebih dari 1,05 miliar ton makanan terbuang sia-sia setiap tahun, sementara ratusan juta orang tetap menghadapi kelaparan akut. Sekitar 19% dari total produksi makanan global menjadi limbah, padahal hampir 783 juta orang mengalami kelaparan serius pada 2022, menurut laporan PBB terbaru. Kompas

 

Impor Limbah: Ketika Negara Berkembang Menjadi Tempat Akhir Sampah Dunia

Ketimpangan global tidak berhenti pada pangan. Negara berkembang kerap menjadi tujuan akhir limbah negara maju — terutama plastik. Data 2025 menunjukkan bahwa ekspor limbah plastik Inggris ke negara berkembang meningkat tajam hingga 84%, dengan sebagian besar tujuan termasuk Indonesia dan Malaysia. Tren ini terjadi meskipun Inggris bergabung dalam koalisi yang mendukung pengurangan plastik global. The Guardian

Selain itu, studi internasional menunjukkan bahwa negara-negara miskin mengimpor limbah plastik lebih banyak daripada yang diperkirakan, sementara negara maju lebih memilih mengolah limbah yang berkualitas tinggi sendiri. Lestari Kompas

Limbah impor ini sering kali tidak hanya berupa bahan baku daur ulang yang bersih, tetapi juga tercampur dengan sampah sulit diolah dan berbahaya, membebani lingkungan dan kesehatan masyarakat lokal.

Fenomena ini dikenal sebagai penjajahan ekologis — di mana negara maju “mengekspor” masalah lingkungan mereka ke negara berkembang yang memiliki pengawasan lingkungan dan kapasitas regulasi yang lebih lemah.

 

Penjajahan Ekonomi Tanpa Senjata

Penjajahan modern kini tidak lagi menggunakan kapal perang atau tentara, melainkan mekanisme pasar bebas, ketimpangan akses teknologi, kekuatan korporasi multinasional, dan promosi gaya hidup konsumtif. Negara-negara selatan sering didorong menjadi pasar besar dan sumber bahan mentah, sementara tetap kalah dalam penguasaan teknologi pengolahan, distribusi, dan branding produk bernilai tinggi.

Ketika hilirisasi industri dan pengembangan nilai tambah tidak didukung secara strategis, posisi tawar negara berkembang di pasar global tetap lemah dan rentan terhadap gejolak ekonomi dunia.

 

Menuju Kedaulatan Pangan yang Adil dan Berkelanjutan

Kedaulatan pangan sejati bukan hanya soal tingkat produksi yang tinggi, tetapi juga keadilan dalam rantai nilai, perlindungan terhadap produsen kecil, kemandirian teknologi, dan hak masyarakat menentukan sistem pangan mereka sendiri. Pencapaian kedaulatan pangan juga berarti mampu mengelola limbah secara berkelanjutan dan menolak praktik impor limbah yang merugikan.

Negara-negara Global South perlu memperkuat kerja sama, mempercepat hilirisasi industri, membangun kapasitas teknologi nasional, serta memperjuangkan rezim perdagangan global yang lebih adil. Langkah kolektif ini menjadi kunci dalam menghadapi ketidakadilan pangan dan ekologis yang kini menjadi wajah baru penjajahan dunia.

 

REFERENSI

 

  1. FAO (2024). Trade of Agricultural Commodities — data perdagangan pangan global. FAOHome
  2. Kompas (2025). Ketergantungan negara berkembang pada komoditas primer. Lestari Kompas
  3. Kompas (2024). Satu miliar ton makanan terbuang sementara 783 juta orang kelaparan. Kompas
  4. The Guardian (2025). Peningkatan ekspor limbah plastik ke negara berkembang. The Guardian
  5. BPS & Kemenkeu RI (2024–2025). Data impor plastik dan impor nonmigas Indonesia. Bisnis.com Ekonomi+1

 


#KetidakadilanPangan
#PenjajahanModern
#SampahGlobal
#KedaulatanPangan
#EkologiPolitik

Rahasia Siklus Air: Proses Alam yang Diam-Diam Menjaga Kehidupan di Bumi


 

Siklus Air: Proses Alamiah yang Menjaga Kehidupan di Bumi

 

Air adalah unsur fundamental bagi seluruh kehidupan di Bumi. Tidak hanya berperan sebagai kebutuhan biologis makhluk hidup, air juga menjadi penggerak utama berbagai proses alam. Salah satu mekanisme terpenting yang memastikan ketersediaan air secara berkelanjutan adalah siklus air alami (hydrological cycle), yaitu peredaran air yang berlangsung terus-menerus dari laut ke atmosfer, ke daratan, dan kembali lagi ke laut.

 

Siklus air bekerja tanpa henti, dikendalikan oleh energi matahari dan gaya gravitasi, serta melibatkan proses fisika dan kimia yang saling terhubung. Melalui siklus inilah keseimbangan ekosistem, iklim, dan kehidupan manusia dapat terjaga.

 

1. Evaporasi (Penguapan)

Tahap awal siklus air dimulai dari evaporasi, yaitu proses penguapan air dari permukaan laut, danau, sungai, tanah basah, dan vegetasi ke atmosfer akibat pemanasan oleh sinar matahari. Pada proses ini, molekul air memperoleh energi kinetik yang cukup untuk berubah dari fase cair menjadi uap air.

Secara ilmiah, laju evaporasi dapat dinyatakan dengan persamaan:



di mana:

  • = laju evaporasi
  • = densitas air
  • = koefisien drag
  • = kecepatan angin
  • = kelembaban spesifik permukaan
  • = kelembaban spesifik atmosfer

Persamaan ini menunjukkan bahwa evaporasi dipengaruhi oleh kecepatan angin, perbedaan kelembaban antara permukaan dan udara, serta karakteristik fisik air dan atmosfer. Semakin besar perbedaan kelembaban dan semakin kuat angin, maka semakin tinggi laju penguapan yang terjadi.

 

2. Kondensasi (Pengembunan)

Uap air hasil evaporasi akan naik ke atmosfer. Pada ketinggian tertentu, suhu udara menjadi lebih rendah sehingga uap air mengalami kondensasi, yakni perubahan fase dari gas menjadi butiran air atau kristal es yang membentuk awan.

Hubungan antara suhu dan tekanan uap jenuh dalam proses kondensasi dapat dijelaskan melalui persamaan:



dengan:

  • = tekanan uap jenuh
  • = tekanan uap referensi
  • = panas laten penguapan
  • = konstanta gas uap air
  • = suhu absolut

Persamaan ini menjelaskan bahwa semakin rendah suhu udara, kemampuan udara untuk menahan uap air semakin kecil, sehingga uap air akan mengembun membentuk awan.

 

3. Presipitasi (Hujan)

Ketika awan telah jenuh dan partikel air atau es di dalamnya bergabung menjadi ukuran yang cukup besar, gaya gravitasi akan menariknya jatuh ke permukaan Bumi dalam bentuk presipitasi, seperti hujan, salju, atau hujan es. Presipitasi merupakan mekanisme utama distribusi air dari atmosfer ke daratan dan lautan.

Proses ini sangat penting bagi keberlangsungan pertanian, ketersediaan air tawar, serta pengisian kembali sungai dan danau.

 

4. Infiltrasi (Resapan)

Sebagian air hujan yang mencapai permukaan tanah akan mengalami infiltrasi, yaitu meresap ke dalam lapisan tanah dan batuan. Air yang meresap ini menjadi air tanah, yang berfungsi sebagai cadangan air alami dan sumber utama air sumur serta mata air.

Tingkat infiltrasi dipengaruhi oleh jenis tanah, tutupan vegetasi, kemiringan lahan, dan intensitas hujan. Tanah yang gembur dan tertutup vegetasi umumnya memiliki kemampuan resapan yang lebih baik.

 

5. Runoff (Aliran Permukaan)

Air hujan yang tidak sempat meresap ke dalam tanah akan mengalir di permukaan sebagai runoff. Aliran ini bergerak menuju parit, sungai, dan akhirnya kembali ke laut. Runoff berperan penting dalam membentuk bentang alam, namun jika berlebihan dapat menyebabkan erosi dan banjir.

Keseimbangan antara infiltrasi dan runoff menjadi kunci pengelolaan sumber daya air dan mitigasi bencana hidrologi.

 

Makna Normatif Siklus Air

Selain dapat dijelaskan secara ilmiah, siklus air juga memiliki makna normatif dan spiritual yang mendalam. Dalam perspektif keimanan, siklus air merupakan rahmat dan tanda kekuasaan Allah SWT bagi seluruh makhluk hidup.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Anbiya ayat 30:

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu dahulu adalah satu, lalu Kami pisahkan keduanya. Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak juga beriman?”

Ayat ini menegaskan bahwa air adalah sumber kehidupan dan bahwa keteraturan alam, termasuk siklus air, merupakan bagian dari sunnatullah yang menjaga keseimbangan Bumi.

 

Kesimpulan

 

Siklus air alami adalah sistem kompleks namun harmonis yang memastikan ketersediaan air bagi kehidupan. Melalui proses evaporasi, kondensasi, presipitasi, infiltrasi, dan runoff, air terus beredar tanpa henti. Memahami siklus ini secara ilmiah sekaligus memaknainya secara normatif dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan dan sumber daya air sebagai amanah bagi generasi mendatang.

 

Referensi

  1. Brutsaert, W. (1982). Evaporation into the Atmosphere. Springer.
  2. Rogers, R. R., & Yau, M. K. (1989). A Short Course in Cloud Physics. Pergamon Press.


 #SiklusAir

#Hidrologi

#IlmuLingkungan

#AirSumberKehidupan

#FenomenaAlam

Saturday, 27 December 2025

From Palm Waste to Battlefield Armor: IPB’s Eco Bulletproof Vest Passes Indonesian Military Test

 


IPB’s Palm-Oil Anti-Bullet Vest Tested at 5-Meter Range, Passes Indonesian Military Trials

 

An environmentally friendly bulletproof vest suitable for use by Indonesian National Armed Forces (TNI) and National Police (Polri) personnel has been developed using palm oil waste. Waste from oil palm, long regarded as having little value, has now demonstrated its potential as a strategic material for national defense. This innovation—a bulletproof vest made from oil palm empty fruit bunch (OPEFB) fibers—is the result of research conducted by a team from IPB University.

 

Recently, the palm-oil-based vest was declared to have passed ballistic testing and received certification after undergoing rigorous trials at the Army Research and Development Service Laboratory (Dislitbang TNI AD) in Batujajar, Bandung, on Friday (December 19, 2025).

 

The biomaterials research carried out by the IPB University team has been developed over many years, with a specific focus on bulletproof materials since 2023, until it ultimately met military qualification standards. This innovation emerged from a multidisciplinary collaboration at IPB University, led by Dr. Siti Nikmatin, a researcher at the Palm Oil Study Center and a lecturer in the Department of Physics.

 

She emphasized the importance of strategic steps toward commercialization. According to her, the availability of palm fiber raw materials is very abundant; however, the production process still requires investment in machinery and capital, as many stages are currently performed manually. “Hopefully, this innovation can transform the potential of palm oil waste into a new strength for the sovereignty of Indonesia’s defense industry in the future,” she concluded, as quoted from the IPB University website.

 

Tested with Live Fire at a 5-Meter Distance

 

The OPEFB fiber-based vest was tested by the TNI using 9×19 mm caliber ammunition fired from a distance of 5 meters, covering both dry and wet firing conditions, as well as resistance tests against stabbing and slashing by sharp weapons. Based on the assessment of the testing team, the vest was declared to have passed because it was able to stop the projectile without penetration, with a backface deformation of less than 44 mm.

 

This performance is considered highly competitive within the current market price range for Level IIIA bulletproof vests. In addition to meeting protection requirements, the vest also stands out in terms of ergonomics, weighing under 2 kg and with a thickness of less than 2 cm.

 

The project was funded through the Matching Fund Program (Kedaireka) of the Ministry of Higher Education, Science, and Technology for the 2024–2025 fiscal years.

 

Other members of the IPB University team include Dr. Irmansyah; Rima Fitria Adiati, MT; Dr. Agus Kartono (Physics); and Tursina Andita Putri, MSi (Agribusiness). The involvement of an industry partner, represented by Andika Kristinawati from PT Interstisi Material Maju, further strengthened the downstream commercialization of this research.

 

The certification process was witnessed directly by IPB University leaders, including Prof. Anas Miftah Fauzi (Head of the Institute for Advanced International Technological Research) and Prof. Budi Mulyanto (Head of the Palm Oil Study Center). The ballistic testing process was also directly monitored by senior Army research officers, namely Colonel Cpl Kries Kambaksono, Colonel Yayat Priatna P., Colonel Hiras M.S. Turnip, and Colonel Tri Handoko.

 

SOURCE:

Kompas.com, 25 Desember 2025, 17:31 WIB.

https://www.kompas.com/edu/read/2025/12/25/173100071/rompi-sawit-anti-peluru-ipb-dites-tembak-jarak-5-meter-lolos-uji-tni


#EcoDefense
#BulletproofVest
#PalmOilInnovation
#MilitaryTechnology
#IPBUniversity

Banjir Bandang di Sumatera: Teguran atau Rahmat Allah? Ini Pesan Al-Qur’an tentang Keseimbangan Alam

 


Banjir Bandang dan Panggilan Keseimbangan dari Allah SWT

 

Beberapa waktu terakhir, banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera menyisakan duka dan keprihatinan mendalam. Harta benda rusak, aktivitas masyarakat terganggu, bahkan tidak sedikit nyawa yang melayang. Dalam pandangan iman, peristiwa seperti ini tidak hanya dipahami sebagai fenomena alam semata, tetapi juga sebagai pesan dan pelajaran dari Allah SWT bagi manusia.


Al-Qur’an mengajarkan bahwa alam semesta diciptakan Allah dengan penuh keseimbangan. Prinsip keseimbangan ini dikenal dengan istilah mizan, yaitu ukuran yang adil dan proporsional. Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Rahman ayat 7–9: “Dan Dia meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” Ayat ini menegaskan bahwa manusia dilarang merusak keseimbangan yang telah Allah tetapkan, baik dalam kehidupan sosial maupun dalam pengelolaan alam.


Ketika keseimbangan itu dilanggar, dampaknya akan kembali kepada manusia sendiri. Kerusakan lingkungan akibat penebangan hutan secara liar, pencemaran sungai, serta eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan dapat memperparah risiko bencana. Selain itu, ketidakadilan sosial seperti keserakahan, korupsi, dan pengelolaan sumber daya yang tidak amanah juga menjadi bagian dari pelanggaran terhadap mizan. Lebih jauh lagi, pengabaian akhlak—ketika manusia hanya memikirkan keuntungan pribadi tanpa peduli pada lingkungan dan sesama—ikut mempercepat kerusakan tersebut.


Allah SWT mengingatkan hal ini dalam Surah Ar-Rum ayat 41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.” Ayat ini mengajarkan bahwa bencana bisa menjadi teguran agar manusia sadar, berhenti dari kesalahan, dan kembali kepada aturan Allah.


Namun demikian, Islam juga mengajarkan kita untuk tidak memandang musibah semata-mata sebagai hukuman. Di balik peristiwa banjir bandang, terdapat hikmah dan rahmat Allah SWT yang sering kali luput dari pandangan manusia. Air bah yang datang dapat membersihkan lingkungan dari sampah dan kotoran yang selama ini diabaikan. Endapan lumpur dan sedimen yang terbawa banjir juga dapat menyuburkan tanah, yang pada akhirnya menjadi sumber rezeki bagi manusia di masa depan.


Lebih dari itu, banjir bandang adalah pengingat yang kuat agar manusia kembali merenungi hubungannya dengan Allah dan dengan alam. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 96: “Dan sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” Ayat ini menegaskan bahwa iman dan takwa memiliki hubungan erat dengan keberkahan alam dan kehidupan.


Tentu kita tidak menutup mata bahwa banjir bandang juga membawa penderitaan, kehilangan, dan luka yang mendalam. Karena itu, sebagai hamba Allah, kita dituntut untuk berdoa, bersabar, dan saling tolong-menolong, sekaligus berikhtiar menjaga lingkungan dengan lebih baik. Merawat alam, bersikap adil, dan memperbaiki akhlak bukan hanya tanggung jawab sosial, tetapi juga bagian dari ibadah kepada Allah SWT.


Semoga setiap peristiwa yang terjadi menjadi jalan bagi kita untuk semakin dekat kepada-Nya, memperbaiki diri, dan menjaga keseimbangan alam sebagaimana yang Allah kehendaki. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.


#BanjirBandang

#PesanAlQuran

#MizanAlam

#DakwahLingkungan

#IslamDanBencana

Thursday, 25 December 2025

Alarm Pendidikan 2025: Nilai Siswa Indonesia–Jepang Turun Bersamaan, Apa yang Salah dengan Sistem Belajar Kita?


Ringkasan Eksekutif


Pada tahun 2025, dua negara dengan konteks pendidikan yang sangat berbeda—Indonesia dan Jepang—menghadapi fenomena yang sama: penurunan prestasi akademik siswa pada jenjang sekolah lanjutan, terutama pada aspek literasi, numerasi, dan penalaran ilmiah.


Di Indonesia, hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 jenjang SMA menunjukkan kondisi darurat literasi dan numerasi, dengan nilai Matematika dan Bahasa Inggris yang sangat rendah. Sementara di Jepang, Tes Prestasi Nasional 2025 juga mencatat penurunan signifikan pada Bahasa Jepang, Matematika, dan Sains, bahkan mencapai titik terendah sejak reformasi format tes tahun 2019.


Temuan ini menegaskan bahwa penurunan capaian akademik bukan persoalan lokal semata, melainkan tantangan global yang dipengaruhi oleh perubahan pedagogi, dampak pascapandemi, transisi sistem asesmen, serta melemahnya penguatan kompetensi dasar.

 

Latar Belakang Masalah


Prestasi akademik merupakan indikator penting kualitas sistem pendidikan. Penurunan capaian secara nasional, apalagi terjadi di lebih dari satu negara, perlu dibaca sebagai alarm kebijakan, bukan sekadar fluktuasi nilai ujian.

Tahun 2025 menghadirkan bukti kuat bahwa:

  • Sistem pendidikan Indonesia belum pulih sepenuhnya dari krisis pembelajaran.
  • Sistem pendidikan Jepang, meski matang dan stabil, juga menghadapi tantangan baru dalam penguatan keterampilan dasar di era digital.

 

Temuan Utama dari Indonesia (TKA 2025)


Hasil TKA 2025 jenjang SMA/sederajat menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan:

  • Matematika wajib: rata-rata 36,10
  • Bahasa Inggris wajib: 24,93
  • Bahasa Indonesia wajib: 55,38

 

Nilai rendah ini menandakan:

  1. Lemahnya literasi dan numerasi dasar, bukan sekadar kesulitan teknis soal.
  2. Pembelajaran masih berorientasi hafalan, bukan pemahaman konsep dan penalaran.
  3. Budaya numerasi yang rapuh, dengan Matematika dipersepsikan sebagai pelajaran “menakutkan”.
  4. Dampak panjang pandemi Covid-19, terutama pada mata pelajaran yang menuntut latihan berkelanjutan.
  5. Ketimpangan kesiapan guru dan sekolah dalam mengimplementasikan kurikulum berbasis kompetensi.

Walaupun TKA tidak menentukan kelulusan, hasil ini menjadi cermin kompetensi nasional yang menunjukkan bahwa sistem pembelajaran belum sepenuhnya mendukung tumbuhnya daya pikir kritis siswa.

 

Temuan Utama dari Jepang (Tes Prestasi Nasional 2025)


Jepang juga mengalami penurunan nilai akademik pada 2025:

  • Bahasa Jepang (SMP): turun menjadi 54,6%, terendah sejak 2019
  • Matematika (SMP): turun menjadi 48,8%
  • Sains (SD): turun tajam menjadi 57,3%

Beberapa faktor kunci yang diidentifikasi:

  1. Kesulitan siswa dalam tugas menulis, terutama yang menuntut ekspresi ide dan penalaran.
  2. Penurunan konsistensi latihan dasar, terutama dalam matematika.
  3. Transisi ke Computer-Based Testing (CBT) yang mengubah cara siswa berinteraksi dengan soal.
  4. Variasi tingkat kesulitan tes antar tahun, yang menyulitkan perbandingan langsung.

Meskipun sistem pendidikan Jepang relatif kuat, hasil ini menunjukkan bahwa transformasi digital dan perubahan pola belajar juga membawa tantangan baru bagi penguasaan kompetensi dasar.

 

Analisis Perbandingan Indonesia–Jepang


Meski konteks berbeda, terdapat benang merah penyebab penurunan prestasi di kedua negara:

Aspek

Indonesia

Jepang

Literasi & Numerasi

Lemah dan timpang

Menurun, terutama menulis & matematika

Dampak Pandemi

Sangat signifikan

Masih terasa

Metode Pembelajaran

Dominan hafalan

Kurang adaptif pada keterampilan ekspresif

Asesmen

Transisi kompetensi

Transisi digital (CBT)

Budaya Belajar

Kepercayaan diri rendah

Tekanan akademik & adaptasi format baru

Kesamaan ini menunjukkan bahwa penurunan prestasi bukan semata kualitas siswa, melainkan refleksi dari ketidaksiapan sistem pembelajaran dalam menghadapi perubahan zaman.

 

Implikasi Kebijakan


Jika tidak segera ditangani, penurunan literasi dan numerasi akan berdampak pada:

  • Kesiapan lulusan memasuki dunia kerja.
  • Daya saing nasional.
  • Ketimpangan sosial dan ekonomi jangka panjang.

Baik Indonesia maupun Jepang menghadapi risiko lost generation of skills apabila penguatan kompetensi dasar tidak menjadi prioritas utama.

 

Rekomendasi Kebijakan


  1. Fokus ulang pada kompetensi dasar

Literasi, numerasi, dan penalaran harus menjadi fondasi semua mata pelajaran.

  1. Transformasi pedagogi, bukan sekadar kurikulum

Pembelajaran harus kontekstual, dialogis, dan berbasis pemecahan masalah.

  1. Penguatan kapasitas guru secara berkelanjutan

Pelatihan tidak hanya teknis, tetapi juga pedagogi reflektif.

  1. Pendampingan transisi asesmen digital

CBT harus diiringi literasi digital dan kesiapan mental siswa.

  1. Kolaborasi sekolah–orang tua–Masyarakat

Budaya belajar tidak bisa dibangun oleh sekolah saja.

 

Penutup


Penurunan prestasi akademik tahun 2025 di Indonesia dan Jepang adalah alarm keras bagi sistem pendidikan. Ia bukan tanda kegagalan anak-anak, melainkan sinyal bahwa sistem belum sepenuhnya berpihak pada proses belajar yang bermakna.


Jika data ini ditindaklanjuti dengan kebijakan yang konsisten, reflektif, dan berorientasi jangka panjang, maka krisis ini justru dapat menjadi titik balik reformasi pembelajaran. Pendidikan tidak kekurangan siswa cerdas—yang dibutuhkan adalah sistem yang memberi ruang bagi nalar, rasa ingin tahu, dan keberanian untuk berpikir.

 

#DaruratLiterasi
#KrisisNumerasi
#Pendidikan2025
#ReformasiPendidikan
#KebijakanPendidikan