Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Thursday, 10 January 2013

Inaktivasi Virus Flu Burung dengan Keramik Kotoran Ayam


Kazuaki Takehara dari Laboratorium Zoonoses dan kawan-kawannya dari Laboratorium Anatomi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Kitasato, Jepang pada tahun 2009 telah mempublikasikan penemuannya yaitu bubuk keramik kotoran ayam yang dapat sebagai anti virus Flu Burung.

Bubuk Keramik yang mereka buat dengan bahan baku kotoran ayam, apabila di dicampur dengan virus flu burung atau avian adeno virus, dapat menginaktivasi virus-virus tersebut sehingga kandungan virusnya menjadi lebih rendah.

Ketika bubuk keramik dicampur dengan air suling ganda, pH air meningkat menjadi 10 tetapi fase cairnya tidak menunjukkan aktivitasnya sebagai antivirus.

Setelah 10 pembasuhan dengan air atau 5 pembasuhan dengan 1M Tris-HCl (pH 8,0), bubuk keramik masih mempertahankan aktivitasnya sebagai antivirus. Aktivitas antivirus bubuk keramik tidak dipengaruhi oleh adanya bahan organik (33% serum janin sapi).

Ketika anak ayam diberi makan makanan yang mengandung bubuk keramik 5%, tidak ada perbedaan berat badan antara anak ayam yang diberi makanan biasa dan makanan yang bercampur keramik. Cara kerja dari bubuk keramik belum diketahui dengan pasti tetapi mungkin diduga bekerja dengan cara menyerap virus. Hasil ini menunjukkan bahwa bubuk keramik memiliki aktivitas antivirus dan dapat menjadi metoda yang berpotensi berguna melawan flu burung di peternakan unggas.

Pada penelitiannya, proses inaktivasi virus Flu Burung dengan bubuk keramik dilakukan dengan cara dua ratus miligram bubuk keramik ini dicampur dengan virus Flu Burung dalam microtube kemudian diinkubasi selama 20 jam. Kandungan virus Flu Burung tersebut diukur. Hasilnya menunjukan bahwa bubuk keramik kotoran ayam dapat menginaktivasi Virus Flu Burung, ketika dilakukan pada suhu kamar indeks netralisasi bubuk keramik ini terhadap virus H5N2 sebesar 4,5 sedangkan terhadap virus H7N1 sebesar 5,1. Apabila dilakukan pada suhu 4 C indeks netralisasi bubuk keramik ini terhadap virus H5N2 sebesar 4,3 sedangkan terhadap virus H7N1 sebesar 4,9.

Sumber:
Avian Diseases 53(1):34-38. 2009


Sunday, 6 January 2013

Data Kematian Itik akibat Flu Burung H5N1


Sejak merebaknya kasus AI H5N1 clade 2.3.2 yang dimulai bulan Oktober 2012 hingga 6 Januari 2013, Flu Burung telah menyebabkan kematian itik sebanyak 160.904 ekor di 61 kabupaten/kota di 11 Provinsi, dengan rincian data per Provinsi sbb :
                1.            Jawa Tengah             76.660 ekor  di 21 kab/ kota
                2.            Jawa Timur               39.261 ekor  di 11 kab/kota
                3.            Jawa Barat                13.089 ekor  di  9 kab/kota
                4.            DIY                                 4.523 ekor  di  4 kab/kota
                5.            Banten                         2.119 ekor  di  4 kab/kota
                6.            Lampung                     2.635 ekor  di  5 kab/kota
                7.            Riau                               2.038 ekor  di  1 kab/kota
                8.            Sumatra Barat           1.400 ekor  di  1 kab/kota
                9.            Sulawesi Selatan     12.254 ekor  di  1 kab/kota
                10.          Sulawesi Barat           1.819 ekor   di  1 kab/kota
                11.          Bali                                  2.106 ekor   di 3 kab/kota

Sumber : Ditkeswan, Ditjen PKH, Kementan 

Friday, 28 December 2012

Fakta Flu Burung di Vietnam


H5N1 adalah virus influenza (unggas) dengan patogenitas tinggi atau dikenal sebagai Virus Highly Pathogenic Avian  Influenza yang telah menyebabkan wabah penyakit yang serius  dan  kerugian ekonomi di bidang peternakan unggas di beberapa bagian benua  Asia dan tempat-tempat lainnya di dunia.

Vietnam telah memiliki program pengendalian aktif terhadap Avian Influenza H5N1 sejak penyakit tersebut pertama kali dideteksi pada tahun 2003. Program pengendalian ini berhasil dan kasus H5N1 pada unggas dan manusia telah menurun secara progresif dan dramatis—namun demikian masih terdapat  beberapa tantangan. 

Komitmen Vietnam yang kuat untuk melawan HPAI merupakan  faktor utama   di balik keberhasilan pencegahan menyebarnya  penyakit ini. Beberapa donor dan lembaga, termasuk Food and Agriculture Organization (FAO) dari PBB dan World Health Organization (WHO) yang  mendukung Kementerian Pertanian dan Perkembangan Desa (MARD) dan Kementerian Kesehatan sejak wabah HPAI pertama pada tahun 2003, dan masih melanjutkan dukungan tersebut.

A.  Kesehatan Hewan

Virus H5N1 kemungkinan akan terus ada dan menjadi masalah bagi Vietnam serta negara-negara lain; menjadi ancaman bagi industri perunggasan dan ekonomi serta tetap menjadi sumber yang potensial bagi pandemi influenza manusia.

Semua virus influenza berevolusi (mengalami perubahan genetis melalui mutasi dan re-assortment) saat mereka bersirkulasi dalam populasi hewan dan manusia. Ini adalah proses alami dan virus harus terus dimonitor untuk mendeteksi perubahan-perubahan ini.

Virus dikelompokan ke dalam clade berdasarkan kemiripan genetisnya. Ketika mutasi dalam sekuensi genetis virus terakumulasi, perubahan dalam karakter antigenik virus juga bisa terjadi. Virus juga kadang-kadang bisa melakukan re-assort (bertukar gen) dengan virus influenza lainnya, menyebabkan perubahan yang lebih jauh.

Vietnam merupakan daerah endemis H5N1 , dengan adanya wabah-wabah penyakit yang terdeteksi di sejumlah propinsi di seluruh bagian negara pada tahun 2012. Di bagian selatan  Vietnam, hanya terdapat virus clade 1 sejak 2004, mengindikasikan adanya siklus penyakit yang endemis dengan clade spesifik tersebut dan tanpa ada masuknya virus lain  dari daerah atau negara  lain.

Sebaliknya, di Vietnam bagian utara dan tengah , virus clade 2.3.4 yang sebelumnya telah ada  digantikan oleh clade 2.3.2.1 pada tahun 2009. Hal ini menunjukan bahwa masuknya virus baru masih terjadi. Virus yang merupakan bagian dari clade 2.3.2.1 telah dideteksi di banyak negara di Asia, Timur Tengah dan Eropa.

Pola masuk  dan munculnya clade  atau varian baru tetap berlanjut. Pada tahun 2011, varian baru H5N1 clade 2.3.2.1 telah dideteksi dan virus ini menyebabkan kekhawatiran karena vaksin unggas yang tersedia memberikan tingkat proteksi yang lemah terhadap virus ini. Kejadian serupa terjadi di tahun 2012 dengan  munculnya satu  varian lagi. Sampai dengan  September 2012, setidaknya tiga varian virus H5N1 yang berbeda menyebabkan penyakit pada unggas.

Pemerintah Vietnam, melalui program pengendalian H5N1, telah mendeteksi strain virus baru sebagai hasil dari pelaporan wabah  serta monitoring virus di laboratorium. Pengetahuan yang terinci mengenai virus yang ada saat ini adalah hasil dari program monitoring.

Uji coba dilakukan oleh Departemen Kesehatan Hewan, dengan dukungan FAO yang secara berkelanjutan melakukan pengujian efikasi vaksin terhadap munculnya strain virus baru. Pada September 2012, sebuah uji coba vaksin dilaksanakan untuk menguji vaksin H5N1 yang baru terhadap varian kedua 2.3.2.1 yang ditemukan dua bulan sebelumnya. Saat ini sudah diperoleh informasi dari penelitian tersebut mengenai efektifitas vaksin terhadap virus baru dimaksud.

Ada dua alasan utama munculnya perubahan Clade virus H5N1 secara berkelanjutan di Vietnam yaitu -- perdagangan unggas dengan negara tetangga dan sirkulasi virus pada itik tua, umumnya layer, yang dapat terserang  namun tidak menunjukan gejala klinis.  Selain itu, burung liar juga diketahui dapat membawa virus influenza, tetapi  virus H5N1  clade 2.3.2.1 belum dideteksi  pada burung liar di Vietnam sejauh ini.

Belum ada solusi untuk menurunkan ancaman dari strain baru virus ini. Tindakan pengendalian harus terus difokuskan untuk mengurangi penyebaran virus- baik terhadap unggas lain maupun manusia. Jalur penyebaran utama untuk virus ini adalah unggas hidup, sehingga penyebaran antarunggas di peternakan, antar peternakan, atau pasar ke peternakan, dan juga melalui materi dan peralatan yang terkontaminasi, seperti keranjang telur, kandang, kotoran, bulu, kendaraan dan pakaian tercemar menyebabkan virus kontak dengan unggas.

Untuk mengurangi ancaman penularan H5N1 yang muncul akibat strain virus yang sudah ada atau yang baru (varian baru), maka jalur penularan penyakit harus diputus. Ini bisa dilakukan melalui beberapa perubahan taktis dalam sistem produksi unggas dengan melakukan cara produksi yang aman.

Perubahan ini harus dilakukan di  peternakan, oleh pedagang, dan di pasar, serta rumah potong. Pemerintah telah  melakukan investasi dengan membuat fasilitas baru, melatih staf dan mempromosikan perubahan perilaku bagi produsen unggas serta pengelolanya.

H5N1 adalah agen penyakit yang telah menyebar melalui lintas batas , tanpa terkecuali di  Vietnam. Vietnam memiliki hubungan dagang dengan negara tetangga dan perdagangan unggas-baik secara resmi maupun tidak resmi-di perbatasan telah diketahui sebagai penyebab masuknya penyakit atau strain baru  ke dalam suatu negara.

Tindakan-tindakan dan rekomendasi berikut ini sebaiknya dibuat bagi produsen dan  peternak  unggas.
- Pisahkan unggas Anda dari unggas tetangga/peternak lain.
-  Saat masuk/meninggalkan  area unggas, selalu:
  > mengganti sepatu/alas kaki
         > memakai pakaian pelindung/mengganti pakaian
 > cuci tangan sebelum dan sesudah menangani unggas
-  Jangan biarkan pengunjung/pedagang/pembeli masuk ke dalam  area unggas anda
-  Pengiriman pakan sebaiknya dilakukan di luar area unggas
- Gunakan keranjang  telur yang bisa dibersihkan dan didesinfeksi serta lakukan tindakan-tindakan ini pada  keranjang telur daur ulang
- Hanya membeli unggas baru (replacement) dari peternakan yang sudah dikenal dan berkualitas tinggi dan pisahkan dari flok lama  selama dua minggu untuk mengetahui apakah ayam baru tersebut sehat atau tidak
- Segera laporkan kematian yang tidak wajar atau masalah kesehatan lainnya kepada pihak yang berwenang
-  Pedagang, pasar dan rumah potong harus meningkatkan kebersihan dan biosekuriti dengan mengikuti beberapa prinsip berikut:
    > Melakukan pembersihan harian secara rutin
    > Buang semua kotoran dan kontaminan dengan mencuci peralatan, kandang dan perlengkapan
    > Setelah peralatan, kandang dan perlengkapan dicuci maka rendamlah dalam desinfektan
-  Hubungi staf veteriner setempat untuk saran yang lebih rinci  mengenai pembersihan dan desinfeksi  pasar dan tempat-tempat lain di mana unggas dari berbagai sumber berkumpul.
- Unggas hidup di pasar/pedagang atau rumah potong tidak boleh dibiarkan  kembali lagi ke peternakan.

B.  Kesehatan manusia

Penularan  Highly Pathogenic Avian Influenza (H5N1) pada manusia, pada umumnya disebabkan oleh penularan dari unggas ke manusia yang sifatnya jarang  dan  sporadis, yang umumnya terjadi di daerah yang sirkulasi virusnya endemis pada unggas. Sebagian besar kasus penularan H5N1 pada manusia diasosiasikan dengan kontak langsung ataupun tidak langsung dengan unggas yang tertular, baik yang hidup atau mati.

Sejak awal 2012, Vietnam telah melaporkan 4 kasus manusia yang dikonfirmasi sebagai infeksi influenza A (H5N1), dua di antaranya menyebabkan kematian.

Kasus H5N1 pada manusia terakhir di Vietnam dilaporkan pada Februari 2012.

Virus Influenza secara umum sulit diperkirakan karena virus berkembang dan sering berubah (re-assort). Namun saat ini tidak ada bukti bahwa clade atau strain tertentu dari H5N1, termasuk clade yang baru-baru ini berkembang, lebih mudah menular atau memiliki tingkat virulensi yang lebih tinggi pada manusia. Tidak ada indikasi bahwa clade 2.3.2.1 memiliki ancaman yang lebih besar terhadap kesehatan manusia daripada varian H5N1 lainnya.

Tindakan-tindakan dan rekomendasi berikut ini  sebaiknya disarankan kepada publik:
   > Jangan membeli, menjual, memotong atau mengkonsumsi unggas yang menunjukan tanda-tanda penyakit, atau mati karena sakit
   > Pastikan semua produk unggas dimasak dengan baik sebelum dikonsumsi
   > Hindari kontak dengan unggas sakit atau mati
   > Cuci tangan dengan sabun dan air setelah kontak dengan unggas
   > Segera laporkan unggas sakit atau mati pada otoritas veteriner  serta otoritas local yang terkait
   > Jika ada penyakit yang dicurigai setelah kontak dengan unggas, segera cari pertolongan medis

Thursday, 20 December 2012

Kementan Tegas! Pedagang Dilarang Jual Unggas Sakit demi Cegah Penyebaran Flu Burung



Untuk mencegah efek negatif yang ditimbulkan virus avian influenza (AI) pada itik, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian mengimbau para pedagang untuk tidak memperjual-belikan itik/unggas sakit.

Demikian disampaikan Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Pudjiatmoko kepada wartawan di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta (13/12/2012). "Tentu kita larang itik yang terkena virus dijual. Sebisa mungkin itik/unggas yang benar-benar kondisinya sehat dan berasal dari peternakan yang sehat," kata Pudjiatmoko.

Menurutnya, jika memang ditemukan ada ternak itik/unggas yang sakit/mati mendadak kepada pemilik itik/unggas tersebut harus segera melaporkan kasusnya ke dinas setempat. Selain itu juga harus bersedia dilakukan depopulasi/dimusnahkan terbatas untuk selanjutnya dikubur dan dibakar dengan diikuti pembersihan dan desinfeksi. "Kita anjurkan depopulasi secara terbatas. Sehingga virusnya tidak menyebar," ujar Pudjiatmoko.Terkait virus AI yang menyerang unggas tersebut, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan juga telah melaporkan kasus baru ini ke Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) pada 10 Desember. 2012. Saat ini sedang dalam proses mendaftarkan genetik virus AI pada itik di Indonesia ke Gene Bank, agar dapat diakses informasinya untuk kepentingan ilmiah internasional.

Sumber:

#AvianInfluenza 
#PoultryHealth 
#AnimalHealth 
#Biosecurity 
#OneHealth