Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Wednesday, 25 March 2009

Kasus flu burung subtipe H7 pada burung puyuh di Jepang

Virus flu burung subtipe H7 untuk pertama kalinya berhasil terdeteksi di peternakan burung puyuh di kota Toyohashi, Prefektur Aichi Jepang pada 18 Februari.

Menurut informasi situs berita Asahi, keterangan dari pejabat Kementerian Pertanian Jumat (27/2) menyatakan tidak ada satu pun burung puyuh yang mati di peternakan itu.
Selain itu tidak ada laporan mengenai orang yang terjangkit virus karena memakan daging atau telur dari unggas yang terinfeksi.

Penemuan ini merupakan yang pertama kalinya untuk tahun 2009, sebelumnya virus flu burung subtipe H5N1 terdeteksi pada periode Januari sampai Februari 2007 di Prefektur Miyazaki dan Okayama.

Guna menghentikan penyebaran virus, Kota Toyohashi Sabtu (28/2) membinasakan 259,000 ekor burung puyuh yang ada di peternakan tempat ditemukannya unggas yang terjangkit virus flu buung dan langsung dikuburkan di dalam peternakan.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, jumlah populasi burung puyuh yang ada di peternakan tempat ditemukannya virus flu burung di Kota Toyohashi sebanyak 320,000 ekor.

Untuk mengantisipasi penyebaran virus flu burung, Kementerian Pertanian dan lembaga berwenang lainnya akan membatasi pergerakan ternak unggas, telur dan pakan ternak dalam radius 10 kilometer dari peternakan.

Bila virus diidentifikasi sebagai virus yang telah melemah maka radius pembatasan akan dikurangi menjadi 5 kilometer.

Namun bila pembatasan didaerah itu diperpanjang maka dapat mempengaruhi pasokan telur burung puyuh karena sekitar 70 persen telur burung puyuh yang dikonsumsi diseluruh Jepang berasal dari Prefektur Aichi.

Dalam radius 10 kilometer dari tempat ditemukannya virus flu burung, terdapat 65 peternakan ayam dan burung puyuh dengan jumlah keseluruhan populasi 4 juta ekor.

Sumber : Nusantara news, Jakarta's shimbun online Jurnal, 2 Maret 2009.

Monday, 16 March 2009

Rahasia Wisata Petik Stroberi di Jepang: 30 Menit Makan Sepuasnya di Kebun Ichigogari Yamanashi.

Pada hari Sabtu 14 Mei 2009 kami meninjau pertanian strawberry milik Pak Hiroshi Maeda yang terletak di 260 Yamanashishi Minami, Prefektur Yamanashi, sekitar 150 km ke arah barat dari kota Tokyo. Pertaniannya sengaja diperuntukan sebagai tempat wisata pertanian yang disebut Ichigogari.














Ichigogari merupakan istilah bahasa Jepang yang terdiri dari dua kata. Ichigo berarti Strawberry, dan kari berarti memburu. Digabungkan bunyi ucapannya menjadi Ichigogari, yang berarti memetik buah strawberry di sebuah kebun strawberry dan memakan hasil petikan sendiri sepuasnya. Salah satu daerah yang terkenal dengan Ichigogari adalah Prefektur Yamanashi. Pak Hiroshi Maeda dibantu oleh sang istri asal Thailand (gambar samping) telah melakukan budidaya strawberry sejak tahun 2003. Dengan bantuan JA (Koperasi Pertanian Jepang) mereka memperoleh pinjaman untuk pembangunan prasarana dan sarana pertanian Strawberry.







Pertanian strawberry ini terletak di perbukitan dipinggir kota. Keluarga Maeda mempunyai 6 buah green hause, setiap green house ditandai dengan nomor (gambar samping). Luas setiap green house 1000 m2. Green house dilengkapi dengan pengatur suhu ruangan green house, pengatur penyiraman air-hara, penghangat tanah dan gas CO.














Tempat pendaftaran pengunjung disamping tempat parkir kendaraan. Setiap hari buka pukul 09:00 – 16:00.


















Pengunjung sebelum masuk green house mencuci tangan terlebih dahulu.


















Pengunjung diberikan penjelasan cara memetik strawberry dan mendapatkan layanan satu set plastik yang terdapat dua cekungan, satu berisi susu kental manis dan yang lain tempat sisa strowberry. Pilih strawberry yang sudah matang berwarna merah, celupkan ke dalam susu kental manis, lalu santaplah dan nikmati kelezatannya. Sisa potongan strawbery yang berwarna hijau dikumpulkan di cekungan sebelahnya. Susu kental manis dimakan habis, sampah hijau dimasukkan tempat sampah yang bisa dijadikan pupuk organik, sedangkan tempat plastiknya dimasukkan ke tempat sampah plastik untuk didaur ulang.








Pada gambar sebelah terdapat fasilitas tanki berwarna oranye penyimpan minyak tanah untuk bahan bakar mesin pemanasan green house (sebelah kiri).

Disebelahnya tampak tabung-tabung berwarna hijau berisi gas CO untuk membantu pertumbuhan tanaman strawberry yang diberikan dengan cara menghembuskan gas CO ke dalam ruang green house pada saat sebelum matahari terbit sekitar jam 4 – 6 pagi (sebelah kanan).










Terdapat pengontrol tekanan air yang dialirkan melalui pipa-pipa untuk menyirami tanah media tanaman strawberry.

















Pipa untuk menyalurkan air hangat sebagai pengatur suhu tanah media tanaman strawberry.
























Green house dilengkapi dengan plastik penutup untuk mengatur suhu udara dalam green house yang dapat dibuka-tutup secara otomatis dengan kawat.

















Penarik plastik (penutup dinding) berwarna oranye untuk mengatur suhu dalam green house.
























Pada gambar tampak susana wisatawan ketika memetik, menyantap strawberry, menikmati keindahan deretan strawberry dan bunga-bunga yang ditanam di pot dalam green house. Warna merah strawberry yang menempel di bibir dan pipi membuat gelak tawa riang wisatawan. Ketinggian tempat tanaman telah dibuat sedemikian rupa sehingga strawberry mudah dipetik baik dengan posisi berdiri maupun jongkok.












Pengunjung memetik dan menyatap strawberry di tempat yang rapih dan bersih yang dialasi dengan plastik.
























Heater (Mesin pemanas) ruang Green house untuk menjaga agar ruangan tetap hangat ketika musim dingin. Sebelah kiri tampak locker yang terkunci untuk tempat penyimpanan barang bawaan para pengunjung.
















Wisata Ichigogari untuk umum dibuka pada saat buah strawberry sudah banyak yang memerah matang (gambar samping) dimulai akhir bulan Desember sampai dengan pertengahan bulan Mei tahun berikutnya. Mereka yang ingin datang ke pertanian ichigo ini harus memesan dahulu beberapa hari sebelumnya dengan menyebutkan jam dan tanggal kedatangan serta jumlah orang yang akan datang. Pengunjung dipersilahkan memetik buah strawberry dan memakan sepuasnya selama 30 menit.

Harga tiket masuk untuk masuk kebun ini tergantung bulan. Harga tiket per orang pada bulan Desember 2.000 yen, bulan Januari 1.800 yen, Pebruari 1.700 yen, Maret 1.500 yen, April 1.200 yen, Mei 1000 yen. Sedangkan anak yang berumur kurang dari 7 tahun tiketnya dikenakan lebih murah yaitu 500 – 1.200 yen per anak.
 
Selama kurang lebih empat setengah bulan, pemasukan sekitar 3,5 – 4,0 juta yen. Sebagian besar uang ini dipergunakan untuk ongkos produksi dan cicilan biaya pembangunan green house, prasarana dan sarana pertanian lainnya. Pak Maeda mengaku penghasilannya selama empat setengah bulan 1,0 – 2,0 juta yen.


#WisataJepang
#PetikStrawberry
#Ichigogari
#AgrowisataJepang
#YamanashiTravel

Thursday, 12 March 2009

Jepang Siapkan Aturan Baru Residu Pestisida dan Obat Hewan: Ekspor Pangan Bisa Terdampak Besar!

Pada tanggal 11 Maret 2009 Standards and Evaluation Division, Department of Safety, Pharmaceutical and Food Safety Bureau, Ministry of Health, Labour and Welfare (MHLW) telah mengadakan Conference for Establishment of Maximum Residue Limits for Agricultural Chemicals (Chlorantranilprole, Metaflumizone, Methyl iodide, Paromomycin, and Flunixin) in Food di Kantor Ministry of Economy, Trade and Industry (METI), Kasumigaseki, Chiyoda-ku, Tokyo.

Konferensi ini selain dihadiri oleh pejabat MHLW juga dihadiri oleh para perwakilan dari beberapa Kedutaan Besar di Jepang, termasuk KBRI Tokyo.

Latar Belakang

Dalam penjelasan artikel 11, paragraf 1 Food Sanitation Law, disebutkan bahwa MHLW berwenang menetapkan standar residu (Maximum Residue Limits: MRL) untuk pestisida, makanan tambahan, dan obat hewan (selanjutnya disebut bahan kimia pertanian) yang masih tersisa dalam makanan. Makanan yang dipasarkan di Jepang harus sesuai dengan standar yang telah di tetapkan oleh pemerintah Jepang.

Pada 29 Mei 2006, MHLW telah memperkenalkan sistem positive list untuk bahan kimia pertanian dalam makanan. Pada prinsipnya semua makanan yang didistribusikan di pasar Jepang harus mengikuti peraturan yang berazaskan pada sistem yang ditetapkan oleh MHLW tersebut.

MHLW akan menetapkan MRL terbaru untuk beberapa komoditi makanan, untuk itu MHLW telah menelaah secara komprehensif MRL yang selama ini berlaku. Kegiatan pengkajian ini ditujukan pada 5 bahan kimia yaitu Chlorantraniliprole (pestisida), Metaflumizone (pestisida), Methyl iodide (pestisida), Paromomycin (obat hewan) dan Flunixin (obat hewan).

Sebagai catatan bahwa sistem positive list ditetapkan berdasarkan pada amandemen 2003 Food Sanitation Law Jepang. Sistem ini bertujuan untuk melarang distribusi makanan di pasar Jepang apabila makanan tersebut mengandung bahan kimia pertanian melebihi kadar tertentu (0.01 ppm) yang telah ditetapkan oleh Peraturan yang berlaku.

Garis Besar Revisi MRL

1. Chlorantraniliprole (insektisida)

Chlorantraniliprole dilarang digunakan di Jepang. Pada saat ini Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries (MAFF) telah menetapkan aturan tentang bahan kimia ini berdasarkan Agricultural Chemical Regulation Law. Telah terdapat permohonan dari pengusaha asing untuk penetapan MRL bahan kimia ini. Selama ini mengacu pada peraturan MRL untuk bahan kimia pertanian yang digunakan diluar Jepang, yang dipublikasikan 5 Pebruari 2004. Untuk merespon kebijakan MAFF dan permintaan para pengusaha tersebut, MHLW telah menetapkan MRL baru untuk beberapa tanaman pangan. Sebelum ini di Jepang belum terdapat MRL Chlorantraniliprole untuk tanaman pangan.

Pada konferensi ini telah disampaikan draft MRL Chlorantraniliprole untuk Beras 0.05 ppm, Kedelai kering 0.2 ppm, Kentang 0.01 ppm, Kubis, Kubis China dan Brussels sprouts 4.0 ppm; Kol, Komatsuna, Kyona, dan Qing-geng-cai 11 ppm; Kol Kembang dan Broccoli 4.0 ppm; Watercress, Endive, Shungiku, Lettuce, Bayam, Seledri dan daun Seledri 13.0 ppm; Welsh 2.0 ppm; Tomat, Terung, Pimiento 0.7 ppm; Labu, Semangka, Melon 0.25 ppm; Mentimun 0.3 ppm; dan Kedelai hijau 1.0 ppm. MRL untuk buah Apel, Peach, Nectarine, Apricot, Japanese Plum, dan Cherry 1.0 ppm; Pear 0.5 ppm; Quince, Loquat, biji kapas 0.3 ppm; Strawberry 0.7 ppm; anggur 1.2 ppm; Teh 50 ppm. MRL untuk produk binatang daging sapi dan babi, lemak sapi dan babi, hati sapi dan babi, ginjal sapi dan babi, dan susu 0.01 ppm; dan hewan air 0.05 ppm.

2. Metaflumizone (insektisida)

Metaflumizone dilarang digunakan di Jepang. Pada saat ini MAFF telah menetapkan bahan kimia dimasukkan pada Agricultural Chemical Regulation Law. Sebelum ini di Jepang belum terdapat MRL Metaflumizone untuk tanaman pangan. Yang tergolong Metaflumizone meliputi (E)-Metaflumizone, (Z)-Metaflumizone, p(m-(trifluoromethyl)phenacyl)benzonitrile.

Pada konferensi ini telah disampaikan draft MRLs Metaflumizone untuk kubis 5 ppm sedangkan kubis China 10 ppm.

3. Methyl iodide (fumigant)

Methyl iodide dilarang digunakan di Jepang. Pada saat ini MAFF telah menetapkan bahan kimia ini diatur dengan Agricultural Chemical Regulation Law. Sebelum ini di Jepang belum terdapat MRL Methyl iodide untuk tanaman pangan.

Pada konferensi ini telah disampaikan draft MRL Methyl iodide untuk tomat dan melon 0.05 ppm dan chestnut 0.5 ppm. Sedangkan MRL untuk komoditi lain seragam yakni 0.01 ppm.

4. Paromomycin (antimicrobial)

Paromomycin dilarang digunakan di Jepang. MHLW telah menelaah secara komprehensif MRLs guna menetapkan pengenalan sistem baru sementara. MRL sementara yang berlaku pada saat itu berdasarkan pada Stadar Eropa (EU). Akan tetapi MHLW akan mencabut MRLs sementara tersebut yang pada saat ini masih tercatat dalam daftar MRL sementara (Item 7, Section A “General Compositional Standards for Food” Part I “Food” of the Specifications and Standardss for Food, Food Additives, Etc.). Menurut penilaian MHLW sangat sulit untuk menyusun standar berdasarkan alasan ilmiah karena Jepang tidak dapat mengkonfirmasi situasi yang pasti pada saat penetapan standar EU sebagai pedoman disebabkan keterbatasan informasi penting mengenai residu. Setelah revisi ini diberlakukan, Paramomycin (antimicrobial) ini tidak diperbolehkan tersisa dalam semua makanan, berdasarkan persyaratan Item 1, Section A yang menyebutkan bahwa makanan tidak boleh mengandung antimicrobial atau antibacterial sintetis. MRL yang selama ini berlaku untuk Paromomycin pada daging dan lemak sapi dan babi 0.5 ppm; hati dan ginjal sapi dan babi 2 ppm, daging dan lemak ayam dan unggas lain 0.5 ppm; hati dan ginjal ayam dan unggas lain 2 ppm, Salmoniformes, Anguiliformes, Perciformes, Shelled mollusks, Crustaceans, dan ikan dan binatang air lainnya 0.5 ppm. Setelah revisi ini disahkan dan diimplementasikan maka semua komoditi diatas tidak diperbolehkan mengandung Paromomycin dan antibacterial sintetisnya.

5. Flunixin (non-steroidal anti-inflammatory drug)

Flunixin selama ini telah diperbolehkan digunakan di Jepang. Pada saat ini MAFF telah memutuskan untuk merevisi standar penggunaan bahan kimia ini yang mengacu pada Pharmaceutical Affairs Law. Untuk merespon kebijakan MAFF ini, MHLW telah menelaah secara komprehensif MRL yang sedang berlaku untuk menetapkan MRL baru. Draft MRL Flunixin untuk semua komoditi tidak terdapat perubahan, untuk daging sapi 0.02 ppm; hati sapi 0.3 ppm; daging babi 0.05 ppm; lemak sapi dan ginjal babi 0.03 ppm; lemak dan hati babi 0.2 ppm; ginjal sapi 0.1 ppm; dan susu (dalam bentuk 5-hydroxy flunixin) 0.04 ppm.

Sebelum revisi MRL ini diberlakukan, MHLW memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk memberikan tanggapan terhadap draft revisi ini agar disampaikan sebelum tanggal 25 Maret 2009 kepada Standards and Evaluation Division, Department of Safety, Pharmaceutical and Food Safety Bureau, Ministry of Health, Labour and Welfare 1-2-2 Kasumigaseki, Chiyoda-ku, Tokyo 100-8916, Telepon +81-3-5253-1111 Fax: +81-3-3501-4868. Contact person: Mr. Katsuhiro Ogi (ogi-katsuhiro@mhlw.go.jp)

#MRLJepang 
#KeamananPangan 
#EksporPangan 
#ResiduPestisida 
#ObatHewan

Friday, 6 March 2009

Kueh Bekatul Bikin Jepang Terpikat! UKM Indonesia Panen Order 300 Ribu di Foodex 2009

Food Exhibition 2009 Makuhari Messe, Chiba dibuka pada tanggal 2 Maret 2009 dan terbuka untuk umum 3 – 6 Maret 2009. Foodex ini merupakan salah satu pameran makanan terbesar di dunia yang diikuti oleh 2.300 perusahaan dari 60 negara termasuk dari Indonesia yang diwakili oleh 7 pengusaha UKM makanan olahan/tradisional dari Indonesia. Ketujuh perusahaan Indonesia yaitu PT. Niramas Utama, PT. Safeline Indonesia, CV. Sumber Mas Internasional, PT. Ika Food Putramas, Kusuma Women Cooperative, PT. Celebes Minapratama dan Bali Coffe & Food.

Keikutsertaan Indonesia dalam Food Exhibition 2009 di Jepang merupakan pertamakalinya yang dikelola oleh KBRI secara aktif serta didukung oleh BPEN dan ITPC mencoba untuk mempertahankan pasar yang telah ada. Berbagai product Indonesia sudah dikenal di Jepang seperti ikan kayu yang diproduksi oleh PT. Celebes Minapratama, Nata de Coco dan Kokita. Untuk nata de coco yang selama ini hanya dipasarkan ke Jepang dalam bentuk bahan dasarnya saja sekarang sudah mulai memperkenalkan National Branding (Innaco).

Berbagai produk-produk terbaru yang dihasilkan oleh setiap negara ditampilkan di ajang pameran tersebut. Disamping Jepang sebagai tuan rumah, negara dari China, Italia dan Perancis memiliki stand anjungan pameran yang besar dibandingkan dengan negara lainnya.

Duta Besar RI beserta Ibu Jusuf Anwar berkenan mengunjungi stand Indonesia pada hari pembukaanya. Dalam kesempatan tersebut Duta Besar menyampaikan pesan kepada para pengusaha Indonesia untuk selalu tetap berusaha walaupun dalam situasi sesulit apapun saat ini, setidaknya berusaha untuk mempertahankan pasar yang telah dimilikinya dan mencoba mencari pasar yang baru adalah yang terbaik.

Salah satu produk yang menarik perhatian pengunjung adalah Teh Rosella yang merupakan produk alami dibuat dari bunga Rosella yang diproses secara higenis dengan pengeringan suhu rendah agar kandungan vitamin, mineral dan antioksidan alaminya tetap terjaga. “Tidak menyangka produk Rosella juga dipasarkan oleh negara lain, dari pameran ini kami bisa belajar konsep makanan yang bisa dikembangkan di Indonesia” kata Ibu Patricia Ruthyanti Tobing Technical Support Manager.

Produk Indonesia lain yang dipamerkan antara lain Emping Melinjo, Kerupuk udang, serta bahan bumbu seperti pandan bubuk, daun jeruk purut, daun sereh bubuk, Kemangi bubuk.

Alhamdulillah produk rumah tangga yang dikelola oleh Kusuma Women Cooperative yang diberi nama dengan bahasa Inggris Rice Bran Cookies memperoleh pesanan sebanyak 300.000 kemasan. Kueh Bekatul ini terbuat dengan bahan utama bekatul, serat kelapa, dan gula kelapa. Pada kemasan yang menarik perhatian adalah tertulis kandungan gizi yang baik untuk kesehatan yaitu Bekatul banyak mengandung vitamin, mineral dan antioksidan alami. Serat kelapa kaya akan serat makanan yang baik untuk pencernaan. Gula kelapa mempunyai nilai glikemik yang lebih rendah daripada sukrosa dan memberikan rasa yang lezat pada cookies.

Semoga sukses selalu UKM Indonesia !!!
Kembangkan Inovasimu lagi !!!

#KuehBekatul 
#FoodexJepang 
#UKMIndonesia 
#PanganSehat 
#EksporPangan