Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Tuesday, 5 August 2008

The targets of agricultural development

After the 1998-1999 economic crises, the agriculture sector is now in a phase of accelerated growth. The agriculture sector has proven to be more resistance to external shock than other sectors. The agriculture sector has been playing a role as a buffer of the national economy, particularly in supplying food; export earning, job opportunity and poverty alleviation. To maintain program sustainability and to keep growth momentum as well as utilize development result, agricultural development program and activities plan is formulated by Ministry of Agriculture.

There are three main targets of agricultural development which must be reached in the next five years namely:
1. The improvement of national food security covering improvement of production capacity of agricultural commodities and decreasing the dependency to food import around 5-10 percent of domestic demand.
2. The improvement of value added and competitiveness advantage of agricultural commodities covering the improvement of the qualities of agricultural products, the improvement agricultural product processing diversification and the increase export and export surplus of agricultural product
3. The improvement of farmer welfares covering the increased on labor productivity in agricultural sector and lower poverty incidences.

In the period of 2005-2009, agricultural sector needs investment of RP 77.07 trillion or RP 14.40 trillion per year. Job opportunities created by agricultural sector in 2009 will be 97.47 percent of job opportunities in agricultural sector. In value added and competitiveness, it will increase the production efficiency reflected by decreasing the growth of production cost per unit by 5 percent per year.

The growth of food crops production is projected to increase around 0.35 - 6.50 percent per year. Production of paddy will increase from 55.03 million tons in 2005 to 57.71 million tons in 2009. Corn production will increase from 11.82 million tons in 2005 to 13.97 million tons in 2009. The percentage of poor people in rural areas will decrease from 18.90 percent in 2005 to 15.02 percent in 2009.

Under the Japan Indonesia Economic Partnership Agreement, Indonesia will be able to export its farm products to Japan as the latter will cut import tariffs on the products or scrap them within 15 years. In exchange, Indonesia will also cut or scrap import tariffs on Japanese products in stages within the next 15 years. Indonesia and Japan as the two countries sign an economic partnership agreement (EPA) which went into effect on July 1, 2008.

In cooperation of agriculture and fisheries will be stressed in 4 projects: Improvement of post-harvest handling and marketing facilities; Standardization and quality control for horticulture products of Indonesia; Project for sustainable Indonesian fisheries product competitiveness; Technical assistance to small and medium enterprises in Indonesian fish and shrimp industry.

Friday, 1 August 2008

Falsafah Official Development Assistance (ODA) Jepang

Falsafah Bantuan Jepang - Piagam Official Development Assistance (ODA) Jepang (telah direvisi atas keputusan Kabinet pada tgl. 29 Agustus 2003)

ODA Jepang dilaksanakan sesuai dengan falsafah dan prinsip, dll. yang tercantum dalam Piagam ODA. Berikut ini dijelaskan pokok-pokok utama dari Piagam ODA Jepang.

Tujuan
ODA Jepang bertujuan memberikan kontribusi bagi perdamaian dan pembangunan komunitas internasional, dan dengan demikian membantu menjamin keamanan dan kemakmuran Jepang sendiri. Jepang sebagai salah satu negara yang terkemuka di dunia, bertekad untuk menggunakan sebaik-baiknya ODA dalam prakarsa mengatasi isu-isu pembangunan.

Kebijakan Dasar
(1) Mendukung usaha swadaya negara-negara yang sedang berkembang
Falsafah yang paling penting dari ODA Jepang adalah mendukung usaha-usaha swadaya yang dilakukan oleh negara-negara yang sedang berkembang berdasarkan tata-pemerintahan yang baik, yaitu dengan memberikan kerjasama bagi pengembangan sumberdaya mereka, pembangunan institusi termasuk pengembangan sistem hukum, dan pembangunan prasarana ekonomi dan sosial, yang merupakan basis bagi pembangunan negara-negara tersebut.

(2) Perspektif "keamanan manusia"
Jepang akan mementingkan perspektif keamanan manusia dalam kegiatan-kegiatan ODA. Jepang akan melakukan usaha-usaha untuk melindungi individu-individu dan komunitas-komunitas dari ancaman seperti konflik, kejahatan, kemiskinan dan penyakit-penyakit menular, dan memberikan bantuan bagi pemberdayaan rakyat agar mereka dapat mengatasi berbagai ancaman tersebut.

(3) Jaminan keadilan
Dalam pelaksanaan ODA, Jepang akan mempertimbangkan kondisi kaum yang rentan secara sosial, jurang antara si kaya dan si miskin serta jurang yang terdapat antar berbagai kawasan di negara-negara yang sedang berkembang. Selanjutnya, akan diberikan perhatian penuh terhadap dampak lingkungan dan sosial dari proyek-proyek ODA. Jepang akan melakukan usaha-usaha selanjutnya untuk memperbaiki status kaum wanita.

(4) Pemanfaatan pengalaman dan keahlian Jepang
Jepang akan memanfaatkan pengalamannya sendiri, berbagai teknologi maju dan sumberdaya manusia dalam ODA-nya sementara mempertimbangkan berbagai kebijakan dan kebutuhan akan bantuan di negara-negara yang sedang berkembang.

(5) Kemitraan dan kolaborasi dengan masyarakat internasional
Jepang akan memperluas kolaborasi dengan para pelaku lainnya yang menangani bantuan pembangunan, seperti organisasi-organisasi internasional, negara-negara donor lainnya, LSM dan sektor swasta.

Isu Prioritas
Isu-isu yang akan diatasi sebagai priortas melalui ODA adalah (1) Pengentasan kemiskinan, (2) pertumbuhan yang berkesinambungan, (3) isu-isu global seperti berbagai masalah lingkungan, berbagai penyakit infeksi, populasi, makanan, energi, bencana nasional, terorisme, obat-obatan narkotik, kejahatan internasional, dll.), (4) pembangunan perdamaian.

Kawasan-kawasan prioritas
Asia sebagai kawasan yang menjalin hubungan erat dengan baik dengan Jepang, merupakan kawasan prioritas. ODA akan dipakai untuk membina hubungan yang lebih erat dengan kawasan ini dan untuk membetulkan berbagai kesenjangan.

Prinsip pelaksanaan ODA
Sejalan dengan falsafah yang dikemukakan di atas, ODA Jepang akan diberikan dengan memasukkan dalam pertimbangan: berbagai kebutuhan akan bantuan di negara-negara yang sedang berkembang, kondisi sosio-ekonomi, dan hubungan bilateral Jepang dengan negara penerima bantuan, sesuai dengan prinsip Piagam PBB (khususnya hak-hak kedaulatan, kesetaraan dan non-intervensi dalam urusan dalam negeri), serta juga pokok-pokok berikut ini.

(1) Lingkungan dan pembangunan akan berjalan seiringan.
(2) Dihindari pemakaian ODA untuk tujuan-tujuan kemiliteran atau untuk memperparah konflik.
(3) Perhatian penuh akan diberikan terhadap trends dalam perbelanjaan kemiliteran, pengembangan/
produksi senjata perusakan massal dan misil, ekspor/impor senjata di negara penerima serta hal-hal
lain di negara penerima.
(4) Perhatian penuh akan diberikan terhadap usaha-usaha demokratisasi dan penerapan ekonomi pasar,
dan perlindungan hak-hak asasi manusia di negara penerima.

Sumber: Kedutaan Besar Jepang di Jakarta

Tuesday, 29 July 2008

Belajar Ekspor Mangga kepada Mindano Selatan

Mindano bangga dengan dua Instalasi Vapor Heat Treatment (VHT) yang baru

Instalasi baru VHT di Mindano Selatan telah meningkatkan kemampuan pemasok mangga lokal dalam meningkatkan mutu pasca panen bisa memenuhi standar karantina sehingga mampu masuk ke pasar ekspor. Southern Philippine Fresh Fruits Corporation mulai mengoperasikan dua peralatan baru VHT sejak akhir tahun lalu. Instalasi VHT senilai P52-juta ini mampu mentreatment 12 metrik ton mangga yang dioperasikan selama 18 jam.

Pada pengiriman uji coba ke Jepang Desember tahun lalu Southern Philippine Fresh Fruits Corporation mengekspor 21 metrik ton mangga segar yang telah ditreatment dengan VHT, kata Chritine Legaspi, Wakil Pimpinan perusahaan tersebut. “Jepang mempunyai standar yang ketat baik dalam hal kesehatan maupun mutu buah. Sehingga kami merasa senang ketika seluruh pengiriman uji coba tersebut dapat melewati karantina” kata Legaspi.

Ia menambahkan bahwa Southern Philippine Fresh Fruits Corporation dibantu oleh USAid's Growth with Equity in Mindanao (GEM) Program dalam pemantapan hubungan dengan pembudidaya yang menghasilkan mangga bermutu bagus.

Menurut Kantor Statistik Nasional, Jepang merupakan pasar terbesar mangga Mindano. Pada tahun 2007, wilayah pulau ini mengirim langsung ke Jepang 1.092 metrik ton mangga segar dengan mutu bagus dengan nilai US$ 2.750.328.

Dalam periode 2006-2007, total volume ekspor mangga segar dari Mindano naik sebanyak 46.8% (dari 1.357 metrik ton menjadi 1.992 metrik ton), sementara nilai ekspor mangga menjadi dua kali lipat (dari US$1,795,653 menjadi US$3,592,770), kata pejabat Pusat Statistik Nasional. Jumlah negara yang mengimpor mangga dari Philipina meningkat dari 11 menjadi 14.

Negara pengimpor utama mangga Mindanao yang lain pada tahun 2007 adalah Korea Selatan (484 MT - US$484,408), Amerika Serikat (28 MT- US$154,810), Hong Kong (185 MT - US$88,850), Iran (17 MT - US$43,950), Malaysia (4 MT - US$23,149), dan China (128 MT - US$21,439).

Beberapa Negara seperti China, menerima impor mangga yang telah ditreatment dengan air panas. Akan tetapi vapor heat treatment dipersyaratkan bagi semua mangga yang masuk ke Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Sampai sekarang, hanya 20% mangga Mindano yang sesuai dengan standar yang dipersyaratkan Jepang, akan tetapi Southern Philippines Fresh Fruits Corporation dan perusahaan sejenis lainnya telah membantu peningkatan volume ekspor mangga asal Mindano.

Diamond Star, satu diantara eksportir mangga segar terbesar di Philiphina telah membangun Instalasi Vapor Heat Treatment di Mindano berlokasi di Carmen, Davao del Norte.

Keuntungan daerah Mindanao adalah tidak ada topan, kata Antonio Teh, Pimpinan Southern Mindanao Mango Council. “Petani mangga Mindano dapat memproduksi mangga dari bulan Juli sampai dengan bulan Desember, waktu dimana produksi mangga di Luzon dan Visayas jatuh akibat banyaknya angin topan”, kata Teh. Mindanao Fruit Industry Council (Minfruit), bermitra dengan GEM Program, telah membantu petani dalam pengembangan produksi mangga ketika produksi berkurang dan bekerja sama dengan kalangan industri mangga untuk memperkuat rantai pasokan produksi.

Budidaya mangga di musim hujan memerlukan biaya yang lebih besar. Tetapi telah dapat diatasi dengan cara memenuhi standar impor tinggi seperti Jepang yang membayar sebanyak P85 per kg. “Dengan fasilitas VHT baru dan masuknya instalasi pemrosesan yang lain, mangga Mindano mempunyai kesempatan yang lebih baik memasuki pangsa pasar luar negeri yang menguntungkan. Masa-masa yang menggembirakan bagi industri mangga” Teh menambahkan.

Harapan kami dari Tokyo, Indonesia dapat membangun dan mengoperasikan Instalasi VHT secepatnya karena pintu masuk ke Jepang dengan fasilitas bebas tarif telah dibuka sejak 1 Juli 2008. Mari kita pergunakan momentum ini dengan sebaik-baiknya.

Sumber: sunstar.com.ph; 6/13/2008